Menulis bukan sekadar soal popularitas atau materi. Bagi seorang penulis produktif dari FLP Blitar, Heru Patria, menulis adalah cara berbagi kebaikan dan pemikiran kepada sesama. Konsistensi itulah yang membuatnya terus berkarya sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga kini dikenal sebagai penulis produktif dengan puluhan karya.
Ia mulai menulis sejak SD sekitar tahun 1980. Pada masa itu, ia belum mengenal istilah genre sastra. Ia hanya menulis apa yang ingin ditulis. Puisi menjadi bentuk tulisan pertama yang akrab dengannya.
“Yang penting ya menulis saja apa yang ingin ditulis,” ujarnya.
Meski aktif menulis selama puluhan tahun, ia mengaku tidak memiliki jadwal menulis yang terlalu kaku. Setiap selesai salat subuh, ia menyempatkan diri membaca selama sekitar tiga puluh menit sebelum berangkat bekerja. Sementara waktu menulis biasanya dilakukan pada malam hari selepas salat isyak.
Ia membiasakan diri menulis minimal seribu kata setiap hari dengan waktu yang fleksibel. Kebiasaan sederhana itu menjadi salah satu kunci produktivitasnya.
Baginya, menulis tidak boleh semata-mata berorientasi pada uang atau ketenaran. Menurutnya, target semacam itu justru bisa membuat seseorang mudah berhenti ketika harapan tidak tercapai.
“Uang dan kepopuleran hanyalah bonus. Menulis saya niatkan untuk berbagi kebaikan dan pemikiran lewat karya,” katanya.
Konsistensinya menulis membuat namanya dikenal luas. Ia mendapat usulan penghargaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blitar berdasarkan penghargaan Penulis Terproduktif dari FLP Jawa Timur dan rekam jejak kepenulisannya yang aktif tayang di berbagai media setiap pekan.
Dalam satu tahun, rata-rata ia mampu menerbitkan empat judul buku. Bahkan pada tahun 2025, jumlah karya terbitnya mencapai enam buku lebih. Beberapa di antaranya ialah Tuhan Maha Adil terbitan IPB Press, Anak Anak Pijiombo terbitan Pustaka Jaya, Diary Kelam, Burung Burung Bermigrasi ke Hati Lelaki, S: Sepotong Senja Sepenggal Sangka, Cinta Tak Terbatas Masa, Rindu Tak Terbatas Waktu, hingga Sisi Biru Rasa Rindu. Selain itu, ia juga terlibat dalam sejumlah antologi bersama.
Tidak hanya aktif menulis dalam bahasa Indonesia, ia juga menekuni sastra Jawa sejak SMA pada tahun 1988. Namun, ia baru mulai berani mempublikasikan karya sastra Jawanya pada tahun 2024 di beberapa media.
Karya sastra Jawa yang ia tulis meliputi gurit, wacan bocah, dan crita cekak. Ia mengaku belajar sastra Jawa secara autodidak melalui kebiasaan membaca. Sesekali, ia mengikuti pelatihan yang diadakan komunitas sastra Jawa seperti Sanggar Triwida Tulungagung dan Sanggar Le Nduk.
Dedikasinya terhadap sastra Jawa juga diwujudkan dengan mendirikan paguyuban Swara Sastra Jawa pada Desember 2024.
Pada tahun yang sama, ia menerima penghargaan Sutasoma dalam kategori Guru Bahasa Berdedikasi untuk Pemajuan Sastra di Jawa Timur. Menariknya, ia mengaku tidak mengetahui proses pengusulan penghargaan tersebut sejak awal.
“Saya baru dihubungi dan diundang sehari sebelum penyerahan Anugerah Sutasoma,” tuturnya.
Selain aktif menulis novel dan sastra Jawa, ia juga menulis karya untuk anak-anak. Salah satunya novel Penyair Cilik yang diterbitkan SIBI Kemendikdasmen pada tahun 2024. Ide cerita novel tersebut berasal dari pengalaman pribadinya ketika masih SD.
Saat itu, ia sering menulis puisi untuk mengisi majalah dinding sekolah. Namun, ada seorang teman pindahan dari kota yang tidak menyukai kebiasaannya menulis puisi. Pengalaman itu kemudian dimodifikasi dan dikembangkan menjadi novel Penyair Cilik.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada seluruh anggota FLP agar terus berkarya tanpa takut pada hasil.
“Percayalah, tidak ada karya yang jelek kecuali karya yang tidak diselesaikan oleh penulisnya,” pesan penulis produktif itu.
Ia juga mengajak para penulis untuk meluruskan niat dalam berkarya.
“Niatkan menulis untuk mencari pahala, berbagi kebaikan, supaya semangat menulis tetap menyala.”











