Menyambut Kembali Bangkitnya Literasi Pemuda

131

Ditulis oleh: A. Haris ar-Raci*

“Aku ingin bahasa persatuan yang kita sematkan dalam ikrar ini adalah bahasa Melayu, bukan begitu saudara?”

“Tidak! Jika tumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, lantas mengapa tidak menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia?”

Moh. Yamin tercenung. Pendapat Tabrani sungguh berani. Dari mana ia mendapat ide bahasa persatuan itu bahasa Indonesia? Sedangkan bahasa Melayu telah menjadi bahasa perhubungan.

Tabrani tetap ngotot, memang bahasa Indonesia belum ada, tapi ia yakin bahwa bahasa Indonesia nantinya akan berbeda dengan bahasa Melayu. Kelak prediksi Tabrani benar dan terbukti. Hanya karena satu kata – antara Melayu dan Indonesia – konsep yang sedianya akan diikrarkan pada 1926 harus ditunda dua tahun kemudian. Yakni ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Begitulah Tabrani, sejarah telah mencatat bagaimana seorang pemuda yang masih berumur 22 tahun mempunyai visi jauh meninggalkan zamannya. Sedangkan Moh. Yamin, mampu membuat konsep persatuan ketika umurnya masih 23 tahun. Sanusi Pane lebih hebat lagi, di usia 21 tahun telah mampu menjadi pemersatu dua kutub pemikiran yang berseberangan.

***

“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri”

Pramoedya Ananta Toer

Dunia literasi saat ini menyimpan hal yang makin misterius. Sekelompok orang berpendapat literasi mengalami perkembangan yang pesat karena di mana-mana banyak kegiatan literasi baik berupa bedah buku, seminar kebahasaan, diklat jurnalistik, kelas menulis dan sebagainya. Buku yang diterbitkan juga semakin banyak dengan ragam pilihan. Tahun 2021 saja, judul buku yang ber-ISBN sebanyak 147.404 belum lagi penerbit indi yang kadang tidak didaftarkan ISBNnya.

Sedangkan kelompok lain yang pesimis menyampaikan bahwa dunia literasi mengalami surut yang sulit untuk ditahan. Buktinya, perpustakaan selalu sepi, banyak toko buku tutup karena bangkrut. Penulis gigit jari karena buku yang diterbitkannya minim pembeli. Komunitas menulis hanya besar di nama tapi sedikit anggotanya. Judul buku yang diterbitkan memang banyak tapi secara kuantitas pembelian sangat minim. Hal inilah yang memicu diterbitkan kebijakan baru pendaftaran ISBN beberapa waktu yang lalu.

Seturut dengan fakta-fakta kelompok pesimis ini diperkuat dengan fenomena munculnya generasi yang tidak peduli dengan bahasa. Istilah-istilah baru bermunculan yang kadang membikin pendengarnya mengurut dada karena arti istilah tersebut digunakan di sembarang keadaan. Coba perhatikan! Bagaimana kata anjir begitu mudah diucapkan anak-anak dan remaja. Kata yang mestinya dijadikan umpatan ini malah menjadi guyonan seolah tak bermakna. Kata secara bacaan dari kata coz membikin bingung pendengarnya. Bagaimana kata yang berarti sebagai; selaku; berubah makna jadi karena.

Anda tahu, selain kata-kata tersebut, banyak sekali bermunculan istilah baru seperti: woles, lebay, alay, kamseupay yang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Belum lagi penggunaan bahasa campuran dari bahasa asing. Mereka bangga! Sepertinya tidak berdampak, tapi sejatinya gejala ini menunjukkan bahwa pemuda sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan yang harus dibanggakan.

Ironis, jika 94 tahun yang lalu, pemudalah yang menyatukan berbagai bahasa, justru di zaman sekarang pemudalah yang menyebabkan persatuan bahasa itu menjadi pecah, bukan karena semangat memakai bahasa daerah masing-masing tapi karena gengsi memakai bahasa asing.

Dari sinilah, apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer terbukti relevansinya. Bagaimana tidak! Semakin sering seseorang berbicara dalam bahasa asing semakin bangga dia akan dirinya sendiri. Tapi dia tidak merasa betapa hal demikian menjadi bukti bahwa rasa nasionalismenya semakin luntur bahkan bisa tak berbekas kalau bahasa kesehariannya adalah bahasa asing.

Meski begitu, keadaan ini bukanlah akhir segalanya. Separah apa pun keadaan literasi sekarang hendaknya masih ada rasa optimis. Sedikitnya peran serta masyarakat dalam mengembangkan literasi itu laksana mata air-mata air kecil yang mengalir ke muara gerakan literasi yang saling bersinergi.

Dari tingkatan paling atas. Sejak tahun 2015 telah dicanangkan Gerakan Literasi Nasional ditandai Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 kemudian diadopsi oleh Kementerian Agama dengan Gerakan Literasi Madrasah. Bukankah ini menggembirakan?

Di kampus-kampus, mahasiswa banyak yang berinisiatif untuk membentuk komunitas literasi dengan nama dan aktivitas yang menarik. Tak jarang mereka bekerja sama dengan penerbit sehingga hasil tulisan mereka diterbitkan secara resmi dan tentu saja buku yang ditulis menarik untuk dikaji. Bukankah ini mencerdaskan?

Di tingkatan sekolah-sekolah banyak bermunculan gerakan literasi dengan berbagai nama, gaya, dan pelaksanaannya. Semuanya ingin menumbuhkan budaya membaca dan menulis. Hasilnya: Banyak bermunculan buku baru dari para siswa baik buku solo, dan lebih banyak lagi antologi. Bukankah ini membahagiakan?

Sedangkan di lingkungan masyarakat, banyak bermunculan organisasi nirlaba yang konsen menumbuhkan budaya literasi. Tidak membutuhkan dana banyak, sebab mereka memakai dana mandiri. Tak banyak gembar-gembor untuk promosi sebab mereka tak butuh nama dan puji.

Lebih membahagiakan lagi dari gerakan ini mulai dari kampus hingga masyarakat mayoritas dimotori oleh pemuda pemudi yang telah tumbuh kesadaran akan pentingnya melek literasi bagi bangsa.

Dari gerakan-gerakan itu kita tak pernah tahu siapa yang bakalan muncul sebagai pioner. Apakah salah satu, atau bisa dua bahkan siapa tahu puluhan bahkan ratusan berhasil membudayakan literasi terutama budaya membaca dan menulis.

Karena itulah, kita optimis, jika tahun 1928 pemuda bangkit untuk menyatukan tanah air, bangsa, dan bahasa. Maka untuk saat ini literasi akan menjadi gerakan sporadis dan akan memunculkan kebangkitan kedua para pemuda Indonesia untuk memajukan budaya Indonesia yang maju dan berkeadaban. Semoga.

*Penulis adalah anggota FLP Mojokerto. Esai ini merupakan esai yang menjadi juara 1 dalam lomba esai Bulan Bahasa 2022 yang diadakan oleh FLP Jawa Timur.
Konten sebelumnyaSastra Pesantren: Definisi, Sejarah, dan Perannya dalam Konteks Kekinian
Konten berikutnyaMilenial: Generasi Pembangkit Literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini