Kategori: Cerpen

  • Cinta dan Memori

    Cinta dan Memori

    Ayah berusia 88 tahun. Badannya masih sehat wal afiat. Ingatannya pun tajam dan kuat. Cintanya pada istri anak menantu dan cucu tak perlu ditanyakan lagi. Setiap pagi beliau sempatkan berkeliling komplek sambil sesekali melepas alas kaki di taman. Jika akhir pekan maka Nadim yang setia menemani eyangnya. Tentu dengan iming-iming hadiah mainan siang harinya.

    Menjadi anak pertama tentu bukan keinginanku sendiri. Campur tangan Tuhan tak bisa kuelak sebagai takdir. Namun di usia matang begini aku begitu menikmatinya. Terlebih karena rumahku menjadi pilihan ayah dan ibu di masa senjanya. Ketimbang tinggal berdua saja di kampung. Meski sesekali ada saja gesekan kecil terjadi, namun aku masih memegang teguh nasihat bahwa orang tua adalah jimat.

    Sebagai seorang pensiunan dosen, ayah adalah orang yang sangat setia kepada ilmu. Tiada hari beliau lewatkan tanpa membaca buku. Hal ini menjadi warisan yang amat kusyukuri. Terutama pada kebiasaan sehari-hari kedua anakku. Dari ayah aku belajar bahwa memerintah tidak akan berhasil jika hanya muluk-muluk menghabiskan busa. Dari ayah juga kusadari bahwa tidak ada ruginya membaca. Apapun kapanpun dan di manapun, ilmu selalu membawa manfaat pada diri kita.

    Setelah berkeliling komplek sekitar setengah jam, ayah akan duduk di teras sambil ditemani secangkir teh panas. Koran membentang dari tangan kanan ke tangan kirinya dan kacamata bertengger di hidungnya. Jika sudah dalam posisi seperti ini, Ibu akan segera menyusul dan duduk di sampingnya. Bahkan tanpa mereka berkata satu patah pun, aku sudah menyimak cinta mereka begitu dalam.

    Dalam situasi tersebut, aku hanya mampu tersenyum dari dalam rumah memandangi mereka. Ibu adalah seorang wanita dengan kekuatan cinta yang begitu melimpah. Sejak aku belia tak pernah kutemui ibu tak bersama ayah dalam waktu lama. Ke manapun ayah pergi, di situ ibu selalu mendampingi. Ke manapun ibu keluar, ayah tak pernah absen mengantar. Ibu cerminan penafsiran cinta yang sesungguhnya. Dari ibu, ayah menemukan kekuatan hidupnya. Dalam hati kecilku aku berdoa, berharap mereka senantiasa diberi kesehatan dan panjang umur.

    ***

    Pagi itu menjadi pagi paling mencekam sepanjang hidupku. Aku yang sudah berkeluarga dilengkapi dua anak ini belum pernah panik segawat ini. Clara dan Nadim lahir dengan lancar dan tenang tidak jauh dari perkiraan dokter kandungan. Papa dan mama mas Andi juga masih sehat segar bugar mendampingi kami. Tak kuduga aku menjadi satu-satunya orang yang ada di dalam rumah saat itu.

    “Buuu… Indiii…” samar-samar suara ayah terdengar dari dalam rumah. Saat itu aku sedang di halaman mengecek tanaman-tanaman herbal hasil tangan ibu yang begitu telaten. Ibu yang penuh cinta, tak hanya kepada kami kesayangan dan darah dagingnya, bahkan pada tanaman dan hewan peliharaan pun, ibu menyalurkan kasih sayangnya. Ibu yang begitu teliti, disiplin dan menjunjung tinggi kebersihan. Ibu akan benar-benar tegas kepada kami tentang kesehatan. Setiap pagi ibu akan disibukkan oleh aktivitas memenuhi gizi kami seisi rumah. Segera aku berlari masuk rumah,

    “Ayaaah…” Kuhampiri ayah tersungkur di kamar mandi. Kepala dan tubuhnya tertekuk meringkuk. Aku sangat panik. Segera kuangkat badan ayah dan memapahnya menuju kasur di kamar beliau. Baru terlihat dengan jelas kepala ayah memar dan bibirnya memutih pucat. Penglihatannya mulai meredup. Kugoyangkan badannya dengan histeris. Ibu baru saja datang dan tertegun di ambang pintu kamar beliau, tas dalam genggamannya terlepas. Segera ibu menghambur ke tubuh ayah, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.

    “Ayah, ayah, sadar ayah… sebentar ya yah, Indi panggilkan dokter yah,” Upayaku tak membuahkan hasil. Ayah sudah tak sadarkan diri. Aku segera menelepon mas Andi dan ambulan. Ibu masih lemas di samping badan ayah. Kusodorkan segelas air putih untuk diminumnya. Ibu menggeleng, tak percaya dengan apa yang terjadi. Kami pun segera melarikan ayah ke rumah sakit setibanya ambulan di rumah.

    ***

    Hari itu terasa sangat cepat. Seperti kilat kemudian kosong. Hampa. Semuanya terjadi sangat tak terduga dan tak masuk logika. Subuh pagi harinya kami masih salat berjamaah. Beliau yang mengimami dengan suara nyaring dan berwibawa. Tak lupa seusai salam beliau tambahkan beberapa kalimat wejangan untuk kami. Semuanya masih jelas terekam di kepala.

    Pagi tadi juga, kulihat ibu masih menemani ayah membersihkan kamar. Berbincang santai di ruang keluarga sambil menyimak kami anak cucunya beraktivitas pagi. Semalam sebelum beranjak ke kamar, ibu juga dengan penuh cinta dan hormat membuatkan secangkir kopi dan duduk di samping ayah sambil saling bercerita tentang masa-masa muda mereka. Kemarin ibu masih dengan semangat menyulam syal diam-diam. Sedianya akan dipersembahkan ke ayah nanti di ulang tahun ke-86.

    Namun sore ini kami sibuk memanggil tukang terop untuk mendirikannya di garasi dan halaman rumah. Jenazah ayah baru saja tiba di ruang tamu bertutupkan kain jarik milik ibu. Saat kucari kain itu di lemari beliau, tertangkap di mataku setumpuk kain putih di pangkuan ibu yang duduk lemas di tepi ranjang. Ibu masih belum mengucapkan satu kalimat pun semenjak pagi. Tetapi gerak tubuhnya masih sadar sesuai logika sehatnya.

    Karena hari sudah petang, sembari menunggu adik-adikku datang dari Jakarta dan Palembang, kami memutuskan untuk memakamkan ayah esok harinya. Malam itu kami larut dalam diam. Saling memeluk dan menangis. Saling meratap sekaligus menguatkan. Ratri, adikku dari Sidoarjo begitu terpukul. Karena baru saja ia dan suaminya berencana akan mengunjungi ayah siang ini. Namun ternyata rencana Allah jauh lebih berkuasa di atas segalanya. Aku menemani ibu istirahat di dalam kamar. Sebisa mungkin kuajak ibu berbincang agar pikirannya tidak kosong. Namun hasilnya nihil. Ibu hanya menyahuti pendek-pendek saja. Menjelang jam dua dini hari akhirnya ibu terlelap meski tak sampai satu jam kemudian sudah kembali terbangun.

    ***

    Seusai memakamkan ayah, kami kembali ke rumah untuk menerima tamu yang tak henti datang. Begitu deras mengalir ungkapan bela sungkawa kepada kami. Aku harus segera mengamankan ibu. Saat ini yang harus aku prioritaskan adalah ibu. Segala hal dalam pikiranku tentang ibu. Bagaimanapun aku harus selalu ada dan mendampinginya. Saat kucari ibu di kamar, rupanya ibu sedang melamun di pinggir jendela. Memang beliau tak kuizinkan ikut ke makam.

    “Ndi, ayah ke mana…” pandangan matanya kosong. Aku meremas tanganku sendiri, berusaha mencari kekuatan.

    “Ibu, ayah sudah pergi, ayah sudah tenang, ibu sekarang makan ya, dari semalam ibu belum makan loh,” aku begitu mengkhawatirkan keadaannya.

    “Ibu sudah makan kok tadi Ndi, sama ayah.” mataku berkaca-kaca. Kugigit bibir bawah menahan isak. Bingung mencari topik apalagi yang bisa kualihkan.

    “Ya sudah, sekarang ibu istirahat ya, yuk bu, Indi temenin,” aku beranjak merapikan kasurnya.

    “Nanti aja ibu nunggu ayah,” kemudian pandangannya kembali menatap ke luar jendela. Aku mengambil napas dalam-dalam. Lalu memutuskan keluar mencari anak-anak.

    ***

    Satu minggu berlalu. Kondisi ibu masih belum begitu stabil. Adik-adik sudah kembali ke domisili masing-masing. Anak-anak sudah mulai kembali pada aktivitas normal. Mas Andi juga tak bisa lama-lama mengambil cuti. Dan aku masih di rumah, menjalani hari, waktu demi waktu, mengimbangi psikis ibu yang naik dan turun.

    Pagi hari ibu akan tampil sangat tegar, apa adanya seperti tak terjadi apa-apa. Namun menjelang petang, semua menjelma remang. Ibu akan mudah panik dan emosinya tak stabil. Mirisnya setiap kali menjelang terlelap, ibu selalu menanyakan ayah, bersikap dan beraktivitas seperti halnya ayah masih ada. Ini membuatku miris namun tak berdaya, tak tahu harus berbuat apa.

    “Kita tidak bisa membiarkan Ibu begini terus sayang, kita coba tanyakan ke dokter ya?” ajak Mas Andi sangat berhati-hati, menjaga perasaanku.

    “Iya mas, tapi gimana ngomongnya ke Ibu?”

    “Bilang aja kita mau general check up, gimana?” Mas Andi menawarkan ide yang cukup aman untuk mengantar ibu ke dokter. Syukur-syukur bisa bertemu berkonsultasi dengan psikiater, harapku.

    ***

    Malam itu kami mengadakan tahlil untuk 40 hari kepergian ayah. Ibu duduk bersama para tamu putri bersanding cucu-cucu kesayangannya. Dari dapur tak mampu kulepaskan pandanganku dari beliau. Semenjak periksa dari psikiater, aku benar-benar tak bisa jauh dari ibu. Ibu membutuhkanku. Ibu harus merasa tenang dan bahagia. Apapun yang ibu ingat saat ini, yang pasti ibu harus selalu merasa aman.

    Ibu terlihat tersenyum kepada para tamu. Namun tatapan matanya kosong. Malam itu ibu tak terlalu banyak berbicara. Tisu yang ibu genggam sudah lusuh tak berbentuk. Selepas semua tamu habis, ia masih duduk di tempat semula. Aku segera menghampirinya.

    “Ibu, ayuk kita istirahat,”

    “Indi, kenapa ya ayah ndak pulang-pulang?” aku tak terkejut dengan pertanyaan ini. Setiap hari waktuku terasa pengap untuk mencari jawaban dengan penjelasan paling halus. Namun kali ini kesabaranku sedang terbatas.

    “Ibu, maafin Indi ya, ayah sudah ndak akan pulang bu. Ayah sudah meninggal. Ayah sudah dimakamkan. Ayah sudah tenang. Jadi ibu sekarang juga tenang ya,” jelasku sembari mengatur napas yang beradu. Sepertinya caraku cukup berhasil, setelah beberapa detik kami terbisu dalam diam.

    “Indiii, ibu juga tahu, tapi ibu itu ndak bias,Ndi. Ayah itu jiwanya ibu. Kalau ayah ndak ada, ibu gimana…” meleleh sudah genangan air di sudut mataku yang tertahan sedari tadi. Aku tak mampu menjawab apapun. Kujatuhkan kepalaku dalam pangkuannya. Dan tangan ibu membelai rambutku seperti semasa kecilku dulu. Kami terlarut dalam kebisuan panjang. Malam itu aku tidur dalam pelukan ibu. Jam tidur ibu sudah mulai kembali normal. Meski masih sering mengigau beberapa kali.

    ***

    Keesokan harinya, aku dan Mas Andi kembali mengunjungi psikiater. Kali ini ibu sengaja tak kami ajak. Hati kecilku berbisik bahwa ibu saat ini hanya butuh ketenangan. Meski aku masih tak tenang meninggalkan ibu di rumah. Namun demi mengetahui kondisi ibu yang sebenarnya aku harus konsultasi langsung pada pakarnya. Apapun penjelasan yang kudapat, aku harus mampu menerimanya dengan tegar.

    “Ibu anda mengalami demensia. Penurunan fungsional yang seringkali disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Perubahan pada pasien dalam cara berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Seringkali, memori jangka pendek, pikiran, kemampuan berbicara dan kemampuan motorik terpengaruh. Penyebabnya yang utama karena usia lanjut, ditambah dengan shock yang begitu kuat.” Perlahan namun sangat jelas, kalimat demi kalimat itu masuk ke dalam otakku. Aku menggeleng-geleng tak percaya. Mas Andi menggenggam erat tanganku.

    “Usianya 82 tahun. Biasanya pada pagi sampai sore ia masih cukup kuat dengan ingatannya. Namun beranjak gelap perlahan memori yang terlalu jauh atau cepat akan sedikit bergeser dari bank ingatannya.” Aku tak bergeming. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut ibu psikiater seperti hunjaman palu yang datang satu per satu ke rongga dadaku. Aku tak tahu harus menjawab apa.

    “Kita sama sekali tidak bisa mendeteksi kapan dia akan ingat dan kapan dia kembali lupa pada apapun yang terjadi pada dirinya, cepat atau lambat sangat mungkin ia akan melupakan segalanya.” kalimat ini terdengar begitu lugas dan sangat kubutuhkan saat ini. Tapi terlalu perih kuterima kenyataan itu terjadi pada ibu. Aku tidak ingin ibu mengalami ini semua. Aku pun menanyakan kembali pada sang psikiater tentang upaya apa yang sekiranya bisa memperlambat proses demensia pada ibu.

    ***

    Setiba di rumah, setengah berlari kuhampiri ibu di kamarnya.

    “Ibuuu…”

    “Indi, kamu dari mana?”

    “Indi dari dokter bu. Indi mau ngomong sama ibu.” aku menggigit bibir bawah, nyaliku menciut.

    “Dokter? Kenapa nak? Siapa yang sakit?” ibu masih tetap dengan kasih sayang dan kekhawatirannya. Aku merasa cepat atau lambat aku harus menceritakan perihal ini. Supaya ibu juga mengerti, siapa tahu dengan begitu ibu punya upaya untuk mempertahankan ingatannya. Meski tadi telah diperingatkan psikiater agar tidak menceritakan langsung dengan lugas, aku tak peduli. Aku ingin ibu sembuh seperti sedia kala.

    “Ibu, tadi Indi menanyakan kondisi ibu ke dokter, apa ibu benar-benar sehat dan kondisi prima,…” aku menarik napas, sambil memikirkan pilihan kata yang tepat.

    “Lo, ibu kan sehat ndi, siapa bilang ibu sakit? Kamu itu, tanya tentang ibu kok ke dokter, mana ibu nggak diajak lagi, harusnya yo tanya ibu dulu to,” ibu mulai tersulut emosinya. Aku mencoba menenangkan.

    “Maaf bu, bukannya Indi ndak mau ngajak ibu, tapi ibu sebaiknya banyak istirahat dulu ya, kata dokter sepertinya ibu mulai terdekteksi gejala demensia, kayak pikun gitu lo bu,” kugenggam erat tangannya yang mulai gemetar.

    “Ada-ada aja kamu Ndi, ibu ini masih ingat semuanya, ndak bakal lupa ibu sama kamu, sama Andi, sama Nizam, sama semuanya. Ibu masih ingat naaak…” aku tersenyum lega, kucium punggung tangannya dengan khidmat.

    “Ibu juga ingat kalau ayah sudah ndak ada. Ibu harus menerima semua ini. Semoga ayah tenang ya di sana. Makanya kita di sini juga harus terus melanjutkan hidup dengan baik-baik.” Suara ibu masih parau namun pandangan matanya jernih dan meyakinkan. Membuatku tenang dan tak khawatir lagi.

    ***

    Keesokan harinya, hingga pukul enam belum terlihat ibu keluar dari kamar. Biasanya ibu dengan rajin sudah terjaga sejak pukul tiga dini hari. Aku pun bergegas menghampirinya. Di dalam kamar, kudapati ibu masih dalam posisi duduk di sajadah yang terhampar dengan satu sajadah lagi di depannya. Sajadah yang biasa dipakai ayah. Seingatku sajadah itu sudah kupindah ke belakang supaya tidak membuat ibu sedih berlarut jika masih kutinggalkan di kamar beliau. Aku mendekat dan duduk di sampingnya,

    “Ibu, ada apa bu?”

    “Eh, Indi, ini jam berapa to Ndi, ayah ini di kamar mandi lama banget, ini nanti kalo mataharinya keburu keluar gimana? Ayaaah…!”

    Mendengar jawaban ibu, aku tersenyum, embun memenuhi kedua mataku dan aku pun memeluknya. []

    *Penulis: Ihdina Sabili, FLP Surabaya

  • Dongeng tentang Kupu-kupu

    Flpjatim.com,- “Pakleeeeek! Pundi paklek Nardi? Buleeeek, Bulek Pardi!”[1] 
    Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara gaduh. Tampak Mbak Mariyati tergopoh-gopoh, dengan handphone masih di genggaman. Dalam kondisi gugup dan menunjuk-nunjuk ke arah handphone yang ia pegang sambil berteriak memanggil-manggil bapak dan ibu. Sontak beberapa kerabat dekat yang sedang khusyu’ menunggu mempelai pria untuk ikut menyaksikan prosesi akad nikah yang sakral pun berhambur keluar. Ibu mendudukan Mbak Mariyati di sebuah kursi. Dan menenangkannya dengan memberikan segelas air. Mbak Mariyati hanya meminumnya sececap, kemudian terlihat berusaha mengatur nafas yang masih terdengar menderu-deru. 
    Dongeng tentang Kupu-kupu
    “Onok opo tho, Mar? Alon-alon yen arep crito!” [2] seperti biasa ibu bertutur pelan sambil menggosok-gosok punggung Mbak Mariyati. Sementara bapak sudah tampak khawatir dan gelisah. Aku yang semula mendengar kegaduhan itu dari dalam kamar, ikut berhambur demi memenuhi rasa penasaran yang menggunung. 
    “Narti budhe, pakde, Narti!” Sejenak tangisnya pecah mengisi keheningan yang tercipta. 
    “Huhuhuhuhuuuu…Narti, Budhe…Narti…..hhhuuuuuuhuuuuuuu!” isaknya memenuhi ruangan sambil memeluk erat ibu. 
    “Eh dasar bocah edan!” [3] bicara yang jelas! Kenapa Narti, heh? Narti itu sudah bukan urusanku dan urusan keluarga ini lagi, ngerti kamu Mar!” semprot bapak kepada Mbak Mariyati. 
    “Sssstttt, Pak! Sebaiknya kita dengarkan dulu cerita Mariyati sampai selesai ya?” seloroh ibu sambil mengatupkan bibir dan menempelkan jari telunjuknya. Kali ini bapak bergeming, meski dari rona wajahnya tak bisa dibohongi, bapak makin gelisah dan berkali-kali melihat ke arah jam dinding di dalam rumah yang terus bergerak, tapi rombongan keluarga Ilham belum juga terlihat batang hidungnya. 
    *** 
    Kupu-kupu putih itu datang lagi. Putihnya cantik, bukan putih biasa tapi putih memplak kata orang Jawa. Selalu saja ada hal menarik dari makhluk cantik ini. Kehadirannya di rumahku membawa filosofi tersendiri bagi penerjemahnya. Ibu suka bercerita tentang kupu-kupu yang diambil dari primbon Jawa. Kata ibu kupu-kupu yang datang ke rumah itu bisa diartikan sebagai tamu atau akan datangnya rezeki, tapi di lain waktu ibu bercerita kehadirannya bisa menjadi sebuah pertanda akan datangnya musibah. Dongeng tentang kupu-kupu itu seolah terus meresap di alam bawah sadar, aku manggut-manggut dan membayangkan rupa tamu spesial yang dimaksudkan pun ikut begidik saat ibu menceritakan perihal musibah yang dimaksudkan adalah kematian. 
    Seiring berjalannya waktu, dongeng tentang kupu-kupu mulai tak kupercayai lagi. Karena sampai di usia yang kian senja tak jua kutemukan korelasi hadirnya kupu-kupu dengan tamu spesial yang dikabar-kabarkan akan bertandang. Pun musibah yang dimaksudkan. 
    Dongeng kupu-kupu berdenging lagi di telinga saat mengingat Yu Narti. Kupu-kupu malam, orang-orang di desa sering kasak-kusuk menyebut Yu Narti demikian. Aku membayangkan betapa cantiknya kupu-kupu malam itu pasti berkilauan, sama cantiknya dengan Yu Narti. Kupu-kupu malam terbang ke sana-kemari diiringi serombongan kunang-kunang yang menyala-nyala. Tapi aku tak suka kunang-kunang karena kata ibu kunang-kunang itu berasal dari kukunya orang mati dan aku mempercayainya sampai kini. Sungguh bodohnya aku. Mengingat Yu Narti ada sesuatu yang kemudian luruh bersama rintik air mataku. Rindu. 
    “Buk, Yu Narti apa nggak pulang riyoyo [4]ini?” 
    “Mbak Yu mu mungkin belum punya ongkos untuk pulang, Nur.” 
    Aku sebenarnya sudah tahu pasti jawaban itu yang akan diberikan oleh ibu setiap kali aku bertanya tentang kapan Yu Narti pulang. Tapi aku tetap saja memutuskan untuk bertanya, meski setelahnya aku pasti menemukan mata sayu ibu berkaca-kaca sambil memalingkan muka. 
    Aku pun bergegas menuju dapur, menata balok-balok tempe yang usai dipotong oleh ibu sebelum shubuh tadi dan memasukkannya ke dalam tas mirip anyaman jerami berbahan plastik murahan. Setelah mandi dan berseragam rapi, sejenak menunaikan sholat shubuh, sampai teriakan ibu yang mengalahkan radio rusak itu menghantam-hantam telinga. 
    “Nuuuuur, Ayo budal!”[5] 
    “Iya, Buk!” Aku tergopoh dengan memungut tas ransel yang sudah kumal pemberian juragan Eni anak Pak Haji Soni yang terkenal dermawan di desa. Sampai tak sempat mengaitkan tali-temali sepatu yang terburai dan tak kalah lusuh. 
    Jika melihat mata sayu ibu, aku sering merasa tak tega untuk meninggalkannya sendirian. Demi mendapatkan rupiah untuk menopang kehidupan kami sehari-hari, ibu rela tirakat. Lalu, ke mana bapak? Mungkin pagi ini bapak masih asyik dengan irama dengkurnya berselimut sarung hijau kesayangan. Sungguh, jika dia bukan lelaki yang selama ini kutakzimi sudah kusumpal mulutnya yang lebih mirip asbak itu dengan gombalan dapur. Astaghfirullah, aku cepat-cepat menyingkirkan niat jahatku kepada lelaki tua itu. Meski begitu, beliau tetap bapakku. Sekelebat nasehat Pak Yasin guru agama di sekolah membuat aku kembali tersadar. Seburuk apapun orang tua kita, tugas kita kepada mereka adalah berbakti. “Duh gusti Allah, nyuwun ngapuro!”[6] kalimat itu terus berdesakan memenuhi batin. 
    Apalagi saat Yu Narti memutuskan untuk menjadi TKI ke Malaysia, itu karena dadanya sudah tak kuat ingin meledak jika masih tetap tinggal di rumah yang mirip neraka ini. Sudah hampir dua puluh tahun Yu Narti tidak pulang ke desa. Setelah dianggap mempermalukan keluarga karena menikah dengan seorang pejabat teras di bawah tangan. 
    “Nyingkreh kowe teko omah iki, Nar!”[7] Bapak tidak akan mengakui kamu anak. Kamu sama saja dengan membasuh wajah bapak dengan kotoran!” 
    “Narti masih lebih terhormat Pak, daripada Bapak. Selama ini bapak kemana saja? Kenopo mung ibuk sing getap nggolek upo?”[8] 
    “Sudah pintar menjawab kamu sekarang!” tangan bapak hampir mendarat di pipi Yu Narti tetapi ibu segera menghardik disertai dengan tangisan yang mirip jeritan sambil menyerahkan pipi kanannya ke arah telapak tangan bapak. 
    “Sudah, Pak! Cukup, Pak! Ini saja, ojo Narti sing mbok wasuh[9]!” rujuk ibu yang tak tega melihat Yu Narti akan disakiti bapak sambil kemudian bersimpuh di kaki bapak. 
    “Ndang minggat kono!”[10] Jangan sampai kamu menginjakkan kakimu di rumah ini. Minggaaaat!”[11] telunjuk bapak menunjuk-menunjuk ke muka Yu Narti dengan bola mata memerah penuh amarah. Aku yang saat itu baru duduk di kelas 4 SD hanya bisa ikut-ikutan sesengguan menyaksikan adegan yang sungguh aku tak paham maksudnya sambil memeluk erat ibu yang juga tak berdaya melawan bapak. 
    *** 
    Dua puluh tahun sudah Yu Narti meninggalkan desa menjadi TKI di Malaysia. Hanya sesekali aku mendengar kabarnya itupun dari Mbak Maryati, putri pak RT yang merupakan sahabat Yu Narti sejak kecil. Dongeng kupu-kupu lagi-lagi menyeruak dan berdenting-denting memenuhi rongga ingatan dan menyisakan pertanyaan, 
    “Kapankah tamu sepesial itu akan datang?” 
    Di antara denting itu ada kerinduaan yang menyeruak, berharap keajaiban datang, Yu Narti pulang ke kampung halaman. Bukan ingin menuntut balas akan perilakunya yang tak waras. Diam-diam aku turut mengiyakan keputusan bapak mengusirnya dari rumah. Hingga aku membuat sebuah kesimpulan, karena ulahnyalah di masa lalu aku jadi tak laku-laku. Bahkan di usiaku yang sudah menginjak tiga puluh. Yu Narti harus bertanggung jawab atas semua ini. Ah, kupu-kupu malam, ternyata aku membangun imajinasi di masa lalu yang keliru. Sampai membuat getir dan menangisi takdir. 
    “Lelaki seperti apa lagi yang kamu cari, Nur? Bapak dan ibu sudah semakin menua. Setiap ada laki-laki baik datang kamu selalu menolak? Mau jadi perawan tua?” 
    Untuk kesekian kali bapak dengan suara melengking selalu membuat hati ngilu. Pun kalimatnya serupa bon cabe level tiga puluh, pedas hingga merasuk ke ulu hati. Makin ngilu. Untuk kesekian kalinya aku tenggelam dalam kesedihan yang mendalam sepulang rombogan keluarga Ilham bertamu. 
    “Nur hanya mencari seorang imam, Pak?” seandainya ia berani mengatakan kalimat itu tetapi seperti ada yang terhenti dalam kerongkongannya yang kering. Kisah Yu Narti cukup menjadi pengalaman pahit tercerai beraikannya keluarga kami. Aku tidak ingin berkonflik secara terbuka dengan bapak, meski sejak sedekade lalu bapak sudah mulai sedikit berubah. Bapak mulai memiliki tanggung jawab mencari nafkah dengan mengelola peternakan bebek milik Haji Soni. 
    Mugkin benar, dongeng tentang kupu-kupu itu dongeng di masa kanak-kanak. Tetapi kenapa masih sering berdenging di kepala? Apa karena sudah sekian lama aku mempercayainya menjadi sebuah mantra dalam kehidupan nyata? 
    Seperti kemarin, sebelum keluarga Ilham bertandang ke rumah aku menjumpai kupu-kupu berwarna coklat keemasan bertengger pada rerimbunan bunga di depan teras rumah. Benakku kusut, sekusut tanda tanya besar yang memenuhi kepala yang tiba-tiba berdenyut. 
    “Benarkah Ilham tamu spesial itu? Yang selama ini kutunggu-tunggu untuk menjadi penyempurna agama?” aku memekik sendiri dan kelabakan menjawab rentetan pertanyaan membabi buta ini dari ruang hati yang lain. 
    *** 
    Roncean bunga melati lengkap dengan kembang kantil tampak segar terpasang di atas kerudung putih yang kukenakan, tetapi sebaliknya dengan hatiku. Layu. 
    Sambil menunggu keluarga mempelai pria hadir, dari dalam kamar aku mulai gelisah. Nyanyian tentang dongeng kupu-kupu itu berdenting kembali. Aku berusaha untuk tak mempercayainya lagi. Tetapi, semalam aku bermimpi bertemu seekor kupu-kupu berwarna coklat keemasaan yang terluka. Ia tergeletak di lantai kamar yang dingin, sesekali bergerak sedikit. Aku mengambilnya dan meletakkan di telapak tangan. Baru tersadar kemudian kalau sayap kupu-kupu itu patah sebelah. Hingga kedatangan Mbak Mariyati di tengah-tengah keluarga kami menciptakan duka. 
    “Lanjutkan, Mar!” ibu kembali mempersilakan Mbak Mariyati bercerita. 
    “Narti, Budhe…saya baru saja mendapat kabar Narti dari Malaysia. Narti pun mboten wonten umur, Budhe!” [12] 
    “Innalillahi wa inna ilahi roojiuun…” serentak keluarga yang mendengar kabar itu mengucapkan kalimat istirja’. 
    Pertahanan ibu jebol, terhuyung dan terjatuh dari kursi. Pingsan. Bergegas kerabat membopongnya ke dalam rumah menuju pembaringan. Sementara aku, serasa tak percaya dengan kabar ini, masih berdiri mematung di depan pintu sambil tergugu. Nyanyian dongeng tentang kupu-kupu itu datang lagi. Aku terkesima, melanjutkan kisah kupu-kupu dalam mimpi semalam. Yah, kupu-kupu coklat kekemasan itu, setelah kutahu sayapnya patah sebelah, bergegas kubuka jendela kuletakkan di bagian daunnya, tetap saja ia bergeming. Tak sampai semenit aku kemudian mendapatinya sudah tak bernyawa. Nyanyian kupu-kupu terus berdenging, tapi aku percaya bahwa ini semua adalah takdir dari sang Maha Kuasa.Dalam tengadah, saat lagit masih terlihat cerah berhambur sepasang kupu-kupu putih memplak menyembul dari balik rerimbun harum bunga melati. 
    Selesai. 
    [1] Paklek dan Bulek sebutan Paman dan Bibi dalam bahasa Jawa 
    [2] “Ada apa, Mar? Pela-pelan kalau mau cerita.” 
    [3] Anak gila 
    [4] Hari Raya Idul Fitri 
    [5] Ayo berangkat 
    [6] “Ya Allah, mohon ampunan.” 
    [7] “Pergi kamu dari rumah ini, Nar!” 
    [8] “Kenapa hanya ibu yang semangat mencari sesuap nasi?” 
    [9] …jangan Narti yang dianiaya 
    [10] “Segera pergi sana!” 
    [11] “Pergiii!” 
    [12] Narti sudah meninggal dunia
    Biodata Penulis:
    Bunda Novi, nama pena dari wanita yang terlahir dengan nama Novi Istina ini biasa dipanggil. Lahir di Lumajang sebuah kota kecil di Jawa Timur yang  terkenal dengan sebutan kota pisang. Bunda Novi saat ini adalah Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Jawa Timur. 
  • Perguruan Fatamorgana

    Flpjatim.com,- Sakit kepala ini sungguh sudah sangat mengganggu. Kepala begitu pening, cedut-cedut di atas ubun-ubun, tepatnya dua puluh senti kening ke atas, bukan main sakitnya. Ini pasti gara-gara lemburku tadi malam ngoreksi ulangan sekian ratus siswa yang nilainya sudah dikejar-kejar panitia ulangan karena tiga hari lagi rapor harus sudah dibagikan ke wali murid. 
    Salahku juga sih yang suka menunda pekerjaan, berleha-leha dengan pekerjaan lain yang tidak ada hubungannya dengan dunia guru. Terlalu asyik menekuni usaha baru yang aku rasa memang lebih prospek dan menjanjikan untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Sehingga tadi malam aku harus begadang memelototi hasil ulangan para siswa yang tidak sedikit itu. 
    Perguruan Fatamorgana
    Pagi ini, aku harus tetap mengajar untuk meremidi beberapa siswa yang isi jawaban ulangan mereka asal-asalan. Ya, aku harus tetap memanggil mereka agar kembali ulangan supaya nilai mereka bisa lebih baik lagi. 
    Namun, apa daya sakit kepala ini tak mau kompromi, mata berkunang-kunang, sehingga tepat tiga puluh menit di hadapan para siswa yang remidi, aku ambruk, entah ambruk ke mana sebab aku sudah tak ingat apa-apa lagi, yang pasti aku bisa melihat tubuhku digotong beberapa guru ke UKS sedang aku lihat di belakang guru-guru beberapa siswa yang bersorak gembira tak tampak raut kesedihan. 
    “Asyiik…remidinya nggak jadi, bisa bebas bermain, deh, kita!” teriak salah satu siswa kepada teman-temannya. 
    “Yap, yuk kita ke kantin saja, kebetulan aku belum sarapan,” sambut temannya. 
    Aku hanya bisa mengelus dada, begitu membatunya hati mereka sehingga kesakitanku dianggap keberuntungan mereka. Bukankah mestinya mereka malah senang karena aku beri kesempatan memperbaiki nilainya. 
    Di tengah lamunanku, aku juga bingung sebenarnya aku ini di mana, kenapa aku bisa melihat mereka, melihat tubuhku diletakkan di atas kasur, aku juga bisa mendengar semua perkataan orang di sekitarku, namun aku tidak mampu menjawab mereka dan berbicara kepada mereka. 
    Masih termangu dengan semua kejadian, aku tersentak, tiba-tiba aku sudah terbangun, namun bukannya ruang UKS tempat aku ditidurkan tadi, melainkan di sebuah ruangan yang dominan warna biru. Di sana-sini banyak sekali senjata yang bergelantungan, disandarkan, di taruh di atas meja, ada yang masih bersarung ada yang telanjang memperlihatkan kilatan tajam mereka. 
    Ada tombak berbagai ukuran dengan gagang berukir, kepala naga, kepala rajawali, hingga kepala kelabang. 
    Ada pedang berbagai bentuk dengan sarung yang terbuat dari kulit binatang, berwarna-warni menakjubkan. Gagang pedang ada yang berukir burung garuda begitu memukau. Ada bentuk singa menganga berkilat mata merah. 
    Belum habis keherananku, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah lima pemuda yang kekar-kekar, berbaju ala pendekar zaman dulu pakai ikat kepala warna biru. Ada yang memegang nampan besar dengan mangkok yang besar pula ditutupi taplak bersulam perak. Ada yang membawa guci porselen warna merah bergambar naga terbang entah apa isinya. Yang lain membawa bakul sesek bambu, aku pastikan bakul itu berisi nasi. Sedangkan yang satu lagi membawa cobek dengan uleg-uleg di atasnya. Terakhir membawa piring keramik bertumpuk enam. 
    “Guru, maaf kami terlambat, ampuni kami yang tidak bisa cepat membawa sarapan ini kepadamu,” kata pemuda yang membawa nampan tadi. 
    “Kami tadi terlalu asyik latihan gerakan-gerakan yang baru saja engkau ajarkan pekan kemarin sebelum engkau sakit, sehingga kami tak menyadari matahari telah meninggi,” sambung pemuda yang membawa piring. 
    Guru? Gerakan-gerakan? Sebenarnya apa yang terjadi? Kalau guru, bolehlah aku tak kan bingung karena aku memang guru. Tapi gerakan-gerakan? Hal ini membuatku bingung sebab aku merasa tak pernah bertemu mereka, ruangan ini pun sangat asing di mataku. Keadaan seperti ini hanyalah kutemui jika menonton film kungfu Shaolin atau film silat-silat dulu yang dibintangi Barry Prima dan Advent Bangun. 
    Ha! Aku rasa sekarang aku sedang di zaman dunia persilatan, zaman para pendekar bela diri masih berkeliaran. Pantas saja ruangan ini penuh dengan senjata dan gambar-gambar orang yang sedang memperagakan suatu gerak silat. 
    “Kalian mengenal aku ini siapa?” Tetap saja hal ini aku tanyakan kepada mereka agar keadaan semakin jelas. Mereka saling berpandangan, tapi sejurus kemudian, pemuda yang membawa bakul, yang kelihatan sekali garis kedewasaannya, aku tebak dia adalah paling senior di antara ke empat temannya. 
    “Ampun beribu ampun guru, rupanya pukulan jurus Ajian Lampah-Lumpuh kawan guru yakni Ki Ageng Pamanahan, membuat guru menjadi hilang ingatan. Engkau adalah guru kami, pendiri sekaligus pengasuh Perguruan Silat yang terkenal di Kerajaan Madangkara, Perguruan Reco Umpak, engkau adalah guru kami yang bernama Ki Gede Sodron Kumbara, pendekar tiada banding pemilik jurus ajian yang tidak ada tandingannya yakni Jurus Ajian Serat Jiwa tingkat sepuluh.” Lama kemudian pemuda itu diam. 
    “Sedangkan guru sampai sakit ini karena latih tanding dengan sahabat guru Ki Ageng Pamanahan, entah karena kurang konsentrasi atau memang kurang tinggi ilmu guru sehingga guru terkena pukulan Ajian Lampah Lumpuh, alhamdulillah guru hanya pingsan, karena jika yang terkena kami pasti kami sudah tewas.” 
    “Hem…lalu kalian bernama siapa saja?” Semakin menarik saja kebingunganku ini. Tentu banyak hal baru yang akan ku ketahui. 
    “Saya, Gotawa, guru,” kata pemuda yang bercerita tadi. 
    “Saya, Raden Samba,” jawab yang membawa guci. 
    “Saya Paksi Jaladara,” ucap yang membawa piring. 
    “Saya Raden Wanapati,” sebut yang membawa nampan. 
    “Kalau saya, Raden Bentar,” cetus yang membawa cobek. 
    “Ha ha ha, nama-nama kalian memang tak asing bagiku, itu adalah tokoh-tokoh sandiwara Saur Sepuh yang dulu aku dengarkan lewat radio pada tahun delapan puluhan. Namun, aku tetap heran kenapa aku ada di sini. Ah…biarlah ini terjawab seiring berjalannya waktu. Yang penting ayo kita sarapan, perutku sudah keroncongan sejak tadi.” Kelima pemuda itu mengangguk gembira. Tentu mereka tak mengerti yang aku katakan. 
    “Tapi…sebentar, matahari sudah tinggi, apakah aku tadi sholat Shubuh?” tanyaku penasaran. 
    “Sholat, guru, memang biasanya guru tak pernah tidur setelah sholat Shubuh, sebab harus mengisi pengajian rutin bersama santri-santri. Namun untuk hari ini tadi guru berpamitan tidur karena merasa kepala pusing, mungkin akibat latihan tarung bersama Ki Ageng Pamanahan kemarin malam.” O…aku hanya manggut-manggut mendengarkan keterangan Gotawa. 
    “Terus habis ini apa yang akan aku lakukan?” 
    “Sebentar lagi guru akan mengimami kami sholat Dhuha, setelah itu melatih kami dengan gerakan-gerakan silat baru,” sambung Raden Bentar. 
    Ah…aku jadi ragu, bagaimana aku memimpin mereka, kalau jadi imam sih, aku sudah biasa karena itu memang kebiasaanku setiap hari. Namun, jadi guru silat? Jangankan bertarung, sedangkan hanya sekedar push up saja aku tak pernah melakukan lalu bagaimana aku melatih silat mereka. 
    Ternyata kekhawatiranku tak beralasan, entah bagaimana setelah sholat Dhuha, aku langsung menuju kamar yang secara naluri kurasakan itu kamarku, aku berganti baju seperti pendekar silat di film-film. Lebih herannya lagi, di hadapan puluhan murid, secara reflek atau bisa dikatakan otomatis, aku bisa bergerak secepat kilat, melayang, berlari, menggerakkan tangan dan kaki, berayun, tanpa canggung atau kaku mengajari mereka. 
    Begitulah, hampir beberapa pekan aku tinggal di dunia baru, yang ku yakini masih pada zaman kerajaan, sebab lampu masih pakai buah jarak, masak pakai kayu, dan tak sekalipun di atas aku lihat pesawat terbang melintas. 
    Lebih herannya lagi, para santri begitu tawadluknya kepadaku, apapun perintah yang aku ucapkan seketika mereka berebutan mengerjakan. Bahkan jika bukan aku yang menentukan siapa yang mengerjakan, mereka bisa adu hantam-pukul untuk bisa menunaikan perintahku. 
    Pernah suatu ketika hal ini ku tanyakan pada mereka. 
    “Hai para santri, mengapa kalian tak pernah membantah apa yang aku katakan, dan tak pernah malas mengerjakan apa yang aku perintahkan?” 
    Paksi Jaladara mengacungkan tangan. “Yak, silakan kau Paksi menjawabnya?” 
    “Ampun, guru, jawaban ini mungkin bukan hanya saya saja yang meyakini, tapi kami semua juga sependapat, bahwa setiap kata guru adalah sabda yang harus ditaati, karena jika kami menyalahi maka doa besar telah menanti. Sedangkan setiap perintah harus kami kerjakan karena kami menganggap perintah guru adalah titah yang harus kami usahakan untuk memenuhi, karena memang hal itu adalah kewajiban kami sebagai murid atau santri yang siap digembleng guru. Bukan begitu kawan-kawan?” 
    “Ya…memang demikianlah seharusnya.” Jawab semua santri hampir serempak. Aku hanya manggut-manggut heran bercampur bangga. Namun di sudut hati kecil miris tak terkira mengingat beberapa waktu yang lalu ketika aku di sekolah tempat aku mengajar, hal demikian jarang sekali aku temukan. Yang ada para murid begitu berani pada guru, tak ada sopan santun, apalagi tawadluk. 
    Seperti pada hari kesekian aku di tempat baru ini, bakda mengajari mereka jurus-jurus baru, secara iseng aku berkata, “Hari ini aku kepingin sekali buka puasa nanti maghrib makan daging kijang, siapa di atara kalian yang mampu menyediakan?” 
    Secepat kilat aku dengar jawaban, “Saya guru,” semua santri mengacungkan tangan. Aku hanya tersenyum bangga. 
    “Baiklah, ini akan aku jadikan sayembara, semuanya saja segera berangkat, siapa yang lebih dulu mendapatkan secepatnya antar ke pasebanku, jangan khawatir, jika ada salah satu dari kalian sudah mengantar daging kijang itu, maka setiap dari kalian akan mendengar pemberitahuanku, bukankah kalian tahu aku punya ajian yang belum aku ajarkan pada kalian yakni Ajian Budeg Salaksa, setiap kalian akan mendengar suaraku, dimanapun kalian berada, dan segeralah kembali jika sudah aku suruh pulang.” 
    “Baik, guru.” jawaban serempak aku dengarkan. 
    “Tidakkah kalian bertanya, jika hal ini aku jadikan sayembara, hadiah apa yang aku berikan?” 
    Raden Samba mengacungkan jari, “Bagi kami, sangat tidak pantas kalau mengerjakan perintah guru, ada pamrihnya. Sebab bagi kami adalah suatu kemuliaan jika kami mampu menunaikan perintah guru. Mengenai hadiah kami tak akan mempertanyakan.” 
    Aku tersentak kaget, betapa ketawadlukan mereka sudah begitu tingginya sehingga mereka sudah tidak lagi memikirkan imbalan. Lagi-lagi aku teringat muridku di sekolah, betapa mereka selalu minta balasan jika aku minta tolong bahkan hanya sekedar mengambilkan buku di kantor. Sedih kembali menyelusup dada jika aku mengingat demikian. 
    “Hemm, baiklah, hadiah aku rahasiakan, sekarang juga silakan kalian berangkat!” 
    Detik itu juga, santri yang puluhan itu tak tersisa di depanku karena semuanya langsung melesat menggunakan kesaktian mereka masing-masing. Ada yang berlari secepat kilat, melayang secepat angin, ada yang melompat sejauh mata memandang, bahkan ada yang menghilang entah ke mana. 
    Sembari menunggu para santri mendapatkan daging kijang, aku juga langsung melesat ke musholla dan langsung ambil air wudhu. Sepertinya waktu yang sepi ini lebih baik aku gunakan untuk membaca Al-Qur’an sekaligus berdzikir. 
    Detik demi detik, berganti menjadi jam, para santri belum juga ada yang kembali, aku maklum saja karena di daerah ini aku rasa kijang sulit ditemui, tentu mereka telah bepergian begitu jauh. Kesunyian menyergap, dzikirku semakin khusyuk, beberapa juz sudah aku selesaikan dari tadi. Puluhan rakaat sholat sunnah mutlak telah aku lakukan, kini tinggal dzikir saja yang aku kerjakan. 
    Keheningan membawaku kedalam ekstase sehingga aku sudah tidak tahu lagi berada di mana. Suara-suara gemerisik hewan liar yang biasa lewat depan pondok tak juga terdengar. Aku semakin syahdu bercengkarama dengan Sang Kholiq. 
    Hingga pada suatu ketika secercah cahaya terang menerpaku, aku perlahan membuka mata, anehnya, kini bukan musholla yang aku saksikan, melainkan plafon putih bersih yang terlihat, aku menengok ke samping botol infus menggantung selangnya kutelusuri ternyata ke tangan kiriku. Ku tengok ke bawah, selimut garis-garis biru menutupi tubuhku. Sekujur tubuh terasa sakit semua. 
    Bagaimana ini, beberapa waktu yang lalu aku masih segar bugar, bercengkrama dengan Allah SWT, tapi kini aku lemah lunglai. 
    Pintu terbuka, masuklah seseorang yang sangat ku kenal, Pak Paiman, bersama serombongan anak-anak yang ketawa ketiwi begitu riuh. 
    “Anak-anak, diam dulu ya, kita sedang di rumah sakit jadi jangan membuat keributan,” bisik Pak Paiman pada mereka. 
    “Ah…Bapak, ngomong aja tidak boleh, lagian kenapa sih kita ke rumah sakit bukannya ke Mall, kan lebih asyik!” seru salah satu anak. 
    “Lho, gimana sih, kamu ini, Jo, tentu kita ke sini menengok Pak Sodron yang sudah sebulan ini tidak bangun-bangun dari komanya.” Jawab Pak Paiman penuh kesabaran. 
    “Ya biarin lho Pak, Pak Sodron nggak bangun, kita-kita yang mestinya di sekolah saja meneruskan pelajaran,” jawab anak yang lain. 
    Hatiku tertusuk mendengar jawaban itu, inilah yang tidak aku temui lagi di zaman sekarang, murid-murid yang kurang ajar, tak punya sopan santun, ngomong tak beraturan. Tak terasa cairan hangat meleleh di sudut mataku. 
    Sedangkan Pak Paiman, diam seribu basa, mungkin dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tanpa menghiraukan lagi Pak Paiman menghampiriku. 
    “Pak Sodron, syukurlah Pak, rupanya Bapak bisa bangun juga, kami guru-guru setiap hari istighosah mendoakan kesembuhan Bapak. Rupanya setelah hampir satu bulan, doa kami didengarkan Allah SWT. Selamat datang kembali Pak, semoga badannya cepat pulih, dan segera bisa mengajar anak-anak kembali.” 
    Aku mencoba membuka mulut mengucapkan terima kasih, entah mengapa aku hanya diam tak mampu berkata-kata. Sementara anak-anak setelah menyalami aku langsung berlalu, masih ribut sendiri dengan topik pembicaraan yang beragam. 
    “Maaf Pak saya sebentar saja, nggak enak dengan pasien lain, maklum anak-anak susah diatur,” pamit Pak Paiman. Aku hanya tersenyum menggangguk. 
    Setelah kepergian Pak Paiman, kembali ingatanku melayang, rupanya aku koma kurang lebih satu bulan, tapi mengapa di kejadian tadi aku tinggal bersama para santri begitu lama hampir enam bulan. Ya Allah begitu relatifnya waktu. 
    Kejadian itu begitu nyata, entah itu memang aku dibawa Allah ke dimensi lain, ataukah hanya sekedar mimpi, tapi aku meyakini itu adalah salah satu kehendak Allah untuk menunjukkan kekuasaannya. Mengingat kejadian tersebut aku jadi bertekad, bagaimana aku bisa menjadikan murid-murid sekarang menjadi begitu tawadluk dan punya sopan santun yang tinggi. Aku tahu hal ini hampir musykil, tapi aku yakin jika aku bertekad pasti hal demikian akan terjadi. Semoga. 
    Mojokerto, 20 Juni 2018 

    Profil Penulis: 
    A. Haris ar-Raci Anggota FLP Mojokerto,  (blog pribadi: www.catatansangguru.blogspot.com)
  • Jatuh Hati Tak Bisa Memilih [Part 2]

    Flpjatim.com,- Alarm pada ponselku berbunyi tepat azan Subuh. Kucek pesan pada ponsel. Baris paling atas pesan dari Abang Rendra. 
    Dik, dia ingin bertemu. Besok dia akan bertamu ke rumah kita. 
    Jatuh Hati Tak Bisa Memilih [Part 2]
    Ah ternyata pesan itu bukan mimpi. Malik akan datang hari ini. Rasanya aku tidak ingin dia muncul di hadapanku setelah hari itu, di teras rumah. Tidak bisa dimungkiri bahwa aku masih memikirkannya. Bahkan aku berharap dia masih akan kembali. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Tapi aku sangat penasaran. Ya walaupun terkadang kami masih berkomunikasi seperlunya di media sosial. Itu pun hanya sebatas berbalas pesan di kolom komentar. Setelah sekian lama, ia akhirnya berkabar akan datang. Mungkin masalah keluarganya sudah tuntas. Apakah orang tuanya tidak memberi restu? Apakah dia akan melanjutkan proses kami? Apakah Malik sudah dijodohkan dengan orang lain? Apakah? Apakah? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal yang kupikirkan. Pertanyaan yang tidak pernah kuketahui jawabannya. Jatuh hati tak pernah bisa memilih. Dan kini aku harus menerima rikiso jatuh hati. Patah hati. Barangkali Malik datang karena kini ia sudah siap. Perasaanku tak menentu. Sebab beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar, bahwa Malik akan segera menikah. Tetapi aku tak berani membayangkan hal yang lebih jauh, karena jujur aku masih menyimpan secuil harapan padanya. 
    Sore hari aku hanya duduk santai sambil membacakan buku cerita untuk si Adek di teras rumah. Kami memiliki gazebo kecil dengan taman di pinggirnya. Gazebo kecil yang terletak di samping rumah, hampir tak terlihat dari jalan. Karena tertutup pohon mangga besar. Dan juga ada sebuah kolam ikan. Kolam ikan nampak indah berdampingan dengan taman bunga yang beberapa bunganya sedang bermekaran. Adek bermain di dekat kolam ikan sambil mendengar ceritaku. 
    “Pak Maliiik…,” teriakan Adek menghentikan cerita yang sedang kubacakan. Dia berlari menuju pintu gerbang. “Pak Malik, ada apa ke sini. Mau ketemu Abi ya?” dia membuka gerbang dan menyuruh Malik untuk masuk. 
    Aku menatap Malik dari gazebo. Malik tak menyadari keberadaanku. Pandangku beralih ke buku cerita yang aku pegang. Aku tak sanggup menatap Malik lebih lama. Aku hanya mendengar Malik berbincang dengan Adek. 
    “Abi ada?” 
    “Ada, mari saya antar ke dalam?” 
    Aku menatap punggung Malik yang menjauh menuju ke dalam rumah bersama si Adek. Aku tidak sanggup untuk masuk ke dalam rumah. Aku berencana menunggu di gazebo hingga Malik pulang. Adek terlihat senang ketika Malik datang. Adek tak mungkin kembali ke gazebo. Aku memutuskan untuk melanjutkan membaca buku. Tapi tetap saja, pikiranku tak bisa fokus. Kuambil kamera mirrorless yang tadi kubawa. Mengatur lensanya. Kuputuskan untuk mencari objek di sekitar halaman rumah. Bunga-bunga bermekaran nampaknya bagus dijadikan objek foto. Mataku tertuju pada mawar merah yang sedang mekar-mekarnya. Alih-alih membidik objek, mawar itu justru mengingatkanku pada Malik. Malik suka bunga mawar. Aku tersentak menyadarkan diriku sendiri. 
    Aku melihat pada jendela bidik kamera. Menutup mata kiriku. Memutar lensa agar fokus pada objek. Kemudian kutemukan Malik terjebak dalam lingkaran lensaku. Aku terpaku beberapa detik. Kuturunkan kamera. Mataku melihat pada Malik yang baru saja keluar dari balik pintu rumah. Malik menatapku. Lalu berjalan menujuku. Abang Rendra ikut keluar dan mengikuti langkah Malik. Jarak kami cukup dekat dan cukup jelas untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Malik. Tapi mulutku terkunci rapat untuk sekadar menyapa Malik. 
    “Maira … Malik ingin memberikannya sendiri padamu,” Abang Rendra membuka perbincangan. Kami bertiga berdiri saling menatap. 
    Memberikan apa? Apa yang harus kuterima? 
    Sekilas pikiran aneh yang tidak kuharapkan memenuhi otak. Di balik raut muka yang mungkin terlihat datar, hatiku begitu kacau berada di hadapan Malik. 
    “Maira … Bagaimana kabarmu?” Malik terlihat canggung setelah mennayakan kabarku. 
    Aku hanya diam. Aku tak berani menatap langsung pada matanya. Aku melihat kepada Abang Rendra yang ada di sebelah Malik. 
    “Ra, aku datang kemari untuk …,” nada suara Malik bergetar, “… untuk mengantarkan sendiri undangan ini padamu.” Malik menyerahkan sebuah kertas berbungkus plastik bening. 
    Aku masih diam. Kulihat ada nama Malik dan nama lainnya yang bersanding di sebelah nama Malik di kertas itu. Aku mencoba bersikap tenang menerima sebuah undangan. Ya, undangan pernikahan Malik. Pikiranku tak bisa diam. Banyak sekali yang ingin kutanyakan padanya. Tapi ketidakberhakanku menahan semua pertanyaan itu keluar. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berhak atas hidup siapa pun. Beberapa bulan lalu dia tidak melanjutkan proses denganku karena belum siap menikah. Sekarang dia datang seolah menorehkan luka. 
    “Malik tidak bisa lama-lama berkunjung, karena dia harus ke tempat lain,” Abang Rendra mencoba membuat suasana kembali normal. Nampaknya dia merasakan ketidaknyamananku, “Dik, si Adek menunggumu di dalam. Katanya mau diajari menulis cerita.” 
    “Aku pamit dulu, Ra. Semoga Maira mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik lagi,” Malik berbalik meninggalkanku yan masih terdiam. “Saya pamit dulu Bang. Terima kasih untuk semua petuah dan nasihat dari Abang. Maafkan bila saya banyak salah pada Abang dan keluarga.” 
    “Tidak ada yang perlu dimaafkan,” Abang Rendra tersenyum teduh. “Semua hal sudah ditetapkan oleh Sang Mahakuasa. Semoga silaturrahmi kita tetap terjaga. Abang dan keluarga turut berbahagia untukmu.” 
    Aku masih bisa mendengar percakapan mereka. 
    “Malik …,” mulutku terbuka menyebut namanya. Malik menoleh ke arahku. “Selamat untukmu, semoga kamu selalu bahagia.” 
    “Terima kasih, Maira. Begitu pun denganmu.” 
    Aku berbalik meninggalkan Malik dan Abang Rendra. Sudah pasti aku tak bisa membendung air mata. Ternyata aku rapuh juga. Pipiku telah basah tanpa isak. Aku pernah menerima Malik dan membiarkannya hadir di hatiku, dengan segala risiko dan konsekuensi. Aku tak pernah tahu alasan Malik memilih pergi dariku. Namun setiap orang pasti punya alasan.
    Profil Penulis:
    Ratna W. Anggraini, Ketua FLP Cabang Surabaya
  • Jatuh Hati Tak Bisa Memilih [Part 1]

    Flpjatim.com,- Aku tak pernah tahu pada siapa hati ini akan berlabuh. Tidak tahu pada rupa mana yang harus kutemu. Tidak juga tahu pada sikap mana yang harus kuhadapi. Yang kutahu … aku menerimanya hadir di kehidupanku dengan segala risiko dan segala konsekuensi yang ada. Inilah keping-keping kisah merah mudaku. Rahasia-rahasia kecil dan harapan yang tak terlalu besar. Seperti pada waktu ketika sebuah pesan mendarat di layar ponselku.
    Dik, dia ingin bertemu. Besok dia akan bertamu ke rumah kita.
    Jatuh Hati Tak Bisa Memilih [Part 1]
    Dua kalimat singkat dari Abang Rendra membuatku mematung beberapa detik. Aku merapal kalimat itu dalam diam. Memastikan bahwa “dia” yang dimaksud adalah benar dia yang kukenal. Kutangkupkan layar ponsel pada dada yang mendadak bergemuruh lebih cepat. Pandangku beredar pada langit-langit kamar yang kosong. Perlahan seolah langit-langit kamar berubah menjadi sebuah layar yang menunjukkan kepingan-kepingan kejadian masa lalu.
    Setahun yang lalu …
    Abang Rendra tiba-tiba mengetuk pintu kamar. Kukira dia akan meminjam beberapa buku seperti biasanya atau sekadar menyuruhku keluar kamar untuk makan. Aku sangat malas makan ketika sudah terlanjur memegang buku-buku. Tapi sore itu berbeda. Abang Rendra memang meminjam buku. Tak langsung pergi dari kamarku. Dia duduk di kursi sebelah tempat tidur. Memutar kursi itu ke arahku yang sedang santai dengan buku di tangan.
    “Ada apa? Biasanya langsung keluar,” aku menutup buku dan menghadap ke arahnya, “Aih, serius sekali raut muka Abang, apa aku melakukan kesalahan? Ah … baiklah, aku akan segera keluar untuk makan.”
    “Dih, siapa yang nyuruh kamu makan. Nanti kalau kamu masuk rumah sakit lagi seperti kemarin biar kapok,” sedikit berkurang raut tegang dari wajah Abang.
    Tiga hari sebelumnya aku baru saja keluar dari rumah sakit gara-gara sering sekali menyepelekan makan. Hingga akhirnya lambungku meronta-ronta minta diperhatikan. Abang Rendra khawatir sekali meski tak pernah ia ditunjukkan langsung kepadaku. Di balik sikap tegasnya, Abang Rendra memiliki hati yang lembut. Di dunia ini, satu-satunya keluarga kandungku adalah Abang. Aku tinggal bersama Abang Rendra beserta istri dan juga putrinya.
    “Maira, tahu Malik?”
    Dahiku mengerut mencoba mengingat nama Malik yang baru saja ditanyakan Abang.
    “Malik …? Ah, Malik gurunya si Adek?” Adek adalah panggilan untuk anaknya Abang.
    Rasanya nama Malik memang sering kudengar. Hampir setiap pulang sekolah, si Adek bercerita tentang sosok guru kesayangannya itu. Aku ingat betul ketika Adek pulang sekolah dengan wajah yang semringah sambil memeluk sebuah buku. Saat kutanya, buku itu adalah buku cerita hadiah dari Pak Malik karena nilai bahasa Indonesia Adek yang terbaik di kelas. Selain sering kupinjami dan kubelikan buku untuk dibaca, guru bahasa Indonesia itu pula yang membuat Adek lebih suka membaca dan bercerita. Aku sampai hafal beberapa cerita dari Pak Malik yang sering diceritakan ulang oleh Adek kepadaku.
    “Ya … Malik yang itu,” Abang Rendra mengiyakan tanpa ragu. “Usianya tiga tahun di atasmu. Dia juga masih belum menikah sepertimu. Abang hendak memperkenalkanmu dengannya. Abang sering mengobrol dengannya ketika menjemput Adek dari sekolahnya. Abang sudah menceritakan sedikit tentangmu padanya. Abang berharap kalian bisa saling mengenal lebih jauh. Tentu saja Abang akan mengawal prosesnya. Nah, Maira sekarang silakan buat proposal cinta yang sudah pernah Abang ajari. Oke, Abang keluar dulu. Terima kasih bukunya, Abang pinjam dulu. Abang tunggu ya Maira,” dia pergi begitu saja dari kamarku tanpa memberi satu kesempatan untuk bicara.
    Abangku selalu bertindak tanpa basa-basi tapi penuh dengan perencanaan. Yah, begitulah Abang Rendra berusaha memperkenalkanku dengan si Guru bahasa Indonesia itu. Tak butuh waktu lama, beberapa hari kemudian Malik datang ke rumah. Kami mulai membuka sebuah obrolan ringan hingga sampai pada hal yang serius. Singkatnya, begitulah seorang Malik datang dan mengenal seorang Maira. Mengajukan diri untuk mengenalku lebih jauh. Hingga akhirnya kami saling mengenal dan merasa ada satu yang membuat klik. Tentu saja abangku perperan besar dalam hal ini.
    Namun terkadang, pertemuan dan perpisahan datang terlalu cepat. Hingga kita tak memiliki waktu untuk istirahat. Ketika Malik mencoba mengetuk pintu hati dan aku bersiap untuk membukanya. Mempersilakan dia masuk. Lalu dia menawarkan kenyamanan. Merangkai jalinan pertemanan. Tetapi ternyata, perjalanan saling mengenal menuju proses yang serius itu luput dari pengawasan orang tua Malik. Dia belum menceritakan keberadaanku di hidupnya. Dia belum menceritakan keluargaku pada orang tuanya.
    Hari itu … hari yang entah apakah bisa kulupa nantinya. Aku baru saja tiba di rumah. Berpapasan dengan Malik di halaman rumah. Abang Rendra berdiri di ambang pintu. Aku tersenyum menatap Malik. Dia menatapku sekejap, lalu menyebut namaku.
    “Maira…,” wajahnya datar.
    Aku tersenyum kepadanya, lalu menatap Abang Rendra dari kejauhan. Abang menarik napas. Terlihat berat.
    “Aku harus pamit, maafkan aku Maira.”
    Senyumku perlahan memudar. Malik menundukkan pandang dan berlalu. Tak ada embusan angin dari perginya Malik. Bayangannya ikut pergi secepat sang tuannya berlalu.
    Aku berbalik menatap punggung Malik yang meninggalkanku. Perlahan tapi pasti. Hingga punggung itu lenyap di ujung gang perumahanku. Abang Rendra masih menungguku masuk ke rumah. Aku berjalan menuju Abang Rendra. Menatap wajahnya lekat-lekat. Seolah ia tahu, ada ribuan pertanyaan di wajahku yang harus dia jawab. Abang Rendra meletakkan tangannya di pundakku dan menuntunku masuk ke ruang tamu. Mendudukkanku perlahan. Membuatku semakin bingung.
    “Maira … yang menjadi milik kita pasti akan kembali pada kita. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Maafkan Abang bila belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Hari ini Malik datang untuk mengabarkan keputusannya. Keluarganya sedang dalam masalah. Abang tidak tahu apa masalah pastinya, intinya Malik masih belum siap untuk melanjutkan proses kalian. Malik belum siap untuk menikah.”
    Abang Rendra tetaplah Abang Rendra yang tak pernah berbasa-basi. Harusnya ia memberiku waktu untuk sedikit mencerna apa yang baru saja terjadi. Yah, tanpa aku harus bertanya lagi, aku dipaksa harus memahami apa yang terjadi.
    Sepekan berlalu dan tentu saja aku tidak baik-baik saja. Aku tetaplah perempuan pada umumnya. Aku bukan perempuan istimewa yang memiliki hati baja. Sekuat-kuatnya aku menahan diri, hatiku hancur juga. Harusnya aku tak terlalu percaya diri. Membayangkan seorang Malik menjadi laki-laki yang bisa kuandalkan setelah Abangku. Seseorang yang akan menjagaku seperti Abang Rendra menjagaku. Harusnya aku tidak jatuh hati terlalu cepat. Malik baru singgah tiga kali saja ke rumah. Pertama dia datang untuk mengenal. Kedua dia datang membawa sekantong harapan menuju jenjang yang lebih serius. Dan ketiga, dia datang menghancurkan harapan. Malik mengucapkan maaf. Apakah ini bukan maunya? Aku pun tak tahu. Yang menjadi milikmu tak akan pergi meninggalkanmu tanpa kembali lagi … perkataan Abang rendra masih terngiang di kepalaku.
    ***
    Kepingan kejadian setahun lalu itu perlahan memudar. Langit-langit kamarku kembali kosong.
    “Malik …,” aku melafalkan namanya lirih. Bagaimana aku bisa melupakan nama itu. Bahkan sepekan yang lalu dia masih menghubungi lewat sosial mediaku. Aku ingat betul, waktu itu aku baru saja mengunggah sebuah gambar mawar merah. Aku suka memotret. Beberapa kali dia membubuhkan komentar di hasil jepretanku, sekadar memuji. Aku juga suka menulis. Beberapa kali juga, dia berkomentar pada unggahan puisi-puisiku. Dia menyukai mawar, aku menyukai puisi. Dia menyukai anak-anak, oleh sebab itu dia menjadi guru di sebuah sekolah dasar, dan kami sama-sama menyukai buku.
    Besok dia akan datang ke rumah ya ….
    Tersadar dari lamunan sesaat, kubuka kembali halaman buku yang tadi sempat terbaca. Mendadak setiap kalimat yang kurapal tak bisa meresap di otak, hingga akhirnya kuputuskan menenggelamkan wajah pada buku itu dan terlelap.
    ***
    Profil Penulis:
    Ratna W. Anggraini, Ketua FLP Cabang Surabaya
  • Andai Langit Punya Tangan

    Flpjatim.com,- Sebelum benda super mungil pemohon tumbal itu datang, saban hari mereka mencekikku. Persekongkolan yang nyaris membunuhku. Bukan satu dua orang, satu bumi bersepakat melakukannya! Bayangkan betapa mencekamnya waktu yang harus kulalui. Meski begitu, aku tetap menjalankannya. Sebagai manifestasi dari titah yang Beliau berikan.
    Kerap kali aku batuk-batuk usai menabun. Mereka sebabnya. Tudingan ini bukan berdasar katanya, tapi nyata. Kadang kala, aku berpikir apakah mereka tidak pernah berterima kasih? Atas apa yang sudah kuberikan, yakni menaungi mereka. Setiap hari aku menindas murad dalam diriku: keinginan untuk menggilas mereka.
    Andai Langit Punya Tangan

    Sejatinya, bukan aku saja yang memendam keluh. Kawan-kawanku yang menjulang dengan rambut gimbal warna hijau juga demikian. Malah nasib mereka lebih mengenaskan. Gergaji bermata runcing tega memburai perut mereka. Untuk kemudian beramai-ramai mencincangnya. Jerih aku menyaksikan itu. Andai Beliau menciptakanku bertangan, mungkin sudah kerontang kesabaranku untuk menghabisi mereka.
    Yah, mungkin di sinilah letak keadilan Semesta.
    Dalam sudut pandang pribadiku, aku girang menyambut kedatangan tamu baru itu. Dengar-dengar, dia itu keturunan penyakit yang juga dulu menjangkiti dunia. Sars dan Mers. Nama terakhir mirip dengan kawanku yang tinggal empat lantai di atasku.
    Aku menyaksikan banyak hal terjadi sejak peradaban nol bermula. Beragam bentuk mahkluk pernah mengukir nama di bawahku. Mulai dari yang kasat mata, yang belulang di dalam tanah, sampai yang mencetuskan nenek moyang manusia adalah kera. Berbagai peristiwa juga kulalui. Mulai dari yang remeh-temeh hingga yang paling “memukau”. 
    Bagaimana perasaanku mendapatinya? Tumpang tindih. Suatu waktu senang bisa menyaksikan keindahan kreasi Beliau. Di lain waktu aku getir memandangi jual beli nyawa demi harta—atau kekuasaan. Dengan wujudku yang membentang luas membungkus dunia, kejadian-kejadian berbeda di waktu yang sama itu rasanya seperti duri-duri yang menancap di kulit. Mungkin jika aku berkulit, rasanya akan jauh lebih menyakitkan. Hidup dengan segenap nyeri yang mendarah daging.
    Sekali lagi, andai aku bertangan pasti aku sudah berbuat sesuatu.
    Lagi pula, kelaliman tidak bisa dibiarkan, bukan? Memang. Tidak ada pemilik gelar Ph.D. yang pernah mengguruiku. Sosok guru terbaik dan terhebat sealam semesta adalah Beliau, Penciptaku. Beliau tahu apa yang terbaik untukku. Walaupun adakalanya aku menilainya sebagai sesuatu yang kurang ideal.
    Selama ini, aku menahan batukku. Jika sekali saja aku meloloskannya, gempar akan membekap semua yang ada di bawahku. Oleh sebab itu, aku hanya batuk ketika akan mandi. Itu bisa membuatku lebih tenang. Selain itu, sisa bilasan air di badanku harus segera diamankan. Jika tidak, genangan besar akan menenggelamkan kehidupan di bawah sana.
    Kendati tak bermata, aku tetap bisa ‘memandang’. Cara memandangku jelas berbeda dengan mereka karena Beliau memberiku yang terbaik. Dengan ini, aku bisa menikmati kedamaian yang hadir di tengah gempuran mahkluk yang mereka sebut wabah.
    Lihat, tidak ada lagi yang menyayat teman menjulang berambut gimbalku. Tidak pula ada yang usil menjamah penghuni lengkungan eksotis berwarna biru di kaki gunung itu. Kawanku satu lagi—yang beredar di mana-mana, tapi wujudnya tidak kentara—juga merasakan kemerdekaan yang serupa.
    Jika teman berambut gimbalku baru bisa meloloskan perih ketika tumbang, lain halnya dengan Si Pemilik Ceruk Eksotis itu. Dahulu, warna estetisnya direnggut pekat. Membuatku kehilangan cermin untuk bersolek saat menjelang pagi. Aku makin sesak karenanya. Puas berbuat, mereka minggat. Benar-benar sudah kehilangan akal sehat.
    Jika Si Gimbal dan Si Eksotis masih bisa selamat, kemalangan merundung si Misterius. Oleh karena wujudnya yang gaib ia selalu terkoyak-koyak. Tanpa ampun, mereka sudi menganiaya dirinya. Hebatnya, ia tak pernah mengurung angkara. Katanya, dia baik-baik saja. Toh, suatu saat ia bisa melalang buana dengan bahagia.
    Si Misterius ini adalah perisai bagiku. Sosok pertama yang memulangkan asap-asap yang akan mencabik-cabik diriku. Namun, kerap kali ia kelelahan. Terlalu banyak yang harus ia perjuangkan. Dan, sering kali diluar kemampuannya. Ia memang keras kepala.
    Pernah ia mengeluhkan betapa letihnya menangkal asap dari tabung-tabung jangkung yang menancap di tanah dan hobi buang angin. Belum lagi knalpot kuda besi yang tumpah ruah menyesaki jalanan. Lengkap dengan pekikan yang berebut memecah dirinya. Ah, rasanya muak sekali dengan itu! Meski begitu, aku harus tetap memamah sabar.
    Beliau pernah berkata, “Berikanlah kabar gembira bagi mereka yang bersabar.” Aku sangat berterima kasih kepada Beliau karena Beliau sungguh-sungguh membuktikan itu. Beliau tidak pernah ingkar janji. Betapa Beliau—dengan wewenang-Nya atas segala macam hal—sangat baik. Beliau berkenan menyelamatkan kami dari kejahiliyahan mereka.
    Meskipun aku bungah atas hadirnya virus itu—atas kehendak Beliau, congkak rasanya jika aku tertawa dengan apa yang mereka alami. Meski berhak atas kebebasan ini, aku tidak bisa sepenuhnya menikmatinya. Di bawah, ada mereka yang berhati bersih sedang kelimpungan. Akan tetapi, aku yakin mereka memahami bahwa selalu ada kebaikan yang bersembunyi di balik ujian. Imbalan bagi yang mau bertahan.
    ***
    Aku sangat menghargai iktikad baik dari para ilmuwan itu. Mereka, dengan keahlian yang Beliau limpahkan, mencipta virus itu agar dunia bebas polusi. Berdasarkan kabar yang beredar, salah satu pengamat lingkungan berdalih bahwa bumi sedang sekarat. Tidak ada cara ampuh mengobatinya, kecuali dengan paksa. Dan, virus itulah solusi terbaiknya.
    Manusia terbaik sepanjang masa dahulu diutus untuk menyeimbangkan akal dan hati. Hal itu bukan tanpa sebab, tentunya. Karena ketika itu—aku menyaksikan sendiri—betapa kekacauan merajalela. Benar-benar salah satu era terburuk yang membuatku ingin menangis setiap kali mengingatnya. Manusia yang Beliau cintai itu berhasil menuntaskan titah Beliau dengan sangat baik. Tanpa cacat. Sangat akurat. Dan, tidak perlu didebat.
    Namun sayang. Beliau tidak lagi hadir di sini. Tidak ada lagi yang mampu benar-benar menyempurnakan kedua anugerah paling mewah itu. Alhasil, muncul segolongan dari mereka yang “buta sebelah matanya.” Mereka lebih menyombongkan akal—yang memang Beliau limpahkan kelebihan—ketimbang hatinya. Dengannya mereka mendikte siapa pun yang menentang. Sama sekali tak memedulikan batas-batas yang membentang.
    Setelah melalui kontemplasi, kudapatkan jawaban pasti. Selama ini yang kulihat baik—ide mereka mengolah virus itu atas nama kebaikan alam—ternyata semu. Diskusi akbar internasional di salah satu negara menjadi buktinya.
    “Kita bisa gunakan virus ini untuk mengamankan dunia.” Cetus ilmuwan A di hadapan hadirin dari berbagai bidang keilmuwan. Aku mendengar kabar ini dari Si Bentala—kawanku yang menjadi pijakan manusia di mana pun mereka berada.
    “Bagaimana bisa virus dibuat untuk ‘mengamankan’? Ini virus, Bung! Bukan mainan anak-anak. Di mana letak akal sehatmu?” Seloroh ilmuwan C. Mantap berselisih pendapat.
    Peserta diskusi berkasak-kusuk. Menimbang risiko, merinci keuntungan.
    “Coba bayangkan.” Kata ilmuwan A, melanjutkan. Kali ini lebih mencengkeram. “Jika dunia memberlakukan pembatasan sosial akibat virus ini, mengekang setiap individu di rumah, apa yang akan terjadi? Betul sekali! Keheningan meluas. Kendaraan libur membuang emisi. Pabrik diam sejenak. Tidak ada cerobong yang membahayakan lapisan ozon. Es di kutub juga akan bertahan lebih lama. Dunia pun jadi lebih jernih.”
    Si Bentala sepakat. Hadirin mulai mengiyakan. Kukira, awalnya ini ide menarik.
    “Saya yakin, semua hadirin ini mengetahui apa yang Terri Swearingen pernah katakana: ‘Setiap tahun manusia merilis empat puluh miliar ton karbon dioksida ke atmosfer! Seakan-akan kita punya planet lain untuk mengungsi.’ Empat puluh miliar ton karbon dioksida. Ya, Tuhan. Bisa Anda bayangkan?”
    Mendengar fakta itu beberapa hadirin menggeleng-geleng, mendecak heran.
    “Lantas, bagaimana negara memberlakukan pengurungan sementara itu? Negara bisa hancur! Tidak ada transaksi. Uang sebagai alat tukar penguat pendapatan negara tertahan di mesin ATM—atau dompet!” Seorang pengamat ekonomi berdiri, membantah.
    Sebagai jawaban, ilmuwan A menyeringai. Seakan-akan itu lelucon.
    “Sungguh. Orang ini tidak waras! Pengurungan akan membunuh ekonomi! Dasar dungu! Siapa pula yang menyematkan predikat ilmuwan kepadamu, hah?” Pengamat ekonomi itu masih sengit mencerocos. Meluapkan angkara yang berkemelut dalam dada.
    Aku menunggu reaksi dari ilmuwan A. Dan, sebagian hadirin lain sepakat dengan si pengamat ekonomi. Sebagian bersiap memilih pihak. Diskusi memanas. Akan tetapi, kebodohan paling menyedihkan yang pernah kutemui muncul kemudian.
    Hampir saja aku meminta kepada Beliau untuk menghempaskan diri supaya keputusan laknat itu tak pernah lahir. Namun, Beliau menolak. Sangat membekas kuat di benakku—kendati aku tidak punya tempurung kepala—ketika Ilmuwan A itu mengatakan bahwa jika pembatasan sosial itu diberlakukan akibat penyebaran virus yang tak terkendali, maka mereka bisa mengambil alih perekonomian. Memonopoli perdagangan. 
    “Ketika itu terwujud, kejayaan finansial paling menggiurkan tinggal menunggu waktu. Tidak ada dalam sejarah yang mampu mengalahkan kita dalam hal ini. Cetak birunya siap diluncurkan, Tuan dan Nyonya.” Kata si Ilmuwan A menutup diskusi.
    Sesuai rencana mereka, virus dikreasi. Dengan sewenang-wenang, mereka bermain menjadi Tuhan. Saat virus siap, ia dikemas dan diberaikan ke dunia. Bermula dari salah satu kota, kemudian merayap ke negara-negara lain. 
    Dalam sekedip mata, selagi virus itu semakin merebak, kanal berita menjalankan tugasnya: memusatkan atensi pada kondisi ini. Selagi masyarakat dirubung cekam, para dalang menjalankan aksinya tanpa ada yang mencurigai. Mulus sekali.
    Wahai Pemilik Alam Semesta, sekali lagi, izinkan aku memiliki tangan agar bisa menumpas kezaliman itu. Sungguh, tidak tahan aku merasakannya. Namun, untuk kesekian kali, dengan sangat-sangat arif, Beliau tidak membolehkan. Baiklah. Tidak mengapa. Apa pula hakku mendesak kebijksanaan Beliau atau mempertanyakan kewenangan Beliau?
    Alhasil, aku hanya bisa menyaksikan. Gejalanya yang serupa flu menjadikannya samar. Mana penaykit akibat virus itu, mana yang gara-gara virus biasa jadi abu-abu. Sebagaimana penampilanku hari ini. Memburam. Aku mendendang geram. Untuk mendinginkan hati, hari ini aku akan mengguyur diri.
    Memang. Di balik kemuakan akibat pandemi pengemis tumbal ini terselubung kebaikan yang teramat mahal. Kendati tetap menyebalkan. Aku tidak mempermasalahkan jika Beliau menghendaki situasi ini, sama sekali. Akan tetapi, yang membuatku ingin mengahabisi mereka adalah kelakuan mereka sendiri.
    Belum genap empat bulan semenjak kelahirannya, virus itu sudah menggeramus jutaan lebih korban. Kebanyakan adalah lansia dan manusia dengan riwayat sakit menahun. Kalau sudah begini, mustahil hati mereka menang melawan akal bengis itu.
    Di kala tim medis kelimpungan mengurus bejibunnya pasien, pemerintah goncang karena tuntutan kebijakan, rakyat kian merana karena keterbatasan, mereka dengan sangat dermawan merilis proyek kedua: proyek Goldhill. Seekor merpati membisikkan kabar itu kepadaku pada suatu pagi. 
    “Virus itu sengaja diledakkan ke publik selain untuk uji coba, juga menutupi rencana utama mereka. Jadi, di saat semua orang sibuk mengurus diri mereka sendiri dengan ‘mencuci tangan’, mereka bergerak mengorganisir diri di baliknya.” kata merpati itu saat terbang bersama rombongannya. “Mungkin, tiga bulan lagi topik dunia akan berganti.”
    Aku bertanya kepadanya, apa yang akan terjadi selanjutnya.
    Merpati itu menggeleng. “Satu yang kutahu adalah sesuatu akan mencekik leher kami. Membuat kami kebas, kaku, dan dalam hitungan menit kami akan berjatuhan. Kalau kau ingin tahu mengapa bisa begitu, aku tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
    Kepergian merpati itu tanya di sepanjang tubuh biruku. Aku menyempatkan diri berterima kasih sebelum merpati itu mengepakkan sayapnya, pergi menjauh. Hingga sosoknya hanya seperti titik hitam kecil. Kuharap dia baik-baik saja.
    ***
    Entah mengapa temanku si Misterius menyajikan hawa sedingin ini. Aku menebarkan pandangan. Tidak ada matahari di atasku. Sembunyi di mana dia? Dengan kalut, aku meneriakkan namanya. Alih-alih menjawab panggilanku dengan santun, dia justru menyalak kepadaku. Katanya, aku yang menghalangi tugasnya di pagi ini. 
    Menghalangi, katanya? Tunggu dulu. Aku menyapu sekeliling. Oh, tidak. Ada apa ini? Mengapa tubuhku menggelap seperti ini? Dan, kawanan kapas mengapung di sekelilingku juga memekat. Hei! Ini pagi hari. Mengapa seperti malam hari? Rasanya seperti ada yang iseng menumpahkan tinta hitam ke sekujur tubuhku. Sial! Aku jadi buta sekarang!
    Belum habis karut pada diriku, aku menangkap teriakan berbalas teriakan. Dari bawah sana. Untungnya, aku mengenali suara yang memang terbekap derita, dan mana yang sengaja dikondisikan demikian oleh Beliau. Dengan gulita yang membungkusku seperti ini aku bermunajat kepada Beliau. Sang Penguasa Langit dan Bumi.
    Tidak ada jawaban langsung yang kudapat. Meski begitu, Beliau dengan senang hati menunjukkan kedigdayaan-Nya. Beliau menuntunku. Tepat di saat itu pula, aku kembali bisa memandang, pelan-pelan. Akan tetapi, bukan lagi keindahan memesona yang kudapati. 
    Ini sungguh … ah, bagaimana cara mengatakannya?
    Si Jago Merah melahap habis apa yang dia singgahi. Swalayan amblas digasak mayat hidup jadi-jadian. Para lelaki beringas merampas apa pun. Demi mendapat apa yang diinginkan, mereka rela saling todong senapan. Tak punya senapan, adu jotos jadi solusi. Tak pandang mana lansia, mana wanita, bahkan anak-anak, semua jadi beringas. 
    Mereka yang kurang beruntung terkapar. Tak ada yang peduli. Selagi masih bernapas sikat saja yang terlihat. Asal gersang tak menancap kerongkongan. Pedih melilit menusuk-nusuk ulu hati enggan menghampiri. Pihak keamanan keteteran. Latihan tidak menyiapkan mereka untuk ini. Bergabunglah para penjaga penjara itu dengan penjarah.
    Ya, Tuhan. Sekali lagi. Jika hamba-Mu ini terlalu zalim meminta, maka aku akan berhenti memohon. Namun, jika Engkau Maha Baik, izinkan aku memiliki tangan. Demi nama-Mu yang jika diperdengarkan menggoncangkan hati. Berikanlah aku tangan supaya aku bisa meraup kesedihan mereka. Menggantinya dengan keceriaan. Dan membasmi yang tak ingat besok pasti mati. Jerih sekali rasanya menyaksikan opera pelik ini.
    Haruskah aku memedulikan “mereka” yang lain? Kurasa tidak. Mengapa? Karena setelah kujelajahi ini semua jelas ulah mereka. Mungkin, senjata makan tuan. Atau, lebih tepatnya karma. Hukuman atas buasnya akal yang ditinggikan daripada hati. Ah, biarlah. Itu urusan mereka. Toh, mereka yang memulai. Akhir adegan ini juga urusan mereka.
    Kutemukan musabab ini adalah proyek Goldhill. Virus itu memang kejam, tapi tidak lebih kejam dibandingkan mereka—penciptanya. Dengan segenap kepongahan yang dahulu jadi perusak jiwa malaikat terbaik Beliau, mereka mencobloskan jarum suntik raksasa ke dalam perut si Bentala. Menyedot darahnya sesuka hati. “Darah bumi” itu memang amat menggiurkan.
    Di kala dunia mengerang, mereka tergelak. Saat rakyatnya kelimpungan, mereka kegirangan. Bungah sekali mereka dengan tatanan baru yang segera menyingsing. Jelas Beliau tidak tinggal diam. Waktu yang Beliau titipkan kepada mereka habis. Barulah Beliau menghadirkan penawarnya: mengizinkan cendawan terakhir merekah—atau juga ledakan ribuan matahari. Sebuah halaman penutup untuk membangunkan yang salah arah.
    Sembilan puluh sembilan orang dari seratus orang serempak berjumpa izrail. Roh mereka ditarik paksa olehnya ketika dunia—yang semula bersih tanpa polusi—dikepung asap tebal yang sempurna menghitamkan seluruh ragaku.
    Perjalanan virus buatan itu ditutup oleh sandiwara “perebutan darah bumi.” 
    Dengan perih meranggas di tubuh, aku harus bertahan. Beliau yang memintaku begitu. Dengan kusam yang merimbun, aku menatap letih ke bawah. Maafkan aku. Tidak ada yang bisa kulakukan. Seandainya aku punya tangan, maka aku akan menggendong dan membiarkan mereka yang lalim sekarat dengan otak keparatnya.
    *
    Malang, 14 April 2020
    Profil Penulis:
    Gunung Mahendra, mantan ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Malang, guru bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Alumnus Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Bahasa Jerman. Antologi perdananya berjudul Merayu Langit (2017).
  • Kuaci dari Langit

    Flpjatim.com,- Keluarga Zizan penggemar cemilan kuaci. Hampir setiap akhir pekan, Zizan dan mamanya belanja di swalayan. Tidak lupa, Zizan minta dibelikan kuaci. Sepulang kerja, Papa Zizan juga sering membawakan kuaci. 
    Pada hari Minggu pagi, Zizan kaget karena cadangan kuacinya habis. Padahal kemarin baru saja beli banyak. Ia berpikir keras, harusnya kuacinya masih ada di toples. 
    Kuaci dari Langit
    “Maaa, Mama tahu, nggak, kuaci adik? Kok habis, ya?” tanya Zizan pada mamanya. 
    “Coba dicek lagi di mana tadi malam naruhnya,” balas mamanya. 
    “Sudah, Ma. Adik heran aja, kemarin itu masih banyak.” 
    “Mungkin disimpan Kak Desty. Coba tanyakan.” 
    Harusnya pagi itu Zizan menemui teman-temannya di lapangan, sambil membawa kuaci untuk dimakan bersama setelah bermain bola. 
    “Apa Kakak tahu kuaci adik?” 
    “Nggak tahu, Zan. Tadi malam ada di toples loo ….” 
    “Tidak ada, kok. Mana ada toplesnya di meja. Sudah nggak ada tuh ….” 
    Zizan kesal. Dia ingin beli kuaci lagi, tapi tidak jadi karena kemarin sudah beli. Jatah uang sakunya sudah dibelikan kuaci. Zizan masih penasaran, mana mungkin kuaci yang tadi malam masih banyak, kok tiba-tiba lenyap. 
    *** 
    Siang itu Kak Desty bolak-balik ke WC. Ia sakit perut. Selidik punya selidik, Zizan pun menggoda kakaknya. 
    “Pasti Kakak salah makan. Atau kebanyakan makan. Ha-ha-ha ….” 
    “Hiih … kamu ini asal nuduh.” 
    “Sebenarnya kamu makan apa?” sahut mamanya, “sakit diare gitu bisa jadi karena makanan yang tercemar bakteri atau kuman.” 
    “Em, sebenarnya Desty kebanyakan makan kuaci, Ma.” 
    Mendengar hal itu, Zizan dan mamanya kaget. 
    “Jangan-jangan kamu yang ngambil kuaci Adik?” 
    “Hi-hi-hi, iya, Ma … soalnya tadi malam Desty pas jenuh banget. Akhirnya Desty ngemil kuaci di kamar.” 
    “Terus, Kak?” tanya Zizan. 
    “Kuacinya kakak habiskan, he-he-he.” 
    Mamanya geleng-geleng. “Sungguh terlalu kamu ini, Des. Kalau makan ya secukupnya saja, meskipun itu makanan favorit. Kasihan adikmu kehilangan kuaci. Kamu berbohong juga padanya.” 
    “Maaf ya, Maaa ….” 
    “Minta maaflah pada adikmu dan belikan kuaci lagi.” 
    *** 
    Bagi keluarga Zizan, kuaci sangat pas disantap sambil nonton tivi, membaca buku, dan santai di rumah. Sewaktu rekreasi atau dalam perjalanan, mereka juga sedia kuaci. Pokoknya selalu ada kuaci. Zizan suka berbagi jajan dengan teman-temannya. Menurutnya kalau dimakan sendiri kurang berkesan, justru akan berdampak rakus. Kalau dibagi-bagi akan semakin berkah. Allah akan menambah rezekinya. 
    Suatu hari mama Zizan punya ide bikin kuaci sendiri. 
    “Kenapa kita tidak mencoba bikin kuaci sendiri aja? Daripada beli terus?” 
    “Eh, emang bisa, Ma?” Zizan penasaran. 
    “Bisa, dong.” 
    “Pakai bahan apa?” 
    “Biasanya bahan utama kuaci dari biji bunga matahari. Nah, coba deh kita bikin kuaci dari biji semangka atau biji labu kuning.” 
    “Oh … ide bagus, Ma,” tambah Desty. 
    “Mama pernah baca di sebuah majalah, bunga matahari dan cemilan kuaci bukan berasal dari Indonesia. Itu sejarahnya dari luar negeri dan menyebar ke negeri kita.” 
    Setelah seharian mencoba bikin kuaci, hasilnya masih gagal. Dan mereka kelelahan tanpa hasil memuaskan. 
    *** 
    Keluarga Zizan berlibur ke kebun bunga matahari di Bantul, DIY. Di sana mereka rekreasi sambil belajar. Kebun yang dituju yaitu milik seorang pengusaha bernama Pak Rusli. Pak Rusli juga punya usaha pengolahan biji matahari menjadi kuaci.” 
    Kali itu Pak Rusli sendiri yang memandu keluarga Zizan, karena Pak Rusli ternyata kenal baik dengan papa Zizan. 
    “Oh, selamat datang, Pak Kamil sekeluarga. Mari saya pandu keliling kebun,” ajak Pak Rusli dengan ramah. 
    “Terima kasih, Pak Rusli yang baik hati,” balas Pak Kamil. 
    Bunga matahari bermekaran. Menyembulkan mahkota dengan bakal biji-bijinya. Setelah puas keliling kebun, keluarga Zizan diajak Pak Rusli melihat pengolahan kuaci. 
    “Begini, Adik-adik. Bahan untuk membuat kuaci bisa dari biji bunga matahari atau biji semangka, air kapur, kayu manis, serai, dan pandan wangi,” terang Pak Rusli. 
    “Cara membuatnya bagaimana, Pak?” tanya Kak Desty. 
    “Bapak akan ajarkan cara yang sederhana saja. Pertama, bijian itu direndam dalam air kapur, kemudian dikeringkan sampai benar kering. Setelah itu, garam, kayu manis, serai, dan pandan wangi direbus sampai mendidih.” 
    Zizan dan Kak Desty manggut-manggut. 
    “Kurang lebih setengah jam, lalu masukkan bijian tersebut dan diaduk sampai cukup mudah untuk dipecahkan. Terakhir, tiriskan bijian itu dan keringkan. Nah, bagaimana?” 
    “Ya-ya-ya, mengerti, Pak,” jawab Zizan. 
    “Hm, yakin Zizan paham?” goda Kak Desty. 
    “Ouh, gampang … nanti dipraktikkan di rumah. Ya, kan, Ma?” 
    Semua yang mendengarnya terkekeh. Setelah itu, keluarga Zizan berpamitan kepada Pak Rusli. 
    “Ini ada oleh-oleh kuaci,” kata Pak Rusli. 
    “Berapa harga semuanya, Pak?” tanya Pak Kamil. 
    “Oh, tidak perlu dibeli, Pak. Ini sebagai tanda persahabatan.” 
    Zizan tampak kegirangan. 
    “Wah … banyak banget kuacinya! “Ye-ye-ye, terima kasih banyak ya, Pak Rusli yang baik hati.” 
    “Sama-sama,” Pak Rusli membalas dengan senyum khasnya. 
    “Horeee …. Papa, Mama, ini kuaci dari langit. Pastinya ini balasan dari Allah karena adik sering ngasih kuaci kepada teman-teman. Ini keajaiban!” Suara Zizan nyaring kegirangan. 
    Semua tertawa gembira menyaksikan ulah Zizan. (*) 
    *) pernah dimuat di harian Padang Ekspres, Minggu 19 Januari 2020, halaman 9
    Profil Penulis: 
    Real Teguh, Koordinator Divisi Karya FLP Jawa Timur 2019/2021
  • Wedang untuk Ayah

    Flpjatim.com,- Hujan turun di sore hari, Tiwi cemas karena ayahnya belum pulang bekerja. Sedangkan Dito dan Dewa sibuk bermain di ruang tamu. 
    Tiwi terus melihat di luar jendela, mengintip ayahnya barangkali datag. di luar hujan semakin deras mengguyur. Hingga halaman rumah tergenang air. 
    Wedang untuk Ayah
    “Sedang apa kamu Tiwi?” Tanya ibu mengagetkan. 
    “Ayah kok belum pulang ya bu, di luar hujan deras sekali.” Kata Tiwi 
    “Sebentar lagi ayah juga pulang kok, nggak perlu khawatir. Mungkin ayah sedang berteduh.” Kata Ibu menenangkan. 
    “Iya bu.” Jawab Tiwi. 
    “Assalamu’alaikum.” 
    “Wa’alaikumsalam.” Sahut Tiwi. 
    Tiwi bergegas menuju pintu menyambut ayahnya. 
    “Ayah datang.” Teriak Tiwi. 
    Kedua adiknya ikut berlari menyambut ayah. 
    “Ayah..ayah.” Teriak Dito dan Dewa berbarengan. 
    Ibu turut menyambut ayah juga. 
    “Sudah, biar ayah ganti baju dulu.” Kata Ibu. 
    “Ini ayah ada roti buat kalian, dibagi bersama ya.” Perintah ayah. 
    Dito lansung menyambar kantong plastik di tangan ayah. Berlari menuju ruang tamu, dari belakang dewa mengikuti. Tiwi membantu membawakan tas ayahnya. 
    “Sini biar Tiwi bantu membawa tas ayah.” Kata Tiwi sambil mengambil tas dari tangan ayah. 
    Ayah bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. 
    Setelah dari kamar mandi, ayah ikut bergabung ke ruang tamu. Tiba-tiba ayah berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya. Dito ikut berlari menunggu di depan pintu kamar mandi. 
    “Ayah kenapa?” Tanya Dito setelah ayah keluar membuka pintu. 
    Diikuti Ibu, Tiwi, dan Dewa dari belakang. 
    “Ayah baik-baik saja?” Tanya Tiwi. 
    “Sepertinya ayah masuk angin.” Kata ibu. 
    “Biar Tiwi buatkan wedang jahe madu ya.” Kata Tiwi. 
    Tiwi langsung pergi ke dapur meracik wedang jahe madu untuk ayah. Ibu mengambilkan jaket, sedangkan Dito dan Dewa memijat tangan kaki ayah. Keluarga Tiwi saling mengasihi satu sama lain. 
    Aroma wedang jahe madu tercium sampai ke ruang tamu. Tiwi bisa membuat wedang jahe karena diajari oleh neneknya ketika berlibur kesana. Jadi, sekarang Tiwi mempraktekkannya. 
    “Wedang jahe madu sudah jadi.” Kata Tiwi. 
    “Hore..” Sahut Dito dan Dewa berbarengan. 
    “Ini obat ajaib untuk ayah..wedang jahe madu buatan Tiwi, bisa menghangatkan badan.” Kata Tiwi sambil memberikan segelas wedang jahe madunya. 
    “Terimakasih.” Kata Ayah. 
    “Sama-sama.” Jawab Tiwi sambil tersenyum. Tiwi anaknya yang berbakti kepada kedua orang tua, suka membantu ibu menjaga adik-adiknya dan membersihkan rumah.

    Penulis:
    Ani Marlia [Div Kaderisasi FLP Jawa Timur]

  • Tentang Bilik Berdawai yang Menunggal

    Flpjatim.com,- Belum lama sejak kepergiannya, kota sudah menyambut virus baru. Kali ini lebih mencekam. Jika masalah pelik yang diakibatkan angka belasan terakhir itu sudah jinak, virus baru ini nampaknya akan lebih jadi pembangkang tingkat dewa. 
    Kabar buruknya, ia tidak akan mengacak-acak organ tubuh dan menimbulkan gejala medis kasatmata. Dengan presisi lebih akurat, ia menyasar syaraf otak seseorang. Bertugas mengambil alih. Oposisi terburuk yang tak kentara. Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih pulas. Tersaput oleh hiruk-pikuk harian. 
    Tentang Bilik Berdawai yang Menunggal

    Kabar baiknya, beberapa sudah menyiapkan diri. Makhluk mungil tak kasat mata yang menggemparkan dunia itu memberikan kenangan termanis bagi yang lulus. Bingkisan istimewa bagi mereka yang mau menepi, menggali realitas. 
    Berkontemplasi dengan realitas bagi Lasat tak lagi menjemukan karena dirinya dinobatkan sebagai “subjek nol”. Tidak dari pemerintah atau organisasi, melainkan berasal dari dirinya sendiri. Lasat berani menyematkan julukan itu karena hanya dirinya saja di kotanya yang menyadari perubahan pasca hantaman pandemi itu. 
    Menafahus realitas ala Lasat diawalinya dengan mendaratkan pantat di atas batang besi halte. Matanya tajam menyelidik bilik yang dahulu dibiarkan mengenaskan dilahap karat dan lumut yang meranggas. Dan, detik ini keberadaannya justru jadi dambaan. Sebagaimana orang-orang nirponsel dahulu membutuhkannya. Ialah sepetak ruang berbentuk balok tegap berdinding kaca yang menyimpan dawai di dalamnya. 
    Hebatnya, seisi kota kini kompak berikrar memerlukannya! Miris. Tapi kenyataan mencengangkan adalah lawakan paling jenaka bagi Lasat. Bagaimana tidak, dahulu mulutnya berbusa mengobral peringatan, namun kota sekongkol menjulukinya majenun. Giliran virus itu sudah menancap, kota tak kenal malu menelan ludahnya sendiri. 
    Sungguh, bodoh sekali mereka. Membiarkan virus itu mengelabui mereka hingga membutakan mata. Lihat, kerumunan itu mulai terbentuk di depan bilik. 
    Jas, tuxedo, pantofel berkilau, rambut rapi mengilap, baju dinas warna kecoklatan, kemeja yang didesak masuk celana panjang, blus rapi, bibir merah menggoda, sepatu high heels, tas jinjing dencan cap internasional berbandrol selangit, mobil-mobil elok dengan keangkuhan yang sengaja disematkan, adalah atribut yang melekat pada mereka. Bukan main. Sudah macam panggung kompetisi unjuk gigi. 
    Bilik berdawai menjanjikan perubahan bentuk fisik. Menyulap wajah-wajah malang jadi cemerlang. Akan tetapi, kenikmatan itu sekejap mata saja. Karena para pengunjungnya harus kembali lagi sebanyak lima kali sehari—dan kadang ada yang lebih. Rupanya mereka tak berat hati menyemai sabar dalam untuk antre. 
    Hasil penggalian realitas Lasat berikutnya menyediakan data baru: kalut mulai membungkus kota. Meskipun demikian, gejala yang ditimbulkan bilik berdawai itu tampil secara tersirat. Sepasang mata lahiriyah tak mampu menangkapnya. Namun, memiliki kemauan bermakrifat fenomena itu akan sangat kentara terlihat. 
    Tempo hari, seorang kawan Lasat mengeluh. Alih-alih basa basi, salah salah satu bos perusahaan besar di ujung sana sampai hati mencampakkannya tanpa sepeser pun. Padahal puluhan kilometer dia tempuh demi menemani si bos menuntaskan urusannya. 
    Teman perempuan Lasat yang bekerja—dengan keterbatasan pilihan—menjadi penjaja di “gang” sudut sana juga menyambat. Tega sekali eksekutif berdompet tebal itu tidak mencabut dua-tiga lembar merahnya. Pergi begitu saja dia dengan kelegaan semu yang baru didapatkan. Tiga jam membersamainya seakan tidak bermakna apa pun. 
    Dengan dalih bahwa seorang nenek berbaring kelelahan di trotoar, seorang wanita bergaya metropolis berani-beraninya mendaratkan sepakan di wajah nenek itu. Kata si wanita berbau parfum kelas dunia itu kaum mereka hanya menyampahi kota. 
    Kesumat pun melumat sabar yang sempat memenuhi dada Lasat. 
    Pagi berikutnya, di halte yang bersebrangan dengan bilik berdawai pertama, Lasat tidak sendiri. Seorang pegawai berbaju dinas kusut yang baru keluar dari warung kopi samping halte menemaninya. Mengajaknya bertukar pikiran. Selagi tidak ada sidak, dirinya aman-aman saja. 
    “Aku tidak pernah melihatmu memasukinya.” Kata si pegawai berbaju dinas kusut itu menunjuk bilik yang baru menyulap seorang pria dari dalamnya. 
    Lasat tidak menemukan ketertarikan dalam pembicaraan itu. 
    “Caranya mudah. Tancapkan saja dawai ke salah satu bagian tubuh. Dan tunggu sejenak. Nanti akan terasa aliran lembut mengalir. Kalau sudah, rasanya badan enteng sekali. Pikiran jernih. Lega.” Kata si pegawai berbaju dinas itu mencerocos soal pengalamannya menggabungkan diri dengan bilik berdawai itu. 
    Ketika pegawai berbaju dinas itu beralih mengumbar keluhan, Lasat sengaja melewatkan bagian itu. Baginya, sehebat apa pun bilik itu tidak sebanding dengan air hitam pekat nan pahit yang ada di sakunya. Ramuan yang mendiami tabung berukuran seratus mililiter itu memiliki kesamaan fungsi dengan bilik itu. 
    Selain karena ramuan itu adalah titipan, Lasat menyakini bahwa ramuan itu adalah segalanya untuknya. Atas dasar itulah dia berani mempertaruhkan nyawa sekalipun demi melindunginya. Sebagaimana yang pernah dia lakukan kepada salah bingkisan terindah Langit untuknya, mendiang istrinya. Almarhumah istrinya harus pulang lebih awal akibat wabah dengan angka belasan terakhir itu. 
    “Kau tidak ingin mencobanya?” Pria berbaju dinas itu mengacau nostalgia. 
    Dengan tatapan yang masih melekat pada bilik di seberang, Lasat menggeleng. 
    Sejak duduk bersisian dengan Lasat, mulut pria itu tak henti berdecak. Permen karet dalam mulutnya mengajak giginya berdansa. “Rugi kau tidak mencobanya.” 
    “Aku tidak tertarik. Lagi pula, waktuku tidak banyak.” 
    “Bah! Lima menit saja tidak ada!” Permen karet pria itu nyaris melompat. 
    “Justru kau yang rugi terus melekatkan diri kepadanya, Kawan.” 
    Setelah meludahkan permen karet hambarnya, pria itu menatap Lasat. Bertanya, “Bagaimana kau bisa hidup tanpanya, Bung?” 
    Sebagai jawaban, Lasat hanya menyeringai. Membiarkan pria berbaju dinas itu mencerna kalima terakhirnya. “Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja.” 
    Lelaki itu tersenyum kecut. Lantas saat seorang temannya memanggil, dia berseloroh pamit. Menjelang tengah hari, antrean itu semakin mengular panjang. 
    *** 
    Bilik berdawai itu makin menggila. Ke sudut mana pun mata berpaling petak balok berkaca itu berdiri mengejek Lasat. Kurang ajar sekali mereka. Berani-beraninya menggandakan diri secepat ini. Buruknya lagi, pengunjung makin hari makin tak terhitung. Mana peduli berapa lama menunggu selama giliran itu tiba. 
    Meskipun biaya penggunaannya tidak murah, pengunjung sepertinya tidak mengindahkannya, sama sekali. Tarip ditetapkan berdasarkan seberapa lama tamu mendiaminya. Uang yang masuk akan diproses sebagai upeti. Ke mana mengalirnya uang itu, Lasat tidak peduli karena bilik berdawai sialan itu sudah memusingkannya. 
    Matahari beranjak tumbang. Menjelang petang, alias kesempatan keempat untuk isi daya, nuansa yang hadir dari ratusan orang itu makin pekat. Tidak ada wajah yang absen dari gurat kusut. Semua tampil dengan sisi paling muram masing-masing. Berduyun-duyun menggotong sambatnya sendiri-sendiri. 
    Istri yang rajin mengeluh karena gaji kecil suami, suami yang kelimpungan membayar cicilan, anak yang merengek minta dibelikan motor, pacar yang merintih minta tanggung jawab, penantian jodoh yang tak berujung, karier yang mandek. 
    Memang, fenomena itu menggelikan. Kendati dada Lasat tersayat olehnya. Lagi-lagi—dan akan selalu begitu—matanya kelilipan. Kalau sudah begitu, tiba saatnya Lasat meneguk ramuan hitamnya. Sebagaimana mereka. Jatah yang keempat kalinya hari ini. Ramuan yang rasanya seperti akan membunuhmu itu berasal dari guru Lasat. 
    Dua puluh lima tahun silam, ketika Lasat sibuk mengejar-ngejar mendiang istrinya, gurunya memberi ramuan itu. Sebelum memindah tangankan ramuannya, guru Lasat terlebih dahulu membeberkan soal cenayangnya. Mimpi tentang dirinya yang hanyut dalam banjir raksasa yang melibas kota. Guru Lasat ini bukan sembarang orang. Mimpi-mimpi beliau adalah keniscayaan. Bocoran dari Langit atas rencana-Nya. 
    Guru Lasat menuturkan bahwa banyak orang yang tidak selamat. Katanya, itu adalah ganjaran atas dunia yang seharusnya digenggam, tetapi justru didekap erat. Oleh karena menjadi satu-satunya yang bertahan dari bencana itu, beliau tak segan menumbalkan nyawa demi orang-orang. Hebatnya, beliau berhasil mengentaskan banyak orang. Sedikit saja yang luput. Ramuan itulah yang memberikannya mukjizat itu. 
    “Berapa ton gula kau tuang, rasanya tidak akan pernah berubah.” Kata guru Lasat yang sudah mendapat banyak anugerah hebat selama tujuh puluh tiga tahun. 
    Lasat menatap botol kaca itu lamat-lamat. Apa sebenarnya benda ini? 
    “Gunakan itu.” Suara gurunya lembut menerobos telinga. “Kalau mau selamat.” 
    “Ini harus diminum nggih, Mbah?” 
    Dengan sarat kebijaksanaan guru Lasat mengangguk. “Minum itu lima kali sehari. Total tujuh belas kali. Dua kali sebelum matahari terbit. Empat kali di tiga waktu berbeda: sebelum matahari pada puncaknya, sebelum cahayanya lenyap di barat, dan saat bulan benderang bersama bintang. Tiga kali sisanya saat jingga melukis langit. Kalau lupa atau terlewat, segera tebus! Minum dua kali teguk di satu waktu.” 
    Telinga Lasat menajam. Mencatutkan petuah itu di kepalanya. 
    “Pagi adalah saat paling genting. Jika kau melewatkannya, kau tidak berhak menebusnya di tengah hari. Begitu pun malam hari dengan paginya. Tidak penting mengapa. Pesanku, berhati-hatilah dengan rayuan yang akan mendatangimu. Ia akan selalu mengintaimu dimana pun. Mencari celah saat kau lengah.” 
    Di ujung kalimat gurunya itu, Lasat total sadar. Betapa berharga dan krusialnya benda sejengkal tangan pemuda itu. “Baik, Mbah. Demi Zat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, aku akan menaati njenengan.” 
    “Satu lagi.” Sela guru Lasat yang kumis dan jenggotnya memburai. “Itu HANYA PERANTARA SAJA. Kendalinya ada di dalam kepalamu dan di balik dadamu. Gunakan keduanya sebaik mungkin. Abaikan apa pun yang menggoyahkan. Jaga baik-baik ramuan itu. Dan, selalu sediakan waktu untuk ngiling-ngiling—mengingat-ingat.” 
    Percakapan itu berakhir dengan anggukan sarat kesanggupan dari Lasat. 
    *** 
    Menenggak ramuan itu sehari sebanyak lima kali bukan perkara mudah. Meski sudah menetapkannya sebagai kebutuhan, Lasat selalu mengerahkan energi besar meminumnya. Walaupun, sensasi ‘menyegarkan’ itu hanya muncul saat bergesekan dengan lidah saja. 
    Dampak yang diperoleh memang sama dengan sensasi mengunjungi bilik dawai itu. Badan terasa begitu ringan. Kepuasan menyesaki dada. Bedanya, ramuan ini menguatkan batas tepi yang tidak lagi harus dibobol. Sehingga, tumbuh rasa tidak dapat pun, tidak ada masalah. Ah, tiada kenikmatan dunia terbaik selain perasaan seperti itu. 
    Saat berjalan menuju halte di hari kesekian, Lasat begitu benderang. Menyingkap gelap yang membungkus kota yang ditelan kelam. Dirinya tampil—dengan kaos hitam, celana training abu-abu, dan sandal japit, dan rambut bergelombangnya—di muka umum membawa serta wajah paling menyenangkan. 
    Pancaran dari Lasat seakan mengolok mereka yang sakunya tak muat dijejal uang, mereka yang punya wewenang tak kurang-kurang, atau yang kaum selalu diliputi gamang. Tengoklah, tulang punggungnya jadi bengkok. Nyaris seperti berpunuk. Daging yang kian menipis. Beberapa malah ada yang merasa badannya teriris-iris. 
    Lasat menempelkan punggung di sudut yang diakrabinya. Menyaksikan lagi fenomena memedihkan itu. Apa yang mau diperbuat? Orang-orang itu bebal nasihat. Beberapa waktu silam, Lasat mengoceh seperti dokter. Mengingatkan keterpurukan mereka semua—dan kota ini—karena berlama-lama dari bilik berdawai itu. Alih-alih menimbang gagasan itu, mereka malah menyembur Lasat dengan gelak kencang. 
    Sudah terbalik akalnya, kata mereka. 
    Satu hari lewat lagi, Lasat makin yakin bahwa hanya dirinya dan beberapa kolega jalanannya yang waras. Mereka-mereka yang memilih jalan sunyi. Melemparkan kelezatan yang melambai-lambai di belakang. 
    *** 
    GAWAT! CELAKA SUDAH! 
    Matahari sudah mengintip ketika Lasat sadar ramuan itu nihil membasahi kerongkongannya. Jam pertama terlewat begitu saja. Kelimpungan cekatan menekan Lasat. Aduh, bagaimana? Pagi hari tidak diciptakan berpasangan dengan waktu yang lain. Celaka sudah! Bagaimana ini? 
    Lasat memperhatikan baik-baik kondisi badannya. Meraba-raba. Syukurlah, tidak ada sesuatu yang terjadi. Tidak. Mungkin, belum waktunya. Sekarang sudah akan masuk tengah hari. Apa yang harus Lasat lakukan? Oh, Tuhan! Mengapa hari ini dia begitu lalai dengan apa yang seharusnya dia kerjakan? 
    Buru-buru Lasat menghubungi teman-teman gurunya. Barangkali ada yang bisa memberi solusi. Telepon satu per satu diangkat. Harapan Lasat terpenuhi. Namun, tidak ada yang memuaskan. Semuanya bilang tidak apa-apa. Ah! Yang benar saja. Gurunya tidak pernah mengatakan bahwa itu tidak apa-apa. 
    Dalam keadaan beringas akan penjelasan, Lasat memutuskan minggat. Kali ini, tanpa “perisai” apa pun. 
    Lasat berjalan memburu. Napasnya pendek-pendek. Jelalatan matanya mencari jalan menyibak kekacauan. Akibat dari bejibunnya orang-orang yang ganas menjotos. Ketenangan yang selama ini terawat sudah sekarat. Kalut pun kompak berduet dengan maut. Izrail kini sudah mengepung setiap kawasan bilik berdawai itu. Menunggu aba-aba Langit untuk melaksanakan tugas. 
    Lasat tak merasa cukup waktu menggali realitas lagi. Kemelut sedang membungkus dadanya. Dan, waktunya sempit. Dengan keadaan sepelik ini, peluang lolos dari belenggu lautan manusia yang meruah di jalanan ini membingungkan. Kendati begitu, Kaki Lasat terus melesat memburu rumah gurunya. 
    Mungkin virus pandemi itu nelangsa menyaksikan ini. Sepeninggalnya, bukannya malah membaik. Justru semakin porak-poranda. Padahal, kedatangannya adalah untuk memberikan kabar baik. Meskipun mampirnya dinilai sebagai biang keladi. Hari ini kota menjelang tumpat. 
    Nyaris Lasat mengempar dalam ombak manusia yang bergelung itu. Namun, takdir baik memihak dirinya. Meski sempoyongan, Lasat berhasil keluar dari lubang jarum. Udara terasa mendidih. Sempurna hilang julukan kota dingin di sini. 
    Sepanjang sisa jalan, jerit tangis menjejali udara. Teriakan provokasi meraung-raung. Petugas keamanan kewalahan. Tim medis kelimpungan. Siapa orang keji yang menyebabkan virus itu menguasai orang-orang? Erangan-erangan kesakitan menyeruak kemudian. 
    Ingin rasanya Lasat membabat mereka satu demi satu. Berusaha menyadarkan bahwa binatang pun akan tertawa menyaksikan mereka. Namun, dorongan niat itu tumpul. Ada yang lebih penting dari itu. Lagi pula, bicara pada dungu yang apatis hanya mendengangkan kecewa. Menguras energi. Buang-buang waktu pula. 
    Hanya perlu sepuluh langkah untuk Lasat mencapai mulut gang rumah gurunya. Andai saja ada rintangan memuakkan berikutnya, hampir pasti kepala Lasat meledak. Sebab hasrat haus penjelasan sudah menggelegak. Rumah gurunya sekarang sudah sepelemparan batu. Seulas senyum puas menghias bibir Lasat. 
    Namun, tepat ketika itu juga kedua kakinya mengeras. Senyum yang baru mengembang sontak hilang. Bendera putih dengan tanda plus warna hitam menyambar pandangannya. Seseorang sedang berduka. Tapi, siapa? Rasa penasaran menggiring Lasat mendekat. Ketika mendapati lantunan tahlil menggema, dengan kejam firasat menerkam dada Lasat. 
    Tidak. Mungkinkah itu? 
    Mendadak hatinya memburam. Kali ini, Lasat harus sudi memamah kecewa. Untuk melenyapkannya, buru-buru Lasat menyepuk gagasan itu. Tidak. Tidak mungkin. Ini pasti sebuah kekeliruan. Begitu katanya, menghibur diri. 
    Kendati demikian, memang itulah yang disaksikan kedua bola mata Lasat. Gurunya, kakek yang memberinya ramuan hitam pekat yang saat diminum bisa mengundang ribuan umpatan, telentang dengan kain kafan sebagai jubah pamungkas. Matanya lekat terpejam. Bibirnya pucat memutih. Handai tolan membekuk duka. 
    Amblas sudah perasaan Lasat menyaksikan pemilik wajah menenangkan, senyum menyejukkan, kata-kata membahagiakan, atau tatapan sarat kewibawaan meneduhkan hati itu pudar. Tersisa lengkungan manis di bibirnya yang tak merah. Juga tak hitam bekas tembakau. Relik nyata keindahan tutur yang pernah menghiasinya. 
    Sekujur tubuh Lasat gemetar. Bukan lagi kelilipan yang menusuk matanya, melainkan panas. Perih sekali matanya terasa. Hingga waduk di matanya jebol. Menciptakan sungai yang mengalir di kedua pipinya kemudian. Carut menikam Lasat. 
    “Gelombang air yang besar” sebentar lagi akan tiba. Mirip bencana air bah yang dahulu mendesak Nabi Nuh As. membangun bahtera. Mungkin, yang ini akan jauh lebih melantak otak. Memanipulasi hati. Di antara racauan semu dan gema tahlil, telinga Lasat menyambut bisikan lain. Seperti suara rayuan lembut yang menelisik. Situasi ini seakan menegaskan pilihan yang sebaiknya Lasat ambil. 
    Entah mengapa, rasanya bilik berdawai itu terasa menggoda sekarang. 
    Selesai di Malang, 6 April 2020 
    Profile Penulis: 
    Gunung Mahendra, mantan ketua umum Forum Lingkar Pena (FLP) Malang, guru bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Alumnus Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Bahasa Jerman. Antologi cerpen perdananya berjudul Merayu Langit (2017).
  • [Cerpen] – Tiga Tirai

    [Cerpen] – Tiga Tirai

    Flpjatim.com,- Dunia adalah permainan yang menipu. Begitulah yang disampaikan oleh Zat yang Menguasai Seluruh Jiwa. Bukan prediksi, namun pasti. Nihil cacat, sarat akurat. Hampir bisa dihitung jari saja mereka yang mau merenungi dengan hati. Sayangnya, kalau sudah begini siapa yang akan dituding, vertikal atau horisontal?
    Sedikit yang bisa dijamah di tengah kondisi sarat cendala begini. Taruhan bukan lagi nyawa, melainkan keteguhan. Kekuatan meremas bara api. Penguasa hasil undian masal yang dipilih lima tahun sekali itu bertekuk lutut. Pun, dengan sederet kaki tangannya yang melumpuh.
    ‘Pria terbaik sepanjang masa’ sudah mewanti-wanti. Memperingatkan tentang ‘poros tengah’ yang akan—dan sekarang sudah—memanas. Sedikit saja yang bernyali menukar hidupnya dengan petuah itu. Sampai-sampai buaian itu berujung kosong dan mengerjapkan mata mereka. Tepat saat nubuah itu terwujud pada detik pertamanya.
    Sontak, kekalutan menjejali batin. Tumbuh pesat. Menjamur seperti saat musim hujan. Namun, apalah daya? Dilema, tetap dilema. Kalau sudah begini, bisa apa?
    Bukan maksud Langit menjebloskan dalam kekalutan. Kendati inilah kompetisi pencarian bakat paling masyhur. Penghuni lapisan ketujuh memburu lulusan terhebat. Mereka yang sanggup melawan rayuan dahsyat pria yang sudah muncul dari balik persembunyiannya: tiga tirai.
    Satu diantara pendamba kemerdekaan pamungkas itu adalah Luhut. Pelosok desa Sawahan jadi harapan terakhirnya bertahan. Entah untuk menunggu panggilan pulang atau justru menguatkan diri menantang. Dalam sisa waktunya, setidaknya satu hal yang menjejali kepalanya adalah keberuntungan masih memihaknya.
    Resah menggurat wajah Luhut. Dan juga turut serta meriasnya. Matanya lelah meratapi yang lalu. Meski bukan salahnya, itu membuatnya berkedip lelah. Diambilnya gelas dari seng berkarat bekas bapaknya, mencari setetes air di sana. Syukurlah setetes komiditas termahal itu masih tersisa untuk membunuh dahaganya.
    Kemarin-kemarin, penonton konser atau supoter bola kepanasan bisa seenaknya mengemis air. Sekarang, jangankan mengeluh karena selimut dunia merintih, menunggunya saja seperti sedang mendengarkan kisah dongeng.
    Menariknya, kini keberadaannya mampu menghempaskan minyak bumi—yang beberapa waktu lalu jadi rebutan. Menganggurkan kertas warna-warni bernilai gambar wajah kapitan Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, sampai Soekarno-Hatta. Membuatnya senilai lembaran fulus permainan monopoli.
    Usai gersang di tenggorokannya sedikit—sekali—tuntas, linglung Luhut melangkah. Berjalan sempoyongan mendekati jendela. Oh, mungkin ini puncak kemurkaan Tuhan, katanya, menduga-duga—atau lebih pastinya menyakinkan diri.
    Langit tampak mendung. Tunggu dulu, apa itu mendung? Sepertinya bukan. Tidak ada mendung seperti itu sepanjang sejarah. Kalau pun ada, mengapa begitu pekat? Padahal sepagi ini, nyanyian burung tetangga terdengar merdu. Ah, mungkin hanya gerhana. Sebentar saja kembali normal. Deru napas panjang tersembur dari kedua lubang hidung Luhut.
    Tidak ada yang memuaskan Luhut ketika matanya menyapu sekitar. Satu yang dia jumpai hanyalah kemuakan. Dedaunan yang terbungkus warna hitam, tanaman depan rumahnya yang layu, dan jalanan yang banjir “salju” hitam itu mencacinya.
    “Salju” membungkus sekitar?
    Ya, begitulah kurang lebihnya—atau entahlah apa kata para ilmuwan.
    Benda-benda mirip kristal salju itu genap seminggu membekap kota. Intensitasnya meningkat tiga jam sekali. Merobek udara. Tidak hanya itu, kendaraan tertimbun. Membunuh denyut hidup. Kemarin, Luhut mencoba ke luar rumah—hanya ke teras saja—“salju” hitam itu menenggelamkan betisnya.
    Dan sekarang? Pintu depan sudah terdesak ke dalam, tertekan dari luar.
    Adu kuat mata Luhut meladeni tekanan alam terputus saat gangguan datang dari ulu hatinya. Tujuh puluh dua jam dia memblokir jemputan izrail. Bersusah payah menelan keluh. Lambungnya melilit, perih sekali. Terakhir kali usus dua belas jarinya beroperasi adalah Tujuh puluh lima jam silam. Ketika giginya melumat tempe yang separuhnya membusuk. Sisanya sudah berubah bentuk meninggalkan badannya.
    Selain bau menusuk yang hadir semenjak kedatangan “salju” hitam itu, Luhut harus bertahan dari bau busuk menusuk dari dirinya sendiri. Seakan ingin menasbihkan diri sebagai orang mbambung. Terakhir kali badannya segar saat dirinya berjibaku mengerek air dari sumur kerontangnya.
    Seburuknya Luhut, seharusnya dia bersyukur. Nasibnya masih lebih baik daripada para penghuni kota-kota besar yang membuas. Buta mana kawan mana lawan Asalkan lambung sesak dan padang pasir tak pindah ke leher. Pemegang tinta sejarah mungkin berhak mencatat ini sebagai genosida paling buruk dari yang terburuk.
    Udara dingin iseng menyelinap. Membawa aroma menusuk hidung yang lebih buruk daripada aroma pembelot negara. Bulu roma Luhut sontak menari. Getaran mendekap tubuh berdaging tipis Luhut. Sekonyong-konyong, ingatannya terbawa pada masa-masa silam. Jauh sebelum kekalutan ini bermula.
    “Aku tidak mengeri mengapa dia bisa seperti itu.” Kata Ibu pada suatu malam.
    “Tidak usah dipikir.” Jawab Bapak, santai dengan rokok bergambar tempat penyimpanan garam di sela-sela jari manis dan jari tengahnya.
    “Sampean lek ngomong kok ngono—kamu kalau bicara kok begitu?”
    “Nanti aku akan ngobrol dengan Pak Ndhen. Dia kan paham masalah begini.” Asap meluncur dari bibir hitam Bapak. “Nanti juga pasti dia bisa bicara lagi, Bu.”
    Tawaran Bapak tidak lantas melegakan hati Ibu. Meski Ibu bisa menerka ujung setiap pembicaraan serius mereka—bahwa janji Bapak selalu menguap begitu saja, Ibu tetap berusaha. Namun, untuk kali ini Ibu mendesak.
    Sejak berusia delapan belas bulan, puluhan kata yang seharusnya membahagiakan kedua orang tuanya tidak muncul dari bibir Luhut. Hati Ibu dibuat memamah kecewa. Hingga membuatnya sudi mengaitkannya dengan barang gaib. Sebagaimana yang juga menimpa bayi tetangga di kampung sebelah.
    Entah rindu macam apa yang membuat udara dingin itu takluk. Seolah-olah Ibu benar-benar sedang memeluk Luhut, melindunginya. Di sisi lain, dalam benak Luhut, Ibu yakin bahwa ini hanya ujian dari Sang Penguasa Langit dan Bumi. Untuk menilai seberapa tangguh diri kita menghadapi situasi yang—secara pengelihatan eksternal—tidak menyenangkan ini.
    Dan, Ibu melakukan itu tidak untuk menghibur diri, melainkan memang menyakini bahwa inilah jalannya. Bahwa untuk inilah Ibu dihadirkan di dunia: menemani, menjaga, melindungi Luhut. Kendati Ibu tahu bahwa Luhut hanyalah titipan. Namun, dengan diberikannya titipan itulah Ibu selalu belajar menjaga amanah.
    Saat Luhut berusia delapan tahun, dia memutuskan untuk tetap melanjutkan sekolah dasarnya, menuntaskan permintaan orang tuanya. Sebagai wujud penghargaan atas keringat yang tak pernah kerontang dari pelipis Bapak.
    Meskipun peluh dan upah tak mufakat—karena Bapak hanya buruh pengumpul tebu, tekadnya memenuhi permintaan orang tuanya, kakek-nenek Luhut, membuatnya abai terhadap dirinya sendiri. Mana peduli Bapak terik matahari menggosongkan lengan, tengkuknya. Mana peduli bledek menyambar-nyambar mendesak tumbal.
    Di sekolah, Luhut lebih banyak mengatupkan bibir. Mengalihkan pasokan tenaga ke kepalanya yang menampung gagasan di luar dugaan khalayak. Kendati begitu, merah selalu absen dari rapornya. Guru-guru memujanya. Menyebutnya bocah ajaib. Satu sekolah sepakat agar Luhut sanggup berbuat lebih.
    Sesungguhnya, Luhut sudah menjawab tantangan itu. Dengan caranya sendiri. Menstruktur kecemasan yang menjadi labirin di kepalanya: menyiapkan diri akan kedatangan satu di antara tiga pemeran utama di babak akhir. Satu ini yang terlaknat.
    Luhut membangun komunikasi dengan cara tak biasa. Memanfaatkan sepuluh jari tangannya untuk membentuk huruf. Satu jari untuk satu huruf A, dua jari untuk huruf B, dan begitu seterusnya. Mirip tebak-tebakan penjumlahan.
    Saat Bapak libur dari kebun dan duduk di teras bercengkerama dengan rokok, segelas kopi hitam tanpa gula, dan desir angin pedesaan, Luhut akan menjawil paha Bapaknya. Mengisyaratkan kalimat melalui jari tangannya.
    Dengan sabar, Bapak menunggu putra semata wayangnya itu tuntas. Sebagai jawaban, Bapak mengangguk-angguk. Burung Pleci yang bernyanyi di balik sangkar atau mengusir ayam tetangga yang seenaknya memasuki pekarangan adalah selingannya.
    Luhut mendapatkan kepuasan dengan itu. Yakin Bapaknya mengerti maunya.
    Suara ketukan pintu dari luar mengamblaskan nostalgia Luhut. Secepat suara itu datang, secepat itu pula dia menelan ludah. Cemas menerkam dadanya. Apakah ini sudah saatnya? Entahlah. Jawaban itu hanya akan didapat dengan membuka pintu.
    Butuh usaha keras untuk menghimpun nyali. Bukan karena Luhut merasa kerdil memastikan jawabannya, melainkan lebih pada gugup. Bisa jadi inilah ujung dari pertemuan yang dia dambakan. Hei, bukankah sejak pertama merengek pasca berojol dari perut Ibu dia sudah memantapkan diri untuk ini?
    Setelah sepuluh langkah, Luhut tiba di pintu. Dengan getaran yang menjalari tangan kanannya, dia meraih gagang pintu kayu lapuk rumahnya. Setelah meminta ampun kepada Sang Penguasa Jiwa dan memohon pertolongan, Luhut menariknya ….
    Benar saja.
    Pria itu, dengan segenap kedigdayaan berdiri di sisi lain pintu, tersenyum.
    Saat bertukar pandangan dengannya, seketika alur pikiran Luhut menyepakati berbagai gagasan yang selama ini merampas jam tidurnya. Betul. Akurat sekali. Memang dia. Yang setelah peristiwa sarat keagungan Langit itu, dia muncul lagi. Jelas, rangkaian adegan dalam hidupnya adalah untuk menuntunnya menyongsong momen ini.
    Dengan penuh kepercayaan diri, Luhut langsung menjebol dinding pembatas bibirnya. “Untuk apa aku harus memercayaimu?”
    “Kuakui kau hebat,” jawab pria itu. “30 tahun membungkam mulut, akhirnya.”
    “Jangan mengalihkan pembicaraan!” Luhut menguatkan suaranya.
    Pria itu mendengus. “Bukan urusan mudah menemukanmu, tapi aku berhasil.”
    Luhut tidak pernah mendapat kesempatan menyaingi kalimat itu karena mulutnya terkatup. Pasokan cercaan selanjutnya yang sudah dirancang kepalanya tertahan di ujung lidah. Semua itu demi mendengar si pria di hadapannya berkata, “Aku tidak hanya punya apa yang kau butuhkan,” Rambut gondrong ikal pria itu berkibar terkena angin. “tapi, juga apa yang kamu mau.”
    Dari penampilannya, pria itu bukan darwis. Atau, mayat hidup haus darah yang berkeliaran demi menyumpal perut. Selain itu, tidak ada raut calon pengidap hipotermia di sana—mengingat pakaiannya sangat santai: kaus dan celana jins saja. Sakti sekali orang ini. Orang? Sepertinya itu sebutan yang salah. Tepatnya, makhluk.
    “Aku tidak percaya padamu!” Lolos sudah kalimat tertahan Luhut.
    Si pria mengembuskan napas. “Tidak ada pilihan yang lebih baik daripada ini.”
    “Sampai mati pun aku tidak akan mau!” Sergah Luhut.
    “Tidak ada lagi yang bisa menolongmu.”
    Luhut bersiap membanting pintu ketika pria itu kemudian berkata lagi, “Percakapan ini ternyata membosankan. Ingat, aku punya sesuatu yang selama ini kau inginkan. Bahkan, lebih dari itu. Yang kau butuhkan juga ada.”
    Ludah menggelinding di balik leher Luhut.
    Ketika pria itu menelengkan kepala, Luhut mendadak terseret, menimbang-nimbang. Gawat! Runtuh sudah garis batasnya. Pendiriannya kukuhya tumbang. Entah jenis kaki tangan penguasa imitasi apa yang sukses menikung hati Luhut. Membuat bibirnya bergetar, matanya nanar, lidahnya kelu—untuk menuruti keteguhannya sendiri, dan membelokkannya menjadi, “Eh … aku … aku ingin ….”
    Kalimat itu tidak pernah tuntas karena pria di hadapannya itu terlebih dahulu mengangguk dan menimpali, “Masih banyak tempat lain yang perlu kukunjungi. Kita bisa membicarakannya selama perjalanan. Setidaknya, untuk mengusir kebosanan.”
    *
    Malang, Desember 2019

    Profil Penulis:
    Gunung Mahendra, mantan ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Malang, guru bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Alumnus Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Bahasa Jerman. Antologi perdananya berjudul Merayu Langit (2017).