Kategori: Cerpen

  • Cerpen: Terbungkus Godaan Dasim

    Cerpen: Terbungkus Godaan Dasim

    Tahun 2021

    Engkau adalah sosok yang dikenal sebagai ustaz. Pula di media maya lumrah dipanggil begitu. Khalayak tiada yang tahu bahwa sering kali kaulakukan dosa besar tanpa beban. Ringan, sebelah mata, dan merasa baik-baik saja.

    Bila mereka tahu salat sering kautinggal, hancur sudah citramu. Hilanglah pujian dari pengikutmu. Tiga ribuan pengikut akan serentak menghujat, bila tega kusebarkan aib ini.

    Aku masih ingat. Dengan bijaknya engkau mewejangi pengikut. Agar taat beribadah setiap saat di tengah pandemi. Di dalam kotak pesan, kauketik kalimat-kalimat pemantik semangat. Kumpulan aksara pun terketik, penepis sikap pesimis penggemarmu.

    Diri merekalah yang bertanggung jawab atas waktu luang, untuk apa digunakan. Mustahil orang bisa berkarya bila sisa hidupnya dibuat mubazir, katamu. Mereka sadar, tentang siapa pengambil keputusan saat salat atau tak salat. Siapa yang menentukan saat bermaksiat atau kelesa atas nama rehat.

    Berkat jasamu itu, mereka bangkit. Untaian indah asli kalimat racikanmu sendiri. Menguatkan mereka untuk beribadah lima waktu tanpa bolong satu pun, saban hari. Aku tahu itu, setidaknya dari status di sosial media mereka. Pandemi memang tak menghentikan mereka untuk taat ibadah. Lalu bagaimana dengan dirimu?

    “Cukup!” ucap engkau dengan nada marah. Memerah telingamu saat kubisikkan salahmu ini. Engkau hanya tak ingin waswas saja.

    “Allah telah menutup aibku, terhadap salat yang tak sempat kukerjakan. Bukankah Dia Maha Pengampun?” tanyamu balik kepadaku yang kau cap meresahkan. Aku diam saja.

    “Selagi tak kuceritakan aibku, apalagi bangga di depan khalayak, bukan hal yang lengkara bila dosaku terhapus tobat.”

    “Lantas kapan engkau tobat?” tanyaku.

    “Mulai besok. Aku akan tobat dan salat lima waktu. Tak akan bolong lagi. Mulai dari nol.”

    “Tapi….”

    “Diamlah! Aku berlindung kepada Allah dari waswas setan.”

    Bungkamlah mulutku. Gila, susah dibisiki nasihat. Lantaran jawabanmu yang tak jauh beda dari sanggahan yang lalu-lalu. Minta perlindungan kepada Tuhan segala, ketika aku nasihati. Sial, tiba-tiba memakiku.

    Semenjak engkau tak pernah menapak kaki di masjid, kualitas takwa dalam hatimu telah berubah. Berdiam diri di rumah, menjauhi keramaian, dan ceramah hanya daring. Pandemi mengubah jati dirimu. Apakah selama ini engkau ria, tapi tak disadari? Ketika orang melihatmu, engkau laksana singa. Amat rajin. Sedangkan ketika sendiri, kau bolongkan salatmu.

    Niatmu mendekam, amat bagus. Lari dari takdir satu ke takdir yang lain, agar tak mati sia-sia sebagaimana zaman penyakin tha’un[1] merebak. Engkau mengganti salat jamaah dengan salat sendiri. Semua yang kauperbuat, dilandaskan dalil. Seperti yang diajarkan Umar bin Khattab ketika terjadi pandemi. Namun, realitanya, engkau kebablasan saat salat sendiri dengan tak genap lima waktu sehari.

    Bahkan kini telah berhari-hari tinggal bersamaku, hanya empat waktu saja yang kaudirikan. Engkau juga tak kunjung keluar dari pagar rumah kontrakan. Semua serba daring. Engkau mendengar azan, tapi kelesa. Enggan beranjak memenuhi panggilan Tuhan. Sibuknya hanya menghabiskan stok makanan di kulkas, atau pesan makanan layan antar bila bosan masakan sendiri.

    Kadang aku malah tak dapat jatah makan, saking rakusnya dirimu, meskipun engkau makan dengan nama Allah. Sampai kurus kerontang seperti ini, diriku. Aku tak keenakan tinggal di sini sebagai kawanmu.

    Pekerjaanmu masih terus bergulir. Ceramah daring dari zuhur ke asar. Biasanya dilanjutkan sesi tanya-jawab bakda salat Asar.

    Dari segala tindak tandukmu itu, ada satu hal yang paling ingin kuhina-hina. Salah satunya tatkala melihat status dan kiriman cerita di media sosial. Kirimanmu.

    “Selama pandemi, hanya ada aku dan Tuhanku.” Begitu bunyi statusmu.

    Benarkah? Engkau anggap apa diriku? Statusnya begitu, tapi tadi ketika sempat marah-marah lantaran diingatkan salat, itu siapa yang mengingatkan? Bilang aku dan Tuhanku, nyatanya bukan begitu.

    Baiklah, jika itu maumu. Besok adalah pembuktiannya. Bukti bahwa engkau berhasil salat genap lima waktu. Tanpa bolong, mulai dari nol.

    Siang ini, sekali lagi aku tanyakan, “Mau sampai kapan engkau menipu khalayak?”

    “Besok aku tobat. Sungguh. Titik! Puas kau, wahai penebar waswas!”

    ***

    Malam ini, beberapa jam setelah beradu argumen tadi siang, engkau mengizinkanku masuk kamar. Kita sama-sama menatap layar gawaimu. Aku pun turut membaca cuplikan berita-berita. Sempat pula dituruti apa mauku, untuk kita sama-sama membaca satu berita secara utuh.

    “Wah, lihatlah, Kawan. Selama pandemi, layanan situs dewasa gratis untuk diakses. Coba baca lebih lanjut beritanya. Agar tahu benar tidaknya. Barangkali hanya bisa diakses orang-orang Itali saja.”

    Engkau pun penasaran. Demi menggugu arahanku, kautekan judulnya lalu masuk situs. Lantaran banyak iklan, segera saja keluar dari situsnya dan berseluncur lagi ke dalam situs berita yang serupa. Dalam sekejap, kita sama-sama tercengang.

    “Wah, mengerikan juga ya, kalau ada situs yang gratis mengakses film dewasa seperti itu.”

    Aku mengangguk sebagai tanggapanku. Nama situs dewasa terang-terang terpampang di laman itu. Ada satu, digulir ke bawah ada lagi, dan total ada empat situs dewasa gratis.

    “Nah, ini bisa dibuat untuk materi lusa. Menarik ini. Pasti banyak yang ikut daring kajianku,” katamu dengan pertimbangan ringan. Tak hanya lusa, tapi esok hari juga, kau akan ceramah.

    Meskipun tema ceramahmu mengandung risau akan kaula muda, aku tahu betul perangaimu. Paling penting bagimu kini, semuanya bisa jadi cuan. Demikianlah menurutku. Aku tak perlu membuktikan apa pun, tapi aku rela bersaksi.

    Kuterka malam ini akan seperti malam kemarin. Tatkala terangsang, usai baca informasi baru saja, engkau nekat melakukannya. Engkau ingin bercengkrama dengan situs terlarang seorang diri. Tentu seperti biasa, terkaanku tak pernah meleset.

    Atas dasar tak nyaman rebahan di sisimu karena akan segera melampiaskan nafsu, kutuju kamar kosong sebelah. Kamar yang fungsi utamanya untuk ibadah. Ketimbang jarang ditempati kecuali sekitar lima menitan, biar aku saja yang rebahan di kamar kosong itu. Meninggalkanmu, sampai berahimu terpuaskan. Tak lama sesampainya di kamar sebelah, suara itu terdengar juga. Suara tangan memaksa semburan yang hina keluar.

    “Bajingan kau!” ucapku dalam benak, “kau pun sama denganku. Bedanya, aku tak pernah sok suci begitu. Dasar ustaz gadungan!”

    Aku girang, tertawa saat engkau mendengkur. Setidaknya, aku lebih baik daripada engkau. Aku tak munafik. Lalu seperti yang telah lalu, terkaanku tak akan meleset. Pastinya usai ereksi, terjadilah kelelahan yang sangat, membuatmu kesiangan, subuh pun melayang. Potong lidahku jikalau esok hari keliru.

    Tubuhmu baru diguyur air jelang zuhur. Usai salat Zuhur, persiapan siaran langsung dan dialog intetaktif dari layar sentuhmu. Sungguh, produktif sekali terbungkus kedok agama.

    ***

    “Kita potong dulu diskusi kita. Sesi tanya jawab berlanjut setelah azan Asar selesai,” pintamu kepada jamaah. Kulihat, banyak yang datang.

    Kutaksir, sembilan puluh persen ucapanmu digugu mereka. Ya, bagaimana ya? Aku hanya bisa tertawa. Padahal kerjaku di dalam rumah tak sekadar mentertawakan borokmu. Masih banyak yang bisa kulakukan. Dan, tentu saja lidahku tak jadi terpotong karena engkau telat Subuh lagi. Engkau mandi pukul 10-an.

    Saat azan Zuhur, aku terkentut-kentut. Dari luar pagar, ada suara kentut yang paling keras. Aku tahu betul itu kentut siapa. Rupanya kawan-kawanku, yang buat kegaduhan di luar pagar. Bersorak sorai di luar pagar, tak bisa masuk ke rumah kontrakan ini. Mereka ingin masuk, tapi pintu rumah dikunci.

    Aku senang mereka datang, kentut mereka menghalangi suara azan. Mereka terus terkentut-kentut dan teriak saat azan. Mau tak mau aku harus menyusul mereka, supaya tak teriak-teriak seperti itu. Keluarlah aku melalui jendela tanpa sepengetahuan dan izinmu si ustaz gadungan. Maaf, Kawan, kau kawan terburuk yang pernah aku miliki.

    Semringah wajah kawan-kawanku saat ditemui. Sesampainya di luar pagar, mereka dengan bangganya menggotong tubuh ini, setinggi-tingginya. Dijunjung bagai bangsawan terhormat, diantarnya ke istana paduka raja iblis.

    Sepertinya ada berita gembira dari mereka, sampai-sampai raja iblis mengundangku ke istananya. Mungkin untuk selamanya, dengan kejutan berita besar ini, aku tak bisa lagi serumah denganmu, Ustaz. Akan ada yang menggantikan peran kecilku di dalam hidupmu. Akan ada rekan baru untukmu. Ya, aku tak akan kembali lagi. Selamat tinggal, Ustaz.

    ***

    Sesampainya di dalam istana Raja Iblis yang Mahaperkasa, semua orang tampak menunduk takzim menyambutku. Paduka memandangiku yang sedang berlenggang, dengan senyuman puasnya. Langkahku terhenti, di batas akhir melangkahkan kaki seorang hamba. Bila lebih sejengkal, putuslah leher. Aku berlutut dengan lutut kiri, menghamba dan tak akan mendongak sampai ia bertitah.

    “Engkau hebat, wahai hamba-Ku!” sabdanya. Menggetarkan jiwaku. Aku sangat bangga dipuji oleh-Nya.

    “Dalam situasi pandemi seperti ini, ustaz itu terjebak rutinitas yang membusungkan dadanya. Kini ia telah terbungkus maksiat. Terbungkus godaanmu, wahai Dasim!”

    Jadi, ini yang membuatku dipanggil oleh maha raja? Padahal, kawanku si ustaz itu otomatis bermaksiat sendiri. Tanpa banyak kubisikkan niat-niat jahat.

    Lantas sempat kudongakkan kepala usai Paduka Raja Iblis Maha Perkasa bertitah. Aku melirik pelayan raja, cantik-cantik, yang berjalan membawa nampan-nampan hadiah dan pangkat.

    “Engkau pantas naik pangkat, Dasim. Terimalah rahmat-Ku. Ambil emas-emas ini. Gelang dan baju zirah dari emas. Zirah untuk para Jenderal Drubiksa[2]. Nikmati istana barumu, Dasim. Bersenang-senanglah dengan para dayang.”

    “Hamba merasa amat terhormat menjadi jenderalmu, Paduka.”

    “HAHAHAHA…!”

    Tertawanya menggelegar. Menunjukkan wibawanya ke penjuru istana. Aku sangat senang berkenalan dengan ustaz itu. Dikiranya aku yang menggodanya untuk tak salat. Berkatnya, aku naik pangkat.

    “Tapi ingat! Setelah bersenang-senang dengan para dayang, laksanakanlah tugas barumu dari-Ku,” imbuh titah Paduka.

    “Baik, Paduka. Saya akan mengorbankan jiwaku demi Engkau, Sang Maha Perkasa. Ke manakah gerangan hamba ditugaskan?”

    “Tugas barumu adalah menebar fitnah kepada keluarga salah satu ulama. Bukan ustaz receh lagi. Berikan arahan kepada mereka, agar mudah bermegah-megahan dengan harta. Jerat satu wanita di sana, agar terjerumus riba, bahkan zina kalau bisa. Akan aku sediakan hadiah berapa pun yang engkau pinta. Engkau tahu bukan, bahwa Aku Mahakaya?”

    “Baik, laksanakan. Siapakah nama ulama itu, wahai Paduka?”

    “Wahai, Jenderal Dasim. Berdirilah, Jenderal Drubiksa!” titahnya.

    Segera aku berdiri tegap. Sembari membusungkan dada. Menikmati kemegahan pakaian ini.

    “Penasihatku langsung, yang akan mengantarmu ke rumah sang ulama. Carilah celah sendiri untuk masuk ke rumahnya. Penasihatku tidak bisa masuk. Menurut telik sandi, biasanya pembantu rumah yang teledor. Ia membiarkan pintu dan jendela terbuka waktu senja.”

    “Baik, Paduka. Hamba laksanakan!”

    “Santailah sejenak, bersenang-senanglah dulu dengan para dayang. Aku berikan hari liburan. Hastawara, lamanya.”

    Aku beringsut pergi. Tuju ke perumahan elite para Jenderal Drubiksa. Demi bertelekan di rumah baruku, indraloka yang diciptakan Sang Maha Raja Iblis. Di atas permadani dan dilayani lima dayang, yang sekamar denganku.

    Aku akan gemukkan diri  dulu selama hastawara. Sesuai pengalamanku di rumah kontrakan sang ustaz yang tak sudi menikah itu, aku kurus karena ia membaca basmalah setiap makan. Pasti keluarga ulama lebih ketat lagi berdoa tatkala makan. Pasti, kurus keringlah diriku bila berada di sana. Serumit apa pun situasinya nanti, akan kuarungi dengan senang hati. Demi maha rajaku, yang memberiku pangkat ini.

    Mustofa lahir 20 Mei 1990 lalu,  kini bekerja sebagai guru ngaji. Aktif menulis fiksi dan nonfiksi. Sehari-hari juga sebagai "Guru Kelas" di salah satu Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Bondowoso.

    Catatan

    Lengkara         : Mustahil ada

    Kelesa             : Malas gerak (mager)

    Hastawara       : Seminggu lebih sehari (delapan hari).

    Dasim              : Nama salah satu jin penebar waswas, tinggal di rumah. Tertera dalam sebuah hadis shahih.


    [1] Berarti wabah, istilah tha’un digunakan pertamakali dalam catatan sejarah era Khulafaurrasyidin. Ketika puluhan ribu warga muslim meninggal di Syiria (termasuk diantaranya sahabat Nabi Muhammad saw., Abu Ubaidah Ibn Jarrah), dikarenakan wabah/tha’un di era Umar Ibn Khattab.

    [2] Drubiksa diambil dari bahasa Sansekerta yang diserap dalam bahasa Jawa kuna, yang berarti setan (biasanya sering dipakai dalam bahasa pewayangan).

  • Cerpen: Jarik

    Cerpen: Jarik

    Oleh: Muflichal Laili

    Kanvas putih raksasa memayungi bumi berpoles warna  abu-abu.  Tanpa jeda panjang warna kehitaman segera menggantikannya. Motif mendung gelap bergumpal-gumpal siap menumpahkan butiran air ke kepala kami yang sedang melaksanakan fardu kifayah. Aku berharap cuaca sore bersahabat, agar kami tidak berbasah kuyup

    Kecemasan akan turunnya hujan tampak pada wajah-wajah pelayat. Berulang kali mereka mengarahkan pandangan ke angkasa raya yang semakin menghitam.  Terlebih kami yang tengah melakukan prosesi memandikan  jenazah. Ya, jenazah Dinda, adikku.

    Saat ini tubuh Dinda berada di pangkuanku tanpa nyawa. Tampak warna biru kehitaman di sebelah kiri wajahnya. Beberapa jari tangan kirinya kaku. Aliran listrik yang mengalir ke tubuhnya menyebabkan dia meregang nyawa. Tak bisa lagi aku menangis. Habis sudah rasanya air mataku sejak siang tadi, saat berita duka itu aku terima.

    Siraman air suci mengalir di jasad Dinda, kutahan rasa sesak menggumpal di dada. Kuamati, kuelus, dan kudekap tubuh adikku selama proses memandikan. Dekapan terakhir. Masih sulit kupercaya bahwa adikku sudah tak bernyawa. Berkali-kali kuamati wajahnya. Matanya tetap terpejam, bibirnya terkunci, tak ada reaksi. Aku hanya bisa menyentuh jasadnya. Ruh adikku telah kembali kepada pemilik-Nya.

    ***

    “Mbak Bening, jika Ibu sewaktu-waktu “tidak ada”, sebaiknya dibawa ke rumah Mbak saja, ya.” Kata-kata Dinda membuatku terperangah. Dia berandai-andai Ibu meninggal. Apa maksudnya membicarakan kematian Ibu? Pembicaraan Dinda melintas di telingaku.

    Memandikan jenazahnya dalam pangkuan, membawa ingatanku pada obrolan dengan kami  beberapa bulan lalu. Menurut Dinda, Ibu tidak dapat mempertahankan hidupnya karena usia beliau sudah tua dan kondisi kesehatannya terus menurun. .

    “Keterlaluan, tega sekali Dinda kepada Ibu,” protesku dalam hati saat dia menyampaikan inisiatif tidak masuk akal. Aku  hanya menilai adikku tidak sayang pada Ibu. Seolah dia menghendaki Ibu segera meninggal. Dinda memikirkan perlengkapan pengurusan jenazah, anggapnya Ibu tengah menghadapi sakaratul maut saat itu.

    “Nggak memungkinkan, deh, Mbak, kalau selamatan di sini.” Dinda sudah merencanakan selamatan kematian Ibu diadakan di rumahku karena jika dilaksanakan di rumah Ibu akan merepotkan. Segala perabot kebutuhan masak-memasak harus mengambil dari rumahku.

    “Kue dan nasi untuk kenduri, memasaknya, kan, di rumah Mbak Bening. Jadi,  lebih baik acara pengajiannya dilaksanakan di sana juga,” saran Dinda semakin di luar nalar. Dia mengusulkan segera menyiapkan perkakas yang dibutuhkan untuk selamatan kematian Ibu, padahal Ibu masih ada bersama kami.

    “Mbak Bening, aku sudah beli jarik. Seminggu yang lalu, aku beli dua, kemarin aku beli lagi dua,” katanya sambil menunjukkan empat lembar kain jarik yang dia simpan di almari di kamar belakang. Ibu tidak tahu tentang kain jarik itu, karena kamar tersebut tidak pernah digunakan Ibu. Anak, menantu, dan cucu Ibu-lah yang menempati jika kami bermalam di sana.

    Obrolan terjadi saat kami menjenguk Ibu dan Bapak. Sebelumnya, Dinda menghubungi agar aku menemuinya di rumah orang tua kami. Ibu dan Bapak tinggal berdua saja tanpa ditemani siapa pun. Jadi, jika Dinda memikirkan tentang kerepotan masak-memasak untuk kenduri tidaklah salah. Tapi, tidak saat ini. Ibu masih ada di antara kami sekarang dengan kondisi baik-baik saja.

    Aku  hanya menilai adikku tidak sayang pada Ibu. Seolah dia menghendaki Ibu segera meninggal. Dinda memikirkan perlengkapan pengurusan jenazah, anggapnya Ibu tidak akan berumur panjang. Semua pemikiran Dinda tidak mungkin kusampaikan pada Ibu. Pasti beliau sedih dan marah jika mengetahui sikap Dinda. Aku menjaga perasaan Ibu.

    ***

    “Mas, aku nggak nyangka Dinda berbuat seperti itu pada Ibu. Tega sekali dia menganggap Ibu akan segera mati.”

    Mas Hendro menyimak gerutuanku saat kami duduk santai di teras. “Maksudnya bagaimana, mengapa adikmu punya pikiran seperti itu?”

    “Dinda menyampaikan padaku agar menyiapkan perabot yang dibutuhkan untuk selamatan kematian Ibu. Beberapa lembar kain jarik untuk menutupi jenazah Ibu pun telah dia beli. Disimpannya jarik-jarik itu di rumah Ibu tanpa sepengetahuan beliau. Menurut kamu bagaimana, Mas? Aku nggak habis pikir!”

    Mas Hendro mendengar penjelasanku tanpa reaksi. Tapi, aku yakin dia juga tidak berterima dengan jalan pikiran adikku.

    ***

    Prosesi memandikan jenazah masih berlangsung. Aku dan kerabat dekat terlibat dalam kegiatan tersebut. Tabir berwarna hitam menutup rapat wilayah prosesi. Ibu duduk di teras didampingi Yu Siti menyaksikan jasad putrinya disucikan. Aku yakin dia pasti menghibur dan membesarkan hati Ibu.

    Kepedihan Ibu kehilangan putri bungsunya sangat terlihat, meskipun tangisnya telah reda. Tatapannya hampa. Sesekali beliau mengusap lelehan air yang mengalir dari sudut matanya.

    Pandanganku tertuju pada benda yang ada di pangkuan Ibu. Benda yang disembunyikan Dinda dari Ibu. Salah satu kain jarik pembelian Dinda telah digunakan untuk menutupi jasadnya. Mengapa Ibu bisa membawanya dan menutupkannya pada jenazah putrinya? Siapa yang memberikan jarik itu pada Ibu?

    Proses memandikan dan mengafani jenazah selesai. Ibu mendekati jasad Dinda dan mengelusnya. Beliau nampak menahan agar air matanya tidak runtuh. Aku dan Zahra–putri sulung Dinda–mendekap Ibu, berusaha saling memberi kekuatan untuk melepas kepergian orang yang kami cintai.

    Jenazah siap disalati. Pak Modin meminta kain untuk menutupi jenazah. Ibu segera menyodorkan benda yang sejak tadi beliau pegang. Masih tersisa tiga lembar kain jarik pembelian Dinda. Warna  senada dengan motif beragam. Pak Modin menutupi jenazah Dinda dengan kain jarik yang bermotif parang.

    Di antara kekhusyukan dan kefasihan Pak Modin mengimami salat jenazah, aku masih dikelilingi tanda tanya tentang kain jarik itu. Kulihat Ibu berbincang dengan beberapa pelayat. Samar-samar kudengar, Ibu menjelaskan peristiwa kematian putrinya. Suara Ibu lancar keluar, menunjukkan keikhlasan atas musibah yang kami alami.

    Gumpalan hitam di langit mulai jebol pertahanannya. Gerimis turun. Keranda telah disiapkan untuk mengusung jenazah adikku. Selembar kain jarik diselimutkan pada jenazah, dan dua lembar lainnya ditutupkan pada keranda. Sebagai penutup keranda paling atas, kain berwarna hijau dengan hiasan tiga roncean bunga. Mendung tak lagi dapat menampung butir-butir hujan. Dalam cuaca gerimis, diiringi kalimat tahlil, jenazah Dinda diberangkatkan ke pemakaman.

    Belum lagi separuh perjalanan  ke pemakaman, hujan turun. Para pengantar jenazah terus melanjutkan kewajibannya. Hujan lebat terus mengguyur saat proses pemakaman. Pikirananku kembali pada tragedi kematian adikku.

    ***

    Dinda tewas karena tersengat aliran listrik. Sedih tidak kepalang  mendengar kisah kematian adikku, terlebih Ibu. Kematian Dinda adalah jawaban atas protesku pada sikapnya terhadap Ibu. Apakah itu yang dinamakan firasat? Ataukah Dinda mempunyai kelebihan membaca masa depan,  hingga adikku memiliki pemikiran tentang kematian Ibu?

    Aku tidak paham tentang tanda-tanda orang yang akan meninggal. Mungkin, inilah cara Allah mengingatkan padaku melalui inisiatif Dinda menyiapkan segala keperluan untuk sebuah kematian. 

    Melalui tindakannya, Dinda seolah menitipkan Ibu dan Bapak sepenuhnya padaku. Apakah karena dia tidak ingin direpotkan dengan kondisi Ibu dan Bapak sehingga Allah memanggilnya terlebih dahulu?

    Kembali soal kain jarik. Saat di tangan Ibu, jarik itu masih terbungkus rapi dalam plastik. Bagaimana cara Ibu mendapatkannya? Bukankah almari tempat kain jarik itu tersimpan dalam keadaan terkunci?

     “Tiga hari yang lalu, adikmu menjenguk Bapak. Ibu tidak menyangka kalau hari itu adalah hari terakhir kami ngobrol.” Cerita Ibu mengharuskanku serius menyimak. Apakah Ibu akan bercerita tentang kain jarik? Kenangan Ibu tentang putri bungsunya beliau ceritakan setelah para pelayat tidak lagi memenuhi rumah adikku.

    “Dia mengatakan pada Ibu bahwa besok tidak bisa menjenguk karena akan pergi ke luar kota,” Ibu melanjutkan ceritanya. “Adikmu juga berpesan agar Ibu jaga kesehatan supaya bisa merawat Bapak.” Suara Ibu mulai serak, hidungnya memerah, dan matanya basah. Isaknya kembali terdengar, lirih.

    Ibu bercerita  banyak tentang kedatangan Dinda ke rumah beliau. Kata Ibu, Dinda menyempatkan istirahat di kamar belakang. Kamar tempat dia menyimpan kain jarik. Sambil rebahan, Dinda menceritakan tentang persiapan pernikahan putri sulungnya, Zahra. Tiga bulan yang akan datang, cucu Ibu akan menikah. Dari cerita Dinda, Ibu tahu bahwa semua kebutuhan resepsi pernikahan dan suvenir sudah siap.

    ***

    Hujan masih turun deras. Sementara para pengantar jenazah belum juga kembali. Waktu sudah mendekati magrib. Gemeretak air hujan menimpa atap rumah dan dentuman halilintar membuatku semakin terpuruk dalam kesedihan. Bumi dan langit seolah ikut merasakan kepedihan kami.

    Azan magrib berbaur dengan suara hujan. Bertepatan kepulangan Mas Hendro, Dik Andi, suami Dinda, dan pelayat lain dari pemakaman. Kondisi mereka basah kuyub. Sandal dan kaki kotor diselimuti tanah.

    Hujan belum reda, udara dingin. Mulai malam ini adikku tidur untuk selamanya di liang lahat. Kembali aku ingat semua angan-angan Dinda beberapa waktu lalu tentang persiapan sebuah kematian. Saat bersama Ibu tiga hari lalu, dia pasti tidak menjelaskan tujuannya membeli kain jarik.

    Keluarga besar kami berkumpul. Perbincangan masih seputar kenangan-kenangan ketika Dinda masih ada hingga tragedi memilukan yang menimpanya. Ibu tidak segera tidur setelah acara pengajian. Di antara kepedihan dan lelahnya, beliau melanjutkan kisahnya bersama adikku tiga hari lalu. Aku menemani Ibu beristirahat di kamar.

    “Dinda pasti lupa mengambil ini.”  Ibu menunjukkan kunci almari padaku.

    “Ibu menemukannya tergantung pada pintu almari di kamar belakang. Sengaja Ibu membukanya, karena Ibu kan sudah lama tidak menggunakan kamar tersebut. Jadi, Ibu ingin tahu isi almari tersebut. Ternyata ada empat kain jarik masih terbungkus plastik,” cerita Ibu sambil menangis.

    Tanpa rasa curiga, Ibu mengambil dan berencana menanyakan pada Dinda tentang siapa pemilik kain jarik tersebut. Belum sempat Ibu melaksanakan niatnya, kami menerima kabar duka meninggalnya adikku. Ibu segera membawa kain jarik ke rumah Dinda.

    “Dia membutuhkannya sekarang.” Ibu  menunjukkan kain jarik itu padaku. Beliau  yakin, Dinda tidak mempunyai jarik atau kain panjang, apalagi untuk persiapan upacara kematian.

    Saat dinyatakan sudah tidak bernyawa oleh petugas kesehatan, Ibu-lah orang pertama yang menutupi jenazah Dinda dengan kain jarik tersebut. Ibu tidak akan pernah tahu, jika kain jarik itu dipersiapkan untuk dirinya.

    ***

    Muflichal Laili adalah anggota FLP Jombang. Penulis adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Plandaan Jombang. Tulisannya pernah dimuat dalam antologi cerita inspiratif. Punya cita-cita “Bisa berbagi melalui tulisan”.

  • Cerpen: Takut Harus Dilawan

    Cerpen: Takut Harus Dilawan

    Oleh: Ika Nurmaya

    Minto adalah CPNS baru yang bekerja di sebuah Instalasi Pemeliharaan Sarana Prasarana sebuah rumah sakit. Ia bertugas memperbaiki dan mengalibrasi berbagai peralatan maupun sarana prasarana lainnya yang digunakan di rumah sakit. Bukan hanya alat yang harus ia lihat, tapi juga darah berceceran, muntahan pasien, sibuknya ruang Instalasi Gawat Darurat, bahkan sakaratul mautnya seorang pasien di tengah peralatan medis yang harus diperbaiki.

    Namun, yang ia takutkan sebenarnya bukan itu. Ia menjadi sangat fobia jika harus bertugas sendirian di malam hari. Hal ini berhubungan dengan kisahnya di masa kecil yang mengalami peristiwa menyeramkan. Pasalnya, Minto adalah geng laki-laki yang selalu kebagian shift malam, dikarenakan enam teknisi elektromedis lainnya adalah berjenis kelamin perempuan, yang memang harus diprioritaskan masuk shift pagi dan sore demi alasan keamanan dan lain-lain.

    Minto adalah anak mama yang hidupnya selama ini selalu tercukupi. Ia tidak pernah merasakan tidur sendiri, apalagi jalan sendiri. Selain kakak dan adiknya banyak, Minto selalu punya teman-teman sekolah dan bermain yang tidak pernah meninggalkan ia sendirian. Namun, ia pernah mengalami kejadian yang tidak pernah dilupakan hingga saat ini. Saat SMP, ia memilih ekstrakurikuler Paskibra, yang membuatnya menjalani jurit malam di sekolahnya, gedung yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunannya memang didirikan sejak zaman penjajahan Belanda, sehingga kesan tua dan angkernya luar biasa terasa di malam hari.

    Sebenarnya, jurit malam itu seperti estafet memberikan pesan dan menyelesaikan masalah, dan jarak antarteman tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh meter, hanya memang tersembunyi. Sayangnya, teman Minto yang memberikan sandi berupa suara burung, ternyata ditiru sama persis oleh burung betulan yang terbang dekat Minto. Burung itu bersuara mengarahkan Minto berbelok ke arah yang salah. Hingga ia harus memasuki gerbang dari jalan terusan yang di sampingnya adalah ruangan-ruangan kelas dengan pintu yang besar-besar. Seketika bayangan-bayangan mulai mengikuti di samping Minto, terlihat di dinding-dinding kelas.

    Mulanya, Minto hanya diam, lalu ia curiga ketika ada bayangan yang melewati bayangan tubuhnya. Ia segera menoleh lalu berbalik, mencari siapakah yang bersama dengannya, bahkan mendahului langkahnya. Tapi di lorong itu Minto hanya sendiri. Ia lalu memutuskan untuk berteriak, tetapi teriakannya malah menimbulkan gema yang semakin membuat dirinya merinding. Ia lantas lari lintang pukang secepat kilat menuju gerbang. Semakin degup jantungnya berdenyut keras demi melihat gerbang itu sisi sebelah kanan mulai menutup sendiri. Keringat dan air kencing sudah membanjir di celananya. Selangkah lagi ia hampir sampai di gerbang itu. Ia tidak tahu sewajah apa yang akan menyambutnya. Lalu tiba-tiba loncatlah seekor kucing hitam tepat di wajahnya, yang membuat Minto sukses pingsan.

    Saat menjadi CPNS, Minto tidak tahu akan bertugas di mana. Ternyata, Minto bertugas di sebuah rumah sakit yang salah satu sisinya adalah bangunan sejak zaman Belanda. Saat ia melewati lorong bangsal rumah sakit itu, kejadian traumatis di masa lalu begitu membayang. Ia tidak menyangka harus melakukan perjalanan melewati lorong berdinding tebal dengan pintu-pintu dan jendela-jendela besar di sampingnya, mirip lorong sekolahnya dulu.

    Kepala instalasinya selalu heran ketika Minto selalu menolak untuk ditugaskan di ruang rawat yang melewati lorong itu. Minto ingin bercerita padanya, tapi ia takut malu ditertawai karena hal itu. Tapi malam itu, ia harus ke sana, karena alat medis yang diperbaiki ada di dekat lorong itu. Minto berusaha merayu atasannya itu dengan segala daya dan upaya, tapi hasilnya nihil.

    Atasannya itu tiba-tiba berkata, “Hedeh, kamu ini kan abdi negara, masa sama setan aja takut? Harusnya takut itu sama Tuhan. Kalau pasiennya mati gara-gara kamu nggak cepat ke sana, apa kamu sudah siap dengan jawaban atas pertanyaan hisab nanti?”

    “Mas kok tahu sih kalau saya takut lewat lorong itu?”

    “Lah kamu kira saya ini tidak bisa membaca bahasa tubuhmu yang selalu menampilkan ketidaksukaan kalau disuruh ke sana?”

    “Tanya, Mas, kalau saya pingsan bagaimana?”

    “Halah, ada satpam yang selalu patroli tiap satu jam, kamu pasti ditemukan kalau pingsan, dan saya pasti langsung diberitahu. Sudah, kamu harus lawan itu rasa takutmu. Nggak tahu bagaimana caramu, kamu harus sampai di sana dalam sepuluh menit lagi. Berdoalah, kan punya Tuhan untuk dimintai pertolongan. Bayangkan yang baik-baik saja.”

    “Mas, kalau setannya ngintili saya bagaimana?”

    “Bilang ke setannya kalau kamu buru-buru, jadi kalau nggak kuat ngintili ya gak usah ngintili, gitu aja kok repot.” Bos satu ini ngomong dengan wolesnya sambil tetap memancing upil yang besarnya seperti pil tablet vitamin C IPI.

    “BERANGKAAAT!” teriaknya. Minto terlonjak kaget

    “Ya ampun Mas, kaget saya. Duh, mengapa saya gak pingsan aja, kan enak nggak jadi ke sana.” Minto setengah berlari keluar dari ruangannya.

    Berjalanlah Minto dalam perasaan galau. Sepanjang jalan ia berdoa, segala zikir diucapkan, surat Al-Fatihah dan ayat kursi terus ia rapalkan saat melewati lorong itu.

    Sampai akhirnya, ia dikejutkan oleh suara perempuan yang bergema di sepanjang lorong.

    “Heeeei…, Mas Minto, sampean mau ke mana?”

    “Ke Ruang rawat inap Mawar.”

    “Lha pintunya kan di sini, kok sampean lewati aja? Ayo sini Mas, nanti sampean langsung masuk ke kamar nomor tiga ya, itu emergency trolley-nya yang bermasalah ada di situ.”

    “Mbak kepala ruangannya ya? Maaf lho, Mbak, saya belum hafal.”

    “Iya wis tidak apa-apa, alatnya butuh segera diperbaiki.”

    “Makasih ya, Mbak.”

    Minto mengucapkan terima kasih karena sudah diberitahu kepala ruangan Mawar. Sesaat ia menatap wajah sang kepala ruangan yang tersenyum aneh padanya sambil cepat-cepat pergi menjauhi Minto.

    Minto segera menuju kamar nomor tiga. Ia segera memperbaiki alat-alat pertolongan darurat, lalu mengalibrasinya. Setelah selesai, Minto kembali ke meja perawat untuk laporan pada kepala ruangan.

    “Mbak, kepala ruangannya mana, ya?” Minto bertanya pada salah seorang perawat.

    “Itu Mas, yang pakai jilbab biru.” Perawat itu menunjuk pada perawat yang warna jilbabnya biru. Minto heran. Ia merasa yang tadi memanggilnya memakai jilbab putih. Minto segera mendekati perawat berjilbab biru.

    “Malam, Mbak. Sampean kepala ruangannya?” Minto bertanya.

    “Iya Mas, saya Nanik, kepala ruangan Rawat Inap Mawar,” jawab perempuan itu.

    “Saya Minto, yang ditugasi Pak Salim untuk memperbaiki alat di kamar nomor tiga. Mbak tadi yang manggil saya saat di lorong tadi, kan? Apa memang ganti jilbab mbak?” tanya Minto

    “Iya, Mas, makasih ya sudah diperbaiki. Walah, dari tadi ya jilbab saya biru kok, dan saya tadi tidak merasa memanggil sampean. Malah saya heran, kok sampean bisa tahu kalau alat yang rusak ada di kamar nomor tiga, padahal saya belum menunjukkan, kok tiba-tiba sudah dilaporkan kalau selesai diperbaiki,” kata perempuan itu

    “Haaah? Terus yang tadi manggil dan menunjukkan saya alat yang rusak tadi siapa, Mbak? Ya Allah, sampean jangan membuat takut saya, Mbak!” seru Minto

    Mbak Nanik tersenyum. Ia lalu menanyai semua perawat yang bertugas malam itu, adakah yang memanggil Minto dan menunjukkan kamar dari letak alat yang harus diperbaiki. Dan, ternyata tidak ada satu pun perawat yang memanggil Minto. Ia lemas dan terbengong-bengong. 

    “Halah, tidak apa-apa, Mas. Di sini sudah biasa disapa dan berjalan bersama makhluk gaib, nanti lama-lama juga biasa. Kan dia nggak mengganggu sampean, malah menunjukkan tempat alatnya. Berani aja, Mas, ada Allah yang selalu melindungi kita.” Mbak Nanik berusaha menguatkan Minto.

    Minto terenyak. Dalam pikirannya terjadilah pergulatan batin, antara kembali ke ruangannya, atau tetap di ruang Mawar hingga pagi datang.

    Ika Nurmaya, dipanggil Ika atau Maya. Lahir 42 tahun lalu tepat tanggal 22 Maret 1980 di Surabaya. Arek Suroboyo. Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat dan S2 Magister Kesehatan di Universitas Airlangga. Pernah menjadi PNS di RSUD BDH Surabaya lalu saat ini menjadi dosen di UNESA, status menikah dan menjadi Ibu  dari dua anak.  Anggota dari FLP Sidoarjo    dengan NRA: 052/D/013/016, sudah punya 31 buku antologi, tulisannya juga pernah dimuat di koran Jawa Pos dan Media Indonesia. Bisa dihubungi di gawai/wa 08819422816 atau email: ikanurmaya.skm@gmail.com.
  • Bukan Untukku

    Bukan Untukku

    Oleh: Chusnul Islamiyah

    Hujan menjatuhkan airnya dengan deras seolah-olah penuh ambisi menghabisi bumi. Terdengar amat berisik tatkala aku menghampiri pintu rumah yang masih menganga. Suara entakan air yang cepat dengan diiringi suara guntur yang meledak-ledak sedikit teredam saat pintu kututup rapat, lalu langkahku kembali menuju ruang kamar. Sudah hampir satu jam aku memainkan game di layar handphone-ku sampai merasa bosan. Kuletakkan handphone di atas kasur dan kulihat sekitar kamarku hingga pandanganku menemukan sebuah remot teve. Kuraih dan kutekan tombol power.

    Tiba-tiba, suara guntur yang terdengar marah, membuatku kaget, spontan kutekan tombol power lagi pada remot yang masih di genggamanku.

    Sejenak aku memperhatikan sekeliling kamarku, mencari hal yang ingin kulakukan untuk menepiskan kebosananku. Kupandang dari arah kanan ada tumpukan baju di atas keranjang, ia telah beranak-pinak menjadi gunungan baju dari jemuran yang enggan aku lipat. Lalu pandanganku berhenti saat melihat suvenir pernikahan sahabatku, Mareta, sebuah telenan kayu yang tertorehkan lukisan digital foto mereka berdua di atasnya. Kuembuskan napas berat dan membuang pandanganku ke bantal, lalu kubenamkan wajahku di bantal.

    Terdengar lagi di atas atap-atap rumah seperti naga yang menyemburkan api murkanya dan  tepat di atas atap kamarku puncak suara guntur itu jatuh.  Rasanya sudah seperti tepat jatuh di jantungku, menggelegar dan  memudarkankanya menjadi serpihan yang tak berdaya.

    Tiba-tiba, terdengar sayup orang mengetuk pintu rumahku. Dalam benakku bertanya, siapa gerangan kurang kerjaan pada malam hari hujan deras, angin dan guntur bersatu menyerang bumi bertamu kerumah. Meski hati bertanya-tanya, langkah penasaran mendorongku untuk turun dari kasur dan keluar membukakan pintu rumah.

    Dan….

    Deg!

    Saat melihat sosok yang ada di depan pintu membuat jantungku yang tadi terserang suara guntur menjadi serpihan, kembali utuh lagi, mengeras dan semakin keras, hingga beku, lalu pecah dan menjadi pecahan yang jatuh di lantai hingga aku hendak mendekatinya terasa ngilu kakiku terkena pecahannya. Dia yang datang adalah Jeri suaminya Mareta sahabatku.

    “April… maafkan aku…,” ucapnya sambil menampilkan wajah memelas. Pertanyaannya membuatku bingung.

    “Ada apa denganmu? Mana Mareta? Kamu sendirian?”

    Karena tidak paham dengan apa yang dia maksud, kulempar pertanyaan yang wajar saja untuk mencoba bisa menetralkan raut wajahnya yang terlihat sedih dan cemas. Tapi Jeri menekuk kakinya, merendah, lalu duduk bersimpuh di hadapanku. Sangat dramatis melihatnya dengan rambut dan bajunya basah, sepertinya dia menembus hujan untuk kemari. Kutengok di luar ada sepeda motor yang menunggunya. Aku yakin dia mengendarai motor dan tidak menggunakan helm. Memberikan kesan sangat terburu-buru untuk datang kemari.

    “Aku baru sadar bahwa kamulah yang selama ini membantuku menyelesaikan tugas akhirku, dan bodohnya aku tidak menyadari hal itu.”

    Setelah pernyataaan itu keluar dari mulutnya yang bergetar, aku baru memahami alurnya. Dia seperti terguncang, perasaaan salah atau semacam penyesalan telah memilih Mareta menjadi istrinya yang sebenarnya tidak tahu apa pun tentang perjalanan tugas akhir kuliahnya di Singapura. Singkat cerita, aku, Mareta, dan Jeri dahulu satu sekolah dan kami berpisah semenjak lulus SMA untuk melanjutkan perjalanan belajar. Jeri pergi ke Singapura untuk mengambil studi S-1. Saat mengerjakan tugas akhirnya, ia memberikan kesempatan kepadaku untuk membantunya. Bisa dikatakan, aku yang membersamai Jeri menyelesaikan tugas akhirnya melalui email. Namun, email yang sering kugunakan untuk mengirim adalah email Mareta. Karena memang aku dan Mareta tinggal satu kontrakan dahulu saat kuliah. Laptop yang kami gunakan hanya satu dan sudah terdaftar akun email milik Mareta.

    “Lalu apa maksudmu datang kemari?”

    “Aku ingin minta maaf… telah memilih Mareta, bukan kamu. Padahal aku janji sepulang aku wisuda aku akan melamarmu.”

    “Jeri …. apa yang kamu katakan?” Tiba-tiba ada yang hangat keluar dari sudut mataku, mengalir keluar membuat parit di pipiku. Tak terbendung air mataku. Tak bisa berbohong kekesalanku.

    Jeri berdiri dan meraih tanganku. Secepatnya, aku mundur dan melepaskan tanganku dengan kesal. Kututup mulutku agar tak meraung keras tangisku.

    Jeri semakin berani mendekat dengan wajah kesal bercampur sedih. Lalu kuarahkan jari limaku kepadanya.

    “Cukup, Jeri, semua sudah terlambat… sangat terlambat….”

    “Tidak, April. Aku akan memperbaikinya. Terima aku. Jujur…. aku tidak bisa bersama Mareta. Dia tidak tahu apa pun tentang aku. Dan, dia sangat berbeda waktu itu.”

    “Jelas berbeda. Waktu itu memang bukan Mareta, tapi aku! Dan kamu dengan jelas telah jatuh cinta saat pertama kali bertemu Mareta untuk pertama kali jumpa setelah empat tahun lamanya berpisah.”

    “Maaf… dan tolong aku…, aku ingin kamu saja.”

    “Kamu ini gila atau apa?”

    “Terserah kamu bilang aku apa, asal kamu menerimaku.”

    “Pulanglah kepada Mareta, jika masih ingin aku dan kamu baik baik saja. Semua sudah sangat terlambat. Jika kamu memaksa seperti ini, orang yang paling salah adalah aku, Jer. Aku! Bayangkan saja, aku akan ditetapkan sebagai sahabat yang tega merebut suami sahabatnya!” Napasku terasa habis berkata panjang dan penuh emosi.

    “Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kan? Peduli apa dengan omongan orang?”

    “Cukup! Pulang! Kamu sudah sangat keterlaluan. Pikirkan lagi Mareta, orang tua Mareta, orang tuamu, aku, dan orang tuaku. Keadaannya sudah sangat tidak memungkinkan untuk kita. Lebih baik lupakan.”

    “April….”

    Kudorong tubuhnya yang memasrahkan untuk memelukku. Dengan tegas, kudorong ia hingga keluar dari pintu rumahku. Kututup rapat dan kukunci.

    Hujan masih deras, menyamarkan suara tangisku yang semakin pecah. Aku masuk ke kamar, secepatnya kubenamkan wajahku pada bantal dan teriakku sekeras-keras tenaga yang tersisa.

    Ibarat kancing baju yang sudah salah dari atas, tidak akan bisa serasi sampai ke bawah. Semua keadaan ini tidak bisa untuk dipandang sebagai sesuatu yang indah jika aku menerima Jeri. Aku telah melalui hari-hari yang suram saat mereka bercerita memilih gaun pengantin, memilih dekorasi, sampai undangan pun aku menyertainya. Memendam semua perasaan benci, tapi tak bisa benci, memendam perasaan senang, tapi berat. Aku yakin Jeri bukan orang yang tepat menjadi jodohku.

    Hal ini sudah menjadi renungan panjang di setiap malam menjelang pernikahan Mareta dan Jeri. Selalu kukatakan pada hati yang hancur ini untuk berbaik sangka kepada Allah Swt. atas kesalahpahaman yang terjadi. Aku yakin Allah telah mengatur segalanya dengan sangat baik. Aku pernah mendengar suatu pernyataan yang meneguhkan hatiku, yaitu jika keinginan seseorang tidak terkabul, bukan hal buruk yang terjadi, tapi ada hal yang lebih baik karena keinginan Tuhan yang sedang terjadi. Jika memang rencanaku tidak terkabul, semua yang terjadi ini adalah rencana-Nya. Meyakinkan diri untuk menerima dengan lapang dan hati penuh suka.

    Semoga Jeri bisa memahami keadaan ini dan lebih bijak dalam mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya bersama Mareta.

    3 APRIL 2022

    Kala malam Hujan Lebat di Dusun Gumeng Banjaragung Rengel-Tuban

    Chusnul Islamiyah anggota FLP Tuban, juga merupakan guru Multimedia di SMK Negeri Rengel. Alumnus Universitas Airlangga Prodi S1 Sistem Informasi. Karya yang telah dibukukan bersama teman-teman yaitu Antologi Esai Perempuan-Perempuan Pemintal Benang Kehidupan 2021.
  • Senapan Seorang Prajurit

    Senapan Seorang Prajurit

    Oleh: Noevil Agustian

    Banyak motivator yang berkoar di televisi bahwa hasil yang kita capai hari ini, ternyata adalah apa yang kita tanam sepuluh tahun yang lalu. Awalnya aku tidak percaya, karena cita-citaku waktu itu adalah menjadi tentara. Menjadi seorang prajurit. Berbeda dengan diriku saat ini yang ke sana kemari memikirkan rakyat, yang belum tentu rakyat mau memikirkan keberadaanku. Ke sana kemari mengadukan nasib rakyat lewat corong TOA, sampai-sampai pernah dijebloskan ke penjara beberapa minggu, hanya gara-gara melawan aparat yang apatis terhadap seorang bocah. Namun, itulah aku, seorang pengangguran yang bangga bisa mewakili rakyat melalui orasi di corong TOA.

    Aku kira semua orang tak akan acuh dengan diriku yang membela mati-matian untuk rakyat. Namun, ternyata tidak dengan seorang prajurit yang berbadan agak gempal. Ia dengan gagahnya menghampiriku, untuk memberikan satu di antara dua senjata yang ia pegang. Ia memberiku sebuah senapan dan kepercayaan untuk menggunakannya. Dengan bangga, aku menunjukkan pada dunia bahwa mimpi yang aku tanam sepuluh tahun yang lalu memanglah benar. Menjadi seorang prajurit. Dengan senapan inilah aku berkarya, menembaki semua rumah dan bahkan gedung-gedung yang melukai langit dengan cakarnya.

    Yang pertama aku tuju adalah gedung DPR. Aku tembaki sekeliling gedung, sampai tak tersisa sedikit pun kaca jendela yang masih menempel dengan bingkainya. Sebelum aku menembaki seluruh bagian di gedung ini, para satpam berlarian layaknya para pengamen ketika dikejar aparat. Beberapa pejabat yang tampak tertidur pulas bangun dengan kagetnya. Langsung berlari berhamburan keluar, dibarengi beberapa ekor tikus yang malah masuk untuk menyelamatkan makanan cadangannya. Tikus memanglah tak memiliki akal, beda dengan manusia. Di saat manusia menyelamatkan dirinya, para tikus malah lebih memilih menyelamatkan makanan cadangannya terlebih dahulu. Bahkan, satu-dua ekor tikus terjerembap di dalam gedung, tak sempat menyelamatkan dirinya. Hingga akhirnya membusuk bersama makanan cadangannya di antara reruntuhan gedung yang tak kuat menahan peluru yang aku tembakkan.

    Yang sebenarnya aku impikan bukanlah mengganggu ketenangan mereka para pejabat, tapi aku hanya ingin mereka keluar. Agar mereka bisa melihat dengan matanya, masih banyak rakyat yang jelata. Agar mereka bisa mendengar dengan telinganya, masih banyak rakyat yang meringis kelaparan. Agar mereka bisa mencium dengan hidungnya, ternyata masih banyak rakyat yang mayatnya membusuk di rumah mereka masing-masing karena tidak ada biaya untuk menguburkannya. Agar mereka bisa mengecap bagaimana rasa air yang mereka konsumsi setiap harinya, yang bercampur dengan limbah pabrik yang tidak bertanggung jawab. Agar mereka bisa merasakan panasnya kota ini, karena uap pabrik dan juga efek dari kendaraan bermotor yang semakin hari harganya semakin murah. Kalaupun panca indera mereka semua para pejabat sudah mati rasa, biarlah mata hati mereka yang membacanya. Kalau ternyata mata hatinya juga tak bisa membaca, mereka sebenarnya lebih layak mati bersama tikus-tikus di kantornya.

    Tak hanya itu, dengan sisa peluru, aku juga menghantam rumah-rumah penduduk yang congkak. Agar mereka semua keluar dan bisa melihat tetangga-tetangganya yang masih dilanda kemiskinan. Untuk apa menjadi kaya seorang diri, jika ternyata tetangga kita masih tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit? Tak hanya jendela mereka yang kutembaki, lumbung-lumbung penyimpanan uang mereka juga kutembaki. Uang-uang simpanan mereka pun akhirnya beterbangan. Itu semua kulakukan agar uang-uang itu dapat dipilih dan dibuat modal bagi tetangga yang lainnya. Kendaraan bermotor mereka juga kutembaki, kuhancurkan. Agar mereka semua tahu bagaimana rasanya berjalan berkilo-kilo hanya untuk mengais beberapa lembar kertas bergambar Pattimura. Selain itu juga, kendaraan bermotor mereka itulah yang membuat dunia ini semakin dekat kepada kehancuran.

    Aku juga bertekad dengan beberapa peluru yang tersisa ini, akan kugunakan untuk menghabisi beberapa aparat di negeri ini. Tapi tidak dengan prajurit yang membela mati-matian demi tegaknya bumi pertiwi ini. Aku hanya akan menghabisi beberapa aparat yang sungguh jasanya sudah tidak berguna lagi. Yang membuat jalanan teratur, sudah ada traffic light dan orang-orang kampung yang membantu dengan ikhlas, terkadang juga orang memberinya uang sebagai ongkos terima kasih walaupun hanya seribu-dua ribu. Karena yang kulihat sekarang beberapa aparat sudah malas menertibkan jalan. Mereka hanya menunggu di bawah pohon untuk berteduh. Di saat ada yang melakukan kesalahan, barulah ia keluar dengan garangnya. Hingga akhirnya, terjadilah tawar-menawar harga layaknya di pasar tradisional.

    Bahkan aku tak mengira, ternyata setelah menghabisi beberapa aparat, masih tersisa beberapa lagi peluru yang siap kutembakkan ke beberapa tempat. Biarkan kuteror mereka semua. Sayangnya, sebelum semua itu kulakukan prajurit, berhati mulia itu kembali lagi menemuiku. Mengambil senapan dari tanganku, dan membawa kembali peluru yang tersisa dengan senyum merekah dari wajahnya.

    “Kamu tak perlu menembaki mereka semua, cukuplah yang tadi kamu tembaki saja. Karena sebenarnya, tugasmu hanya mengingatkan. Bukan untuk menghakimi.”

    Hanya itu kalimat terakhir yang ia ucapkan, sebelum akhirnya meninggalkanku sendiri dengan tubuh penuh baretan luka saat sedang berduel dengan aparat.

    Noevil Agustian, sesosok pria kelahiran Sumenep-Madura. Aktif menulis semenjak bergabung dengan komunitas menulis “Forum Lingkar Pena”. Saat ini sedang aktif di FLP Malang. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media cetak maupun media online.

    editor: Niswahikmah

  • Kisah Qish yang Melompat dari Lantai Dua

    Kisah Qish yang Melompat dari Lantai Dua

    “Qish sayang, oh Sayangku….”

    Suara bass yang merdu tertangkap gendang telinga Qish.

    Tapak-tapak kaki mendekat. Tubuh Qish menggigil. Dia mengencangkan pegangan pada bayi laki-laki merah dalam gendongan.

    Dalam jarak lima meter, aroma lembut nan menggoda itu menggelitik sel syaraf di hidung Qish. Otaknya mulai larut dalam rasa asing yang tiba-tiba kembali menyergap. Qish memejamkan mata kemudian menepisnya dengan gelengan kuat.

    Saat perempuan tiga puluh tahun itu membuka mata, sesosok wajah muncul tepat di depannya. Hanya menyisakan jarak tak lebih dari lima centimeter. Darahnya berdesir. Seonggok organ berwarna merah berlompatan seolah hendak mendobrak dadanya.

    Sosok lelaki itu telah sempurna menghipnotisnya. Kulit bersih. Tubuh jangkung dengan postur berisi yang atletis. Hidung bangir berpadu sorot mata elang. Lekuk rahang yang kokoh berhias serabut-serabut hitam yang tumbuh rimbun memenuhi dari bawah telinga, bagan atas bibir hingga melingkar ke bawah dagu. Qish bahkan bisa merasakan uap beraroma segar yang berdesis dari mulutnya. Seulas senyum menyempurnakan keindahan itu. Senyum yang selalu tampak menawan di mata Qish dan membuatnya lumer.

    Sepuluh detik berlalu. Menyisakan tubuh Qish yang masih mematung di tempat. Lelaki yang tak ubahnya pangeran itu mencium bayi manis yang ada dalam gendongan Qish sebelum kemudian mendaratkan kecupan ringan di keningnya.

    ***

    Inilah rumah yang dia tuju. Tempat di mana segala mimpi akan berpendar indah layaknya pelangi. Setidaknya begitulah kata sebagian besar orang. Qish berjalan menuju sebuah bangunan yang berdiri paling megah. Seorang perempuan muda berambut pendek menyapa, menanyakan keperluannya. Setelah menjawab singkat, Qish diantar bertemu wanita bertubuh gemuk yang ramah. Senyum mengembang menghiasi pipi tambunnya.

    Nyonya Zhaf, begitulah dia biasa dipanggil. Wanita berambut cokelat itulah yang kemudian mengajarinya banyak hal. Di MaidsVille, sembilan puluh persen penduduknya adalah perempuan. Para perempuan di sana terlahir untuk menjadi pelayan. Segelintir perempuan datang dari berbagai penjuru mata angin untuk memutus masalah ekonomi yang menjerat leher mereka.

    Kota serupa desa yang asri itu menawarkan fasilitas modern yang dikemas dalam nuansa alami. Padang hijau terhampar luas dengan bermacam tanaman dari segala jenis sayuran dan buah-buahan. Peternakannya berisi hewan-hewan dari berbagai spesies. Penduduk MaidsVille mempunyai alat-alat modern, tetapi orang-orang di dalamnya terbiasa bekerja keras dengan tangan mereka sendiri. Kerja mereka gesit. Mereka memanfaatkan alat otomatis hanya untuk pekerjaan dalam jumlah massal.

    Tiga ratus enam puluh lima hari terasa singkat bagi Qish hingga akhirnya dia dinyatakan siap berangkat. Dia menikmati setiap detail pelajarannya sebagai obat pelarian dari masalahnya dengan sang mantan. Namun, Qish tidak pernah menyangka bahwa perjalanannya ke MaidsVille akan membawanya pada satu pelajaran berharga tentang betapa mahalnya harga diri.

    ***

    Qish menghela nafas panjang sebelum rentetan peristiwa beberapa hari belakang itu menjelma kata. Wanita cantik bertubuh sintal di depan Qish mengernyitkan kening. Dia menganggap ucapan Qish barusan sebagai lelucon menyebalkan. Apa yang Qish bilang barusan? Suaminya sering menggodanya? Yang benar saja! Meskipun itu lelucon pun rasanya sungguh keterlaluan. Mana mungkin suaminya tertarik pada perempuan sekelas Qish.

    Perbedaan Qish dan Nav lebih jauh dari bumi dan langit. Kulit Qish hitam terpanggang matahari sementara Nav berkulit bersih dengan kulit wajah yang merona kemerahan. Qish bermata belo dengan hidung kecil yang jauh dari kata mancung. Mulutnya berwarna gelap dan tebal. Rambut Qish berombak, mengembang tidak rapi. Tubuhnya pendek dan berisi. Sedangkan Nav serupa turunan bidadari. Matanya sayu dengan bulu mata lentik. Hidungnya lancip. Bibirnya mungil tipis berwarna merah segar. Aroma wangi selalu menguar dari rambut panjang legamnya. Postur tubuh Nav ideal dengan tinggi semampai.

    Nyonya Zhaf mengatakan bahwa untuk menjadi pelayan yang baik, seseorang harus menguasai berbagai hal dasar dan bersahabat dengan alam. Untuk menyajikan makanan yang lezat bergizi, Qish harus memulainya dari menanam tanaman sendiri dan mengurus hewan yang dagingnya dia butuhkan untuk diolah. Dalam hal mengurus anak pun demikian. Setelah praktik mengurus bayi dan anak secara langsung selama sebulan penuh, ada ujian terstandar yang harus dia lewat.

    “Kau pasti bohong, ‘kan? Kau sengaja mengarang cerita untuk menjelek-jelekkan suamiku, padahal kaulah yang tertarik padanya,” ucap Nav sinis.

    “Saya tidak bohong, Nyonya. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, hak Anda untuk percaya atau tidak. Yang jelas saya sudah memberi tahu Anda seperti apa Tuan Zoe sebenarnya,” jawab Qish tenang.

    “Jangan bersikap seolah-olah kau lebih mengenalnya daripada aku.” Nav memandang Qish dengan tatapan merendahkan. Dia meninggalkan jejak air cibiran di dahi Qish.

    Qish mengusapnya. Dia sudah bersiap jika wanita cantik itu tidak mempercayainya, tetapi dia cukup terkejut dengan penghinaan yang dialaminya barusan. Permohonan pengunduran dirinya sebagai pelayan di rumah itu ditolak mentah-mentah. Qish dianggap membuat alasan yang tidak masuk akal.

    ***

    “Qish, kau itu dibayar untuk melakukan perintahku!” kata Zoe, majikan Qish.

    “Saya ini pelayan, Tuan. Bukan budak Anda. Jadi, Anda tidak bisa menyuruh saya melakukan sesuatu yang tidak ada dalam kontrak.”

    “Hei, kau bisa mendapatkan upah lebih kalau kau mau.” Qish berpikir kritis. Hati perempuan mana yang kuasa menolak saat dihadapkan pada keindahan yang begitu nyata. Namun, saat kesadarannya masih waras, dia sebaiknya cepat pergi sebelum hatinya menguasai.

    “Mohon maaf, Tuan.” Perempuan berkulit gelap itu menuju ke arah pintu.

    Namun, dengan sigap lelaki yang selalu membuat degup jantungnya berdebar kencang itu menutup pintu. Degup di dada Qish kembali bertalu. Bukan karena rayuan manis atau sikap romantis Zoe, tetapi gelagat buruk yang dihirupnya lebih pekat. Zoe memang kerap melancarkan aksi yang tak jarang mengetuk relung hatinya sebagai perempuan. Qish mendapat perlakuan istimewa yang tidak pernah didapatnya dari sang mantan suami. Perempuan itu kabur dari lelaki yang suka main tangan, lari ke MaidsVille, dan kini harus terjebak dalam kandang buaya.

    Zoe mengayunkan kunci lantas memasukkannya ke dalam kantong celana. Dia berjalan santai mendekati Qish. Tangannya terulur hendak meraih Qish. Tubuh Qish berkelit. Kedua matanya awas mencari celah untuk kabur. Zoe mengusap hidungnya sekilas lantas menarik salah satu ujung bibirnya. Dia tampak sudah tak sabar. Dalam hitungan detik, lelaki itu sudah berhasil menjangkau Qish. Mengunci rapat tubuhnya.

    Keringat dingin bercucuran dari dahi Qish. Telapak tangannya sedingin es. Dia masih berusaha memberontak dari cengkeraman Zoe.

    “Jangan takut, Sayang. Nantinya kau malah akan berterima kasih padaku.” Zoe membelai rambutnya lembut. Lengkungan manis kembali menghiasi bibirnya.

    Tubuh Qish mengendur. Zoe pikir perempuan itu akhirnya menyerah. Takluk dalam pesonanya. Namun, dia salah. Saat ikatannya melonggar, Qish meloloskan diri. Dia berlari sekuat tenaga menuju jendela yang tidak terkunci dan tanpa pikir panjang melompat keluar.

    Apa yang ditakutkan Qish akhirnya terbukti. Zoe memanfaatkan kesempatan saat Nav dan bayinya sedang tidak ada di rumah. Beruntung Qish berhasil kabur meski harga yang harus dibayarnya sangat mahal. Ketika sadar, Qish mendapati dirinya berada di rumah sakit. Terbaring dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Kakinya terasa kaku dan sulit digerakkan. Dia mengalami patah kaki akibat melompat dari lantai dua.

    Sekali lagi Qish beruntung karena nyawanya berhasil diselamatkan. Seorang laki-laki baik hati yang menemukannya terkapar di jalanan segera membawanya ke rumah sakit. Kali ini Qish ingin pulang. Butiran bening meluncur mulus di pipinya. Seburuk apa pun kondisi di tanah kelahirannya, akan selalu ada keluarga yang merengkuhnya menenangkan. []

  • Sahabat kok Julid

    Sahabat kok Julid

    “Sahabat kok julid!”

    Rahadi heran. Rania, istrinya, pulang sambil menggerutu tidak jelas. “Siapa?” tanyanya kemudian.

    Jangankan menjawab, Rania malah memajukan bibirnya kesal. Dia memilih menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berjajar rapi di ruang keluarga.

    Wajahnya benar-benar tampak kesal. Rahadi sudah hafal benar, ini pasti telah terjadi sesuatu. Kalau sudah seperti ini, langkah terbaik adalah membiarkan istrinya sendiri.

    Namun, belum juga dia beranjak dari duduk, Rania sudah bersuara.

    “Mas, dengarkan aku!”

    Uh, gawat! Bisa siaran tanpa iklan selama berjam-jam ini.

    “Aku heran, katanya sahabat itu membuat kita bahagia, bahkan melebihi keluarga. Tapi, Muya apa?”

    Rahadi memilih diam, tidak menanggapi apa-apa. 

    Muya adalah teman SMA Rania. Bisa dibilang mereka berdua adalah sahabat karib. Selama bersekolah, mereka berdua selalu kompak. Bahkan, banyak orang mengira mereka adalah saudara. Namun, setamat SMA, nasib membawa mereka ke tempat yang berbeda. Bahkan, hilang komunikasi.

    Hingga sekitar satu bulan yang lalu, melalui grup WhatsApp Alumni, mereka bisa kembali berkomunikasi. Muya yang waktu itu masih tinggal di pulau seberang, mengabarkan sedang mencari rumah tinggal di Jawa. Takdir seolah bersambut, tetangga Rania ternyata menjual rumahnya karena harus ikut suami pindah tugas. Maka, melalui komunikasi jarak jauh, Rania mendiskusikan ini dengan Muya. Sebenarnya yang lebih tepat adalah Rania dan Muya bersekutu untuk meyakinkan suami Muya agar mau membeli rumah itu. Pendek kisah, kini mereka bertetangga.

    Sejak Muya bertetangga dengannya, Rania sering repot sendiri. Masak jadi istimewa, karena sebagian akan dibagikan ke Muya. Selain itu, dia juga lebih ceria. Seperti hari libur kali ini, pagi-pagi sekali Rania sudah meninggalkan dapur. Sarapan sudah siap, tapi dia malah tidak ada di rumah.

    Sebagai suami, Rahadi cukup terbantu dengan kedatangan Muya. Biasanya Rania akan terus memaksanya segera pulang karena dia merasa butuh bantuan untuk mengurus Raihan, anak mereka yang berusia balita. Sejak ada Muya, Rania lebih bahagia menjalani hari-harinya di rumah.  Rahadi bisa menikmati me time, entah sekadar futsal atau menyalurkan hobi fotografinya.

    “Mas tahu, tadi dia bilang apa? Julidnya keterlaluan…”

    Rahadi menepuk dahinya. Dia tidak habis pikir, betapa fluktuatifnya persahabatan Rania dan Muya. Bisa dekat seerat-eratnya, seolah dunia milik mereka berdua. Namun, belum juga genap satu bulan bertetangga, mereka sudah saling tersakiti.

    “Benar kata orang, waktu membuat persahabatan hilang, bahkan musnah.”

    Mulai, nih! Rania mulai mengeluarkan kata-kata puitis yang kadang sangat sadis.

    “Sahabat kokJulid!” pungkas Rania sebelum kemudian dia berlalu menuju dapur.

    Rahadi menghempaskan napas dengan berat. Belum juga menikmati sarapan, dia sudah kenyang dengan siaran istrinya.

    “Ayo, Mas, sarapan! Apa Mas tidak suka dengan masakanku pagi ini?”

    Nah, kan, Rahadi terkena imbas!

    Sebelum siaran semakin panjang, dia memilih beranjak dari duduknya, menuju dapur. Segera dia menghampiri meja makan.

    “Masyaallah, sedap sekali sop ayam ini! Pasti lezat,” serunya sambil segera duduk dan bersiap makan.

    “Bilang saja kalau itu hanya hiburan,” ujar Rania dengan kesal.

    Rahadi tersenyum, berusaha sabar menenangkan istrinya.

    “Ayo, kita sarapan!” ajaknya sambil menyentuh lengan Rania, mengajaknya turut duduk dan menikmati sarapan bersama.

    Rania menyadari emosinya tak terkendali, dia menghembuskan napas dengan lemah.

    “Mas Hadi sarapan sendiri saja, Rania mau nyuapin Raihan,” kata Rania sambil berdiri.

    Rahadi mencegahnya, “Raihan sudah sarapan tadi sama aku. Dia sekarang main di taman belakang.”

    Rania akhirnya menyerah, dia kembali duduk dan mulai menuangkan nasi ke piring suaminya.

    “Rania mau wudhu dulu, biar lebih tenang?” usul Rahadi.

    Rania hanya mengangguk, kemudian pergi berwudhu.

    “Rania kesal saja, tidak mengira kalau Muya jadi julid begitu,” kata Rania setelah kembali dari berwudhu.

    Rahadi tersenyum sambil menikmati sarapannya. Dia menyadari benar kekesalan menggelayuti wajah istrinya yang masih berhias butiran air wudhu yang tidak diseka.

    “Muya julid bagaimana?” tanya Rahadi dengan hati-hati.

    “Muya bilang aku terlalu gendut. Bahkan dia mulai mengatur hidupku.”

    Rahadi sekuat diri menahan agar tidak tertawa.

    “Sudah seminggu ini, Mas. Setiap aku ke rumahnya, dia selalu bilang kalau aku gendut. Bahkan sudah tiga hari ini dia terus memaksaku untuk minum ini, makan itu, olahraga begini, begitu. Dia benar-benar cerewet! Ini kan tubuhku, kenapa dia yang mengatur? Ini benar-benar body shimming.

    “Padahal, dia sendiri sekarang gendut, bahkan lebih gendut dibandingkan aku.”

    “Sudah, Ran, sudah! Baca shalawat, gih!

    Rania menuruti perintah suaminya, dia membaca shalawat berkali-kali.

    “Apa memang aku gendut, Mas?” tanya Rania malu-malu.

    Raihan sontak menggeleng, “Tidak, tidak, Ran.”

    “Ah, Mas hanya menghiburku!” sergah Rania.

    Raihan benar-benar sekuat diri menahan tawa. Dia akan puasa seminggu penuh kalau Rania marah hanya karena mendapati dia tertawa terbahak-bahak dalam pembahasan berat bedannya.

    “Ran, Rania! Assalamu’alaikum….”

    Dialog di meja makan terjeda. Ada seseorang yang datang bertamu.

    “Sepertinya, itu Muya,” tebak Rahadi.

    Rania bergeming, mulutnya terkunci rapat sedikit manyun. Dia enggan menyambut tamunya. Padahal, biasanya, apapun ditinggalkan demi pertemuan mereka berdua.

    “Aku boleh masuk, Ran? Kamu di dapur ya?”

    Suara Muya kembali menggema.

    “Silahkan, Muya! Iya, Rania di dapur,” jawab Rahadi. Masih sambil menahan tawa.

    “Permisi ya, Mas Hadi! Muya masuk.”

    Muya menuju dapur dengan terburu-buru. Bayi yang dia gendong sedang tidur pulas. Dia mendatangi Rania dengan wajah bersalah.

    Rahadi memilih bergabung dengan Raihan yang asyik bermain lego di taman belakang, dekat dengan dapur. Dia membiarkan dua sahabat itu menyelesaikan urusannya. Ah, meski bagi Rahadi, urusan itu terlalu konyol! Bertengkar hanya karena gendut dan tidak gendut.

    “Ran, kamu marah ya? Maaf ya!”

    “Kamu tidak sadar ya, kalau kamu sendiri gendut?” serang Rania.

    Rahadi yang mendengar semuanya akhirnya tertawa tanpa suara di taman belakang. Duh, sakit tertawa seperti ini! Benar-benar dua perempuan yang menganggap ini masih masa SMA mereka.

    “Iya, aku juga gendut. Tapi aku mau kamu menurunkan berat badan,” kata Muya.

    “Kenapa kamu mengatur hidupku?” Rania membantah.

    “Please, Ran!”

    “Tidak.”

    “Ayolah!”

    “Kenapa sih, kamu ini? Sahabat kok julid”

    Muya terdiam. Dia mengayun bayi di gendongannya yang tidurnya mulai terusik.

    “Ran, sebenarnya, aku punya hadiah buat kamu. Tapi kamu harus menurunkan berat badan,” jelas Muya dengan hati-hati.

    “Tidak perlu iming-iming!” Rania masih emosi.

    “Aku sih yang salah, belinya kekecilan…” Muya mengaku malu-malu.

    Rania terbelalak. Dia mulai mencerna maksud sahabatnya.

    “Ran, aku sudah menyiapkan baju kembar untuk keluargaku dan keluargamu. Kayak impian kita waktu dulu. Tapi, ternyata aku salah menyiapkan ukuran bajumu….”

    Seketika Rania ingat momentum SMA mereka. Saat mereka memiliki impian poto bersama, mengajak keluarga masing-masing dengan baju yang sama. Selain itu, Rania juga teringat waktu pertama dia bertemu Muya setelah lama tak berjumpa, Muya tampak sedih menanyakan apa ukuran bajunya kini.

    “Dari poto profil medsosmu, kukira ukuran bajumu masih M, ternyata sekarang L,” kata Muya sambil ketakutan.

    Alih-alih marah, Rania tertawa terbahak-bahak memikirkan kekonyolan tentang semua ini. Jangan ditanya, Raihan sudah sakit perut, tertawa sendiri menikmati parade humor persahabatan istrinya.[]

     

     

  • Pesona Sang Hafidz

    Pesona Sang Hafidz

    “Gimana, Lif? Apa kamu tolak lagi tawaran pinangan kemarin?” tanyaku pada Alif seusai shalat Jum’at.

    “Iya, Mir,” jawabnya tanpa beban.

    “Menurutku tawaran kemarin adalah kesempatan emas, Lif. Apa kau sadar, siapa yang kau tolak kemarin? Syifa Rahma, seorang hafidzah jebolan pondok Gontor sang putri Kyai pun engkau tolak. Lantas, wanita yang bagaimana lagi yang engkau cari?” tanyaku gemas pada temanku yang satu ini. Jika kuperhatikan, tidak ada sedikitpun rasa penyesalan dari wajahnya.

    “Entahlah, Mir. Dalam istikhorohku, rasanya belum pas di hati. Mungkin, dia lebih pantas mendapatkan seorang lelaki yang lebih baik dariku,” jelasnya sambil membetulkan posisi peci putihnya.

    Aku pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah apa yang ada di pikiran sobatku yang satu ini. Entah sudah berapa kali Alif menolak tawaran pinangan dari beberapa orang wanita. Mereka pun bukan wanita sembarangan dan kapasitas keagamaannya pun patut diperhitungkan. Mulai dari seorang ustadzah, alumnus Al-Azhar Kairo, sampai yang terakhir kemarin sang hafidzah Qur’an sekaligus putri sang kyai ternama. Selama aku berteman dengannya selama ini, yang aku tahu sudah ada empat wanita yang ditolaknya. Mungkin sebelumnya juga sudah ada beberapa wanita yang patah hati karena penolakan Alif.

    “Lif, seharusnya kamu bersyukur diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih salah seorang wanita terbaik sebagai pendamping hidupmu. Aku saja yang ingin segera menggenapkan setengah dien, justru beberapa kali ditolak ketika mengajukan diri,” kataku pada Alif sambil tersenyum kecut. Alif pun malah tersenyum mendengar celotehku.

    “Sabar ya, Mir. Mungkin belum saatnya kita berjodoh dengan seseorang. Sekuat apapun kita berusaha dan berdo’a, namun jika Allah belum mentakdirkan bertemu dengan orang yang dipilihkan untuk kita, itulah jalan yang harus kita hadapi.” Seperti biasa Alif menasihatiku dengan kata-kata yang bijak. Wajahnya yang begitu teduh dan tutur katanya yang halus, membuatku selalu nyaman berteman dengannya selama setahun ini.

    Mungkin itulah yang membuat banyak wanita yang terpesona dengannya, Alif Firdaus. Seorang hafidz Qur’an jebolan salah satu pondok pesantren terkenal di Jawa Timur. Wajahnya yang bersih dan tampan dengan postur tubuh yang tegap, mengingatkanku pada sosok Nabi Yusuf yang digilai banyak wanita saat itu. Meski berwajah tampan, Alif tak pernah memanfaatkan kelebihan fisiknya itu untuk menggoda para wanita.

    Suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, membuat siapa pun merinding dibuatnya. Dia selalu berusaha menjaga diri dan menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya. Sampai terkadang sempat terlintas di pikiranku. Mungkin jika aku menjadi seorang perempuan, pasti aku juga sudah terpikat karena pesonanya. Alif terkenal sebagai sosok yang alim diantara para ustadz yang mengajar di Madrasah Ibtidaiyah ini. Sungguh beruntung aku mempunyai teman seperti Alif yang mampu menularkan kebaikan kepada teman-temannya, termasuk diriku.

    Kring… kring… kring….

    Tak terasa bel masuk telah berbunyi, pertanda jam istirahat telah usai. Aku dan Alif pun akhirnya berpisah karena kami akan mengajar di kelas kami masing-masing.

    ***

    “Hah, Ustadz Alif berpacaran sama Ustadzah Aida? Subhanallah…!” tanyaku pada Ustadz Hari yang memberi kabar mengejutkan padaku.

    “Benar, Ustadz. Banyak yang bilang begitu,” jawab Ustadz Hari menggebu-gebu.

    “Banyak yang bilang, siapa saja? Saya teman baik Ustadz Alif. Setahu saya, dia tidak mungkin berbuat demikian. Jangan-jangan ini hanya fitnah, Ustadz.” Aku pun berusaha membela Alif tentang kebenaran berita itu. Aku paham benar bagaimana sifat Alif. Sejak isu itu berhembus, aku memang sama sekali belum bertemu dengan Alif karena dia sedang ditugaskan survey kegiatan ke luar kota.

    “Anak-anak kelas 6 yang bercerita. Kata mereka, selama ini Ustadz Alif dan Ustadzah Aida memang terlihat akrab. Jika kabar ini benar, Ustadz Alif harus kita ingatkan. Dan kalau perlu harus menjauhi Ustadzah Aida. Bukankah aturan di madrasah ini sudah jelas, jika tidak boleh menikah dengan teman satu kerja? Hal ini juga tidak baik jika nantinya sampai dicontoh oleh anak-anak yang sudah mulai baligh.”

    “Jangan hanya percaya pada omongan anak kecil, Ustadz. Mereka belum tentu benar. Selama ini mereka berdua dekat karena sama-sama mengajar Bahasa Arab. Jadi wajar jika mungkin sering bertukar pendapat tentang materi pelajaran yang akan diajarkan.” Aku kembali membela teman dekatku itu.

    Meski Ustadz Hari memberikan argumen demikian, di dalam hati aku masih tidak percaya jika Alif berpacaran dengan Ustadzah Aida. Memang sih, Ustadzah Aida sepertinya juga menaruh hati pada si Alif. Cara menatap dan gaya bicara Ustadzah Aida kepada Alif berbeda dengan yang lainnya. Namun selama ini, Alif menganggapnya sebagai teman kerja biasa.

    “Iya, Ustadz. Tapi hal ini tidak bisa didiamkan,” lanjut Ustadz Hari.

    “Terus menurut Ustadz, kita harus bagaimana?”

    “Kita laporkan masalah ini kepada kepala sekolah.”

    “Mohon maaf Ustadz, sepertinya tidak baik membuka aib seseorang jika belum bertanya langsung dengan yang bersangkutan. Saya harap, masalah ini jangan menyebar terlebih dahulu.” Aku tidak setuju dengan usul Ustadz Hari yang menurutku tergesa-gesa itu.

    “Baik, Ustadz Amir. Namun jika belum ada kejelasan, mungkin saya akan maju ke pihak Kepala Sekolah untuk meluruskan masalah ini. Assalamu’alaikum.” Ustadz Hari langsung meninggalkanku begitu saja.

    Entah apa yang sedang terjadi. Setauku, Alif tidak pernah membicarakan Ustadzah Aida padaku. Bukan masalah ketidakpercayaanku pada Ustadz Hari. Namun aku hanya takut jika semua ini hanya fitnah yang akan menjatuhkan harga diri Alif. Diantara para ustadz pengajar di sekolah madrasah ini, memang akulah yang paling dekat dengan Alif. Selain seumuran, kami berdua mulai mengajar di sekolah ini pada tahun yang sama.

    Sejak Ustadz Hari memberikan kabar itu, hatiku merasa tidak tenang. Mengajarpun jadi tidak konsentrasi. Kucoba menghubungi Alif melalui ponsel berkali-kali, namun tidak diangkat. Aku hanya khawatir jika Ustadz Hari terlanjur mengadukan hal ini ke pihak kepala sekolah.

    Sepulang mengajar aku berjalan gontai menuju tempat parkir sekolah. Pikiranku masih tertuju pada masalah Alif. Secara tak sengaja, Ustadzah Aida melintas di hadapanku. Tak banyak bicara, aku berusaha untuk menyapanya.

    “Assalamu’alaikum. Ustadzah Aida, ada waktu sebentar untuk bicara?” sapaku padanya.

    “Wa’alaikumsalam. Silahkan, Ustadz. Ada yang bisa dibantu?” jawabnya penasaran. Entah kenapa tiba-tiba hati ini menjadi gugup tak karuan. Lidah seakan kelu ketika akan mengucapkan kalimat padanya. Kulihat wajahnya nan cantik dan bersinar. MasyaAllah… sungguh indah makhluk yang ada di hadapanku ini. Tapi, astaghfirullah… mengapa mata ini susah aku kendalikan? Bukankah tujuan utamaku adalah untuk bertanya masalah Alif? Namun jika hanya bicara berduaan, rasanya tidak baik mengingat kami berdua juga belum menikah. Aku hanya takut timbul fitnah diantara kami. Tapi jika harus melibatkan orang lain, aku takut masalah ini akan tersebar pada orang lain padahal masih belum jelas kebenarannya.

    “Begini, Ustadzah. Besok pagi saja saya mau bicara dengan Ustadzah dan Ustadz Alif. Ada hal yang mau kami diskusikan dengan Ustadzah.” Akhirnya kalimat itu yang mampu meluncur dari mulutku. Biar aku tidak hanya mendengar penjelasan dari satu pihak saja.

    “Baiklah, Ustadz. InsyaAllah. Assalamu’alaikum,” pamitnya sambil berlalu dari hadapanku.

    “Wa’alaikumsalam.” Alhamdulillah, semoga besok permasalahan ini akan segera berakhir.

    ***

    Keesokan harinya….

    “Ya Allah, saya tidak menyangka jika Ustadz Hari mengatakan demikian,” ucap Ustadzah Aida kaget pada kami setelah kuceritakan perkataan Ustadz Hari padaku. Aku, Alif, dan Ustadzah Aida berkumpul di perpustakaan sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Suasana masih sepi, sehingga tidak ada yang tahu isi pembicaraan kami.

    “Saya juga kaget saat mendengar kabar itu kemarin. Saya juga tidak yakin jika Ustadzah Aida dan Ustadz Alif seperti itu,” jelasku pada mereka.

    “Alhamdulillah jika masalahnya telah selesai. InsyaAllah nanti saya yang akan bicara dengan Ustadz Hari tentang hal ini,” kata Alif bijaksana. Dari raut wajahnya, tidak ada sedikitpun rasa emosi yang menggelayuti dirinya. Beberapa saat kemudian Ustadzah Aida mengundurkan diri dari hadapan kami.

    “Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dengan Ustadzah Aida, Lif?” tanyaku penasaran pada Alif. Dia pun tersenyum kecil.

    “Tidak ada apa-apa. Mungkin hanya salah paham saja,” jawabnya tenang.

    “Maksudnya?”

    “Sebenarnya aku tidak ingin cerita hal ini pada siapa-siapa. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, Ustadzah Aida pernah mengajukan dirinya untuk menikah denganku. Sampai-sampai, dia bilang siap jika harus keluar dari sekolah ini.”

    “Terus, kamu tolak?”

    “Ehm… iya, Mir. Aku merasa belum sreg dengan dia.”

    “Sudah kuduga sebelumnya, Lif. Padahal Ustadzah Aida itu orangnya cantik, pintar, kalem, dan keibuan. Lantas, apa Ustadz Hari tau masalahmu dengan Ustadzah Aida hingga dia menyebar berita seperti itu?”

    “Aku sendiri juga tak tau. Tapi dulu Ustadz Hari pernah bilang padaku jika dia kagum pada Ustadzah Aida. Namun sikapnya berubah semenjak aku dan Ustadzah Aida dijadikan satu tim pengajar Bahasa Arab. Sudahlah, aku tidak mau su’udzan dengan orang lain. Yang penting sekarang, masalah ini sudah clear. Nanti biar aku yang klarifikasi dengan Ustadz Hari.”

    Ternyata aku baru tau jika ada sesuatu diantara Alif dan Ustdzah Aida sebelumnya. Subhanallah… Alif mampu menjaga kehormatan saudarinya dengan menutupi cerita itu. Hanya padaku akhirnya dia mau bercerita tentang semua ini. Mungkin, ada beberapa kisah lainnya yang sengaja tidak diceritakan sang hafidz ini padaku.

    Jika aku menangkap dari cerita Alif, sepertinya Ustadz Hari tidak suka melihat kedekatan Alif dan Ustadzah Aida selama ini. Hingga akhirnya dia berusaha menyebarkan kabar burung untuk menjatuhkan reputasi Alif di sekolah ini. Tapi, ah… aku tidak mau su’udzan pada orang lain seperti halnya Alif. Sekali lagi, Alif mengajariku tentang pentingnya menjaga kehormatan saudara seiman yang sudah seharusnya dijaga.

    ***

    Sebulan kemudian….

    “Amir, ada sesuatu yang mau aku sampaikan,” kata Alif serius di sela-sela waktu istirahat makan siang.

    “Ada apa, Lif?”

    “InsyaAllah bulan depan aku akan menikah.” Aku pun langsung tertegun mendengar berita itu. Rasa senang dan penasaran bercampur aduk menjadi satu. Senang karena akhirnya saudaraku yang satu ini telah memilih seorang wanita diantara banyak wanita yang pernah ditolaknya. Dan penasaran, karena siapakah wanita yang akhirnya mampu mencairkan hatinya yang beku.

    “Dengan siapa, Lif? Apakah dia seorang hafidzah juga? Lulusan mana, atau anak kyai siapa? Subhanallah… pasti dia seorang wanita yang luar biasa,” tanyaku padanya sangat bersemangat.

    “Dia bukan siapa-siapa, Mir,” jawabnya dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.

    “Terus, siapa?”

    “Dia wanita biasa. Bukan seorang ustadzah, atau bahkan hafidzah. Bahkan dia belum berjilbab.”

    “Lif, jangan bercanda.”

    “Benar, Mir. Aku tidak berbohong. Dia adalah anak tetanggaku di kampung halaman. Orang tuaku mengenalkannya padaku. Sudah lama dia hanya hidup dengan budhenya karena kedua orang tuanya telah meninggal. Ilmu agamanya pun masih minim.”

    “Lif, janganlah kau menikah karena rasa belas kasihan.”

    “Aku menikah bukan karena belas kasihan. Tapi karena aku ingin membimbing seseorang untuk menemukan jalan Allah. InsyaAllah aku akan berusaha menjadikannya wanita yang sholihah. Dan bagiku, cinta bisa dibangun setelah menikah. Meski ada orang berkata menikah karena mencintai, tapi aku lebih memilih mencintai karena menikah.”

    Mendengar kata-kata Alif, seolah bibir ini tak kuasa lagi untuk berucap. Speechless. Betapa luhurnya akhlak dan pemikiran saudaraku yang satu ini. Entahlah, pemikirannya sungguh berbeda dengan yang lain. Sungguh, pesona sang hafidz tak hanya mampu membius para wanita. Namun dia mampu mempesona siapa saja. Dalam hati aku hanya berdoa, semoga pilihan ini yang terbaik untuknya dan Allah mempermudah segala ikhtiarnya.

    Setelah itu kami berdua pun terdiam. Aku memandangi langit biru di atas angkasa. Sungguh indah lukisan Sang Maha Kuasa. Hingga aku berpikir, kapan aku akan menyusul Alif untuk menggenapkan setengah dienku? Saat ini usiaku telah menginjak 25 tahun, seperti usia sang baginda Rasul menikah untuk pertama kalinya. Dengan tekad tetap memperbaiki dan memantaskan diri, kuharap aku akan segera menemukan sang bidadari pilihan-Nya. Semoga. [Ika Safitri]

  • Kebenaran

    Kebenaran

    Dalam ruangan dalam rumah sederhana dengan pintu di selatan dan sofa sederhana berjejer rapi, dua meja berukuran sedang berada di tengah ruangan. Terdapat satu buah almari besar menghadap pintu rumah, aku duduk menatap layar gawai yang berkedip sedari tadi. Dilayar gawai tertulis nama Adik Aisyah memanggil. Aku mengangkatnya.

    “Kak!” katanya sembari terisak. Dia menangis di seberang sana.

    “Eh, Ada apa, dek?” tanyaku langsung. Aku melihat ke langit-langit memandang kipas yang berputar-putar, begitu pula pikiranku kini melayang.

    “Ada panggilan dari Kepala Sekolah” katanya masih menangis.

    “Ada apa?” tanyaku.

    “Sini aja ke sekolah,” katanya lantas menutup telponnya.

    Sudah telepon tidak salam langsung nangis. Aku berdiri mengambil jaket yang ada di kamar, sembari memakainya aku segera menaiki sepeda motor yang berada di sebelah rumah. Memacunya dengan kecepatan sedang, melewati ramainya jalanan. Pikiranku berkecamuk, hampir saja aku menabrak orang tua yang sedang hendak menyeberang jalan. Aku menginjak rem dalam.

    “Pelan-pelan woy!” bentak orang sekitar yang kebetulan melihatku.

    Aku memohon maaf kepada kakek-kakek yang sedang menyeberang dan masyarakat sekitar. Aku lantas beristighfar kepada Tuhan dan kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah adikku yang sudah nampak.

    Sesampainya di gerbang sekolah aku langsung mendapat sambutan dari bapak satpam dengan maksud kedatanganku. Lalu, segera kuutarakan karena mendapat panggilan dari Aisyah.

    “Silahkan langsung menuju kantor sekolah, Mas!” katanya sembari menunjuk ruangan tepat di dekat gerbang. Aku memarkir sepeda motor dan melepas helm.

    Aku masuk ke ruangan guru mengucapkan salam, sambil memandang sekeliling ruangan mencari adik perempuanku. Bapak kepala sekolah menjawab serta langsung menemui saya.

    “Wali murid dari Aisyah Rahmawati?” tanyanya dengan ekspresi sedikit berwibawa. Kumisnya tebalnya serta kacamata jadul yang sedikit melorot.

    “Iya, pak. Saya dengan Reno kakaknya Aisyah. Aisyah di mana pak?” tanyaku kemudian setelah memperkenalkan diri.

    “Di ruangan kepala sekolah nak Reno, bapak mau bertanya sebelumnya” katanya tiba-tiba serius.

    “Iya pak tanya aja,” kata saya.

    “Apa Aisyah habis dibelikan HP baru Ayahnya?” tanyanya menyelidik.

    “Iya, Pak. Itu sudah direncanakan sudah lama, memang ada apa, Pak?” kataku sembari menanyakan perihal pertanyaan yang baru saja ia utarakan.

    Terlihat ia agak susah menjelaskan. Lantas ia menghembuskan napas berat. “Kita bicarakan di dalam ruangan saya saja ya, Mas,” katanya lantas mengarahkan kami ke dalam ruangannya. Terdengar suara Aisyah yang masih sesenggukan di dalam. Aku ingin memberinya surprise namun, saat aku masuk aku yang dikagetkan dengan dia yang basah kuyup. Badannya berbalut selimut. Bibirnya bergetar, mukanya pucat sekali.

    Saat itu aku emosiku naik, “kenapa adik saya, Pak?” tanyaku sebelum duduk di sofa tamu.

     “Sabar, Mas! Biar saya jelaskan,” katanya bapak kepala sekolah.

    Aku mendekati adikku. Dia menangis makin keras. “Aku di tuduh mencuri, Kak. Uang OSIS hilang. Tadi pagi aku baru saja memakai HP baru pemberian Ayah. Mereka langsung mengataiku maling,” katanya sesenggukan.

    “Saya minta maaf atas kesalahpahaman murid-murid, Mas!” kata pak kepala sekolah, sembari menunduk.

    “Kamu bawa baju ganti gak?” tanyaku pada Aisyah tanpa menjawab perkataan kepala sekolah.

    Dia hanya mengangguk.

     “Ya udah ganti baju dulu, terus kita pulang yah!” kataku, namun ia memandangku seolah memberi pengertian bahwa ia tidak mau masuk kelas. “Kenapa?” dia menggeleng.

    “Kalau begitu biar bapak yang ambilkan tasmu di kelas,” lantas bapak berkumis itu membiarkan kita berdua di dalam ruanganya.

    “Aku di tuduh mencuri, Kak,” katanya sembari meringis. “Parahnya lagi sahabat-sahabatku malah diam aja dan malah ikutan ngatain. Lalu salah satu temanku tiba-tiba ada yang membawa air bekas ngepel dan mengguyurku,” lanjutnya.

    Aku menghela napas panjang, “Sabar ya, Dek. Mungkin Tuhan sedang memberimu ujian” kataku.

    “Tapi, aku dituduh-tuduhkan aku tidak tahu apa-apa.”

    Aku menghapus air matanya.

    “Iya, aku tahu. Yang sabar, ya!” kataku. “Lagian semua yang mereka lakukan sudah di catat dan terekam oleh Tuhan.

    “apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai, seperti peribahasa tersebut ikhlas sabar dan maafkan nanti Allah yang akan balas mereka.”

    “Tapi….”

    “Tak ada tapi, Syah. Jangan meragukan Tuhan,” kataku.

    “Apa memang benar Tuhan merekam semua hal yang terjadi? Bagaimana mungkin?” pertanyaannya membuatku terbelalak.

    “Astagfirullah, Aisyah kamu meragukan Tuhan?” tanyaku.

    “Bukan begitu, Kak? Tapi, apakah ada penalaran atas itu semua?” tanyanya.

    “Ada, Itu HP barumu!” kataku, ia memandangku lantas mempertanyakan hal tersebut.

    “HP barumu saja mampu mem-back–up data dari akun Google dan mentransfer semua datamu ke HP yang baru. Teknologi ciptaan manusia aja bisa bagaimana dengan Tuhan kurasa itu hal yang kecil, mengingat ilmu manusia hanya sedikit saja dari ilmu Tuhan,” kataku menceramahinya tersirat kesedihan yang mendalam.

    Pak kepala sekolah datang membawa tas Aisyah. Dia memberikannya pada adikku. Aku segera memberinya isyarat agar segera ganti pakaian. Ia melangkah meninggalkanku bersama bapak kepala sekolah yang wajahnya mengisyaratkan rasa kecewa pada kelakuan murid-murid lain.

    “Semoga bapak bisa memberi arahan pada murid agar tak sembarangan menuduh,” kataku kepada pak kepala sekolah.

    “Siap, Nak! Bapak akan memberikan arahan pada siswa-siswa tadi maaf agak lama karena bapak harus memberikan klarifikasi tentang kasus ini. Kami pihak sekolah meminta maaf atas hal ini,” katanya sembari mengajakku bersalaman.

    “Baiklah, Pak! Saya izin membawa adikku pulang sebelum waktunya,” kataku setelah melihat adikku sudah berganti pakaian seragam dengan pakaian olahraga. “Kami pamit, Pak.”

    Kami pun melangkah keluar dalam perjalanan bapak kepala sekolah mengantar ke luar kantor ia memberikan dukungan dan menenangkan keadaan Aisyah. Aku tersenyum dan berharap ia bisa kembali bersekolah tanpa merasa terbebani. Aku menyalakan sepeda motor dan mempersilahkan adikku naik.

    Prak!

    HP adikku terjatuh. HP itu lain sekali dengan pemberian dari ayah. Aku memandang matanya. Dia merasa ketakutan sembari mengambil HP tersebut. []

    *Penulis: MasSae

  • Lelaki Penyimpan Rindu

    Lelaki Penyimpan Rindu

    “Assalamulaikum …”

    Perempuan bermata coklat menarik engsel pintu, meninggalkan bunyi cicit perlahan. Aku menjawab salamnya lewat senyuman yang mungkin tak pernah ia pahami. Rintik hujan membasahi kerudung coklatnya. Ia selalu membawa buah tangan, yaitu kisah manis penuh luka. Kisah yang selalu ia lirihkan ketika bersamaku.

    Aku ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Rambut yang selalu ia sembunyikan di balik topinya. Remaja setengah tomboi yang aku kira tidak akan mampu merawatku. Saat itu aku berfikir, mungkinkah Abah salah menganalisis telah menghadiahkan aku untuknya. Meski aku hanya potongan kayu kecil yang diuntai dalam seruas tali, bukan berarti aku tak mampu menilai hati manusia. Tapi ketika telapak tangannya memelukku, aku tersentak pada mata coklat yang berbinar lalu kegirangan. Sekujur tubuhku seperti tersengat listrik voltase rendah, ringan, tapi menyejukkan. Aku jatuh cinta. Kemudian aku mulai menjadi saksi bisu atas semua skenario Tuhan atas dirinya.

    Seperti hari ini, di balik kerudung basahnya ia simpan jutaan mendung. Mendung yang selalu runtuh bersamaku di penghujung malam. Tapi kali ini mendung itu tak lagi sama bahkan aku tak paham mengapa. Bukankah pernikahan adalah kebahagiaan? Bahagia yang baru aku pastikan sinarnya baru-baru ini diantara mata coklatnya. Mungkin nanti, ia akan bercerita padaku. Menumpahkan segala rasa yang gagal ia deskripsikan. Seperti waktu-waktu sebelumya, aku hanya mendengarkan, memahami, tanpa mereka sadari.

    “Apa kau menangis hanya karena masalah sepele ini? Kita sudah melewati banyak hal, jangan kau lupa. Ini bahkan gak penting.”

    Mata coklatnya masih menyisa gerimis. Gerimis yang aku amati pelan-pelan dalam tiga rakaat terakhirnya. Sebab hanya lewat rakaat-rakaat ini aku mampu lebih jenak melihat ronanya. Rona gerimis yang aku gagal pahami mengapa masih saja datang atau mungkin dalam narasi berbeda. Gerimis yang berusaha ditepis oleh laki-laki di depan sajadahnya, lelaki penyimpan rindu, suaminya.

    Mata coklat itu tak bisa menyembunyikan luka saat lelaki penyimpan rindu berbalik untuk mengecup keningnya di akhir doa mereka. Jelas gerimis itu tak sempat ia seka lantas terlanjur menyisa jalan.

    “Aku bukan wanita sempurna. Kau mendapatkan aku seperti ini. Bukanlah gadis seperti harapan keluargamu. Jelas aku kalah banding dengan mereka.”

    Keluhnya tipis menarik simpati. Meski aku hanya benda mati, bukan berarti aku tak mengerti hati. Aku memahaminya tiap kali jemarinya menarikku perlahan. Atau ketika aku berada diantara dua telapak tangan yang ia tautkan. Mulutnya komat-kamit, kadang juga pelan, seolah membaca mantra atau mungkin bercerita. Sering kali panjang. Lalu aku paham ia mengadu pada Tuhan.

    “Siapa yang bandingin?” lelaki itu mulai menatapnya lebih lekat dengan masih menggandengku,

    “Baiklah, begini saja. Anggap saja tidak mendengar apapun. Sudah, bersikaplah biasa karena memang tidak terjadi apa-apa. Nanti orang pasti bisa melihat kita kuat.”

    “Tapi mama benar. Kita tidak selayaknya terus bersama apalagi di tempat kerja.”

    Aku pikir, ia mulai mengoreksi dirinya sendiri. Pernikahan keduanya ini membuatku senang. Aku lebih sering bersamanya, bersama mereka lebih tepatnya. Lebih kerap, hampir tiap hari. Membuatku merasa lebih hidup, lebih berguna, lebih dicinta.

    Intropeksi memang tidak salah. Aku sering mendapatinya demikian.T api aku tak sepenuhnya sependapat dengan asumsi sebelah pihaknya. Terutama tentang statusnya sebelum Lelaki Penyimpan rindu meminangnya. Bukankah janda adalah predikat yang tak ingin diraih semua wanita, pun dirinya? Janda cantik dengan seorang putra yang menerima pinangan hanya berselang enam bulan setelah surat cerainya terbit. Janda yang dipandang kegenitan dan memasang perangkap singgellilah untuk menikahinya.

    Apapun itu, Lelaki penyimpan rindu menikahinya. Bukan dongeng walau hidupnya serasa sebuah cerita drama. Aku masih ingat bagaimana gerimis-gerimis itu datang silih berganti menarik hujan lebih lama berdiam untuk singgah. Aku masih ingat bagaimana perempuan bermata coklat itu bertahan untuk menyakiti hidupnya sendiri.

    Pernah satu malam ia mengadu padaku tentang ketidakadilan Tuhan. Tentang upayanya mengais rezeki namun tak percah cukup mengenyangkan. Kenyang dalam arti sesungguhnya. Benar, kenyang akibat perutnya terlalu lama berteman dengan lapar.

    ***

     “Bukankah wanita tak wajib mencari nafkah, Tuhan?”

    Keluhnya lirih seolah padaku. Keluhnya sama meski tahun berganti tanpa jalan berarti. Aku menemaninya setiap gerimis dalam hidupnya. Aku berada didekatnya, mendengarkan keluhnya, mengusap air matanya, menguatkan walau pada akhirnya patah.

    Bagiku, dia adalah wanita tangguh dengan banyak pertimbangan. Namun kali ini, Perhitungannya jelas-jelas salah dalam memilih jodoh. Aku sudah berusaha sampaikan jika bukan laki-laki itu atau dia terlalu cepat memberi jawaban. Sudah aku berat-beratkan tubuhku agar saat ia menarikku seolah ada beban lalu ia paham bahwa langkahnya nanti akan terbebani. Gagal. Ia tak paham.

    Tahun pertama, aku tak pernah melihat dirinya tersenyum. Atau memang seperti itulah pernikahan, walau yang sering aku dengar adalah kebaikan. Masih teringat, berapa kali hari istimewa itu hampir gagal dengan banyak hambatan. Sedang aku yang hanya butiran kayu, tak bisa berlaku banyak.

    Memang sering aku dengar tentang cobaan umum sebelum pernikahan, mungkin sebab itulah dia bertahan.Tapi tak banyak orang yang paham, bisa jadi itu bukanlah cobaan namun gambaran. Gambar tentang bagaimana kehidupan rumah tanggamu setelah pernikahan. Sayangnya, ini tepat terjadi.

    Tahun petama mereka begitu kelam. Bayi cantik harus kembali pulang pada Tuhan. Seolah enggan mendengar perjuangan. Atau mungkin untuk menyelamat ibunya di akhirat nanti. Pelukannya padaku begitu lekat, semakin lekat sebelum suaminya itu mengingkariku. Katanya, aku bukanlah kepentingan. Hanyalah bid’ah yang jika dilaksanakan menimbulkan kemusyrikan. Katanya, aku tak ubah hanya potongan kayu kecil yang tak bernilai namun mampu menjadi bara dalam neraka akibat kemusrikan.

    Aku menangis mendengar semua itu. Potongan kayu kecil yang tak berharga ini masih mampu menyimpan rindu. Rindu manusia pada Tuhannya, rindu manusia dalam lantunan doa. Aku merangkainya dalam jambangan ketaqwaan agar Tuhan mampu melihatnya lebih indah. Agar doa-doa itu menjadi bunga surga sebab Tuhan mengijabahinya perlahan.

    Layaknya perangkat keras, benar memang jika aku hanya potongan kayu kecil. Tapi bukan berarti tak berguna. Kaum muslim mengidolakanku bahkan sering menjadikan sodara-sodaraku sebagai buah tangan setelah lelah berkeliling ka’bah. Sedikit atau banyak aku merangkai doa-doa indah mereka. Melukisnya artistik agar Tuhan mampu melihat diantara trilyunan doalainnya. Hingga perempuan bermata coklat itu mengambil keputusan besar.

    “Aku sudah tidak tahan.Anakku sudah tidak ada.Apa yang aku pertahankan darinya? Lebih baik berpisah daripada hati selalu disalahkan.”Tangannya masih menengadah sedang aku melihat jelas air matanya.

    Aku pun menangis mendengar. Tak kuasa mengamini setiap kata. Menitipkannya pada sela-sela sayap malaikat tepat di seperempat malam dengan putus asa agar Tuhan mengijabahinya. Lebih cepat. Ia makin memelukku erat. Hanya kemudian, tak ada seorangpun keluarga mendukungnya. Dan bertahan adalah pilihan keliru bagiku walau tak ada seorangpun menangkap dengar.

    Saat itu aku berfikir, mungkin aku sudah melakukan kesalahan. Atau perempuan ini terlalu kurang sampai Tuhan memperlama masa uji. Entah. Aku masih membersamainya dengan air mata, sampai pangeran kecil itu datang dari Tuhan Hanya saja ia masih menitipkan sendu di akhir malam.

    “Kamu tidak perlu ini!”

    Suara itu membentak. Memekik gendang telinga, kemudian sengaja aku kirim hingga ke langit. Ya, mereka bertengkar hebat. Kali ini karenaku, potongan kayu kecil, yang katanya tak berharga. Aku terguncang kemudian. Tangan laki-laki itu meremas tubuhku seolah akulah penyebab utama ketidakharmonisan mereka. Tangannya mengangkatku tinggi-tinggi, menguncang, lalu melemparkanku menembus kaca hingga rebah di dinding. Aku mengirim pesan itu kemudian. Memberitahukan penghuni langit untuk kemungkinan ketiadaanku, kali ini air mataku habis.

    “Jangan coba-coba!”

    Aku mendengar perempuan itu berteriak membela. Mata coklatnya membara.Nafasnya panas seperti Bromo hendak muntah.

    “Kamu mau lihat? Ini sama sekali gak berharga. Aku bisa membuangnya, aku bisa membakarnya. Kamu mau lihat?”

    Laki-laki itu mendekatiku lalu menendangku menjauh, lebih jauh. Aku hanya bisa pasrah. Mungkin ini adalah akhir aku menemaninya, merangkai doa-doa untuknya. Mungkin tak mampu aku temui subuh di matanya. Subuh yang sejuk kemudian binar-binar indah sebab bahagia.

    “Coba saja. Kalo kamu berani membuangnya, demi Allah SWT kamu akan terbuang dari kehidupanku. Allah gak akan rela kamu membuang itu.”

    Amarahnya nyata. Bulirku lirih saat ia berusaha mengaisku diantara kaki lelaki yang kala itu adalah suaminya. Bulirku lirih ketika aku paham bagaimana hatinya patah memahami kepergianku sesaat. Bulirku tumpah saat tak kutemukan dia lagi. Ketika gelap mendadak berkawan.

    “Tuhan, aku tak bisa melihat mata coklat itu lagi. Mengapa tak Kau segerakan saja semua titipan rindunya. Ia sangat mengharapkan pelukanMu, Tuhan. Jika aku tak mampu menemaninya lagi, sungguh Ia tak punya kawan untuk berkeluh kesah.” Tangisku pecah.

    Aku rasa kala itu menjadi malam terakhirku di dunia. Sampai aku tangkap langkah-langkah kecil mendekat. Diantara gelap malam dengan sembab membengkak,Ia telusuri jalan mengira aku ada. Dan ya, aku mendengar doanya agar lekas menemukanku. Sampai ia memberanikan diri membuka tutup kotak plastik penuh bau dimana aku bersemayam sementara.

    Sungguh, mata coklatnya berhasil menemukanku di sana. Memahami luka hatinya makin dalam melihatku beralas sampah basah sisa pembuangan.Kemudian ia memelukku lebih dalam, menyembunyikanku dalam saku hangatnya. Sejak detik itu, di sanalah aku tinggal, dekat tak pernah jauh. Seolah tempat lain adalah akhir kehidupanku.

    ***

    “Tempatkan di sini,” perempuan bermata coklat membuyarkan anganku,  “ini adalah rumahnya.”

    “Baiklah. Maka katakan padanya, apa yang harus kamu lakukan.”

    Lelaki di depannya menatapnya rindu. Benar. Lelaki ini  bukan lelaki yang sama. Bukan lelaki yang telah melemparku dalam gelapnya bak sampah. Lelaki ini menyimpan rindu. Aku melihatnya dari sorotan matanya.

    Keduanya bertatapan. Lelaki itu melihatku seolah mengisahkan sebab apa gerimis itu datang.  Gerimis yang memang tidak seharusnya.  Gerimis yang mampu mereka tepis kemudian sebab kuatnya iman.

    “Ya. Aku tidak akan mendengarkan mereka. Kita profesional dalam bekerja. Aku akan lebih fokus pada pekerjaanku dengan membuat program kerja baru yang mungkin menyibukkanku nanti.”

    Kali ini aku melihat senyuman. Perempuan bermata coklat tersenyum padaku, sungguh itu adalah senyuman termanis yang sudah lama aku rindu.

    “Kemudian?”

    Lelaki penyimpan rindu masih mendesak. Menuntut deskripsi jawaban lebih lengkap. Aku menyebutnya penyimpan rindu sebab aku melihat kerinduan mendalam tiap kali ia berbincang dengan separuh jiwanya. Rindu yang sama tiap kali ia tengadahkan tangan bersamaku. Rindu singgelillah yang menemukan pelipurnya.

    “Aku akan berusaha menjadi istri terbaik untukmu di hadapan Tuhanku. Bukan baik dihadapan manusia lainnya. Entah bagaimana nanti perjuangannya. Yang jelas, tugasku adalah menjadi makmum bagimu. Aku akan menuruti perintahmu selama itu taqwa. Nantinya, keluargamu akan tahu seberapa besar aku mencintaimu dan seberapa kuat rasa ini kita perjuangkan sampai jannah.”

    Ini adalah bulan ketiganya menjadi pengantin baru. Meski bukan pertama kalinya ia menjadi istri, namun rasa hatinya sungguh berbeda. Kali ini ia mampu mendengarku, setiap kata.

    Semoga Allah SWT melindunginya sampai jannah, hingga aku bersaksi nantinya tentang doa-doa yang saling kami rangkai bersama. Sebab aku hanyalah potongan kayu-kayu kecil perantara rindu manusia.Sebab aku hanya kumpulan 99 potongan kayu kecil yang ia simpan dalam saku hangatnya. []

    *Penulis: Ramadhan Rahma, FLP Sidoarjo