Home Artikel Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

Salahuddin AL-Ayubi

Salah satu kekeliruan paling umum dalam melihat Salahuddin Al-Ayyubi adalah menganggap bahwa pembebasan Palestina didapatkan dari kepiawaiannya memimpin medan perang. Pertempuran Hattin (1187) di dekat Danau Galilea sering dianggap sebagai titik penentu Perang Salib, karena di sana ia dapat mengalahkan tentara Salib. Padahal, langkah paling menentukan justru terjadi jauh sebelumnya, di Mesir, dalam ruang-ruang kekuasaan, bukan di tengah gemuruh pedang.

Pada pertengahan abad ke-12, Mesir dikuasai Daulah Fathimiyah, kekhalifahan Syiah Ismailiyah yang menjadi rival ideologis Abbasiyah Sunni di Baghdad. Bukan sekadar perbedaan mazhab, ini pertarungan legitimasi kekuasaan di dunia Islam. Saat perang salib menggila dan tentara salib mengancam merebut Mesir, Khalifah Fathimiyah Al-`Aadhid panik meminta bantuan dari sultan Suriah, Nuruddin Zanki.

Nuruddin mengirim pasukan dipimpin Asaduddin Shirkuh, paman Salahuddin Al-Ayyubi. Pasukan ini terdiri dari suku Kurdi dan Turki, dengan Shalahuddin sebagai komandan kunci. Mereka datang “menyelamatkan” Fathimiyah dari Salib, tapi sebenarnya punya agenda Sunni yang lebih besar. Shirkuh kemudian diangkat wazir disana, dan setelah ia wafat Maret 1169, Salahuddin, baru berusia 31 tahun, menggantikannya atas restu Al-`Aadhid.

Sebagai wazir, Salahuddin Al-Ayyubi bekerja penuh di struktur Fathimiyah yaitu mengelola administrasi, militer, keuangan, bahkan melayani khalifah secara formal. Ia tunjukkan kepiawaiannya dengan menumpas invasi Salib di Damietta dan pemberontakan internal. Namun secara ideologis, posisinya paradoksal dimana ia merupakan Sunni taat, loyal kepada Abbasiyah, tapi jadi teknokrat di rezim yang menentang Baghdad.

Di sinilah kompleksitas terlihat, perubahan dari dalam bukan proses romantis. Ia harus bersabar, menghitung langkah, menahan dilema etis, dan menghindari konfrontasi prematur yang bisa picu perang saudara.

Tidak semua pihak bisa langsung disingkirkan. Tidak semua struktur bisa langsung dirombak. Salah langkah sedikit saja bisa memicu pemberontakan atau bahkan menggagalkan posisinya sepenuhnya. Di sinilah menariknya, bagaimana ia menggeser legitimasi dari daulah Syiah menjadi Sunni secara halus, nyaris tanpa ledakan konflik di awal.

Ketika Al-`Aadhid jatuh sakit menjelang wafatnya pada 1171, situasi menjadi sangat sensitif dan kekuasaan sudah sangat melemah. Secara de facto, kendali pemerintahan berada di tangan sang wazir, Shalahuddin. Namun secara simbolik, legitimasi tetap berada pada sang khalifah.

Riwayat mencatat bahwa lingkaran istana mulai menyadari bahwa ini adalah akhir dari sebuah dinasti. Shalahuddin tidak serta-merta mendeklarasikan perubahan secara terbuka saat khalifah masih hidup. Ia menunggu dengan tenang.

Dan begitu Al-`Aadhid wafat, langkah simbolik itu dilakukan yaitu memerintahkan agar khutbah Jumat di Mesir tidak lagi menyebut nama khalifah Fathimiyah, tetapi beralih kepada khalifah Abbasiyah di Baghdad.

Tidak ada pertempuran besar. Tidak ada penyerbuan istana. Sebuah kekhalifahan yang telah berdiri lebih dari dua abad berakhir berubah secara simbolik dengan gema khutbah shalat jum`at.

Namun justru di situlah letak kedalamannya. Apa yang terlihat sederhana di permukaan sebenarnya adalah hasil dari akumulasi strategi bertahun-tahun, konsolidasi militer, pengaruh politik, pengendalian elite, dan penggeseran loyalitas masyarakat secara perlahan.

Shalahuddin tidak menghancurkan sistem itu dari luar secara terbuka karena posisi Mesir sangat rawan. Mereka bisa jadi korban pasukan salib atau bahkan aliansi pasukan salib dalam satu waktu. Maka mengambil legitimasi dari dalam bisa menjadi pintu kemenangan yang sunyi tapi efektif.

Tetapi ada hal penting dicatat bahwa pendekatan seperti ini bukan jalan mudah karena penuh dengan risiko, diwarnai ketegangan, dan membutuhkan kesabaran yang hampir tidak terlihat. Bekerja dalam sistem yang bertentangan dengan keyakinan sendiri berarti terus berada dalam dilema antara kompromi dan tujuan jangka panjang.

Dari sinilah Mesir kemudian berubah menjadi basis kekuatan Sunni yang baru. Dengan sumber daya ekonomi yang besar, stabilitas politik yang lebih solid, dan kesatuan ideologis dengan dunia Sunni, Shalahuddin akhirnya memiliki fondasi untuk melangkah ke tahap berikutnya yaitu konsolidasi Suriah dan konfrontasi dengan Tentara Salib.

Cerita ini menandakan bahwa, pembebasan Palestina tidak dimulai di Palestina semata. Tapi diprakarsai oleh rel panjang visi perjuangan yang terjal dari luar, meskipun kadang harus rela sesekali bermain lumpur.

Ada refleksi besar yang bisa kita tarik dan terasa sangat relevan dari kisah ini, bahkan di konteks modern.

Pertama, perubahan besar hampir selalu ditentukan oleh kerja-kerja sunyi yang tidak terlihat. Kita sering terpaku pada “momen kemenangan”, padahal yang lebih menentukan adalah fase panjang sebelum itu, fase membangun sistem, membentuk legitimasi, dan mengelola struktur.

Kedua, bekerja dari dalam sistem yang tidak ideal seringkali adalah pilihan strategis, bukan bentuk kompromi yang lemah. Shalahuddin menunjukkan bahwa berada di dalam tidak selalu berarti tunduk, karena kadang justru itu adalah posisi paling efektif untuk melakukan transformasi. Tapi, seperti yang terlihat, hal ini menuntut kesabaran ekstrem, kalkulasi yang presisi, keimanan yang kuat, serta ketangguhan dalam eksekusi visi jangka panjang.

Ketiga, tidak semua perubahan harus dimulai dengan konfrontasi terbuka. Ada kalanya, langkah paling radikal justru dilakukan secara bertahap, sampai sebuah sistem runtuh bukan karena diserang, tetapi karena tidak lagi punya pijakan.

Dan mungkin itu pelajaran paling tajam dari fase ini adalah bahwa kemenangan besar sering kali lahir bukan dari keberanian sesaat, tetapi dari kesanggupan menahan diri dalam jangka panjang.

*Ditulis oleh Dadang Irsyam, Divisi Kepalestinaan FLP Wilayah Jawa Timur

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version