Innalilahi wa innalilahi raaji’un! Ini mimpi buruk! Dokter Tulus meninggal? Bahkan lebih buruk dibanding virus ini. Bagaimana bisa lelaki yang menghafal setengah total halaman al-Qur’an meninggal seketika. Allahu akbar …
Duka itu layaknya kilat. Menusuk hampir tiga ratus sekian jiwa di desa terpencil yang berbatasan dengan kota. Duka yang diantar paksa untuk dirasakan pula oleh dua puluh sekian juta jiwa lainnya. Dibagikan dari Grup WhatsApp kemudian diteruskan ke grup lain kemudian diteruskan lagi. sampai viral di media; Seorang Dokter meninggal karena Wabah. Berita yang seharusnya menyakitkan bagi tiga ratus sekian jiwa di desa terpencil yang berbatasan dengan kota.
“Jerman Lockdown[1]. Ranti terjebak wabah, tak mungkin kembali saat ini.”
Pasang-pasang mata memberi komentar kecut. Mbak Ranti putri tunggal Dokter Tulus mungkin meraung di ujung bumi sana. Andai saja jutaan merpati yang ada di negara itu mampu menariknya terbang, mungkin akan ia lakukan.
Mobil yang aku kendarai memasuki perbatasan desa.
***
Kuburan itu sepi. Makin sepi sebab langit memudar kelabu. Gundukan merah di depanku masih hangat penuh bunga, wangi. Aku yang duduk mendampingi ibuku, ibu angkatku, mencari kata. Dua laki-laki yang membersamaiku khusyuk dalam doa panjang. Doa yang entah keberapa kalinya mereka ulang panjatkan.
“Le. Ingat pesan bapak. Jadilah ulama. Ustadz. Ajari anak-anak kampung ngaji, hapalkan Quran. Jadikan Musholah itu rame, Le! Rame karena celotehan bocah yang semangat ngaji. Rame suara ibu-ibu kampung diba’an. Sama bapak-bapak tahlilan. Itu satu-satunya cita-cita Bapak yang ia titipkan padamu.”
Wanita yang aku panggil ibu, enggan menyeka air matanya. Ia biarkan buliran bening itu luruh menetes, tapi tanganku menangkapnya. Ia tersenyum menyetujui caraku, dalam tangis yang mungkin masih ia tahan.
Mungkin seperti itu yang Bapak harapkan. Mengantarku pada pesantren, sama seperti dirinya. Cita-cita yang sulit ia wujudkan kala itu. Harapan yang kemudian ia jaga ketika menemukanku. Harapan yang ia bangun hampir bersamaan. Harapan untukku dan mbak Ranti. Bapak yang mengajariku menjadi tulus seperti pengabdian seorang santri, pengabdian manusia pada penciptaNya.
***
Dokter Tulus, seperti namanya. Laki-laki yang memilih pindah ke desa mereka 15 tahun lalu itu diyakini anugerah atas shalawat dan diba’ yang dilantunkan tiap pekan. Desa yang hanya memiliki sebuah masjid tanpa marbot[2] dengan seorang imam sekaligus khatib lanjut usia yang sakit-sakitan. Wajar mereka membutuhkan penerus imam. Sedangkan tanpa sengaja sang dokter suatu ketika menggantikan imam salat jumat. Walaupun tidak menyelesaikan pendidikan pesantrennya karena keharusan mengikuti keluarga menyebrang benua, menjadi santri berhasil ia bumikan dalam dirinya.
Kisah itu hampir menjadi legenda. Bapak-bapak yang makin menua kala itu makin semangat ngaji[3] di teras rumah sang dokter. Satu-satunya masjid di desa terlalu jauh bagi langkah tua mereka.
***
Dokter Tulus meninggal. Itu saja meremukkan batin. Mungkin puluhan ibu atau anak-anak yang berbau pensil juga sepaham. Dokter yang mengenakan jas putih lengan panjang ketika berkeliling desa ke desa itu berharga, untukku terutama. Empat belas tahun lalu Allah SWT mengirimkannya untukku. Bocah yang diusir orang tuanya karena perceraian dalam demam tinggi. Tubuh bocahku menggigil di pinggir trotoar di tengah kota.
“Aku tidak membuangmu. Aku ingin kau bisa paham akidah dan berakhlak layaknya Ahlussunnah wal Jamaah sejati. Desa ini butuh khatib dan imam. Dan yang penting, Mushola yang aku wakafkan itu bermanfaat.”
Katanya suatu sore di pendapa kecamatan desa. Layaknya bapak dan anak, Kami duduk bersebelahan menunggui warga desa yang membantu pembangunan Puskesmas. Kas desa kala itu nihil. Konon, sudah digunakan Bu Carik berangkat haji. Dokter Tulus yang hatinya lembut itu kemudian mendatangkan batu bata, pasir, gamping, juga semen. Benar-benar tulus. Belum lagi orang-orang yang bergantian datang selepas Isya atau menjelang Subuh di teras rumah yang kemudian disulap menjadi klinik sederhana. Bayaran? Dokter hanya menyediakan kaleng kongGuan dengan tutup mirip celengan di samping pintu masuk.
Jika pasien sudah jauh, aku merapikan kaleng itu. Menyatukan warna dan gambar yang sama untuk kemudian aku berikan pada ibu angkatku, istrinya. Ia mengikat lembar-lembar berwaran biru dan hijau dalam satu gulungan. Memberikannya pada suaminya yang kemudian memasukkannya dalam tas kulit merek kenamaan. Tidak ada warna merah, tak pernah. Biru itupun tak banyak.
***
Dokter Tulus meninggal. Aku tak bisa memercayainya. Laki-laki yang menghabiskan jiwa dan raganya untuk bersedekah itu berpulang. Bagaimana Allah SWT tega mengambilnya di tengah wabah yang hampir ia taklukkan bersama ratusan jas putih lainnya.
“Le, pulanglah dulu. Ibumu butuh teman.” Kiai Soleh, sahabat sang dokter ketika belajar di pesantren.
Isi kepala yang hampir berasap karena padatnya jadwal ujian reda seketika. Kaca mobil seperti corong. Bahkan suara semut seolah mampu tertangkap telinga.
“Dokter meninggal.”
“Desa ini tidak aman.”
“Dia penyebar wabah di desa.”
“Aku tak mau memandikan jenazahnya.”
“Jangan. Jangan dimakamkan di sini. anak cucu kita bisa tertular.”
“Jauhi keluarganya, mereka penyebar wabah.”
Remuk. Suara-suara sumbang itu meninggi menggila. Duka ini terlalu dalam, tapi suara mereka teramat tak masuk akal. Bukankah hidup dan mati kehendakNya. Sedang alharhum adalah pejuang garda depan yang sepatutnya dimuliakan.
“Bagaimana jika itu kau, mau dimakamkan di mana otakmu itu!”
“Dia itu dokter yang nyembuhin anakmu.”
“Dia itu yang ngajarin kamu ngaji, kok kamu tega ngomong gitu.”
Warga desa terbelah. Menjadi dua kubu yang bersiap berdebat. Seperti ajang pilihan daerah, masing-masing memiliki argumen yang dibantahkan satu sama lain. Hampir kehilangan kewarasan, Tak mau mengalah, tak mau dikalahkan. Bahkan dari sesuatu yang belum tentu kebenarannya.
***
Wabah ini membuat sebagian orang ikut kehilangan kewarasan. Virus yang berukuran genom sekitar 27 hingga 34 kilobase[4] yang merusak paru-paru secara cepat telah memakan hampir tiga puluh ribu korban jiwa di seluruh dunia. Bahkan status darurat dibenderakan di hampir pelosok bumi.
Virus ini mewabah, menjadi pandemi hanya selang hitungan hari. Memaksa tim kesehatan berjibaku dengan waktu. Sedang negara memilih mengobati yang sakit dan terenggah-enggah menekan penyebaran virus berminggu-minggu. Sekolah diliburkan, guru dan siswa dirumahkan. Katanya agar belajar di rumah. Tapi remaja-remaja tanpa seragam masih ramai di pinggir-pinggir kota, di ujung-ujung gang, di pusat perbelanjaan. Berkelakar. Mungkin yang aman hanya santri pondokan. Tembok-temboknya tak hanya melindungi namun juga menetramkan hati manusia agar tetap waras atau panik karena keadaan. Wajar. Sebab hafalan Quran, shalawat, diba[5], dan salat jamaah sejatinya mendekatkan para santri pada sang penciptaNya. Menarik kedekatan hingga hilang rasa khawatir dengan tetap berikhtiar.
***
Mobil yang aku kendarai berhenti di depan teras rumah tanpa pagar dengan rumput hijau yang teratur. Tak ada keranda, tak ada tirai hijau pembatas jenazah, tak ada peziarah. Rumah yang aku singgahi tiap enam bulan sejak pagar pesantren aku lalui, terasa ngeri kali ini.
“Ham. Ada kita, gak usah sedih atau khawatir.”
“Kita Keluarga, Ham.”
Ustadz Hanafi dan Cak Amin, pengantarku sore ini menguatkan batin. Sedang telinga berusaha melupakan suara-suara yang diterimanya sejak roda kendaraan itu memasuki perbatasan desa. Mungkin ini ujian kehidupan. Bagaimana seorang pejuang kemudian hampir dilupakan. Tentang ketulusan hati yang sering kali dinodai. Hanya seorang yang tulus yang mampu melewati.
Rumah berpintu gebyok itu ikut berduka. Warnanya memudar sedang bunga-bunga di sekeliling tamannya layu. Mungkin hujan lupa bersinggah. Atau mereka ikut berduka atas kepergian pemiliknya secara tiba-tiba. Seperti wajah wanita dibalik pintu gebyok yang aku kenali. Cantiknya berkerut seperti kerutan ukiran bunga-bunga dari kursi kayu yang ia duduki. Sama, seperti wanita disebelahnya, mendung.
“Ilham …” suaranya gemetar, pelan.
Kakiku menyegera bahkan mendului salam yang diucap ustadz Hanafi. Wanita yang aku panggil ibu, menangis walau tak kudapati air matanya meleleh. Mungkin ia berlinang di tempat lain. Bik Yayuk, perempuan paruh baya yang putranya dibiayai penuh oleh sang dokter, setia menemani.
Tak ada jenazah. Rumah sakit keberatan memulangkan. Bukan karena virusnya, tapi rasa duka mereka kelewat lebih, terutama tentang kekhawatiran warga. Tapi Allah SWT maha atas segala. Ibu wali kota tempat rumah sakit itu berdiri puluhan tahun lalu itu mengurus ijin pemakaman. Mengenal Dokter Tulus dengan hati yang lembut itu, ibu wali kota menggunakan wewenangnya. Sang dokter yang pendidikan santrinya terputus karena harus mengikuti keluarganya menyebrang benua, dimakamkan di taman makam pahlawan.
Desa itu hening lebih lama. Tiap-tiap rumah meredupkan petromaxnya. Lirih suara-suara itu keluar dari pintu juga tembok menembus kayu, menembus dinding. Suara-suara yasin yang digemakan untuk satu nama, Dokter yang dulunya bercita-cita menjadi santri dan menghabiskan hidupnya mengabdi. Suara-suara itu menggema, bersatu dalam langit-langit doa, menyimpul mesra, lalu melesat ke angkasa.
***
[1] Karantina (wilayah/daerah/negara)
2 orang yang bertanggungjawab mengurus keperluan langgar/surau atau masjid, terutama yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.
3 Mengaji merujuk pada aktivitas membaca Al Qur’an atau membahas kitab-kitab oleh penganut agama Islam.
4 Satuan panjang setara dengan 1 000 pasangan basa molekul asam nukleat ganda-terdampar.
5 tradisi membaca atau melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad yang dilakukan oleh masyarakat NU
