Home Artikel Workshop Menulis Novel FLP Jatim: Dari Bedah Premis hingga Pesan Sinta Yudisia

Workshop Menulis Novel FLP Jatim: Dari Bedah Premis hingga Pesan Sinta Yudisia

Sidoarjo – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur menyelenggarakan Workshop Menulis Novel pada Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 09.00–11.00 WIB secara daring. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat umum dan anggota FLP Jawa Timur. Peserta tersebut memiliki ketertarikan untuk mengembangkan keterampilan menulis novel.

Workshop kali ini menghadirkan Sinta Yudisia sebagai pemateri. Peserta belajar proses kreatif penulisan novel, dari mengembangkan ide cerita hingga merumuskan premis yang kuat.

Sinta Yudisia juga memberi pesan kepada peserta “Berupayalah dengan sempurna, Keajaiban Tuhan menjadikannya paripurna.” Pesan ini mengajak para penulis untuk memberikan ikhtiar terbaik dalam berkarya, sementara hasil akhirnya serahkan pada Tuhan.

Beliau juga berharap semoga kelas-kelas kepenulisan ini terus berkesinambungan dan dari kelas ini, karya-karya akan lahir di tengah masyarakat. Dengan lahirnya sebuah karya, kekuatan mental kita akan diuji selaras dengan keterampilan menulis kita.

Menulis sebagai Gerakan untuk Mengobati Ekosistem

Gagasan menarik dari Sinta Yudisia bahwa menulis merupakan gerakan untuk mengobati ekosistem. Menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan ide ke dalam kata-kata, melainkan juga dapat menjadi sarana pemulihan diri, pengolahan pengalaman, dan penyampaian makna kepada orang lain.

Untuk menggambarkan gagasan tersebut, ia menyinggung pengalaman Carla Van Raay, penulis buku God’s Callgirl, yang mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai penyintas kekerasan seksual dan proses penyembuhan melalui penulisan.

Contoh lainnya adalah Viktor E. Frankl, penulis Man’s Search for Meaning. Selama menjadi tahanan kamp konsentrasi Nazi, Frankl menemukan dan mengembangkan pemaknaan tentang kehidupan, penderitaan, serta pencarian makna hidup. Kisahnya menunjukkan bagaimana pengalaman manusia yang paling sulit bisa menjadi karya yang memberikan penguatan bagi orang lain.

Kedua contoh tersebut memperlihatkan bahwa menulis dapat menjadi ruang untuk memahami pengalaman, mengolah luka, dan menghadirkan harapan. Karya yang lahir dari pengalaman personal bahkan dapat melampaui kehidupan penulisnya sendiri dan memberikan manfaat bagi pembaca yang memiliki pengalaman serupa.

Tetap Berkarya di Tengah Situasi yang Rumit

Sinta Yudisia juga mengajak peserta untuk tidak kehilangan semangat berkarya di tengah situasi Indonesia yang penuh tantangan dan kompleksitas. Menurutnya, kondisi yang tidak selalu ideal bukan alasan untuk berhenti menghasilkan karya berkualitas.

Penulis perlu terus berupaya menghadirkan karya terbaik, meskipun perjalanan sebuah karya tidak selalu mudah dan penerimaan pasar tidak selalu sesuai harapan. Karya yang tidak langsung laku di pasaran bukan berarti kehilangan nilai atau tidak memiliki pembaca. Setiap karya memiliki perjalanan dan tempatnya sendiri.

Ia mengingatkan bahwa karya yang diniatkan dengan sungguh-sungguh dan dikerjakan dengan ikhtiar terbaik akan memiliki takdirnya sendiri. Karena itu, penulis tidak semestinya hanya menjadikan popularitas atau keuntungan komersial sebagai ukuran keberhasilan berkarya.

Pesan ini menjadi dorongan bagi para peserta untuk terus menulis, menjaga kualitas, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai keterbatasan.

Workshop Menulis: Bedah Premis, Mengasah Fondasi Cerita

Tidak hanya menyampaikan materi, workshop ini juga menghadirkan sesi bedah premis peserta. Beberapa premis peserta dibahas untuk mendapatkan masukan, saran, dan arahan pengembangan cerita. Dari bedah tersebut, peserta mengetahui kekuatan maupun hal-hal yang masih perlu diperbaiki dari gagasan cerita yang mereka miliki.

Bedah premis menjadi salah satu bagian penting agar gagasan cerita dapat terarah dan memiliki daya tarik bagi pembaca.

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini menjadi ruang belajar sekaligus berbagi pengalaman bagi para calon penulis dan penulis yang ingin mengembangkan karya fiksi. Kehadiran peserta dari kalangan anggota FLP Jatim maupun masyarakat umum juga memperlihatkan semangat kolaborasi dalam membangun ekosistem literasi dan kepenulisan yang lebih luas.

Melalui penyelenggaraan Workshop Menulis Novel ini, FLP Jawa Timur berharap dapat memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan bagi peserta dalam mengembangkan potensi kepenulisan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya FLP Jatim untuk menghadirkan ruang belajar literasi yang terbuka, inspiratif, dan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin bertumbuh sebagai penulis.

Sebab, sebagaimana pesan yang disampaikan Sinta Yudisia, tugas penulis adalah terus berikhtiar dengan sebaik-baiknya. Tidak semua karya harus segera mendapatkan popularitas, tetapi setiap karya yang lahir dari kesungguhan memiliki peluang untuk menemukan pembacanya dan memberikan makna.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version