Kategori: Cerpen

  • Catatan Hari ini: Perjalanan Pulang

    Catatan Hari ini: Perjalanan Pulang

    Catatan Hari Ini (1)

    Semalam kami sudah menyusun rencana dengan rapi untuk keliling Den Haag; mengunjungi Binnenhof, Lange Voorhout, Madurodam, Mauritshuis, Peace Palace, Paleis Noordeinde, dan jika tak lelah kami sempatkan ke De Passage sekadar membeli mantel dan sarung tangan buat si kembar Elmar dan Elmira.

    Aku dan Hans sepakat naik sepeda, trem, dan kereta untuk sampai di Den Haag, sedangankan yang lain beriringan naik mobil, dan akan bertemu di titik kumpul De Pier.

    Ada banyak alasan mengapa aku memilih jalan susah untuk sampai di Den Haag, salah satunya adalah ingin merasakan kembali napak tilas masa itu, dan Hans dengan suka cita ingin menemaniku.

    Ah, memang benar kata banyak orang yang mengenalmu, sayang, Hans yang paling mirip denganmu dari selusin Van Ledegen.

    Den Haag, 26 Februari 2026

    Catatan Hari Ini (2)

    Setelah tarawih bersama, malam ini kami duduk mengelilingi meja panjang sambil menikmati makan malam hasil masakan kedua gadis bontotku; si kembar yang telah beranjak dewasa yang di awal musim semi nanti akan berangkat ke Universete Paris 1 Pantheon Sorbonne untuk mengambil gelar masternya.

    Mataku menyapu satu persatu wajah mereka, ada kelegaan yang menyudup di hatiku; walau mereka lebih mirip bapaknya dengan mata biru, berambut blonde, dan postur tinggi, tetapi mereka tak pernah meninggalkan tata krama Jawa yang aku tanamkan sejak kecil.

    Seperti juga dengan bapaknya, mereka menghormati aku ibunya dengan selalu menggunakan Bahasa Jawa jika bertutur dalam keluarga dan selalu santun dalam bersikap.

    Mereka memang terlahir bukan darah murni, namun nilai-nilai luhur telah mengurat nadi dalam diri, kecintaan pada Nusantara boleh diadu dengan si empunya darah murni.

    Anak-anakku, terima kasih engkau telah menggenggam erat amanah berat ini, ketika di luar sana telah banyak orang memilih meninggalkannya.

    Den Haag, 27 Februari 2026

    Catatan Hari Ini (3)

    Hampir satu jam terhubung dengan Adrian, teman bisnis yang mengabarkan kondisi terkini di pasar dalam negeri.

    Ada pergerakan politik global cukup hebat yang akan sangat mempengaruhi cepat lambatnya pertumbuhan investasi di Indonesia.

    Dari mulai campur tangan AS pada serangan Israel ke Iran, perjanjian luar negeri RI, hingga kebijakan pemerintah RI yang banyak merugikan rakyat, kami perbincangkan sebagai landasan langkah strategis yang akan kami ambil.

    Pergerakan harga di beberapa komoditi akan naik signifikan di dalam negeri, cukup membuat kami harus waspada.

    Hal yang bisa dipetik; dengan kecerdasan, bisnis memang bisa dikendalikan dari mana saja, tetapi tetap perlu kewaspadaan, ketelitian, ketepatan, ketekunan, dan kesabaran dalam melangkah.

    Den Haag, 28 Februari 2026

    Catatan Hari Ini (4)

    Semalam mendadak kami terpaksa mengubah rencana perjalanan, yang seharusnya hari ini ada pertemuan di Rotterdam akhirnya menempuh perjalanan darat ke Breda untuk menyeberang ke Belgium.

    Sampai di Brussels kami disambut hangat pelukan papa mama yang mencemaskan keadaan cucu dan cicitnya, kami ramaikan taman belakang rumah yang biasanya sepi dengan perbincangan serius tentang kondisi dunia saat ini sambil menikmati barbeque.

    Papa yang seorang peneliti ekonomi makro banyak memberi pandangan tentang langkah-langkah cepat dalam kondisi darurat yang bisa kami ambil.

    Aku selalu menganggap papa mertuaku ini seperti ayahku sendiri mengingat waktu kecil aku tumbuh sebagai anak yatim, karena itu aku selalu mendengar saran dan nasihatnya.

    Tetap sehat ya Pa, agar bisa membersamai kami anak, cucu, dan cicit menghadapi dunia.

    Brussels, 1 Maret 2026

    Catatan Hari Ini (5)

    Seharusnya masih minggu depan berada di sini mengantar gadis kembar bontot ini persiapan studi masternya, namun kondisi memaksa kami lebih awal melepasnya.

    Ada haru dan cemas meyusup di hati ini, apalagi kami harus berpisah dalam kondisi dunia yang sedang penuh ketegangan dan ketidakpastian.

    Namun sedikit lega karena mereka berdua sudah pernah terpenjara dihajar pandemi Covid-19 di negeri orang.

    Teruslah belajar anakku sayang, serap ilmu akademis dan ilmu kehidupan sebagai bekal pengabdianmu untuk Nusantara kita.

    “Pegang teguh imanmu dan jangan pernah lelah mencintai Indonesia”, bisikku di telinga mereka ketika kami berpelukan sebelum menuju Charles de Gaulle untuk menempuh perjalanan panjang ke tanah air.

    Sorbonne, 2 Maret 2026

    Catatan Hari Ini (6)

    Ibuku sayang, agaknya doamu yang melangit setiap hari sudah disambut Sang Maha Mendengar, anakmu sekarang sudah dipelukanmu lagi.

    Namun izinkan aku esok pergi lagi untuk mengulurkan tangan bagi yang sedang jatuh, memberi tongkat pada yang renta, dan menyalakan lentera buat yang sedang dalam kegelapan.

    Izinkan aku, ya Ibu. Karena ternyata di luar sana masih banyak orang yang tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tetapi tidak cukup kaya untuk bernapas lega.

    Surabaya, 3 Maret 2026

    Catatan Hari ini (7)

    Duduk memandang pokok-pokok pohon karet yang telah penuh torehan ditemani Pak Ali dan istrinya.

    Sempat merasa gamang tetap mempertahankan kebun yang tinggal sejengkal atau terus bertahan di tengah persaingan harga di tingkat global, kebijakan tarif impor yang berlaku di beberapa negara dan tak berpihaknya pemerintah pada para petani.

    Getah putih karet menetes per lahan di cawan, seperti tetes keringat para petani karet berharap tolehan empati dari pemangku negeri.

    Pak Ali dan istri melepas kepergianku dengan sedikit asa yang dititipkan dipundakku.

    Riau, 4 Maret 2026

    Ditulis oleh Hd. Aisya, dari Forum Lingkar Pena Surabaya, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim

  • Dokter (santri) yang Meninggal Sore itu

    Dokter (santri) yang Meninggal Sore itu

    Innalilahi wa innalilahi raaji’un! Ini mimpi buruk! Dokter Tulus meninggal? Bahkan lebih buruk dibanding virus ini. Bagaimana bisa lelaki yang menghafal setengah total halaman al-Qur’an meninggal seketika. Allahu akbar

    Duka itu layaknya kilat. Menusuk hampir tiga ratus sekian jiwa di desa terpencil yang berbatasan dengan kota. Duka yang diantar paksa untuk dirasakan pula oleh dua puluh sekian juta jiwa lainnya.  Dibagikan dari Grup WhatsApp kemudian diteruskan ke grup lain kemudian diteruskan lagi. sampai viral di media; Seorang Dokter meninggal karena Wabah. Berita yang seharusnya menyakitkan bagi tiga ratus sekian jiwa di desa terpencil yang berbatasan dengan kota.

    “Jerman Lockdown[1]. Ranti terjebak wabah, tak mungkin kembali saat ini.”

    Pasang-pasang mata memberi komentar kecut. Mbak Ranti putri tunggal Dokter Tulus mungkin meraung di ujung bumi sana. Andai saja jutaan merpati yang ada di negara itu mampu menariknya terbang, mungkin akan ia lakukan.

    Mobil yang aku kendarai memasuki perbatasan desa.

    ***

    Kuburan itu sepi. Makin sepi sebab langit memudar kelabu. Gundukan merah di depanku masih hangat penuh bunga, wangi. Aku yang duduk mendampingi ibuku, ibu angkatku, mencari kata.  Dua laki-laki yang membersamaiku khusyuk dalam doa panjang. Doa yang entah keberapa kalinya mereka ulang panjatkan.

    “Le. Ingat pesan bapak. Jadilah ulama. Ustadz. Ajari anak-anak kampung ngaji, hapalkan Quran. Jadikan Musholah itu rame, Le! Rame karena celotehan bocah yang semangat ngaji. Rame suara ibu-ibu kampung diba’an. Sama bapak-bapak tahlilan. Itu satu-satunya cita-cita Bapak yang ia titipkan padamu.”

    Wanita yang aku panggil ibu, enggan menyeka air matanya. Ia biarkan buliran bening itu luruh menetes, tapi tanganku menangkapnya. Ia tersenyum menyetujui caraku, dalam tangis yang mungkin masih ia tahan.

    Mungkin seperti itu yang Bapak harapkan. Mengantarku pada pesantren, sama seperti dirinya. Cita-cita yang sulit ia wujudkan kala itu. Harapan yang kemudian ia jaga ketika menemukanku. Harapan yang ia bangun hampir bersamaan. Harapan untukku dan mbak Ranti. Bapak yang mengajariku menjadi tulus seperti pengabdian seorang santri, pengabdian manusia pada penciptaNya.

    ***

    Dokter Tulus, seperti namanya. Laki-laki yang memilih pindah ke desa mereka 15 tahun lalu itu diyakini anugerah atas shalawat dan diba’ yang dilantunkan tiap pekan. Desa yang hanya memiliki sebuah masjid tanpa marbot[2] dengan seorang imam sekaligus khatib lanjut usia yang sakit-sakitan. Wajar mereka membutuhkan penerus imam. Sedangkan tanpa sengaja sang dokter suatu ketika menggantikan imam salat jumat. Walaupun tidak menyelesaikan pendidikan pesantrennya karena keharusan mengikuti keluarga menyebrang benua, menjadi santri berhasil ia bumikan dalam dirinya.

    Kisah itu hampir menjadi legenda. Bapak-bapak yang makin menua kala itu makin semangat ngaji[3] di teras rumah sang dokter. Satu-satunya masjid di desa terlalu jauh bagi langkah tua mereka.

    ***

    Dokter Tulus meninggal. Itu saja meremukkan batin. Mungkin puluhan ibu atau anak-anak yang berbau pensil juga sepaham. Dokter yang mengenakan jas putih lengan panjang ketika berkeliling desa ke desa  itu berharga, untukku terutama. Empat belas tahun lalu Allah SWT mengirimkannya untukku. Bocah yang diusir orang tuanya karena perceraian dalam demam tinggi. Tubuh bocahku menggigil di pinggir trotoar di tengah kota.

     “Aku tidak membuangmu. Aku ingin kau bisa paham akidah dan berakhlak layaknya Ahlussunnah wal Jamaah sejati. Desa ini butuh khatib dan imam. Dan yang penting, Mushola yang aku wakafkan itu bermanfaat.”

    Katanya suatu sore di pendapa kecamatan desa. Layaknya bapak dan anak, Kami duduk bersebelahan menunggui warga desa yang membantu pembangunan Puskesmas. Kas desa kala itu nihil. Konon, sudah digunakan Bu Carik berangkat haji. Dokter Tulus yang hatinya lembut itu kemudian mendatangkan batu bata, pasir, gamping, juga semen. Benar-benar tulus. Belum lagi orang-orang yang bergantian datang selepas Isya atau menjelang Subuh di teras rumah yang kemudian disulap menjadi klinik sederhana. Bayaran? Dokter hanya menyediakan  kaleng kongGuan dengan tutup mirip celengan di samping pintu masuk.

    Jika pasien sudah jauh, aku merapikan kaleng itu. Menyatukan warna dan gambar yang sama untuk kemudian aku berikan pada ibu angkatku, istrinya. Ia mengikat lembar-lembar berwaran biru dan hijau dalam satu gulungan. Memberikannya pada suaminya yang kemudian memasukkannya dalam tas kulit merek kenamaan. Tidak ada warna merah, tak pernah. Biru itupun tak banyak.

    ***

    Dokter Tulus meninggal. Aku tak bisa memercayainya. Laki-laki yang menghabiskan jiwa dan raganya untuk bersedekah itu berpulang. Bagaimana Allah SWT tega mengambilnya di tengah wabah yang hampir ia taklukkan bersama ratusan jas putih lainnya.

    “Le, pulanglah dulu. Ibumu butuh teman.”  Kiai Soleh, sahabat sang dokter ketika belajar di pesantren.

    Isi kepala yang hampir berasap karena padatnya jadwal ujian reda seketika. Kaca mobil seperti corong. Bahkan suara semut seolah mampu tertangkap telinga.

    “Dokter meninggal.”

    “Desa ini tidak aman.”

    “Dia penyebar wabah di desa.”

    “Aku tak mau memandikan jenazahnya.”

    “Jangan. Jangan dimakamkan di sini. anak cucu kita bisa tertular.”

    “Jauhi keluarganya, mereka penyebar wabah.”

    Remuk. Suara-suara sumbang itu meninggi menggila. Duka ini terlalu dalam, tapi suara mereka teramat tak masuk akal. Bukankah hidup dan mati kehendakNya. Sedang alharhum adalah pejuang garda depan yang sepatutnya dimuliakan.

    “Bagaimana jika itu kau, mau dimakamkan di mana otakmu itu!”

    “Dia itu dokter yang nyembuhin anakmu.”

    “Dia itu yang ngajarin kamu ngaji, kok kamu tega ngomong gitu.”

    Warga desa terbelah. Menjadi dua kubu yang bersiap berdebat. Seperti ajang pilihan daerah, masing-masing memiliki argumen yang dibantahkan satu sama lain. Hampir kehilangan kewarasan, Tak mau mengalah, tak mau dikalahkan. Bahkan dari sesuatu yang belum tentu kebenarannya.

    ***

    Wabah ini membuat sebagian orang ikut kehilangan kewarasan. Virus yang berukuran genom sekitar 27 hingga 34 kilobase[4] yang merusak paru-paru secara cepat telah memakan hampir tiga puluh ribu korban jiwa di seluruh dunia. Bahkan status darurat dibenderakan di hampir pelosok bumi.

    Virus ini mewabah, menjadi pandemi hanya selang hitungan hari. Memaksa tim kesehatan berjibaku dengan waktu. Sedang negara memilih mengobati yang sakit dan terenggah-enggah menekan penyebaran virus berminggu-minggu. Sekolah diliburkan, guru dan siswa dirumahkan. Katanya agar belajar di rumah. Tapi remaja-remaja tanpa seragam masih ramai di pinggir-pinggir kota, di ujung-ujung gang, di pusat perbelanjaan. Berkelakar. Mungkin yang aman hanya santri pondokan. Tembok-temboknya tak hanya melindungi namun juga menetramkan hati manusia agar tetap waras atau panik karena keadaan. Wajar. Sebab hafalan Quran, shalawat, diba[5], dan salat jamaah sejatinya mendekatkan para santri pada sang penciptaNya. Menarik kedekatan hingga hilang rasa khawatir dengan tetap berikhtiar.

    ***

    Mobil yang aku kendarai berhenti di depan teras rumah tanpa pagar dengan rumput hijau yang teratur. Tak ada keranda, tak ada tirai hijau pembatas jenazah, tak ada peziarah. Rumah yang aku singgahi tiap enam bulan sejak pagar pesantren aku lalui, terasa ngeri kali ini.

    “Ham. Ada kita, gak usah sedih atau khawatir.”

    “Kita Keluarga, Ham.”

    Ustadz Hanafi dan Cak Amin, pengantarku sore ini  menguatkan batin. Sedang telinga berusaha melupakan suara-suara yang diterimanya sejak roda kendaraan itu memasuki perbatasan desa. Mungkin ini ujian kehidupan. Bagaimana seorang pejuang kemudian hampir dilupakan. Tentang ketulusan hati yang sering kali dinodai. Hanya seorang yang tulus yang mampu melewati.

    Rumah berpintu gebyok itu ikut berduka. Warnanya memudar sedang bunga-bunga di sekeliling tamannya layu. Mungkin hujan lupa bersinggah. Atau mereka ikut berduka atas kepergian pemiliknya secara tiba-tiba. Seperti wajah wanita dibalik pintu gebyok yang aku kenali. Cantiknya berkerut  seperti kerutan ukiran bunga-bunga dari kursi kayu yang ia duduki. Sama, seperti wanita disebelahnya, mendung.

    “Ilham …” suaranya gemetar, pelan.

    Kakiku menyegera bahkan mendului salam yang diucap ustadz Hanafi. Wanita yang aku panggil ibu, menangis walau tak kudapati air matanya meleleh. Mungkin ia berlinang di tempat lain. Bik Yayuk, perempuan paruh baya yang putranya dibiayai penuh oleh sang dokter, setia menemani.

    Tak ada jenazah. Rumah sakit keberatan memulangkan. Bukan karena virusnya, tapi rasa duka mereka kelewat lebih, terutama tentang kekhawatiran warga. Tapi Allah SWT maha atas segala. Ibu wali kota tempat rumah sakit itu berdiri puluhan tahun lalu itu mengurus ijin pemakaman. Mengenal Dokter Tulus dengan hati yang lembut itu, ibu wali kota menggunakan wewenangnya. Sang dokter yang pendidikan santrinya terputus karena harus mengikuti keluarganya menyebrang benua, dimakamkan di taman makam pahlawan.

    Desa itu hening lebih lama. Tiap-tiap rumah meredupkan petromaxnya. Lirih suara-suara itu keluar dari pintu juga tembok menembus kayu, menembus dinding. Suara-suara yasin yang digemakan untuk satu nama, Dokter yang dulunya bercita-cita menjadi santri dan menghabiskan hidupnya mengabdi. Suara-suara itu menggema, bersatu dalam langit-langit doa, menyimpul mesra, lalu melesat ke angkasa.

    ***

    [1] Karantina (wilayah/daerah/negara)

    2 orang yang bertanggungjawab mengurus keperluan langgar/surau atau masjid, terutama yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.

    3 Mengaji merujuk pada aktivitas membaca Al Qur’an atau membahas kitab-kitab oleh penganut agama Islam.

    4 Satuan panjang setara dengan 1 000 pasangan basa molekul asam nukleat ganda-terdampar.

    5  tradisi membaca atau melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad yang dilakukan oleh masyarakat NU


     

     

  • MALAIKAT DI SEBUAH RUMAH TUA

    MALAIKAT DI SEBUAH RUMAH TUA

    Sebuah rumah kecil yang berdiri seperti kenangan tua di tengah hiruk pikuk kota yang terus bergerak. Rumah itu hanya berdinding kayu, dengan cat putih yang mulai mengelupas, menyisakan warna cokelat kayu asli. Atapnya dari seng tua yang bocor saat hujan deras, dan ada pohon mangga tua di halaman kecilnya, yang dahan-dahannya sering digunakan anak-anak tetangga untuk bermain.

    Bagian dalam rumah itu sederhana. Hanya ada dua ruangan utama: satu ruang tamu yang juga berfungsi sebagai tempat menjahit dan dapur kecil, serta kamar tidur mungil yang diisi satu ranjang kayu beralaskan kasur tipis. Dindingnya dihiasi beberapa bingkai foto keluarga. Salah satu fotonya adalah foto Yoga, anak semata wayangnya, tersenyum lebar dengan seragam sekolah. Di bawah foto itu, ada meja kecil dengan vas bunga plastik yang tak pernah berubah posisinya.

    Tubuhnya kecil dan ringkih, tetapi ada sesuatu yang memancar dari sosoknya: kekuatan yang tak terlihat. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya, dengan garis-garis kerutan yang dalam di sekitar matanya—bekas dari tawa dan tangis yang pernah ia lalui. Rambutnya yang mulai memutih digulung rapi di belakang kepala, dan wajahnya dihiasi senyum hangat yang tak pernah hilang, meski matanya sering menyiratkan kepedihan yang dalam.

    Setiap pagi, ia membawa tas tua berisi kotak nasi dan berjalan menyusuri jalanan kota. Ia menemui mereka yang dilupakan: anak jalanan, penjual tua, pengamen, pengemis, atau orang-orang yang tidur di bawah jembatan. Senyumnya adalah jendela kecil menuju harapan, meski di dalam hatinya, ia memikul luka yang tak pernah ia bagi.
    **
    Sepuluh tahun lalu, hidupnya runtuh. Dunianya mendadak gelap. Anak semata wayangnya, meninggal dunia dalam kecelakaan tragis. Anaknya mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir tertabrak truk dan anak kecil itu selamat. Yoga meregang nyawa.

    Sejak saat itu, hatinya selalu dirundung tanya. “Apakah hidupku berarti tanpa Yoga? Apakah kehilangan ini punya arti?” Pertanyaan itu terus menggerogotinya, hingga suatu malam, ia bermimpi melihat Yoga tersenyum dengan wajah berseri, di tengah padang rumput yang luas.

    “Ibu, hidupku memang singkat, tapi pengorbananku tidak sia-sia. Ibu masih punya cinta untuk dibagikan. Jangan biarkan rasa kehilangan mengalahkan cinta itu. Jangan lagi terpenjara oleh kesedihan masa lalu.”
    Sejak hari itu, ia memutuskan untuk menjadi terang bagi orang lain. Penebar harapan di tengah keputusasaan. Lilin kecil yang akan terus menyala di tengah segala keterbatasan. Namun di balik keputusannya, ia menyimpan rahasia yang lebih menyakitkan: ia menderita penyakit jantung bawaan yang kian melemahkan tubuhnya. Meskipun tubuhnya kian rapuh, ia tetap berusaha terus berjalan.
    **
    Suatu hari, ia bertemu seorang remaja yang tidur di kolong jembatan. Tubuh anak itu kurus, wajahnya penuh luka, dan matanya seolah menyimpan kemarahan terhadap dunia.
    “Ibu nggak usah peduli sama saya,” kata anak itu dingin saat tangannya mengulurkan kotak nasi pertama kali.
    “Namaku Sita. Siapa namamu, Nak?” Ucap sang ibu lembut. Anak itu hanya diam. Wajahnya melengos, acuh.
    Sang ibu tersenyum lembut. “Kalau Ibu nggak peduli, siapa lagi yang peduli, Nak?”

    Hari demi hari, ia mulai membuka dirinya. Namanya Tegar. Matanya hitam dan tajam, tetapi sering menyiratkan ketakutan dan kegelisahan. Seolah ia selalu berjaga-jaga dari ancaman. Ia menyimpan kebencian terhadap dunia, seringkali ia menganggap dunia ini busuk dan tidak adil.

    “Saya nggak pernah punya orang yang benar-benar peduli,” katanya suatu malam di rumah Ibu Sita. Matanya menerawang jauh. “Ibu saya minggat dan tak pernah kembali sampai sekarang. Sedangkan Ayah saya sering memukuli saya di rumah ketika mabuk. Nggak tahu kenapa, saya yang dijadikan sasaran kemarahan. Badan saya sudah seperti samsak tinju. Karena nggak betah, akhirnya saya kabur dari rumah.” Tangan Tegar tiba-tiba meraba pelipis kanannya, bekas luka kecil itu masih ada. Luka ketika dulu kepalanya dibenturkan ke tembok.

    Perempuan itu menggenggam tangannya. “Nak, dunia ini memang penuh luka, tapi luka itu bisa sembuh kalau kita mau berbagi cinta. Kamu masih muda. Kamu bisa menemukan alasan untuk terus hidup. Seperti namamu: Tegar. Ibu yakin kamu akan kuat menghadapi semua masalah dan nggak akan menyerah. Kamu akan baik-baik saja.”

    Tegar merasa canggung pada awalnya. Sudah hampir tiga bulan ia tinggal di rumah tua itu. Meskipun kecil, memiliki suasana yang membuatnya bingung. Tidak ada kekerasan, tidak ada teriakan, hanya keheningan yang penuh kehangatan. Ia merasa betah.

    “Kenapa rumah ini nggak pernah terasa sepi, Bu?” tanya Tegar suatu malam.
    Perempuan itu sedang menjahit kain perca di ruang tamu. Ia tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari benang dan jarum di tangannya. “Karena di rumah ini, selalu ada doa untuk orang-orang yang pernah Ibu temui. Bahkan udara di sini penuh dengan harapan.”

    Tegar terdiam. Ia merasa asing dengan kata-kata seperti itu. Baginya, rumah adalah tempat yang penuh luka dan ketakutan. Sebuah kotak sempit yang penuh rasa sakit dan penderitaan.

    “Saya boleh terus tinggal di sini, Bu?” Ucap Tegar pelan dengan wajah tertunduk. Malu.
    “TEGAAAR…! Keluar kamu. Dasar anak bangsat sialan!” Terdengar teriakan dan makian di luar.
    Percakapan itu tiba-tiba terputus. Kedamaian di rumah itu terusik. Keduanya saling menatap dengan wajah kaget, kemudian menoleh ke arah pintu. Tegar sangat mengenal suara itu. Suara kasar orang yang sering memukul dan mengutuknya. Seorang lelaki yang dulunya lemah lembut dan penyayang yang tiba-tiba berubah bengis dan pemarah semenjak ditinggal pergi oleh sang istri.

    Lelaki itu berjalan ke depan pintu dengan langkah sempoyongan, mulutnya berbau alkohol. Tangan kirinya memegang sebuah botol. Ia kemudian mengancam akan membawa anaknya kembali. Dengan tubuh yang lemah, Ibu Sita berdiri di hadapan pria itu. “Tegar bukan barang milik siapa pun. Kalau kamu mau bawa dia pulang, pastikan kamu bisa memberinya rumah, bukan neraka.”

    Lelaki itu makin melotot. Urat-urat merah di bola matanya makin terlihat. Ia menghardik dan berusaha mendorong perempuan di depannya, tapi Tegar menghadang, berdiri di depan tubuh lemah itu. Melindunginya.
    Saat para tetangga mulai berdatangan, pria itu akhirnya memilih pergi, tetapi kemudian perempuan itu ambruk. Ia dilarikan ke rumah sakit oleh Tegar dan beberapa tetangga. Di ranjang rumah sakit, Ibu Sita menggenggam tangan Tegar.

    “Tegar… kalau waktuku habis, ingatlah, kamu harus terus berjalan. Jangan biarkan dunia yang kejam mematikan cahaya di hatimu.”

    Beberapa hari kemudian, perempuan itu akhirnya meninggal dunia. Anak itu sangat terpukul. Ia duduk di samping makam lama sekali. Padahal para pelayat sudah lama pulang. Tak lama berselang, rintik hujan mulai membasahi pakaiannya, hingga air hujan yang turun semakin deras. Ia basah kuyup. Namun ia tetap bersimpuh di sebelah gundukan tanah bertabur bunga itu. Ia sudah tidak menangis, hanya duduk diam di situ. Menjelang matahari terbenam, Pak RT datang, membujuk Tegar dan mengajaknya pulang.

    Sesampainya di rumah, hanya ada beberapa tetangga. tidak ada sanak keluarga. Ia kemudian melihat sebuah buku bersampul cokelat tergeletak di atas meja jahit. Mulanya ia ragu, tetapi kemudian ia putuskan untuk membuka buku itu. Ia melihat tulisan tangan yang rapi dan bagus. Setiap catatan, tertera hari dan tanggal di pojok kanan atas halaman. Air matanya kembali menetes saat membaca salah satu catatan:

    Rabu, 15 Juli 2015
    “Yoga, maafkan Ibu yang sering merasa kehilanganmu. Hari ini, Ibu menemukanmu lagi dalam diri Tegar. Hidupnya adalah cahaya yang kau nyalakan di dunia ini. Ibu percaya, kau selalu bersamaku, dan sekarang, bersamanya juga.”

    Tegar membaca kalimat itu berulang kali. Ia merasa ada sesuatu yang belum ia mengerti. Ada semacam kegelisahan baru yang tiba-tiba merasuki dirinya. Kepingan puzzle yang masih harus ia lengkapi.
    **

    Setahun setelah kepergian sang ibu. Ia mulai membagikan kotak nasi kepada mereka yang membutuhkan. Melanjutkan kebiasaan ibunya. Suatu hari, ia mengunjungi sebuah panti asuhan untuk membagikan makanan. Di sana, seorang anak kecil berlari menghampirinya, saat itu ia memegang sebuah buku catatan yang lusuh.

    “Om, ini buku punya ibu tua itu, kan? Aku pernah lihat dia tulis sesuatu di sini,” kata anak itu sambil menunjuk buku catatan milik Ibunya yang selalu ia bawa.

    Tegar hanya tersenyum kecil. Ia membuka halaman-halaman lama yang penuh doa dan nama orang-orang yang pernah ditemui Ibunya. Ia belum pernah membuka halaman lain. Namun, hari itu jarinya bergerak membuka lembar demi lembar hingga sampai pada halaman terakhir, ada sesuatu yang membuatnya tertegun.

    Minggu, 19 Juli 2015
    “Tegar, Ibu tidak pernah memberitahumu ini karena takut kau terluka. Tetapi aku harus mencatatnya di sini. Aku tahu siapa anak yang diselamatkan Yoga dulu—dia adalah dirimu. Hidup Yoga berakhir untuk melindungimu, dan sejak saat itu, aku merasa kau adalah bagian dari Yoga yang dikembalikan Tuhan kepadaku. Terima kasih telah datang ke dalam hidup Ibu. Denganmu, Ibu merasa hidup Yoga tidak sia-sia.”

    Ia merasakan dunia di sekitarnya seolah berhenti. Tubuhnya gemetar. Air matanya mengalir deras, bercampur dengan rasa haru, syukur, dan penyesalan. Ia menatap langit malam sambil memeluk buku catatan itu. “Bu… aku akan melanjutkan apa yang telah kau mulai. Aku berjanji.”

    Penulis; Eka Madyasta (mas Tama), Koordinator Divisi Karya FLP Jatim

  • KAU DAN MAWAR PUTIH ITU

    KAU DAN MAWAR PUTIH ITU

    Hanya satu pertanyaan saja yang selalu ingin kuucap kepadamu. Namun selalu urung. Aku tak punya cukup keberanian untuk itu. Padahal setiap kali kita berpapasan, ingin sekali rasanya aku menahanmu barang beberapa menit saja.

    Di rumah ini, kau mungkin hanya tukang taman dan perawat bunga.  Kau mungkin pelayan, tapi bagiku kau adalah tujuan. Pulau harapan bagi perjalananku. Setiap pagi aku selalu mengintipmu dari balik jendela. Kau selalu hanya fokus pada pekerjaanmu: merawat bunga, memangkas tanaman pagar dan membentuknya sedemikian rupa agar rapi dan sedap dipandang.

    Entah kenapa aku menyukaimu. Aku tak tahu. Dan mungkin juga aku tak perlu tahu jawabannya. Padahal di Kampus, banyak teman-temanku yang coba mendekatiku. Namun di hatiku selalu muncul wajahmu. Rambut gondrong sebahu yang diikat ekor kuda, celana jeans robek, alis tebal seperti sayap elang, dan sorot mata tajam, tetapi meneduhkan.

    Aku masih ingat betul saat pertama kali kita bertemu, kau yang datang dengan wajah lebam usai berkelahi dengan preman mabuk yang mencoba menjambret tas seorang wanita. Kemudian ayahku mengajakmu singgah di rumahku.

    Sejak kedatanganmu setengah tahun yang lalu, rumah dan taman di depan rumah, serasa lebih hidup dan lebih indah. Ibu sering memujimu ketika makan malam. Dan kau tahu, bagaimana perasaanku? Hatiku berbunga-bunga tiap kali mendengar namamu disebut. Wika, Wika, Wika.

    ***

    Aku tak tahu kenapa kau tiba-tiba pergi. Dan kenapa kau harus pergi. Apakah karena kau mendengar bahwa aku akan menikah dengan lelaki pilihan ayahku? Padahal pernikahan itu urung terjadi. Beberapa kali aku bertengkar dengan ayah. Dan puncaknya, aku mengancam akan kabur dari rumah jika dipaksa menikah. Kau tahu, aku sangat berharap kau tiba-tiba datang dan menggenggam tanganku. Membelaku.

    Tapi itu tak mungkin terjadi, kan?

    Yang tersisa kini hanya bunga mawar putih di dalam pot itu.

    Sebelum pergi, kau pun tidak menemuiku. Kau hanya menitipkan pesan kepada ibuku, untuk menjaga dan merawat bunga mawar putih itu.

    Aku pun ingat kata-kata itu, kata-kata yang kau ucapkan ketika aku tiba-tiba muncul di belakangmu saat kau sedang menyiram bunga mawar putih itu.

    “Abang, Indah sekali ya mawar itu? Tanyaku, mengagetkanmu.

    Dan kau pun menoleh. Sejenak mata kita beradu. Kemudian kau membuang pandanganmu ke pot bunga itu.

    “Iya, tidak hanya indah. Menurutku, mawar putih adalah lambang ketulusan dan ketegaran cinta. Tapi sayang, ia masih terkurung di dalam pot kecil ini. Ia belum menemukan tujuannya,” jawabmu tanpa menoleh sedikitpun padaku.

    Aku pun ingin menimpali jawabanmu dengan sebuah pertanyaan itu, tapi hanya embusan karbondioksida yang keluar dari mulutku. Ada bongkah perasaan di dadaku yang siap meledak bagai bom atom. Tapi lagi-lagi lidahku kelu. Percakapan ini pun berakhir dengan kata-kata pamitan, “aku berangkat kuliah dulu ya abang.”

    Kau tahu, berhari-hari setelah itu aku merutuk diriku. Alangkah bodohnya aku. Alangkah takutnya aku dengan jawaban yang padahal belum tentu tidak sesuai ekspektasiku. Ketakutanku seolah tembok besar yang mengurungku.

    Aku senang memanggilmu “abang”, selain karena aku tak punya kakak, juga karena kau lebih tua beberapa tahun dariku. Entah kenapa aku pun merasa kau bukan “orang biasa”, kau seperti menyembunyikan sebagian kehidupanmu. Ada kabut rahasia yang sengaja menyelimutimu. Kau sedikit misterius.

    ***

    Setahun berlalu semenjak kepergianmu. Aku kini tahu alasanmu. Kau pergi karena memang harus pergi saat itu. Ketika kau pergi, ada yang hilang dari hidupku. Hidupku yang tenang mendadak berantakan. Orbitku kacau. Aku perlahan layu, “mawar putihmu” ini diambang kematian. Seringkali aku mengingau sambil terisak, menyebut namamu dalam tidurku.

    Firasatku ternyata benar. Kau bukan “orang biasa”, kau ternyata salah satu anak raja di seberang pulau sana. Ada konflik keluarga yang akhirnya membuat ayahmu sakit-sakitan hingga beliau menghembuskan nafas terakhir. Inilah alasanmu.

    Lama aku menantikanmu kembali tanpa ada secuilpun kabar darimu. Dan di ujung batasku, akhirnya kau datang ketika aku tak sadar dan sekarat di ranjang rumah sakit. Ketika aku “makan” lewat selang infus di lenganku dan organ penapasanku yang dibantu selang oksigen.

    Kau pun berbisik di telingaku. Bahwa kau tak akan pernah pergi lagi. Bahwa aku akan menjadi “mawar putihmu” selamanya. Aku mendengarmu dan hatiku bergetar. Airmataku pun menjelma sungai kebahagiaan. Menghanyutkan segala duka dan kerinduan.

    penulis; Mas Tama, Kordiv karya FLP jatim

  • Cerpen: Ramadan dan Sesuatu yang Memaksa Pulang

    Cerpen: Ramadan dan Sesuatu yang Memaksa Pulang

    Ibu mengembuskan napas panjang. Dari raut wajahnya bisa kurasakan kegundahan menyelimutinya. Aku memilin ujung bajuku, bersiap mendengar ketidaksetujuannya.

    “Ibu seneng sekali kalo kamu dapet beasiswa. Ini kan cita-citamu dari dulu. Bisa kuliah di luar negeri. Ibu juga pengen kamu sukses. Tapi ….” Pandangan Ibu menerawang langit-langit ruangan.

    “Tapi, apa, Bu?”

    “Apa nggak nyari beasiswa yang deket-deket sini aja? Biar lebih enak kalo mau pulang.”

    Aku memberungut. Kuliah di Islandia ini impianku sejak masih berseragam putih biru. Ibu tahu itu. Saat seorang guru Ilmu Sosial menunjukkan padaku tentang aurora yang menari-nari indah, aku sudah bertekad untuk menginjakkan kaki di Islandia. Dan perjuanganku untuk mendapat beasiswa ini tidaklah mudah. Aku tidak mungkin bisa melepaskannya begitu saja.

    “Ibu tahu kamu sudah berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa ini,” ucap Ibu seolah bisa membaca pikiranku. “Sebenarnya ibu khawatir….”

    Ah, Ibu! Selalu saja mudah cemas.

    “Islandia itu negara yang aman, Bu,” kataku berusaha meyakinkan Ibu.

    Ibu menggeleng. Keningnya berkerut dalam. “Ya, Ibu tahu. Tapi, bukan masalah itu.”

    Kurengkuh kedua telapak tangannya dalam genggaman. “Ibu jangan khawatir, ya. Ada Allah yang akan selalu menjagaku. Lagian Anjani perginya nggak sendirian. Kan ada temen yang juga lolos seleksi.”

    Ibu memejamkan mata tanpa berkata-kata. Kutarik tubuh rentanya dalam dekapan. Bodohnya aku yang saat itu tak bisa memahami apa yang dirasakan Ibu.

    ***

    Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kututup gorden kamar meski matahari masih bersinar di luar sana. Aku tak bisa tidur. Masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Selain itu, aku juga tak merasa mengantuk. Mungkin karena metabolisme tubuhku yang belum beradaptasi dengan kondisi di sini. Lagipula tiga jam lagi waktunya berbuka puasa. Aku juga belum menyiapkan makanan untuk berbuka. Mungkin aku hanya akan makan yogurt dan buah.

    Kedai makanan di sini sudah tutup paling lambat jam 10 malam. Aku sedang berhemat, jadi biasanya aku memasak makanan sendiri untuk sahur. Sepertinya aku baru bisa tidur selepas sahur jam 2 dini hari nanti. Aku tak mau ketinggalan waktu sahur yang hanya berselang dua jam dari waktu berbuka. Masalah salat tarawih, lihat nanti saja kalau memang tugasku sudah selesai.

    Sebuah panggilan masuk menghentikan aktivitasku. Dari Mbak Gendis. Pasti Ibu yang menelepon.

    “Lebaran nanti pulang, kan, Nduk?” tanya Ibu setelah beruluk salam.

    “Ehm, belum tahu, Bu. Ini Anjani mau ujian soalnya.” Aku beralasan.

    Terdengar helaan napas Ibu di seberang.

    “Apa nggak ada libur pas hari raya? Padahal kalo kamu pulang, Ibu mau masakin ketupat sayur sama opor kesukaanmu, lho.”

    “Ada, sih, Bu. Tapi, cuma sebentar.”

    “Ibu kangen sama kamu.” Air muka Ibu berubah sendu. Matanya tampak berkaca-kaca.

    “Anjani juga kangen banget sama Ibu. Tapi, gimana lagi…. Kalau udah libur panjang, Anjani pulang, ya, Bu. Lagian mau ngumpulin uang dulu buat pulang kampung,” janjiku.

    Tak ada jawaban dari Ibu. Suara Mbak Gendis yang menggantikan. “Lebaran tahun ini kamu harus pulang, Jan. Masalah biaya nggak usah dipikirin, nanti Mbak yang beliin tiketnya,” pungkas Mbak Gendis mengakhiri panggilan.

    Sudah dua kali aku menjalani puasa Ramadan di musim panas. Meski harus berpuasa selama 22 jam, aku tak merasa berat karena suhu udara yang dingin. Kesenangan menjelajah tempat-tempat yang menakjubkan seperti geiser, gunung, laut, dan air terjun membuatku enggan untuk pulang. Terlebih kawan-kawan mengajakku pergi berburu aurora saat musim dingin nanti. Janji yang kurajut untuk Ibu hanyalah omong kosong untuk menyenangkannya belaka.

    Meski pada satu titik aku merasa bosan meminum air mengalir yang berbau busuk karena mengandung sulfur. Atau muak makan testis dan kepala kambing yang disuguhkan penduduk lokal. Tapi bagiku, negeri ini sempurna. Bebas nyamuk, bebas polusi, aman dan asri. Aku ingin selamanya tinggal di sini.

    ***

    Ramadan memberikan banyak kenangan tersendiri bagiku. Ramadan di tanah air selalu penuh memori yang tak terlupakan. Hingga pada akhirnya Ibu memaksaku pulang.

    “Bungkus tutup dandang serbet supaya uapnya tidak menetes ke dalam,” ujar Ibu seraya menyematkan kain kotak-kotak berwarna hitam ke tutup panci. Kami tengah membuat apem untuk megengan, tradisi orang Jawa dalam menyambut bulan puasa Ramadan.

    “Eh, jangan dibuka tutup biar apemnya mekar,” cegah Ibu yang melihatku tak sabar ingin segera mencomot apem buatan Ibu.

    Aku meringis sambil menggaruk leher yang tidak gatal. Lalu, setelah apem matang, aku akan mencari yang gosong untuk dimakan. Aku paling suka makan apem yang agak gosong. Setelah itu, aku, Ibu, dan Mbak Gendis akan berkumpul bersama para warga lain untuk kenduri seraya membawa nasi plus lauk. Tak ketinggalan apem dan pisang yang wajib ada. Biasanya aku akan mengintip nasi berkat yang dibagikan untuk memilih lauk yang paling enak menurutku.

    Aku kecil yang bandel hobi memanjat pohon kersen. Mengambil butiran merah kecil itu untuk dikumpulkan dalam lipatan kausku. Lantas memakannya sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan Ibu. Dan petangnya aku akan berebut takjil. Terutama jika ada es cendol dan kolak. Berpura-pura kehausan setelah seharian berpuasa.

    Malam yang syahdu membuatku rindu salat tarawih di masjid. Salat hanya dua sampai empat rakaat lantas sisanya hanya duduk sambil ngobrol berbisik-bisik. Kemudian meminta tanda tangan imam setelah salat tarawih untuk mengisi buku Ramadan dari sekolah. Kenangan bersama almarhum Bapak lantas menyeruak bersamaan dengan teriakan anak-anak patrol. Suasana sahur ramai dengan anak-anak yang berkeliling membawa kentongan, bedug, jerigen bekas, dan drum bekas seraya berteriak untuk membangunkan sahur. Saat malam Idul Fitri, kami akan ikut berkeliling bersama patrol sambil membawa obor. Obor yang dibuat dari ranting pepaya yang diisi tali sumbu dan minyak gas.

    “Ibu itu lagi sakit, Dek. TBC,” jelas Mbak Gendis berurai air mata saat aku tiba.

    “Kenapa Mbak nggak cerita?” desakku.

    “Ibu nggak mau bilang sama kamu karena takut ganggu kuliahmu.”

    “Jaga diri baik-baik di sana, yo, Nduk. Jangan lupa salat. Semoga Allah melindungmu. Ibu pasti kangen banget sama kamu.” Pesan Ibu sebelum keberangkatanku ke Islandia berputar dalam benak.

    Anjani kangen banget sama Ibu. Anjani pengen ketemu Ibu.

    “Islandia itu jauh, yo, Nduk. Kalau Ibu pengen ketemu kamu gimana….”

    Ya Allah! Aku menutup mulut. Maafin Anjani, Bu. Harusnya aku memenuhi janji-janjiku. Harusnya aku datang lebih awal untuk menengok Ibu.

    Mbak Gendis lantas membawaku menemui Ibu. Kurasakan kaki-kakiku lemas. Jetlag setelah menempuh jarak ribuan kilometer dengan waktu penerbangan hampir 24 jam tak lagi kurasa. Dunia seolah berputar di atas kepalaku. Dadaku sesak. Aku mulai sesenggukan. Kutatap gundukan tanah bertabur bunga dengan nisan bertuliskan nama Ibu. Pandanganku pun berkabut. []

  • Cerpen: Perempuan dengan Jilbab Terurai

    Cerpen: Perempuan dengan Jilbab Terurai

    Oleh: achjalaluddin (FLP Pamekasan)

    Bagi orang yang belum dan baru kukenal, aku orangnya tertutup dan hanya terbuka pas lagi mandi. Orang belum kenal mau diapain? Aku bukannya nggak peduli, kalau perempuan bulum tentu jadi jodoh, kalau laki-laki belum tentu jadi sahabat. Jadi aku biasa saja, tak berlebihan dalam segala hal, tak terlalu berharap juga.

    Di samping itu, aku orangnya pelupa, dan agak parah. Contohnya begini, umpamanya aku ada perlu untuk beli sesuatu. Ngambil uang dan diletakkan di saku. Sudah mau keluar kamar, aku ngerasa bajuku kurang nyaman dan nggak cocok, maka aku ganti. Habis ganti baju, aku langsung keluar kamar, menuju toko yang mungkin ada sesuatu yang kuperlukan. Sesampainya, aku langsung ngambil uang yang telah kuletakkan di saku. Ah, dasar! Bukannya uang itu ada di saku baju yang aku ganti? Aku sering dibuat sebel dengan kejadian seperti ini. Tapi serius, aku nggak pikun!

    Saat ini, aku disuruh mengisi kajian rutin setiap minggunya di asrama putri. Bagi pengabdi baru sepertiku, jelas membuatku grogi meskipun kajian itu sudah tiga bulan aku isi.

    Letak asrama putri tidak terlalu jauh dari asrama putra, cuma dibatasi oleh dhalem kiyai sepuh. Aku lewet di pinggir dhalem dengan sangat hati-hati, takut Kyai atau Gus melihatku atau kebetulan lewat.

    Santri putri yang ikut kajian sudah standby di dalam dengan kitabnya. Aku masuk tanpa mengucapkan salam sambil menunduk dengan irama langkah yang datar sedangkan hati bergemuruh.

    Daerah sini tidak terlalu agamis, bunyi sound system terdengar lantang ketika ada acara-acara festival dengan pawaian para anggota geng berkaos hitam-merah dengan lambang besar di punggungnya. Makanya, santri di pondok ini, baik laki-laki dan perempuannya sangat mengakrabi asatidz-nya, bahkan sebagian mereka memanggil aku kakak. Kadang, dalam beberapa penyampaian, mereka banyak bertanya dan menganggapku teman ngobrol.

    “Loh, kok ngak pake salam, Ustaz?” tanya seorang santriwati yang duduk di barisan depan. Minggu-minggu sebelumnya aku menggunakan salam, tapi karena di antara mereka menjawab ‘waalaikum sayang’, aku nggak jadi bilang salam.

    “Saya seringnya mendoakan kalian di kamar,” jawabku ketus, disambut dengan ‘ciyeee’ yang cukup panjang oleh mereka. Saat itulah, dari mereka tidak ada yang bertanya lagi kenapa aku masuk tidak mengucapkan salam.

    “Itu buku apa, Ustaz?” Santriwati yang duduk pas di depanku memang sering bertanya, apa pun yang terlintas dalam pikirannya pasti dia tanyakan. Dia menanyakan buku catatan kecilku yang biasa aku tulis di kamar dan jarang kubawa.

    “Ini catatan saya.”

    “Boleh saya pinjam, Ustaz?” tanya yang lain.

    “Cuma orang yang tulus menerima saya apa adanya yang dapat memegang catatan ini.”

    Aku sama sekali tidak ada niatan untuk bercanda, itu murni datang dari isi hatiku meski mereka menyorakiku untuk kesekian kalinya. Di dalam catatan itu tertulis isi hatiku, maka aku tanggapi sesuai dengan isi hatiku juga.

    Karena mereka ramai menyorakiku, maka aku simpan catatanku di loker meja biar tidak ada yang melihatnya. Benar saja, sorakan senyap seketika, cuma satu-dua masih tersenyum, terutama santriwati dengan hijab terurai di sudut belakang. Ah, aku lupa namanya.

    *

    Selesai mengisi materi di putri, aku langsung menuju kamar. Hari ini aku senang. Alhamdulillah, bisa menjelaskan pada mereka dengan maksimal. Kadang aku nggak pede, bahkan pernah cuma bisanya diam mulu. Hal ini membuatku teringat pada pesan seorang kiai, bahwa guru itu niatnya harus karena Allah, bukan untuk membuat santrinya paham. Karena jika nanti santrinya tidak paham, maka dia akan marah. Kurang lebih seperti itu.

    Saking senangnya, hari ini aku ingin menuliskan tentang perasaanku di catatan kecil super rahasia milikku. Mengambil bolpoin, buka lemari, dan aku mematung seketika!

    “Bukankah catatan itu aku letakkan di meja, di loker, di… Putri…!” lirihku mengikuti irama ingatan. Yah, aku langsung kewalahan, ingin mengambilnya sendiri tidak mungkin. Aku memang benar-benar pelupa, kalau sudah begini, aku sering memaki diriku sendiri, memang bego aku.

    Tak ada cara lain selain menunggu minggu depan. Aku akan sangat bersyukur sekali jika minggu depan masih utuh, kalau tidak ada yang mengantarkan padaku, itu aman. Tapi jika tidak ada dan ketika dilihat minggu depan hilang, itu bahaya. Tapi kesempatan untuk utuh sampai minggu depan datang sangat tipis. Aula itu sering dipakai santri putri.

    Sepertinya memang tidak ada cara lain kecuali aku tawakal menerima apa adanya. Sesekali aku berdoa, mudah-mudahan meski ada yang menolong, catatanku tidak dibaca.

    Namun, yang namanya santri putri, keponya minta ampun. Haruskah aku menarik ucapanku: “Cuma orang yang tulus menerima saya apa adanya yang dapat memegang catatan ini.”

    Siapa yang akan memegang buku itu? Apakah santriwati dengan hijab terurai di sudut belakang? Ah, aku lupa namanya.

  • Cerpen: Doaku, Sampai Jumpa

    Cerpen: Doaku, Sampai Jumpa

    Karya Chusnul Islamiyah (FLP Tuban)

    “Untuk apa aku menjelaskan perasaanku sebenarnya jika tak satu pun perkataanku sudah tak bisa kamu percaya?”

    Aku menghela napas perlahan. Menguatkan kakiku melangkah menuju sebuah pintu ruangan yang paling ujung. Suara tangisan bayi lamat-lamat terdengar semakin keras saat sudah mendekati pintu ruang bersalin. Hatiku bergetar, kakiku seketika ngilu saat sudah di ambang pintu menyaksikan bayi masih basah darah yang sedang menangis di atas kedua telapak tangan bidan yang membantu persalinan. Tangan mungilnya mengepal erat mengiringi tangisan sekuat-kuatnya. Melihat sang ibu dengan keringat dan rambut berantakan menerima bayi tersebut  dengan menangis haru meneteskan air mata. Ah… entah itu haru atau sedih, aku takut salah paham tentang perasaannya, yang jelas aku ikut berkaca-kaca dan tak sanggup membendung, pecah juga tangisku.

    “Selamat, Mbak… bayinya perempuan,” ucap Bidan sembari meletakkan bayi yang masih terus menangis itu tengkurap diatas dada ibunya .

    “Sudah jadi Ibu, kamu Nduk…,” ucap perempuan paruh baya, dengan gemetar yang berdiri di sampingnya.

    Aku tak tahan lagi berlama-lama di sini. Kuseka air mata di kedua sudut mataku dan urungkan niat untuk menyapa Novi, kekasihku, dan bayi mungil kami. Kuangkat seribu langkah menjauh dari ruang bersalin, melewati ruang yang banyak jendelanya, sesekali kulirik bayanganku yang terpantul di jendela tiap tiap ruang yang kulewati membuatku muak dengan diriku. Aku remaja masih berusia tujuh belas tahun yang baru saja beberapa menit seharusnya sudah dipanggil “bapak” dari bayi mungil perempuan tadi. Namun, dengan segala kemampuan dan keterbatasan oleh kuasa orang tua, aku memang pantas disebut pengecut.

    Ku terngiang perkataan Ayah agar aku tak mengunjungi Novi maupun keluarganya semenjak tahu Novi hamil sudah enam bulan. Menurutnya, Novi telah merusak masa depanku demi ingin agar menjadi istriku dan menguasai harta yang sudah Ayah siapkan untukku. Rumah mewah, mobil, dan segala fasilitas yang Ayah berikan padaku di usia yang sangat muda, masih duduk di bangku SMA. Kesedihan semakin kencang menghantam saat Ayah juga memiliki pikiran untuk menggugurkan kandungan Novi. Namun, aku sampaikan pada Ayah akan tetap menikahi Novi dan tetap menjaga bayi yang dikandungnya. Terkadang aku tidak tahu harus melakukan apa sebenarnya. Apa itu menikah, aku pun kurang paham harus bagaimana. Tapi itulah sepertinya solusi yang paling baik yang harus aku lakukan.

    Keadaan berkata lain, ayahku mengancam untuk tidak akan memberikan apa pun kepadaku, bahkan mengusirku dari rumah jika sampai aku berani menemui Novi, apalagi menikahinya. Ibuku sakit lumpuh sudah tiga tahun, tidak mungkin aku meminta bantuan padanya. Bercerita tentang kasusku pun aku tak kuasa. Ayah dengan wewenangnya pun menikah lagi dengan janda depan rumah. Hari-hariku seperti berada di dalam labirin yang rumit dan gelap, aku bingung harus bagaimana.

    Sampai dua hari menjelang hari bayi mungil itu menghirup udara di dunia, aku bergegas menemui Novi. Di rumahnya.

    Tiga bulan silam di ruang tamu rumah Novi.

    Bedanya sudah tidak ada ketegangan di raut wajah bapak Novi, tapi juga tak seramah pada awal ku berteman dengan Novi. Canggung aku harus memulai basa-basi seperti apa dan begitu keluar dari mulutku sebuah perkataan:

    “Apa kamu baik-baik saja?” Rasanya jika kalimat itu bisa terlihat keluar dari mulutku dan bisa kuambil lagi dan kumasukkan lagi ke dalam mulutku, kutelan dalam-dalam sampai ke dasar lambung tidak akan kukeluarkan. Kalimat pembuka yang salah.

    “Maksudmu apa tanya begitu? Bohong jika aku baik-baik saja!” jawabnya ketus. Dan aku sudah menyangka.

    “Maksudku bukan begitu…. Aku minta maaf, Nov,” jawabku membuat lengkungan simetris yang dulunya menghiasi raut wajah manis itu semakin elok kini sudah berbeda senyumnya. Sinis

    “Aku mungkin adalah perempuan terbodoh yang ada di muka bumi ini, Junio! Tapi sebodoh-bodohnya aku, aku akan menjaga bayi ini meskipun sendiri! Kata maaf saja darimu tidak bisa membantu aku melewati semua waktuku sampai saat ini sendiri!”

    “Novi, kamu harus percaya janjiku kali ini.”

    “Seandainya aku punya keberanian waktu itu menjawab hinaan dari ayahmu tentang aku yang kegirangan hamil untuk bisa menjadi istri dan menikmati harta ayahmu. Aku hari ini tidak akan sesesal ini!”

    “Maafkan ayahku, Nov, dan yakinlah, aku akan kembali saat nanti aku bisa kembali dengan kekuatan dan wewenang penuh atas kehidupanku.”

    “Jangan memberiku harapan yang aku tidak tahu itu benar akan sesuai atau tidak!”

    Novi memalingkan pandangan. Rasanya luka dalam dada ini semakin menganga melihat Novi begitu kecewa padaku, dan sudah tidak ramah dan tidak memercayaiku.

    “Baiklah Nov, tunggu hari itu tiba. Bolehkah aku sedikit ceritakan langkahku selanjutnya?”

    “Pulang saja, aku lelah ingin istirahat!” lalu ia dengan badan yang melebar dan perut buncit berjalan perlahan masuk ke dalam kamar pelan dan terlihat begitu berat.  Aku pulang membawa kesesakan.

    Azan Subuh berkumandang, bertepatan dengan nada dering telepon di handphone-ku berbunyi. Jeri, temanku yang juga tetangga Novi meneleponku, menyampaikan kabar bahwa Novi sekarang dibawa ke rumah bersalin segera melahirkan. Secepatnya aku melompat dari kasur, beranjak wudu dan berbegas keluar mengendarai motor ninja Kawasakiku keluar dengan memakai baju koko. Tak seperti biasanya aku tidak pernah salat berjamaah Subuh di masjid, kali ini aku izin ke ibu tiriku yang kebetulan sudah bangun untuk keluar salat Subuh berjamaah di masjid yang jaraknya dua kilometer dari rumah. Alasanku sebagai tugas pelajaran agama di sekolah baruku. Ya, aku melanjutkan sekolah di sekolah swasta yang sudah diberikan uang upeti ratusan juta oleh Ayah, sehingga aku bisa melanjutkan jenjang SMA-ku.

    Setelah salat Subuh, aku pun mengunjungi rumah bersalin yang diinfokan oleh Jeri.

    Hatiku tak berbentuk lagi

    Tetapi mati jua tak mengobati

    Keburukan selalu mengintai kebaikan

    Namun kebaikan tak sekalipun menyertai keburukan

    Keburukan itu tak mendatangkan kebaikan sedikitpun.

    Aku memaksa tegar demi mewujudkan janjiku

    Berusaha mencari jalan keluar dari labirin yang rumit.

    Pasti kutemukan kebahagiaan kita nanti diujung penantianmu. Nantikanlah aku….

    Sampai jumpa di babak kehidupan baru yang bahagia

    Doaku

    Dari Junio, kekasihmu

    Kutitipkan surat itu kepada Jeri untuk kekasih hatiku yang tak akan pernah tergantikan. Aku janji. Sampai jumpa, Novi.

    Tuban, 13 Juni 2022

    Ditulis oleh perempuan manis yang bernama Chusnul Islamiyah pada ruang 3×3 m ruang kerjanya pada malam yang dingin, sunyi selepas hujan syahdu.

  • Cerpen: Aku dan Pewaris Itu

    Cerpen: Aku dan Pewaris Itu

    Oleh: Siti Nur Halimah (STKIP PGRI Bangkalan)

    Jaddih socah bangkalan

    Terdengar syair lantunan selawat membahana, membangunkan aku dari tidur lelap. Jam telah menunjukkan angka sebelas, tapi aku tetap tak ingin beranjak. Suara gendang dan ketepong terus berpendar-pendar di dua telingaku, entah tak ada yang kusadari selain tempat ini. Di mana aku? Tak ada yang mampu menjawab. Kupaksa bangkit dari rasa kantukku, berjalan menyusuri jalan, tepat di suatu pedesaan aku terkaget bukan main dengan apa yang kusaksikan, berdiri banyak orang sambil melantunkan syair-syair indah. Aku sering kali mendengar lantunan-lantunan inim tapi tak pernah seindah kali ini. Terus kudengar dengan saksama setelah merasa puas. Aku meneruskan perjalananku yang belum kuketahui akan ke mana. Tak jauh dari tempat itu kudengar seseorang berbisik pada salah satunya.

    “Berapa uang yang kan kamu sawer kepada pengantin baru bing?” Kurang lebih begitulah ucap seseorang tersebut.

    Hedeh ngasih berapa, Buk,” katanya, setelah aku berhasil menguping pembicaraan dua orang tersebut.

    Tepat di arah selatan, mereka terlihat dua orang berbusana mewah menari-nari di atas kuda yang telah dipoles dengan riasan. Kulihat banyak sekali orang menghambur-hamburkan uang ke arah mereka berdua diiringi lagu yang asing sekali. Kudengar seperti nyanyian yang berisi ucapan selamat kepada pengantin baru. Setelah lelah mencari jalan pulang, akhirnya aku menemukan sebuah tugu besar dengan tulisan “Bangkalan Kota Zikir dan Sholawat”. Aku tidak tahu tepatnya di mana aku berada. Setelah kusimak baik-baik, kulaju kakiku dengan cepat, lari sejauh mungkin dari tempat itu. Tidak, aku tidak mungkin menyakiti mereka orang-orang yang senantiasa mengingat Allah. Karena kelelahan, aku memutuskan menumpang mobil seseorang yang tak kukenal. Kuambil posisi ternyaman, lalu terlelap dengan malam.

    ****

    Sampang Bahari

    Khejungan selanjutnya akan dibawakan tandek baru kita So-fi.” Terdengar gaduh suara dari luar sana, dengan langkah terpincang-pincang ku seret tubuhku keluar dari mobil yang ku tumpangi tadi malam, amboi, seorang gadis dengan gemulai terus menari sambilngejung dengan pesona yang benar-benar mampu menghipnotis semua penontonnya, sedang Sofi tandek baru itu terus menggerakkan tubuhnya menciptakan tarian sandur yang indah diiringi klenong serta sroleng yang merdu.

    Napel pertama oleh klebun karang penang persiapan klebun batu baih.” Terdengar pembawa acara memanggil peserta sanduryang akan menapel tandek dan ikut menari.

    “Wah, cantik sekali tandek baru itu Sulaiman andai saja Sofi itu benar-benar perempuan aku akan menjadi lelaki pertama yang menyatakan cinta,” celoteh salah satu peserta sandur dengan pandangan yang lepas dari tandek cantik itu.

    “Bodoh sekali kau ahmat tidak mungkinlah Sofi yang biasa dipanggil herman itu kan banci,” timbal sulaiman.

    Wah, aku hampir tak percaya, bagaimana mungkin wanita dengan bibir stoberi, kulit putih, serta tarian gemulainya itu pemilik dua jenis kelamin. Huff, membingungkan memang tetapi sungguh aku bener-benar terkesan. Sebenarnya, tak perlu waktu lama untuk memahami apa yang sedang mereka lakukan sebab telah terekam jelas di ingatanku enam bulan lalu, aku pernah mengunjungi tempat sandur, namun bukan di desa ini. Jika tidak salah, ini tempat yang sering kali dijuluki kota “Sampang Bahari” oleh orang-orang yang tanpa sengaja kujumpai di beberapa simpang jalan. Bedanya aku baru saja mengetahui bahwa tandek pemikat hati itu adalah laki-laki setengah perempuan.

    Kulihat banyak sekali kerumunan warga berpelukan serta berjabat tangan sembari menikmati khejungan dari gadis yang dijuluki Sofi tersebut. Timbul rasa jail di benakku untuk memberikan mereka pelajaran agar tidak senonoh mengadakan perkumpulan di masa pandemi ini. Kuperhatikan satu persatu dari mereka, lalu kujatuhkan pilihan kepada laki-laki lanjut usia, kutusuk ulu hatinya sampai napas laki-laki tersebut terngah-engah, namun lelaki itu tak kunjung menjauh pergi dari tempat itu.

    “Dasar tua Bangka lihat aja ya, kalo kamu nanti tiba-tiba mati,” gerutuku dalam hati.

    Aku memalingkan wajah dari dari tempat sandur lantas melanjutkan langkah, tetap dalam keadaan yang sama tanpa arah dan tanpa tujuan yang tepat, kulihat laki-laki tampan mengenakan celana jins mengendarai sepeda motor miliknya. Kuputuskan menumpang pada si tampan.

    ***

    Kota Pamekasan

    17.05 waktu Madura, terik matahari mulai beranjak dari singgasanya saat aku tiba di tempat ini. Kukira aku akan menemukan jalan pulang setelah menumpang pada laki-laki tampan tadi tapi tidak. Ah, sial, aku kesal bukan main ingin sekali kuhajar laki-laki berkumis tipis tersebut, namun kuurungkan.

    “Kenapa kau murung sekali ?” suara tadi membuat ku terjungkal karna merasa kaget bukan kepalang, yang tak ku sangka orang yang hampir membuat jangtung ku berhenti berdetak itu adalah lotong teman karib ku yang menghilang.

    “Dasar kau lotong, ngapain kamu ke sini?” jawabku ketus kepada lotong.

    “Ih, sensi banget sih kamu”  jawab lotong di sertai lelucon.

     “Udah deh, aku tuh lagi kesel banget tong, suntuk, bosen” gerutuku pada teman karibku ini.

     Tanpa basa-basi lotong menyeret tangan kiriku dengan cepat hingga aku tak berkesempatan untuk mengelak.

    “Lepasin gak, kamu mau bawa aku ke mana sih?” aku dengan emosi yang mulai memuncak.

    “Tuh liat,” lotong sambil menunjuk sesuatu.

    Aduhai, aku terkesima begitu dalam melihat apa yang lotong tunjukkan kepadaku, bola api yang nyalanya begitu besar dengan lingkaran menjulang menjadi perisai dari api yang berkobar sangat elok dipandang mata.

    “Tong, ini api neraka nyasar ke dunia apa emang bener-bener apa sungguhan?” Tanpa sadar aku keceplosan mengucapkan kata-kata yang tak berkesinambungan karna begitu keterlaluan menahan  rasa takjub.

    “Ya elah, kamu ada-ada ajah itu namaya api tak kunjung padam, api itu walaupun diguyur air hujan gak bakal padam loh, banyak sekali orang yang mengunjungi tempat ini samapai membakar aneka makanan seperti jagung di lingkaran api itu, bagaimana kamu suka tidak?”

    “Iya, Tong, aku suka sekali tempat ini,” ucapku dengan riang.

    Belum puas dengan pesona api tak kunjung padam lotong kembali menarik tangan ku untuk menyaksikan hal yang lebih menakjubkan lagi tepatnya sebuah monumen besar yang berdiri kokoh di tengah-tengah simpang jalan, aku lagi-lagi terkejut.

    “Kamu tau tidak, monumen ini namanya arek lancor yang melambangkan kota gerbang salam,” Lotong menjelaskan.

    “Apaan tuh kota gerbang salam kok aku baru denger Tong?” Tanya ku dengan penuh penasaran.

    “Kota gerbang salam itu julukan bagi kota Pamekasan dan monumen besar tadi adalah lambang kebanggannya,” Lotong begitu riang menjelaskan kepadaku.

    “Oh, gitu Tong trus kenapa di juluki kota gerbang salam?” tanyaku penuh penasaran.

     “Konon sih orang Pamekasan itu ramah-ramah selain itu kota bermonumen arek lancor ini kan juga di sebut kota pendidikan,” jelas Lotong kepadaku dengan sabar.

    “Benar saja kau Tong, aku jadi ingin bertemu orang-orang Pamekasan deh,” sambutku antusias dengan pengharapan yang besar.

    Setelah berbincang begitu lama Lotong mengajakku melihat pertunjukan yang tak pernah ku saksikan sebelumnya. Debur ombak yang menghampar memekan kedua telinga ku, buah-buahan yang berjejer sangat rapi di rias sedemikian rupa, bau kemenyan, dupa juga beberapa sesajen yang menjadi peserta ritual saat itu.

    “Tong,diapain tuh buah- buahan sebanyak itu?” aku dengan rasa penasaran yang semakin  meningkat mulai tak sabar menunggu jawaban Lotong

    “Aku jugak kurang faham sih, tapi semenjak aku menetap di sini orang-orang itu biasanya meletakkan sesajen-sesajen itu di dasar laut agar bisa di bawa ombak dan istilah ini di namakan peti’ laut oleh orang Pamekasan.”

    “Oalah, begitu Tong,” balasku singkat kepada Lotong.

    Dengan rasa bahagia, aku berusaha melihat lebih dekat lagi ritual peti’ laut itu, padahal Lotong sudah melarang ku tapi rasa penasaran terus menguasai diriku.

    “Woy, jangan….” Aku terus melangkah menjauhi Lotong.

    Alhasil miris, gelombang yang berpendar-pendar itu  juga membawa aku bersama seluruh sesajen yang telah di sediakan para petani sebagai rasa  syukur kepada sang pencipta atas karunia-Nya telah menyuburkan hasil panen mereka, sungguh malang nasib ku harus terpisah dari Lotong teman terbaik ku.

    ***

    Pakotan Pasongsongan Sumenep

    Setelah kejadian itu tak ada yang ku ingat kecuali gelombang-gelombang dan ombak yang membuat tubuh ku ambruk hingga terdampar di sisi pulau yang lain. Sejak peristiwa mengerikan itu aku benar-benar tak sadarkan diri, ombak besar telah meluluh lantakan kekuatan tubuhku. Kukira aku butuh stamina baru berat sekali membuka kedua kelopak mata, namun suara bising memaksaku tersadar dari kesialan. Yang kuharap Lotong segera datang menolongku, tapi yang kutunggu tak kunjung tunjukkan batang hidung. Jelas sekali kudengar cipratan suara banyak orang, bernyanyi-nyanyi dengan bahasa yang tak kupahami.

                Ngapote wa lajere eta ngale

                Reng majeng tantonah la pade mole’

                Mon tengguh deri ombek pajelena

                Maseh benyak a ongghu’ leh olehnah

                Duh mon a jelling odikna oreng majengan

                Abental ombek sapok angen salanjengah

    Kurang lebih seperti itulah mereka bersorak ramai.

    Ramah datang Kak, Ramah,” gadis kecil berkisar umur enam tahunan meloncat-loncat karna girang sambil menunjuk-nunjuk ke arah perahu yang semakin mendekati dasar pulau. Kali ini aku benar-benar sempurna berdiri tegak di hadapan mereka, sungguh aku tak mengerti apa yang ingin mereka lakukan, namun di balik ketidakmengertianku, wajah girang sempurna terlihat begitu jelas pada setiap senyumnya. Perahu itu menepi di dasar pulau, beberapa lelaki dari masing-masing perahu keluar dengan membawa ember besar. Yang membuatku bertambah bingung adalah raut wajah mereka, para lelaki yang menuruni perahu itu memiliki tarikan senyum yang berbeda, ada yang tersenyum begitu memuaskan sambil berlari ke arah keluar yang menyambut mereka, ada yang bermuka kusut dengan kepala terus menunduk. Ada apa sebenarnya? Bukankah mereka sama-sama turun dari perahu?

    Nyah, maafkan aku hari ini hasil melaut saya tidak begitu banyak,” ucap seorang lelaki pada wanita yang lebih dewasa darinya.

    “Tidak apa-apa cong, syukuri saja pemberian Allah, memang qudrotnya seorang nelayan kadang banyak penghasilan kadang juga tidak,” balas wanita itu sambil memeluk lelaki tersebut.

    Sampai di sini, aku mengerti bahwa mereka seorang nelayan yang mencari penghasilan di pulau untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Batinku tersentak menyakitkan dengan kejadian itu. Tak terasa air mata turun begitu saja dari kedua kelopak mata. Garis lembayung di kaki langit berganti warna, membuatku  tersadar akan waktu. Entah jika kulihat banyak sekali orang berbudi di sini.

    “Ya Allah, kirimkan aku kepada seseorang yang memang mencintai-Mu dan mengabdi karena-Mu,” doaku dalam hati sambil tak henti  mengusap sisa air mata sebab terlalu haru.

    Kakiku terus saja ingin menapaki setiap jejak yang tersisa, berkela dengan waktu yang membawaku, kubiarkan angin sepoi dengan lembut menyeret tubuhku ke arah yang ia inginkan, aku pasrah. Tiba di sebuah jalan raya, kusaksikan seorang laki-laki gagah perkasa dengan mengenakan masker hitam menolong nenek tua yang sudah renta menyeberang jalan, aku semakin terenyuh. Allah benar-benar mengirimku pada seseorang yang berahlak mulia. MasyaAllah sungguh besar karunia-Mu, kukira dunia hanya di penuhi dengan orang-orang yang jahat, tapi hari aku saksikan salah satu hamba-Mu yang tulus menolong, terima kasih. Perlahan tapi pasti terus kuikuti langkah kakinya berjalan menyusuri jalan, ada rasa penasaran yang tak terhingga pada laki-laki solih itu, kulihat ia terus berkomat-kamit menyebut nama sang penciptanya dan bacaan-bacaan itu semakin membuatku lemah. Sungguh jika aku harus tiada karna dia, aku benar-benar rela, aku benar-benar ikhlas.

    Dia berhenti di sebuah masjid, membuka kedua sepatunya, lalu meraih botol berwarna biru yang telah di sediakan oleh pengurus masjid dengan label “HAND SANITIZER”. Aku tahu jika aku tetap di sini, aku akan benar-benar mati, tapi aku tetap tak ingin pergi. Laki-laki budiman itu telah mengambil hatiku dengan segala ketakwaannya. Ingin sekali berteriak jangan, tapi ini sudah terlambat, ia juga tak mungkin mendengar suaraku. Namun, sudahlah, aku tak pernah merasa keberatan jika harus mati karena laki-laki tadi. Sungguh hari ini pun tak pernah menjadi masalah untukku, tetapi sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini, aku hanya ingin berpesan.

    “Siapapun kalian tetaplah waspada dengan situasi ini, benar saja aku kan mati, tapi banyak sekali dari anak-anakku yang tetap beraksi, tetaplah menjaga jarak (social distancing) dan patuhi protokol kesehatan karna aku ada di mana-mana, bahkan di tempat yang tak di sangka-sangka. Rajin-rajinlah mencuci tangan karena aku menyukai area di sekitar tangan mu dan jangan lupa selalu menggunakan masker ketika bepergian.”

    Sebelum sempurna memejamkan mata untuk selamanya sempat kudengar di teras masjid seseorang riuh membicarakan aku, mereka juga berharap aku beserta seluruh keluargaku segera pulang. “Emmak, semoga corona cepat berlalu agar ramah bisa bekerja di kota lagi, kita jadi bisa makan enak lagi, Mak. Tika juga sudah rindu sekolah bersama teman-teman,” ucap bocah kecil sambil memeluk kedua orang tuanya.

    “Yang sabar ya sayang kita berdoa sama-sama, agar virus corona segera hilang,” sambil mengelus-elus rambut anaknya.

    Asal kalian tahu, kami juga merindukan rumah. Kami juga ingin pulang, tapi kalian tak pernah memenuhi protokol kesehatan. Hal itulah yang membuat kami beranak-pinak di negara kalian. Tolong kami, wahai manusia yang budiman, tetaplah dalam aturan kepemerintahan agar semua dapar terselesaikan. Salam dari kami, virus corona.

    Kini aku benar-benar pergi jauh dari bumi, namun meninggalkan berjuta-juta pewaris tanpa kalian ketahui.

    Catatan:

    1.ketepong,klenong,sroleng (alat-alat music Madura)

    2.bing (panggilan pada anak gadis di madura)

    3.hedeh (kamu dalam bahasa orang bangkalan madura)

    4.buk (panggilan kepada wanita yang lebih tua di madura seperti kakak )

    5.nyanyah (panggilan kepada bibik)

    6.kacong (panggilan pada anak laki-laki)

    7.klebun (kepala desa)

    8.ramah (sebutan yang paling halus kepada ayah atau bapak)

    9. emmak (sebutan kepada ibu)

    10.peti’ laut (tradisi orang pamekasan sebagai rasa syukur setelah panen)

    11.sandur (tarian yang di iringi alat-alat music madura)

    12.tandek (pemeran atau penari dalam acara sandur)

    13. khejungan (lagu yang di nyanyikan berisi syair-syair berbahasa madura)

                                                                                                         

  • Patah Hati Kedua

    Patah Hati Kedua

    Idulfitri mestinya menjadi hari paling membahagiakan bagiku. Namun, tidak dengan idulfitri kali ini. Aku merasa kehilangan yang sangat berat. Kehilangan Ramadan? Ya, ada, tetapi aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Ada kehilangan lain yang perih.

    Tengah malam aku terbangun. Sayup-sayup takbir terdengar dari masjid. Kulihat jam dinding yang jarumnya bergerak lambat. Hari baru saja berganti. Berarti belum dua jam mata ini terpejam. Anehnya, mata ini tak bisa terpejam lagi. Gelisah menyergap dalam hati. Kuambil wudu, mencoba menenangkan diri lalu melangkahkan kaki ke masjid, bergabung dengan mereka yang masih terjaga dalam takbiran. Hingga pagi, lisanku mengumandangkan takbir kemenangan tetapi hatiku diterpa rasa kehilangan. Teman yang melihat mataku berkaca-kaca mungkin menganggap itu air mata bahagia di hari raya. Tidak, itu adalah uap luka jiwa yang mengembun di celah-celah mata.

    “Maaf jika selama ini komunikasi kita terlalu nyaman dan memunculkan perasaan yang tak seharusnya ada. Aku tak ingin jadi sumber fitnah,” ucapnya mengakhiri percakapan di aplikasi perpesanan kemarin siang. Bagiku, pesan itu adalah kata-kata perpisahan.

    “Baiklah, Ra. Maafkan aku.” Aku kehilangan kata-kata. Entahlah, urusan perasaan memang rumit. Dan apa yang Raisa katakan mungkin benar. Kedekatanku dengannya telah menumbuhkan sebuah rasa. Aku berusaha menyembunyikannya. Hingga sebuah kata rindu terucapkan dan membuatnya tidak nyaman.

    Dua tahun lalu, kali pertama aku bertemu Raisa. Di sebuah acara di kota pendidikan. Meskipun berbincang dan bertatap muka, aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya. Hanya sekilas saling pandang dan tak ada perasaan apa-apa. Biasa saja. Sejak bertahun sebelumnya aku berusaha menjaga pandangan. Mungkin itu yang membuat hatiku terjaga.

    Beberapa kali kami juga berkomunikasi. Seperlunya. Hanya ada pertanyaan dan jawaban yang semuanya bernada formal. Selama ini aku berhasil menjaga jarak dengan gadis mana pun. Meskipun itu rekan sekantor, sesama alumni, maupun teman seorganisasi.

    Hingga kemudian, sebuah proyek kembali mempertemukan kami. Aku dan Ra masuk dalam tim yang sama. Entah bagaimana mulainya, kami tak hanya bicara urusan kantor, tetapi juga berbagi pandangan soal sebuah tema. Esok atau lusa, berganti tema menyesuaikan bahasan kerja. Banyak kecocokan antara aku dan Ra. Mungkin dari situlah bibit rasa itu bersemi. Lalu ia tumbuh saat mendapati kebaikan demi kebaikannya. Ah, benar kata pujangga. Jika sudah berteman lama, rasa suka itu muncul pelan-pelan, bahkan engkau sendiri tidak menyadarinya. Bukan karena melihat fisiknya, tetapi karena kebaikan-kebaikannya. Bukan dari mata turun ke hati tetapi dari kecocokan dan kenyamanan komunikasi.

    Aku tak tahu rasa suka yang mendatangkan kepercayaan atau rasa percaya yang mendatangkan suka. Tak hanya berbagi pandangan soal tema yang masih terkait dengan urusan kantor, kami juga berbagi cerita pribadi. Termasuk pengalaman patah hati.

    “Aku juga pernah patah hati, Ka,” Ra mengawali ceritanya setelah aku menceritakan kisah patah hati yang bahkan belum pernah kuceritakan kepada kakakku sekalipun.

    Waktu terus berjalan dan aku semakin menyadari bahwa rasa ini adalah cinta. Aku terus memendamnya. Hingga siang itu, entah kenapa tiba-tiba aku mengatakan rindu.

    Aku sudah tahu risiko jatuh cinta adalah patah hati. Sebagaimana setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku pernah mengatakan padanya, setelah dahulu pernah patah hati, sepertinya semua akan baik-baik saja ketika suatu saat nanti aku patah hati lagi. Seakan hati ini demikian kokoh menjalani ujian perasaan. Nyatanya tidak. Kali ini lukanya lebih lama.

    Dahulu lukaku lebih cepat sembuh karena paradigmaku tentang wanita berubah. Harus menutup aurat, minimalnya. Dan karena itu tak ada padanya, aku begitu cepat pulih saat ia memilih berteman saja. Tapi Ra? Dia sosok ideal dalam paradigmaku yang baru.

    Hari demi hari berjalan lambat. Ketika semua orang berbahagia dalam suasana hari raya, gelisah di jiwa kian mendera. Tiba-tiba melamun di siang hari. Tiba-tiba terbangun di malam hari dan sulit untuk tidur lagi.

    “Tidak tidur lagi, Ka?” Arini, kakak perempuanku satu-satunya, sudah berada di belakangku. Mengenakan mukena putih, dia mulai menghamparkan sajadahnya.
    “Enggak, Mbak.” Aku menjawab pelan lalu melanjutkan zikir. Meskipun tak serta merta galau itu hilang seluruhnya, aku percaya salat dan zikir adalah healing terbaik yang membawa ketenangan. Ada perasaan lega bersamaan dengan keluarnya air mata saat munajat kepada-Nya.

    “Beberapa malam ini kulihat kamu bangun tengah malam. Sesenggukan saat salat. Ada apa?”
    “Enggak ada apa-apa, Mbak.”
    “Ka, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Biasanya kamu ceria, suka cerita saat makan bersama. Belakangan ini jadi pendiam dan wajahmu tampak sangat lelah.” Sampai sebegitunya kah? Aku berusaha tersenyum dan menutupi luka, tetapi mungkin tidak bisa menyembunyikan sakitnya. Agaknya Mbak Arini bisa membacanya.

    “Aku … aku patah hati, Mbak.”
    “Hah? Kapan jatuh cintanya?” Aku langsung meletakkan jari telunjuk ke bibirku. Volume suara Mbak Arini meninggi, khawatir ayah dan ibu terbangun.
    “Entahlah. Mungkin tiga bulan yang lalu. Aku sudah berusaha melawan rasa itu, tapi tidak bisa.”
    “Terus?” kali ini Mbak Arini mengecilkan suaranya.
    Akhirnya aku cerita pada Mbak Arini. “Dua hal yang membuatku patah hati. Pertama, aku tidak tahu apakah dia juga memiliki rasa yang sama. Kedua, aku tidak yakin apakah bisa menikahinya.”

    Mbak Arini menghela napas panjang.
    “Aku tahu poin kedua ini tidak mudah. Setidaknya untuk saat ini. Mbak minta maaf, ya.” Kulihat matanya ikut berkaca-kaca. Tidak mudah mendapatkan izin menikah dari orang tua kami. Dua tahun yang lalu seorang laki-laki melamar Mbak Airini. Ayah tidak menerima dengan alasan pekerjaan laki-laki itu belum mapan. Padahal Mbak Arini siap menikah dengannya. Lalu aku? Dalam tradisi keluarga kami, seorang adik tidak boleh menikah jika kakak perempuannya belum menikah.
    “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mbak.” Aku mulai terisak. Kuputar tubuhku kembali menghadap kiblat. Melanjutkan zikir dan munajat. Sekaligus memberi kesempatan Mbak Arini untuk salat.

    Ternyata butuh 15 hari untuk kembali ke kehidupan normal. Selera makan kembali normal, bisa kembali fokus bekerja, dan tak lagi terbangun di tengah malam. Jauh lebih lama dari penyembuhan patah hati pertama. Itu pun setelah Ra mengizinkan aku kembali menghubunginya.

    “Yang penting tidak mengobrol yang aneh-aneh, biar tidak kepikiran,” pesan dari Ra membuat hatiku kembali berbunga-bunga. Namun, aku harus belajar dari kesalahan sebelumnya. Aku harus memendam rasa ini, sampai Allah menakdirkan aku bisa melamarnya. Atau justru orang lain yang terlebih dahulu melamarnya.

    Baca juga: Kutipan Novel Rasa Tere Liye

    “Jadi, kamu akan merelakan jika ada orang lain yang melamarnya?” Mbak Arini bertanya dengan mimik serius. Sepertinya ia ingin menegaskan keputusanku.
    “Ya. Bukankah Mbak Arini pernah mengatakan, cinta itu tidak meminta menunggu. Jika kita tidak siap, kita tak boleh menghalangi siapa yang datang terlebih dahulu.”
    “Kamu yakin tidak akan patah hati lagi jika itu terjadi?”
    Aku terdiam. Bayangan wajah Ra kembali muncul. Bayangan yang sama di hampir setiap malam dalam mimpiku. Segera kulirihkan istigfar, seperti pesan Ra waktu itu.
    “Apa yang terjadi, aku yakin itu takdir terbaik, Mbak. Pada akhirnya, kita harus mendekap setiap takdir dengan penerimaan.” []

  • Cerpen: Layaknya Mutiara

    Cerpen: Layaknya Mutiara

    Layaknya Mutiara

    “Bi…”

    “Iya, Mi…”

    Umi cuma senyum-senyum, sepertinya dia akan terus memanggilku begitu. Tak ada yang lebih dari kami, keseharian kami banyak diisi dengan sapaan dan senyuman, mungkin karena kami banyak bersyukur karena baru dipertemukan, bahkan kami setengah bulan yang lalu saling kenal, dan baru tiga hari yang lalu kami menikah. Awalnya kami tidak memanggil Abi dan Umi, bahkan menyapa pun canggung. Mungkin aku lebih banyak berterimakasih karena buatan kopinya. Awal kali pertama aku memanggil Umi karena dia yang manggil Abi padaku.

    “Hmm… Bi…,” panggil Umi lagi agak pelan membuatku melihatnya diiringi senyuman, dan kami tahu bahwa kami sama-sama merasa malu, tapi menyenangkan.

    Aku meletakkan kitab Uqudul Lujain yang sedang kubaca, sepertinya Umi lagi ingin berbicara dengan serius padaku atau sekadar bercerita. Akhir-akhir ini, Umi sudah mulai bersikap manja padaku, aku pun juga begitu, sudah memberanikan tertawa kecil ketika Umi bercerita suatu.

    Umi duduk di sampingku, yang jelas aku tak ada keberatan sedikit pun, karena hal itu yang aku harapkan, yaitu makin akrab tanpa harus terburu-buru. Biarlah waktu yang menentukan semuanya, karena keadaan yang paling baik bukan karena kemauan kita saja, tetapi memang keadaan yang menginginkannya begitu.

    “Uang itu awalnya Umi tidak tahu bahwa itu dari Abi.”

    Aku melihat lekat mata binar Umi.

    “Uang…?” Aku masih belum sepenuhnya mengerti.

    “Iya, uang yang Abi kasih ke Bang Iman setengah bulan yang lalu….”

    Oh, aku jadi ingat sekarang, hari pertama aku mengenal Umi. Ah, jodoh memang tidak ke mana, dan semua orang pasti mempunyai kisah bagaimana pertama kali mereka bertemu, dan hal itu akan menjadi kisah yang sampai kapan pun akan dikenangnya, termasuk kisahku dan Umi.

    ***

    Saat itu aku disuruh Abi untuk membeli bahan-bahan yang akan dibuat kue untuk lebaran ke pasar pusat kota. Jaraknya cukup jauh dari rumah, kira-kira empat hingga lima kilometer. Aku yang baru boyong kemarin dari pesantren karena sudah selesai menjalankan tugas, berangkat berpenampilan apa adanya. Memakai sarung warna hijau dan baju putih.

    “Awas, hati-hati!” kata Umi dari pintu dapur yang melihatku.

    “Insyaallah, Mi!” kataku sambil menghidupkan motor.

    “Jangan lupa baca doa,” Abi menambahkan. Aku hanya tersenyum, tak seperti biasanya hari ini, semua terlihat begitu senang penuh kepedulian, mungkin karena aku baru kemarin boyong dari pondok, bahkan tiga tahun aku sengaja tidak pulang. Mungkin banyak yang berubah dariku, entahlah…

    Bismillahi tawakkaltu alallah…, gumamku sebelum berangkat.

    Di pasar sungguh begitu ramai. Aku parkir motorku di tempat biasa orang membuka parkiran kalau sudah hampir lebaran, karena dari saking banyaknya kendaraan berdatangan. Hari ini tidak begitu ramai karena hari telah terik dan bukan hari biasa orang ke pasar. Namanya juga pasar Senin-Kamis.

    Sebenarnya aku juga ngerasa tidak enak, apalagi pasar paling ramai oleh ibu-ibu, bahkan penjualnya. Makanya, aku langsung ke toko Nuri, toko yang merupakan cabang dari pesantrenku. Di samping itu, karena tidak enak jika harus berdesakan dengan orang-orang kalo masuk ke dalam pasar.

    Di dalam toko, aku melihat teman akrabku di pondok yang bekerja sebagai karyawan. Aku sengaja langsung mencari daftar bahan yang ditulis oleh Umi tanpa menemuinya dulu. Tidak terlalu banyak, cuma satu keranjang. Sehabis itu aku langsung menemui Arif untuk membayar. Di sana masih ada beberapa orang yang mengantre untuk membayar.

    Aku sengaja tidak menyapa Arif, kita memang sudah lama tidak bertemu, entah apakah dia sudah lupa padaku. Setelah giliranku, aku meletakkan barang-barang di hadapannya. Arif lama memperhatikanku.

    Abdullah?” Dia langsung terperangah, sebelumnya dia melihatku lekat sekali. Biasanya kalau kalian santri, pasti sedikit banyak tau mana yang santri dan yang bukan, apalagi satu pesantren.

    Haha.. iya, kamu benar-benar kerja di sini rupaya.”

    Kami saling bersalaman. Dulu Arif pernah cerita bahwa akan kerja di sini, karena rumahnya dekat, sekaligus bisa ngabdi.

    “Lebih tepatnya ngabdi, Ab,” sesekali Arif memperlihatkan barang-barang yang kubeli pada mesin pembaca barcode untuk diketahui harganya. “Kamu sudah selesai peengabdiannya?”

    “Iya, baru kemarin pulangnya.”

    “Di mana?” maksud Arif tempat tugasku.

    “Aku di daerah Madura.”

    “Oh… makin gemuk aja, haha…” Arif melihat penampilanku.

    Haha… aku dikasih makan, Rif. Kalau kamu tugas di mana dulu?”

    “Aku dulu di Sidoarjo, banyak pengalaman di sana.”

    Arif memberikan barang yang sudah dihitung harganya.”

    “Berapa?”

    “Tujuh puluh lima ribu.”

    Aku berikan uangnya dan menerima kembalian dari Arif.

    “Tidakmau mampir ke rumah dulu?”

    “Gimana ya bawa belanjaan Umi, kapan-kapan saja, Rif, insyaallah…

    “Aku tunggu!”

    Aku hanya menjawab dengan senyuman dan langsung mengarah ke pintu untuk ke luar. Baru keluar, aku melihat perempuan dengan kerudung terurai baru keluar dari mobil. Dia  sepertinya juga ingin belanja di toko ini.

    Dia berpapasan denganku saat hendak masuk, kuberikan jalan padanya. Saat itulah kulihat adalah sebuah dompet yang terjatuh tak jauh dari pintu mobil saat dia keluar. Sebuah dompet berwarna pink berukuran sedang. Aku melihat perempuan itu, tapi sepertinya sudah berada di dalam. Reflek saja aku mengambil dompet itu, tapi merasa tidak enak jika langsung aku kasih ke orangnya, entah mengapa merasa segan. Maka setelah mengambilnya, aku mengetuk pintu mobil depan, siapa tau ada sopirnya.

    Ternyata benar, seorang laki-laki paruh baya membuka kaca mobil sebelah kiri yang ku ketuk. Aku tidak tahu apakah dia sopirnya atau bukan, soalnya dia memakai sarung dan baju koko layaknya seorang ustadz.

    “Anu,  pak, ini dompet sepertinya milik anak bapak, tadi terjatuh saat membuka pintu mobil”

    Aku memperlihatkan dompet itu, bapak itu langsung terperangah keluar dari mobil menemuiku.

    “Ini milik Neng Ifa..!”

    Aku memberikan dompet itu dan bapak yang tadi langsung masuk ke dalam toko untuk memberikan pada perempuan tadi. Aku yang memberikan dompet itu hanya tersenyum melihat bapak tadi yang buru-buru masuk toko. Sekilas aku teringat akan wanita itu, siapa Neng Ifa? Aku tak peduli, siapapun itu bukan urusanku, tapi menolong dompet itu baru urusanku.

    ***

    Ketika sudah separuh dari perjalanan, awalnya aku tidak curiga ada mobil yang mengikutiku, mungkin memang satu jalur. Tapi, ketika sudah hampir sampai ke rumah, aku mulai curiga dengan mobil yang mengikutiku sambil menduga dalam hati, mungkin itu orang dinas untuk pergi ke rumah kepala desa.

    Tapi nyatanya tidak, aku sudah melewati rumah kepala desa dan mobil itu tetap mengikutiku hingga aku berbelok pada jalan yang hanya ke rumahku saja.

    Aku berhenti di halaman rumah, turun dari motor, tapi mobil itu juga masuk ke halaman rumahku, padahal jarang ada mobil ke halaman rumah, biasanya berhenti di samping masjid. Mungkin karena orang itu tidak tahu, atau baru pertama kalinya.

    Aku berdiri memperhatikan siapa sebenarnya pemilik mobil itu. Pintu kiri mobil terbuka, dan ternyata seorang wanita berkerudung terurai. Ya, dia adalah wanita yang ku tolong dompetnya. Tapi untuk apa dia mengikutiku hingga sampai ke sini? Kulihat kedua matanya, tapi terlalu segan untuk menatapnya berlama-lama. Maka aku alihkan pandanganku pada bapak yang memakai baju koko yang juga keluar dari mobil. Melihat itu, aku langsung bertanya pada bapak tersebut.

    “Ada apa ya, Pak?”

    “Anu, Neng Ifa…” bapak itu menunjuk perempuan tersebut dengan jempolnya seraya merunduk takzim. Aku jadi tidak enak, karena sepertinya wanita itu keturunan seorang kiai.

    “Hemm… kamu yang menolong dompet itu?” Tanya perempuan itu.

    “Iya…” aku jawab seadanya, selebihnya hanya tersenyum tak mengerti.

    “Terima kasih…”

    “Iya…” kataku kembali, masih dengan wajah yang kurang paham apa sebenarnya yang ia inginkan hingga harus jauh-jauh datang ke sini, apakah hanya untuk mengucapkan terima kasih?

    Saat itulah Umi keluar rumah karena menyadari ada mobil.

    “Siapa, Ab?”

    Kami bertiga melihat ke arah Umi. Bik Habi tetangga depan rumahku juga keluar.

    “Siapa, Ab?”

    Nyai Sofi juga ikut keluar rumah.

    “Siapa, Ab?”

    Mendengar tiga pertanyaan yang hampir bersamaan itu membuatku tidak tau harus bagaimana, hanya bisa senyum-senyum sendiri. Aku pun belum sepenuhnya mengerti dengan wanita itu hingga harus ke sini. Saat itu seolah tubuhku diikat erat sekali dari berbagai sisi. Semua menunggu reaksiku, wanita itu cuma menunduk, bapak yang memakai baju koko pun hanya tersenyum padaku. Saat itulah aku berkata pada si sopir.

    “Mungkin lebih baiknya kita mampir dulu ke rumah, Pak”

    ***

    “Oh… ke sini cuma ingin mengucapkan terimakasih? Haha…” Abiku merasa lucu ketika bapak itu menceritakan kejadian di pasar hingga wanita itu memberanikan diri ke sini. Pak Iman, begitulah dia memberitahukan namanya pada Abi.

    “Iya, Neng Ifa ngerasa tidak nyaman katanya…”

    “Dari mana?” Abi bertanya asalnya Pak Iman.

    “Dari Sumber Jambe”

    “Wah.. cukup jauh ke sini. Di mananya pondok pesantren as-Syifa?”

    Pak Iman tersenyum pada Abi, “Kami memang dari sana, Neng Ifa ini putri Kiyai As’ad Muhammad”

    “Oh, jadi… masyaallah, kalau tidak salah kamu Hitthatul Iffah?”

    “Iya..”

    “Saya biasanya setiap selesai lebaran ke sana. Kiai Muhammad Baidhowi, kakeknya jenengan masih ada hubungan kerabat dengan kakek saya, almarhum Basyori Muhammad. Jadi tidak salah kalian mampir ke sini, sekalian silaturahmi

    “Oh… jadi…” Pak Iman terlihat heran, aku pun juga begitu. Tapi wanita itu dari tadi lebih banyak diam, membuatku tidak enak sendiri.

    Kejadian ini sungguh di luar dugaan, aku hanya senyum-senyum sendiri. Wanita itu begitu mulia hatinya hingga jauh-jauh ke sini hanya untuk mengucapkan terima kasih, mengapa tidak dijalan saja, aku juga merasa salah kalau begini.

    Maka aku ke dapur bantu-bantu Umi, mengulang cerita yang tadi. Umi hanya tersenyum mendengarnya, beliau pasti mengerti karena juga mengalami masa remaja sepertiku. Kalau saja kalian yang mengalami peristiwa semacam ini pasti juga akan berpikiran yang sama. Sungguh hati bertumpuk tanda tanya, ada wanita yang memberanikan datang ke rumah laki-laki untuk mengucapkan terima kasih, jelas adalah hal yang tidak wajar, jaraknya pun terbilang jauh.

    Padahal aku cuma menolong dompetnya dan memberikan pada Pak Iman, tidak pada orangnya langsung karena merasa canggung, aku pun memilih pergi saja langsung ke tempat parkir, pasti dia langsung mengejarku, dan urung untuk membeli sesuatu di toko itu. Aku merasa salah padanya.

    “Iya, Ab, kami biasa mengadakan haul Kyai Mahmud Abdullah setiap tahunnya di sana, biasanya setelah lebaran ini. Semua keturunannya dinamakan Bani Mahmud, makanya Abimu menamaimu Muhammad Abdullah, tabarruk pada beliau, Kiyai Mahmud Abdullah.”

    Jelas Umi ketika aku mengatakan bahwa, kata Abi antara kakek dan kakek wanita itu ada hubungan kerabat. Sebuah kebetulan yang luar biasa bukan? Ya, aku cuma bisa bersyukur senyum-senyum sendiri menyadari hal itu. Tapi aku tidak terlalu berharap, apa lagi terlalu jauh. Bagiku hari ini adalah hariku, tanpa harus berharap pada hari yang akan datang, karena yang pantas dijadikan cerminan itu hanyalah hari yang telah berlalu, maka memperbaiki hari ini juga untuk menghadapi hari esok.

    Tidak begitu lama Neng Ifa dan Pak Iman di rumah, mereka pamit untuk pulang, Umi memberikan berbagai macam kerupuk mentah dan buah-buahan, diantaranya buah nangka.

    “Ini sudah selesai dikuliti, Kiai As’ad Muhammad suka buah nangka.”

    “Terimakasih, Umi.” jawab neng Ifa menerima bungkusan dari Umi.

    “Loh…” Umi agak heran, karena neng Ifa memanggil Umi.

    “Saya anggap orang tua sendiri.”

    Umi langsung memeluk Neng Ifa, aku hanya melihat saja, semenjak dia datang aku memang lebih banyak diam. Aku membantu Pak Iman menaikkan kardus oleh-oleh ke bagasi mobil. Kalau perasaanku jangan ditanya, ingin berbincang dengan perempuan itu meski hanya sebentar, ingin bertanya mengapa harus mengikutiku dan mohon maaf jika harus membuatnya datang ke sini. Tapi hati ini yang berontak, tidak siap, takut, malu, segan, canggung, entah apa perasaan lainnya yang membuatku harus selalu menunduk. Sudah lama aku melatih hati ini untuk terbiasa dengan perempuan, tapi tetap saja.

    “Kapan-kapan mampir ke sini lagi.”

    Insyaallah, Mi.” Jawab perempuan itu yang dipanggil Neng Ifa.

    ***

    “Tidak kusangka hati suamiku setulus dan seindah itu”

    Aku hanya melihat Umi yang tersenyum manja di sampingku.

    “Abi kan, yang ngasih uang seratus ribu ke Pak Iman dan suruh jangan kasih tau ke Umi untuk membeli bensin dalam perjalanan pulang?”

    “Oh..” aku menjawab seadanya tetap tersenyum.

    “Awalnya Umi tidak tahu mengapa Pak Iman menolak uangku saat mengisi bensin, setelah diurus, ternyata katanya Abi telah memberikan uang bensin untuk perjalanan pulang saat membantu Pak Iman meletakkan kardus oleh-oleh ke bagasi mobil.”

    Aku tersenyum mendengar cerita singkat Umi, sekarang sepertinya aku sudah mulai benar-benar akrab dengan istriku.

    “Ya mau gimana lagi, Mi, kan Umi udah jauh-jauh ke rumah hanya untuk ngucapin terima kasih, Abi jadi merasa bersalah dan tidak nyaman.”

    Umi tersenyum, dia sandarkan tubuhnya padaku. Sekarang aku benar-benar bersyukur, wanita yang setengah bulan yang lalu bertemu, kini telah sempurna menjadi milikku. Aku yang dari dulu malu pada perempuan, merasa canggung dan sebagainya. Tapi sekarang lihatlah, mungkin memang harus seperti itu memperlakukan wanita.

    Hati perempuan di sampingku ini bagiku layaknya mutiara, tindakannya selalu takut menyinggung perasaan orang lain, bahkan menjaganya. 

    achjalaludin. Awalnya aktif di FLP Rangting Banyuanyar, terus melanjutkan ke FLP Pamekasan