Hijrah. Sebuah kata yang sederhana, namun sarat makna. Dalam perjalanan hidup seorang muslim, hijrah bukan sekadar berpindah tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perjalanan batin, perpindahan dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju sadar, dari dosa menuju taat.
Namun, di tengah semangat berhijrah yang kini semakin marak, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: sudahkah kita memantaskan diri?
Banyak dari kita ingin berubah menjadi lebih baik. Kita ingin dekat dengan Allah, ingin hidup lebih tenang, ingin hati lebih bersih. Tetapi keinginan saja tidak cukup. Hijrah bukan hanya soal tampilan luar, bukan sekadar simbol atau label, melainkan perubahan menyeluruh yang dimulai dari dalam hati.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menjadi pengingat kuat bahwa perubahan sejati dimulai dari diri sendiri. Hijrah bukan sesuatu yang instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan.
Hijrah: Lebih dari Sekadar Perubahan Penampilan
Sering kali, hijrah dipersempit maknanya menjadi perubahan penampilan luar. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memberikan definisi hijrah yang jauh lebih dalam. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
“Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menegaskan bahwa esensi hijrah adalah meninggalkan maksiat dan segala yang tidak diridhai oleh Allah. Artinya, seseorang belum bisa dikatakan benar-benar berhijrah hanya karena ia mengubah cara berpakaian, jika lisannya masih menyakiti, hatinya masih dipenuhi iri, dan amalnya masih jauh dari ketaatan.
Memantaskan diri dalam hijrah berarti berani jujur pada diri sendiri. Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan buruk? Sudahkah kita menjaga shalat tepat waktu? Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan sesama?
Niat: Pondasi Utama Hijrah
Segala amal dalam Islam bergantung pada niat. Begitu pula dengan hijrah. Tanpa niat yang lurus, hijrah bisa kehilangan makna. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hijrah yang dilakukan karena ingin dipuji, ingin terlihat baik di mata manusia, atau sekadar mengikuti tren, tidak akan bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, hijrah yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, meskipun perlahan dan penuh jatuh bangun, akan bernilai besar di sisi-Nya.
Memantaskan diri berarti meluruskan niat. Kita berhijrah bukan untuk siapa-siapa, melainkan hanya untuk Allah.
Proses yang Tidak Mudah
Hijrah bukan perjalanan yang mulus. Akan ada godaan, ujian, bahkan rasa lelah yang menyelimuti. Terkadang, kita merasa sudah berusaha berubah, tetapi masih sering jatuh dalam kesalahan yang sama.
Di sinilah pentingnya kesabaran.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Ayat ini memberikan harapan bahwa setiap usaha menuju kebaikan tidak akan sia-sia. Selama kita terus berusaha, Allah akan membuka jalan.
Memantaskan diri bukan berarti harus menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum berhijrah. Justru hijrah itulah jalan menuju perbaikan. Yang terpenting adalah konsistensi dan kesungguhan.
Antara Harapan dan Rasa Tidak Pantas
Banyak orang yang merasa belum pantas untuk berhijrah. Mereka merasa terlalu banyak dosa, terlalu jauh dari kebaikan, terlalu kotor untuk mendekat kepada Allah.
Padahal, perasaan itu bisa menjadi jebakan.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini adalah pelukan bagi mereka yang merasa tidak pantas. Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk menerima kita. Justru Allah membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin kembali.
Maka, memantaskan diri bukan berarti menunggu sampai kita suci dari dosa. Memantaskan diri adalah keberanian untuk kembali, meskipun dengan penuh luka dan kesalahan.
Lingkungan: Faktor yang Mempengaruhi
Dalam perjalanan hijrah, lingkungan memiliki peran yang sangat besar. Teman, keluarga, dan komunitas bisa menjadi pendukung atau justru penghambat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Memantaskan diri juga berarti berani memilih lingkungan yang mendukung kebaikan. Bukan berarti memutus silaturahmi, tetapi lebih kepada menjaga diri agar tidak kembali terjerumus.
Lingkungan yang baik akan mengingatkan kita ketika lalai, menguatkan saat lemah, dan mendorong kita untuk terus maju.
Istiqamah: Tantangan Terbesar
Memulai hijrah mungkin terasa berat, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit. Banyak yang semangat di awal, namun perlahan kembali pada kebiasaan lama.
Istiqamah adalah kunci.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati.’” (QS. Fussilat: 30)
Istiqamah bukan berarti tidak pernah salah. Istiqamah adalah tetap kembali kepada Allah setiap kali kita jatuh. Ia adalah tentang konsistensi, bukan kesempurnaan.
Memantaskan diri berarti terus berusaha istiqamah, meskipun langkah kecil dan tertatih.
Hijrah Hati: Inti dari Segalanya
Pada akhirnya, hijrah yang paling penting adalah hijrah hati. Karena dari hatilah segala amal bermula.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati yang bersih akan melahirkan ucapan yang baik, perilaku yang lembut, dan amal yang tulus. Sebaliknya, hati yang kotor akan menuntun pada keburukan.
Memantaskan diri berarti membersihkan hati dari penyakit-penyakit seperti riya, ujub, iri, dan dengki. Ini adalah perjuangan yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.
Menjadi Lebih Baik, Bukan Lebih Sempurna
Hijrah bukan tentang menjadi manusia tanpa dosa. Tidak ada manusia yang sempurna. Hijrah adalah tentang menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Hijrah yang benar akan tercermin dalam akhlak. Kita menjadi lebih sabar, lebih peduli, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi orang lain.
Memantaskan diri berarti memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia.
Penutup: Sebuah Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Pada akhirnya, hijrah adalah perjalanan pribadi. Tidak ada standar yang sama untuk setiap orang. Setiap kita memiliki titik awal, ujian, dan proses yang berbeda.
Namun, satu pertanyaan tetap relevan untuk kita renungkan:
Sudahkah kita memantaskan diri?
Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi lebih layak mendekat kepada Allah. Bukan untuk terlihat baik di mata manusia, tetapi untuk benar-benar baik di hadapan-Nya.
Mari kita mulai dari hal kecil. Memperbaiki niat, menjaga shalat, memperbanyak istighfar, dan terus belajar menjadi lebih baik.
Karena sejatinya, hijrah bukan tentang seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa tulus kita melangkah.
Dan mungkin, di setiap langkah kecil itu, Allah sedang menuntun kita menjadi pribadi yang lebih pantas—pantas untuk mendapatkan ampunan-Nya, rahmat-Nya, dan cinta-Nya.
Artikel ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim
Ngoro, 150426, 09.45 WIB













