Home Berita FLP Lewat Upgrading Virtual, FLP Jatim Perkuat Pilar Keorganisasian

Lewat Upgrading Virtual, FLP Jatim Perkuat Pilar Keorganisasian

Dalam rangka memperkuat pilar keorganisasian, Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur menggelar upgrading pilar keorganisasian secara virtual pada Jumat malam, 16 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 71 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Acara berlangsung hangat, mendalam, dan penuh refleksi tentang makna berorganisasi di FLP.

Kegiatan dibuka dengan pertanyaan sederhana namun menggugah, yaitu motivasi apa yang masih diingat selama berada di FLP. Beragam alasan bergabung pun muncul. Ada yang ingin belajar menulis, mencari teman sefrekuensi, memperluas jaringan, hingga sekadar ikut-ikutan.

Dalam pemaparannya, Bunda Novi Istina mengajak anggota FLP untuk jujur pada alasan personal mereka bergabung di organisasi. Ia mengutip gagasan Start with Why karya Simon Sinek bahwa setiap langkah perlu dimulai dari “why” atau alasan mendasar yang jujur. Menurutnya, alasan yang kuat akan membuat seseorang lebih terhubung dengan organisasi yang ditekuninya.

Bunda Novi juga mengingatkan bahwa niat terbaik dalam berorganisasi adalah karena Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-An’am ayat 162. Dari niat yang lurus itulah lahir ketulusan untuk bertumbuh dan berkhidmat bersama organisasi.

Mengusung tema “Mulai Lagi, Terus Berbakti, Berkarya, dan Lebih Berarti”, upgrading kali ini menekankan pentingnya memahami FLP bukan sekadar komunitas, melainkan wadah perjuangan. Jabatan di FLP bukan status, tetapi amanah yang perlu dijaga dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Konsep “Berbakti” dijelaskan sebagai sikap anggota yang hadir, bertumbuh, dan ikut menjaga ruh organisasi. Anggota FLP tidak hanya mengambil manfaat, tetapi juga merawat dan menguatkan wadahnya.

Sementara itu, konsep “Berkarya” menegaskan bahwa karya tidak dapat berdiri sendiri. Karya perlu ditopang tiga pilar utama, yaitu kepenulisan, keislaman, dan keorganisasian. Kepenulisan tanpa nilai keislaman dapat kehilangan arah. Sebaliknya, semangat keislaman tanpa kemampuan menulis membuat pesan sulit tersampaikan. Adapun organisasi yang lemah akan menghambat kaderisasi dan keberlanjutan perjuangan.

Bunda Novi menambahkan bahwa nilai keislaman dalam karya tidak terbatas pada kutipan ayat atau tema religi semata. Nilai tersebut juga hadir dalam adab, seperti kejujuran, kesopanan, dan kebenaran. Menurutnya, keislaman adalah ruh yang menghidupkan tulisan.

Ia juga menekankan pentingnya konsep meaning-making, yaitu kesadaran bahwa manusia akan lebih kuat ketika apa yang dilakukannya memiliki makna. Karena itu, penjenjangan anggota FLP bukan hanya urusan administrasi, tetapi upaya menjaga kesinambungan visi, nilai, dan ruh perjuangan penulis.

“Bukan sekadar apa yang saya dapatkan dari FLP, tetapi apa yang bisa saya wariskan untuk FLP,” menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan tersebut.

Pada bagian akhir, Bunda Novi menjelaskan makna “Lebih Berarti”. Menurutnya, inti gerakan FLP terletak pada dampak yang diberikan kepada masyarakat. FLP diharapkan melahirkan pribadi-pribadi yang lebih hidup, lebih jernih niatnya, lebih tajam penanya, dan lebih siap berkhidmat.

Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Beberapa peserta yang turut menyampaikan pandangan di antaranya Bu Atin dari FLP Gresik, Mbak Alifah dari FLP Lamongan, serta Mbak HD. Aisah dari FLP Surabaya juga menyampaikan pertanyaan terkait penjenjangan anggota.

Meski berlangsung secara virtual, upgrading keorganisasian FLP Jawa Timur berjalan lancar dan meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version