Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur kembali melanjutkan agenda turun ke bawah Turba dengan mengunjungi FLP Surabaya, setelah mengunjungi FLP Sidoarjo di hari yang sama (17/5) di Cafe Bara Surabaya. Turba FLP Jatim ini menjadi ruang berbagi pengalaman, evaluasi organisasi, sekaligus penguatan semangat kaderisasi di tengah tantangan regenerasi komunitas.
Kegiatan dihadiri sejumlah pengurus dan anggota FLP Surabaya seperti Fafa, Retno, Noval. Dari Jatim yang hadir ketua FLP Jatim Ika Safitri dan Jarcab, Zikin, Gunawan,dan Suyanik. Dalam forum tersebut, pengurus membahas kondisi organisasi, program kerja, hingga tantangan mempertahankan keaktifan anggota.
Saat ini, salah satu persoalan yang dibahas ialah terkait NRA dan keaktifan anggota dalam organisasi.
Dalam komunitas terdapat perbedaan tingkat partisipasi anggota. Ada anggota yang aktif membayar kas dan terlibat dalam kegiatan, tetapi ada pula yang memilih menjadi “masyarakat FLP” tanpa keterlibatan penuh.
Meski menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, pengurus memilih tetap menjalankan organisasi. Bahkan sempat muncul wacana pembekuan FLP Surabaya karena minimnya SDM aktif. Namun, sebagian pengurus tetap ingin mempertahankan komunitas agar terus berjalan.
“Jalan saja dulu,” menjadi semangat yang terus dipegang pengurus.
Kesibukan anggota di pekerjaan maupun organisasi lain juga menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, FLP Surabaya mulai mencari pola kegiatan yang lebih fleksibel, seperti upgrading secara daring dan kolaborasi dengan komunitas lain.
Kegiatan kaderisasi selama ini dilakukan melalui halal bihalal, program Ramadan, hingga open recruitment anggota baru. Namun, pengurus mengakui adanya dilema dalam jenjang kaderisasi karena anggota madya masih sangat sedikit.
Dalam forum Turba FLP Jatim, menyampaikan gagasan pengembangan komunitas. Salah satu program yang tengah disiapkan ialah Literaya Literasi Surabaya yang akan menghadirkan peluncuran buku antologi kuliner pada Oktober mendatang.
FLP Surabaya juga mulai menggandeng influencer dan komunitas lain sebagai support system agar kegiatan lebih dikenal masyarakat luas.
Pengurus senior mengingatkan bahwa organisasi selalu mengalami dinamika regenerasi. “Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya,” menjadi refleksi dalam diskusi tersebut.
Meski menghadapi berbagai tantangan, para pengurus menilai FLP Surabaya tetap berjalan dengan baik berkat pengorbanan banyak pihak. Bahkan ada ketua yang mengabdikan diri hingga dua periode demi menjaga organisasi tetap hidup.
Dalam sesi diskusi, Mbak Sugiarti menyampaikan bahwa semangat ukhuwah dan amal jariyah menjadi salah satu alasan utama bertahan di FLP. Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi dapat menjadi jalan menghadirkan kegiatan positif sekaligus ladang pahala.
Dalam turba FLP Jatim juga muncul usulan agar SOP kaderisasi cabang nantinya dapat diverifikasi oleh wilayah agar proses pembinaan anggota lebih terarah dan terstandar.
FLP Jawa Timur berharap melalui agenda turba ini, cabang-cabang tidak hanya bertahan, tetapi juga terus tumbuh menjadi komunitas literasi yang aktif, solid, dan bermanfaat bagi masyarakat.










