Cerbung: Langit Masih Biru (Bagian 3-terakhir)

0
59

Bagian sebelumnya

Pada angin kutumpahkan beban

Pada waktu kugantung pertanyaan

Pada cahaya kuminta pertanggungjawaban

Mengapa hati masih berkalang duka tiada bertepi?

***

Subuh masih kelam ketika aku berpamitan. Kucium kedua belah pipi si bungsu. Dia tersenyum tapi aku yakin hatinya berbalut kabut.

“Hati-hati, Bu. Mengapa tidak minta diantar Cak Ang saja?”

“Tidak baik mengganggu paman sepagi ini. Doakan Ibu. Insya Allah semua akan baik-baik  saja. Jangan lupa belajar, tidak boleh tidur lagi, kunci pintu sebelum berangkat sekolah, dan sebaiknya Sirosuki, kucingmu itu dimasukkan ke kandang.” Kebiasaanku selalu berpesan panjang lebar sebelum pergi masih tetap kuulangi.

Dia menunduk kemudian kami kembali berpeluk.

“Sudah ya, Nduk. Nanti ibu telat. Sudah hampir jam setengah lima, lho.” Kuurai pelukannya dengan berat.

Aku segera mengeluarkan sepeda  dan langsung menaikinya. Kaki kanan yang berat terangkat, kadang membuatku kesulitan menemukan jagang.

“Sudah! Tidak akan terjadi apa-apa. Doakan saja ibu, Nduk. Jangan lupa tutup pintunya.”

Bungsuku agak lama mencium tangan dan kurasakan ada basah yang tertinggal di sana. Aku segera melajukan sepeda.

Jalanan sepi lengang. hingga tiba di pasar kecamatan. Keramaian pasar subuh itu sempat membuatku berniat memulai aktivitas di sana setelah si bungsu nanti menempuh pendidikan di pondok pesantren.

Perjalanan panjang membawaku melewati hutan yang disebut jaten cilik (kebanyakan pohon jati dalam hutan ini kecil karena akan ditebang secara berkala ketika mencapai ukuran diameter tertentu) yang konon di sana sering terjadi pembegalan. Kurapalkan segala doa yang bisa kuhafal. Kubaca setiap ayat yang mampu kuingat.

Bagaimanapun sepanjang perjalanan itu aku tetap dihantui bayangan kelam masa lalu.

Selama kurun waktu lima tahun terakhir dalam hidupnya, almarhum suamiku sering keluar masuk rumah sakit. Dia terdiagnosis menderita penyakit jantung bengkak dan hipertensi pada awalnya. Pengobatan rutin sudah dijalani selama empat tahun. Namun, akhirnya komplikasi terjadi tanpa bisa dihindari. Kedua ginjal dinyatakan tidak berfungsi secara normal.

Setelah itu bapak dari anak-anakku itu harus menjalani terapi hemodialisis. Jadwalnya rutin setiap dua kali dalam seminggu. Dia harus berhadapan dengan mesin pembersih racun dan limbah dalam darah. Segala ingatan tentangnya dan kondisiku saat ini  terasa mengguncang dada.

Berbagai peristiwa mengerikan bisa saja terjadi di luar perkiraan. Pasien yang datang dalam keadaan tanpa daya bisa keluar dengan tertawa. Pasien yang tadinya terlihat sehat setelah keluar dari ruang HD bisa juga sudah kehilangan nyawa. Sering kali drama tragis pun berlaku. Di tengah proses terapi pasien bisa menggigil kedinginan dan harus disentrong dengan lampu berkekuatan 200 watt. Kami menyebutnya shooting. Bisa juga pasien mengalami sesak napas hingga butuh aliran oksigen di atas angka 10 yang tidak bisa dialirkan melalui selang biasa, tetapi butuh alat yang kami sebut masker dan  teropong.

Aku menghela napas panjang dan mencoba menghapus setiap bayang kegetiran. Air mata yang menghalang pandang tiada sempat aku seka.

Sampai di pelataran RSA waktu di layar gawai menunjukkan angka 05.10. Perjalanan selama 40 menit. Aku sengaja mencari tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk agar aku tidak terlalu jauh berjalan. Parkiran mobil penuh tetapi tempat parkir sepeda masih luas tersedia.

Aku bertanya kepada satpam jaga dengan menunjukkan surat rujukan yang kubawa.

Petugas berseragam hitam itu menjelaskan bahwa aku harus ke lantai 2 gedung Tan’im.

“Ibu bisa melalui tangga di samping tetapi saya sarankan menggunakan lift saja.” Tangannya menunjuk suatu arah.

Aku menuju lift yang disarankan dan beberapa waktu menunggu hingga kotak itu membawaku ke lantai dua. Seperti halnya gedung Bir’ali, gedung Tan’im ini juga terdiri dari lima lantai.

Sampai di lantai dua. Masih kosong melompong. Tak seorang pun dapat aku temui. Sendiri, aku mencari papan dan klinik yang bertulis nama Dr. Sunarto, Sp Syaraf.

Aku duduk dan menunggu di depan ruangan itu. Lama, sampai aku mengantuk. Baru pada sekitar jam 06.00, ada petugas kebersihan memulai aktivitas.

“Mohon maaf, Pak. Di surat rujukan ini tertera Dr. Sunarto praktik jam lima pagi, tetapi sampai sekarang kok masih sepi, ya?”

“Dokter saraf yang praktik pada jam lima pagi itu Dokter Ida, tetapi beliau hanya melayani pasien lama pada hari Selasa dan Jumat. Kalau hari ini yang buka praktik dokter Sunarto. Jamnya bisa dilihat di papan. Jam 08.00-12.00.” Jelas sekali apa yang disampaikan petugas itu.

“Terus rujukan saya ini, bagaimana?”

“Sebaiknya Ibu tunggu hingga petugas jaga di sini datang ya. Bisa ditanyakan kepada beliau nanti, ya, Bu.”

Saya hanya bisa mengangguk dan berterima kasih.

Waktu menunjukkan 07.30 ketika ada seorang wanita berseragam biru duduk di depan komputer di depanku.

Aku segera menunjukkan surat rujukan.

Ternyata aku salah prosedur. Meskipun sudah datang jam lima aku belum mendapat nomor antrean untuk mendaftar di loket pendaftaran satu atau dua. Perawat yang baik itu menunjukkan runtutan cara yang benar.

Aku harus mengulang dari awal.

Hampir jam sembilan ketika akhirnya aku dipanggil untuk bertemu dokter. Sebelumnya perawat yang baik itu sudah mengecek tensi darah dan mencatat segala keluhan yang aku sampaikan.

“Ibu Karimah. Ya…ya…”Dokter itu melepas kaca matanya setelah membaca sesuatu di komputer juga lembar rekam medisku.

Aku masih tegang ketika pandangan ramah dokter itu menatapku yang berjarak sekitar satu meter di hadapannya. Namun, ada kaca setinggi ukuran manusia normal yang menghalangi kami.

“Apakah pernah jatuh sebelumnya?”

Aku mengernyitkan dahi, “Pernah dokter tapi itu sudah sepuluh tahun berlalu.”

Dokter Sunarto mengangguk, “Hem.” Pria dewasa yang terlihat bijak itu menganggukkan kepala, “Coba berjalan jinjit dan berjalan dengan tumit. Sepatunya dilepas!”

Perintah itu langsung aku turuti. Ternyata aku bisa berjalan dengan tumit tetapi tidak mampu berjalan jinjit.

Dokter itu kemudian menyuruhku berbaring di ranjang pasien. Pertama kali hal yang beliau lakukan adalah memukul lututku menggunakan benda seperti palu. Anehnya saat dipukul tiba-tiba kakiku terangkat.

 Kemudian aku juga diperintah untuk mengangkat kaki kanan, lalu kaki kiri secara bergantian. Mengangkat kedua kaki bersamaan. Hasilnya, ternyata aku tidak mampu menyejajarkan kedua kaki. Semuanya memang hal sepele yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.

“Saya akan buatkan surat untuk radiologi hari ini juga. Hasilnya dibawa saat kontrol minggu depan.” Dokter itu menyerahkan map bening yang berisi lembaran-lembaran, “Perawat di depan akan menjelaskan.”

Pikiranku bertalu-talu dihantui rasa tiada menentu.

Perawat menjelaskan semua hal yang harus kulakukan. Selanjutnya aku menyerahkan resep ke ruang farmasi.

“Sekarang ada jasa pengiriman obat. Ibu bisa menggunakannya karena obatnya nanti racikan dan lama untuk menunggunya.” Saran dari perawat itu pun aku terima.

 Mencari ruang radiologi tidaklah sulit karena sudah beberapa kali aku ke sana, tetapi jarak gedung ini ke ruangan itu sungguh berat kulalui dengan kondisi kaki yang berat melangkah saat ini.

Dengan peluh di sekujur tubuh aku tiba di ruang radiologi.

Antrean tidak panjang, tetapi butuh waktu hampir satu jam ketika tiba giliran namaku dipanggil.

Ruangan dengan ranjang dari kaca tebal. Peralatan dari besi baja menggantung di atasnya. Berdebar rasa di dada ketika harus berada di antaranya.

Dua kali rontgen dilakukan atas diriku. Pada posisi telentang dan posisi miring.

“Hasilnya bisa diambil hari Jumat atau Sabtu ya, Bu. Jam 08.00-12.00.” Seorang petugas menunjuk pada kertas yang ditempel di samping loket.

Aku berterima kasih dan mengucap salam untuk berpamitan.

Obat diantar ke rumah sebelum waktu Asar tiba.

***

Kontrol kedua

“Terjadi cedera saraf sehingga tulang panggul menyempit dan ligamen menebal. Apa keluhan ibu sekarang?”

“Masih sama, Dokter. Tidak kuat berdiri lama dan berjalan jauh.”

“Mulai sekarang tidak boleh mengangkat benda berat. Hindari konsumsi lemak dan gorengan. Satu lagi, harus menurunkan berat badan.”

Aku terperangah.

Dokter mengangkat dan menunjukkan hasil radiologi yang sebenarnya sama sekali tidak kumengerti.

“Line weight bearing break on the promotorium. Penyempitan tulang hingga ligamen menebal. Ibu dahulu jatuh tanpa pengobatan maksimal. Ditambah pekerjaan yang selalu mengangkat beban berat. Apalagi berat badan ibu juga bermasalah.”

“Apakah itu sangat serius, Dokter”

Dokter senior itu tertawa, “Itu masalah biasa. Kasus yang sangat sering terjadi. Orang tidak merasa penting untuk periksa ke dokter sebelum merasakan gejala yang menyakiti dirinya.”

Aku menunduk dalam, sama sekali tidak menyanggah ucapan dokter.

“Tidak mengapa Bu Karimah, jalani pengobatan dan pelatihan rutin sesuai prosedur. Tetap semangat.”

Aku keluar dari rumah sakit dengan perasaan terpecah belah. Namun, seperti keyakinan yang selalu kutanamkan pada anak-anakku.

“Titik terberat dalam kehidupan ini sudah kita lewati, Sayang. Selama langit masih biru. Akan selalu ada harapan baru.”

Aku yakin perjalanan menuju senja itu tidak akan mudah. Pada usia yang hampir setengah abad ini, ujian kesehatan harus kuterima dan kujalani.

Tiga bulan berlalu dengan berat. Kontrol dan konsultasi rutin seminggu sekali. Hingga pagi itu

“Apakah sudah ada perubahan ke arah lebih baik, Bu Karimah?”

“Alhamdulillah, seperti yang Dokter lihat saat ini,” Aku mencoba berdiri tegak, berjinjit, dan berjalan dengan tumit tanpa diperintah, “Kadang saya merasa lebih baik, Namun, tidak jarang saya masih merasakan sakit seperti kram otot dan ada satu hal yang baru saya sadari tadi malam. Ternyata salah satu jempol kaki saya tidak bisa digerakkan.”

Dokter Sunarto tertawa, “Sudah tiga bulan berjalan dan masih belum ada perubahan signifikan?”

Aku kembali diminta berjalan jinjit dan berjalan dengan tumit. Namun, kali ini berulang-ulang seperti latihan catwalk.

“Tolong kaos kakinya juga di lepas!”  Pandangan dokter itu fokus pada bagian kakiku.

Aku menurut.

Dokter itu menggelengkan kepala, “Tulang-tulang jari kaki ada yang patah dan bengkok.” Dokter itu menggunakan suatu alat seperti tongkat kecil untuk menunjuk bagian kakiku yang terlihat menonjol.”

Aku terdiam lalu kembali mengenakan kaos kaki.

“Hari ini saya berikan rujukan internal untuk menjalani fisioterapi.”

Aku kaget, “Jadwal fisioterapinya hari ini juga, Dokter?”

“Kalau bisa, iya. Secepatnya! Tunjukkan surat ini ke klinik nomor 15. Namun,  sebelumnya serahkan dulu resep ini ke ruang obat.”

Ya Rabby, fisioterapi. Ujian seperti apalagi ini?

Saya segera menuju klinik 15, perawat menjelaskan bahwa untuk hari itu dan beberapa hari selanjutnya jadwal fisioterapi sudah penuh.

“Insya Allah hari Jumat siang. Dokter akan datang setelah jam 13.00. Sebaiknya Anda datang pada jam 12.00.” Perawat itu dengan ramah menjelaskan.

Hujan turun dengan deras ketika aku keluar, gigil menyerang tetapi aku sudah mempersiapkan jas hujan di jok sepeda motor. Aku terus bergerak meski perlahan.

Debar-debar di dadaku tiada menentu. Detik-detik terasa berat mencekam menunggu jadwal fisioterapi itu.

“Itu hanya ada peralatan yang terhubung dengan listrik lalu dipasang pada bagian tubuh Ibu. Akan terasa ada sensasi seperti kesetrum yang memicu reaksi syaraf Bu Karimah.”

Aku menghela napas panjang.

Dokter tersenyum, “Semua akan baik-baik saja.”

Aku terdiam, membayangkan peristiwa beberapa minggu sebelumnya. Seseorang pernah menyarankan untuk terapi listrik.

Aku berdiri pada, alat semacam karpet yang dihubungkan dengan dinamo. Ada, setrum yang menjalar dari alat itu ke kaki, betis, lutut hingga paha saat aku berdiri di atasnya. Ketika sudah tidak kuat berdiri maka aku diizinkan duduk. Namun, pada posisi duduk sensasinya hanya terasa sebatas betis bagian bawah.

Akhirnya aku memilih berdiri sambil berpegangan.

Setelah menjalani terapi itu tubuhku terasa lebih ringan. Aku pikir harapan untuk sembuh itu semakin besar. Namun, pada keesokan harinya seluruh tubuhku terasa panas. Akhirnya aku menyerah dan harus  meminta obat ke dokter.

Kini terapi rutin ditambah fisioterapi harus kujalani sebagai sarana ikhtiar untuk kesembuhan diri ini.

Alangkah mahalnya arti sebuah kesehatan dan itu baru kusadari ketika raga didera sakit tiada terperi. Namun, selama langit masih biru, selama itu pula masih ada harapan baru.

Ikriima Ghani adalah nama pena dari Siti Romlah. Berdomisili di Tuban, Bumi Wali. Menulis adalah suatu hal yang disukai sejak lama tetapi baru berani berkarya dalam bentuk antologi ketika usia mulai senja. Penulis bisa disapa lewat FB dab IG Asmarani Syafira
Konten sebelumnyaCernak: Kamu Pasti Bisa, Bebi!
Konten berikutnyaPentigraf: Korban Kebakaran

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini