Pagi itu, peluh menetes dari wajah seorang ibu muda di tengah lembah yang tandus. Angin gurun membawa debu tipis yang menempel di kulit dan pakaiannya. Di sekelilingnya hanya hamparan batu dan pasir yang sunyi, tanpa pohon, tanpa mata air, tanpa tanda kehidupan. Tidak ada rumah untuk berlindung, tidak ada manusia yang bisa dimintai pertolongan.
Beberapa waktu sebelumnya, suaminya meninggalkannya di tempat itu demi menjalankan perintah dakwah dari Allah. Kepergian itu bukan karena tidak cinta, tetapi justru karena cinta mereka dibangun di atas ketaatan. Namun tetap saja, hati seorang perempuan adalah hati seorang manusia. Ada takut yang disimpan diam-diam. Ada bingung yang tidak seluruhnya terucap.
Di pelukannya, seorang bayi mulai menangis kehausan.
Tangisan itu makin lama makin lemah.
Tenggorokan bayi itu kering. Bibirnya pecah. Sang ibu pun menahan haus yang sama, tetapi naluri seorang ibu membuatnya lupa pada dirinya sendiri. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana anaknya bisa bertahan hidup.
Ia lalu berdiri.
Dengan langkah cepat ia naik ke bukit Safa, berharap menemukan sesuatu di kejauhan. Barangkali ada kafilah yang lewat. Barangkali ada sumur. Barangkali ada pertolongan. Namun ketika matanya menyapu cakrawala, yang terlihat hanyalah gurun panjang yang tidak menjawab apa-apa.
Ia turun lagi.
Lalu berlari menuju Marwah.
Kainnya bergerak diterpa angin panas. Nafasnya berat. Kakinya menghantam pasir yang membakar. Tetapi ia tidak berhenti. Dari Marwah ia kembali lagi ke Safa. Lalu kembali lagi. Berkali-kali.
Sa’i lahir dari seorang ibu yang kehausan, kelelahan, ketakutan, tetapi tidak menyerah.
Ia tidak duduk menunggu mukjizat turun begitu saja. Ia tidak berkata, “Kalau Allah mau menolong, mengapa aku harus berlari?” Tidak. Justru karena imannya kepada Allah begitu besar, ia tetap bergerak. Tetap mencari. Tetap berusaha.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran terbesar dari Sa’i bahwa ketaatan bukan berarti hidup tanpa takut, tetapi tetap berjalan meski rasa takut itu ada.
Allah mampu saja menurunkan Zamzam sejak awal. Namun Allah membiarkan Hajar berlari terlebih dahulu, seolah ingin menunjukkan bahwa manusia memang diperintah untuk berikhtiar sebelum menyaksikan pertolongan.
Karena itu, Sa’i bukan sekadar ritual antara Safa dan Marwah. Ia adalah simbol kehidupan manusia sendiri. Tentang usaha yang kadang terasa sunyi. Tentang doa yang belum langsung dijawab. Tentang langkah-langkah kecil yang tampak melelahkan dan berulang, tetapi tetap dilakukan karena iman.
Dan hari ini, Sa’i itu sangat terasa hidup di Palestina.
Di tanah yang penuh reruntuhan itu, ada ibu-ibu yang tetap memasak di antara bangunan yang hancur. Ada ayah yang tetap mencari makanan di tengah ancaman bom. Ada anak-anak yang belajar membaca di tenda pengungsian sambil menahan trauma dan kehilangan. Ada tenaga medis yang terus bekerja tanpa tidur cukup. Ada orang-orang yang tetap mengumandangkan azan di masjid yang sebagian dindingnya telah runtuh.
Mereka semua sedang melakukan sa’i.
Mereka tidak tahu kapan penjajahan akan berakhir. Tidak ada jaminan bahwa perjuangan mereka akan selesai dalam waktu dekat. Namun mereka tetap bergerak. Tetap bertahan. Tetap berusaha menjaga kehidupan dan martabat mereka agar tidak dihancurkan sepenuhnya.
Dan bukankah itu juga yang terjadi pada banyak manusia dalam hidupnya?
Ada yang sedang berlari mencari nafkah untuk keluarganya. Ada yang jatuh berkali-kali saat mengejar cita-cita. Ada yang sedang memperjuangkan kesembuhan, pendidikan, pekerjaan, atau masa depan yang lebih baik. Ada yang berusaha mempertahankan iman di tengah dunia yang melelahkan.
Kita semua memiliki lembah tandus masing-masing.
Kita semua pernah merasa seperti Siti Hajar yang lelah, bingung, takut, tetapi tetap harus melangkah.
Sa’i mengajarkan bahwa manusia tidak selalu diberi kepastian hasil. Yang diberikan kepada manusia hanyalah kewajiban untuk tetap berusaha. Sebab terkadang pertolongan Allah datang bukan ketika kita berhenti karena putus asa, tetapi justru ketika kita tetap bergerak meski hampir kehabisan harapan.
Mungkin karena itu Zamzam tidak muncul di atas bukit. Ia muncul di dekat kaki Ismail, di tempat yang bahkan tidak diduga Hajar sebelumnya. Seolah Allah ingin mengingatkan bahwa jawaban sering datang dari arah yang tidak mampu diperkirakan manusia.
Tugas kita hanyalah tetap berjalan.
Tetap melakukan sa’i.
Sebab hidup ini pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai pada kemenangan, melainkan siapa yang tetap setia berusaha di jalan yang benar, bahkan ketika dunia terasa sunyi dan langit belum juga memberi jawaban.
Ditulis oleh : Dadang Irsyam | Divisi Kepalestinaan FLP Jatim
