Lemari tua di kamar belakang itu tak pernah benar-benar tertutup.
Pintunya selalu menyisakan celah selebar jari. Dari celah itu, setiap malam, keluar bau kapur barus, melati kering, dan hujan yang entah datang dari mana.
Aku biasa tidur di lantai, tepat di depan lemari itu. Dulu Ibu sering marah karena aku tak mau tidur di ranjang.
“Nanti masuk angin,” katanya sambil menarik selimut sampai ke daguku.
Sekarang ranjang itu rapi, terlalu rapi, seperti belum pernah ditiduri siapa pun. Bantalnya berdiri tegak. Selimutnya licin. Tak ada lekukan kepala, tak ada rambut yang tertinggal di sarung bantal.
Hanya lemari itu yang masih berani bernapas.
Malam-malam tertentu, ketika hujan jatuh pelan di atap seng, suara dari dalam lemari terdengar seperti sendok mengaduk teh.
Cekikik kecil.
Ting.
Ting.
Aku duduk. Jam dinding di ruang tamu berhenti di pukul 02.17 sejak Ibu dimakamkan, tapi malam tetap bergerak dengan caranya sendiri. Bulan pindah ke jendela. Cicak-cicak saling memanggil. Dan dari celah lemari, cahaya kuning tumpah ke lantai.
Aku mendorong pintunya.
Di dalam lemari itu ada rumah.
Bukan rumah kami. Rumah itu lebih kecil, seukuran kotak musik. Atapnya terbuat dari kain batik. Jendelanya memancarkan cahaya temaram. Asap tipis mengepul dari cerobong, dan di halaman depan berdiri pohon mangga yang dahannya dipenuhi sendok-sendok aluminium.
Saat angin bertiup, sendok-sendok itu berdenting seperti hujan yang lupa jatuh.
Aku mengecil.
Atau mungkin rumah itu yang membesar.
Tahu-tahu aku sudah berdiri di halaman, dengan lutut penuh tanah dan tangan yang berbau minyak kayu putih.
Pintu rumah terbuka sedikit.
Di dalam, radio tua di atas meja sedang memutar lagu yang dulu sering dinyanyikan Ibu sambil menyapu. Lagu itu terdengar seperti seseorang melipat senja berkali-kali.
Di dapur, sepanci sayur bening mendidih sendiri.
Wortel dan bayam berputar pelan di dalamnya seperti ikan kecil.
Di kursi dekat jendela tergantung cardigan abu-abu milik Ibu.
Lengannya bergoyang perlahan.
Seolah ada seseorang yang baru saja melepaskannya.
“Bu?”
Tak ada jawaban.
Hanya suara pisau memotong bawang dari ruangan belakang.
Tak.
Tak.
Tak.
Aku mengikuti suara itu melewati lorong sempit. Dinding lorong dipenuhi foto-foto keluarga, tapi semua wajah di foto menghadap ke arah lain. Ayah menoleh ke jendela. Aku kecil menatap langit-langit. Dan Ibu—di setiap foto—Ibu selalu membelakangi kamera.
Di ujung lorong ada pintu merah.
Ketika kubuka, aku masuk ke laut.
Airnya setinggi dada, hangat seperti air teh. Langit di atas berwarna hijau pucat. Di permukaan laut terapung ribuan benda dari rumah kami: sisir bergigi patah, centong nasi, sandal jepit, cangkir retak, gulungan benang, gunting kecil, dan sapu lidi.
Semua bergerak perlahan mengikuti arus.
Di kejauhan, seseorang berdiri di atas meja makan yang mengapung.
Rambutnya panjang.
Ia mengenakan daster biru dengan bunga-bunga kecil.
Aku berenang.
Air laut berubah menjadi beras. Butir-butir putih memenuhi mulut dan telingaku. Setiap kali aku bergerak, terdengar suara Ibu memanggil namaku dari dalam butiran itu.
Pelan.
Jauh.
Seperti suara dari dasar sumur.
Aku terus berenang sampai meja itu cukup dekat.
Di atas meja ada piring, teko, semangkuk jeruk, dan sepiring nasi yang masih mengepul.
Perempuan itu duduk membelakangiku.
Tangannya sedang mengupas mangga.
Kulit mangga itu jatuh ke laut dan berubah menjadi ikan kuning.
“Bu,” kataku lagi.
Tangannya berhenti.
Pisau kecil di tangannya memantulkan langit hijau.
Ia menoleh sedikit.
Tapi wajahnya tertutup kabut tipis, seperti kaca kamar mandi setelah disiram air panas.
Aku naik ke atas meja.
Kakiku basah oleh kuah sayur.
Atau mungkin air laut.
Atau mungkin sesuatu yang lain.
“Aku pulang,” kataku.
Perempuan itu meletakkan pisau.
Lalu, dengan pelan, ia mendorong piring nasi ke arahku.
Di atas nasi itu ada telur dadar yang dipotong menjadi empat.
Persis seperti dulu.
Persis seperti setiap pagi ketika aku terlambat sekolah dan Ibu menyuruhku makan lebih cepat.
Aku ingin bicara banyak hal.
Tentang rumah yang sekarang terlalu sunyi.
Tentang Ayah yang mulai bicara sendiri di teras.
Tentang jemuran yang tak pernah lagi berbau matahari.
Tentang diriku yang sering lupa seperti apa suara tertawa Ibu.
Tapi mulutku penuh nasi.
Dan setiap kunyahan berubah menjadi pasir.
Perempuan itu mengangkat tangan.
Jarinya menyentuh rambutku.
Hangat.
Lalu tiba-tiba rambutku dipenuhi kupu-kupu putih.
Kupu-kupu itu keluar dari kepalaku, satu per satu, membawa potongan-potongan ingatan di sayapnya.
Ibu duduk di pinggir ranjang sambil menjahit kancing.
Ibu meniup sendok bubur sebelum menyuapiku.
Ibu tertidur di sofa dengan televisi masih menyala.
Ibu tertawa sampai bahunya berguncang karena aku salah mengucapkan nama tetangga.
Kupu-kupu itu beterbangan ke langit.
Dan langit mulai retak.
Retakannya berbentuk garis-garis tipis, seperti piring lama yang terlalu sering dipakai.
Dari sela retakan, jatuh hujan benang.
Benang-benang itu menggantung di udara.
Perempuan di depanku mengambil satu.
Ia mulai menjahit langit.
Tusuk demi tusuk.
Tangannya cepat dan tenang.
Seperti ketika dulu ia menjahit seragam sekolahku yang robek.
Aku menatap tangannya lama sekali.
Ada bekas luka kecil di jempol kirinya.
Bekas terkena parutan kelapa.
Aku ingat.
Aku ingat semuanya.
“Jangan pergi lagi,” kataku.
Jarum di tangannya berhenti.
Laut mulai surut.
Meja makan perlahan turun ke dasar. Jeruk-jeruk menggelinding. Teko pecah menjadi burung-burung kecil.
Perempuan itu berdiri.
Kabut di wajahnya menipis sedikit.
Aku melihat dagunya.
Bibirnya.
Lalu senyum tipis yang sangat kukenal.
Ia mengangkat telunjuk dan menunjuk ke dadaku.
Tepat di tengah.
Di sana, saku kemejaku bergerak-gerak.
Aku membuka saku itu.
Di dalamnya ada rumah kecil.
Rumah dengan atap kain batik.
Dengan pohon mangga penuh sendok.
Dengan cardigan abu-abu di dekat jendela.
Dan lampu dapur yang tak pernah padam.
Ketika aku mengangkat kepala lagi, perempuan itu sudah berjalan menjauh di atas air yang kini berubah menjadi lantai dapur.
Langkahnya pelan.
Tak bersuara.
Tubuhnya makin jauh, melewati pintu merah, lorong foto, ruang tamu, lalu masuk ke dalam lemari.
Aku mengejarnya.
Tapi kakiku tenggelam dalam tumpukan beras.
Saat akhirnya aku berhasil membuka pintu lemari, kamar belakang sudah kembali seperti semula.
Gelap.
Sepi.
Hanya ada bau melati kering.
Dan di lantai, tepat di depan kakiku, tergeletak satu sendok aluminium.
Masih hangat.
Sejak malam itu, lemari tak pernah lagi mengeluarkan cahaya.
Namun setiap kali hujan turun, aku mendengar denting pelan dari dalam kayunya.
Ting.
Ting.
Seperti seseorang sedang mengaduk teh.
Aku tak pernah membuka lemari itu lagi.
Aku hanya duduk di depannya, memegang sendok aluminium itu erat-erat di tangan.
Kadang-kadang, jika rumah terlalu sunyi dan malam terlalu panjang, aku menyelipkan tangan ke saku kemeja.
Di sana, jauh di dalam lipatan kain, masih ada sebuah rumah kecil.
Lampunya menyala.
Dan seseorang sedang menungguku pulang.
Ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim
Gresik, 080426
