Beranda Cerita Catatan Hari Ini: Kerinduan dari Tepi Sungai Amstel

Catatan Hari Ini: Kerinduan dari Tepi Sungai Amstel

5

Catatan Hari Ini (1)

Aku duduk di tepi Sungai Amstel sambil memandang jauh Magere Brug yang tetap angkuh berdiri di atas Kanal Keizersgracht.

Tempat ini masih sama namun suasana telah berubah, dulu aku duduk sambil menggenggam tanganmu yang hangat sembari memandang matahari senja mengawali Ramadan di musim semi nan indah.

Sebuah whisper boat melaju perlahan di depanku tanpa suara, hanya terdengar renyahnya tawa para turis sambil mengabadikan momen sepanjang kanal.

Kini musim dingin penghabisan menghampiri tubuhku yang hanya berselimut coat cokelat tua peninggalanmu.

Tenanglah di keabadian, hari ini teduhnya Ramadan telah memayungimu dengan sayapnya yang membentang di seantero jagad.

Amsterdam, 20 Februari 2026

Catatan Hari Ini (2)

Aku masih di tepi Kanal Keizersgracht lalu sedikit menikung menyusuri pertokoan nan ikonik.

Langkahku terhenti di Screaming Bean hanya sekadar membatalkan puasa dengan secangkir teh tanpa gula sambil mata menyapu datangnya senja di selasar Negen Straatjes.

Sendiri ditemani sepeda kesayanganmu, namun cukup berani melawan bayangmu yang kadang muncul kadang tenggelam tanpa permisi.

Amsterdam, 21 Februari 2026

Catatan Hari Ini (3)

Kuhentikan langkahku di sebuah bangunan bertulis Rijks ketika bayanganmu berkelebat masuk dan aku mengikutinya.

Kuterima undangan makan malam ini satu jam sebelum aku mendarat di Schiphol tempo hari.

Joris Berdendijk orang yang tak pernah lupa padaku ketika aku di sini membawa sendiri sajian black traffle rigayoni yang lahir dari ketrampilan tangannya, menjadi salah satu hidangan malam ini.

Obrolan kami mengalir hangat tanpa jeda sampai aku melihat gelang tridatu itu masih melingkar di pergelangan tangannya, warnanya sudah mulai kelabu.

Bayangan itu hadir bersama kami ketika kutatap matanya dalam dan meyakinkan dirinya untuk melepas gelang itu, dan kembali pada kejujuran pertemanan kami.

Amsterdam, 22 Februari 2026

Catatan Hari Ini (4)

Angin dingin menerpa rambut pirang si kembar Elmar dan Elmira yang bermain salju di depanku, sekali-kali mereka memanggilku untuk menemaninya bermain.

Aku mengamatinya sejak tadi, serasa tak ada yang kurang kemiripannya dengan foto masa kecilmu yang bertengger di atas bufet.

Semua memori ini mengiatkanku akan gugurnya daun maple merah di pangkuanku kala itu, begitu tiba-tiba tanpa tanda-tanda dari alam.

Si kembar blonde itu begitu riang ketika kugamit untuk masuk rumah bergabung bersama selusin Van Ledegen menikmati slagroomtaart di depan perapian.

Maple merahku sayang, engkau pasti bahagia melihat kami dalam formasi lengkap berkumpul di Ramadan ini.

Utrecht, 23 Februari 2026

Catatan Hari Ini (5)

Bersepeda menembus suhu dingin pagi mengunjungi Utrecht University menemui kenangan atas memori yang masih tertinggal bersama waktu.

Berbincang dengan Prof. Dr. Frank Biermann teman lama yang menyenangkan dan lawan debat yang sepadan.

Peranakan Jerman yang puluhan tahun tinggal di Netherlands namun tetap cinta negaranya selalu mengingatkanku pada harga diri yang tak pernah tergadai.

Kami sudahi perbincangan tentang politic and sustainable living ketika Prof. Dr. Ido de Han koleganya menghampirinya.

Kulambaikan tangan berlalu dengan sepedaku meninggalkan dua orang yang paling berjasa di tiga dekade lalu, satu janji selesai hari ini esok janji lain menanti.

Utrecht, 24 Februari 2026

Catatan Hari Ini (6)

Di sepanjang hidup aku telah berjalan jauh melintasi bahasa, waktu dan peradaban, namun setiap ada celah hatiku pulang diam-diam menyusuri gang-gang kecil dengan hiruk pikuk ibu-ibu yang setiap pagi membangunkan anak ke sekolah, beranjak ke pasar, atau berkutat di dapur; kadang hatiku diam-diam menyusuri macetnya jalanan kota, menghirup bau polusi, mengelus dada melihat parkir liar semakin merajalela yang kini membuatku tertawa bahagia jika mengingat semua itu.

Ingatan itu masih lekat dalam benakku; makan bakso semangkok berlima, memanjat pohon mangga tetangga, main hujan-hujanan sepulang sekolah yang membuat baju dan buku basah, ibu pun marah melihatnya, ah sungguh membuatku rindu pulang.

Semua hal-hal kecil itu membuat Indonesia terasa rumah, negeri lain boleh memberi tempat singgah dan semua mimpi, tetapi tidak akan bisa memberi memori seindah Indonesia.

Boleh saja merasa lelah, marah dengan keadaan, atau ekspektasi yang terlalu tinggi pada Indonesia, tetapi akan ada masanya nanti hati rindu pulang sekadar ingin duduk di teras rumah ibu bapak sambil menikmati bau tanah basah dan melodi hujan yang menciptakan orkestra alami.

Jika Inggris yang luasnya lebih kecil dari Sulawesi itu bisa membuat orang bahagia, maka aku percaya Indonesia jauh lebih bisa; sederhana saja ada tukang bakso keliling di mana-mana, belum gajian bisa utang warung sebelah, atau menikmati kerecehan anak-anak saat tarawih yang semua itu tak akan aku temui di negeri keju manapun.

Utrecht, 25 Februari 2026

*Ditulis oleh Hd. Aisya, Forum Lingkar Pena Surabaya

Konten sebelumnyaBertanya pada Pakdhe: Teknik Menulis Diary yang Keren
Konten berikutnyaFLP Jatim Hadiri Forum Konsultasi Publik Disperpusip Jawa Timur 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini