Kategori: Cerpen

  • Puisi Pertama dan Kata-Kata

    Flpjatim.com,- Selamanya aku akan selalu mengingat bagaimana pertama kali aku membuat puisi. Satu peristiwa yang bagiku sangat bersejarah dan begitu monumental menurutku. Betapa puisi pertamaku saat itu mampu membuat seorang teman perempuan di kelasku menangis tersedu dan meninggalkan kelas begitu saja. Betapa puisi pertamaku itu tercipta di tengah pengakuanku yang membenci puisi pada guru Bahasa Indonesia.
    Seolah guruku tertantang dengan pengakuan itu hingga lantas dipaksalah kami sekelas untuk membuat puisi. Atas bimbingan beliau, jadilah puisi yang tanpa memikirkan apapun itu. Guruku saat itu hanya menekankan berulang kali untuk menuliskan apa saja yang dirasakan tanpa memikirkannya. Meski demikian, beliau tetap mengarahkan kami untuk menggunakan beberapa kata yang umumnya digunakan dalam puisi. Aku pun mengalir saja mengikuti semua perintah dari guru sepenuh perasaan. 
    Puisi Pertama dan Kata-Kata
    Setelah puisi jadi, penderitaanku tak usai sampai situ. Aku dipaksa untuk membacakan puisi lantaran hanya dua orang saja yang mengaku membenci puisi di antara 42 siswa di kelas itu. Entah karena apa aku membenci puisi saat itu. Pokoknya aku benci. Itu saja. 
    Puisi pertamaku tuntas terbaca. Belum sempat guruku berkomentar, tiba-tiba ada seorang teman perempuan berlari keluar kelas sembari menangis sesenggukan. Kami semua sempat terdiam dan hening sejenak. Hening terpecah dengan pujian dari guru atas puisiku tadi. Wajah keheranan terpampang jelas di raut muka guruku. Aku pun diam. 
    Entah sudah berapa kali aku mengisahkan ini pada adik-adikku, tapi rasanya baru pertama kali ini aku menuliskan kisah puisi pertamaku. Sejak saat itulah aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang spesial dari sebuah puisi atau syair. Sejak saat itulah aku mulai ingin tahu dan ingin menyadari bahwa kata-kata memiliki satu kekuatan yang menggerakkan. Seiring berjalannya waktu dan tumbuh bersama dengan Forum Lingkar Pena, semakin kuatlah keyakinanku itu bahwa kata-kata punya kekuatan tersendiri dalam menggerakkan jiwa manusia. Begitu pun pembuktiannya banyak kudapatkan dari ragam kegiatan yang telah kulalui bersama Forum Lingkar Pena. Maafkan, aku tak ingin menunjukkan bukti-buktinya atau membagi kisahnya  lebih jauh. Aku hanya ingin membuatmu menemukannya sendiri dari setiap puisi yang kamu baca. Aku hanya ingin kamu merasakan apa yang kurasakan. Apakah bisa? Apakah mungkin? Entahlah…
    Mari kita baca saja puisi satu ini. Ini bukan puisi pertamaku. Ini juga bukan puisi ciptaanku. Tapi ini puisi salah satu adik yang pernah mendengar kisah puisi pertamaku. Ini puisi salah satu adik yang tahu kisah cinta kehidupanku. Rasanya ia kini mulai memahami bagaimana caranya mengabadikan momen dalam bait-bait puisi. Berbahagialah kamu yang dicintai oleh seorang penyair, seorang penulis, karena kisah cintamu akan abadi dalam karya-karyanya. Selamat membaca!

    Kelak

    Setitik rasa yang muncul
    Mengambil akal tiada menentu
    Tak berdarah tapi sakit
    Terasa sendiri padahal ramai
    Yang teringat itu dulu
    Saat masih ada bertemu
    Tak berlangsung lama
    Namun sungguh terasa bermakna
    Tak terasa waktu berjalan
    Sekarang ada hanyalah jarak
    Yang kulakukan adalah bertahan
    Dan menjaga dengan segenap daya
    Dan yang kunantikan
    Di saat ada kebersamaan
    Dan yang selalu kudoakan
    Agar kelak dipersatukan
    TAMA. 25.08.2019. 21.00 WIB

    Apa yang tertangkap dalam benakmu setelah membaca puisi tersebut? Aku yakin setiap kepala memiliki interpretasi yang berbeda atas kata-kata dalam bait puisi di atas. Mungkin ada pula yang serupa walau aku yakin tetap tak sama persis. Tapi di titik inilah kurasakan kekuatan dari puisi. Ada peluang interpretasi yang beragam bergantung pada suasana pembacanya, pembacaannya, dan kondisi pendukung lainnya saat membaca puisi tersebut. 
    Tak heran kiranya hingga saat perang dulu para penyair dilibatkan untuk memberikan semangat pada para prajurit. Tak heran kiranya hingga para penyair diabadikan dalam kitab suci al-quran. Ada sesuatu yang berharga dan sekaligus berbahaya dari sebuah syair, sebuah puisi. Proses menyelami kedalaman puisi ini masih berlanjut hingga kini. Lalu apa yang kutulis saat ini? Entahlah… aku hanya ingin kamu ikut berpuisi dan menjadikannya sebagai alat yang menguatkan identitas diri!
    Terakhir, kira-kira apa yang akan tertangkap setelah kamu tahu profil penulis puisi di atas? Penulis puisi itu seorang siswa SMA kelas X. Ia tinggal di pondok pesantren yang tidak ada akses pada media daring dan interaksi pada lawan jenis sangat dijaga sedemikian rupa. Ia tengah jatuh cinta pada temannya tapi tak leluasa untuk mengumbar keinginannya. Ia sempat bertemu satu waktu, tapi saat itu juga ia mendapatkan teguran keras dari sang guru. 
    Selamat membaca! 

    Penulis:
    Angga Suprapto, Sekretaris FLP Jawa Timur
    07.04.2020

  • [Cerpen] Petuah Pelipur Langsa

    Flpjatim.com,- Langsa kerap bertanya, kapan semua opera menyesakkan ini bakal berakhir. Sejak dilahirkan, Langsa sama sekali tidak menemukan rangkaian penjelasan yang memuaskan. Tentang mengapa dirinya harus berada pada posisi sedemikian.
    Setiap kali mendapati suatu keluarga tengah buncah bahagia karena putra pertama mereka lahir, Langsa merasa tersayat sembilu. Hatinya terasa begitu pedih. Di lain kesempatan, matanya memanas dan melelehkan air saat menyaksikan pesta perkawinan dengan salon raksasa yang disusun dan meraung-raung—lengkap dengan pemblokiran jalannya. Sesak sekali dada.
    [Cerpen] Petuah Pelipur Langsa
    Lain halnya ketika dia berjalan—pada suatu ketika—menuju acara tahlilan tetangganya di gang sebelah. Di kala wajah istri yang baru dijamah beberapa waktu lalu itu menggurat getir, Langsa justru tersenyum simpul. Dan, sepulangnya dari sana dengan membawa dua kotak nasi dan kue basah, tawa Langsa membahana. Meramaikan gang yang sekarang hanya dia seorang yang melewatinya.
    Gang yang dahulu kerap sesak ketika dilalui satu mobil itu menghubungkan rumah Langsa dan jalan utama masuk perkampungan. Rumah langsa dapat ditemukan di sudut gang. Persis di samping gang buntu. Di sampingnya berdiri tegap dan gimbal pohon beringin.
    Di bawah atap koyak yang siap terkelupas ketika angin kencang datang itulah tempat Langsa merebahkan harapan. Di dalam, hanya perlu dua puluh langkah untuk menggapai semua sudut rumah dari satu titik: ruang tamu. Lantai berlapis semen tak rata. Kayu rapuh berayap membingkai jendela. Dinding dari anyaman bambu. Dan, hanya ada berbatang-batang lilin sebagai pencahayaan utama.
    Sebenarnya, Langsa bisa saja menyulap rumah itu beberapa derajat lebih baik. Namun, kesempatan itu dia lewatkan. Keterdesakan lain menjadi urutan pertamanya. Tepat ketika dirinya masih menggandeng teman pengoleksi dan pemupuk harapan. Kendati demikian, seulas garis melengkung selalu menghias bibirnya saat menginjakkan kaki di sana.
    Sejak diumumkan sebagai orang hilang akal, tetangga-tetangga Langsa mulai membentangkan jarak. Desas-desus yang meruak beraneka ragam. Si fulan bilang kalau Langsa jadi begitu sejak ditinggal wafat istrinya. Si fulan di ujung berseloroh Langsa kerasukan jin karena rumahnya nempel dengan pohon beringin. Dan, masih banyak kasak-kusuk khas ocehan tetangga lainnya.
    Pernyataan barisan mantan tetangga Langsa itu tidak sepenuhnya salah. Ini diperkuat dengan cara Langsa menampilkan diri. Coba tengok, ke mana-mana dia mengenakan kaos oblong putih berlumur kekuningan, celana bekas keset, dan rambut yang diabaikan acak-acakan. Hanya cara berkatanya saja yang terlihat normal.
    Suatu ketika Langit berbaik hati memberi Langsa kesempatan mencicipi kebahagiaan. Jauh sebelum status wong gendeng melekat pada dirinya. Tiga tahun menjadi penulis lepas mengantarkannya bernyali menyanding gadis pujaan hatinya. Gadis itu bernama Bungah.
    Meskipun diwarnai dengan satu-dua kata saja yang lolos dari mulut tremornya, penghulu menyatakan bahwa Langsa dan Bungah sudah boleh hidup seatap. Sah terhindar dari celometan tetangga yang kadang lebih pedas dari ulekan sambal bawang tingkat puncak. Langsa dan Bungah, satu keping dengan dua perbedaan yang saling melengkapi.
    Sepanjang pernikahannya dengan Bungah, Langsa merasakan limpahan kebaikan itu deras sekali. Seperti coban rondo mengguyur setiap tamunya. Meskipun Bungah sulit mengucap huruf H di akhir namanya, bagi Langsa itu bukan masalah. Justru dengan atau tanpa huruf itu makna namanya tetap saja cantik. Bunga, wangi. Bungah, bahagia.
    Keluarga kecil itu tidak menemukan perselisihan berarti sepanjang pernikahannya. Hal ini membuat Langsa tak kenal libur komat-kamit mengucap syukur. Betapa Agung dan Dermawan-Nya Dia kepada dirinya. Oh, nikmat Tuhan manakah yang pantas didustakan?
    Dia menganugerahkan seorang bidadari berparas rupawan, sarat kesabaran tak terbendung, begitu lemah lembut kepadanya, dan patuh terhadapnya. Satu hal yang Langsa paling sukai dari istrinya adalah cara bersinnya. Pendek, cepat, ringkas.
    Ketika itu, Langsa betul-betul tidak mengenal siapa itu getir. Untuk apa dia hadir dan mengapa dia menjamur untuk kemudian menjalar. Lagipula tidak ada yang dengan senang hati mengingatkannya tentang itu—atau lebih khususnya, memperingatkan.
    Dua belas bulan Bungah menemani Langsa dengan ketercukupan. Istrinya tidak pernah mengumbar keluh kepada suaminya. Bungah menerima Langsa apa adanya. Sebagaimana yang takdir embankan kepadanya. Tidak pernah disalahkan.
    Akan tetapi, Langsa paham bahwa istrinya menyimpan sendu. Memeluk pilu dalam batinnya karena hingga bulan ketiga belas ini perutnya masih kempis. Dan, hal ini mengencangkan pasokan munajat Langsa kepada Sang Penguasa Langit dan Bumi ketika sebagian besar orang lelap. Bungah menyertainya di belakang, dengan setia.
    Mungkin Langit mulai menilai kesungguhan keluarga itu enam bulan kemudian. Buncah bukan main Langsa mendapati Bungah dalam kondisi berbadan dua. Lagi-lagi, pujian kepada Zat yang jiwanya berada dalam genggaman-Nya mengalir tiada henti-hentinya. Menempelkan telinga ke perut Bungah menjadi hobi baru untuk Langsa. Sambil bermonolog.
    ***
    Celaka sekali. Kesenangan yang telah dibangun sampai bulan ke sembilan ini mahal sekali harganya. Langsa benar-benar melongo menyaksikan apa yang menimpanya sekarang. Sungguh, dia tidak pernah bersiap menghadapi ini sebelumnya. Bahkan, orang tuanya—atau sekolah tingginya sekalipun—gagal menyiapkannya untuk hal ini. 
    Mungkin inilah saatnya Langsa mulai berjabat tangan dengan getir.
    Malam itu langit sedang membendung angkara, menggemuruh. Langsa disibukkan dengan aksi paling baru: pontang-panting membawa istrinya menuju rumah sakit. Beberapa waktu sebelum huru-hara itu lebih dahulu dia sukses memanggil ambulans menuju rumahnya. Membuang jauh-jauh dahulu urusan bagaimana cara bayarnya.
    Di sepanjang jalan, Langsa menahan jerih. Wajahnya menggurat panik. Mulutnya mendesis-desis. Sungguh, ada apa dengan semua ini? Tanyanya dalam hati. Sesekali, dia melirik wajah memutih istrinya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang ambulans. Dengan penuh harap, digenggamnya jemari lentik lembut itu. Seakan-akan dengan begitu hal paling buruk tidak akan pernah menimpa Bungah.
    Satu sisi yang selalu merampas perhatian Langsa, namun selalui bersikeras dia abaikan adalah bagian bawah perut buncit Bungah. Ada bercak-bercak kemerahan di sana.
    Tidak sampai setengah jam berlalu, istri Langsa sudah mendarat di atas ranjang rumah sakit. Wajah, lengan, dan kedua tangannya banjir peluh. Cemas menggurat wajah Langsa menyaksikan istrinya bertaruh maut demi sang jabang bayi. Digenggamnya erat-erat tangan istrinya yang lembut itu. Memupuk harap dengan begitu dia nanti memiliki waktu buat tertawa bertiga.
    Sungguh, Langsa harus belajar banyak tentang pedih. Mulai malam ini detik demi detik menjadi gurunya. Dan, dia harus menjadi murid yang duduk manis memperhatikan. Harus menyimpan pertanyaan di bagian akhir. 
    Setelah hanya mampu memicingkan mata menahan ngilu, Langsa hampir terjerembab lemas menyaksikan Bungah berdarah-darah. Menjeritkan rintihan yang menyayat batin. Dua jam berlalu begitu lambat. Entah perasaan yang mana yang harus Langsa dominasikan. Senang, bayinya lahir dengan selamat? Atau sedih memandangi istrinya yang keletihan?
    Kehilangan banyak darah demi mempersembahkan anak pertama adalah hadiah istimewa berikutnya dari Langit untuk Langsa. Namun, demi memandangi Bungah dengan keadaan begitu, rasanya begitu pedih. Tertusuk. Tidak ada yang bisa Langsa perbuat selain menyingkap helai rambut dari wajahnya dan mencium kening Bungah. Langsa menatap Bungah dengan tatapan penuh rasa syukur, berterima kasih.
    Dan, Bungah pulang dengan membawa kecupan indah itu. Menyisakan senyum. Dokter dengan suara tertahan pilu mengatakan terlalu banyak darah. Istrinya gagal melewati fase kritis. Anaknya? Ada komplikasi dengan paru-parunya. 
    Oh, Tuhan. Lumat sudah hati Langsa ketika itu. Remuk sudah jiwa dan raganya. Dia butuh duduk. Dia lantas melakukannya.
    Tuhan, apakah ini ujian untuk menguatkan keyakinanku pada-Mu atau ini sentilan karena sesungguhnya bukan hanya Bungah yang wajib kuperhatikan, melainkan Kau juga? Kesempatan untuk menemukan penjelasan itu disimpan Langsa dalam kepalanya. Sekarang, dia sedang sibuk menjinakkan kemelut dalam dadanya.
    Setelah memasang wajah tabah di depan para pelayat, di samping makam Bungah dan anaknya yang belum sempat dia namai, Langsa merintih dalam. Meloloskan segala lara yang sejak sepanjang malam menyesaki hatinya. Di depannya terbentang pusara istrinya. Berikut di sampingnya ada kuburan mungil, milik anaknya.
    Meski sudah memusatkan tenaga pada matanya untuk menguras air di sana, Langsa tetap tidak menemukan kepuasan terhadapnya. “Mungkin,” katanya, menunduk dalam-dalam. “Kebahagiaan ini hanyalah nuansa berbeda dari air mata, dan air mata adalah kebahagiaan yang semu ….”
    Ingin sekali Langsa bertanya. Bisakah kalian menjelaskan apa sebenarnya makna bahagia itu? Bisakah kalian mengartikan apakah yang dimaksud dengan kesedihan? Mungkin, pertanyaan seperti itu bisa meringankan Langsa. 
    Berbulan-bulan berlalu, Langsa tak tak kunjung menemukan penawar. Hingga kondisi diperburuk dengan hadirnya para tetangga yang menyudutkannya. Menyematkan status orang gila kepadanya tanpa toleransi.
    Ah, sudah itu bukan masalah besar. Pendapat yang bisa diabaikan. Sampai detik ini, Langsa tetap menunggu. Mengharapkan penjelasan atas apa yang harus dia terima ini tanpa melewatkan ibadah malamnya. Kali ini, Langsa sendirian. Tidak ada lagi sosok wanita yang akan mengamini munajatnya dari balik punggungnya.
    Meskipun tinggal seorang diri dibekap kenangan tak terperih di dalam rumah, Langsa merasa itu mungkin hal terbaik yang tersisa. Sesak yang hadir ketika mengamati pigura yang membingkai dirinya dan almarhumah Bungah membuatnya tersenyum. Tusukan ngilu di dada yang mendadak hadir saat bersimpuh di atas sajadah juga mengundang tawa untuknya. 
    Ingin sekali rasanya Langsa menumpahkan tangis gara-gara rentetan sandiwara pilu ini. Sakit sekali ketika Langsa melirik ke sudut itu, tergambar wajah manis istrinya yang belepotan arang. Beralih ke sisi situ, pesona Bungah yang menelengkan kepala begitu aduhai. Perih sekali rasanya membekap itu semua.
    Gagal adalah dinding terkokoh yang membuat Langsa menyerah untuk bersikeras menangis. Hanya tawa dan bahak bahagia saja yang menggantikannya. Mungkin, air mata Langsa sedang tertawa menyaksikan dirinya menjadi begini. Kini, Langsa memiliki edisi perseteruan antara usaha menangis yang terduplikasi tawa dan upaya tertawa yang dilumat tangis.
    ***
    Suara ketukan pintu yang berulang-ulang membelalakkan mata sepat Langsa. Tubuhnya yang terkulai di atas sajadah dipaksa melompat. Seseorang membutuhkan kehadirannya di balik pintu. Sesuatu yang jarang—dan tidak pernah terjadi belakangan ini. Setelah mengerahkan tenaga besar, Langsa berhasil bertumpu pada kedua lututnya dan berjalan mendekati pintu.
    “Lama sekali buka pintunya,” seloroh seorang kakek sambil menerobos pintu.
    Bingung menampar wajah Langsa ketika dia asyik mengucek mata. Siapa orang ini?
    Belum sempat bibirnya meloloskan kalimat itu, si Kakek cepat-cepat berkata. 
    “Saya mau bikin kopi. Belum sarapan ini. Di mana dapurnya?”
    Oleh karena tidak pernah ada kepala selain kepala Langsa yang mampir, dan sebagai tuan rumah, Langsa sama sekali tidak keberatan dengan sidak si Kakek ini. Tepat saat dia menunjuk dapur tanpa diperintah dua kali langsung sigap mengarah ke sana.
    Setelah menguyur mukanya, Langsa sudah mendapati si Kakek berjenggot panjang lebat warna putih, dengan garis muka yang tegas, dan sorot mata tajam meneduh itu duduk di lantai yang beroles semen tak rata. Kakek itu mengibaskan tangan saat Langsa memintanya duduk di kursi saja. 
    Baiklah. Orang tua itu sepertinya selalu minta dituruti. Setidaknya begitu aura yang terpancar darinya. Apalagi sejak dia berani-beraninya tanpa sungkan masuk ke rumah.
    Sambil menyesap kopinya—yang seharusnya masih mendidih—kakek itu, berdeham. Batuk-batuk berat beberapa detik sebelum berkata, “Aku menerima kopi ini. Pahit memang. Tidak ada gula. Tapi itu pada awalnya saja. Toh, semakin diminum ya semakin nikmat.”
    Si kakek berbaju batik lusuh warna hijau pudar dengan kopyah hitam melenceng itu kembali menyesap kopinya. Sebelum melanjutkan kata-katanya, terlebih dahulu si Kakek mencabut rokok tengwe—linting dewe, digulung sendiri. Ditancapkannya rokok di bibirnya untuk meloloskan sekepul asap memanjang.
    “Sebenarnya aku ini enggak tahu mengapa kok ada di sini.” Kata si Kakek.
    Langsa menelengkan kepala. Mengerutkan dahi. Ke mana arah pembicaraan ini?
    “Tapi, ya sudahlah. Pangeran sing nuntun—Tuhan yang menuntun. Aku manut.”
    Dengan jarinya si Kakek mengisyaratkan Langsa untuk bungkam dulu.
    “Nanti sik ya. Aku belum kelar ngomong, sabar.” Kata si kakek mempertegas. 
    “Ngene wis—begini saja. Pahami ini saja. Gampang. Meskipun kini kau memiliki senja untuk getirmu, kau tetap harus menengadah. Karena mayapada tersingsing sudah membawakan girang untukmu. Boleh kau pakai senja untuk meringkuk, menghapus pilu. Dia tahu apa yang harus Dia berikan atas apa yang sudah kau perjuangkan untuk-Nya.”
    Menganga. Langsa melongo. Wajahnya menggurat kedangkalan ilmu. Apa yang sebenarnya dibicarakan kakek ini? Dan, mengapa dia mengatakannya padaku? Perkenalan saja tidak ada. Langsung saja mencerocos macam begitu. Kulit kepala tak gatal menjadi sasaran Langsa untuk menggaruk.
    Saat asap kesekian yang meluncur dari bibir hitam kakek bernuansa hijau itu pudar, si kakek melanjutkan kalimatnya, “Kau itu unya pegangan. Tinggal dipakai. Kalau sudah, coba pahami. Kalau sulit, cerna kata-kataku dulu tadi. Dan, tolong jangan buat perjalanan tiga hari tiga malam saya ini sia-sia, Nak. Setua ini disuruh jalan-jalan jauh. Gempor kakiku.”
    Setelah sepanjang puluhan kata itu terserap telinganya, Langsa mengangguk setuju. Mungkin bukan sebuah kebetulan kakek ini tiba-tiba mendatangi rumahnya. Pasti ada rencana yang sedang berjalan. Namun, Langsa tidak tahu rencana apa, untuk apa, dan akhirnya bagaimana. Satu hal yang dia pahami adalah tetap menyimak kakek itu.
    “Terpenting sekarang adalah iling. Mengingat. Itu kuncinya.” Kata si kakek setelah menuntaskan batuk-batuk dengan dahak yang baru dia ludahkan ke depan.
    Demi mendengar kalimat itu Langsa tiba-tiba saja mendapati dadanya terasa lebih ringan. Matanya jauh dari sepat. Kepalanya minggat dari berat. Rasanya, lasat yang meliputinya perlahan-lahan mangkat.
    Malang, 3 April 2020

    Profil Penulis:

    Gunung Mahendra, mantan ketua umum Forum Lingkar Pena (FLP) Malang, guru bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Alumnus Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Bahasa Jerman. Antologi cerpen perdananya berjudul Merayu Langit (2017).
  • [Cerpen] Suatu Hari Ketika Aku Merasakan Kesedihannya

    Flpjatim.com,- Mbah Warni menghapus sudut mata tuanya itu dengan kain daster kekuningan yang tengah ia kenakan. Aku melihat sekilas, tapi cepat mendongak kembali, menekuni genteng-genteng tak beraturan yang telah menghitam karena dimamah sang waktu. Embusan napas pelan mengalir dari cuping hidung setelah aku menarik napas panjang, mencoba membuyarkan sekumpulan air yang hampir ikut meleleh dari mataku. 
    [Cerpen] Suatu Hari Ketika Aku Merasakan Kesedihannya
    “Mau gimana lagi, Nak, Mbah ini sudah nggak punya uang. Musim hujan gini, rumah Mbah bocor. Masuk rumah sudah semata kaki. Mbah tanya biaya tukang, sudah seratus lima puluh ribu, belum rokoknya, belum kopi dan camilannya, belum makan siangnya. Dia juga bilang ke Mbah, butuh teman satu lagi, buat bantuin di bagian bawah. Apa itu sudah nggak habis empat ratusan, Nak? Dari mana Mbah ini dapat uang sebanyak itu untuk membenahi genteng?”
    Suara parau yang gemetaran itu menyelimuti udara pagi di sekitar kami berdua, yang tengah berdiri menatap rumah kecil—bahkan teramat kecil jika dibandingkan dengan dua rumah besar berpagar yang menghimpit di kanan-kirinya—yang hanya berjarak dua meter di depan. Rumah itu dikelilingi pagar kayu seadanya, yang telah lapuk dan tua. Di bagian teras, tanah liat masih basah, bekas hujan semalam yang meresap masuk ke dalam.
    Mbah Warni adalah salah satu janda di pemukiman kami. Ia merawat ketiga cucunya—setelah perceraian, anak perempuannya menikah lagi dan pergi entah ke mana. Ia bekerja sebagai tukang masak panggilan. Itu pun jika ada yang menggunakan jasanya. Hanya sebatas itu aku mengenal wanita uzur yang masih sangat giat bergerak itu. Ia perempuan yang baik, walaupun sedikit cerewet (bukankah semua yang telah berumur itu cerewet dan akan demikian pulalah kita nanti ketika tua?) dan suka bercerita. Ia pernah diam-diam meletakkan tong sampah besar di depan rumahku ketika melihat bak sampah plastikku sudah carut marut dan pecah. Ia juga pernah diam-diam mencabuti rumput yang tumbuh di bawah tiang benderaku dan di sisi-sisi pagar. Ketika aku mempertanyakan perihal itu, ia selalu menjawab, “Oalah, Nak, Mbah ini orang nggak punya. Apalagi yang bisa Mbah lakukan untuk membalas Nak Salwa karena sudah banyak memberi sembako pada Mbah?” 
    Ketika itu, mataku dibuat berkaca-kaca—ia pun juga berkaca-kaca—tetapi aku terlalu malu untuk menangis di hadapannya. 
    Perihal air mata, bukan kali ini saja aku melihatnya meleleh dari mata bayah itu. Aku pindah di rumah besar bercat hijau di samping rumahnya, tepat sembilan bulan yang lalu. Di minggu kedua aku menempati rumah itu, di suatu siang yang tenang dan panas, Mbah Warni datang mengetuk pintu dan mengucap salam. Sepiring bandeng presto yang telah digoreng dengan dibaluri telur kocok, ia sodorkan padaku. “Ini, Nak, untuk anak-anakmu,” ujarnya dengan rona pipi kemerahan. Aku mengucap terima kasih dan mempersilakan duduk, kemudian menyuguhkan teh hangat yang kebetulan baru kubuat sebagai teman pendamping menyelesaikan pesanan kue yang harus kuantar esok harinya. 
    Mboten usah repot-repot, Mbah,” ucapku. Ia membalasnya dengan menyentuh punggung tanganku dan menggeleng. Senyumnya merekah, aku teringat pada Mama. Seandainya Mama masih ada, mungkin keriput wajahnya yang tersenyum kepadaku akan sama seperti itu. Hangat dan bijak. 
    Di hari itu, ia mengajakku berbicara untuk pertama kalinya dan bertanya banyak hal tentang diriku. Aku adalah seorang janda cerai, dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. Mengetahui kebenaran itu, Mbah Warni melelehkan air mata, dan semakin mengeratkan gemgamannya dengan lembut. Ia teringat akan perjuangannya membesarkan empat anaknya setelah ditinggal wafat sang suami. Ia mengutarakan keprihatinannya, juga menguatkan dengan kata-kata yang menyentuh. 
    “Rencananya mau pakai siapa, Mbah, untuk membenahi genteng?” tanyaku setelah pikiran ini kembali mendarat di bola matanya yang menyayu. 
    “Pakdhe Pur, Nduk. Siapa lagi?” jawabnya, menyebutkan nama salah satu tetangga kami yang bekerja sebagai tenaga serabutan. 
    Aku mengangguk-angguk perlahan, lalu terdiam kembali. Kesenyapan sakral menemani untuk beberapa saat, hingga akhirnya aku berpamit pulang untuk memasak soto ayam yang bahan-bahannya baru saja kubeli. 
    ***
    Kuamati lembaran uang di atas meja komputer. Kebimbangan itu melesak-lesak. Aku teringat pada buku-buku LKS yang harus segera dibeli untuk ketiga anakku, karena semester baru telah menjejak. Kemarin, sepulang sekolah, anakku sudah merengek untuk dibelikan LKS, karena ada tugas rumah yang harus dikerjakan. Tentu saja aku tidak bisa lagi mengharapkan bantuan pada ayah mereka, mengemis-ngemis selayaknya orang berputus asa. Papaku tidak pernah mengajarkan hal itu. “Jangan pernah meminta-minta pada siapa pun, Salwa. Kepada siapa pun.” Pesan itu yang berkali-kali Papa utarakan dulu. 
    Bayangan di dalam kepala berganti dengan sosok Mbah Warni yang berdiri memandangi rumah kecilnya yang hampir bobrok, dengan bola mata meleleh dan riak wajah menghanyutkan. Aku trenyuh. Melarat-larat.  
    Kuambil sebuah amplop putih yang selalu kusiapkan di laci meja komputer, lalu memasukkan empat lembar ratusan ke dalamnya dan menempelkan perekat serapi mungkin. Kini sisa uangku hanya seratus ribu. Tidak apa-apa, masih cukup untuk makan tiga hari ke depan. 
    Aku memutar kursi merah yang tengah kududuki. Sulungku sedang mengaji di kamarnya. Kuhampiri lelaki kecil yang tahun ini akan berangkat mondok di sebuah pesantren di daerah Kediri itu. 
    “Mas, maaf, ya. Untuk LKS-nya, Bunda belum bisa beli. Doakan Bunda segera dapat pelanggan lagi,” ucapku sambil merengkuh bahu kecil yang kelak akan menjadi kepala rumah tangga yang saleh itu. Ia mengangguk. Bibirnya terkatup rapat dan tertarik ke kedua sisi. Wajah tampan khas ayahnya terukir semakin jelas di sana. Perlahan, kukecup keningnya. Aroma pomade yang ia kenakan menguar ke penciumanku. 
    ***
    Teleponku berdering ketika aku baru saja meletakkan sepanci air di atas kompor. Lesat aku ke arah meja komputer, meraih ponsel dan menerima panggilan itu. Setelah mengucapkan salam, suara seorang wanita yang sedikit nyaring menyapa dari seberang sana. 
    “Wa’alaikumsalam. Benar ini dengan Mbak Salwa, yang terima pesanan kue kering?”
    “Iya, Mbak. Benar ini saya.”
    “Alhamdulillah. Perkenalkan, nama saya Ratna, Mbak. Jadi gini, dua hari lalu saya dapat bingkisan dari kawan saya, salah satunya adalah lidah kucing dan nastar bikinan Mbak. Ketika saya makan, saya suka sekali. Saya ini punya toko cemilan yang cukup ramai di pusat kota. Dan saya berniat mengajak Mbak Salwa memasukkan kue kering di toko saya. Mungkin seminggu sekali, Mbak bisa mengirimkan kue kering ke tempat saya. Kalau bisa tujuh macam kue kering, masing-masing sepuluh kemasan ….”
    Wanita itu belum menyelesaikan kata-katanya, ia masih membicarakan bagaimana konsep kerja sama yang ditawarkan, tetapi dadaku sudah bergetar, air mata ini meleleh. Kaki-kakiku terasa lemas karena ketakjuban. Tak henti-hentinya, ucapan syukur itu mengalun lirih di bibirku. Begitu khidmat. []
    Profil Penulis: 
    Ajeng Maharani. Perempuan penikmat sastra yang lahir di Surabaya. Cerpennya dimuat di beberapa media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit, Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan (Basabasi, 2017), Suatu Malam Ketika Bintang-Bintang Terjatuh (Penerbit LovRinz, 2017). Saat ini sebagai Kadiv Kaderisasi di FLP Sidoarjo.
  • [Cerpen] Ketika Asap-asap Itu Memudar

    “Aku tahu ini berat. Teramat, Malah.”
    Untuk kedua kalinya aku mengatakannya padamu. Mulanya, untuk menghibur. Namun, selanjutnya aku mengubah niat. Kali ini agar noda yang melekat di hatimu itu pudar. Kendati bukan urusan mudah mengindahkannya.
    [Cerpen] Ketika Asap-asap Itu Memudar
    Gambar hanya ilustrasi
    Di seberang, kau hanya berdiri mematung. Entah dapat tenaga dari mana kau hingga tangguh melakukannya. Padahal, aku menduga lima menit lalu tubuh berdaging tipisnmu itu tumbang. Mungkin, ujung kisahmu ini membunuh kalut di perutmu, dan sahara yang menggersangkan tenggorokanmu.
    “Ketahuilah,” kataku “Bukan salahmu ini terjadi.”
    Kau abai meski merasakan aku berjalan mendekat.
    Kutepuk pundak kanannya dan memberinya cengkeraman lembut.
    Tetap saja. Kebiasanmu hingga pertengahan dua puluhan ini tidak berubah: BUNGKAM. Kehilangan minat untuk meloloskan kata-kata benak. Sejak membersamaimu ketika rengekan perdanamu meledak, jujur saja, aku mendambakanmu ‘bersuara’. Sesuatu yang muncul dari geming bibirmu. Ah, mungkin kau masih memulihkan diri dari luka dengan menatap ke luar jendela.
    Tunggu. Coba lihat. Sebenarnya apa yang menarik dari balik jendela?
    Sebagai manusia, aku justru membeku mendapati keadaan itu. Sungsang keberanianku. Bagaimana tidak, selain “salju” pekat terus menderas jatuh—dan membenamkan jalanan dan rumah di tiap sudut—langit begitu muram. Berat sekali. Tidak. Kurasa ini bukan mendung. Bukan juga gerhana. Hei, jika ini gerhana, tidak perlu menunggu lebih dari satu jam matahari untuk tampil lagi.
    Tapi, apa ini? Dan, apa yang membuat kau menancapkan pandangan kepadanya?
    Jawaban itu ada pada Luhut. Pemuda yang kini kupandangi. Pada bibir yang masih mengatup rapat itu. Namun, kalau kalian mendesak aku memiliki satu dugaan. Dan, butuh keteguhan untuk memastikan ini. Baiklah, aku akan mengatakannya. Kurasa, ini pertanda bahwa ‘pria itu sudah muncul dari balik dua tirainya.’ Aku yakin, kalian memahami siapa yang aku maksud.
    Tidak, kurang jelas?
    Baiklah. Kata kuncinya adalah dia sutradara palsu yang diberi kelebihan untuk mengkreasi alurnya sendiri. Dunia pernah menjadi saksi dua kali saksinya. Perseteruan maha dahsyat yang mempertemukan dua kutub militer terbesar. Edisi pertama dimenangkan penakluk kekhalifan terakhir, Ustmani. Dan jawara kedua ialah yang mempecundangi der Führer di negaranya sendiri.
    Entah itu memang ulahnya atau bukan, aku—sekali lagi—tidak bisa memastikannya. Itu masih hipotesisku. Terpenting sekarang adalah kami masih lolos dari pantauannya. Konon, dia memiliki kekuatan magis yang sangat dahsyat, mengalahkan segalanya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang berhak mengambil keputusan atasnya. Tidak hingga waktunya tiba.
    Ruangan tempat kami berteduh—ruang tamu dengan asbes nyaris amblas karena tumpukan salju hitam yang memberat—diselimuti hawa dingin yang melilit tubuh. Udara pun juga menyesakkan. Tapi tengoklah Luhut. Dia seperti kebal terhadap hawa dan udara ini. Jika tadi urusan perut ditumpas oleh tatapannya maka urusan ini mungkin dirampas oleh Hilay.
    Hilay adalah gadis ramping seusianya yang menonjol dengan otak kirinya. Gadis itu sukses merampas perhatian Luhut dengan kelihaiannya mengotak-atik kode komputer. Pun, berhitung adalah hidangan kegemarannya. Bekunya otak Luhut terhadap bidang itu membuatnya jatuh hati.
    Rambut hitam panjang Hilay serupa kamuflase. Keindahan yang menyimpan keteguhan. Yang kerap kali diikat ekor kuda. Sorot matanya tajam, seakan menegaskan kejeliannya. Hilay menjadi satu-satunya sosok yang mampu memahami Luhut. Menerjemahkan ‘kalimat bisunya’—melalui jari tangan—dengan sangat valid. Dan, Hilay menjadi kepingan terakhir dalam hidup Luhut. 
    Tak hanya memukau parasnya, Hilay juga membuat Luhut bertekuk lutut berkat prestasi mencengangkannya: meretas sistem keamanan situs militer salah satu negara tangguh—yang sudah lepas jabatan untuk boyongan ke rumah baru.
    Bersama Hilay, Luhut bisa “BICARA” melalui tangannya. Meloloskan teka-teki di kepalanya. Kini tidak ada lagi dinding penghalang. Dinding kesabaran yang terus dia bangun dari waktu ke waktu. Untuk menemukan seseorang yang mampu mengerti dirinya tanpa harus bersusah payah menjadi orang lain.
    Akan tetapi, kebahagiaan itu pasti berlalu. Cepat atau lambat. Andai Luhut mampu mengolah emosinya dengan cermat. Mungkin kesalahaan itu bisa dianulir. Namun sayang, ego itu melumatkan segalanya. Entah bisikan apa yang mendorong Luhut berbuat seperti itu.
    Suatu ketika, Luhut menjanjikan Hilay waktu untuk bekerja sama. Luhut bertugas mengoleksi informasi terkait bencana yang akan datang—asap itu, sedangkan Hilay menyiapkan diri menjadi mediator untuknya. Rencana berjalan mulus pada awalnya hingga keruh muncul kemudian.
    Ketika urusan alih bahasa selesai, Luhut dengan ceroboh meletakkan cetakan enkrispi di sembarang tempat. Ketika itu aku sudah memperingatkannya untuk menyimpannya dengan baik. Tapi dia abai. Keburu bertemu dengan Hilay lagi, katanya. Alhasil, cetakan enkrispi itu lolos ke publik.
    Dalam hitungan menit, kota sudah dibungkus oleh desas-desus. Entah benar entah salah. Para wartawan sigap terjun. Menyerbu orang-orang yang berkepentingan. Menggali informasi. Kata pejabat itu berita bohong. Kata tukang becak tetangga Luhut itu benar. Kata tukang bakso langganan Luhut itu hanya untuk menakut-nakuti belaka. Tidak ada yang perlu dicemaskan.
    Belum. Gumamku. Mereka belum sampai pada tahap memahami. Masih meraba. Mirip seperti balita yang berjalan merangkak sambil mencari tahu benda apa yang baru dia temui—dan mencoba menjejalkannya ke dalam mulut.
    Mengetahui kecerobohan Luhut mengundang kepanikan masal, Hilay berang. Wajahnya menggurat datar. Tatapannya lebih tajam dari biasanya. Bibir tipisnya bungkam. Tidak ada kata selain “cukup. Aku lelah.” yang menerobos bibirnya ketika berkesempatan terbuka. Seiring dengan berakhirnya kalimat itu, Hilay menetapkan Luhut sebagai orang asing dalam hidupnya.
    Dan, dengan sangat, Hilay memaksa Luhut untuk tidak mencarinya. Meskipun asap itu mengetuk pintu rumahnya dan mencekik lehernya.
    “Salju” hitam—yang mereka sebut sebagai ‘asap’ itu—itu kian pekat melingkupi kota. Menghadirkan kecemasan berlebihan, ketakutan tak bertemu ujung. Menjadikannya orang-orang seperti ‘mayat hidup’ yang berjalan menuruti aroma darah. Bedanya, mereka menuruti kehendak tak bertuan menyerbu swalayan-swalayan, menjarah dapur rumah, melibas habis pasar-pasar. 
    Lucunya, gedung-gedung penyimpanan uang yang pernah jadi primadona, malah baik-baik saja. Bersih, aman, dan nyaman.
    Pikiran yang melintas di kepalaku itu mungkin agaknya sama dengan apa yang menyesaki kepala Luhut. Bedanya, sebagian porsinya sudah dirampas oleh Hilay. Dan, aku mengerti bahwa bisa jadi Hilay di sana menjadi korban keganasan para ‘mayat hidup’ yang masih hidup itu. 
    “Sudah hampir petang,” kataku. Meski, ya, aku yakin tidak akan ada jawaban.
    Gerakan tanganku yang akan menyalakan lilin berhenti. Ketika tiba-tiba terdengar suara dari balik punggungku. Hei, suara siapa itu? Kukira seorang darwis yang kebetulan lewat depan rumah. Namun, saat aku menolehkan wajah—kemudian memutar badan, kudapati gagasan itu salah. Suara itu muncul dari patung yang sejak dahulu wajahnya menggurat suram. Luhut akhirnya bicara.
    Mendadak, Luhut berkata, “Aku ….” Kalimat itu terjeda beberapa saat, tanpa ujung.
    Tidak bisa dipercaya. Detik itu datang juga. Saat suara Luhut akhirnya kudengar.
    “Aku … tidak … percaya … ini … terjadi ….” Kalimat tak berujung itu ternyata bersambung.
    Tahukah kalian apa yang kupikirkan ketika mendengar Luhut mengucapkan enam kata itu—entah kepada siapa—? Ternyata benar. Dia telah menyepakati ini sebagai urusan krusialnya. Beban berat yang harus dia selesaikan seorang diri.
    Yang tidak aku mengerti darinya adalah: Betulkah ini memang tugasnya? Jika iya, mengapa sekarang Luhut begitu terpukul dengan hasilnya? Bukankah ini memang diluar kendalinya?
    “Tolong,” kataku, menyergah Luhut. “Hentikan itu.”
    Suara Luhut kian menguat. “Bapak dan Ibu pasti kecewa … begitu juga Hilya ….” 
    “Kita berdua di sini. Kuharap kau juga mendengarkanku!”
    Ketika Luhut menelan gumamannya, kukira dia akan mendengarkanku. Namun, yang dia lakukan selanjutnya adalah mendaratkan kepalan tangannya ke dinding kayu di depannya. Berulang-ulang kali, sampai cairan merah kental meluncur dari kura-kura tangannya.
    Tepat sebelum Luhut mendaratkan tinjunya lagi kesekian kali, aku sudah merenggut lengannya. Sekuat tenaga menahan keinginan pemuda itu untuk melampiaskan angkaranya. Untuk sekadar meredam suasana, aku mencoba berkata. “Sekeliling kita sepi sekarang. Cobalah untuk mendengar, mengingat!” 
    Aku berhenti sejenak. Memastikan Luhut mencernanya dengan baik.
    “Itu pula … yang diinginkan Hilay ….”
    Aku melirik Luhut dengan dahi mengerut.
    Kedua lutut Luhut tiba-tiba mendarat ke lantai reot rumah. Mengapungkan debu-debu. Ketika keterkejutanku belum melayang, seseorang mengetuk pintu tiga kali. 
    Mulanya, aku mengira bahwa itu adalah regu penyelamat yang tersisa di kota, tapi mengapa mereka tidak bersuara? Atau mungkin mereka mengenakan pakaian steril berlapis untuk menangkal dingin sehingga suara mereka teredam. Dengan memberikan isyarat lewat tangan, aku meminta Luhut untuk tinggal. Biar aku saja yang membuka pintunya.
    Tepat saat aku akan menegakkan lutut dan berdiri, buru-buru Luhut menahan. Dia menatapku, menggeleng. Tatapannya menyorot tajam. Namun, sarat akan permohonan.
    “Biarkan aku melakukan ini,” katanya dengan penuh tenaga. “Demi Hilay!”
    Aku mengembuskan napas. Memejamkan mata. Mempersilakan. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menahannya ketika itu, sama sekali. Biarlah. Siapa tahu ini akan membuatnya lebih baik. Tidak lagi berdiri termenung seperti patung Ken Arok di gedung olahraga sebelah sana.
    Namun, seiring langkah Luhut mendekati pintu utama rumah, entah mengapa dadaku semakin sesak. Napasku patah-patah. Dan, di saat aku ingin mengucapkan satu kata saja, entah atas dasar apa kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokanku. Kurang sedikit lagi! Sudah di ujung lidah!
    Luhut lebih dekat ke pintu. Lengannya sudah menjulur. Hendak menggaet gagang pintu.
    Ketika Luhut menarik gagang pintu ….
    Kalimatku lolos secepat kilat, “Tu … tup pintunya!!”
    “Hah? Apa yang kau bil ….” Kalimat itu tertinggal begitu saja dari bibir Luhut.
    Oh, tidak.
    Dia. Betul dia.
    Dia yang kini sudah muncul dari balik dua tirainya. Oh, Tuhanku. Apa yang harus kami lakukan sekarang?
    Aku berani bersumpah demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Saat itu aku betul-betul tidak mampu berbuat apa-apa. Berdiri saja pun sangat sulit! Sesuatu seperti membelenggu kakiku. Aku membeku di posisi terakhirku: duduk dengan setengah berdiri. Yang bisa kulakukan hanya merekam adegan di ambang pintu itu dengan mataku.
    Luhut sibuk mengobrol dengan ‘pria’ itu. Padahal titah untuk menghindarinya sudah tertulis ribuan tahun lalu. Ketika cara untuk “menusuk” seseorang hanyalah dengan cara menemuinya. Mereka terlibat obrolan yang asyik. Hilang sudah Luhut si Patung. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang kudapati beberapa waktu sebelum ini. 
    Dan, kabar buruknya adalah tidak ada tanda-tanda dia akan memedulikanku.
    Perlahan, suara Luhut tertelan senyap. Pelan, aku memperoleh kekuatanku lagi. Setitik demi setitik menyatu kembali. Menguatkan kedua kakiku untuk melompat berdiri. Secepat kekuatan itu pulih, aku bergegas menggapai pintu dan mendorong diriku sendiri ke sisi yang terbuka.
    Tapi … Luhut tidak di sana. Yang ada hanyalah ‘asap’ itu memudar.
    Ya, aku tahu. Seharusnya dia ada di sana. Mengobrol dengan seorang pria—dan aku yakin sekali itu suara pria. Jelas, satu gagasan yang menancap dan menguasai kepalaku adalah pria itu sukses memperdayanya. Atau, menculiknya. Oh, TIDAK! Jika benar begitu gagal sudah tugasku.
    Tangga mungkin akan menertawakanku karena ini. Karena sekarang aku sudah jatuh. Dan ia menimpaku. Hancur total penataan misiku selama ini. Buyar sudah rencana-rencanaku. Peringatan-peringatan yang kami sampaikan—bersama juga dengan Hilay—berujung getir. Kedua tangan mengepalku langsung menghunjam lantai lapuk. Melesakkannya.
    Kalau sudah begini, apa guna dan dayaku tetap berada di sini? Tidak ada lagi yang bisa kujaga. Kutemani. Karena badan Luhut sekarang sudah jauh dari jangkauanku. 
    Memang, pria itu—atau bisa disebut makhluk laknat itu—tidak bisa melihatku. Karena aku hanya bayangan dari imajinasi Luhut semata. Aku hanya gambaran khayal untuk mengusir kesepiannya sejak Bapak dan Ibunya mendiami liang lahat. 
    Mataku menatap dengan kedipan penuh kekalahan. Entah kepada siapa aku harus memalingkan pandanganku ini untuk meminta bantuan. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mendongak, menancapkan pandangan ke langit, dan meminta maaf. Semoga Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya berkenan memaafkanku.
    *
    Selesai di Malang, 24 Maret 2020
    Profil Penulis:
    Gunung Mahendra, anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Malang, guru bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Alumnus Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Bahasa Jerman. Antologi perdananya berjudul Merayu Langit (2017).
  • [Cerpen] Karena Aku Perempuan Biasa

    Flpjatim.com,- Kumandang Adzan Dhuhur baru saja berlalu. Aku masih belum ingin pulang. Aku ingin lebih lama duduk di antara barisan pohon jagung yang mulai berbunga ini. Walau terik matahari September itu sudah terbiasa memanggang tubuhku yang kurus, aku ingin mencari keteduhan di bawah bayang-bayang pohonnya yang cukup rimbun. Daun-daunnya yang ramping menyerupai pita terasa kasar menyentuh pipiku yang sembunyi di balik jilbab dan capingku. Yah…mungkin sekasar telapak tanganku. Aku mengelus luka bakar yang masih memerah di punggung tangan kananku. Baunya anyir. 
    [Cerpen] Karena Aku Perempuan Biasa
    Gambar Haya Ilustrasi
    Bisikan lirih angin yang menarikan daun-daun bagai tangan penari itu, seolah nasihat Bunda Peri yang menghibur Cinderela sebagaimana dalam dongeng anak yang pernah kubaca waktu kecilku. Walau tak mampu menghapus linangan air mataku saat ini, setidaknya aku bahagia dia hadir di saat aku sedang berduka. 
    “Dik, bagaimana pendapatmu jika aku menikah lagi?” Tanya Mas Pram pada suatu hari. Kurasakan pertanyaan itu bagaikan petir di siang bolong. Hampir saja pisau yang kugunakan untuk mengupas terong itu mengiris jemariku yang tidak lagi lentik seperti dulu. 
    Pertanyaan yang setahun lalu pernah dilontarkannya padaku, kukira hanya gurauan karena baper setelah menonton film Ayat-Ayat Cinta itu kini diulanginya lagi. 
    Aku tidak menjawab kalimat itu. karena aku tahu, tak kujawab pun sebenarnya Mas Pras tahu apa jawabanku. Sambil menggigit bibirku yang selalu sariawan menjelang menstruasi, Aku terus saja melanjutkan pekerjaanku : mengupas terong dan memotongnya, memarut kelapa, membuat bumbu, dan kawan-kawannya demi tersajinya sayur terong kegemaran suamiku tercinta. Mataku yang pedih tambah semakin pedih saat sebuah biji Lombok rawit melentik ke mataku saat kupatahkan sebagai penyedap sayur itu. 
    “Engkau tahu bukan, Bapak dan Emak sudah renta? Andaikan Dik Ammah setuju, biarlah perempuan istri Mas nanti tinggal bersama mereka. Aku hanya ingin mereka ada yang mengurusnya. Untuk meninggalkan rumah dan tinggal bersama kita sebagaimana usulmu dulu, nampaknya  merupakan hal berat bagi mereka. Sedangkan untuk ke sana-kemari, aku hanya bisa melakukannya seminggu sekali saat kau libur tidak mengajar”, jelas Mas Pras panjang lebar padaku.
    Aku tetap diam seribu bahasa. Kepalaku yang tidak pusing itu rasanya seperti dipukul oleh seribu palu. Apalagi hatiku! Memar bagaikan kelapa yang baru saja kuparut tadi. Kuamati kuah dipanci sayur yang mulai mendidih itu. Baunya yang gurih harum tak mampu merangsang selera makanku. Padahal perutku sudah keroncongan. Justru mual yang kurasakan. 
    “Dan kalau Dik Ammah setuju, aku akan menikah dengan gadis yang sudah kamu kenal dengan baik”, lanjut Mas Pras lagi.
    “Gadis yang sudah aku kenal?” Aku mengulangi pertanyaan itu dalam hati.  Kuhentikan sendok sayur yang mondar-mondar di antara sayur terong dan cabe rawit yang siap santap itu. Kutatap mata Mas Pras dengan tajam. 
    Dia rupanya tanggap bahwa aku penasaran. Maka sambil melangkah lebih dekat ke arahku, dia menjawab rasa penasaranku itu. “Nisa”, jawabnya singkat sambil tersenyum. Aneh! Senyum yang biasanya sangat manis dihiasi kumis tipisnya itu, seolah bagai serigala menyeringai yang siap menerkamku. 
    “Hah?”Aku terperangah. Saking kagetnya, tombol kompor gas yang ingin kumatikan itu tanpa sadar justru kuulir ke arah On. Api pun berkobar. 
    “Astaghfirullah!” Aku melompat mundur menghindari nyala api yang sempat menjilat tangan kananku. Namun, rasa panas dan sakitnya tak sepanas dan sesakit hatiku pada Mas Pram. 
    “Awas, Dik!” Mas Pram juga memekik kaget. Bergegas dia meraih tanganku. Aku mengibaskan tangan Mas Pram. 
    “Tak usah pedulikan aku!” teriakku ketus. Isak yang kutahan sedari tadi, kuledakkan menjadi tangisan pemuas rasa kecewaku. Kutinggalkan dia sendiri mematikan kobaran api itu. Aku berlari ke kamar. Kuhempaskan tubuhku ke kasur busa yang sudah using itu. Kutupi wajahku dengan lengan kiriku. Aku masih mengguguk ketika Mas Pras duduk di sampingku. 
    Dia meraih tanganku yang kena api tadi. Aku mendorong tubuhnya saat dia hendak mengolesi lukaku dengan obat bioplasington yang senantiasa tersedia di kotak obat rumah kami. 
    “Please, jangan dekati aku!” Aku berkata sambil  Mas Pram. 
    “Dik…”
    “Maaf, tinggalkan aku sendiri!” hanya kata itu yang mampu kuucapkan. Kubalikkan tubuhku sehingga posisiku membelakanginya. Kulemparkan guling tak bertenaga itu ke ujung kasur. Kusembunyikan wajahku lebih rapat di bawah bantal. Aku tidak mau ada tetangga yang mendengar ini semua. Dan terutama Ibuku yang juga sebatang kara di samping rumah kami. 
    Kudengar Mas Pras keluar dari kamar dan menutup pintu. Barangkali dia ingin membiarkan aku melampiaskan kekesalannya. Samar-samar dia mengajak pergi putri kami yang menanyakanku. Entah kemana. 
    Mungkinkah ini yang dinamakan orang Jawa, “Anak-anak Timun?” Artinya mengasuh anak orang lain setelah besar diambil sendiri sebagai istri atau suami. Yah, Nisa adalah anak asuh kami. Ayahnya meninggal sejak dia masih kelas 4 SD. Ibunya hanya perempuan pencari kayu bakar di hutan Ngrayun. 
    Pengurus Panti Al-Ma’uun, yang salah satunya adalah suamiku menawarinya  untuk disekolahkan ke Madrasah  binaan suami dan kawan-kawannya. Mereka menjumpai Nisa saat acara pembagian daging Qurban di wilayah rentan Kristenisasi di ujung selatan kabupaten Ponorogo tersebut. 
    Karena dia bersedia dan Ibunya juga menyetujui, Nisa yang saat itu berusia kelas 2 SMP resmi sebagai anggota Panti Asuhan Al-Maa’uun. Menjelang dia masuk SMA, Kami menawarinya  untuk momong anak kami yang kedua karena tidak ada yang menjaganya bila aku pergi mengajar. Untuk mengajaknya aku merasa kasihan, karena jam 2 sore aku baru pulang dari sekolahku. Untuk menitipkan pada Ibu, aku juga tidak tega. Aku tidak ingin Ibu yang sudah mengasuh ketiga putrinya dengan susah payah itu harus menjadi Ibu lagi di usia lanjutnya. 
    Nisa sebenarnya hanya membantu mengawasi putri kami setelah pulang dari Play Group. Kira-kira  mulai jam 10.30 hingga waktu Dhuhur ketika dia persiapan berangkat ke sekolah. Itu pun Dik Rifda sudah dijemput oleh Mas Pram yang sehari-hari menekuni usaha servis alat-alat elektronik di rumah. Nisa juga tetap tinggal dipanti. Maksud kami hanya nitip saja. Namun kami tetap memberinya uang saku sebagai ganti jasanya. 
    Selain cantik, Nisa memang anak yang baik dan sopan. Walau anak yatim, dia selalu tampil ceria sehingga anak-anak betah dengannya. Nisa baru saja lulus SMA Muallimat yang masuknya sore. Karena sekolah itu seatap dengan SMP Muallimat yang masuknya pagi. Kami berencan untuk menguliahkannya di Perguruan Tinggi di kota kami, sehingga tetap bisa membantu menjaga putrid kami. 
    Seiring berjalannya waktu, Nisa tumbuh menjadi gadis cantik dan sholihah. Kecerdasan dan keluhuran akhlaqnya, menambah dia tampak semakin sempurna di mata pria. 
    Karena itukah Mas Pras tertarik untuk meminangnya? 
    Atau sekedar pertimbangan saja seandainya aku menyetujuinya?
    Aku memang bukan seorang wanita lembut yang hanya punya tugas khusus untuk kerumahtanggaan saja. Aku sudah terbiasa bekerja di sawah pada sore hari atau waktu libur. Selain mengajar di sebuah SD Negeri di desaku, aku juga aktif memberi les pada anak-anak di bimbelku. Jumlahnya lumayan, sehingga sebagian dari infaq mereka bisa kugunakan untuk biaya kuliah walau hanya di Universitas Terbuka. 
    Aku juga punya sambilan jualan Buku On Line. 30% keuntungan sebagai reseller menurutku lumayan sebagai penghasilan tambahan. Dulu memang aku pernah bercita-cita untuk menjadi full mother yang selalu siaga mendampingi anak dan suami. Namun, karena penghasilan Mas Pras yang semakin pas-pasan bahkan minus untuk mencukupi kebutuhan sekolah ketiga anaknya, aku terpanggil untuk sekedar membantunya. Setelah mendapat izin darinya, aku memutuskan untuk menerima tawaran mengajar di SD. 
    Dari situ kemudian mempunyai ide untuk membuka Bimbel yang mayoritas pembelajarnya adalah siswa-siswi di SD ku mengajar. Aku tidak pernah menentukan tarif bagi mereka. Aku hanya menyediakan kotak amal yang bisa mereka isi seikhlasnya. Menjelang Maghrib kami juga mengajari mereka mengaji. Gratis. 
    ***
    “Nisa, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu,” kata Mas Pras membuka pertemuan segitiga di meja makan. kulihat dia tampak bengong, karena memang baru kali ini kami bicara seresmi ini. 
    “Ehm…orang tua Bapak kan sudah tua, tidak ada yang merawat. Seandainya Nisa Bapak minta untuk merawatnya mau?” Mas Pras melanjutkan pertanyaannya. Aku hanya diam menahan gejolak hati menunggu jawaban apa yang akan keluar dari Nisa. Aku berharap dia menjawab tidak mau.
    “Sebenarnya saya siap, Pak. Tapi Ibu juga semakin tua, dia juga tidak ada temannya”, Jawab Nisa yang membuatku sedikit lega. 
    “Bagaimana seandainya Ibu Nisa tinggal bersama orang tua Bapak?” pertanyaan Mas Pras makin menjurus. “Soal kuliah nanti kami kita cari di sana.”
    “In sya Alloh saya siap, Pak” kata Nisa ringan. Aku memandang atap bawah rumah yang belum berlangit-langit itu. 
    “Nisa, Bapak juga ingin membalas pertolonganmu. Bersediakah bila Kau menjadi teman Bundamu?” pertanyaan Mas Pras kembali terasa mencekik leherku. Kulihat Nisa mata Nisa yang bulat itu semakin sempurna bulatnya. 
    “Aku ingin…meminangmu, Nisa”, kata Mas Pras hati-hati.
    “Bapak tidak salah tanya?” Nisa nampak kaget. 
    “In Sya Allah tidak, aku juga sudah minta izin Bundamu, tinggal menunggu keputusanmu sekarang”, Mas Pras menyakinkan.
    “Benarkah, Bunda?” Nisa menanyaiku pilu. Aku tidak menjawab. Hanya air mata yang bisa mewakilinya. Jujur, aku tidak bisa menerimanya. Kalau memang Nisa menerimanya, aku pasrah. Berarti Nisa bukan perempuan biasa sepertiku, dia hebat, bisa berbagi hati dengan wanita lain. 
    “Maaf, Bapak, Bunda, Nisa belum bisa memutuskannya sekarang”, setengah berlari dia meninggalkan kami. 
    ***
    Kulirik jam di HPku. Pukul tiga belas lebih sepuluh menit. Rupanya sudah lebih dari satu jam aku membeberkan lamunanku pada Bunda Peri tentang peristiwa yang kuanggap kiamat kecil bagi kelurgaku.  Aku mengurut kedua kakiku yang kesemutan sebelum berdiri. 
    Sayup-sayup kudengar suara tangis bocah. Semakin lama semakin jelas.
    “Maa Sya Alloh, Dik Rifdah!” Aku berlari menyeruak rimbun daun jagung itu. 
    “Ibuuk…! Ibuuk…!” Gadis kecil ketigaku meronta-ronta ingin melepaskan diri dari gendongan ayahnya. Dia berlari ke arahku. 
    Aku menghamburnya khawatir dia jatuh dari pematang sawah yang hanya selebar satu jengkal itu. Kuciumi putriku yang menagis terisak-isak itu. Karena kalutnya pikiranku, aku sampai hampir melupakan anak-anak yang sudah sejak tadi pagi kutinggal ke sawah membersihkan daun jagungb yang kering. 
    “Dik…” kata suamiku lirih. 
    “Sudahlah, Mas. Tidak usah kauulangi lagi pertanyaanmu. Biarlah Nisa yang memutuskankan. Sesudah itu kau boleh memilih salah satu : meninggalkan aku beserta anak-anakmu atau bersama kami lagi” Aku berkata sambil menangis lagi. Sungguh hatiku benar-benar kecewa. Bahkan tidak pernah terdetik sedikitpun dalam anganku kalau Mas Pras yang begitu menyayangiku berubah pikiran akan menduakanku. Dengan Nisa anak asuhnya lagi. 
    “Dengarkan dulu…aku mau bicara!” Katanya dengan nada agak tinggi.
    “Tidak ada gunanya aku mendengarkanmu, Mas! Alloh memang tidak melarang seorang suami untuk mempunyai lebih dari satu istri. Namun dengan syarat dia adil. Mungkin Mas Pras bisa adil dalam hal nafkah lahir, namun secara batin, aku tidak yakin. Hanya Rasulullah yang bisa berbuat seperti itu. Dan tidakkah Mas ingat akan kisah yang pernah kita baca bersama, ‘Aisyah saja masih sangat cemburu kepada istri-istri Rasulullah yang lain, apalagi aku, Mas. Aku hanya perempuan biasa! Coba bayangkan kalau Mas berada pada posisi perempuan seperti aku, Mas mungkin juga punya keputusan yang sama”. Aku berkata sambil menahan tubuhku yang gemetar antara lapar dan sebenarnya menahan rasa takut karena dibilang istri tidak berbakti. “Tinggal satu, menunggu keputusan Nisa, bersedia atau tidak”.
    Dik Rifdah semakin kencang menangis dalam gendonganku. Dia bingung tidak tahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Bagaimana seandainya dia nanti tahu hal yang sebenarnya. Terutama setelah nanti dia remaja. Karena dia juga perempuan! 
    “Dik…dengarkan, sebentar…saja. Aku mau bicara. Aku minta izin menikah lagi itu, kan kalau Dik Ammah setuju. Kalau tidak, aku tidak akan melanjutkannya, biarlah Dik Bungsu kembali ke kampung untuk menemani Bapak dan Emak. Lagi pula, Nisa belum tentu mau menerima,” Mas Pram berkata lembut sekali. Kulihat matanya berkaca-kaca. 
    “Benar, Bunda, Bapak, Nisa tidak siap menerimanya”, Nisa tiba-tiba muncul. Rupanya diam-diam diam dia membuntuti Mas Pras karena mencari momongannya tidak ketemu.
    “Selain Ibu tidak mengizinkan, Nisa juga tidak ingin membagi kebahagiaan rumah tangga orang yang sudah aku anggap orang tuaku sendiri. Namun, untuk merawat dan tinggal bersama orang tua Bapak, Ibu menyetujuinya”, Nisa berkata sambil tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya kepadaku sambil mengangguk menyakinkanku. “Biarlah Nisa tetap menjadi anak asuh Bapak dan Bunda”. 
    Aku hanya melihat serius ke arahnya. 
    “Nisa sudah membuat keputusan. Aku tidak akan memaksa kalian. Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyakitimu, juga Nisa.  Aku juga tidak ingin menelantarkan orang tua. Pertanyaanku kemarin memang serius, namun aku sangat menghormati apa pun keputusanmu. Karena aku sebenarnya juga maklum, bahwa kau adalah perempuan biasa, walaupun bagiku kau adalah Ibu dari anak-anakku dan Istriku yang luar biasa”.
    Mas Pras merengkuhku dan putrinya ke dalam pelukannya. Dia membiarkanku menikmati tangis dalam pelukannya. Nisa tersenyum bahagia dan lega. Terima kasih, Ya Allah. Kiamat kecil keluargaku telah berlalu. 
    Kami pun bergegas pulang khawatir solat Dhuhur melayang. Nisa disilakan Mas Pras berjalan mendahului kami. Mas Pras menggiringku berjalan menyusuri pematang setapak diiringi awan seputih kapas yang berarak di angkasa. Tarian daun-daun jagung sepanjang perjalanan seolah hymne syukur atas terjalinnya kisah kasih rumah tangga kami. 
  • [Cerpen] Menjadi Saksi

    flpjatim.com,- Setelah dinyatakan bebas dari penjara, Bahar kebingungan di pojok ruangan. Entah apa yang ia akan jawab ketika ada pertanyaan misterius dari tetangga yang mungkin bisa mengusik hidupnya. Dalam pikirannya, hanya ada dua pilihan: berkata jujur atau bunuh diri.
    “Ayo pulang, Mas!” Sinta menghampirinya.
    “Lebih baik aku habiskan sisa hidupku di penjara ini, Dik,” Bahar menolaknya.
    Kali ini Sinta mengambil nafas panjang. Ia tak paham dengan sifat suaminya si Bahar yang tergolong aneh. Selama ini, meskipun Bahar mempunyai perangai yang keras, ia tidak pernah menolak apa yang dikatakan Sinta. Untuk kali ini, terasa beda. Mungkin terpengaruh kurungan 2 tahun penjara.
    [Cerpen] Menjadi Saksi
    Foto hanya ilustrasi
    Meskipun dibujuk untuk sekian kalinya, Bahar tetap bersikukuh tetap mau hidup selamanya di penjara. Sinta tidak punya cara lain, hingga akhirnya kepala lapas tempat Bahar di penjara menyarankan Sinta agar pulang dulu. Beri waktu kepada Bahar agar bisa menenangkan pikirannya. Setelah 3 hari, bisa mencoba lagi membujuknya untuk pulang.
    Memang tidak mudah mengembalikan reputasi yang terlanjur hancur. Dua tahun yang lalu, Bahar ditangkap basah polisi karena terbukti mencuri kabel listrik milik PLN. Untung pada saat itu Bahar bisa segera diamankan oleh polisi sebelum amukan massa menghujamnya yang sudah pada emosi. 
    Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya Bahar divonis 2 tahun penjara. Tentu itu adalah waktu yang lama bagi narapidana harus mendekam di ruangan sumuk. Tapi bagi Bahar, 2 tahun cukuplah singkat. Bahkan saat sidang putusan vonisnya, ia terang-terangan meminta agar Ia dihukum seumur hidup. Cukup aneh memang, tetapi dalam pikiran Bahar saat itu, reputasi yang terlanjur hancur hanya bisa disemai kembali dengan mendengkur di balik jeruji besi sampai ajal menjemput.
    ***
    Tiga hari berlalu, Sinta kembali ke lapas tempat Bahar ditahan. Ia tidak sendirian, melainkan bersama Hendri yang merupakan Kepala Desa kampungnya. Ia berharap kedatangannya bersama pak Hendri bisa membujuk Bahar agar mau pulang.
    “Bagaimana kabarnya, pak Bahar?” Hendri memulai percakapan. 
    “Baik,” jawab Bahar singkat. Ia tetap merenung di sudut ruangan. Posisinya pun persis seperti tiga hari yang lalu.
    “Ayo pulang, Bang. Anak-anak kita mulai menunggu kedatanganmu dari kemarin,” ujar Sinta.
    Bahar tidak menjawab ajakan Sinta. Ia membatu disudut ruangan lapas. Semua sunyi. Sinta menangis. Bagaimanapun, Bahar adalah suami setianya yang telah memberikannya 3 anak. Tentu menjadi kesedihan Sinta juga apa yang dialami Bahar.
    “Sangat banyak narapidana yang ingin menghirup udara bebas. Berkumpul dengan keluarga dan melakukan hal baik di rumahnya. Tapi, kamu sangat aneh, Mas.” 
    “Sebenarnya saya ingin sekali pulang dan bercengkrama dengan anak-anak kita. Tapi apakah para tetangga akan menerima saya seperti yang dulu? saya malu, Dik. Dosaku banyak dan reputasiku hancur. Pasti mereka akan mengucilkanku.” 
    “Tenang, Bahar. Masyarakat kampung kita itu sangat ramah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” Hendri menengahi mereka berdua.
    Perbincangan yang alot. Menguras banyak tenaga.
    Bahar akhirnya mau pulang setelah Sinta mengancam dan meminta cerai kepadanya. Rasa malunya terhadap tetangganya perihal ia mencuri kabel, perlahan ia hilangkan dari ingatannya. “Kalau para tetangga tidak memaafkanku, akan kukatakan apa adanya bahwa aku salah. Kalau tidak, bunuh diri adalah cara terhormat,” gumam Bahar.
    ***
    Satu jam berlalu. Mobil tua yang ia tumpangi persis sudah berada di depan rumahnya. Di depan gerbang rumahnya, telah berkumpul ibu-ibu kampung desanya melirik Bahar sinis.
    “Malingnya sudah datang, ibu-ibu,” ujar salahsatu ibu-ibu memulai percakapan yang suaranya sangat jelas terdengar Bahar dan sinta.
    “Pasti dia banyak dosanya.” 
    “Benar. Harta sudah banyak, masih aja mencuri, dasar serakah. Kalau aku jadi istrinya pasti sudah aku minta cerai,” ujar yang lain menimpali. 
    Betapa sakit hati Bahar atas cemoohan para tetangganya itu. Namun, ia mencoba tabah. Suatu saat pasti mereka akan memaafkannya. Setelah makan siang bersama istri anak-anaknya selesai, Bahar bergegas ke masjid untuk menunaikan shalat jama’ah dzuhur. Pakaiannya serba putih. Sarung putih. Baju putih. Songkok putih. Besar harapan, Allah memaafkan dosanya dan membersihkan hatinya dari segala dosa dan niat jahat.
    Sesampainya di masjid, ada perempuan paruh baya menghampirinya.
    “Sudah suci saja orang nih. Padahal baru saja bebas dari penjara, paling besok jadi maling lagi,” ujar Perempuan tersebut.
    “Kalau aku jadi Kepala Desa, sudah aku usir orang seperti ini,” suara orang lain menimpali dari balik pintu.
    ***
    Sudah larut malam, tetapi Bahar yang tadi pamit shalat dzuhur tidak kunjung kembali kerumah. Sinta yang sedari tadi kebingungan akhirnya menyusul ke masjid. Tetapi tidak ada satupun orang di masjid. 
    “Tolong-tolong! Ada orang gantung diri di kamar mandi,” teriak Mahmud, marbot masjid.
    Spontan Sinta langsung pingsan saat melihat Bahar lunglai dengan tali terikat di lehernya. Orang yang ia cintai selama ini akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat dibenci tuhan. Ia hanya pasrah dengan keadaan seperti ini. 
    Setelah warga menggotong mayat Bahar, ditemukan secarik kertas di saku bajunya yang berisi tulisan: Jangan seperti aku. Aku biadab terhadap diriku sendiri dan bagi peradaban.

    Penulis:
    Negara Rofiq Lahir di Sumenep. Menempuh pendidikan Tinggi

    Di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember.
    Bisa dihubungi melalui Instagram @negararofiq
  • [Cerpen] Sehabis Ombak Menerjang

    Flpjatim.com,- Sarif tergagap. Di depan pintu rumah ia tercekat. Rumah nelayan berukuran 4x 5 meter itu serasa semakin pengab. Dadadanya berdegup kencang. Sudah bertahun ia menahan kesabaran yang sangat menghadapi istrinya yang tidak menyadari risiko menjadi isteri seorang nelayan. Berangkat “miyang” adalah sering berangkat menuju dua kemungkinan: mati ataukah kembali. Tapi sang isteri belum pernah mengetahui kengerian badai saat angin dan ombak mempermainkan nasib nelayan Pantura. Bahkan kadang berlayar menuju kalimantan dijalaninya agar rumah tangganya tetap bisa tegak dengan dapur yang tetap mengepul. 
    [Cerpen] Sehabis Ombak Menerjang

    “Uang segini mana cukup, Mas!Kebutuhan hidup sangat mahal. Belum lagi biaya sekolah anak kita!” Istrinya nrocos bicara. Sarif masih diam menahan gemuruh dadanya. Badai yang menggedor pertahanan imannya. Tapi ketika kumpulan uang puluhan ribu itu dilempar ke depan kakinya, Sarif kehilangan kesabarannya. Isteri yang dicintainya dan malahan sangat tertanam dalam jantungnya itu dipegang tangannya. Sarif menggelandangnya ke luar. Menuju laut! Teriakan istrinya tak dihiraukan. Tatapan mata tetangga diabaikan. Perahu motor dinyalakan. Tangisan istrinya bersatu dengan ombak pagi itu. 
    Angin menghantam lambung perahu. Sarif hampir terjengkang ke luar. Hantaman ombak ke dua menghantam tubuh istrinya. Terjatuh dalam dasar perahu perempuan semampai itu. Ketakutannya akan kematian membuat ia terdiam sementara waktu tapi Hantaman berikutnya membuat Ia berteriak ke arah suaminya. Ia malah menyodorkan tangannya ke arah suaminya untuk mencoba nenolongnya. Ia tak rela kalau suaminya pergi dalam badai seperti ini. Ia ingin ditemani seorang suami yang sanggup menerobos badai seperti pagi itu. Suaminya pun berusaha untuk menggapai tangan istrinya yang terjatuh dalam dasar perahu itu. Pagi itu, ketika para nelayan bercengkrama dengan keluarganya, sepasang suami istri saling berpelukan dalam badai. 
    Kini, sehabis peristiwa itu, perempuan itu tak pernah membentak lagi kepada suaminya. Ia lebih khusyuk dalam doa untuk setia kepada suaminya ketika suaminya pergi “miyang”. Sedangkan Syarif seperti biasanya, menekuni ikan dari jaring yang ditebar, dari jala yang dilemparkan. Ia biasa bermandi badai demi utuhnya rumah tangga, demi tetap utuh cinta dalam dada. Selamanya.
    SHT, 060320
  • Perempuan Senja

    Flpjatim.com,- Aku menghampiri Senja yang duduk menyendiri. Mata sayunya menatap cakrawala di ufuk barat. Aku yang duduk di sebelahnya mencoba mengurai kata-kata, namun aku urungkan. Setelah akhirnya Senja pergi dipeluk malam. 
    “Mengapa dia tidak berkirim kabar?” Katanya setengah berbisik kemudian beranjak pergi. Belum sempat aku berpatah kata, Senja sudah hilang dibalik pintu, hanya baunya wangi yang meninggalkan jejak. 
    “Hari ini aku belum berhasil, mungkin esok atau lusa. Aku akan terus mencobanya.” Tanpa tersadar kalimat itu mengalir dari mulutku. Dan membuat hidupku menjadi tidak tenang. Perasaanku berkecamuk. Lamat-lamat aku teringat pesan almarhumah Ibunya. Malam itu, seorang Ibu yang rambutnya sudah beruban datang ditemani anak sulungnya. 
    “Kuharap kamu bersedia datang. Aku sudah tidak punya cara lain. Berpuluh dukun, dokter bahkan teman dekat Senja sudah aku datangkan, tetapi sia-sia. Kini hanya kamu satu-satunya tumpuan harapanku.” Tatapnya memelas dan mengiba.
    “Aku tak berani janji Ibu, tapi aku akan berusaha.” Suaraku parau.
    Belum terwujud apa yang menjadi permintaannya dan belum genap seratus hari lepas pertemuan itu, Ibu yang malang itu telah menutup mata untuk selamanya. Menurut orang-orang dia meninggal karena memikirkan anaknya yang tidak sembuh-sembuh. Sanak kerabat bilang bahwa Senja sakit jiwa.
    Hari berikutnya, kulihat Senja keluar dari kamarnya tanpa sepatah kata. Diiringi cahaya senja, dia memulai ritualnya. Duduk di bawah pohon Enau sambil menatap jalan setapak, perkebunan cengkeh, kemudian bola matanya beralih pada senja di ufuk barat. Cakrawala emas menyapu langit-langit. 
    “Sungguh pemandangan yang luar biasa. Aku sering merindukan untuk dapat tinggal di sebuah pegunungan. Terasa dekat dengan alam,” aku mencoba membuka percakapan.
    Kulirik Senja yang diam terpekur. Bahkan ia tak menoleh sedikitpun. Mulutnya tertutup rapat. Tatapannya kosong, namun menyimpan pengharapan. Aku menggigit bibir dan meremas tanganku.
    “Senja, tataplah mataku! Tidakkah kamu ingat sedikitpun? Aku adalah Faris teman kecilmu. Hal apakah yang membuatmu terkungkung seperti ini? Tidakkah kamu bisa bercerita untuk melepas beban dipundakmu?” Aku menjadi tak sabar dan berisik disampingnya.
    Senja tetap diam. Mulutnya masih tertutup rapat. Rambutnya yang panjang dan kumal melambai diayunkan angin senja. Cahaya senja berhasil menyepuh bola matanya menjadi lebih cekung dan tirus. Wajahnya benar-benar sayu. Namun, kecantikan alami dalam dirinya tak terhapus sedikitpun. Meskipun hatinya dalam lara, pilu dan sedih tak kunjung diakhirinya.
    “Senja, dengarkah dirimu? Lihatlah senja di ufuk barat tetap setia menemanimu tanpa lelah. Dia terus menjalankan tugasnya tanpa mengeluh sedikitpun. Kita bisa belajar dari senja.” Aku mulai bosan berceloteh. 
    “Jika ada sesuatu kelam yang meyelimuti jiwamu, tidakkah kamu ingin menghapusnya. Kamu punya masa depan. Kamu punya prestasi. Ibumu pasti tersenyum disana, jika kamu mau terbuka dan melupakan kejadian yang menjadikanmu seperti ini.” Ada sedikit sesal, mengapa keluar kata-kata itu dari mulutku? Kukira ini terlalu pedas dan dini.
    Lihatlah! Senja tetap tak memberi reaksi. Tatapannya bertambah sayu. Sayu sekali. Ia masih sama, menatap cakrawala senja setelah akhirnya tenggelam dipeluk pekat malam. Matanya yang sayu membentuk danau kecil yang siap muntah.
    “Astaga Senja,” aku berdiri terpaku menyaksikan senja menangis untuk kali pertamanya sejak tiga tahun penantiannya di Kastil Bukit Senja. Menantikan seseorang yang tak perlu dinanti. Sepertinya dia tak akan datang. Lelaki itu telah mengingkari ikrar sucinya. 
    Lihatlah! Tangisnya yang sudah kering sejak tiga tahun itu, kini kembali hadir membasahi korneanya yang cokelat kebiru-biruan. Dan entah sampai kapan?
    Senja buru-buru beranjak menuju kastil mungilnya, sebelum aku sempat berpatah kata dengannya. Hanya derit pintu yang menemaninya masuk ke dalam singgasananya yang tak siapapun diijinkan masuk. Termasuk desau angin sekalipun.
    Senja memiliki rumah kecil khusus yang didesain seperti kastil kuno zaman Belanda. Dikanan kirinya terdapat taman, pepohonan dan kolam. Sehingga bangunan itu bak istana mungil putri raja. Kastil itu dibangun khusus oleh ayahnya sesuai dengan permintaanya. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses.
    Aku masih duduk mematung disebelah tempat duduk senja. Sendiri berteman sepi. Lamat-lamat aku teringat masa-masa saat kami masih duduk dibangku sekolah. Betapa Senja adalah murid berbakat. Dia berhasil menjuarai lomba pidato tingkat nasional. Kecerdasan dan kepiawaiannya berbahasa begitu memikat. Berbagai kejuaraan dimenangkannya. Ayahnya sangat bangga dan selalu menuruti permintaanya. Termasuk Kastil yang ditinggalinya sekarang.
    Kini sungguh miris, ia tak seperti dulu. Semangatnya telah ia sandarkan pada sebuah ikrar. Seseorang yang sangat dicintainya. Seseorang yang membuatnya bertahan menunggu hingga lima tahun. Seseorang yang berhasil menumbangkan prestasi, bahkan masa depannya yang gemilang menjadi pupus. Dan apakah ini termasuk takdir?
    Sore itu aku kembali menunggunya di taman. Sebelumnya aku sempat berjalan-jalan dengan ayah Senja. Kami membicarakan kemajuan Perkebunan dan yang pasti tidak ketinggalan adalah membicarakan perkembangan Senja, termasuk peristiwa langka kemarin. Tangis Senja, setelah tiga tahun korneanya tak basah.
    Sore itu Senja berjalan memakai kemeja setelan putih. Kepalanya bertudung selembar kerudung putih yang disematkan sekenanya di kepala. Semua serba putih. Aku sedikit heran.
    Kami berdiam mematung. Tak bersuara beberapa menit lamanya. Aku mencoba meliriknya, seperti hari-hari sebelumnya. Ia tetaplah sama.
    Sebulan sudah aku menemaninya. Duduk berdiam diri tanpa melakukan apapun kecuali melihat tangisnya beberapa hari yang lalu. Menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Menemani Senja menatap cakrawala senja yang cahayanya menyepuh perkebunan cengkeh menjadi pepohonan berdaun emas. Diam-diam aku memuji selera Senja. Ternyata ada rasa tenang dan nyaman duduk di bawah pohon Enau berjemur diri dibawah senja sore hari. Ditemani desau angin dan wewangian bunga. 
    “Aku bukanlah siapa-siapa tanpa senja yang menjadi penyemangat hidup. Mungkin aku sudah mati jika senja itu tidak hadir barang sedetikpun.” Bibirnya yang kering kembali mengatup setelah keluar kata-kata yang sulit kumengerti setelah tiga tahun tak berpatah. 
    Aku tergagap tak yakin. Aku segera menyambar beberapa kata. Dengan hati-hati aku mencoba berargumentasi. Aku tak mau berkata dengan angin seperti hari-hari sebelumnya.
    “Ya, mungkin kami semua salah selama ini, senja memang indah dan sayang untuk dilupakan. Senja bisa saja menjadi harapan, bukan sebuah perpisahan seperti dongeng-dongeng dan cerita-cerita sad ending yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang berpisah disaksikan senja sore hari.” 
    “Tapi itu benar adanya.”
    “Oh, berarti tafsirku salah.” Aku menyesal dengan kata-kataku. Seandainya bisa kutarik, ingin rasanya aku tarik kembali agar aku tak terus malu di hadapan Senja.
    “Lalu mengapa sepasang kekasih itu berpisah saat senja?” Aku bertanya hati-hati dan tidak ingin salah untuk banyak kalinya.
    “Sepasang kekasih itu tidak berpisah di kala senja, namun sepasang kekasih itu merajut harapan tepat di kala senja. Meraka ingin mengubah takdir. Mereka ingin mengubah apa yang menjadi kepercayaan orang-orang, bahwa mentari adalah pertemuan dan harapan sedangkan senja adalah perpisahan dan kesedihan. Sepasang kekasih itu telah bertekad untuk mengubahnya, bahwa senja adalah pertemuan agung yang akan mematahkan cerita-cerita dan dongeng-dongeng itu.”
    “Lalu?” kataku singkat. Aku tak berani berkata banyak. Aku tak ingin kembali berwajah merah didepan orang brilliant ini. Meskipun dia sedang dirundung duka, namun tak berarti mengurangi kecerdasannya sedikitpun.
    “Aku akan menunggunya.” 
    Diam sesaat. Heran. Keyakinan cintanya begitu kuat. Aku bergidik. Angin senja mulai menusuk pori-pori kulitku. Aku sedikit menyesal karena tak menyiapkan jaket saat pergi. Udara pegunungan memang sangat dingin, apalagi malam hari.
    “Dan kami akan membuktikan kepada orang-orang bahwa senja adalah pertemuan, bukan perpisahan. Kami akan bertemu, meskipun usiaku senja nanti.”
    Kami terdiam kembali. Aku belum menemukan kata yang tepat untuk memberikan tanggapan. Hingga akhirnya, Senja beranjak masuk ke kastilnya, ditemani desau angin yang memaksa ikut mengantarnya, pun senja malam yang hilang dibalik pekat malam tahun keempat, dia menungu seseorang yang entah kapan akan menepati janjinya. 
    (Ngawi, 26 Desember 2017)
    Oleh: Saif Ahmad [Divisi Jarwil FLP Jatim] 
  • Bunglon


    Oleh Retno Fitriyanti

    Mulut Bejo sudah berbusa sejak pagi tadi hingga matahari diubun-ubun tidak henti-hentinya berkoar-koar membujuk warga untuk memilih bakal calon Kepala Desa Sumber Makmur. Situasi memang semakin memanas mendekati hari pemilihan. Bejo tidak ingin bakal calonnya, Mukidi, yang ia sanjung dan dukung mati-matian harus tersingkir kalah dari lawannya. Sebenarnya bukan karena Mukidi memang layak menjadi kepala desa, namun lebih karena Bejo tidak rela bila, Jarwo, rival Mukidi yang menjadi pemenangnya.

    Sudah menjadi rahasia umum di desa ini bila ada dendam kesumat antara Bejo dan Jarwo sejak dahulu kala. Sebagai pengusaha yang cukup sukses, Bejo tidak sungkan-sungkan menggelontorkan sejumlah dana untuk membantu program-program desa tentu saja dengan imbalan dimudahkan urusan bisnisnya. Dengan dukungan kepala desa tentu saja bisnis Bejo semakin berkembang dan maju. 

    Meskipun sering kali tercium aroma kecurangan dan kebusukan dari bisnis yang dijalankan Bejo. Sebagian besar warga desa tidak ambil pusing dengan keadaan tersebut. Karena mereka lebih peduli dengan perut lapar ketimbang urusan politik yang tidak bikin kenyang. Sebagian lainnya yang peduli hanya mampu bisik-bisik tetangga lalu diam dan pasrah. Keadaan ini membuat Bejo merasa di atas angin. Kepala desa yang korup dan pengusaha yang rakus bekerjasama memperkaya diri sendiri.

                Kesuksesan Bejo membuat cemburu pengusaha lainnya. Salah satunya adalah Jarwo. Persaingan antara Bejo dan Jarwo dimulai dalam mengambil hati kepala desa. Tentu saja persaingan ini sering kali diwarnai dengan perselisihan yang berujung pada kekerasan. Namun warga hanya bungkam. Siapa yang berani melawan maka siap-siap menjadi bulan-bulanan sang pengusaha.

                Musim pemilu seperti saat ini selalu dimanfaatkan oleh Bejo untuk mendekati calon kepala desa yang akan bertarung. Mengiming-imingi mereka dengan kucuran dana biaya pencalonan. Menyadari bahwa dirinya mungkin tidak akan mampu melawan Bejo maka Jarwo akhirnya maju mencalonkan diri menjadi kepala desa.

                Mengetahui kenyataan pencalonan Jarwo membuat Bejo naik pitam dan membuat calon tandingan. Maka, setelah melakukan seleksi dipilihlah Mukidi sebagai calon dari kubu Bejo. Bukan tanpa alasan Bejo memilih Mukidi. Pertama karena Mukidi adalah laki-laki yang naif dan mudah diatur. Kedua karena Mukidi masih terhitung kerabat jauh Bejo maka seharusnya Mukidi berpihak kepadanya.

                Sebenarnya Bejo ingin turun langsung menghadapi Jarwo namun rasanya lebih elegan bila Bejo bermain di belakang layar. Toh bila Mukidi terpilih sebagai kepala desa sesungguhnya Bejo-lah yang menjadi kepala desa karena Mukidi akan merasa berhutang budi kepadanya lalu akan mengikuti semua keinginan Bejo. 

    Hari pemilihan telah tiba. Pesta demokrasi rakyat berlangsung lancar, aman dan terkendali. Air muka Bejo dan Jarwo terlihat sedikit tegang. Sedang Mukidi lebih santai. Hingga waktunya penghitungan suara. Kedua kubu memperhatikan lebih saksama jalannya penghitungan suara. Saling kejar mengejar antara Mukidi dan Jarwo. 

    Bejo semakin salah tingkah. Khawatir jagonya kalah. Namun Bejo tidak pernah salah langkah. Sebagai pengusaha yang sudah banyak makan asam garam, instingnya belum pernah meleset. Mukidi menang. Bejo sumringah, merasa bahwa kemenangan ini adalah miliknya.

    Bejo mulai mengatur strategi selanjutnya. Diundangnya Mukidi ke rumahnya untuk makan malam sekaligus membicarakan pembagian kekuasaan. Malam semakin larut. Tidak nampak batang hidung Mukidi. Bejo gelisah. Bosan menunggu, Bejo memutuskan untuk langsung ke rumah Mukidi. 

    Rumah sederhana bercat putih ramai pengunjung. Bergegas Bejo masuk kedalam. Nampak Mukidi dan Jarwo duduk berdampingan, berbincang dan tertawa mesra. Tidak nampak permusuhan diantara mereka. Bejo tidak percaya dengan pemandangan dihadapannya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, dunia seperti berputar lalu gulita. Hanya suara tawa Mukidi dan Jarwo yang memenuhi isi kepalanya.
  • Sebongkah Cinta DiSepenggal Perjalanan (Part 3)

    Flpjatim.com,- Mbak Zie dan Surabaya | Malam itu aku jadi menginap di Hotel Mbak Zie di daerah Ketintang Perum. Dosen Unesa. Aku kegirangan ketika mendapat izin menginap dari Mbak Zie. Aku akhirnya menginap di Surabaya.
    Kami diantar gojek yg lagi-lagi dipanggil oleh Om Muhsin melalui aplikasi gojek di hapenya karena hape kami berdua sudah tewas dengan mengenaskan. Kami diantar melintasi jalanan Surabaya malam yg hangat dan membawa suasana romantis. Romantis bukan karena banyak orang pacaran melainkan banyak lampu-lampu jalan yg menerangi lalu-lintas.
    Kami sampai di kos sekitar pukul 10. Aku langsubg mandi kemudian tidur. Biasanya, aku perlu waktu dua jam untuk bisa tidur setelah supper. Namun, air yg segar telah memapah kantukku ke dalam mimpi. Aku tidur dengan nyamuk-nyamuk kecil yg menggigiti kakiku. Tapi aku tak bergeming karena kantuk telah mendekapku begitu dalam.
    Paginya, aku meriang. Aku tidak bisa tidur nyenyak karena hawa Surabaya yg cukup panas. Suara Mbak Zie yg menawariku apel pun tak kuhiraukan. Setelah mandi dan sarapan, aku bergrgas pulang. Aku tidak ingin merepotkan Mbak Zie terlalu lama dengan merawatku yg sedang meriang. Aku sudah terbiasa dengan sakit yg melemahkan. Jadi, meriang bukanlah masalah besar dalam perjalanan.
    Jam masih menunjukkan pukul 6.50. Mbak Zie dan aku menunggu gojek yg mengantarku ke terminal. Aku menatap wajah pagi Surabaya yg cerah dan penuh semangat itu sekali lagi. Aku merasakan wajah itu tengah menyambut kedatanganku, bukan mengantar kepergianku. Aku menyesal karena sudah tidak tahan dengan panasnya Surabaya yg menurutku diracik dengan pas oleh Tuhan. Pas karena ketika angin berhembus, segarnya masih bisa terasa. Ketika mentari terik pun, tidak membuat orang langsung mengeluarkan keringat dengan panas yg menyengat. Panas Surabaya itu hangat. Tidak boleh ada seorang pun yg meralatnya.
    Motor yg dikendarai oleh seorang bapak dengan wajah khas Surabaya itu datang. Ia menyodoriku sekotak masker dan memintaku untuk memakainya. Suaranya ramah. Khas suara orang Surabaya. Tentu dengan senyuman ramah yg menyurabaya. Alah. Tak bisa kudeskripsikan.
    Aku melambaikan selamat tinggal pada Mbak Zie. Aku diantar bapak berkumis itu melalui gang demi gang untuk menghindari macet di jalan. Cara bapak itu mengendarai motor begitu bersahaja. Bapak itu seolah tahu aku membenci guncangan yg berlebihan ketika melalui polisi tidur. Bapak itu tidak ngebut, tidak juga pelan, melainkan pas. Aku begitu menikmatinya hingga jika aku mengantuk, aku pasti sudah tertidur di pundaknya. Ah, Surabaya memang kucintai karena dia begitu pas di hati.
    Sesampainya di terminal, aku mengucapkan terima kasihku dengan sederhana. Walaupun sebenarnya aku ingin mengatakan, “terima kasih, Bapak karena sudah mengendarai motor dengan begitu bersahaja sehingga saya sampai di terminal dengan selamat dan bahagia.” Walapun aku mengucapkannya dengan sederhana, Bapak itu menjawabnya dengan tidak sederhana. Bapak itu menjawab dengan nada yg begitu halus dengan senyumannya yg ramah. Khas keramahan orang Surabaya. Bapak itu pun mengingatkanku untuk berhati-hati. Sebagai catatan, wajah Bapak itu hampir mirip dengan wajah Bapakku. Begitu pula dengan caranya mengendarai motor.
    Aku pun naik bus jurusan Surabaya-Malang. Tak lama, bus itu melaju dan menyeret mataku yg sedang memeluk Surabaya. Harusnya aku menginap dari pagi hingga pagi lagi agar memoriku pada Surabaya terpenuhi. Andai hatiku adalah tali, maka panjang cintaku pada Surabaya adalah sejauh tugu pahlawan hingga tugu Malang. Sayangnya bukan.
    Di perjalanan pulang, pandanganku masih erat menggenggam tangan Surabaya. Cinta tidak hanya membutakan, menulikan, dan mematikan rasa, tapi ia juga membuntukan penciuman. Hampir semua yg kurindukan dari Surabaya sudah kudapatkan semalam. Namun, apa kau tahu hal yg belum kudapatkan itu? Bau peceren Surabaya yg menghitam.