Home Fiksi Jejak di Ujung Tongkat

Jejak di Ujung Tongkat

cerpen

Lampu-lampu kota memantul di dinding kaca lantai tiga puluh dua. Dari balik jendela, Surabaya tampak seperti papan sirkuit yang menyala—garis-garis jalan berpendar, mobil bergerak seperti kunang-kunang kecil.

Di dalam ruangan, tepuk tangan belum juga berhenti.

“Selamat untuk Ibu Laras Adinegara, penerima penghargaan Pengusaha Muda Tahun Ini!”

Kilatan kamera menyambar-nyambar. Laras berdiri di depan podium, satu tangan memegang piala, tangan lainnya menggenggam tongkat aluminium hitam yang menahan kaki kirinya.

Gaun biru tuanya menjuntai rapi hingga mata kaki. Di bawah kain itu, kaki kirinya lebih kecil dan sedikit melengkung ke dalam. Setiap langkah selalu diiringi bunyi pendek dari ujung tongkat yang menyentuh lantai marmer.

Tak. Tak. Tak.

Ia tersenyum ketika kamera mengarah kepadanya. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun: cukup hangat, cukup tenang, cukup kuat.

Seorang wartawan menyodorkan mikrofon.

“Apa rahasia kesuksesan Anda, Bu Laras?”

Laras menatap kilatan lampu di depan wajahnya. Untuk sesaat ia melihat pantulan dirinya di lensa kamera: rambut disanggul rapi, lipstik merah muda, bahu tegak.

Lalu, entah kenapa, ia teringat sepasang tangan besar yang dulu pernah memegang setang sepeda kecil warna kuning.

“Pelan-pelan, Ras,” suara itu pernah berkata. “Ayah pegang dari belakang.”

Ia mengedip cepat.

“Kerja keras,” jawabnya akhirnya. “Dan… jangan menyerah.”

Tepuk tangan kembali pecah.

Namun saat semua orang berdiri, Laras justru merasa ruangan itu kosong.


Malam itu, ia pulang ke apartemen sendirian.

Piala penghargaan diletakkannya di rak, di antara deretan piagam dan foto-foto kerja sama. Ada foto dirinya berjabat tangan dengan pejabat, foto saat membuka cabang baru, foto bersama para karyawan.

Tak ada satu pun foto ayahnya.

Laras membuka laci paling bawah di meja kerjanya. Dari dalam map plastik kusam, ia mengeluarkan sebuah foto lama yang pinggirannya mulai menguning.

Seorang pria berkumis tipis jongkok di samping anak perempuan berumur tujuh tahun. Anak itu memakai sepatu besi di kaki kirinya dan tersenyum lebar sambil memegang balon merah.

Pria itu menatap si anak, bukan kamera.

Seolah-olah tak ada hal lain di dunia selain anak perempuan itu.

Jempol Laras mengusap wajah pria di foto itu.

Di belakang foto, ada tulisan tangan yang mulai pudar.

Untuk Larasku. Kalau suatu hari ayah pergi jauh, cari ayah di tempat pertama kita melihat laut.

Laras menutup mata.

Sudah dua puluh tahun tulisan itu berdiam di laci.

Dua puluh tahun juga ayahnya menghilang.


Dulu, rumah mereka sempit. Atap sengnya bocor. Jika hujan turun deras, ibunya akan menggeser ember ke sana-sini sementara ayahnya menaruh panci di sudut ruang tamu.

Tapi setiap Minggu pagi, ayah selalu menggendong Laras ke ujung gang.

“Naik kapal, Kapten?” katanya sambil menepuk pundaknya.

Laras akan tertawa, melingkarkan tangan di leher ayah, lalu membiarkan dirinya dibawa melewati warung, kali kecil, dan jalan tanah.

Kaki kirinya tak pernah kuat berjalan jauh. Kadang-kadang anak-anak lain menirukan caranya berjalan.

“Pincang! Pincang!”

Laras kecil pernah berdiri mematung di pinggir jalan, bibirnya gemetar.

Ayah datang, jongkok di depannya, lalu melepas sandal jepitnya sendiri.

“Lihat kaki ayah,” katanya.

Laras menunduk.

Satu sandal ayah putus.

Ayah lalu berjalan terpincang-pincang sambil menyeret kaki kanan dengan wajah berlebihan.

“Wah, ternyata ayah lebih aneh dari Laras.”

Laras tertawa sampai ingusnya keluar.

Ayah ikut tertawa.

Suara tawanya seperti pintu kayu yang dibuka perlahan—berat, hangat, dan akrab.

Lalu suatu sore, suara itu hilang.

Ayah pamit pergi bekerja ke luar kota. Ia mencium kening Laras, memasukkan roti cokelat ke dalam tas sekolahnya, lalu menepuk kepala Laras pelan.

“Tunggu ayah, ya.”

Pintu ditutup.

Dan tak pernah terbuka lagi.


Tiga hari setelah malam penghargaan itu, Laras berdiri di stasiun lama di kota kecil pinggir pantai.

Udara asin menempel di kulit. Tongkatnya mengetuk lantai peron yang retak.

Tak. Tak. Tak.

Di tangannya ada foto lama dan secarik alamat yang ia dapat dari bekas teman ayahnya.

“Dulu dia pernah tinggal dekat pelabuhan,” kata lelaki itu lewat telepon. “Tapi saya nggak tahu sekarang masih ada atau tidak.”

Laras menyewa becak menuju kawasan pelabuhan lama.

Rumah-rumah kayu berdiri rapat. Catnya mengelupas. Jemuran bergoyang di depan pintu. Anak-anak berlari tanpa sandal.

Ia berhenti di depan rumah bercat hijau pucat.

Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

Seorang perempuan tua muncul. Rambutnya putih seluruhnya. Matanya menyipit ketika melihat Laras.

“Cari siapa?”

Laras menunjukkan foto.

“Saya mencari ayah saya. Namanya Rahmat.”

Perempuan itu memegang foto dengan tangan bergetar.

Lama sekali ia diam.

Lalu ia menoleh ke dalam rumah.

“Mat… ada yang datang.”

Jantung Laras berhenti sesaat.

Dari dalam terdengar suara kursi bergeser. Langkah pelan. Berat.

Seorang lelaki tua keluar sambil memegang dinding.

Tubuhnya lebih kurus dari yang Laras ingat. Rambutnya memutih. Kumis tipis itu masih ada, meski tak lagi serapi dulu.

Mata lelaki itu jatuh ke foto di tangan Laras.

Lalu ke kaki kiri Laras.

Tongkat aluminium itu bergetar pelan di tangan Laras.

“Ayah?”

Lelaki itu membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar.

Bibirnya bergerak pelan.

“Laras?”

Nama itu terdengar seperti sesuatu yang sudah lama sekali terkubur.

Laras melangkah maju. Tongkatnya tersangkut di ambang pintu dan hampir membuatnya jatuh.

Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, dua tangan tua menangkap bahunya.

Tangan yang sama.

Tangan besar yang dulu memegang setang sepeda kuning.

Laras memegang pergelangan tangan itu erat-erat.

Ada bekas luka panjang di sana.

“Kenapa Ayah pergi?”

Suara Laras pecah di kata terakhir.

Rahmat menunduk. Bahunya naik turun pelan.

Di ruang tamu yang sempit, kipas angin berdecit pelan. Di meja ada gelas teh yang belum disentuh.

“Waktu itu ayah sakit,” katanya akhirnya. “Dokter bilang jantung ayah rusak. Ayah pinjam uang ke banyak orang. Ayah pikir… kalau ayah pergi, ibu dan kamu nggak ikut ditagih.”

Laras menatap wajah tua di depannya.

Ada garis-garis lelah di sekitar mata itu. Ada malam-malam panjang yang tertinggal di sana.

“Ayah pikir aku nggak akan mencari?”

Rahmat menggigit bibirnya.

“Setiap ulang tahunmu, ayah datang ke depan rumah. Dari jauh.” Ia tersenyum tipis. “Ayah lihat kamu berangkat sekolah pakai tongkat baru. Lalu kuliah. Lalu kerja.”

Tangannya merogoh saku kemeja lusuh.

Ia mengeluarkan potongan-potongan koran yang sudah dilipat kecil.

Semuanya tentang Laras.

Foto saat ia lulus kuliah.

Foto saat usahanya masuk majalah.

Foto malam penghargaan tiga hari lalu.

Pinggirannya sudah kusut karena terlalu sering dibuka.

Laras memegang satu guntingan koran. Di foto itu, ia sedang tersenyum di atas panggung.

Di sudut bawah, ada bekas sidik jari.

Ia tak tahu kenapa, tapi mendadak ia ingin menangis seperti anak kecil.

Bukan tangis yang anggun. Bukan tangis yang pelan.

Tangis yang berantakan.

Tangis yang tertahan dua puluh tahun.

Rahmat membuka kedua lengannya perlahan.

Laras menjatuhkan tongkatnya.

Bunyi logam memantul di lantai.

Namun sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan, Rahmat sudah lebih dulu menopangnya.

Seperti dulu.

Di luar rumah, suara ombak terdengar jauh.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Laras tidak merasa berjalan sendirian.

Cerpen ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim

GKB Gresik, 090426 : 07.25 WIB

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version