Kategori: Serbu Website

  • Cerbung: Langit Masih Biru (Bagian 3-terakhir)

    Cerbung: Langit Masih Biru (Bagian 3-terakhir)

    Bagian sebelumnya

    Pada angin kutumpahkan beban

    Pada waktu kugantung pertanyaan

    Pada cahaya kuminta pertanggungjawaban

    Mengapa hati masih berkalang duka tiada bertepi?

    ***

    Subuh masih kelam ketika aku berpamitan. Kucium kedua belah pipi si bungsu. Dia tersenyum tapi aku yakin hatinya berbalut kabut.

    “Hati-hati, Bu. Mengapa tidak minta diantar Cak Ang saja?”

    “Tidak baik mengganggu paman sepagi ini. Doakan Ibu. Insya Allah semua akan baik-baik  saja. Jangan lupa belajar, tidak boleh tidur lagi, kunci pintu sebelum berangkat sekolah, dan sebaiknya Sirosuki, kucingmu itu dimasukkan ke kandang.” Kebiasaanku selalu berpesan panjang lebar sebelum pergi masih tetap kuulangi.

    Dia menunduk kemudian kami kembali berpeluk.

    “Sudah ya, Nduk. Nanti ibu telat. Sudah hampir jam setengah lima, lho.” Kuurai pelukannya dengan berat.

    Aku segera mengeluarkan sepeda  dan langsung menaikinya. Kaki kanan yang berat terangkat, kadang membuatku kesulitan menemukan jagang.

    “Sudah! Tidak akan terjadi apa-apa. Doakan saja ibu, Nduk. Jangan lupa tutup pintunya.”

    Bungsuku agak lama mencium tangan dan kurasakan ada basah yang tertinggal di sana. Aku segera melajukan sepeda.

    Jalanan sepi lengang. hingga tiba di pasar kecamatan. Keramaian pasar subuh itu sempat membuatku berniat memulai aktivitas di sana setelah si bungsu nanti menempuh pendidikan di pondok pesantren.

    Perjalanan panjang membawaku melewati hutan yang disebut jaten cilik (kebanyakan pohon jati dalam hutan ini kecil karena akan ditebang secara berkala ketika mencapai ukuran diameter tertentu) yang konon di sana sering terjadi pembegalan. Kurapalkan segala doa yang bisa kuhafal. Kubaca setiap ayat yang mampu kuingat.

    Bagaimanapun sepanjang perjalanan itu aku tetap dihantui bayangan kelam masa lalu.

    Selama kurun waktu lima tahun terakhir dalam hidupnya, almarhum suamiku sering keluar masuk rumah sakit. Dia terdiagnosis menderita penyakit jantung bengkak dan hipertensi pada awalnya. Pengobatan rutin sudah dijalani selama empat tahun. Namun, akhirnya komplikasi terjadi tanpa bisa dihindari. Kedua ginjal dinyatakan tidak berfungsi secara normal.

    Setelah itu bapak dari anak-anakku itu harus menjalani terapi hemodialisis. Jadwalnya rutin setiap dua kali dalam seminggu. Dia harus berhadapan dengan mesin pembersih racun dan limbah dalam darah. Segala ingatan tentangnya dan kondisiku saat ini  terasa mengguncang dada.

    Berbagai peristiwa mengerikan bisa saja terjadi di luar perkiraan. Pasien yang datang dalam keadaan tanpa daya bisa keluar dengan tertawa. Pasien yang tadinya terlihat sehat setelah keluar dari ruang HD bisa juga sudah kehilangan nyawa. Sering kali drama tragis pun berlaku. Di tengah proses terapi pasien bisa menggigil kedinginan dan harus disentrong dengan lampu berkekuatan 200 watt. Kami menyebutnya shooting. Bisa juga pasien mengalami sesak napas hingga butuh aliran oksigen di atas angka 10 yang tidak bisa dialirkan melalui selang biasa, tetapi butuh alat yang kami sebut masker dan  teropong.

    Aku menghela napas panjang dan mencoba menghapus setiap bayang kegetiran. Air mata yang menghalang pandang tiada sempat aku seka.

    Sampai di pelataran RSA waktu di layar gawai menunjukkan angka 05.10. Perjalanan selama 40 menit. Aku sengaja mencari tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk agar aku tidak terlalu jauh berjalan. Parkiran mobil penuh tetapi tempat parkir sepeda masih luas tersedia.

    Aku bertanya kepada satpam jaga dengan menunjukkan surat rujukan yang kubawa.

    Petugas berseragam hitam itu menjelaskan bahwa aku harus ke lantai 2 gedung Tan’im.

    “Ibu bisa melalui tangga di samping tetapi saya sarankan menggunakan lift saja.” Tangannya menunjuk suatu arah.

    Aku menuju lift yang disarankan dan beberapa waktu menunggu hingga kotak itu membawaku ke lantai dua. Seperti halnya gedung Bir’ali, gedung Tan’im ini juga terdiri dari lima lantai.

    Sampai di lantai dua. Masih kosong melompong. Tak seorang pun dapat aku temui. Sendiri, aku mencari papan dan klinik yang bertulis nama Dr. Sunarto, Sp Syaraf.

    Aku duduk dan menunggu di depan ruangan itu. Lama, sampai aku mengantuk. Baru pada sekitar jam 06.00, ada petugas kebersihan memulai aktivitas.

    “Mohon maaf, Pak. Di surat rujukan ini tertera Dr. Sunarto praktik jam lima pagi, tetapi sampai sekarang kok masih sepi, ya?”

    “Dokter saraf yang praktik pada jam lima pagi itu Dokter Ida, tetapi beliau hanya melayani pasien lama pada hari Selasa dan Jumat. Kalau hari ini yang buka praktik dokter Sunarto. Jamnya bisa dilihat di papan. Jam 08.00-12.00.” Jelas sekali apa yang disampaikan petugas itu.

    “Terus rujukan saya ini, bagaimana?”

    “Sebaiknya Ibu tunggu hingga petugas jaga di sini datang ya. Bisa ditanyakan kepada beliau nanti, ya, Bu.”

    Saya hanya bisa mengangguk dan berterima kasih.

    Waktu menunjukkan 07.30 ketika ada seorang wanita berseragam biru duduk di depan komputer di depanku.

    Aku segera menunjukkan surat rujukan.

    Ternyata aku salah prosedur. Meskipun sudah datang jam lima aku belum mendapat nomor antrean untuk mendaftar di loket pendaftaran satu atau dua. Perawat yang baik itu menunjukkan runtutan cara yang benar.

    Aku harus mengulang dari awal.

    Hampir jam sembilan ketika akhirnya aku dipanggil untuk bertemu dokter. Sebelumnya perawat yang baik itu sudah mengecek tensi darah dan mencatat segala keluhan yang aku sampaikan.

    “Ibu Karimah. Ya…ya…”Dokter itu melepas kaca matanya setelah membaca sesuatu di komputer juga lembar rekam medisku.

    Aku masih tegang ketika pandangan ramah dokter itu menatapku yang berjarak sekitar satu meter di hadapannya. Namun, ada kaca setinggi ukuran manusia normal yang menghalangi kami.

    “Apakah pernah jatuh sebelumnya?”

    Aku mengernyitkan dahi, “Pernah dokter tapi itu sudah sepuluh tahun berlalu.”

    Dokter Sunarto mengangguk, “Hem.” Pria dewasa yang terlihat bijak itu menganggukkan kepala, “Coba berjalan jinjit dan berjalan dengan tumit. Sepatunya dilepas!”

    Perintah itu langsung aku turuti. Ternyata aku bisa berjalan dengan tumit tetapi tidak mampu berjalan jinjit.

    Dokter itu kemudian menyuruhku berbaring di ranjang pasien. Pertama kali hal yang beliau lakukan adalah memukul lututku menggunakan benda seperti palu. Anehnya saat dipukul tiba-tiba kakiku terangkat.

     Kemudian aku juga diperintah untuk mengangkat kaki kanan, lalu kaki kiri secara bergantian. Mengangkat kedua kaki bersamaan. Hasilnya, ternyata aku tidak mampu menyejajarkan kedua kaki. Semuanya memang hal sepele yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.

    “Saya akan buatkan surat untuk radiologi hari ini juga. Hasilnya dibawa saat kontrol minggu depan.” Dokter itu menyerahkan map bening yang berisi lembaran-lembaran, “Perawat di depan akan menjelaskan.”

    Pikiranku bertalu-talu dihantui rasa tiada menentu.

    Perawat menjelaskan semua hal yang harus kulakukan. Selanjutnya aku menyerahkan resep ke ruang farmasi.

    “Sekarang ada jasa pengiriman obat. Ibu bisa menggunakannya karena obatnya nanti racikan dan lama untuk menunggunya.” Saran dari perawat itu pun aku terima.

     Mencari ruang radiologi tidaklah sulit karena sudah beberapa kali aku ke sana, tetapi jarak gedung ini ke ruangan itu sungguh berat kulalui dengan kondisi kaki yang berat melangkah saat ini.

    Dengan peluh di sekujur tubuh aku tiba di ruang radiologi.

    Antrean tidak panjang, tetapi butuh waktu hampir satu jam ketika tiba giliran namaku dipanggil.

    Ruangan dengan ranjang dari kaca tebal. Peralatan dari besi baja menggantung di atasnya. Berdebar rasa di dada ketika harus berada di antaranya.

    Dua kali rontgen dilakukan atas diriku. Pada posisi telentang dan posisi miring.

    “Hasilnya bisa diambil hari Jumat atau Sabtu ya, Bu. Jam 08.00-12.00.” Seorang petugas menunjuk pada kertas yang ditempel di samping loket.

    Aku berterima kasih dan mengucap salam untuk berpamitan.

    Obat diantar ke rumah sebelum waktu Asar tiba.

    ***

    Kontrol kedua

    “Terjadi cedera saraf sehingga tulang panggul menyempit dan ligamen menebal. Apa keluhan ibu sekarang?”

    “Masih sama, Dokter. Tidak kuat berdiri lama dan berjalan jauh.”

    “Mulai sekarang tidak boleh mengangkat benda berat. Hindari konsumsi lemak dan gorengan. Satu lagi, harus menurunkan berat badan.”

    Aku terperangah.

    Dokter mengangkat dan menunjukkan hasil radiologi yang sebenarnya sama sekali tidak kumengerti.

    “Line weight bearing break on the promotorium. Penyempitan tulang hingga ligamen menebal. Ibu dahulu jatuh tanpa pengobatan maksimal. Ditambah pekerjaan yang selalu mengangkat beban berat. Apalagi berat badan ibu juga bermasalah.”

    “Apakah itu sangat serius, Dokter”

    Dokter senior itu tertawa, “Itu masalah biasa. Kasus yang sangat sering terjadi. Orang tidak merasa penting untuk periksa ke dokter sebelum merasakan gejala yang menyakiti dirinya.”

    Aku menunduk dalam, sama sekali tidak menyanggah ucapan dokter.

    “Tidak mengapa Bu Karimah, jalani pengobatan dan pelatihan rutin sesuai prosedur. Tetap semangat.”

    Aku keluar dari rumah sakit dengan perasaan terpecah belah. Namun, seperti keyakinan yang selalu kutanamkan pada anak-anakku.

    “Titik terberat dalam kehidupan ini sudah kita lewati, Sayang. Selama langit masih biru. Akan selalu ada harapan baru.”

    Aku yakin perjalanan menuju senja itu tidak akan mudah. Pada usia yang hampir setengah abad ini, ujian kesehatan harus kuterima dan kujalani.

    Tiga bulan berlalu dengan berat. Kontrol dan konsultasi rutin seminggu sekali. Hingga pagi itu

    “Apakah sudah ada perubahan ke arah lebih baik, Bu Karimah?”

    “Alhamdulillah, seperti yang Dokter lihat saat ini,” Aku mencoba berdiri tegak, berjinjit, dan berjalan dengan tumit tanpa diperintah, “Kadang saya merasa lebih baik, Namun, tidak jarang saya masih merasakan sakit seperti kram otot dan ada satu hal yang baru saya sadari tadi malam. Ternyata salah satu jempol kaki saya tidak bisa digerakkan.”

    Dokter Sunarto tertawa, “Sudah tiga bulan berjalan dan masih belum ada perubahan signifikan?”

    Aku kembali diminta berjalan jinjit dan berjalan dengan tumit. Namun, kali ini berulang-ulang seperti latihan catwalk.

    “Tolong kaos kakinya juga di lepas!”  Pandangan dokter itu fokus pada bagian kakiku.

    Aku menurut.

    Dokter itu menggelengkan kepala, “Tulang-tulang jari kaki ada yang patah dan bengkok.” Dokter itu menggunakan suatu alat seperti tongkat kecil untuk menunjuk bagian kakiku yang terlihat menonjol.”

    Aku terdiam lalu kembali mengenakan kaos kaki.

    “Hari ini saya berikan rujukan internal untuk menjalani fisioterapi.”

    Aku kaget, “Jadwal fisioterapinya hari ini juga, Dokter?”

    “Kalau bisa, iya. Secepatnya! Tunjukkan surat ini ke klinik nomor 15. Namun,  sebelumnya serahkan dulu resep ini ke ruang obat.”

    Ya Rabby, fisioterapi. Ujian seperti apalagi ini?

    Saya segera menuju klinik 15, perawat menjelaskan bahwa untuk hari itu dan beberapa hari selanjutnya jadwal fisioterapi sudah penuh.

    “Insya Allah hari Jumat siang. Dokter akan datang setelah jam 13.00. Sebaiknya Anda datang pada jam 12.00.” Perawat itu dengan ramah menjelaskan.

    Hujan turun dengan deras ketika aku keluar, gigil menyerang tetapi aku sudah mempersiapkan jas hujan di jok sepeda motor. Aku terus bergerak meski perlahan.

    Debar-debar di dadaku tiada menentu. Detik-detik terasa berat mencekam menunggu jadwal fisioterapi itu.

    “Itu hanya ada peralatan yang terhubung dengan listrik lalu dipasang pada bagian tubuh Ibu. Akan terasa ada sensasi seperti kesetrum yang memicu reaksi syaraf Bu Karimah.”

    Aku menghela napas panjang.

    Dokter tersenyum, “Semua akan baik-baik saja.”

    Aku terdiam, membayangkan peristiwa beberapa minggu sebelumnya. Seseorang pernah menyarankan untuk terapi listrik.

    Aku berdiri pada, alat semacam karpet yang dihubungkan dengan dinamo. Ada, setrum yang menjalar dari alat itu ke kaki, betis, lutut hingga paha saat aku berdiri di atasnya. Ketika sudah tidak kuat berdiri maka aku diizinkan duduk. Namun, pada posisi duduk sensasinya hanya terasa sebatas betis bagian bawah.

    Akhirnya aku memilih berdiri sambil berpegangan.

    Setelah menjalani terapi itu tubuhku terasa lebih ringan. Aku pikir harapan untuk sembuh itu semakin besar. Namun, pada keesokan harinya seluruh tubuhku terasa panas. Akhirnya aku menyerah dan harus  meminta obat ke dokter.

    Kini terapi rutin ditambah fisioterapi harus kujalani sebagai sarana ikhtiar untuk kesembuhan diri ini.

    Alangkah mahalnya arti sebuah kesehatan dan itu baru kusadari ketika raga didera sakit tiada terperi. Namun, selama langit masih biru, selama itu pula masih ada harapan baru.

    Ikriima Ghani adalah nama pena dari Siti Romlah. Berdomisili di Tuban, Bumi Wali. Menulis adalah suatu hal yang disukai sejak lama tetapi baru berani berkarya dalam bentuk antologi ketika usia mulai senja. Penulis bisa disapa lewat FB dab IG Asmarani Syafira
  • Cerbung: Langit Masih Biru (Bagian 2)

    Cerbung: Langit Masih Biru (Bagian 2)

    Oleh: Ikriima Gani

    Bagian sebelumnya

    Angin, engkau membawa gigil

    Hujan, engkau memberikan getar

    Jiwa, engkau teramat kerdil

    Dan asa, engkau dituntut untuk terus berkobar

    ***

    “Ibu bisa memilih rumah sakit tujuan. Apakah mau dirujuk ke RSUD, RSA, atau RSB?”

    Aku terperanjat mendengar ucapan seorang petugas di ruang pemeriksaan satu. Sebelumnya aku diminta membawa lembaran untuk tes gula darah, kadar asam urat, dan kolesterol. Setelah menerima hasilnya yang semua normal. Lembar itu pun aku serahkan kepada dokter Diana Ekowati, nama yang tertera di ruang bernomor 10. Ruang pemeriksaan satu.

    Sesaat aku disergap rasa bingung, “Apakah memang harus dirujuk ke rumah sakit, Bu Dokter? Tidak bisakah diobati di puskesmas saja?” Perasaan tak bisa kujelaskan dengan kata.

    “Semua keluhan yang Ibu sebutkan itu harus diperiksa lebih lanjut. Apalagi jika melihat hasil laboratorium ini,”  Dokter cantik iti menunjuk angka-angka yang di lingkari pada lembar yang baru saja, aku serahkan, “di sini hasilnya menyatakan bahwa semua normal,  tetapi….” Dokter wanita yang baru beberapa bulan menjalani dinas di puskesmas itu menggantungkan kalimatnya.

    Hatiku mulai ketar-ketir. Bayangan rumah sakit dengan segala protokol ketat saat ini. Beberapa waktu lalu saat anak sulungku liburan akhir semester kami harus membawanya ke rumah sakit Bhayangkara untuk menjalani tes Rapid antigen sebelum kembali ke pondok. Jadwal dan jam yang ditentukan tidak boleh dilanggar untuk menghindari kerumunan massal.

    “Bagaimana, Bu?” Kembali petugas yang duduk beradu punggung dengan dokter itu bertanya.

    “RSA saja, Bu.” Kalimat itu akhirnya meluncur. Beberapa kalkulasi berlarian di kepala. Ada, trauma jika harus ke RSUD.  Suasana RSB terasa sempit dan keterbatasan tempat parkir. Sementara RSA dikenal dengan pelayanan yang lebih baik dari berbagai faktor.

    “Hem.  Sekarang hari Jumat, besok Sabtu tidak ada jadwal praktik. Jadwal tercepat di RSA itu dengan Dokter Sunarto untuk jadwal praktik hari Senin jam 05.00. Bagaimana, Bu?”

    “Jam 05.00, pagi?  Saya harus berangkat dari rumah jam berapa kalau begitu?” Aku semakin kaget.

    “Terserah bagaimana Ibu bisa mengatur waktu.”

    Saat itu yang terlintas di kepalaku adalah pilihan yang serba sulit. Kondisi jembatan penghubung antara kabupaten Bojonegoro dan Tuban yang dekat dengan desaku saat ini sedang dalam masa perbaikan. Butuh waktu lama untuk perbaikan.

    Aku bukan orang yang berani untuk melewati jalur air dengan naik titanic, begitu sebagian orang menyebut nama lain untuk jalur perahu tambangan. Jalur alternatif lain yang ada melalui hutan dan rute yang naik turun. Sepertinya aku tidak cukup berani untuk mengambil risiko ini. Akhirnya kuputuskan untuk memilih rute aman meskipun itu sangat jauh.

    “RSA itu rumah sakit swasta, Bu. Jadwal yang tertera di komputer begini. Kalau ibu keberatan bisa pindah ke RSUD.”

    “Tidak! Tidak perlu.” Secepat mungkin aku menyanggupi dengan anggukan kepala.

    Aku menerima lembar surat rujukan itu dan menyimpannya dalam tas kecil yang selalu kubawa.

    Ada hangat yang tiba-tiba mengaliri kedua belah pipi. Bagaimana harus kuceritakan hal ini kepada anak-anakku. Terutama si bungsu yang saat ini tinggal bersamaku. Kakaknya sedang menempuh pendidikan dan tinggal jauh dari kami.

    Setelah lama berpikir, hari Minggu saat bungsuku libur sekolah, aku mengajaknya belanja kebutuhan bulanan dan beberapa makanan ringan. “Pilih apa yang kamu suka,  Nduk. Jangan lupa pilih beberapa barang untuk keperluan kakak di pondok.”

    Dia cekatan memasukkan beberapa susu kotak. Susu kemasan sachet, coklat untuk dia dan putih untuk kakaknya. Biasanya,  satu kali dalam sebulan akan ada jadwal pengiriman barang.

    Setelah cukup di lorong berisi deretan susu,  kami berpindah ke deretan makanan ringan Dia mengambil dua kemasan happytoz rasa jagung untuknya dan barbeque untuk kakaknya. Dia juga menunjuk deretan Oreo di sampingnya dan aku mengangguk lesu.

    “Apakah ibu masih kuat berdiri? Wajah ibu pucat. Keringatnya sudah muncul sak jagung-jagung.” Dia meniru gaya bicaraku.

    Aku mengangguk,” Ibu bisa bersandar di kereta dorong ini ‘kan? Ternyata dia bisa dialih fungsikan sebagai tongkat penyangga.”

    Wajahnya berkerut dengan bibir mengerucut, “Bercandanya tidak lucu.”

    “Sungguh, Ibu tidak apa-apa. Lanjutkan belanja! Kita masih harus membeli sereal, bubur ayam instan, kecap dan yang paling penting ….”

    “Keperluan kamar mandi,“ tukasnya cepat sebelum aku dapat menyelesaikan kalimat.

    Aku mengangguk dan tertawa kecil, “Pintar.”

    Kedua anakku adalah anugerah terindah dalam hidup. Mereka, saking melengkapi satu dengan yang lainnya. Meskipun saat berkumpul mereka sering bertengkar.

    Bayangan wajah teduh si sulung yang mondok di bagian barat kota Tuban tiba-tiba melintas. Cita-citanya yang mulia untuk menjadi hafiz Qur’an. Semoga Allah mudahkan. Tanpa terasa mataku kembali menghangat.

    Bungsuku tampak sangat ceria hari itu. Saat mengeluarkan barang-barang  belanjaan, bibir mungilnya tiada henti berceloteh. Entah dari mana dia bisa mengoleksi cerita tentang banyak hal yang mengundang tawa dan menggelitik rasa.

    Hingga pada sore harinya, setelah pulang dari tempat belajar Al Qur’an, kami duduk-duduk di teras. Bersantai menikmati kudapan. Sambil melihat kendaraan yang melintasi jalan dan menikmati angin yang membelai dedaunan. Sejenak aku menatapnya dengan serius.

    “Dengarkan ibu sebentar ya, Sayang. Besok setelah subuh Rani tidak boleh rebahan lagi. Ibu khawatir nanti kamu terlambat ke sekolah. Besok ibu buatkan Goodday cappucino kesukaanmu supaya tidak mengantuk lagi, ya?”

    “Siap, Bu. Aku memang ada tugas yang belum selesai juga. He hee heee…” Bibirnya terbuka memamerkan deretan kecil yang putih.

    Aku sedikit terperangah.

    Dia mengangkat tangan, “Tidak apa-apa, Bu. Tugasnya dikumpulkan pada hari Kamis. Aku hanya ingin memulai lebih awal.”

    Aku menarik napas lega, “Begini,  Nduk! Besok, pagi-pagi sekali. Setelah subuh, Ibu harus pergi ke rumah sakit Aisyiyah. Jadi Rani tidak boleh tidur lagi setelah subuh.  Ingat, sama sekali tidak boleh, ya?”

    Bungsuku itu mengangguk dengan sendu. Tanganku terbuka dan dia menyelusup ke dalam dekapan. Lama kami saling berpelukan.

    Senja yang temaram menjadi kian lengang. Bahkan angin pun seolah menghentikan desaunya kala itu.

    Aku melihat pohon-pohon yang berderet di samping dan halaman rumah. Daun-daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya luruh, gugur begitu saja. Tidak pernah melawan dan mengikhlaskan semua. Aku mencoba belajar menerima keadaan ini.  Besok aku pun harus belajar dati dedaunan ini. Tidak melawan. Namun, akan terus berikhtiar untuk menemukan jalan keluar.

    Aku mencoba belajar bahwa pada hakikatnya dalam hidup ini kita harus menerima dan memahami bahwa penerimaan itu akan menghilangkan rasa resah.

    Kita juga harus belajar  bahwa dalam hidup kita dituntut untuk mengerti situasi dan kondisi, karena pengertian ini yang akan membawa kita kepada kebenaran.

    Belajar terus dan terus belajar bahwa dalam hidup kita harus memahami dengan pemahaman yang tulus. Hal itulah yang akan menjadikan hati ikhlas menjalani. Apa pun yang menjadi garis tangan dan suratan takdir kehidupan ini.

     Entah  bagaimana atau dengan cara apa penerimaan, pengertian, pemahaman ini datang. Tidak masalah meski lewat kejadian yang sedih ataupun menyakitkan seperti yang harus kualami kini. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah ke mana. Aku akan berusaha kokoh seperti pohon itu.

    Belajar dari Bang Tereliye yang menuliskan bahwa ‘Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin’.

    Bersambung.

    Ikriima Ghani adalah nama pena dari Siti Romlah. Berdomisili di Tuban, Bumi Wali. Menulis adalah suatu hal yang disukai sejak lama tetapi baru berani berkarya dalam bentuk antologi ketika usia mulai senja. Penulis bisa disapa lewat FB dab IG Asmarani Syafira
  • Cerpen: Perempuan dengan Jilbab Terurai

    Cerpen: Perempuan dengan Jilbab Terurai

    Oleh: achjalaluddin (FLP Pamekasan)

    Bagi orang yang belum dan baru kukenal, aku orangnya tertutup dan hanya terbuka pas lagi mandi. Orang belum kenal mau diapain? Aku bukannya nggak peduli, kalau perempuan bulum tentu jadi jodoh, kalau laki-laki belum tentu jadi sahabat. Jadi aku biasa saja, tak berlebihan dalam segala hal, tak terlalu berharap juga.

    Di samping itu, aku orangnya pelupa, dan agak parah. Contohnya begini, umpamanya aku ada perlu untuk beli sesuatu. Ngambil uang dan diletakkan di saku. Sudah mau keluar kamar, aku ngerasa bajuku kurang nyaman dan nggak cocok, maka aku ganti. Habis ganti baju, aku langsung keluar kamar, menuju toko yang mungkin ada sesuatu yang kuperlukan. Sesampainya, aku langsung ngambil uang yang telah kuletakkan di saku. Ah, dasar! Bukannya uang itu ada di saku baju yang aku ganti? Aku sering dibuat sebel dengan kejadian seperti ini. Tapi serius, aku nggak pikun!

    Saat ini, aku disuruh mengisi kajian rutin setiap minggunya di asrama putri. Bagi pengabdi baru sepertiku, jelas membuatku grogi meskipun kajian itu sudah tiga bulan aku isi.

    Letak asrama putri tidak terlalu jauh dari asrama putra, cuma dibatasi oleh dhalem kiyai sepuh. Aku lewet di pinggir dhalem dengan sangat hati-hati, takut Kyai atau Gus melihatku atau kebetulan lewat.

    Santri putri yang ikut kajian sudah standby di dalam dengan kitabnya. Aku masuk tanpa mengucapkan salam sambil menunduk dengan irama langkah yang datar sedangkan hati bergemuruh.

    Daerah sini tidak terlalu agamis, bunyi sound system terdengar lantang ketika ada acara-acara festival dengan pawaian para anggota geng berkaos hitam-merah dengan lambang besar di punggungnya. Makanya, santri di pondok ini, baik laki-laki dan perempuannya sangat mengakrabi asatidz-nya, bahkan sebagian mereka memanggil aku kakak. Kadang, dalam beberapa penyampaian, mereka banyak bertanya dan menganggapku teman ngobrol.

    “Loh, kok ngak pake salam, Ustaz?” tanya seorang santriwati yang duduk di barisan depan. Minggu-minggu sebelumnya aku menggunakan salam, tapi karena di antara mereka menjawab ‘waalaikum sayang’, aku nggak jadi bilang salam.

    “Saya seringnya mendoakan kalian di kamar,” jawabku ketus, disambut dengan ‘ciyeee’ yang cukup panjang oleh mereka. Saat itulah, dari mereka tidak ada yang bertanya lagi kenapa aku masuk tidak mengucapkan salam.

    “Itu buku apa, Ustaz?” Santriwati yang duduk pas di depanku memang sering bertanya, apa pun yang terlintas dalam pikirannya pasti dia tanyakan. Dia menanyakan buku catatan kecilku yang biasa aku tulis di kamar dan jarang kubawa.

    “Ini catatan saya.”

    “Boleh saya pinjam, Ustaz?” tanya yang lain.

    “Cuma orang yang tulus menerima saya apa adanya yang dapat memegang catatan ini.”

    Aku sama sekali tidak ada niatan untuk bercanda, itu murni datang dari isi hatiku meski mereka menyorakiku untuk kesekian kalinya. Di dalam catatan itu tertulis isi hatiku, maka aku tanggapi sesuai dengan isi hatiku juga.

    Karena mereka ramai menyorakiku, maka aku simpan catatanku di loker meja biar tidak ada yang melihatnya. Benar saja, sorakan senyap seketika, cuma satu-dua masih tersenyum, terutama santriwati dengan hijab terurai di sudut belakang. Ah, aku lupa namanya.

    *

    Selesai mengisi materi di putri, aku langsung menuju kamar. Hari ini aku senang. Alhamdulillah, bisa menjelaskan pada mereka dengan maksimal. Kadang aku nggak pede, bahkan pernah cuma bisanya diam mulu. Hal ini membuatku teringat pada pesan seorang kiai, bahwa guru itu niatnya harus karena Allah, bukan untuk membuat santrinya paham. Karena jika nanti santrinya tidak paham, maka dia akan marah. Kurang lebih seperti itu.

    Saking senangnya, hari ini aku ingin menuliskan tentang perasaanku di catatan kecil super rahasia milikku. Mengambil bolpoin, buka lemari, dan aku mematung seketika!

    “Bukankah catatan itu aku letakkan di meja, di loker, di… Putri…!” lirihku mengikuti irama ingatan. Yah, aku langsung kewalahan, ingin mengambilnya sendiri tidak mungkin. Aku memang benar-benar pelupa, kalau sudah begini, aku sering memaki diriku sendiri, memang bego aku.

    Tak ada cara lain selain menunggu minggu depan. Aku akan sangat bersyukur sekali jika minggu depan masih utuh, kalau tidak ada yang mengantarkan padaku, itu aman. Tapi jika tidak ada dan ketika dilihat minggu depan hilang, itu bahaya. Tapi kesempatan untuk utuh sampai minggu depan datang sangat tipis. Aula itu sering dipakai santri putri.

    Sepertinya memang tidak ada cara lain kecuali aku tawakal menerima apa adanya. Sesekali aku berdoa, mudah-mudahan meski ada yang menolong, catatanku tidak dibaca.

    Namun, yang namanya santri putri, keponya minta ampun. Haruskah aku menarik ucapanku: “Cuma orang yang tulus menerima saya apa adanya yang dapat memegang catatan ini.”

    Siapa yang akan memegang buku itu? Apakah santriwati dengan hijab terurai di sudut belakang? Ah, aku lupa namanya.

  • “Keluarga Cemara”: Tempat Pulang Paling Hangat Adalah Keluarga

    “Keluarga Cemara”: Tempat Pulang Paling Hangat Adalah Keluarga

    Oleh: Novita Anggun (FLP Sidoarjo)

    Sesuai dengan judulnya, Keluarga Cemara merupakan film adaptasi dari serial TV yang pernah hit di era 90-an. Kisah perjalanan keluarga Abah, Emak, Euis, dan Ara dibuat ulang dalam bentuk layar lebar oleh sutradara Yandy Laurens bersama Visinema Pictures tahun 2019. Film ini mulai tayang di Neflix serentak sebagai peringatan untuk hari anak nasional yang jatuh di tanggal 23 Juli.

    Mengisahkan tentang Abah (Ringgo Agus Rahman) dan Emak (Nirina Zubir) yang pada awalnya memiliki kehidupan yang terlihat baik-baik saja, tapi mendadak langsung jatuh miskin karena kesalahan fatal yang dilakukan oleh kakak ipar. Segala aset kekayaan hingga rumah yang mereka tempati terpaksa harus disita. Kedua anaknya, Euis (Adhisty Zara) dan Ara (Widuri Puteri) juga harus rela meninggalkan teman-temannya di kota untuk mengikuti Abah dan Emak pindah ke kampung yang berada di pelosok.

    Film dengan durasi 110 menit ini membuat mata saya sembab. Hati menghangat saat melihat sosok Euis yang seperti bercermin pada diri sendiri lima belas tahun silam. Sosok anak remaja yang harus menekan ego dan menahan keinginannya untuk tetap bertahan patuh kepada kedua orang tuanya yang sedang tertimpa musibah. Kecintaannya pada dance harus rela dilepaskan saat ia turut pindah sekolah. Tidak pernah terpikirkan oleh Euis sebelumnya jika harus sekolah sambil berjualan opak demi membantu Emak. Hal itu persis seperti saya yang dulu berjualan ongol-ongol atau cenil sambil sekolah. Tidak ada waktu untuk belajar. Saya fokus membantu ibu mencari uang demi menyambung hidup yang seperti sudah di ujung tanduk. Air mata tidak kuasa untuk tidak turun. Rasa haru seolah penuh dan menyesakkan dada. Film “Keluarga Cemara” benar-benar sukses mengoyak hati saya kala ini. Membuat saya semakin menyayangi semua anggota keluarga yang masih lengkap saat ini.

    Sosok Abah digambarkan dengan sangat bijaksana, jujur, hingga seperti ayah idaman. Hal itu membuat senyuman terukir kembali di wajah saya yang sembab. Akting Ringgo Agus yang biasanya slengekan sangat natural dan pas memerankan Abah. Didukung pula dengan Nirina Zubir yang selalu sukses memerankan berbagai karakter tokoh. Ibaratnya, film ini paket lengkap.

    Beberapa nilai moral yang bisa diambil dan penuh hikmah:

    Pentingnya arti keluarga

    Poin pentinya memang ini, kalau perlu di-bold dan di-underline. Seterpuruk apa pun, segagal apa pun, sejelek apa pun, keluarga adalah satu-satunya tempat yang menunggu kehadiranmu. Keluarga akan terus membuka lebar tangan untuk siap mendekap diri yang mulai menggigil karena berbagai tempaan dari luar.  

    Tokoh-tokoh yang mencuri perhatian

    Saya pribadi suka Euis karena seperti bercermin. Namun, semua tokoh utama dalam film ini memiliki porsi yang pas dan menarik perhatian masing-masing. Tokoh Abah yang begitu jujur dan sabar meski terus diuji oleh Tuhan. Sosok lelaki yang tanggungjawab dan melindungi keluarga. Tangis saya kembali pecah saat Abah menyalahkan dirinya atas semua hal yang menimpah anak istrinya.

    Emak pun menjadi idola saya karena digambarkan sebagai wanita dan ibu yang begitu lembut, pengertian, dan cekatan. Rasanya sulit sekali berada di posisi Emak yang harus hidup susah saat hamil tua. Tidak tanggung-tanggung memang film ini menguras emosi dan air mata penikmatnya. Satu lagi sosok yang membuat film ini semakin hidup yaitu Ara atau Cemara. Ya, judul ini memang diambil dari nama anak kedua dari Abah dan Emak. Ara yang masih berusia tujuh tahun ini memiliki suara yang merdu, sosok yang menggemaskan, dan terkadang ucapannya sering menohok dan membuat sadar yang mendengarkannya. Pokoknya Ara ini seperti penyegar, saat tegang, dialog Ara membuat suasana kembali ceria.

    Pentingnya komunikasi

    Komunikasi juga menjadi benang merah dalam film ini. Abah di sini seolah menanggung segala permasalahan yang terjadi sebab dirinya. Padahal Emak, Euis, dan Ara tidak pernah menyalahkan Abah. Kurangnya komunikasi membuat Abah sering mengambil keputusan sendiri dan menyebabkan banyak permasalahan yang datang.

    Film Keluarga Cemara ini seperti bukan sekasar film karena rasanya terlalu related dengan kehidupan di sekitar. Benar, jika banyak orang yang mengatakan bahwa film ini adalah film yang jujur. Sebuah film yang meninggalkan banyak pertanyaan di benak saya setelah menontonnya. Sudahkah memuliakan keluarga? Ayah dan ibu?

    Film yang sangat berkesan untuk saya pribadi. Kalian belum nonton filmnya? Wah, sekarang sudah ada Keluarga Cemara 2 yang mulai tayang di bioskop. Kalau kalian belum lihat yang perdana, bisa langsung nonton di Netflix. Jangan lupa bawa tisu dan camilan. Selamat menonton.

    Novita Anggun Nur Rahmi, dilahirkan di Sidoarjo, 29 November 1993. Ia suka menulis karena menjadi healing dan putrinya, Qiyara Sheena yang didiagnosa Beckwith Wiedemann Syndrome adalah serotoninnya dalam berkarya. Lebih sering menulis di platform online. Fb : Novita Anggun Nurahmi, IG : @novitanggun_ untuk kalian bisa bersapa online.

    diedit oleh: Niswahikmah

  • Menyiapkan Literasi Sejak dalam Kandungan

    Menyiapkan Literasi Sejak dalam Kandungan

    Oleh: Nadiyah Hapsari (FLP Pasuruan)

    Literasi erat kaitannya dengan perkembangan otak sehingga organ anak tersebut harus disiapkan dengan baik saat usia kehamilan trimester pertama. Literasi bukan hanya kemamapuan membaca, tetapi juga kemampuan berbicara. Literasi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu literasi dasar yang berhubungan dengan artikulasi dan kognitif. Begitulah yang disampaikan oleh Ibu Lala pada acara bertajuk seminar literasi keluarga di Taman Bahasa Indonesia Bangil Pasuruan.

    Di usia kehamilan trimester kedua, janin mampu menyimpan memori literasi pertama kalinya, yakni melalui detak jantung sang ibu. Keteraturan irama detak jantung ibu memengaruhi nada bicara sang bayi kelak. Semakin teratur detak jantung ibu, kemungkinan nada bicara anak teratur pula. Sebaliknya, jika sang ibu mengalami stres dan irama jantung tidak teratur akan memengaruhi gaya bicara anak nantinya.

    Sedangkan organ artikulasi disiapkan pada proses kelahiran normal, yaitu pijatan alami di bagian pipi dan wajah. Sedangkan kelahiran melalui operasi memiliki potensi kerusakan organ artikulasi, misalnya gigi yang lambat tumbuh akan berpengaruh dalam komunikasi. Memang tidak semua potensi kerusakan akan terjadi, namun tetap dibutuhkan stimulasi agar mengurangi potensi kerusakan.

    Kemampuan literasi pun memiliki dua macam yakni reseptif dan ekspresif. Kemampuan reseptif  yaitu kemampuan memindai bunyi dan simbol bahasa melalui alat sensori. Kemampuan memindai bunyi diantaranya adalah mampu menganalisis jenis-jenis suara sedangkan kemampuan memindai simbol bisa berupa warna, bentuk, dan lain sebagainya. Kemampuan literasi reseptif  ini melalui proses informasi dari sensor auditori dan visual ke dalam area broca pada otak untuk memproses kosakata, kalimat, tatabahasa. Sedangkan area wernick untuk memaknai.

    Kemampuan literasi ekspresif yakni kemampuan memproduksi bunyi, menguatkan dengan ekspresi dan gerak sesuai dengan pesan yang dihantarkan. Kemampuan ini berupa memilih, memilah, dan merangkai ide dalam bentuk teks, tulisan, tanda baca, gambar, diagram, sesuai dengan konsep yang dihantarkan.

    Pemateri juga membagikan tips bagaimana memilih buku cerita yang baik bagi anak-anak. Salah satunya adalah dengan memperhatikan kesesuaian antara judul dengan isi buku. Selain itu, pilihlah tema yang sesuai dengan usia anak. Montessori menyarankan buku yang baik untuk anak usia nol sampai delapan tahun berupa buku sejarah, pengetahuan, dan adab. Berikutnya, pilih buku dengan teks yang berima dan memiliki alur cerita yang logis. Sedangkan urutan penyajian cerita diawali dari cerita berkonten adab, sejarah, dan yang terakhir imajinasi.

    Perlu diperhatikan juga bagaimana cara yang baik dalam membacakan cerita pada anak. Hal yang boleh dilakukan diantaranya, yang pertama memfariasikan suara sesuai dengan tokoh dan narator dengan perbedaan yang mencolok. Kedua, membunyikan tanda baca sesuai dengan maksud kalimat. Ketiga,  membuat pertanyaan pancingan, memprediksi, menanya untuk mengulang kata utama. Sedangkan hal yang tidak boleh dilakukan membacakan cerita pada anak yaitu menambah kata atau kalimat yang tercantum pada teks dan melakukan gerakan berlebihan sehingga mengganggu fokus anak.

    Literasi pada anak tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh proses pembentukan dan pembiasaan sejak usia dini, terlebih sejak dalam kandungan. Jika literasi sudah matang dan siap tentu tujuan literasi yang diharapkan akan mudah terwujud.

    Biodata Penulis

    Nadiyah Hapsari nama pena dari wanita kelahiran Pasuruan 05 Juli 1991. Sejak SD hingga SMA ia tempuh di Pasuruan. Selanjutnya ia mengampu Pendidikan di Universitas Negeri Malang Jurusan Bahasa Indonesia. Selain mengajar di SMAN 1 Lumbang, ia juga aktif di organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena Cabang Pasuruan.  Motto hidupnya terus belajar, berpikir, berkarya, dan bermanfaat. Jika ingin mengenal penulis lebih jauh silahkan hubungi email: kakibunda@gmail.com, Ig: @nadiyah.hapsari, atau Twitter: @sakdeyah.
  • Pengasuhan Anak Usia Emas Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah

    Pengasuhan Anak Usia Emas Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah

    Resensi Buku oleh Riski Diannita

    Judul: Happy Parenting with Qur’an & Sunah: Mengiringi Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas

    Penulis: Deri Rizki Anggarani dan Yazid Subakti

    Penerbit: Ziyad Books

    Tebal: 216 Halaman

    Tahun Terbit: 2020

    ISBN: 978-602-317-604-5

    Buku pengasuhan anak atau parenting sudah banyak terbit di pasaran. Tidak sedikit yang menganut metode parenting ala Barat. Sebagai orang tua muslim, alangkah baiknya kita memilih buku parenting Islami yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Ilmu apa pun yang hendak kita pelajari dan amalkan tentu sebaiknya berasal dari dasar tuntunan Islam. Buku terbitan Ziyad Books ini menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi para orang tua baru, calon orang tua, bahkan orang tua senior boleh terus belajar, serta siapa pun yang ingin mempelajari ilmu pengasuhan anak secara Islami.

    Buku berjudul Happy Parenting with Qur’an & Sunah sebenarnya merupakan paket buku parenting lengkap yang memiliki empat seri. Keempat seri buku Happy Parenting with Qur’an & Sunah berjudul sebagai berikut:

    1. Mendidik Anak di Masa Kehamilan
    2. Mengiringi Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas (0—7 tahun)
    3. Mendampingi Anak Menuju Akil Baligh (8—14 tahun)
    4. Bersahabat dengan Anak di Usia Remaja (15—21 tahun)

    Adanya empat seri buku tersebut bukan tanpa alasan. Metode yang digunakan buku ini berdasarkan tiga tahapan mendidik anak menurut Islam ala Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra., yaitu sejak 0—7 tahun, kemudian 8—14 tahun, hingga 15—21 tahun. Ditambah lagi dengan pendidikan anak sejak alam rahim di buku seri pertama membuat Happy Parenting with Qur’an & Sunah semakin lengkap.

    Peresensi mengulas buku seri kedua, yaitu Mengiringi Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas (0—7 tahun) sebab memiliki anak pada rentang usia tersebut. Menurut penjelasan para ahli, usia emas atau golden age merupakan periode emas atau masa keemasan bagi tumbuh kembang anak karena dalam usia tersebut perkembangan anak sangat pesat. Oleh sebab itu, ketika anak berada di usia emas, haruslah mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya.

    Hal ini sejalan dengan pesan  Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. yang disebutkan di bagian awal buku agar anak-anak di usia kelahiran sampai tujuh tahun pertamanya diperlakukan seperti raja. Artinya, kita hadir bersamanya untuk memberikan perhatian penuh kepadanya, yaitu ikhtiar untuk selalu ada ketika dibutuhkan dengan memberikan apa yang menjadi haknya (halaman 8). Dalam buku yang terdiri dari delapan bab ini, kita akan memahami apa saja tuntutan orang tua menghadapi “sang raja”.

    Selanjutnya di bab satu “Anak-Anak Memiliki Hak atas Orang Tuanya” membahas hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua. Selain itu, kita diingatkan untuk menerima keberadaan anak bagaimanapun kondisinya sebab merupakan ketetapan Allah yang terbaik. Terdapat juga tuntunan doa untuk perlindungan anak yang diucapkan Rasulullah saw. ketika mendoakan cucunya (Hasan dan Husain). 

    Di bab dua “Menyambut Kelahiran yang Barakah”, kita mulai memasuki hari-hari pertama kelahiran bayi. Bab ini menyebutkan sunah-sunah yang sebaiknya dilakukan dalam menyambut kelahiran anak, antara lain mengawali dengan rasa syukur, tahnik, akikah, mencukur rambut bayi dan sedekah, memberi nama paling indah, serta melaksanakan khitan. Ada pula beberapa sunah lainnya dalam berinteraksi dengan bayi dan anak-anak, seperti mencium dan memeluk serta mendoakan anak. Lebih istimewa lagi, di bab ini menganjurkan bahwa ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak dan panduan menjadi ibu bahagia. Ini penting karena masa-masa awal menjadi orang tua baru—terutama ibu—bisa terasa berat dan rentan mengakibatkan gangguan psikologis. Dengan ilmu dalam buku ini, diharapkan orang tua yang bahagia akan mampu mengantarkan kebahagiaan si kecil. Di akhir bab dua terdapat tabel perkembangan bayi sejak kelahiran hingga setahun pertama.

    Bab tiga sesuai judulnya “Berikan Air Susu Ibu (ASI)” sangat fokus membahas pemberian ASI kepada bayi sesuai perintah Allah dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 14. Di bab ini terdapat panduan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), informasi kandungan ASI dari waktu ke waktu, serta pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Kemudian dilanjutkan pemberian ASI hingga sempurna sampai anak berusia dua tahun. Pada bagian akhir bab ini memberikan tips seputar penyapihan anak.

    “Mengiringi Tumbuh Kembang” adalah judul bab empat yang berisi tentang pertumbuhan dan perkembangan anak usia emas secara lengkap. Di halaman 113—116 menyebutkan perkembangan bayi di bulan-bulan awal sejak nol hingga 12 bulan. Berikutnya di halaman 116—120 terdapat milestone atau tahap penting perkembangan bayi yang normal mulai tengkurap pada usia 3 bulan sampai bicara pada usia 24 bulan. Ada pula tips merangsang kemampuan bicara anak. Tidak hanya itu, di halaman 122—126 membahas pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) sekaligus tahap-tahapnya. Tidak ketinggalan tahapan berdiri dan berjalan anak juga dibahas dalam bab empat. Yang membuat bab ini semakin lengkap adalah tabel kebutuhan nutrisi balita yang harus dipenuhi dari makanannya dan tips agar si kecil terbiasa berolahraga. Spesialnya lagi karena buku ini terbit ketika pandemi Covid-19 sedang melanda, ada tips agar tetap sehat di tengah pandemi.

    Bab lima dengan judul “Merangsang Kecerdasan” merupakan bagian khusus yang membahas perkembangan otak anak usia emas. Bab ini secara cermat membeberkan perkembangan kecerdasan mulai pembentukan otak saat janin dalam kandungan hingga penjelasan otak kanan dan kiri anak yang normal. Di halaman 146—148 disebutkan tahap kemampuan interaksi bayi mulai usia nol bulan hingga dua tahun. Selanjutnya berturut-turut di halaman 149 menyebutkan cara melatih motorik, kemudian di halaman 152—154 terdapat pembahasan stimulasi motorik anak sesuai umur sejak nol bulan sampai tiga tahun dan setelahnya. Jangan lupa untuk mengenalkan emosi kepada anak yang dibahas di halaman 154—156. Di sisa bab lima lebih banyak membahas tentang keteladanan Rasulullah saw. dalam bermain dengan anak-anak yang merupakan dunia mereka serta cara mereka untuk belajar. Orang tua pun diberikan tips memilih mainan dan permainan yang mencerdaskan anak.

    Selanjutnya di bab enam berjudul “Pelajaran Mengenal”, disebutkan bahwa anak-anak usia emas harus mengenal Allah sebagai penciptanya. Orang tua juga mengenalkan Rasulullah sebagai idola sepanjang hayat. Selain itu, anak juga perlu mengenal malaikat Allah. Yang terpenting anak dapat mengenal diri sendiri mulai jenis kelamin, bagian-bagian tubuh, dan identitas anak. Selain itu, anak diharapkan mengenal benda dan aktivitas berisiko atau berbahaya untuk perlindungan dirinya.

    Pembahasan mengenai usia balita tampaknya berakhir di bab enam sebab di bab tujuh yang berjudul “Memilih Sekolah” sudah ditujukan untuk anak usia sekolah (rata-rata lima tahun ke atas). Di usia emas yang lebih lanjut ini, anak mulai memasuki sekolah formal berupa pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, hingga sekolah dasar. Bab tujuh membahas agar orang tua menanamkan prinsip tentang ilmu kepada anak sedini mungkin. Di halaman 184—185 menyebutkan tentang menuntut ilmu adalah keharusan dan prinsip seorang pencari ilmu menurut kitab Ta’limul Muta’allim karya Imam az-Zarnuji. Bab ini juga menjelaskan pertimbangan memilih sekolah, kesalahan memilih sekolah, serta tips mengondisikan anak untuk siap bersekolah.

    Terakhir bab delapan “Membiasakan Ibadah” secara khusus berisi panduan agar orang tua mengenalkan ibadah kepada anak-anak. Tuntunan ini cukup sesuai dengan rukun Islam. Lebih tepatnya orang tua membimbing anak cara bersuci, mengajarkan salat, sedekah, puasa, dan menanamkan kerinduan akan Baitullah. Ditekankan di akhir bab bahwa ibadah memang belum diwajibkan bagi anak tetapi pembiasaan bersifat ajakan. Artinya, orang tua memberi contoh dan anak diberi kesempatan untuk mengikuti atau terlibat (halaman 212).

    Bagian epilog “Sebelum Menuntut Kesalehan Anak-Anak” sangat inspiratif, menggugah, bahkan menampar kita sebagai orang tua. “…jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah pesan Allah untuk sebisa mungkin para orang tua mendahului perbaikan dirinya sebelum menyampaikan tuntutan kepada anak-anak (halaman 214).

    Buku Happy Parenting with Qur’an & Sunah: Mengiringi Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas ditulis oleh sepasang suami istri, Yazid Subakti dan Deri Rizki Anggarani yang ahli di bidang parenting Islami. Sangat banyak kelebihan dalam buku ini. Pembahasan dijabarkan secara urut dan runtut sehingga sangat memudahkan bagi orang tua mengecek setiap perkembangan buah hatinya. Tata letak menarik dengan dihiasi foto dan gambar lucu membuat pembaca tidak bosan. Kertas dua warna putih dan merah muda menambah kesan cerah serta ceria. Ini membuat orang tua lebih semangat belajar dan berproses demi mendampingi tumbuh kembang anak.  

    Kekurangan buku ini hanyalah tidak ada milestone atau tahap perkembangan anak mulai nol sampai tujuh tahun. Pembahasan milestone dikhususkan pada usia balita. Kemudian di atas lima tahun lebih membahas pendidikan formal atau sekolah anak. Namun, pembaca tetap bisa memperoleh ilmu yang sangat luar biasa bermanfaat dalam buku ini. Apalagi terdapat seri buku untuk umur selanjutnya yang akan terus berguna dalam mendidik anak hingga dewasa. Para orang tua muslim perlu memiliki buku ini di perpustakaan pribadi. Insyaallah, ilmu parenting Islami menjadi bekal kita mendidik generasi tangguh untuk masa depan.  

    Tentang Penulis:

    Riski Diannita, seorang ibu muda yang gemar literasi. Ia merupakan Tim Divisi Karya di FLP Cabang Mojokerto. Beberapa karya buku antologi dan solo telah terbit secara indie sejak 2016. Saat ini ia menjadi freelancer editor dan proofreader di penerbit indie, serta marketer buku. Ia dapat disapa melalui Instagram: @diannitariski dan Facebook: Diannita Riski.
  • Tips Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas Awal

    Tips Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas Awal

    Oleh: Nurul Komariyah, S.Pd (FLP Lamongan)

    Guru SDN Sumberaji Sukodadi

    Dalam kegiatan belajar di Sekolah Dasar, utamanya siswa kelas awal (kelas 1,2 dan3), masih banyak siswa yang merasa takut, malas, kurang semangat, kurang disiplin, tidak ada kemauan yang kuat dalam menerima pelajaran dan tidak jarang pula ada yang merasa bosan masuk sekolah. Bagi mereka Sekolah merupakan penjara, tidak ada sesuatu yang mengesankan, menggairahkan dan menyenangkan ketika di sekolah. Hal tersebut hampir di alami oleh semua siswa baik di kalangan desa maupun perkotaan, namun sebagai seorang pendidik yang profesional kita harus mampu mencari solusi dari permasalahan tersebut. Sehingga mampu menciptakan gairah dan motivasi belajar siswa yang lebih optimal.

    Kegiatan ‘belajar’ yang dilakukan di tingkat pra-SD (TK) sebenarnya bertujuan untuk mempersiapkan anak menguasai konsep dasar yang akan membantunya untuk menguasai keterampilan dasar, seperti membaca-menulis berhitung, dan pelajaran lainnya. Tak hanya itu, anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah memiliki tingkat kedewasaan dan kemandirian yang lebih dibanding anak usia TK.

    Siswa kelas awal masih dalam taraf transisi dari dunia taman kanak – kanak menuju jejang Sekolah Dasar yang tantangannya semakin berat, di sini ada beberapa tips yang di ungkapkan oleh para ahli yang akan di ulas untuk dapat meningkatkan motivasi belajar anak sekolah Dasar. Salah satunya seperti yang diungkapkan A.M. Sardiman (2005:92-94), yang di dukung juga oleh Fathurrohman dan Sutikno (2007: 20), yaitu: beberapa tips untuk meningkatkan motivasi belajar anak Sekolah Dasar antara lain:

    1. Memberi angka

    Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar yang sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dengan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.

    2. Hadiah

    Hadiah dapat menjadi motivasi belajar yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untuk suatu pekerjaan yang tidak menarik menurut siswa.

    3. Kompetisi

    Persaingan, baik yang individu atau kelompok, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik.

    4. Ego-involvement

    Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan motivasi belajar.

    5. Memberi Ulangan

    Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan diadakan ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka.

    6. Mengetahui Hasil

    Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi belajar anak. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya.

    7. Pujian

    Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

    8. Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar.

    Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. Selain itu, guru juga dapat membuat siswa tertarik dengan materi yang disampaikan dengan cara menggunakan metode yang menarik dan mudah dimengerti siswa.

    9. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

    Kebiasaan belajar yang baik dapat dibentuk dengan cara adanya jadwal belajar.

    10. Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun kelompok.

    Membantu kesulitan peserta didik dengan cara memperhatikan proses dan hasil belajarnya.  Dalam proses belajar terdapat beberap unsur antara lain yaitu penggunaan metode untuk menyampaikan materi kepada para siswa. Metode yang menarik yaitu dengan gambar dan tulisan warna-warni akan menarik siswa untuk  mencatat dan  mempelajari materi yang telah disampaikan.

    11. Menggunakan metode yang bervariasi.

    Metode yang bervariasi akan sangat membantu dalam proses belajar dan mengajar. Dengan adanya metode yang baru akan mempermudah guru untuk menyampaikan materi pada siswa.

    12. Media yang baik

     Menggunakan media yang baik, serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Usahakan media yang lebih variatif dan mengena karena anak kelas awal masih berfikir taraf yang konkrit

    13. Hukuman

    Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut. Semoga dengan tips – tips tersebut kita mampu mencerdaskan anak bangsa yang di bekali dengan akhlak mulia aminnnn.

    ketika akan masuk SD, anak diharapkan sudah memiliki beberapa kemampuan berikut:

    1. Mampu membedakan bentuk geometri (segitiga, segi empat, lingkaran, dll).
    2. Sudah bisa mengingat fakta ataupun detail.
    3. Mampu menyebutkan angka dan memahami konsep dasar bilangan.
    4. Sudah lancar menyebutkan huruf dan mengenali bentuk melalui bunyinya.
    5. Kemampuannya untuk mengikuti instruksi semakin baik.
    6. Sudah mampu memusatkan perhatian dalam rentang waktu sekitar 6 menit.
    7. Tak hanya mampu untuk berinteraksi secara aktif dengan teman sebaya, tetapi juga mampu berinteraksi dengan orang dewasa lain. Jadi, ia tak lagi takut atau malu bila berhadapan dengan orang dewasa yang ditemuinya.
    8. Mampu mengembangkan sikap kerja dan paham terhadap tugas dan kewajibannya, seperti mengerjakan PR. Belajar melalui bermain.

    Persiapkan anak sejak dini menuju jenjang pendidikan yang  lebih tinggi lagi, generasi penerus bangsa aset penting dunia dan akherat orang tua.

  • Cerpen: Doaku, Sampai Jumpa

    Cerpen: Doaku, Sampai Jumpa

    Karya Chusnul Islamiyah (FLP Tuban)

    “Untuk apa aku menjelaskan perasaanku sebenarnya jika tak satu pun perkataanku sudah tak bisa kamu percaya?”

    Aku menghela napas perlahan. Menguatkan kakiku melangkah menuju sebuah pintu ruangan yang paling ujung. Suara tangisan bayi lamat-lamat terdengar semakin keras saat sudah mendekati pintu ruang bersalin. Hatiku bergetar, kakiku seketika ngilu saat sudah di ambang pintu menyaksikan bayi masih basah darah yang sedang menangis di atas kedua telapak tangan bidan yang membantu persalinan. Tangan mungilnya mengepal erat mengiringi tangisan sekuat-kuatnya. Melihat sang ibu dengan keringat dan rambut berantakan menerima bayi tersebut  dengan menangis haru meneteskan air mata. Ah… entah itu haru atau sedih, aku takut salah paham tentang perasaannya, yang jelas aku ikut berkaca-kaca dan tak sanggup membendung, pecah juga tangisku.

    “Selamat, Mbak… bayinya perempuan,” ucap Bidan sembari meletakkan bayi yang masih terus menangis itu tengkurap diatas dada ibunya .

    “Sudah jadi Ibu, kamu Nduk…,” ucap perempuan paruh baya, dengan gemetar yang berdiri di sampingnya.

    Aku tak tahan lagi berlama-lama di sini. Kuseka air mata di kedua sudut mataku dan urungkan niat untuk menyapa Novi, kekasihku, dan bayi mungil kami. Kuangkat seribu langkah menjauh dari ruang bersalin, melewati ruang yang banyak jendelanya, sesekali kulirik bayanganku yang terpantul di jendela tiap tiap ruang yang kulewati membuatku muak dengan diriku. Aku remaja masih berusia tujuh belas tahun yang baru saja beberapa menit seharusnya sudah dipanggil “bapak” dari bayi mungil perempuan tadi. Namun, dengan segala kemampuan dan keterbatasan oleh kuasa orang tua, aku memang pantas disebut pengecut.

    Ku terngiang perkataan Ayah agar aku tak mengunjungi Novi maupun keluarganya semenjak tahu Novi hamil sudah enam bulan. Menurutnya, Novi telah merusak masa depanku demi ingin agar menjadi istriku dan menguasai harta yang sudah Ayah siapkan untukku. Rumah mewah, mobil, dan segala fasilitas yang Ayah berikan padaku di usia yang sangat muda, masih duduk di bangku SMA. Kesedihan semakin kencang menghantam saat Ayah juga memiliki pikiran untuk menggugurkan kandungan Novi. Namun, aku sampaikan pada Ayah akan tetap menikahi Novi dan tetap menjaga bayi yang dikandungnya. Terkadang aku tidak tahu harus melakukan apa sebenarnya. Apa itu menikah, aku pun kurang paham harus bagaimana. Tapi itulah sepertinya solusi yang paling baik yang harus aku lakukan.

    Keadaan berkata lain, ayahku mengancam untuk tidak akan memberikan apa pun kepadaku, bahkan mengusirku dari rumah jika sampai aku berani menemui Novi, apalagi menikahinya. Ibuku sakit lumpuh sudah tiga tahun, tidak mungkin aku meminta bantuan padanya. Bercerita tentang kasusku pun aku tak kuasa. Ayah dengan wewenangnya pun menikah lagi dengan janda depan rumah. Hari-hariku seperti berada di dalam labirin yang rumit dan gelap, aku bingung harus bagaimana.

    Sampai dua hari menjelang hari bayi mungil itu menghirup udara di dunia, aku bergegas menemui Novi. Di rumahnya.

    Tiga bulan silam di ruang tamu rumah Novi.

    Bedanya sudah tidak ada ketegangan di raut wajah bapak Novi, tapi juga tak seramah pada awal ku berteman dengan Novi. Canggung aku harus memulai basa-basi seperti apa dan begitu keluar dari mulutku sebuah perkataan:

    “Apa kamu baik-baik saja?” Rasanya jika kalimat itu bisa terlihat keluar dari mulutku dan bisa kuambil lagi dan kumasukkan lagi ke dalam mulutku, kutelan dalam-dalam sampai ke dasar lambung tidak akan kukeluarkan. Kalimat pembuka yang salah.

    “Maksudmu apa tanya begitu? Bohong jika aku baik-baik saja!” jawabnya ketus. Dan aku sudah menyangka.

    “Maksudku bukan begitu…. Aku minta maaf, Nov,” jawabku membuat lengkungan simetris yang dulunya menghiasi raut wajah manis itu semakin elok kini sudah berbeda senyumnya. Sinis

    “Aku mungkin adalah perempuan terbodoh yang ada di muka bumi ini, Junio! Tapi sebodoh-bodohnya aku, aku akan menjaga bayi ini meskipun sendiri! Kata maaf saja darimu tidak bisa membantu aku melewati semua waktuku sampai saat ini sendiri!”

    “Novi, kamu harus percaya janjiku kali ini.”

    “Seandainya aku punya keberanian waktu itu menjawab hinaan dari ayahmu tentang aku yang kegirangan hamil untuk bisa menjadi istri dan menikmati harta ayahmu. Aku hari ini tidak akan sesesal ini!”

    “Maafkan ayahku, Nov, dan yakinlah, aku akan kembali saat nanti aku bisa kembali dengan kekuatan dan wewenang penuh atas kehidupanku.”

    “Jangan memberiku harapan yang aku tidak tahu itu benar akan sesuai atau tidak!”

    Novi memalingkan pandangan. Rasanya luka dalam dada ini semakin menganga melihat Novi begitu kecewa padaku, dan sudah tidak ramah dan tidak memercayaiku.

    “Baiklah Nov, tunggu hari itu tiba. Bolehkah aku sedikit ceritakan langkahku selanjutnya?”

    “Pulang saja, aku lelah ingin istirahat!” lalu ia dengan badan yang melebar dan perut buncit berjalan perlahan masuk ke dalam kamar pelan dan terlihat begitu berat.  Aku pulang membawa kesesakan.

    Azan Subuh berkumandang, bertepatan dengan nada dering telepon di handphone-ku berbunyi. Jeri, temanku yang juga tetangga Novi meneleponku, menyampaikan kabar bahwa Novi sekarang dibawa ke rumah bersalin segera melahirkan. Secepatnya aku melompat dari kasur, beranjak wudu dan berbegas keluar mengendarai motor ninja Kawasakiku keluar dengan memakai baju koko. Tak seperti biasanya aku tidak pernah salat berjamaah Subuh di masjid, kali ini aku izin ke ibu tiriku yang kebetulan sudah bangun untuk keluar salat Subuh berjamaah di masjid yang jaraknya dua kilometer dari rumah. Alasanku sebagai tugas pelajaran agama di sekolah baruku. Ya, aku melanjutkan sekolah di sekolah swasta yang sudah diberikan uang upeti ratusan juta oleh Ayah, sehingga aku bisa melanjutkan jenjang SMA-ku.

    Setelah salat Subuh, aku pun mengunjungi rumah bersalin yang diinfokan oleh Jeri.

    Hatiku tak berbentuk lagi

    Tetapi mati jua tak mengobati

    Keburukan selalu mengintai kebaikan

    Namun kebaikan tak sekalipun menyertai keburukan

    Keburukan itu tak mendatangkan kebaikan sedikitpun.

    Aku memaksa tegar demi mewujudkan janjiku

    Berusaha mencari jalan keluar dari labirin yang rumit.

    Pasti kutemukan kebahagiaan kita nanti diujung penantianmu. Nantikanlah aku….

    Sampai jumpa di babak kehidupan baru yang bahagia

    Doaku

    Dari Junio, kekasihmu

    Kutitipkan surat itu kepada Jeri untuk kekasih hatiku yang tak akan pernah tergantikan. Aku janji. Sampai jumpa, Novi.

    Tuban, 13 Juni 2022

    Ditulis oleh perempuan manis yang bernama Chusnul Islamiyah pada ruang 3×3 m ruang kerjanya pada malam yang dingin, sunyi selepas hujan syahdu.

  • Cerbung: Langit Masih Biru (Bagian 1)

    Cerbung: Langit Masih Biru (Bagian 1)

    Oleh: Ikriima Ghani (FLP Tuban)

    “Semua harus ikut vaksin.”

    Begitu instruksi yang aku terima dari suatu grup Whatsapp.

    [Karena sebagai guru ngaji kita berhadapan dengan banyak orang dari berbagai lembaga, wali santri, juga anak-anak, Bu.]

    Itu pesan yang aku terima dari salah seorang admin grup ketika aku menyampaikan keberatan hati untuk menjalani vaksin ini.

    Apalagi masalah vaksin ini memang masih menjadi kontroversi. Beberapa kasus yang kurang baik marak beredar di kalangan masyarakat juga sosial media. Namun, pada akhirnya aku tetap mengikuti instruksi itu. Menerima vaksin tahap satu. Astra Zenika di sebuah puskesmas kecamatan. Guru TPQ juga mendapat prioritas awal. Harus mengikuti vaksin sebelum masyarakat luas.

    Sebelum menerima suntikan vaksin, terlebih dahulu dicek tensi  darah dan petugas menanyakan beberapa hal sambil mengisi sebuah lembaran data.

    “Tensi normal. 120/90. Apakah punya riwayat penyakit asma?” Salah satu petugas yang bisa kuperkirakan seumur adikku mulai bertanya.

    “Tidak,” jawabku singkat sambil menggelengkan kepala.

    “Diabetes?”

    “Tidak.”

    “Kolesterol, asam urat?”

    “Normal, tapi pernah kolesterol mencapai 215.”

    Pemuda itu tersenyum. Beberapa, detik kemudian seorang bidan yang sangat aku kenal datang.

    “Tidak apa-apa, Bu. Insya Allah aman.” Bidan Sri Hartatik mengambil tempat di depanku,  lalu memintaku membalikkan badan dan membuka bagian lengan kanan atas dari baju yang kukenakan.

    Beberapa detik kemudian aku merasakan ada yang menusuk, dingin, dan terasa desiran menjalari seluruh tubuh. 

    “Alhamdulillah. Beres. Istirahat di sini selama kurang lebih lima belas menit, ya, Bu. Kartu dan jadwal vaksin tahap dua akan kami persiapkan.” Bidan Sri Hartatik berucap dengan santun.

    Aku mulai bangkit dan berpindah. Kursi yang semula  kutempati segera diisi orang lain. Seseorang yang sangat kukenal juga. Kami semua yang menjalani vaksin hari ini memang berada dalam satu komunitas.

    “Ibu Karimah Insiyah.” seorang petugas yang sedari tadi hanya berkutat dengan laptop memanggil namaku.

    Aku pun segera menghadap.

    “Apakah merasa pusing atau ada keluhan lain, Bu?”

    “Alhamdulillah. Biasa saja.” Aku memberikan senyuman meski tertutup masker. Dari balik maskernya yang rangkap tiga itu aku yakin dia juga tersenyum

    “Ibu tunggu sepuluh menit lagi di sini.  Jika semua baik-baik saja dan tidak ada keluhan, Ibu boleh pulang.”

    Aku mengangguk.

    Petugas itu menyerahkan  lembaran putih biru berisi jadwal vaksin hari ini dan di kolom lain tertera jadwal pemberian vaksin tahap dua.

    “Oh ya, Bu. Kami sarankan untuk satu atau dua hari ke depan, Sebaiknya Ibu banyak beristirahat dan konsumsinya ditambah. Reaksi ingin makan itu hal yang biasa.” Kesan bercanda dan keakraban dapat aku simpulkan dari kalimat yang terlontar dari mulutnya.

    ***

    Pagi itu aku bangun kesiangan. Suara alarm yang biasanya berdering saat jarum menunjukkan angka 03.30 tidak mampu membuatku terjaga.

    Astaghfirullahal adziim. Sudah hampir jam lima, Nduk. Ayo cepat bangun.” Perlahan kutepuki punggung gadis kecilku. Dia masih bergeming, lalu kugulingkan tubuhnya. Dia masih belum juga membuka mata.

    Aku merasa ada yang aneh pada tubuhku. Kakiku kaku. Otot-ototnya meregang dan terasa sakit yang luar biasa. Ini kram otot seperti yang pernah aku rasakan ketika ada pada masa kehamilan.

    Masih dengan menahan rasa sakit, aku berusaha bangkit. Namun, kaki terasa luar biasa sakit. Hampir tidak bisa untuk digerakkan. Seperti ada selonjor kayu yang menempel di tulang betis dan aku harus menunggu beberapa saat sambil meringis.

    “Ya Allah! Kakiku kaku. Uuuhhh!  Ssshhh!” Bibir tanpa sadar berdesis.

    Putriku terjaga, “Ibu kenapa?” Air mukanya terlihat tegang. Pandangannya penuh selidik ke arahku yang terduduk dengan kaki kaku dan tegang.

    Aku hanya mampu menunjuk ke arah kaki kanan yang kaku bagai batu. Gadisku lalu menekan bagian yang terlihat menonjol.

    Aku terlonjak karena sakitnya seolah sampai di ubun-ubun.

    Dia kaget, “Aku harus bagaimana, Bu?”

     Aku memberikan isyarat tangan untuk membiarkan saja aku tenang dan rileks. Setelah sekian menit, kaki kembali bisa digerakkan. Namun, rasa sakitnya masih tertinggal hingga waktu yang lama.

    “Auw!” Saat menyentuh lantai, seperti ada setrum listrik yang mengaliri kaki. Kembali kakiku kaku. Cara berjalanku pun seperti robot.

    Anakku menyeringai aneh melihat kondisiku, “Bagaimana? Apakah ibu baik-baik saja?”

    Sehari itu aku masih merasakan derita yang menyiksa di bagian kaki. Terutama kaki sebelah kanan.

    Seorang teman menyarankan untuk melakukan terapi pijat relaksasi.

    “Kamu terlalu memforsir diri untuk bekerja. Sesekali harus bersantai.” Mahira, sahabatku datang sore itu karena aku izin tidak bisa datang ke TPQ.

    “Aku merasa aneh saja. Beberapa orang sering memanggilku dukun pijat karena salah satu pekerjaanku memang memijat orang. Apakah sekarang aku yang tukang pijat ini harus mencari tukang pijat lain?” Aku bersungut sambil memijat kakiku sendiri.

    “Kamu ini super aneh. Apakah  seorang dokter tidak pernah sakit? Apakah kalau sakit, dia bisa merawat dirinya sendiri?” Wajah wanita yang sudah menjadi ibu dari dua balita itu tampak garang yang dibuat-buat, “Ayo aku antarkan kw rumah Mbah Dasimah.”

    Akhirnya aku menurut saja. Ternyata mendapat perhatian orang lain itu cukup menyenangkan.

    Mbah Dasimah adalah seorang tukang pijat di desa sebelah. Menurut cerita beliau ahli dalam menata otot-otot yang kaku juga bisa memijat untuk gejala syaraf terjepit.

    Hampir satu jam beliau memijat seluruh bagian tubuhku. Beliau banyak bercerita. Aku merasa nyaman hingga tertidur pada akhirnya.

    Tiga hari sesudah peristiwa itu, aku masih belum merasakan perubahan yang baik, tapi aku bisa beraktivitas normal sambil menahan rasa sakit. Setiap bangun tidur kakiku kaku. Kram otot yang menyiksa telah menjadi bagai morning sickness bagi wanita usia separuh baya sepertiku.

    “Kakiku kaku. Kakiku kaku…. ” Putri bungsuku yang masih duduk di bangku kelas enam SD itu kini sering menirukan caraku berjalan di waktu pagi.

    Minggu-minggu berlalu. Beberapa tukang pijat terpaksa aku datangi. Namun,  hasilnya belum memadai. Tubuhku kian hari terasa makin tidak bertenaga. Beberapa pesanan makanan kering juga katering terpaksa aku tolak.

    Pada suatu hari aku diantar oleh adikku ke salah seorang ahli pijat syaraf.

    “Menurut cerita, banyak orang dengan keluhan berat berhasil selamat, Mbak. Kita coba ke sana,  ya?”

    Hanya beberapa bagian kaki dan lebih pada jari-jari kaki yang dipijat dengan tekanan yang sangat menyakitkan. Setelah beberapa hari masih terlihat beberapa bercak hitam kebiruan di bagian tubuhku. Namun, masih belum terlihat ada perkembangan baik.

    Malangnya lagi, beberapa hari ini cuaca tidak menentu. Kadang hari cerah dan panas terik hingga sore tiba. Kemudian mendung, angin dan hujan tiba-tiba datang.  Perubahan cuaca ini sangat berpengaruh pada kondisi tubuh yang tengah rentan ini.

     Mendadak tubuh seperti berkeringat tetapi di saat yang sama ada rasa menggigil dari dalam dada. Namun, pada saat itu suhu tubuh berkisar 38-39 derajat jika dicek dengan termometer.

    Parahnya lagi, aku merasa tidak tahu ke mana dan kepada siapa mesti mengadu dan berkeluh kesah untuk sekedar mendapat saran yang baik sebagai pertimbangan. Bungsuku masih terlalu kecil untuk diajak bertukar pendapat. Sulungku berada di tempat yang jauh untuk menuntut ilmu. Sesekali dia telepon bertanya keadaan kami dan selalu kukatakan bahwa semua baik-baik saja. Aku tidak ingin menambah beban pikirannya.  Akhirnya banyak kegiatan dan pekerjaan yang dengan terpaksa harus aku  tinggalkan. Semua terasa berat saat ini.

    Sore itu langit mendung dan angin berembus kencang ketika kami pulang. Hujan deras mengguyur sebelum aku dan di bungsu tiba di rumah. Kami basah kuyup sejak di perjalanan.

    “Segera tutup pintu dan semua jendela,  Nduk. Hujan disertai angin,” suaraku pun disertai getar karena menggigil.

    Tulang-tulang terutama paha dan betis terasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Untuk melangkah saja kaki terasa gemetar.

    Setelah mengganti pakaian, aku menambahkan jaket tebal untuk menghangatkan badan. Tak ketinggalan kaos kaki juga kaos tangan.

    “Ibu kok sampai begitu tidak kuat menahan dingin. Apakah tidak cukup dengan ganti baju panjang?  Masih ditambah jaket milik Bapak pula.”

    Hal yang lebih mengagetkan adalah malam itu saya tiba-tiba ‘nggeblak’ ketika berdiri saat melaksanakan salat Isya”

    Bungsuku menangis. Dia akan menelepon pamannya, tapi aku melarang.

    “Tidak apa-apa, Nduk. Besok ibu akan ke Puskesmas untuk periksa.”

    Di luar hujan turun disertai petir dan guntur. Di dalam hatiku perang berkecamuk antara segala rasa khawatir dan praduga yang tak tentu asalnya.

    Hingga malam larut,  mataku masih sulit terpejam. Bungsuku yang terbaring disisiku pun terlelap dalam resah dan gelisah. Sesekali dia miring ke kanan,  telentang, dan sejurus kemudian memeluk guling di sisi kirinya. Entah dia mengembara di dunia yang mana

    Keesokan paginya aku mengambil nomor antrean pertama untuk diperiksa.

    “Kami akan memberikan surat rujukan untuk ibu periksa di rumah sakit besar.”

    “Apa?” Telingaku terasa berdenging mendengarnya.

    Bersambung.

    *****

    Bionarasi

    Ikriima Ghani adalah nama pena dari Siti Romlah. Berdomisili di Tuban, Bumi Wali.

    Menulis adalah suatu hal yang disukai sejak lama tetapi baru berani berkarya dalam bentuk antologi ketika usia mulai senja.

    Penulis bisa disapa lewat FB dan IG Asmarani Syafira

  • Cerpen: Aku dan Pewaris Itu

    Cerpen: Aku dan Pewaris Itu

    Oleh: Siti Nur Halimah (STKIP PGRI Bangkalan)

    Jaddih socah bangkalan

    Terdengar syair lantunan selawat membahana, membangunkan aku dari tidur lelap. Jam telah menunjukkan angka sebelas, tapi aku tetap tak ingin beranjak. Suara gendang dan ketepong terus berpendar-pendar di dua telingaku, entah tak ada yang kusadari selain tempat ini. Di mana aku? Tak ada yang mampu menjawab. Kupaksa bangkit dari rasa kantukku, berjalan menyusuri jalan, tepat di suatu pedesaan aku terkaget bukan main dengan apa yang kusaksikan, berdiri banyak orang sambil melantunkan syair-syair indah. Aku sering kali mendengar lantunan-lantunan inim tapi tak pernah seindah kali ini. Terus kudengar dengan saksama setelah merasa puas. Aku meneruskan perjalananku yang belum kuketahui akan ke mana. Tak jauh dari tempat itu kudengar seseorang berbisik pada salah satunya.

    “Berapa uang yang kan kamu sawer kepada pengantin baru bing?” Kurang lebih begitulah ucap seseorang tersebut.

    Hedeh ngasih berapa, Buk,” katanya, setelah aku berhasil menguping pembicaraan dua orang tersebut.

    Tepat di arah selatan, mereka terlihat dua orang berbusana mewah menari-nari di atas kuda yang telah dipoles dengan riasan. Kulihat banyak sekali orang menghambur-hamburkan uang ke arah mereka berdua diiringi lagu yang asing sekali. Kudengar seperti nyanyian yang berisi ucapan selamat kepada pengantin baru. Setelah lelah mencari jalan pulang, akhirnya aku menemukan sebuah tugu besar dengan tulisan “Bangkalan Kota Zikir dan Sholawat”. Aku tidak tahu tepatnya di mana aku berada. Setelah kusimak baik-baik, kulaju kakiku dengan cepat, lari sejauh mungkin dari tempat itu. Tidak, aku tidak mungkin menyakiti mereka orang-orang yang senantiasa mengingat Allah. Karena kelelahan, aku memutuskan menumpang mobil seseorang yang tak kukenal. Kuambil posisi ternyaman, lalu terlelap dengan malam.

    ****

    Sampang Bahari

    Khejungan selanjutnya akan dibawakan tandek baru kita So-fi.” Terdengar gaduh suara dari luar sana, dengan langkah terpincang-pincang ku seret tubuhku keluar dari mobil yang ku tumpangi tadi malam, amboi, seorang gadis dengan gemulai terus menari sambilngejung dengan pesona yang benar-benar mampu menghipnotis semua penontonnya, sedang Sofi tandek baru itu terus menggerakkan tubuhnya menciptakan tarian sandur yang indah diiringi klenong serta sroleng yang merdu.

    Napel pertama oleh klebun karang penang persiapan klebun batu baih.” Terdengar pembawa acara memanggil peserta sanduryang akan menapel tandek dan ikut menari.

    “Wah, cantik sekali tandek baru itu Sulaiman andai saja Sofi itu benar-benar perempuan aku akan menjadi lelaki pertama yang menyatakan cinta,” celoteh salah satu peserta sandur dengan pandangan yang lepas dari tandek cantik itu.

    “Bodoh sekali kau ahmat tidak mungkinlah Sofi yang biasa dipanggil herman itu kan banci,” timbal sulaiman.

    Wah, aku hampir tak percaya, bagaimana mungkin wanita dengan bibir stoberi, kulit putih, serta tarian gemulainya itu pemilik dua jenis kelamin. Huff, membingungkan memang tetapi sungguh aku bener-benar terkesan. Sebenarnya, tak perlu waktu lama untuk memahami apa yang sedang mereka lakukan sebab telah terekam jelas di ingatanku enam bulan lalu, aku pernah mengunjungi tempat sandur, namun bukan di desa ini. Jika tidak salah, ini tempat yang sering kali dijuluki kota “Sampang Bahari” oleh orang-orang yang tanpa sengaja kujumpai di beberapa simpang jalan. Bedanya aku baru saja mengetahui bahwa tandek pemikat hati itu adalah laki-laki setengah perempuan.

    Kulihat banyak sekali kerumunan warga berpelukan serta berjabat tangan sembari menikmati khejungan dari gadis yang dijuluki Sofi tersebut. Timbul rasa jail di benakku untuk memberikan mereka pelajaran agar tidak senonoh mengadakan perkumpulan di masa pandemi ini. Kuperhatikan satu persatu dari mereka, lalu kujatuhkan pilihan kepada laki-laki lanjut usia, kutusuk ulu hatinya sampai napas laki-laki tersebut terngah-engah, namun lelaki itu tak kunjung menjauh pergi dari tempat itu.

    “Dasar tua Bangka lihat aja ya, kalo kamu nanti tiba-tiba mati,” gerutuku dalam hati.

    Aku memalingkan wajah dari dari tempat sandur lantas melanjutkan langkah, tetap dalam keadaan yang sama tanpa arah dan tanpa tujuan yang tepat, kulihat laki-laki tampan mengenakan celana jins mengendarai sepeda motor miliknya. Kuputuskan menumpang pada si tampan.

    ***

    Kota Pamekasan

    17.05 waktu Madura, terik matahari mulai beranjak dari singgasanya saat aku tiba di tempat ini. Kukira aku akan menemukan jalan pulang setelah menumpang pada laki-laki tampan tadi tapi tidak. Ah, sial, aku kesal bukan main ingin sekali kuhajar laki-laki berkumis tipis tersebut, namun kuurungkan.

    “Kenapa kau murung sekali ?” suara tadi membuat ku terjungkal karna merasa kaget bukan kepalang, yang tak ku sangka orang yang hampir membuat jangtung ku berhenti berdetak itu adalah lotong teman karib ku yang menghilang.

    “Dasar kau lotong, ngapain kamu ke sini?” jawabku ketus kepada lotong.

    “Ih, sensi banget sih kamu”  jawab lotong di sertai lelucon.

     “Udah deh, aku tuh lagi kesel banget tong, suntuk, bosen” gerutuku pada teman karibku ini.

     Tanpa basa-basi lotong menyeret tangan kiriku dengan cepat hingga aku tak berkesempatan untuk mengelak.

    “Lepasin gak, kamu mau bawa aku ke mana sih?” aku dengan emosi yang mulai memuncak.

    “Tuh liat,” lotong sambil menunjuk sesuatu.

    Aduhai, aku terkesima begitu dalam melihat apa yang lotong tunjukkan kepadaku, bola api yang nyalanya begitu besar dengan lingkaran menjulang menjadi perisai dari api yang berkobar sangat elok dipandang mata.

    “Tong, ini api neraka nyasar ke dunia apa emang bener-bener apa sungguhan?” Tanpa sadar aku keceplosan mengucapkan kata-kata yang tak berkesinambungan karna begitu keterlaluan menahan  rasa takjub.

    “Ya elah, kamu ada-ada ajah itu namaya api tak kunjung padam, api itu walaupun diguyur air hujan gak bakal padam loh, banyak sekali orang yang mengunjungi tempat ini samapai membakar aneka makanan seperti jagung di lingkaran api itu, bagaimana kamu suka tidak?”

    “Iya, Tong, aku suka sekali tempat ini,” ucapku dengan riang.

    Belum puas dengan pesona api tak kunjung padam lotong kembali menarik tangan ku untuk menyaksikan hal yang lebih menakjubkan lagi tepatnya sebuah monumen besar yang berdiri kokoh di tengah-tengah simpang jalan, aku lagi-lagi terkejut.

    “Kamu tau tidak, monumen ini namanya arek lancor yang melambangkan kota gerbang salam,” Lotong menjelaskan.

    “Apaan tuh kota gerbang salam kok aku baru denger Tong?” Tanya ku dengan penuh penasaran.

    “Kota gerbang salam itu julukan bagi kota Pamekasan dan monumen besar tadi adalah lambang kebanggannya,” Lotong begitu riang menjelaskan kepadaku.

    “Oh, gitu Tong trus kenapa di juluki kota gerbang salam?” tanyaku penuh penasaran.

     “Konon sih orang Pamekasan itu ramah-ramah selain itu kota bermonumen arek lancor ini kan juga di sebut kota pendidikan,” jelas Lotong kepadaku dengan sabar.

    “Benar saja kau Tong, aku jadi ingin bertemu orang-orang Pamekasan deh,” sambutku antusias dengan pengharapan yang besar.

    Setelah berbincang begitu lama Lotong mengajakku melihat pertunjukan yang tak pernah ku saksikan sebelumnya. Debur ombak yang menghampar memekan kedua telinga ku, buah-buahan yang berjejer sangat rapi di rias sedemikian rupa, bau kemenyan, dupa juga beberapa sesajen yang menjadi peserta ritual saat itu.

    “Tong,diapain tuh buah- buahan sebanyak itu?” aku dengan rasa penasaran yang semakin  meningkat mulai tak sabar menunggu jawaban Lotong

    “Aku jugak kurang faham sih, tapi semenjak aku menetap di sini orang-orang itu biasanya meletakkan sesajen-sesajen itu di dasar laut agar bisa di bawa ombak dan istilah ini di namakan peti’ laut oleh orang Pamekasan.”

    “Oalah, begitu Tong,” balasku singkat kepada Lotong.

    Dengan rasa bahagia, aku berusaha melihat lebih dekat lagi ritual peti’ laut itu, padahal Lotong sudah melarang ku tapi rasa penasaran terus menguasai diriku.

    “Woy, jangan….” Aku terus melangkah menjauhi Lotong.

    Alhasil miris, gelombang yang berpendar-pendar itu  juga membawa aku bersama seluruh sesajen yang telah di sediakan para petani sebagai rasa  syukur kepada sang pencipta atas karunia-Nya telah menyuburkan hasil panen mereka, sungguh malang nasib ku harus terpisah dari Lotong teman terbaik ku.

    ***

    Pakotan Pasongsongan Sumenep

    Setelah kejadian itu tak ada yang ku ingat kecuali gelombang-gelombang dan ombak yang membuat tubuh ku ambruk hingga terdampar di sisi pulau yang lain. Sejak peristiwa mengerikan itu aku benar-benar tak sadarkan diri, ombak besar telah meluluh lantakan kekuatan tubuhku. Kukira aku butuh stamina baru berat sekali membuka kedua kelopak mata, namun suara bising memaksaku tersadar dari kesialan. Yang kuharap Lotong segera datang menolongku, tapi yang kutunggu tak kunjung tunjukkan batang hidung. Jelas sekali kudengar cipratan suara banyak orang, bernyanyi-nyanyi dengan bahasa yang tak kupahami.

                Ngapote wa lajere eta ngale

                Reng majeng tantonah la pade mole’

                Mon tengguh deri ombek pajelena

                Maseh benyak a ongghu’ leh olehnah

                Duh mon a jelling odikna oreng majengan

                Abental ombek sapok angen salanjengah

    Kurang lebih seperti itulah mereka bersorak ramai.

    Ramah datang Kak, Ramah,” gadis kecil berkisar umur enam tahunan meloncat-loncat karna girang sambil menunjuk-nunjuk ke arah perahu yang semakin mendekati dasar pulau. Kali ini aku benar-benar sempurna berdiri tegak di hadapan mereka, sungguh aku tak mengerti apa yang ingin mereka lakukan, namun di balik ketidakmengertianku, wajah girang sempurna terlihat begitu jelas pada setiap senyumnya. Perahu itu menepi di dasar pulau, beberapa lelaki dari masing-masing perahu keluar dengan membawa ember besar. Yang membuatku bertambah bingung adalah raut wajah mereka, para lelaki yang menuruni perahu itu memiliki tarikan senyum yang berbeda, ada yang tersenyum begitu memuaskan sambil berlari ke arah keluar yang menyambut mereka, ada yang bermuka kusut dengan kepala terus menunduk. Ada apa sebenarnya? Bukankah mereka sama-sama turun dari perahu?

    Nyah, maafkan aku hari ini hasil melaut saya tidak begitu banyak,” ucap seorang lelaki pada wanita yang lebih dewasa darinya.

    “Tidak apa-apa cong, syukuri saja pemberian Allah, memang qudrotnya seorang nelayan kadang banyak penghasilan kadang juga tidak,” balas wanita itu sambil memeluk lelaki tersebut.

    Sampai di sini, aku mengerti bahwa mereka seorang nelayan yang mencari penghasilan di pulau untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Batinku tersentak menyakitkan dengan kejadian itu. Tak terasa air mata turun begitu saja dari kedua kelopak mata. Garis lembayung di kaki langit berganti warna, membuatku  tersadar akan waktu. Entah jika kulihat banyak sekali orang berbudi di sini.

    “Ya Allah, kirimkan aku kepada seseorang yang memang mencintai-Mu dan mengabdi karena-Mu,” doaku dalam hati sambil tak henti  mengusap sisa air mata sebab terlalu haru.

    Kakiku terus saja ingin menapaki setiap jejak yang tersisa, berkela dengan waktu yang membawaku, kubiarkan angin sepoi dengan lembut menyeret tubuhku ke arah yang ia inginkan, aku pasrah. Tiba di sebuah jalan raya, kusaksikan seorang laki-laki gagah perkasa dengan mengenakan masker hitam menolong nenek tua yang sudah renta menyeberang jalan, aku semakin terenyuh. Allah benar-benar mengirimku pada seseorang yang berahlak mulia. MasyaAllah sungguh besar karunia-Mu, kukira dunia hanya di penuhi dengan orang-orang yang jahat, tapi hari aku saksikan salah satu hamba-Mu yang tulus menolong, terima kasih. Perlahan tapi pasti terus kuikuti langkah kakinya berjalan menyusuri jalan, ada rasa penasaran yang tak terhingga pada laki-laki solih itu, kulihat ia terus berkomat-kamit menyebut nama sang penciptanya dan bacaan-bacaan itu semakin membuatku lemah. Sungguh jika aku harus tiada karna dia, aku benar-benar rela, aku benar-benar ikhlas.

    Dia berhenti di sebuah masjid, membuka kedua sepatunya, lalu meraih botol berwarna biru yang telah di sediakan oleh pengurus masjid dengan label “HAND SANITIZER”. Aku tahu jika aku tetap di sini, aku akan benar-benar mati, tapi aku tetap tak ingin pergi. Laki-laki budiman itu telah mengambil hatiku dengan segala ketakwaannya. Ingin sekali berteriak jangan, tapi ini sudah terlambat, ia juga tak mungkin mendengar suaraku. Namun, sudahlah, aku tak pernah merasa keberatan jika harus mati karena laki-laki tadi. Sungguh hari ini pun tak pernah menjadi masalah untukku, tetapi sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini, aku hanya ingin berpesan.

    “Siapapun kalian tetaplah waspada dengan situasi ini, benar saja aku kan mati, tapi banyak sekali dari anak-anakku yang tetap beraksi, tetaplah menjaga jarak (social distancing) dan patuhi protokol kesehatan karna aku ada di mana-mana, bahkan di tempat yang tak di sangka-sangka. Rajin-rajinlah mencuci tangan karena aku menyukai area di sekitar tangan mu dan jangan lupa selalu menggunakan masker ketika bepergian.”

    Sebelum sempurna memejamkan mata untuk selamanya sempat kudengar di teras masjid seseorang riuh membicarakan aku, mereka juga berharap aku beserta seluruh keluargaku segera pulang. “Emmak, semoga corona cepat berlalu agar ramah bisa bekerja di kota lagi, kita jadi bisa makan enak lagi, Mak. Tika juga sudah rindu sekolah bersama teman-teman,” ucap bocah kecil sambil memeluk kedua orang tuanya.

    “Yang sabar ya sayang kita berdoa sama-sama, agar virus corona segera hilang,” sambil mengelus-elus rambut anaknya.

    Asal kalian tahu, kami juga merindukan rumah. Kami juga ingin pulang, tapi kalian tak pernah memenuhi protokol kesehatan. Hal itulah yang membuat kami beranak-pinak di negara kalian. Tolong kami, wahai manusia yang budiman, tetaplah dalam aturan kepemerintahan agar semua dapar terselesaikan. Salam dari kami, virus corona.

    Kini aku benar-benar pergi jauh dari bumi, namun meninggalkan berjuta-juta pewaris tanpa kalian ketahui.

    Catatan:

    1.ketepong,klenong,sroleng (alat-alat music Madura)

    2.bing (panggilan pada anak gadis di madura)

    3.hedeh (kamu dalam bahasa orang bangkalan madura)

    4.buk (panggilan kepada wanita yang lebih tua di madura seperti kakak )

    5.nyanyah (panggilan kepada bibik)

    6.kacong (panggilan pada anak laki-laki)

    7.klebun (kepala desa)

    8.ramah (sebutan yang paling halus kepada ayah atau bapak)

    9. emmak (sebutan kepada ibu)

    10.peti’ laut (tradisi orang pamekasan sebagai rasa syukur setelah panen)

    11.sandur (tarian yang di iringi alat-alat music madura)

    12.tandek (pemeran atau penari dalam acara sandur)

    13. khejungan (lagu yang di nyanyikan berisi syair-syair berbahasa madura)