Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur kembali menggelar agenda turun ke bawah (turba) sebagai upaya memperkuat koordinasi dan menghidupkan gerakan literasi di tingkat cabang. Kali ini, turba dilaksanakan di Obahmie Sidoarjo pada Ahad, 17 Mei 2026, bersama FLP Sidoarjo dengan menghadirkan diskusi program kerja, kaderisasi, hingga pengembangan komunitas yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ketua FLP Jawa Timur, Ika Safitri, menyampaikan bahwa agenda turba bukan sekadar kunjungan formal. Turba FLP Jatim dilakukan untuk mempererat hubungan antarwilayah sekaligus mendengarkan langsung kebutuhan dan kendala cabang.
Sidoarjo dan Surabaya menjadi wilayah terdekat yang didahulukan dalam agenda turba. Setelah itu, kegiatan serupa juga direncanakan menyasar cabang-cabang lain di Jawa Timur. Untuk mendukung koordinasi, pengurus wilayah juga menyiapkan pendataan melalui Google Form.
Dalam diskusi, FLP Sidoarjo memaparkan sejumlah program yang berorientasi pada masyarakat. Pengurus ingin membawa FLP keluar dari zona nyaman dan lebih aktif hadir di tengah publik. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain berbagi takjil, membaca di ruang terbuka, hingga kegiatan literasi unik di alun-alun.
FLP Sidoarjo juga aktif menggandeng media untuk memperluas dampak kegiatan. Salah satunya melalui program hafalan surat pendek untuk mendapatkan takjil yang diliput TV9. Selain itu, kegiatan berbagi buku di panti asuhan juga pernah dimuat di Jawa Pos.
Pengurus cabang menilai kolaborasi menjadi kunci penting dalam pengembangan komunitas. Karena itu, FLP Sidoarjo terus menjalin hubungan dengan radio, komunitas literasi, rumah budaya, kampung literasi, hingga berbagai pegiat literasi di daerah.
Turba FLP Jatim juga membahas pentingnya administrasi organisasi. Pengurus wilayah mengingatkan bahwa laporan pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan maksimal dikumpulkan enam puluh hari setelah kegiatan berlangsung. Hal ini dinilai penting untuk membantu cabang lebih tertib administrasi sekaligus memantau keaktifan cabang di daerah.
Forum turba dimanfaatkan sebagai ruang diskusi untuk mencari solusi bersama atas berbagai kendala yang dihadapi cabang.
FLP Sidoarjo sendiri tengah melakukan pembaruan data anggota lama dan baru serta penguatan kaderisasi. Pengurus juga mulai memetakan jenjang anggota muda, madya, hingga andal agar proses pembinaan lebih terarah.
Selain itu, FLP Sidoarjo menyiapkan berbagai program pengembangan kapasitas anggota. Di antaranya workshop kesekretariatan, pelatihan menulis proposal, kajian keislaman, tahsin, hingga writing camp untuk meningkatkan kualitas karya anggota.
Program kaderisasi juga diperkuat melalui kegiatan upgrading dan pembentukan grup kepilaran. Pengurus berharap pola komunikasi yang lebih terstruktur dapat membuat program berjalan lebih konsisten.
Dalam bidang kepenulisan, FLP Sidoarjo memiliki target membina penulis agar naik jenjang menuju anggota madya. Divisi karya juga merancang bedah karya anggota secara rutin, baik daring maupun luring, dengan menghadirkan pemateri kompeten.
Tidak hanya fokus pada penulis dewasa, FLP Sidoarjo juga mulai mengembangkan program FLP Kids sebagai hasil amanat munas. Program ini diarahkan untuk membina penulis anak dan calon penulis muda sejak dini.
Salah satu program besar yang direncanakan ialah “1000 Penulis” bekerja sama dengan perpustakaan daerah dany berbagai komunitas literasi. Workshop menulis anak juga dirancang berlangsung berkelanjutan selama enam bulan dengan menggandeng Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM).
Dalam bidang media dan humas, pengurus menargetkan aktivasi media sosial melalui kalender konten bulanan, podcast santai, serta optimalisasi platform digital seperti Instagram, Facebook, YouTube, TikTok, dan website.
Sementara itu, divisi bisnis mulai mengembangkan penjualan merchandise FLP dan pemasaran digital melalui platform daring. Program ini diharapkan dapat membantu kemandirian komunitas sekaligus mendukung kegiatan organisasi.
Menutup diskusi, para pengurus senior mengingatkan pentingnya menjaga ritme organisasi. Program kerja yang terlalu banyak tanpa konsistensi dinilai berisiko membuat semangat pengurus cepat menurun.
Karena itu, silaturahmi rutin kepada anggota, penguatan keterlibatan komunitas, dan kolaborasi antarpengurus dianggap menjadi fondasi penting agar FLP tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.










