Cerpen: Jarik

3
352
ilustrasi: WallpaperBetter

Oleh: Muflichal Laili

Kanvas putih raksasa memayungi bumi berpoles warna  abu-abu.  Tanpa jeda panjang warna kehitaman segera menggantikannya. Motif mendung gelap bergumpal-gumpal siap menumpahkan butiran air ke kepala kami yang sedang melaksanakan fardu kifayah. Aku berharap cuaca sore bersahabat, agar kami tidak berbasah kuyup

Kecemasan akan turunnya hujan tampak pada wajah-wajah pelayat. Berulang kali mereka mengarahkan pandangan ke angkasa raya yang semakin menghitam.  Terlebih kami yang tengah melakukan prosesi memandikan  jenazah. Ya, jenazah Dinda, adikku.

Saat ini tubuh Dinda berada di pangkuanku tanpa nyawa. Tampak warna biru kehitaman di sebelah kiri wajahnya. Beberapa jari tangan kirinya kaku. Aliran listrik yang mengalir ke tubuhnya menyebabkan dia meregang nyawa. Tak bisa lagi aku menangis. Habis sudah rasanya air mataku sejak siang tadi, saat berita duka itu aku terima.

Siraman air suci mengalir di jasad Dinda, kutahan rasa sesak menggumpal di dada. Kuamati, kuelus, dan kudekap tubuh adikku selama proses memandikan. Dekapan terakhir. Masih sulit kupercaya bahwa adikku sudah tak bernyawa. Berkali-kali kuamati wajahnya. Matanya tetap terpejam, bibirnya terkunci, tak ada reaksi. Aku hanya bisa menyentuh jasadnya. Ruh adikku telah kembali kepada pemilik-Nya.

***

“Mbak Bening, jika Ibu sewaktu-waktu “tidak ada”, sebaiknya dibawa ke rumah Mbak saja, ya.” Kata-kata Dinda membuatku terperangah. Dia berandai-andai Ibu meninggal. Apa maksudnya membicarakan kematian Ibu? Pembicaraan Dinda melintas di telingaku.

Memandikan jenazahnya dalam pangkuan, membawa ingatanku pada obrolan dengan kami  beberapa bulan lalu. Menurut Dinda, Ibu tidak dapat mempertahankan hidupnya karena usia beliau sudah tua dan kondisi kesehatannya terus menurun. .

“Keterlaluan, tega sekali Dinda kepada Ibu,” protesku dalam hati saat dia menyampaikan inisiatif tidak masuk akal. Aku  hanya menilai adikku tidak sayang pada Ibu. Seolah dia menghendaki Ibu segera meninggal. Dinda memikirkan perlengkapan pengurusan jenazah, anggapnya Ibu tengah menghadapi sakaratul maut saat itu.

“Nggak memungkinkan, deh, Mbak, kalau selamatan di sini.” Dinda sudah merencanakan selamatan kematian Ibu diadakan di rumahku karena jika dilaksanakan di rumah Ibu akan merepotkan. Segala perabot kebutuhan masak-memasak harus mengambil dari rumahku.

“Kue dan nasi untuk kenduri, memasaknya, kan, di rumah Mbak Bening. Jadi,  lebih baik acara pengajiannya dilaksanakan di sana juga,” saran Dinda semakin di luar nalar. Dia mengusulkan segera menyiapkan perkakas yang dibutuhkan untuk selamatan kematian Ibu, padahal Ibu masih ada bersama kami.

“Mbak Bening, aku sudah beli jarik. Seminggu yang lalu, aku beli dua, kemarin aku beli lagi dua,” katanya sambil menunjukkan empat lembar kain jarik yang dia simpan di almari di kamar belakang. Ibu tidak tahu tentang kain jarik itu, karena kamar tersebut tidak pernah digunakan Ibu. Anak, menantu, dan cucu Ibu-lah yang menempati jika kami bermalam di sana.

Obrolan terjadi saat kami menjenguk Ibu dan Bapak. Sebelumnya, Dinda menghubungi agar aku menemuinya di rumah orang tua kami. Ibu dan Bapak tinggal berdua saja tanpa ditemani siapa pun. Jadi, jika Dinda memikirkan tentang kerepotan masak-memasak untuk kenduri tidaklah salah. Tapi, tidak saat ini. Ibu masih ada di antara kami sekarang dengan kondisi baik-baik saja.

Aku  hanya menilai adikku tidak sayang pada Ibu. Seolah dia menghendaki Ibu segera meninggal. Dinda memikirkan perlengkapan pengurusan jenazah, anggapnya Ibu tidak akan berumur panjang. Semua pemikiran Dinda tidak mungkin kusampaikan pada Ibu. Pasti beliau sedih dan marah jika mengetahui sikap Dinda. Aku menjaga perasaan Ibu.

***

“Mas, aku nggak nyangka Dinda berbuat seperti itu pada Ibu. Tega sekali dia menganggap Ibu akan segera mati.”

Mas Hendro menyimak gerutuanku saat kami duduk santai di teras. “Maksudnya bagaimana, mengapa adikmu punya pikiran seperti itu?”

“Dinda menyampaikan padaku agar menyiapkan perabot yang dibutuhkan untuk selamatan kematian Ibu. Beberapa lembar kain jarik untuk menutupi jenazah Ibu pun telah dia beli. Disimpannya jarik-jarik itu di rumah Ibu tanpa sepengetahuan beliau. Menurut kamu bagaimana, Mas? Aku nggak habis pikir!”

Mas Hendro mendengar penjelasanku tanpa reaksi. Tapi, aku yakin dia juga tidak berterima dengan jalan pikiran adikku.

***

Prosesi memandikan jenazah masih berlangsung. Aku dan kerabat dekat terlibat dalam kegiatan tersebut. Tabir berwarna hitam menutup rapat wilayah prosesi. Ibu duduk di teras didampingi Yu Siti menyaksikan jasad putrinya disucikan. Aku yakin dia pasti menghibur dan membesarkan hati Ibu.

Kepedihan Ibu kehilangan putri bungsunya sangat terlihat, meskipun tangisnya telah reda. Tatapannya hampa. Sesekali beliau mengusap lelehan air yang mengalir dari sudut matanya.

Pandanganku tertuju pada benda yang ada di pangkuan Ibu. Benda yang disembunyikan Dinda dari Ibu. Salah satu kain jarik pembelian Dinda telah digunakan untuk menutupi jasadnya. Mengapa Ibu bisa membawanya dan menutupkannya pada jenazah putrinya? Siapa yang memberikan jarik itu pada Ibu?

Proses memandikan dan mengafani jenazah selesai. Ibu mendekati jasad Dinda dan mengelusnya. Beliau nampak menahan agar air matanya tidak runtuh. Aku dan Zahra–putri sulung Dinda–mendekap Ibu, berusaha saling memberi kekuatan untuk melepas kepergian orang yang kami cintai.

Jenazah siap disalati. Pak Modin meminta kain untuk menutupi jenazah. Ibu segera menyodorkan benda yang sejak tadi beliau pegang. Masih tersisa tiga lembar kain jarik pembelian Dinda. Warna  senada dengan motif beragam. Pak Modin menutupi jenazah Dinda dengan kain jarik yang bermotif parang.

Di antara kekhusyukan dan kefasihan Pak Modin mengimami salat jenazah, aku masih dikelilingi tanda tanya tentang kain jarik itu. Kulihat Ibu berbincang dengan beberapa pelayat. Samar-samar kudengar, Ibu menjelaskan peristiwa kematian putrinya. Suara Ibu lancar keluar, menunjukkan keikhlasan atas musibah yang kami alami.

Gumpalan hitam di langit mulai jebol pertahanannya. Gerimis turun. Keranda telah disiapkan untuk mengusung jenazah adikku. Selembar kain jarik diselimutkan pada jenazah, dan dua lembar lainnya ditutupkan pada keranda. Sebagai penutup keranda paling atas, kain berwarna hijau dengan hiasan tiga roncean bunga. Mendung tak lagi dapat menampung butir-butir hujan. Dalam cuaca gerimis, diiringi kalimat tahlil, jenazah Dinda diberangkatkan ke pemakaman.

Belum lagi separuh perjalanan  ke pemakaman, hujan turun. Para pengantar jenazah terus melanjutkan kewajibannya. Hujan lebat terus mengguyur saat proses pemakaman. Pikirananku kembali pada tragedi kematian adikku.

***

Dinda tewas karena tersengat aliran listrik. Sedih tidak kepalang  mendengar kisah kematian adikku, terlebih Ibu. Kematian Dinda adalah jawaban atas protesku pada sikapnya terhadap Ibu. Apakah itu yang dinamakan firasat? Ataukah Dinda mempunyai kelebihan membaca masa depan,  hingga adikku memiliki pemikiran tentang kematian Ibu?

Aku tidak paham tentang tanda-tanda orang yang akan meninggal. Mungkin, inilah cara Allah mengingatkan padaku melalui inisiatif Dinda menyiapkan segala keperluan untuk sebuah kematian. 

Melalui tindakannya, Dinda seolah menitipkan Ibu dan Bapak sepenuhnya padaku. Apakah karena dia tidak ingin direpotkan dengan kondisi Ibu dan Bapak sehingga Allah memanggilnya terlebih dahulu?

Kembali soal kain jarik. Saat di tangan Ibu, jarik itu masih terbungkus rapi dalam plastik. Bagaimana cara Ibu mendapatkannya? Bukankah almari tempat kain jarik itu tersimpan dalam keadaan terkunci?

 “Tiga hari yang lalu, adikmu menjenguk Bapak. Ibu tidak menyangka kalau hari itu adalah hari terakhir kami ngobrol.” Cerita Ibu mengharuskanku serius menyimak. Apakah Ibu akan bercerita tentang kain jarik? Kenangan Ibu tentang putri bungsunya beliau ceritakan setelah para pelayat tidak lagi memenuhi rumah adikku.

“Dia mengatakan pada Ibu bahwa besok tidak bisa menjenguk karena akan pergi ke luar kota,” Ibu melanjutkan ceritanya. “Adikmu juga berpesan agar Ibu jaga kesehatan supaya bisa merawat Bapak.” Suara Ibu mulai serak, hidungnya memerah, dan matanya basah. Isaknya kembali terdengar, lirih.

Ibu bercerita  banyak tentang kedatangan Dinda ke rumah beliau. Kata Ibu, Dinda menyempatkan istirahat di kamar belakang. Kamar tempat dia menyimpan kain jarik. Sambil rebahan, Dinda menceritakan tentang persiapan pernikahan putri sulungnya, Zahra. Tiga bulan yang akan datang, cucu Ibu akan menikah. Dari cerita Dinda, Ibu tahu bahwa semua kebutuhan resepsi pernikahan dan suvenir sudah siap.

***

Hujan masih turun deras. Sementara para pengantar jenazah belum juga kembali. Waktu sudah mendekati magrib. Gemeretak air hujan menimpa atap rumah dan dentuman halilintar membuatku semakin terpuruk dalam kesedihan. Bumi dan langit seolah ikut merasakan kepedihan kami.

Azan magrib berbaur dengan suara hujan. Bertepatan kepulangan Mas Hendro, Dik Andi, suami Dinda, dan pelayat lain dari pemakaman. Kondisi mereka basah kuyub. Sandal dan kaki kotor diselimuti tanah.

Hujan belum reda, udara dingin. Mulai malam ini adikku tidur untuk selamanya di liang lahat. Kembali aku ingat semua angan-angan Dinda beberapa waktu lalu tentang persiapan sebuah kematian. Saat bersama Ibu tiga hari lalu, dia pasti tidak menjelaskan tujuannya membeli kain jarik.

Keluarga besar kami berkumpul. Perbincangan masih seputar kenangan-kenangan ketika Dinda masih ada hingga tragedi memilukan yang menimpanya. Ibu tidak segera tidur setelah acara pengajian. Di antara kepedihan dan lelahnya, beliau melanjutkan kisahnya bersama adikku tiga hari lalu. Aku menemani Ibu beristirahat di kamar.

“Dinda pasti lupa mengambil ini.”  Ibu menunjukkan kunci almari padaku.

“Ibu menemukannya tergantung pada pintu almari di kamar belakang. Sengaja Ibu membukanya, karena Ibu kan sudah lama tidak menggunakan kamar tersebut. Jadi, Ibu ingin tahu isi almari tersebut. Ternyata ada empat kain jarik masih terbungkus plastik,” cerita Ibu sambil menangis.

Tanpa rasa curiga, Ibu mengambil dan berencana menanyakan pada Dinda tentang siapa pemilik kain jarik tersebut. Belum sempat Ibu melaksanakan niatnya, kami menerima kabar duka meninggalnya adikku. Ibu segera membawa kain jarik ke rumah Dinda.

“Dia membutuhkannya sekarang.” Ibu  menunjukkan kain jarik itu padaku. Beliau  yakin, Dinda tidak mempunyai jarik atau kain panjang, apalagi untuk persiapan upacara kematian.

Saat dinyatakan sudah tidak bernyawa oleh petugas kesehatan, Ibu-lah orang pertama yang menutupi jenazah Dinda dengan kain jarik tersebut. Ibu tidak akan pernah tahu, jika kain jarik itu dipersiapkan untuk dirinya.

***

Muflichal Laili adalah anggota FLP Jombang. Penulis adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Plandaan Jombang. Tulisannya pernah dimuat dalam antologi cerita inspiratif. Punya cita-cita “Bisa berbagi melalui tulisan”.

Konten sebelumnyaSekolah Terbuka Usahakan Al-Qur’an Hafal (STUAH)
Konten berikutnyaFLP Kediri Sinergi Satu Aksi dalam Literasi Lintas Desa

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini