Home Artikel Dilema Penulis: Mengangkat Gelap, Menjaga Terang

Dilema Penulis: Mengangkat Gelap, Menjaga Terang

tips menulis
Sumber foto: pexels.com/Ron Lach

Menulis kegelapan bisa menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi penulis. Apakah tulisan bisa jadi ladang amal atau justru sumber dosa jariyah? Karena itulah perlu menimbang, bagaimana mengangkat realitas gelap tanpa menormalisasi keburukan dan tetap mengarahkan pembaca pada kebaikan.

Di era digital, tulisan tidak sekadar dibaca tetapi berlanjut untuk ditiru, disebarkan, dan diam-diam dijadikan guru kehidupan. Di titik inilah kegelisahan seorang penulis bermula. Bagaimana jika tulisan kita tidak berhenti sebagai bacaan? Melainkan menjelma menjadi model perilaku, bahkan meninggalkan jejak panjang.

Bagaimana jika cerita yang kita tulis justru menyajikan risiko sosial? Di mana akibat tulisan tersebut mengalir bukan karena kita berniat buruk tetapi kita lalai menakar dampaknya.

Sebab, yang paling tahu arah sebuah tulisan sebenarnya bukan pembaca pertama, melainkan penulisnya sendiri. Penulis yang memahami ke mana ia hendak membawa para pembaca, mendekat pada kebaikan atau justru membuka pintu keburukan.

Realitas yang Perlu Disaring

Dunia anak muda hari ini, terutama dalam ruang-ruang percakapan digital, memang tidak selalu akrab dengan nilai-nilai etika Islami. Bahasa yang kasar, batas relasi yang kabur, hingga candaan yang melampaui batas kerap lebur dalam “keseharian”. Demi dianggap gaul, anak muda mewajarkannya.

Mengangkat realitas tersebut ke dalam tulisan bukanlah kesalahan. Tidak serta-merta menjadi pintu mendekati dosa. Justru, di situlah letak kejujuran seorang penulis menuangkan kepekaan sosialnya. Namun, kejujuran tanpa kendali dan kepekaan moral yang menyeimbangi bisa mengarahkan pada normalisasi.

Di sinilah kegelisahan itu kembali muncul. Ketika detail-detail keburukan ditulis terlalu hidup, terlalu dekat, terlalu “nikmat” untuk dibaca. Dalam kondisi ini, apakah kita sedang mengingatkan atau tanpa sadar malah mengajarkan? Adakalanya, batasan antara cermin refleksi dan godaan mengikuti menjadi sangat tipis.

Belajar dari Cara Al-Qur’an Bercerita

Dalam Al-Qur’an, kita bisa menemukan beragam kisah. Agar tak gelisah berkepanjangan, yang perlu jadi perhatian bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi bagaimana cara penuturannya. Misalnya, kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha yang menunjukkan adanya godaan yang manusiawi. Namun, dalam Al-Qur’an, tidak ada detail yang mengundang imajinasi liar. Tidak ada romantisasi adegan. Yang ditonjolkan justru keteguhan, penolakan, dan kemenangan moral.

Dari sini, kita bisa belajar bagaimana, bahkan ketika membahas godaan pun, perlu tetap menjaga kehormatan cara bercerita agar sesuai nilai Islam. Maka, bukan peristiwanya yang sebenarnya berbahaya, melainkan bagaimana cara kita menuturkannya.

Menulis dengan Tanggung Jawab

Penulis tidak cukup hanya berniat baik tapi juga harus piawai dalam menuturkan. Kita bisa belajar dari Habiburrahman El Shirazy yang menghadirkan kisah cinta tanpa kehilangan arah nilai dan pesan moral. Atau Hamka yang menulis cinta dengan kedalaman hikmah. Begitu pula Tere Liye dan Bunda Sinta Yudisia yang menjaga pesan kebaikannya tetap kuat tanpa terasa menggurui. Mereka tidak sekadar bercerita, tetapi menuntun pada kesadaran moral. Mereka menunjukkan, kekuatan tulisan bukan pada keberanian membuka sisi gelap, tetapi pada kejernihan dalam memberi arah.

Menulis bisa menjadi amal jariyah, ketika menginspirasi kebaikan yang terus mengalir. Sebaliknya, menulis juga bisa dosa jariyah, ketika tanpa sadar menanam benih keburukan yang terus ditiru pembaca.

Sebagai penulis, kita memang tidak bisa mengendalikan sepenuhnya bagaimana pembaca menafsirkan dan mengaitkannya dengan pengalamannya. Namun, kita bisa memastikan, kita telah berhati-hati sejak awal. Proses kreatif membuat kita berpikir keras bagaimana menakar kata, menjaga sudut pandang, dan menahan diri dari romantisasi yang tidak perlu.

Jika pun harus mengangkat sisi gelap, pastikan gelap itu hadir sebagai peringatan, bukan godaan. Karena pada akhirnya, setiap tulisan akan menemukan jalannya sendiri di hati pembaca. Kemudian, di sanalah, tulisan akan terus hidup. Entah sebagai cahaya yang menuntun atau jejak yang diam-diam menyeret. Pilihan itu sejak awal ada di tangan kita, sang penulis!

Karya Sayyidah Nuriyah, Forum Lingkar Pena Cabang Gresik pada program Rabu Karya di Grup WA FLP Jatim.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version