Kategori: Berita FLP

  • FLP Malang Gaungkan Semangat Literasi Lewat Talkshow di Radio MFM

    FLP Malang Gaungkan Semangat Literasi Lewat Talkshow di Radio MFM

    Malang — Dalam rangka memperluas syiar literasi dan memperkenalkan gerakan kepenulisan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, Forum Lingkar Pena (FLP) Malang hadir dalam program siaran talkshow di Radio MFM Malang 101.3 FM pada hari Sabtu, 9 Mei 2026.

    Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata FLP Malang dalam membangun budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat. Melalui media radio yang dekat dengan publik, FLP Malang ingin menghadirkan semangat berkarya, berbagi inspirasi, dan mengajak anak muda untuk aktif mengekspresikan gagasan melalui tulisan.

    Dalam kesempatan tersebut, pengurus FLP Malang memperkenalkan berbagai program dan aktivitas komunitas, mulai dari kelas menulis, diskusi literasi, kegiatan kepenulisan, hingga ruang pengembangan diri bagi para anggota muda yang ingin bertumbuh bersama dunia literasi.

    Ketua FLP Malang, Intan K. L. Asror, menyampaikan bahwa menulis bukan hanya sekadar aktivitas menuangkan kata, tetapi juga bagian dari dakwah, pendidikan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

    “Scripta manent, verba volant — tulisan akan tetap abadi, sementara ucapan akan berlalu,” tuturnya.

    Menurutnya, tulisan memiliki kekuatan untuk menyimpan gagasan, menyebarkan nilai-nilai kebaikan, serta meninggalkan jejak perubahan bagi masa depan.

    Sementara itu, Gusti Trisno selaku pengurus bidang bisnis FLP Malang menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai agent of change di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi digital.

    “Anak muda hari ini harus berani menjadi pembawa perubahan melalui karya, ide, dan literasi. Maka dari itu, bergabung bersama FLP adalah pilihan yang tepat untuk tumbuh, belajar, dan berkarya bersama,” ungkapnya.

    Melalui siaran ini, FLP Malang berharap semangat literasi semakin tumbuh di tengah masyarakat Malang Raya dan mampu melahirkan generasi muda yang kreatif, kritis, serta berdaya melalui karya tulis.

  • Naufal El-Fany, anggota FLP Pamekasan yang Lolos International Conference Santri Mendunia

    Naufal El-Fany, anggota FLP Pamekasan yang Lolos International Conference Santri Mendunia

    Kesempatan tampil di forum internasional, seperti International Conference, menjadi pengalaman berharga bagi banyak anak muda, termasuk kalangan santri. Tidak hanya membawa nama diri sendiri, mereka juga membawa gagasan dan nilai-nilai pesantren ke panggung global.

    Hal itu dirasakan oleh Naufal El-Fany, anggota FLP Pamekasan, yang menjadi salah satu peserta International Conference Santri Mendunia. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga negara yaitu Singapura, Malaysia dan Tailan dari tanggal 6 – 12 Mei 2026. Program ini merupakan inisiasi Santri Mendunia, organisasi komunitas sekaligus creative agency yang didirikan para santri milenial dari berbagai bidang keilmuan.

    Komunitas tersebut memiliki jaringan luas hingga 35 negara dan 34 provinsi di Indonesia. Tujuan International Conference ini adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia santri dan potensi pesantren lokal agar mampu bersaing di tingkat internasional.

    Awalnya, Naufal mengaku hanya ingin mencoba mengikuti seleksi konferensi tersebut. Berbekal kemampuan menulis paper yang ia pelajari dari Forum Lingkar Pena, ia memberanikan diri mendaftar.

    “Salah satu syarat utamanya memang harus membuat paper sesuai tema dari panitia. Awalnya cuma ingin mencoba, ternyata Alhamdulillah lolos,” ujarnya.

    Baginya, program tersebut menarik karena tidak sekadar menawarkan perjalanan ke luar negeri. Peserta juga akan mengikuti konferensi, debat, hingga forum diskusi internasional yang membuka wawasan baru.

    Seleksi dan Persiapan

    Untuk mengikuti program ini, peserta harus berasal dari kalangan santri, baik yang masih aktif maupun alumni. Selain itu, peserta juga bisa berasal dari orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam. Tahapan seleksinya pun cukup beragam. Mulai dari penulisan paper, pengumpulan berkas administrasi, pembuatan video edukasi, hingga wawancara tahap akhir. Menariknya, penggunaan bahasa dalam seleksi tidak selalu bahasa Inggris. Peserta bisa menggunakan bahasa Indonesia, Melayu, dan Arab. Meski begitu, kemampuan menulis tetap menjadi hal penting yang harus dipersiapkan. Sebab, tugas peserta tidak berhenti setelah paper pertama diterima.

    “Setelah paper diterima, ternyata masih ada tugas membuat paper lagi. Jadi ada paper before event dan after event,” jelasnya. Paper ini bersifat kelompok. Seluruh peserta dibagi menjadi enam kelompok dan diminta menyusun tulisan berdasarkan mosi debat yang telah ditentukan panitia.

    Dalam penulisan artikel saat seleksi, kelompok Naufal mengangkat judul “Transformasi Pendidikan Global melalui Nilai-nilai Sistem Boarding Pesantren: Model Holistik untuk Adaptasi Pedagogis, Pembentukan Karakter, dan Kewargaan Global Santri” hingga mengantarkan Naufal dan tim ke kancah Internasional.

    Ketika acara berlangsung, kelompok Naufal mendapat mosi debat tentang Pendidikan di Brunei Darussalam. Materi yang disampaikan adalah “This House Believes That Traditional Religious Education in Brunei Should Be More Open to Global Innovation”. Dari sesi tersebut, Naufal dan tim mendapat apresiasi The 1st Best Group.

    Tentang Pendanaan dan Kekhawatiran Scam

    Program ini memiliki beberapa kategori pembiayaan, yakni Fully Funded, Partial Funded, dan Self Funded. Pada kategori Fully Funded, seluruh biaya peserta ditanggung panitia. Namun kuotanya sangat terbatas. Selain itu, ada juga kategori Special Funded yang diterima oleh Naufal el Fany. Dalam kategori tersebut, ia mendapatkan potongan biaya hampir setengah harga. Ia mengakui sempat khawatir terhadap program semacam ini karena takut penipuan atau scam, apalagi banyak konferensi internasional yang meminta biaya pendaftaran. Namun, sebelum mendaftar ia mencari informasi lebih dulu melalui teman-temannya di Jakarta.

    “Alhamdulillah teman saya tahu program ini dan memastikan kalau ini bukan scam. Dari situ saya jadi lebih yakin ikut,” katanya.

    Pesan untuk Anak Muda

    Di akhir wawancara, ia berpesan agar anak muda tidak ragu mencoba kesempatan serupa, asalkan tetap berhati-hati dan mencari informasi terlebih dahulu. Menurutnya, program internasional seperti ini sangat baik untuk menambah pengalaman, relasi, dan pertukaran ilmu pengetahuan.

    “Keluar negeri itu bukan cuma untuk jalan-jalan, tapi juga bisa dapat ilmu, pengalaman baru, dan relasi,” ujarnya.

    Ia juga membagikan tips sederhana bagi siapa saja yang ingin mengikuti seleksi program internasional.

    “Yang penting dijalani dengan serius. Jangan hanya berpikir yang penting daftar atau yang penting selesai. Kerjakan semua dengan sungguh-sungguh. Kalaupun belum lolos, setidaknya kita tetap mendapat pengalaman dan manfaat dari prosesnya,” terangnya.

  • Dari Kunjungan Literasi Jadi Aksi, FLP Bangkalan Perkuat Gerakan Literasi

    Dari Kunjungan Literasi Jadi Aksi, FLP Bangkalan Perkuat Gerakan Literasi

    Gerakan literasi di Kabupaten Bangkalan kembali mendapatkan dorongan melalui inisiatif kolaboratif antara komunitas dan pemerintah daerah. Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bangkalan mengambil langkah proaktif dengan mengunjungi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Bangkalan pada Selasa (29/4/2026). Kunjungan literasi ini menjadi bagian dari peringatan Milad FLP ke-29 dengan tema Gerakan Nasional Literasi Berdaya.

    Ketua FLP Bangkalan, Sri Kindrana Syafi’i, menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan kerja sama antara pegiat literasi dan instansi pemerintah. Menurutnya, sinergi yang terjalin diharapkan mampu menghadirkan program-program literasi yang lebih luas dan berdampak langsung bagi masyarakat.

    Kunjungan tersebut disambut oleh Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca, Christin Sri Hayati atau yang lebih dikenal sebagai Bunda Itin. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh antusiasme, dengan pembahasan yang menitikberatkan pada rencana kolaborasi ke depan.

    Dalam dialog tersebut, FLP memperkenalkan peran serta kontribusinya sebagai wadah pengembangan kepenulisan. Di sisi lain, Disperpusip mengajak FLP untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai agenda literasi daerah. Beberapa rencana kegiatan yang mengemuka antara lain program bedah buku serta safari literasi ke berbagai wilayah.

    “Kolaborasi ini diharapkan menjadi pemantik tumbuhnya minat baca dan menulis masyarakat, sekaligus menghadirkan program literasi yang edukatif, inspiratif, dan berkelanjutan bagi Bangkalan,” ucap Bunda Itin.

    Baik FLP maupun Disperpusip memiliki visi yang sama dalam meningkatkan minat baca dan menulis di masyarakat. Keterlibatan komunitas dinilai menjadi faktor penting dalam menggerakkan literasi hingga ke tingkat akar rumput.

    “Semoga langkah ini mengawali gerakan yang lebih besar, sehingga literasi benar-benar menjadi budaya di tengah masyarakat,” harapnya.

    Sinergi antara FLP dan Disperpusip ini diharapkan mampu menghadirkan program literasi yang tidak hanya edukatif bagi warga.

    “Namun juga inspiratif dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Bangkalan,” lanjutnya.

    Harapannya langkah awal FLP Bangkalan ini dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan literasi yang lebih masif. Serta perlunya konsistensi dan kolaborasi menjadi kunci agar literasi dapat tumbuh sebagai budaya yang mengakar di tengah masyarakat.

  • Muscab FLP Gresik Pilih Siti Maulina Sebagai Ketua Baru, Perkuat Semangat Literasi dan Ukhuwah

    Muscab FLP Gresik Pilih Siti Maulina Sebagai Ketua Baru, Perkuat Semangat Literasi dan Ukhuwah

    Kegiatan Musyawarah Cabang (Muscab) VIII Forum Lingkar Pena Cabang Gresik berlangsung hangat di SDIT Al-Ibrah pada Ahad, 26 April 2026. Pertemuan dua tahunan tersebut menjadi ajang evaluasi sekaligus penentuan arah baru organisasi literasi yang selama ini dikenal aktif mengusung dakwah melalui tulisan.

    Acara dibuka oleh Ketua FLP Gresik periode 2022–2024, Almaidatul Istibsyaroh. Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga tutur kata dan tulisan sebagai bentuk tanggung jawab seorang muslim. Alma menilai, penulis memiliki peran besar dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan lewat kalimat yang disampaikan kepada masyarakat.

    Ia juga mengajak seluruh anggota untuk terus saling mendukung dan membangun semangat bersama di dalam organisasi. Menurutnya, kehati-hatian dalam berbicara maupun menulis merupakan bagian dari amanah yang harus dijaga.

    Alma kemudian berbagi kisah saat pertama kali dipercaya memimpin FLP Gresik. Kala itu, Muscab dilaksanakan secara daring dan ia tengah menemani anaknya yang masih kecil. Ia mengaku tidak pernah menyangka akan dipilih sebagai ketua. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa FLP bukan sekadar komunitas menulis, melainkan ruang perjuangan yang dibangun atas dasar keikhlasan.

    Dakwah Melalui Tulisan

    Dalam paparannya, Alma menyebut FLP memiliki tiga fondasi utama, yaitu keislaman, organisasi, dan kepenulisan. Ketiga hal tersebut menjadi identitas yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan FLP sebagai komunitas literasi.Menurutnya, setiap anggota yang bergabung sejatinya turut membawa misi dakwah bil qalam atau menyebarkan pesan kebaikan melalui karya tulis. Ia berharap setiap tulisan yang lahir dari anggota FLP dapat memberi manfaat luas dan menjadi amal jariyah.Ia juga menyoroti tantangan regenerasi yang kini dihadapi banyak cabang FLP. Meski demikian, Alma merasa bersyukur karena pengurus FLP Gresik mampu bekerja sama dengan baik dan saling melengkapi demi menjaga keberlangsungan organisasi.

    Estafet Kepemimpinan Baru

    Setelah melalui proses musyawarah, forum akhirnya menetapkan Siti Maulina sebagai Ketua FLP Gresik periode 2026–2028. Terpilihnya Maulina disambut antusias oleh para peserta Muscab.

    Dalam pidato perdananya, perempuan yang akrab disapa Moli itu menyampaikan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia menegaskan tidak dapat menjalankan tugas tersebut seorang diri tanpa dukungan seluruh anggota.

    Moli menggambarkan organisasi sebagai satu kesatuan yang harus bergerak bersama. Ketika satu bagian menghadapi kesulitan, bagian lain pun perlu hadir untuk menguatkan.Ia juga mengajak anggota FLP kembali mengingat tujuan awal bergabung di organisasi tersebut. Baginya, setiap aktivitas di FLP bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bagian dari ikhtiar mencari rida Allah SWT melalui karya yang bermanfaat.

    Harapan untuk FLP Gresik

    Ketua FLP Jawa Timur periode 2026–2028, Ika Safitri, turut memberikan arahan kepada kepengurusan baru. Ia menilai kontribusi nyata jauh lebih penting dibanding jabatan yang dimiliki dalam organisasi.

    Ika mengapresiasi berbagai capaian FLP Gresik, terutama kerja sama dengan penerbit dan lembaga pendidikan yang telah dijalankan selama ini. Ia berharap program-program tersebut dapat terus berkembang dan memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.

    Selain memperluas kegiatan literasi seperti bazar buku, Rumah Cahaya, dan pelatihan menulis, Ika juga menekankan pentingnya menjaga hubungan antarkader. Menurutnya, kekuatan FLP terletak pada ukhuwah dan rasa saling memiliki antaranggota.Ia berharap semangat dakwah dan literasi di tubuh FLP Gresik terus tumbuh sehingga organisasi tersebut semakin dikenal dan memberi manfaat lebih besar di masa depan.

  • Kunjungan Literasi FLP Jatim, Jajaki Kolaborasi Bersama Disperpusip Jawa Timur

    Kunjungan Literasi FLP Jatim, Jajaki Kolaborasi Bersama Disperpusip Jawa Timur

    Surabaya-Bertepatan Hari Buku Sedunia pada hari Kamis, 23 April 2026, dan perayaan Milad FLP 2026 yang bertajuk “Gerakan Nasional Literasi Berdaya”, Forum Lingkar Pena Jawa Timur (FLP Jatim) melaksanakan kunjungan literasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Kunjungan literasi ini merupakan langkah strategis memperkuat sinergi dalam pengembangan literasi berbasis konten lokal. Kegiatan ini meliputi diskusi, pertukaran gagasan, serta tur fasilitas perpustakaan.

    Implementasi dari Koleksi Perpustakaan

    Program Disperpusip tidak hanya berfokus pada pengelolaan perpustakaan, tetapi juga penguatan sumber daya manusia (SDM), khususnya pustakawan dan pegiat literasi.

    “Disperpusip Jatim secara aktif menyelenggarakan pelatihan keterampilan, termasuk pelatihan kepenulisan, serta pembinaan teknis yang menjangkau hingga tingkat desa,” ujar Sujarwo, S.Sos., M.Si dari bidang Deposit, Pengembangan, dan Pelestarian (DPP) yang berfokus pada penguatan konten lokal.

    Pengetahuan dari koleksi perpustakaan, baik cetak maupun digital, diimplementasikan langsung oleh masyarakat. Hasilnya, berbagai program literasi tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga berdampak pada penguatan ekonomi masyarakat.

    Implementasi nyata dari konsep ini pada lingkungan kantor Disperpusip Jatim menghadirkan praktik sederhana seperti pemanfaatan solar panel, hidroponik, dan kolam ikan sebagai contoh penerapan ilmu dari bahan bacaan perpustakaan.

    Pelestarian Naskah Kuno

    Selain penguatan literasi umum, Disperpusip Jatim juga menaruh perhatian besar pada pelestarian naskah kuno. Program ini mencakup diseminasi informasi turunan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, termasuk kompetisi alih bahasa naskah kuno.

    “Biasanya kita kolaborasi terbuka dengan berbagai pihak, seperti komunitas pengkaji naskah, akademisi, maupun masyarakat umum. Bisa melalui forum diskusi, talkshow, atau webinar daring agar jangkauannya lebih luas,” tutur Wahyu D. Pramana, S.Hum., S.IP sebagai pustakawan Disperpusip Jawa Timur.

    Upaya pelestarian naskah kuno ini menyentuh berbagai daerah di Jawa Timur. Disperpusip Jatim hadir untuk membantu proses identifikasi, pendaftaran, pelestarian, hingga penguatan pemahaman masyarakat terhadap nilai ilmiah naskah tersebut. Proses pengelolaan naskah kuno sendiri membutuhkan waktu panjang, antara tiga hingga lima tahun. Proses tersebut berkolaborasi dengan para peneliti yang memiliki kemampuan membaca naskah, tanpa terbatas pada latar belakang pendidikan formal tertentu.

    Potensi Kolaborasi

    Diskusi berlangsung hangat dengan membahas berbagai peluang kolaborasi antara FLP Jatim dan Disperpusip Jatim. Kedua pihak sepakat bahwa kerja sama dapat dilakukan secara fleksibel dan dua arah.

    Disperpusip Jatim mendorong penulisan konten lokal berbasis naskah kuno. Data dapat diakses dari perpustakaan, kemudian diolah menjadi karya baru seperti buku atau cerita. Beberapa naskah kuno tersedia dalam bentuk full text, sementara lainnya terbatas atau memerlukan kajian khusus sebelum dipublikasikan.

    Dalam ranah digital, Disperpusip Jatim memiliki aplikasi dJatim yang bekerja sama dengan penerbit. Karya anggota FLP Jatim berpeluang masuk ke dalam platform ini melalui skema penerbitan resmi, di mana buku terbit akan didaftarkan dan diserahkan ke Disperpusip sebagai bagian dari koleksi.

    Disperpusip Jatim juga membuka peluang pemanfaatan fasilitas perpustakaan sebagai lokasi kegiatan literasi, seperti pelatihan kepenulisan, diskusi buku, hingga penyelenggaraan event bersama. Disperpusip siap berkontribusi sebagai kurator atau juri pada kegiatan-kegiatan yang diinisiasi FLP Jatim.

    “Kalau ada kegiatan kepenulisan, kita (bisa) kolaborasi, menjadi bagian dari kuratornya,” ujar Sekretaris Dinas, Arif Widodo, S.T., M.SE.

    Harapannya, FLP Jatim dapat terlibat aktif dalam program-program Disperpusip Jatim. Ke depan, kedua pihak berharap dapat menghadirkan lebih banyak kegiatan literasi bersama yang berdampak luas bagi masyarakat.

    Tur Fasilitas Perpustakaan

    Usai sesi diskusi, peserta diajak berkeliling mengenal berbagai fasilitas perpustakaan. Kunjungan dimulai dari ruang anak dan ruang dongeng yang dirancang ramah bagi pembaca usia dini, dilanjutkan ke ruang deposit yang menyimpan koleksi karya terbitan lokal, termasuk pengenalan naskah kuno. Peserta juga mengunjungi ruang referensi yang menyediakan berbagai sumber pengetahuan.

    Salah satu sorotan utama dalam kunjungan literasi ini adalah Galeri Majapahit yang mengusung konsep modern dan interaktif. Di galeri ini, pengunjung dapat mempelajari sejarah Kerajaan Majapahit hingga peran Wali Songo melalui berbagai media, mulai dari tayangan audiovisual di layar lebar, permainan edukatif, hingga pengalaman virtual 360 derajat yang menghadirkan suasana masa lampau. Selain itu, tersedia pula koleksi buku, artefak replika, dan display benda bersejarah yang memperkaya wawasan pengunjung.

    Dalam kunjungan ini juga disoroti pentingnya penguatan koleksi buku berbasis konten lokal dari berbagai daerah di Jawa Timur, yang saat ini masih perlu ditingkatkan baik dari segi jumlah maupun keberagaman.

    Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berorientasi pada membaca dan menulis, tetapi juga pada pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

    Kegiatan ini menjadi langkah awal yang positif bagi FLP Jatim dan Disperpusip Jatim dalam membangun ekosistem literasi yang lebih kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan, khususnya dalam mengangkat kekayaan budaya dan kearifan lokal Jawa Timur melalui karya tulis.

  • Dorong Budaya Baca, FLP Jatim Hadirkan Buku di Kedai Kopi

    Dorong Budaya Baca, FLP Jatim Hadirkan Buku di Kedai Kopi

    Sidoarjo– Buku adalah jembatan ilmu yang mampu menghubungkan berbagai pemikiran, pengalaman, dan inspirasi. Tak hanya itu, buku juga menjadi sarana menebar kebaikan serta mempererat silaturahmi. Semangat inilah yang diusung oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Timur saat berkunjung ke Kedai Waleho Kopitiam di Jalan Jl. Hasanuddin Ruko No.48, Sidowayah, Celep, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu (25/4).

    Di tengah maraknya budaya nongkrong di kalangan anak muda, Kedai Waleho Kopitiam hadir dengan konsep yang sedikit berbeda. Tidak hanya menyajikan beragam minuman dan makanan, kedai ini juga menyediakan rak-rak buku yang bisa dibaca oleh para pengunjung. Suasana yang hangat dan santai membuat siapa pun betah berlama-lama, baik untuk sekadar berbincang maupun menikmati waktu dengan membaca.

    Kunjungan FLP Jawa Timur ke kedai tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Milad FLP 2026 yang bertajuk “Gerakan Nasional Literasi Berdaya”. Dalam kesempatan itu, mereka juga membawa misi literasi dengan program donasi buku, termasuk karya-karya anggota FLP. Buku-buku tersebut diharapkan dapat menambah variasi bacaan yang tersedia di kedai, sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung.

    Ketua Wilayah FLP Jawa Timur, Ika Safitri, menyampaikan bahwa kegiatan donasi buku ini merupakan bentuk kontribusi nyata komunitas literasi dalam menumbuhkan minat baca di masyarakat. Menurutnya, kehadiran buku di ruang publik seperti kedai kopi dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mendekatkan masyarakat dengan dunia literasi.

    “Mudah-mudahan buku-buku dari kami bisa menjadi salah satu pilihan untuk dibaca pengunjung dan bermanfaat,” ujarnya.

    Selain donasi buku, anggota FLP juga membagikan stiker berisi ajakan untuk gemar membaca. Aksi kecil ini menjadi bagian dari kampanye literasi yang diharapkan mampu menyentuh lebih banyak orang, terutama generasi muda yang akrab dengan budaya nongkrong.

    Sambutan positif datang dari pihak manajemen Kedai Waleho Kopitiam. Novi Aulia, sebagai perwakilan manajemen, mengungkapkan bahwa konsep literasi memang telah menjadi bagian dari identitas kedai sejak awal berdiri. Ia menjelaskan bahwa buku-buku yang tersedia di rak merupakan hasil dari kontribusi berbagai pihak, baik dari teman maupun komunitas.

    “Memang kedai kami konsepnya dari dulu seperti ini. Jadi buku-buku ini adalah hasil urunan atau kami kumpulkan dari teman-teman untuk mengisi rak ini,” jelas Novi.

    Kolaborasi antara komunitas literasi dan pelaku usaha seperti ini menunjukkan bahwa upaya menumbuhkan budaya membaca tidak harus selalu dilakukan di ruang formal seperti sekolah atau perpustakaan. Justru, dengan menghadirkannya di tempat-tempat santai seperti kedai kopi, literasi dapat menjangkau lebih banyak kalangan secara alami.

    Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran buku fisik tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Membaca buku di sela waktu santai, ditemani secangkir kopi, bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna.

    Melalui kegiatan ini, FLP Jawa Timur dan Kedai Waleho Kopitiam memberikan contoh nyata bahwa literasi bisa tumbuh di mana saja. Dari sudut sederhana sebuah kedai, benih-benih kecintaan terhadap membaca dapat disemai, tumbuh, dan pada akhirnya memberi manfaat bagi banyak orang.

  • Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

    Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

    Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur menggelar kegiatan halalbihalal secara daring pada Sabtu, 11 April 2026 dengan pembukaan oleh MC dari Divisi Kaderisasi, Maulina. Setelah itu, Ketua FLP Jawa Timur, Ika Safitri, memberikan sambutan singkat. Pengurus dan anggota FLP dari berbagai wilayah di Jawa Timur mengikuti kegiatan ini dengan cukup antusias.

    Dalam sambutannya, Ika menekankan pentingnya menjaga ukhuwah di tengah keterbatasan pertemuan langsung. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para ketua cabang yang telah berpartisipasi dalam program video Kultum Cahaya Senja.

    Mengusung tema “Kembali ke Fitrah: Menghapus Noda dengan Cerita, Mempererat Ikatan dalam Kata”, kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum FLP periode 2025–2029, Nafi’ah al-Ma’rab, sebagai narasumber utama.

    Dalam pemaparannya, Nafi’ah menilai kinerja FLP Jawa Timur cukup baik. Hal ini terlihat dari konsistensi wilayah tersebut dalam menyelenggarakan berbagai agenda berskala nasional. Meski demikian, kita tidak bisa menghindari dinamika organisasi, terutama dengan semakin beragamnya latar belakang anggota.

    Tantangan Membangun Solidaritas

    Menurutnya, FLP merupakan organisasi yang heterogen. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus kekuatan dalam membangun solidaritas. Ikatan ukhuwah menjadi fondasi utama yang menjaga organisasi tetap solid.

    Ia juga menyoroti pentingnya momentum Syawal sebagai waktu untuk saling memaafkan. Dalam interaksi organisasi, kita tidak dapat menghindari potensi kesalahpahaman dan konflik. Karena itu, sikap memaafkan menjadi kunci menjaga hubungan antar anggota, seperti pada surah Ali-Imran ayat 134:

    “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

    Selain itu, Nafi’ah menegaskan bahwa kerja organisasi di FLP bertumpu pada keikhlasan, bukan imbalan. Tanpa keikhlasan, aktivitas organisasi berpotensi terhenti.

    “Seni menjaga ukhuwah ini harus tetap dijaga agar kegiatan tetap berjalan. Kepala sekolah yang teladan dan sukses, apakah bisa memimpin FLP dan kegiatan tetap berjalan? Karena anggota FLP berkumpul karena ikatan hati, bukan karena bayaran dan prestasi. Pemimpin di FLP harus cakap dan harus memberdayakan anggota-anggotanya,” ujarnya.

    Langkah strategis menjaga keberlangsungan organisasi

    Lebih lanjut, Nafi’ah memaparkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Di antaranya adalah penguatan pembinaan kader, peningkatan kemampuan komunikasi, dan rekrutmen anggota baru untuk menghadirkan energi baru dalam organisasi. Ia juga menekankan pentingnya silaturahmi, termasuk dengan menjangkau anggota yang kurang aktif.

    Pemimpin menjadi tauladan bagi anak buahnya. Bagaimana totalitas dalam mengelola organisasi dan juga berkarya melalui tulisan. Selain itu, peningkatan kemampuan komunikasi menjadi hal penting dalam organisasi, terutama untuk mengatasi potensi kesalahpahaman, baik saat bertemu langsung maupun dalam interaksi melalui grup chat. Upaya ini diperlukan agar setiap pesan dapat dipahami dengan tepat dan tidak menimbulkan salah makna di antara anggota.

    Solusi ketiga adalah melakukan rekrutmen anggota baru. Langkah ini dapat menjadi upaya menghadirkan energi segar di tengah dinamika organisasi. Ketika terjadi persoalan di suatu cabang atau ranting, penambahan anggota baru bukan untuk mengabaikan masalah, tetapi untuk memperkuat pergerakan dengan hadirnya penggerak-penggerak baru. Tanpa rekrutmen, komposisi anggota yang stagnan berpotensi membuat organisasi rentan terhadap konflik, layaknya air kolam yang tidak mengalir dan akhirnya mengendap.

    Solusi terakhir adalah memperkuat silaturahmi. Meski tidak berbasis imbalan, peran pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kebersamaan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengunjungi anggota yang kurang aktif serta memberikan perhatian atau tali kasih. Upaya ini dinilai efektif untuk mempererat ukhuwah dan menjaga keterikatan antaranggota.

    Memetakan peran organisasi

    Menurut Nafi’ah al-Ma’rab, memetakan peran anggota dalam organisasi menjadi cara untuk meningkatkan keaktifan anggota. Ia membagi anggota menjadi tiga kategori, yakni pemikir, penggerak, dan pengikut. Pemetaan ini penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Pemikir tidak perlu banyak, tetapi harus fokus dan berasal dari anggota yang andal. Peran mereka adalah merancang arah dan melakukan pembinaan.

    Selanjutnya, peran penggerak diisi oleh anggota yang menjalankan program dan menggerakkan kegiatan. Penggerak ini bisa berasal dari anggota madya, meski tidak menutup kemungkinan muncul dari level lain. Sementara itu, anggota yang tidak terlalu aktif dapat berperan sebagai pengikut, misalnya menjadi peserta dalam berbagai kegiatan seperti seminar. Ia menegaskan, tanpa keberadaan pemikir, organisasi akan sulit berjalan. Karena itu, ketua memiliki peran penting dalam menguatkan kapasitas dan peran anggota di setiap lini. Ketiga peran tersebut dinilai saling melengkapi dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi.

    Melalui kegiatan ini, FLP Jawa Timur berharap dapat mempererat hubungan antaranggota serta menjaga semangat berkarya di tengah keterbatasan interaksi langsung.

    *Jika ingin menonton rekaman Zoom bisa akses Youtube FLP Jatim.

  • Halalbihalal dan Rapat Kerja FLP Malang: Perkuat Silaturahmi, Rumuskan Arah Kebijakan Kabinet Satu Jiwa

    Halalbihalal dan Rapat Kerja FLP Malang: Perkuat Silaturahmi, Rumuskan Arah Kebijakan Kabinet Satu Jiwa

    Setelah Muscab FLP Malang, Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang menyelenggarakan kegiatan halalbihalal bersama para pengurus. Tak hanya itu, para pengurus melakukan Rapat Kerja (Raker) sebagai momentum strategis dalam merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan.


    Pada periode kepengurusan kali ini, FLP Malang mengusung nama Kabinet Satu Jiwa, yang merepresentasikan semangat persatuan, kebersamaan, dan keselarasan langkah seluruh pengurus dan anggota dalam berkarya di bidang literasi.
    Kegiatan halalbihalal ini tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan pasca Ramadan, tetapi juga mempererat silaturahmi antar pengurus. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai seluruh rangkaian acara, mencerminkan nilai-nilai yang menjadi fondasi gerakan FLP.

    Dalam kegiatan halalbihalal ini juga, Ketua FLP Malang, Intan K.L. Asror melakukan pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur atas terbentuknya kepengurusan baru, sekaligus menjadi simbol harapan agar kepengurusan Kabinet Satu Jiwa dapat berjalan dengan lancar dan penuh keberkahan. Selain itu, FLP Malang melakukan peresmian homebase baru FLP Malang sebagai pusat kegiatan dan pengembangan literasi ke depan. Melalui forum Rapat Kerja, para pengurus merumuskan program kerja, arah gerak organisasi, serta strategi pengembangan literasi di Malang. Berbagai gagasan dan komitmen bersama lahir sebagai upaya untuk terus menghadirkan karya yang berdampak bagi masyarakat.

    Harapan ke depan, Kabinet Satu Jiwa mampu menjadi penggerak yang solid dalam mencetak penulis-penulis baru, memperluas jejaring literasi, serta memperkuat kontribusi FLP Malang dalam pembangunan budaya literasi. Dengan semangat kebersamaan dalam satu jiwa, FLP Malang optimis melangkah lebih produktif, inspiratif, dan bermakna bagi peradaban.

  • Tausiyah Ramadan Internasional: Menggapai Malam Lailatul Qadr

    Tausiyah Ramadan Internasional: Menggapai Malam Lailatul Qadr

    Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan, FLP Jatim bersama Yatim Mandiri telah menyelenggarakan kegiatan Tausiyah Ramadan Internasional. Kegiatan ini menghadirkan ulama dari Timur Tengah, Syeikh El Toyyib Saleh, pada hari Kamis (12/3). Dadang Irsyamuddin dari FLP Jawa Timur Divisi Kepalestinaan memandu acara ini. Meskipun dalam bahasa Arab, Ustadz Rizky Aji membantu menerjemahkan tausiyah, sehingga materi tausiyah dapat dipahami dengan baik oleh seluruh peserta. Peserta dari kegiatan ini berasal dari anggota FLP Jatim. Kepala Regional 2 Yatim Mandiri, Nanggara Presetyanto, juga menghadiri acara ini.

    Mengangkat tema “Menggapai Malam Lailatul Qadr”, tausiyah ini mengajak umat Islam untuk memahami kedudukan istimewa malam Lailatul Qadr. Tak hanya itu, kita jadi tahu bagaimana cara menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan penuh kesungguhan.

    Dalam pemaparannya, Syeikh El Toyyib Saleh menjelaskan makna mendalam dari ayat “Inna anzalnahu”, yang menunjukkan proses turunnya Al-Qur’an (nuzul). Beliau menyampaikan bahwa terdapat beberapa bentuk nuzul, yaitu Lauhul Mahfudz dan proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap sesuai kondisi umat manusia.

    Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa Allah memuliakan malam Lailatul Qadr. Kehadiran malam ini merupakan bentuk perhatian besar Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, hendaknya umat Islam memberikan perhatian lebih terhadap malam ini dibandingkan malam-malam lainnya.

    Puncak aktivitas orang beriman adalah saat mereka mampu menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan ibadah yang khusyuk. Orang yang dekat dengan Allah adalah mereka yang tidak mencari popularitas di hadapan manusia, melainkan cenderung menyembunyikan amalnya demi meraih kedekatan dengan Allah.

    Dalam kajian yang merujuk pada kitab hadits shahih, beliau menyampaikan bahwa para ulama sepakat bahwa waktu pasti Lailatul Qadr dirahasiakan. Terdapat 49 pendapat mengenai kapan terjadinya malam tersebut, apakah di malam ganjil Ramadan atau di malam lainnya. Perbedaan ini justru menunjukkan besarnya perhatian para ulama terhadap keutamaan malam tersebut.

    Beliau juga mengutip pendapat Sayyidina Ali tentang delapan perkara yang Allah rahasiakan, di antaranya waktu terkabulnya doa, keberadaan wali Allah, waktu mustajab di hari Jumat, hingga malam Lailatul Qadr itu sendiri. Hikmah dari dirahasiakannya malam ini adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang waktu, tidak hanya pada malam tertentu.

    Beliau menyampaikan salah satu kisah adalah tentang Rasulullah yang hendak memberitahukan waktu pasti Lailatul Qadr. Namun karena adanya perselisihan di antara sahabat, informasi tersebut kemudian tidak disampaikan. Oleh karena itu, umat dianjurkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil, seperti tanggal 25, 27, dan 29 Ramadan.

    Lebih dalam, makna Al-Qadr memiliki beberapa arti yaitu sebagai kemuliaan, ketetapan takdir, dan kondisi sempit karena turunnya malaikat dalam jumlah besar. Seakan-akan secara ruhani, ruang untuk manusia jadi sempit dan langit menjadi tenang karena malaikat memenuhi langit. Hal ini menggambarkan betapa agungnya malam tersebut, hingga keberkahan dan ketenangan memenuhi malam tersebut.

    Beliau juga menegaskan bahwa orang-orang saleh tidak bergantung pada tanda-tanda Lailatul Qadr. Mereka senantiasa menghidupkan seluruh malam di bulan Ramadan dengan ibadah. Kesungguhan dan konsistensi menjadi kunci utama dalam meraih kemuliaan malam tersebut.

    Dalam sesi tanya jawab, beliau menyampaikan bahwa kita boleh berdoa untuk urusan dunia, namun sebaiknya tidak menjadi fokus utama. Ramadan itu ibarat musim kebaikan, di mana setiap amal menjadi berlipatganda, bahkan satu istighfar dapat menghapus ribuan dosa.

    Harapan kegiatan tausiyah ini, kita mampu meningkatkan kesadaran umat Islam untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menggapai keberkahan Lailatul Qadr. Namun, orang sholeh tidak memikirkan tanda-tanda itu karena orang sholeh akan selalu menghidupkan seluruh malam.

    Jika belum sempat mengikuti kegiatan, Teman-teman bisa menontonnya di akun Youtube FLP Jatim.

  • Dari Tadabbur ke Ide Tulisan, Menggali Inspirasi dari Al-Qur’an

    Dari Tadabbur ke Ide Tulisan, Menggali Inspirasi dari Al-Qur’an

    Menjelajahi teknik asosiasi dan biosiasi dalam menggali ide tulisan dari Al-Qur’an bersama Ustaz Muchlisin untuk meningkatkan produktivitas karya yang penuh keberkahan di bulan Ramadan.

    Layar gawai menampilkan deretan wajah antusias pada Senin malam, 23 Februari 2026. Sebanyak 22 peserta dari berbagai cabang Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur, mulai dari Gresik, Sidoarjo, Bangkalan, hingga Mojokerto, berkumpul dalam ruang virtual Zoom Meeting. Mereka hadir untuk menjemput inspirasi di awal bulan suci.

    Ketua FLP Gresik, Almaidatul Istibsyaroh, S.Pd.I., membuka acara dengan pesan yang membakar semangat. Baginya, kehadiran bulan suci adalah momentum emas bagi para pejuang pena. Ia menekankan bahwa seorang penulis muslim harus memiliki manajemen hati yang baik sebelum menggoreskan tinta.

    “Ramadan ini bukan waktu untuk bermalas-malasan. Inilah waktu terbaik untuk menata hati, menyucikan diri, dan mengasah produktivitas karya,” tegas Alma, sapaannya, ketika sambutan. Ia mengingatkan bahwa kebermaknaan ibadah puasa akan semakin lengkap jika seseorang mampu menahan lisan dan jari dari keburukan, lalu menggantinya dengan tulisan yang membawa maslahat. “Semoga ilmu ini memberi inspirasi untuk menyebarkan kebaikan melalui tulisan,” harapnya dengan tulus.

    Suasana semakin hangat saat Siti Maulina, S.Psi., anggota FLP Gresik yang menjadi moderator, memperkenalkan sang narasumber. Ustaz Muchlisin, S.Pd.I., M.Pd., bukan sosok asing di dunia literasi Jawa Timur. Pembina FLP Gresik yang juga menjabat sebagai Ketua FLP Jatim periode 2022-2024 ini telah melahirkan sepuluh buku. Kali ini, ia membawa materi bertajuk “Dari Tadabbur ke Tulisan: Menggali Inspirasi Al-Qur’an”.

    Menghubungkan Ayat dengan Realitas Hidup

    Ustaz Muchlisin memulai pemaparannya dengan refleksi mendalam tentang interaksi umat Islam dengan kitab sucinya. Menurutnya, banyak orang membaca Al-Qur’an setiap hari, namun sering kali interaksi tersebut hanya berhenti pada lisan.

    “Jika kita hanya membaca tanpa mengetahui artinya dan tanpa merenungi maknanya, eman (sayang sekali). Hati bisa terasa seperti terkunci,” ungkapnya dengan nada tenang namun lugas. Ia lantas mengajak peserta untuk masuk ke tahap tadabur, yakni mempelajari tafsir untuk memahami pesan langit yang terkandung di dalamnya.

    Bagaimana cara mengubah ayat yang kita baca menjadi sebuah naskah yang memikat?

    Teknik Asosiasi

    Ustaz Muchlisin memperkenalkan teknik asosiasi. Teknik ini memungkinkan ide tulisan lahir dari jembatan antara ayat Al-Qur’an dengan pengalaman pribadi atau imajinasi penulis. Ia membagi teknik ini menjadi dua bagian, yang pertama adalah asosiasi bebas.

    Dalam asosiasi bebas, penulis mengaitkan sebuah ayat dengan peristiwa nyata yang mereka kenal. Berdasarkan masukan salah satu peserta di kolom komentar, Ustaz Muchlisin mengulas contoh potongan ayat ke-5 dari Surah Al-Ma’arij: fasbir shabran jamila, yang berarti “Bersabarlah dengan kesabaran yang indah.” Dari satu perintah pendek ini, jutaan ide cerita bisa mekar.

    Ia mencontohkan kisah sederhana tentang seseorang yang sedang belajar membuat kue. “Dunia baking menuntut kesabaran ekstra. Mulai dari menunggu adonan mengembang, mengatur suhu oven, hingga mencoba berkali-kali sampai berhasil,” jelasnya.

    Dari refleksi ayat tersebut, seorang penulis bisa menciptakan cerita pendek atau novel tentang filosofi kesabaran di balik kegagalan di dapur. Dari satu kata “sabar”, seorang penulis bisa menurunkannya menjadi berbagai drama kehidupan manusia yang menyentuh.

    Teknik Biosiasi

    Malam itu, Ustaz Muchlisin juga menawarkan teknik yang lebih “liar” dan menantang bagi para penulis fiksi, yakni biosiasi. Teknik ini melatih otak untuk menghubungkan dua hal yang sekilas tidak memiliki kaitan sama sekali untuk melahirkan ide orisinal yang segar.

    Ia merujuk pada kisah ikonik dalam Surah Al-Fiil. Sejarah mencatat bagaimana pasukan gajah yang megah dan perkasa tumbang oleh serbuan burung Ababil yang kecil. Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu panas yang mampu menembus perlindungan pasukan musuh. Di tangan penulis kreatif, pola ini bisa bertransformasi menjadi premis cerita modern yang luar biasa.

    “Misalnya dalam novel fiksi ilmiah, pasukan tank yang sangat canggih justru kalah oleh kelompok kecil yang terlihat lemah namun menguasai teknologi digital,” papar Ustaz Muchlisin. Dari analogi Al-Fiil, lahir konsep cerita tentang kavaleri besar yang takluk di tangan para peretas atau hacker. Pertemuan antara kisah klasik dan teknologi modern inilah yang menghasilkan sebuah karya yang unik dan tak terduga.

    Satu Ayat untuk Seribu Cerita

    Melalui pemaparan tersebut, Ustaz Muchlisin ingin menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah samudra inspirasi yang tak akan pernah kering. Kitab suci ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman ibadah ritual, tetapi juga menjadi bahan bakar kreativitas bagi mereka yang mau berpikir. Setiap ayat memiliki potensi untuk memantik gagasan baru, baik itu berupa refleksi, puisi, cerita pendek, hingga novel setebal ratusan halaman.

    Kuncinya, menurut penulis sepuluh buku ini, terletak pada keberanian penulis dalam merajut makna. Penulis harus rajin membaca, memahami kedalaman tafsir, lalu dengan berani mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, imajinasi, dan realitas kehidupan yang sedang terjadi di masyarakat. “Dari satu ayat, bisa lahir seribu cerita,” pungkasnya yang disambut anggukan mantap dari para peserta.

    Kajian literasi daring ini memberikan perspektif baru bagi para anggota FLP. Ramadan tahun ini bukan lagi sekadar target khatam bacaan, melainkan juga target khatam dalam melahirkan karya-karya yang bersumber dari cahaya wahyu. Dengan teknik asosiasi dan biosiasi, para penulis kini memiliki alat untuk membedah setiap ayat menjadi narasi yang menarik bagi pembaca.

    Pertemuan tersebut berakhir dengan sesi tanya jawab yang hangat. Bagi FLP Gresik, kegiatan ini menjadi pemantik awal untuk memastikan bahwa setiap jemari anggotanya akan menghasilkan tulisan yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga penuh dengan keberkahan nilai-nilai Al-Qur’an.

    *Diolah oleh Sayyidah Nuriyah, FLP Cabang Gresik