Penulis: Kontributor

  • Tuhan, Apa Aku Siap dengan Amanah Cinta-Mu?

    Tuhan, Apa Aku Siap dengan Amanah Cinta-Mu?

    Menikah bukan sekadar tentang pesta, gaun indah, atau status baru dalam kehidupan. Pernikahan adalah amanah besar yang Allah titipkan kepada dua insan untuk saling menjaga, membimbing, dan menguatkan dalam perjalanan menuju ridha-Nya. Banyak orang memimpikan indahnya cinta setelah akad, tetapi sedikit yang benar-benar mempersiapkan diri untuk memikul tanggung jawab di baliknya.

    Di zaman sekarang, menikah sering dipandang sebagai pelarian dari kesepian, tekanan usia, atau sekadar mengikuti tren sosial. Padahal, pernikahan bukan tempat pelarian. Ia adalah ibadah panjang yang membutuhkan kesiapan hati, ilmu, kesabaran, dan kedewasaan iman. Karena itu, sebelum mengucapkan “aku siap menikah,” ada baiknya kita bertanya lebih dulu kepada diri sendiri: “Tuhan, apa aku siap dengan amanah cinta-Mu?”

    Menikah Adalah Ibadah, Bukan Sekadar Hubungan

    Allah menciptakan pernikahan bukan tanpa tujuan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” — (QS. Ar-Rum: 21)

    Ayat ini menjelaskan bahwa pernikahan adalah tempat bertumbuhnya ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Namun ketiganya tidak hadir begitu saja. Semua membutuhkan perjuangan.

    Cinta dalam Islam bukan hanya rasa berbunga-bunga. Cinta adalah tanggung jawab. Ketika seseorang menikah, ia tidak hanya menerima pasangan dengan segala kelebihannya, tetapi juga siap membersamai kekurangannya. Ia harus siap menghadapi perbedaan sifat, kondisi ekonomi, masalah keluarga, bahkan ujian kehidupan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

    Karena itu, kesiapan menikah tidak cukup hanya dengan “saling cinta.” Yang jauh lebih penting adalah kesiapan menjadi hamba Allah yang bertanggung jawab.

    Persiapan Hati Sebelum Menikah

    Sebelum mencari pasangan terbaik, seseorang perlu memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Sebab pernikahan tidak akan berjalan baik jika dua orang yang sama-sama belum selesai dengan dirinya dipaksa berjalan bersama.

    Banyak rumah tangga runtuh bukan karena kurang cinta, melainkan karena kurang dewasa dalam menghadapi masalah. Ada yang mudah marah, egois, sulit mengalah, bahkan belum mampu mengendalikan emosi.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” — (HR. Tirmidzi)

    Hadits ini menunjukkan bahwa akhlak adalah fondasi penting dalam rumah tangga. Menikah berarti hidup berdampingan setiap hari. Maka akhlak yang baik jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar wajah rupawan atau harta melimpah.

    Persiapan hati juga berarti membersihkan niat. Jangan menikah hanya demi pengakuan manusia atau karena takut disebut terlambat menikah. Niatkan pernikahan sebagai jalan ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah.

    Menyiapkan Ilmu Sebelum Akad

    Salah satu kesalahan terbesar adalah menikah tanpa ilmu. Banyak orang sibuk mempersiapkan dekorasi pernikahan, tetapi lupa mempersiapkan ilmu rumah tangga.

    Padahal, menjadi suami atau istri adalah peran besar yang memiliki hak dan kewajiban. Tanpa ilmu, seseorang akan mudah tersesat dalam konflik rumah tangga.

    Allah berfirman:

    “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” — (QS. An-Nahl: 43)

    Belajar tentang pernikahan adalah bentuk keseriusan dalam menjaga amanah Allah. Pelajari bagaimana cara berkomunikasi yang baik, memahami pasangan, mengatur keuangan, mendidik anak, hingga menyelesaikan konflik dengan bijak.

    Jangan sampai setelah menikah baru menyadari bahwa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan rumah tangga.

    Kesiapan Finansial dan Tanggung Jawab

    Islam tidak menuntut seseorang menjadi kaya raya sebelum menikah. Namun Islam mengajarkan pentingnya tanggung jawab.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu, maka menikahlah.” — (HR. Bukhari dan Muslim)

    Kata “mampu” dalam hadits ini bukan hanya tentang harta, tetapi juga kemampuan memikul tanggung jawab lahir dan batin.

    Pernikahan membutuhkan kesungguhan dalam mencari nafkah halal, mengatur kebutuhan rumah tangga, dan belajar hidup sederhana. Tidak semua rumah tangga langsung mapan. Akan ada masa sulit, pengorbanan, bahkan air mata dalam perjuangan bersama.

    Karena itu, menikah bukan tentang siapa yang paling kaya, melainkan siapa yang paling siap berjuang.

    Menikah Adalah Tentang Bertumbuh Bersama

    Tidak ada pasangan yang sempurna. Dua manusia yang menikah adalah dua pribadi dengan latar belakang berbeda yang sedang belajar menyatukan langkah.

    Kadang cinta diuji oleh ekonomi. Kadang diuji oleh rasa bosan. Kadang diuji oleh kesalahpahaman kecil yang membesar karena ego.

    Di situlah pentingnya kesabaran dan komunikasi.

    Allah berfirman:

    “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” — (QS. An-Nisa: 19)

    Ayat ini mengajarkan bahwa pasangan harus diperlakukan dengan baik, lembut, dan penuh penghormatan. Pernikahan bukan ajang saling menyakiti, melainkan tempat saling menguatkan.

    Pasangan yang baik bukan yang tidak pernah bertengkar, tetapi yang mau belajar memperbaiki diri setiap kali ada masalah.

    Jangan Menikah Karena Takut Sendiri

    Ada orang yang menikah karena takut kesepian. Ada yang menikah karena iri melihat orang lain bahagia. Bahkan ada yang menikah untuk menutupi luka masa lalu.

    Padahal, jika hati belum sembuh, luka itu bisa terbawa ke dalam rumah tangga.

    Menikah tidak otomatis menyelesaikan semua masalah hidup. Pernikahan justru membuka lembaran tanggung jawab baru yang lebih besar. Karena itu, seseorang perlu berdamai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri sebelum mengajak orang lain berjalan bersama.

    Jika hari ini belum siap menikah, bukan berarti gagal. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan dirimu agar lebih matang sebelum menerima amanah besar itu.

    Doa dan Tawakal dalam Menanti Jodoh

    Dalam urusan jodoh, manusia hanya bisa berikhtiar, tetapi Allah yang menentukan segalanya. Kadang seseorang merasa sudah siap, tetapi Allah belum mempertemukannya dengan pasangan yang tepat. Kadang pula Allah mempercepat pertemuan ketika hamba-Nya belum menduga.

    Yang terpenting adalah tetap menjaga diri dan memperbaiki kualitas iman.

    Allah berfirman:

    “Perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik.” — (QS. An-Nur: 26)

    Ayat ini menjadi pengingat bahwa cara terbaik mendapatkan pasangan baik adalah dengan memperbaiki diri terlebih dahulu.

    Jangan lelah berdoa. Jangan putus asa menanti. Karena jodoh bukan hanya tentang siapa yang datang lebih cepat, tetapi siapa yang paling tepat menurut Allah.

    Penutup

    Menikah adalah amanah cinta dari Allah. Ia bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi juga jalan panjang menuju surga. Karena itu, persiapan menikah tidak cukup hanya dengan kesiapan materi atau pesta megah. Yang paling penting adalah kesiapan hati, iman, akhlak, dan tanggung jawab.

    Mungkin hari ini kita masih sering bertanya:

    “Tuhan, apa aku siap dengan amanah cinta-Mu?”

    Jika pertanyaan itu masih ada dalam hati, mungkin itu tanda bahwa kita sedang belajar menjadi lebih dewasa. Sebab orang yang benar-benar siap bukanlah mereka yang merasa sempurna, melainkan mereka yang terus memperbaiki diri sebelum memulai perjalanan suci bernama pernikahan.

    Semoga Allah mempersiapkan hati kita menjadi pasangan yang mampu mencintai karena-Nya, bertahan karena-Nya, dan bersama hingga surga-Nya. Aamiin.

    Artikel ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim

  • Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

    Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

    Salah satu kekeliruan paling umum dalam melihat Salahuddin Al-Ayyubi adalah menganggap bahwa pembebasan Palestina didapatkan dari kepiawaiannya memimpin medan perang. Pertempuran Hattin (1187) di dekat Danau Galilea sering dianggap sebagai titik penentu Perang Salib, karena di sana ia dapat mengalahkan tentara Salib. Padahal, langkah paling menentukan justru terjadi jauh sebelumnya, di Mesir, dalam ruang-ruang kekuasaan, bukan di tengah gemuruh pedang.

    Pada pertengahan abad ke-12, Mesir dikuasai Daulah Fathimiyah, kekhalifahan Syiah Ismailiyah yang menjadi rival ideologis Abbasiyah Sunni di Baghdad. Bukan sekadar perbedaan mazhab, ini pertarungan legitimasi kekuasaan di dunia Islam. Saat perang salib menggila dan tentara salib mengancam merebut Mesir, Khalifah Fathimiyah Al-`Aadhid panik meminta bantuan dari sultan Suriah, Nuruddin Zanki.

    Nuruddin mengirim pasukan dipimpin Asaduddin Shirkuh, paman Salahuddin Al-Ayyubi. Pasukan ini terdiri dari suku Kurdi dan Turki, dengan Shalahuddin sebagai komandan kunci. Mereka datang “menyelamatkan” Fathimiyah dari Salib, tapi sebenarnya punya agenda Sunni yang lebih besar. Shirkuh kemudian diangkat wazir disana, dan setelah ia wafat Maret 1169, Salahuddin, baru berusia 31 tahun, menggantikannya atas restu Al-`Aadhid.

    Sebagai wazir, Salahuddin Al-Ayyubi bekerja penuh di struktur Fathimiyah yaitu mengelola administrasi, militer, keuangan, bahkan melayani khalifah secara formal. Ia tunjukkan kepiawaiannya dengan menumpas invasi Salib di Damietta dan pemberontakan internal. Namun secara ideologis, posisinya paradoksal dimana ia merupakan Sunni taat, loyal kepada Abbasiyah, tapi jadi teknokrat di rezim yang menentang Baghdad.

    Di sinilah kompleksitas terlihat, perubahan dari dalam bukan proses romantis. Ia harus bersabar, menghitung langkah, menahan dilema etis, dan menghindari konfrontasi prematur yang bisa picu perang saudara.

    Tidak semua pihak bisa langsung disingkirkan. Tidak semua struktur bisa langsung dirombak. Salah langkah sedikit saja bisa memicu pemberontakan atau bahkan menggagalkan posisinya sepenuhnya. Di sinilah menariknya, bagaimana ia menggeser legitimasi dari daulah Syiah menjadi Sunni secara halus, nyaris tanpa ledakan konflik di awal.

    Ketika Al-`Aadhid jatuh sakit menjelang wafatnya pada 1171, situasi menjadi sangat sensitif dan kekuasaan sudah sangat melemah. Secara de facto, kendali pemerintahan berada di tangan sang wazir, Shalahuddin. Namun secara simbolik, legitimasi tetap berada pada sang khalifah.

    Riwayat mencatat bahwa lingkaran istana mulai menyadari bahwa ini adalah akhir dari sebuah dinasti. Shalahuddin tidak serta-merta mendeklarasikan perubahan secara terbuka saat khalifah masih hidup. Ia menunggu dengan tenang.

    Dan begitu Al-`Aadhid wafat, langkah simbolik itu dilakukan yaitu memerintahkan agar khutbah Jumat di Mesir tidak lagi menyebut nama khalifah Fathimiyah, tetapi beralih kepada khalifah Abbasiyah di Baghdad.

    Tidak ada pertempuran besar. Tidak ada penyerbuan istana. Sebuah kekhalifahan yang telah berdiri lebih dari dua abad berakhir berubah secara simbolik dengan gema khutbah shalat jum`at.

    Namun justru di situlah letak kedalamannya. Apa yang terlihat sederhana di permukaan sebenarnya adalah hasil dari akumulasi strategi bertahun-tahun, konsolidasi militer, pengaruh politik, pengendalian elite, dan penggeseran loyalitas masyarakat secara perlahan.

    Shalahuddin tidak menghancurkan sistem itu dari luar secara terbuka karena posisi Mesir sangat rawan. Mereka bisa jadi korban pasukan salib atau bahkan aliansi pasukan salib dalam satu waktu. Maka mengambil legitimasi dari dalam bisa menjadi pintu kemenangan yang sunyi tapi efektif.

    Tetapi ada hal penting dicatat bahwa pendekatan seperti ini bukan jalan mudah karena penuh dengan risiko, diwarnai ketegangan, dan membutuhkan kesabaran yang hampir tidak terlihat. Bekerja dalam sistem yang bertentangan dengan keyakinan sendiri berarti terus berada dalam dilema antara kompromi dan tujuan jangka panjang.

    Dari sinilah Mesir kemudian berubah menjadi basis kekuatan Sunni yang baru. Dengan sumber daya ekonomi yang besar, stabilitas politik yang lebih solid, dan kesatuan ideologis dengan dunia Sunni, Shalahuddin akhirnya memiliki fondasi untuk melangkah ke tahap berikutnya yaitu konsolidasi Suriah dan konfrontasi dengan Tentara Salib.

    Cerita ini menandakan bahwa, pembebasan Palestina tidak dimulai di Palestina semata. Tapi diprakarsai oleh rel panjang visi perjuangan yang terjal dari luar, meskipun kadang harus rela sesekali bermain lumpur.

    Ada refleksi besar yang bisa kita tarik dan terasa sangat relevan dari kisah ini, bahkan di konteks modern.

    Pertama, perubahan besar hampir selalu ditentukan oleh kerja-kerja sunyi yang tidak terlihat. Kita sering terpaku pada “momen kemenangan”, padahal yang lebih menentukan adalah fase panjang sebelum itu, fase membangun sistem, membentuk legitimasi, dan mengelola struktur.

    Kedua, bekerja dari dalam sistem yang tidak ideal seringkali adalah pilihan strategis, bukan bentuk kompromi yang lemah. Shalahuddin menunjukkan bahwa berada di dalam tidak selalu berarti tunduk, karena kadang justru itu adalah posisi paling efektif untuk melakukan transformasi. Tapi, seperti yang terlihat, hal ini menuntut kesabaran ekstrem, kalkulasi yang presisi, keimanan yang kuat, serta ketangguhan dalam eksekusi visi jangka panjang.

    Ketiga, tidak semua perubahan harus dimulai dengan konfrontasi terbuka. Ada kalanya, langkah paling radikal justru dilakukan secara bertahap, sampai sebuah sistem runtuh bukan karena diserang, tetapi karena tidak lagi punya pijakan.

    Dan mungkin itu pelajaran paling tajam dari fase ini adalah bahwa kemenangan besar sering kali lahir bukan dari keberanian sesaat, tetapi dari kesanggupan menahan diri dalam jangka panjang.

    *Ditulis oleh Dadang Irsyam, Divisi Kepalestinaan FLP Wilayah Jawa Timur

  • Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

    Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

    Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur menggelar kegiatan halalbihalal secara daring pada Sabtu, 11 April 2026 dengan pembukaan oleh MC dari Divisi Kaderisasi, Maulina. Setelah itu, Ketua FLP Jawa Timur, Ika Safitri, memberikan sambutan singkat. Pengurus dan anggota FLP dari berbagai wilayah di Jawa Timur mengikuti kegiatan ini dengan cukup antusias.

    Dalam sambutannya, Ika menekankan pentingnya menjaga ukhuwah di tengah keterbatasan pertemuan langsung. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para ketua cabang yang telah berpartisipasi dalam program video Kultum Cahaya Senja.

    Mengusung tema “Kembali ke Fitrah: Menghapus Noda dengan Cerita, Mempererat Ikatan dalam Kata”, kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum FLP periode 2025–2029, Nafi’ah al-Ma’rab, sebagai narasumber utama.

    Dalam pemaparannya, Nafi’ah menilai kinerja FLP Jawa Timur cukup baik. Hal ini terlihat dari konsistensi wilayah tersebut dalam menyelenggarakan berbagai agenda berskala nasional. Meski demikian, kita tidak bisa menghindari dinamika organisasi, terutama dengan semakin beragamnya latar belakang anggota.

    Tantangan Membangun Solidaritas

    Menurutnya, FLP merupakan organisasi yang heterogen. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus kekuatan dalam membangun solidaritas. Ikatan ukhuwah menjadi fondasi utama yang menjaga organisasi tetap solid.

    Ia juga menyoroti pentingnya momentum Syawal sebagai waktu untuk saling memaafkan. Dalam interaksi organisasi, kita tidak dapat menghindari potensi kesalahpahaman dan konflik. Karena itu, sikap memaafkan menjadi kunci menjaga hubungan antar anggota, seperti pada surah Ali-Imran ayat 134:

    “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

    Selain itu, Nafi’ah menegaskan bahwa kerja organisasi di FLP bertumpu pada keikhlasan, bukan imbalan. Tanpa keikhlasan, aktivitas organisasi berpotensi terhenti.

    “Seni menjaga ukhuwah ini harus tetap dijaga agar kegiatan tetap berjalan. Kepala sekolah yang teladan dan sukses, apakah bisa memimpin FLP dan kegiatan tetap berjalan? Karena anggota FLP berkumpul karena ikatan hati, bukan karena bayaran dan prestasi. Pemimpin di FLP harus cakap dan harus memberdayakan anggota-anggotanya,” ujarnya.

    Langkah strategis menjaga keberlangsungan organisasi

    Lebih lanjut, Nafi’ah memaparkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Di antaranya adalah penguatan pembinaan kader, peningkatan kemampuan komunikasi, dan rekrutmen anggota baru untuk menghadirkan energi baru dalam organisasi. Ia juga menekankan pentingnya silaturahmi, termasuk dengan menjangkau anggota yang kurang aktif.

    Pemimpin menjadi tauladan bagi anak buahnya. Bagaimana totalitas dalam mengelola organisasi dan juga berkarya melalui tulisan. Selain itu, peningkatan kemampuan komunikasi menjadi hal penting dalam organisasi, terutama untuk mengatasi potensi kesalahpahaman, baik saat bertemu langsung maupun dalam interaksi melalui grup chat. Upaya ini diperlukan agar setiap pesan dapat dipahami dengan tepat dan tidak menimbulkan salah makna di antara anggota.

    Solusi ketiga adalah melakukan rekrutmen anggota baru. Langkah ini dapat menjadi upaya menghadirkan energi segar di tengah dinamika organisasi. Ketika terjadi persoalan di suatu cabang atau ranting, penambahan anggota baru bukan untuk mengabaikan masalah, tetapi untuk memperkuat pergerakan dengan hadirnya penggerak-penggerak baru. Tanpa rekrutmen, komposisi anggota yang stagnan berpotensi membuat organisasi rentan terhadap konflik, layaknya air kolam yang tidak mengalir dan akhirnya mengendap.

    Solusi terakhir adalah memperkuat silaturahmi. Meski tidak berbasis imbalan, peran pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kebersamaan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengunjungi anggota yang kurang aktif serta memberikan perhatian atau tali kasih. Upaya ini dinilai efektif untuk mempererat ukhuwah dan menjaga keterikatan antaranggota.

    Memetakan peran organisasi

    Menurut Nafi’ah al-Ma’rab, memetakan peran anggota dalam organisasi menjadi cara untuk meningkatkan keaktifan anggota. Ia membagi anggota menjadi tiga kategori, yakni pemikir, penggerak, dan pengikut. Pemetaan ini penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Pemikir tidak perlu banyak, tetapi harus fokus dan berasal dari anggota yang andal. Peran mereka adalah merancang arah dan melakukan pembinaan.

    Selanjutnya, peran penggerak diisi oleh anggota yang menjalankan program dan menggerakkan kegiatan. Penggerak ini bisa berasal dari anggota madya, meski tidak menutup kemungkinan muncul dari level lain. Sementara itu, anggota yang tidak terlalu aktif dapat berperan sebagai pengikut, misalnya menjadi peserta dalam berbagai kegiatan seperti seminar. Ia menegaskan, tanpa keberadaan pemikir, organisasi akan sulit berjalan. Karena itu, ketua memiliki peran penting dalam menguatkan kapasitas dan peran anggota di setiap lini. Ketiga peran tersebut dinilai saling melengkapi dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi.

    Melalui kegiatan ini, FLP Jawa Timur berharap dapat mempererat hubungan antaranggota serta menjaga semangat berkarya di tengah keterbatasan interaksi langsung.

    *Jika ingin menonton rekaman Zoom bisa akses Youtube FLP Jatim.

  • Rumah dalam Lemari

    Rumah dalam Lemari

    Lemari tua di kamar belakang itu tak pernah benar-benar tertutup.

    Pintunya selalu menyisakan celah selebar jari. Dari celah itu, setiap malam, keluar bau kapur barus, melati kering, dan hujan yang entah datang dari mana.

    Aku biasa tidur di lantai, tepat di depan lemari itu. Dulu Ibu sering marah karena aku tak mau tidur di ranjang.

    “Nanti masuk angin,” katanya sambil menarik selimut sampai ke daguku.

    Sekarang ranjang itu rapi, terlalu rapi, seperti belum pernah ditiduri siapa pun. Bantalnya berdiri tegak. Selimutnya licin. Tak ada lekukan kepala, tak ada rambut yang tertinggal di sarung bantal.

    Hanya lemari itu yang masih berani bernapas.

    Malam-malam tertentu, ketika hujan jatuh pelan di atap seng, suara dari dalam lemari terdengar seperti sendok mengaduk teh.

    Cekikik kecil.

    Ting.

    Ting.

    Aku duduk. Jam dinding di ruang tamu berhenti di pukul 02.17 sejak Ibu dimakamkan, tapi malam tetap bergerak dengan caranya sendiri. Bulan pindah ke jendela. Cicak-cicak saling memanggil. Dan dari celah lemari, cahaya kuning tumpah ke lantai.

    Aku mendorong pintunya.

    Di dalam lemari itu ada rumah.

    Bukan rumah kami. Rumah itu lebih kecil, seukuran kotak musik. Atapnya terbuat dari kain batik. Jendelanya memancarkan cahaya temaram. Asap tipis mengepul dari cerobong, dan di halaman depan berdiri pohon mangga yang dahannya dipenuhi sendok-sendok aluminium.

    Saat angin bertiup, sendok-sendok itu berdenting seperti hujan yang lupa jatuh.

    Aku mengecil.

    Atau mungkin rumah itu yang membesar.

    Tahu-tahu aku sudah berdiri di halaman, dengan lutut penuh tanah dan tangan yang berbau minyak kayu putih.

    Pintu rumah terbuka sedikit.

    Di dalam, radio tua di atas meja sedang memutar lagu yang dulu sering dinyanyikan Ibu sambil menyapu. Lagu itu terdengar seperti seseorang melipat senja berkali-kali.

    Di dapur, sepanci sayur bening mendidih sendiri.

    Wortel dan bayam berputar pelan di dalamnya seperti ikan kecil.

    Di kursi dekat jendela tergantung cardigan abu-abu milik Ibu.

    Lengannya bergoyang perlahan.

    Seolah ada seseorang yang baru saja melepaskannya.

    “Bu?”

    Tak ada jawaban.

    Hanya suara pisau memotong bawang dari ruangan belakang.

    Tak.

    Tak.

    Tak.

    Aku mengikuti suara itu melewati lorong sempit. Dinding lorong dipenuhi foto-foto keluarga, tapi semua wajah di foto menghadap ke arah lain. Ayah menoleh ke jendela. Aku kecil menatap langit-langit. Dan Ibu—di setiap foto—Ibu selalu membelakangi kamera.

    Di ujung lorong ada pintu merah.

    Ketika kubuka, aku masuk ke laut.

    Airnya setinggi dada, hangat seperti air teh. Langit di atas berwarna hijau pucat. Di permukaan laut terapung ribuan benda dari rumah kami: sisir bergigi patah, centong nasi, sandal jepit, cangkir retak, gulungan benang, gunting kecil, dan sapu lidi.

    Semua bergerak perlahan mengikuti arus.

    Di kejauhan, seseorang berdiri di atas meja makan yang mengapung.

    Rambutnya panjang.

    Ia mengenakan daster biru dengan bunga-bunga kecil.

    Aku berenang.

    Air laut berubah menjadi beras. Butir-butir putih memenuhi mulut dan telingaku. Setiap kali aku bergerak, terdengar suara Ibu memanggil namaku dari dalam butiran itu.

    Pelan.

    Jauh.

    Seperti suara dari dasar sumur.

    Aku terus berenang sampai meja itu cukup dekat.

    Di atas meja ada piring, teko, semangkuk jeruk, dan sepiring nasi yang masih mengepul.

    Perempuan itu duduk membelakangiku.

    Tangannya sedang mengupas mangga.

    Kulit mangga itu jatuh ke laut dan berubah menjadi ikan kuning.

    “Bu,” kataku lagi.

    Tangannya berhenti.

    Pisau kecil di tangannya memantulkan langit hijau.

    Ia menoleh sedikit.

    Tapi wajahnya tertutup kabut tipis, seperti kaca kamar mandi setelah disiram air panas.

    Aku naik ke atas meja.

    Kakiku basah oleh kuah sayur.

    Atau mungkin air laut.

    Atau mungkin sesuatu yang lain.

    “Aku pulang,” kataku.

    Perempuan itu meletakkan pisau.

    Lalu, dengan pelan, ia mendorong piring nasi ke arahku.

    Di atas nasi itu ada telur dadar yang dipotong menjadi empat.

    Persis seperti dulu.

    Persis seperti setiap pagi ketika aku terlambat sekolah dan Ibu menyuruhku makan lebih cepat.

    Aku ingin bicara banyak hal.

    Tentang rumah yang sekarang terlalu sunyi.

    Tentang Ayah yang mulai bicara sendiri di teras.

    Tentang jemuran yang tak pernah lagi berbau matahari.

    Tentang diriku yang sering lupa seperti apa suara tertawa Ibu.

    Tapi mulutku penuh nasi.

    Dan setiap kunyahan berubah menjadi pasir.

    Perempuan itu mengangkat tangan.

    Jarinya menyentuh rambutku.

    Hangat.

    Lalu tiba-tiba rambutku dipenuhi kupu-kupu putih.

    Kupu-kupu itu keluar dari kepalaku, satu per satu, membawa potongan-potongan ingatan di sayapnya.

    Ibu duduk di pinggir ranjang sambil menjahit kancing.

    Ibu meniup sendok bubur sebelum menyuapiku.

    Ibu tertidur di sofa dengan televisi masih menyala.

    Ibu tertawa sampai bahunya berguncang karena aku salah mengucapkan nama tetangga.

    Kupu-kupu itu beterbangan ke langit.

    Dan langit mulai retak.

    Retakannya berbentuk garis-garis tipis, seperti piring lama yang terlalu sering dipakai.

    Dari sela retakan, jatuh hujan benang.

    Benang-benang itu menggantung di udara.

    Perempuan di depanku mengambil satu.

    Ia mulai menjahit langit.

    Tusuk demi tusuk.

    Tangannya cepat dan tenang.

    Seperti ketika dulu ia menjahit seragam sekolahku yang robek.

    Aku menatap tangannya lama sekali.

    Ada bekas luka kecil di jempol kirinya.

    Bekas terkena parutan kelapa.

    Aku ingat.

    Aku ingat semuanya.

    “Jangan pergi lagi,” kataku.

    Jarum di tangannya berhenti.

    Laut mulai surut.

    Meja makan perlahan turun ke dasar. Jeruk-jeruk menggelinding. Teko pecah menjadi burung-burung kecil.

    Perempuan itu berdiri.

    Kabut di wajahnya menipis sedikit.

    Aku melihat dagunya.

    Bibirnya.

    Lalu senyum tipis yang sangat kukenal.

    Ia mengangkat telunjuk dan menunjuk ke dadaku.

    Tepat di tengah.

    Di sana, saku kemejaku bergerak-gerak.

    Aku membuka saku itu.

    Di dalamnya ada rumah kecil.

    Rumah dengan atap kain batik.

    Dengan pohon mangga penuh sendok.

    Dengan cardigan abu-abu di dekat jendela.

    Dan lampu dapur yang tak pernah padam.

    Ketika aku mengangkat kepala lagi, perempuan itu sudah berjalan menjauh di atas air yang kini berubah menjadi lantai dapur.

    Langkahnya pelan.

    Tak bersuara.

    Tubuhnya makin jauh, melewati pintu merah, lorong foto, ruang tamu, lalu masuk ke dalam lemari.

    Aku mengejarnya.

    Tapi kakiku tenggelam dalam tumpukan beras.

    Saat akhirnya aku berhasil membuka pintu lemari, kamar belakang sudah kembali seperti semula.

    Gelap.

    Sepi.

    Hanya ada bau melati kering.

    Dan di lantai, tepat di depan kakiku, tergeletak satu sendok aluminium.

    Masih hangat.

    Sejak malam itu, lemari tak pernah lagi mengeluarkan cahaya.

    Namun setiap kali hujan turun, aku mendengar denting pelan dari dalam kayunya.

    Ting.

    Ting.

    Seperti seseorang sedang mengaduk teh.

    Aku tak pernah membuka lemari itu lagi.

    Aku hanya duduk di depannya, memegang sendok aluminium itu erat-erat di tangan.

    Kadang-kadang, jika rumah terlalu sunyi dan malam terlalu panjang, aku menyelipkan tangan ke saku kemeja.

    Di sana, jauh di dalam lipatan kain, masih ada sebuah rumah kecil.

    Lampunya menyala.

    Dan seseorang sedang menungguku pulang.

    Ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim
    Gresik, 080426

  • Sudahkah Kita Memantaskan Diri?

    Sudahkah Kita Memantaskan Diri?

    Hijrah. Sebuah kata yang sederhana, namun sarat makna. Dalam perjalanan hidup seorang muslim, hijrah bukan sekadar berpindah tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perjalanan batin, perpindahan dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju sadar, dari dosa menuju taat.

    Namun, di tengah semangat berhijrah yang kini semakin marak, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: sudahkah kita memantaskan diri?

    Banyak dari kita ingin berubah menjadi lebih baik. Kita ingin dekat dengan Allah, ingin hidup lebih tenang, ingin hati lebih bersih. Tetapi keinginan saja tidak cukup. Hijrah bukan hanya soal tampilan luar, bukan sekadar simbol atau label, melainkan perubahan menyeluruh yang dimulai dari dalam hati.

    Allah سبحانه وتعالى berfirman:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

    Ayat ini menjadi pengingat kuat bahwa perubahan sejati dimulai dari diri sendiri. Hijrah bukan sesuatu yang instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan.

    Hijrah: Lebih dari Sekadar Perubahan Penampilan

    Sering kali, hijrah dipersempit maknanya menjadi perubahan penampilan luar. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memberikan definisi hijrah yang jauh lebih dalam. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:

    “Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)

    Hadits ini menegaskan bahwa esensi hijrah adalah meninggalkan maksiat dan segala yang tidak diridhai oleh Allah. Artinya, seseorang belum bisa dikatakan benar-benar berhijrah hanya karena ia mengubah cara berpakaian, jika lisannya masih menyakiti, hatinya masih dipenuhi iri, dan amalnya masih jauh dari ketaatan.

    Memantaskan diri dalam hijrah berarti berani jujur pada diri sendiri. Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan buruk? Sudahkah kita menjaga shalat tepat waktu? Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan sesama?

    Niat: Pondasi Utama Hijrah

    Segala amal dalam Islam bergantung pada niat. Begitu pula dengan hijrah. Tanpa niat yang lurus, hijrah bisa kehilangan makna. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hijrah yang dilakukan karena ingin dipuji, ingin terlihat baik di mata manusia, atau sekadar mengikuti tren, tidak akan bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, hijrah yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, meskipun perlahan dan penuh jatuh bangun, akan bernilai besar di sisi-Nya.

    Memantaskan diri berarti meluruskan niat. Kita berhijrah bukan untuk siapa-siapa, melainkan hanya untuk Allah.

    Proses yang Tidak Mudah

    Hijrah bukan perjalanan yang mulus. Akan ada godaan, ujian, bahkan rasa lelah yang menyelimuti. Terkadang, kita merasa sudah berusaha berubah, tetapi masih sering jatuh dalam kesalahan yang sama.

    Di sinilah pentingnya kesabaran.

    Allah berfirman:

    “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

    Ayat ini memberikan harapan bahwa setiap usaha menuju kebaikan tidak akan sia-sia. Selama kita terus berusaha, Allah akan membuka jalan.

    Memantaskan diri bukan berarti harus menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum berhijrah. Justru hijrah itulah jalan menuju perbaikan. Yang terpenting adalah konsistensi dan kesungguhan.

    Antara Harapan dan Rasa Tidak Pantas

    Banyak orang yang merasa belum pantas untuk berhijrah. Mereka merasa terlalu banyak dosa, terlalu jauh dari kebaikan, terlalu kotor untuk mendekat kepada Allah.

    Padahal, perasaan itu bisa menjadi jebakan.

    Allah سبحانه وتعالى berfirman:

    “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)

    Ayat ini adalah pelukan bagi mereka yang merasa tidak pantas. Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk menerima kita. Justru Allah membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin kembali.

    Maka, memantaskan diri bukan berarti menunggu sampai kita suci dari dosa. Memantaskan diri adalah keberanian untuk kembali, meskipun dengan penuh luka dan kesalahan.

    Lingkungan: Faktor yang Mempengaruhi

    Dalam perjalanan hijrah, lingkungan memiliki peran yang sangat besar. Teman, keluarga, dan komunitas bisa menjadi pendukung atau justru penghambat.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Memantaskan diri juga berarti berani memilih lingkungan yang mendukung kebaikan. Bukan berarti memutus silaturahmi, tetapi lebih kepada menjaga diri agar tidak kembali terjerumus.

    Lingkungan yang baik akan mengingatkan kita ketika lalai, menguatkan saat lemah, dan mendorong kita untuk terus maju.

    Istiqamah: Tantangan Terbesar

    Memulai hijrah mungkin terasa berat, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit. Banyak yang semangat di awal, namun perlahan kembali pada kebiasaan lama.

    Istiqamah adalah kunci.

    Allah berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati.’” (QS. Fussilat: 30)

    Istiqamah bukan berarti tidak pernah salah. Istiqamah adalah tetap kembali kepada Allah setiap kali kita jatuh. Ia adalah tentang konsistensi, bukan kesempurnaan.

    Memantaskan diri berarti terus berusaha istiqamah, meskipun langkah kecil dan tertatih.

    Hijrah Hati: Inti dari Segalanya

    Pada akhirnya, hijrah yang paling penting adalah hijrah hati. Karena dari hatilah segala amal bermula.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hati yang bersih akan melahirkan ucapan yang baik, perilaku yang lembut, dan amal yang tulus. Sebaliknya, hati yang kotor akan menuntun pada keburukan.

    Memantaskan diri berarti membersihkan hati dari penyakit-penyakit seperti riya, ujub, iri, dan dengki. Ini adalah perjuangan yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.

    Menjadi Lebih Baik, Bukan Lebih Sempurna

    Hijrah bukan tentang menjadi manusia tanpa dosa. Tidak ada manusia yang sempurna. Hijrah adalah tentang menjadi lebih baik dari hari ke hari.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

    Hijrah yang benar akan tercermin dalam akhlak. Kita menjadi lebih sabar, lebih peduli, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi orang lain.

    Memantaskan diri berarti memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia.

    Penutup: Sebuah Pertanyaan untuk Diri Sendiri

    Pada akhirnya, hijrah adalah perjalanan pribadi. Tidak ada standar yang sama untuk setiap orang. Setiap kita memiliki titik awal, ujian, dan proses yang berbeda.

    Namun, satu pertanyaan tetap relevan untuk kita renungkan:

    Sudahkah kita memantaskan diri?

    Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi lebih layak mendekat kepada Allah. Bukan untuk terlihat baik di mata manusia, tetapi untuk benar-benar baik di hadapan-Nya.

    Mari kita mulai dari hal kecil. Memperbaiki niat, menjaga shalat, memperbanyak istighfar, dan terus belajar menjadi lebih baik.

    Karena sejatinya, hijrah bukan tentang seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa tulus kita melangkah.

    Dan mungkin, di setiap langkah kecil itu, Allah sedang menuntun kita menjadi pribadi yang lebih pantas—pantas untuk mendapatkan ampunan-Nya, rahmat-Nya, dan cinta-Nya.

    Artikel ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim
    Ngoro, 150426, 09.45 WIB

  • Jejak di Ujung Tongkat

    Jejak di Ujung Tongkat

    Lampu-lampu kota memantul di dinding kaca lantai tiga puluh dua. Dari balik jendela, Surabaya tampak seperti papan sirkuit yang menyala—garis-garis jalan berpendar, mobil bergerak seperti kunang-kunang kecil.

    Di dalam ruangan, tepuk tangan belum juga berhenti.

    “Selamat untuk Ibu Laras Adinegara, penerima penghargaan Pengusaha Muda Tahun Ini!”

    Kilatan kamera menyambar-nyambar. Laras berdiri di depan podium, satu tangan memegang piala, tangan lainnya menggenggam tongkat aluminium hitam yang menahan kaki kirinya.

    Gaun biru tuanya menjuntai rapi hingga mata kaki. Di bawah kain itu, kaki kirinya lebih kecil dan sedikit melengkung ke dalam. Setiap langkah selalu diiringi bunyi pendek dari ujung tongkat yang menyentuh lantai marmer.

    Tak. Tak. Tak.

    Ia tersenyum ketika kamera mengarah kepadanya. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun: cukup hangat, cukup tenang, cukup kuat.

    Seorang wartawan menyodorkan mikrofon.

    “Apa rahasia kesuksesan Anda, Bu Laras?”

    Laras menatap kilatan lampu di depan wajahnya. Untuk sesaat ia melihat pantulan dirinya di lensa kamera: rambut disanggul rapi, lipstik merah muda, bahu tegak.

    Lalu, entah kenapa, ia teringat sepasang tangan besar yang dulu pernah memegang setang sepeda kecil warna kuning.

    “Pelan-pelan, Ras,” suara itu pernah berkata. “Ayah pegang dari belakang.”

    Ia mengedip cepat.

    “Kerja keras,” jawabnya akhirnya. “Dan… jangan menyerah.”

    Tepuk tangan kembali pecah.

    Namun saat semua orang berdiri, Laras justru merasa ruangan itu kosong.


    Malam itu, ia pulang ke apartemen sendirian.

    Piala penghargaan diletakkannya di rak, di antara deretan piagam dan foto-foto kerja sama. Ada foto dirinya berjabat tangan dengan pejabat, foto saat membuka cabang baru, foto bersama para karyawan.

    Tak ada satu pun foto ayahnya.

    Laras membuka laci paling bawah di meja kerjanya. Dari dalam map plastik kusam, ia mengeluarkan sebuah foto lama yang pinggirannya mulai menguning.

    Seorang pria berkumis tipis jongkok di samping anak perempuan berumur tujuh tahun. Anak itu memakai sepatu besi di kaki kirinya dan tersenyum lebar sambil memegang balon merah.

    Pria itu menatap si anak, bukan kamera.

    Seolah-olah tak ada hal lain di dunia selain anak perempuan itu.

    Jempol Laras mengusap wajah pria di foto itu.

    Di belakang foto, ada tulisan tangan yang mulai pudar.

    Untuk Larasku. Kalau suatu hari ayah pergi jauh, cari ayah di tempat pertama kita melihat laut.

    Laras menutup mata.

    Sudah dua puluh tahun tulisan itu berdiam di laci.

    Dua puluh tahun juga ayahnya menghilang.


    Dulu, rumah mereka sempit. Atap sengnya bocor. Jika hujan turun deras, ibunya akan menggeser ember ke sana-sini sementara ayahnya menaruh panci di sudut ruang tamu.

    Tapi setiap Minggu pagi, ayah selalu menggendong Laras ke ujung gang.

    “Naik kapal, Kapten?” katanya sambil menepuk pundaknya.

    Laras akan tertawa, melingkarkan tangan di leher ayah, lalu membiarkan dirinya dibawa melewati warung, kali kecil, dan jalan tanah.

    Kaki kirinya tak pernah kuat berjalan jauh. Kadang-kadang anak-anak lain menirukan caranya berjalan.

    “Pincang! Pincang!”

    Laras kecil pernah berdiri mematung di pinggir jalan, bibirnya gemetar.

    Ayah datang, jongkok di depannya, lalu melepas sandal jepitnya sendiri.

    “Lihat kaki ayah,” katanya.

    Laras menunduk.

    Satu sandal ayah putus.

    Ayah lalu berjalan terpincang-pincang sambil menyeret kaki kanan dengan wajah berlebihan.

    “Wah, ternyata ayah lebih aneh dari Laras.”

    Laras tertawa sampai ingusnya keluar.

    Ayah ikut tertawa.

    Suara tawanya seperti pintu kayu yang dibuka perlahan—berat, hangat, dan akrab.

    Lalu suatu sore, suara itu hilang.

    Ayah pamit pergi bekerja ke luar kota. Ia mencium kening Laras, memasukkan roti cokelat ke dalam tas sekolahnya, lalu menepuk kepala Laras pelan.

    “Tunggu ayah, ya.”

    Pintu ditutup.

    Dan tak pernah terbuka lagi.


    Tiga hari setelah malam penghargaan itu, Laras berdiri di stasiun lama di kota kecil pinggir pantai.

    Udara asin menempel di kulit. Tongkatnya mengetuk lantai peron yang retak.

    Tak. Tak. Tak.

    Di tangannya ada foto lama dan secarik alamat yang ia dapat dari bekas teman ayahnya.

    “Dulu dia pernah tinggal dekat pelabuhan,” kata lelaki itu lewat telepon. “Tapi saya nggak tahu sekarang masih ada atau tidak.”

    Laras menyewa becak menuju kawasan pelabuhan lama.

    Rumah-rumah kayu berdiri rapat. Catnya mengelupas. Jemuran bergoyang di depan pintu. Anak-anak berlari tanpa sandal.

    Ia berhenti di depan rumah bercat hijau pucat.

    Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

    Seorang perempuan tua muncul. Rambutnya putih seluruhnya. Matanya menyipit ketika melihat Laras.

    “Cari siapa?”

    Laras menunjukkan foto.

    “Saya mencari ayah saya. Namanya Rahmat.”

    Perempuan itu memegang foto dengan tangan bergetar.

    Lama sekali ia diam.

    Lalu ia menoleh ke dalam rumah.

    “Mat… ada yang datang.”

    Jantung Laras berhenti sesaat.

    Dari dalam terdengar suara kursi bergeser. Langkah pelan. Berat.

    Seorang lelaki tua keluar sambil memegang dinding.

    Tubuhnya lebih kurus dari yang Laras ingat. Rambutnya memutih. Kumis tipis itu masih ada, meski tak lagi serapi dulu.

    Mata lelaki itu jatuh ke foto di tangan Laras.

    Lalu ke kaki kiri Laras.

    Tongkat aluminium itu bergetar pelan di tangan Laras.

    “Ayah?”

    Lelaki itu membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar.

    Bibirnya bergerak pelan.

    “Laras?”

    Nama itu terdengar seperti sesuatu yang sudah lama sekali terkubur.

    Laras melangkah maju. Tongkatnya tersangkut di ambang pintu dan hampir membuatnya jatuh.

    Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, dua tangan tua menangkap bahunya.

    Tangan yang sama.

    Tangan besar yang dulu memegang setang sepeda kuning.

    Laras memegang pergelangan tangan itu erat-erat.

    Ada bekas luka panjang di sana.

    “Kenapa Ayah pergi?”

    Suara Laras pecah di kata terakhir.

    Rahmat menunduk. Bahunya naik turun pelan.

    Di ruang tamu yang sempit, kipas angin berdecit pelan. Di meja ada gelas teh yang belum disentuh.

    “Waktu itu ayah sakit,” katanya akhirnya. “Dokter bilang jantung ayah rusak. Ayah pinjam uang ke banyak orang. Ayah pikir… kalau ayah pergi, ibu dan kamu nggak ikut ditagih.”

    Laras menatap wajah tua di depannya.

    Ada garis-garis lelah di sekitar mata itu. Ada malam-malam panjang yang tertinggal di sana.

    “Ayah pikir aku nggak akan mencari?”

    Rahmat menggigit bibirnya.

    “Setiap ulang tahunmu, ayah datang ke depan rumah. Dari jauh.” Ia tersenyum tipis. “Ayah lihat kamu berangkat sekolah pakai tongkat baru. Lalu kuliah. Lalu kerja.”

    Tangannya merogoh saku kemeja lusuh.

    Ia mengeluarkan potongan-potongan koran yang sudah dilipat kecil.

    Semuanya tentang Laras.

    Foto saat ia lulus kuliah.

    Foto saat usahanya masuk majalah.

    Foto malam penghargaan tiga hari lalu.

    Pinggirannya sudah kusut karena terlalu sering dibuka.

    Laras memegang satu guntingan koran. Di foto itu, ia sedang tersenyum di atas panggung.

    Di sudut bawah, ada bekas sidik jari.

    Ia tak tahu kenapa, tapi mendadak ia ingin menangis seperti anak kecil.

    Bukan tangis yang anggun. Bukan tangis yang pelan.

    Tangis yang berantakan.

    Tangis yang tertahan dua puluh tahun.

    Rahmat membuka kedua lengannya perlahan.

    Laras menjatuhkan tongkatnya.

    Bunyi logam memantul di lantai.

    Namun sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan, Rahmat sudah lebih dulu menopangnya.

    Seperti dulu.

    Di luar rumah, suara ombak terdengar jauh.

    Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Laras tidak merasa berjalan sendirian.

    Cerpen ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim

    GKB Gresik, 090426 : 07.25 WIB

  • Dilema Penulis: Mengangkat Gelap, Menjaga Terang

    Dilema Penulis: Mengangkat Gelap, Menjaga Terang

    Menulis kegelapan bisa menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi penulis. Apakah tulisan bisa jadi ladang amal atau justru sumber dosa jariyah? Karena itulah perlu menimbang, bagaimana mengangkat realitas gelap tanpa menormalisasi keburukan dan tetap mengarahkan pembaca pada kebaikan.

    Di era digital, tulisan tidak sekadar dibaca tetapi berlanjut untuk ditiru, disebarkan, dan diam-diam dijadikan guru kehidupan. Di titik inilah kegelisahan seorang penulis bermula. Bagaimana jika tulisan kita tidak berhenti sebagai bacaan? Melainkan menjelma menjadi model perilaku, bahkan meninggalkan jejak panjang.

    Bagaimana jika cerita yang kita tulis justru menyajikan risiko sosial? Di mana akibat tulisan tersebut mengalir bukan karena kita berniat buruk tetapi kita lalai menakar dampaknya.

    Sebab, yang paling tahu arah sebuah tulisan sebenarnya bukan pembaca pertama, melainkan penulisnya sendiri. Penulis yang memahami ke mana ia hendak membawa para pembaca, mendekat pada kebaikan atau justru membuka pintu keburukan.

    Realitas yang Perlu Disaring

    Dunia anak muda hari ini, terutama dalam ruang-ruang percakapan digital, memang tidak selalu akrab dengan nilai-nilai etika Islami. Bahasa yang kasar, batas relasi yang kabur, hingga candaan yang melampaui batas kerap lebur dalam “keseharian”. Demi dianggap gaul, anak muda mewajarkannya.

    Mengangkat realitas tersebut ke dalam tulisan bukanlah kesalahan. Tidak serta-merta menjadi pintu mendekati dosa. Justru, di situlah letak kejujuran seorang penulis menuangkan kepekaan sosialnya. Namun, kejujuran tanpa kendali dan kepekaan moral yang menyeimbangi bisa mengarahkan pada normalisasi.

    Di sinilah kegelisahan itu kembali muncul. Ketika detail-detail keburukan ditulis terlalu hidup, terlalu dekat, terlalu “nikmat” untuk dibaca. Dalam kondisi ini, apakah kita sedang mengingatkan atau tanpa sadar malah mengajarkan? Adakalanya, batasan antara cermin refleksi dan godaan mengikuti menjadi sangat tipis.

    Belajar dari Cara Al-Qur’an Bercerita

    Dalam Al-Qur’an, kita bisa menemukan beragam kisah. Agar tak gelisah berkepanjangan, yang perlu jadi perhatian bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi bagaimana cara penuturannya. Misalnya, kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha yang menunjukkan adanya godaan yang manusiawi. Namun, dalam Al-Qur’an, tidak ada detail yang mengundang imajinasi liar. Tidak ada romantisasi adegan. Yang ditonjolkan justru keteguhan, penolakan, dan kemenangan moral.

    Dari sini, kita bisa belajar bagaimana, bahkan ketika membahas godaan pun, perlu tetap menjaga kehormatan cara bercerita agar sesuai nilai Islam. Maka, bukan peristiwanya yang sebenarnya berbahaya, melainkan bagaimana cara kita menuturkannya.

    Menulis dengan Tanggung Jawab

    Penulis tidak cukup hanya berniat baik tapi juga harus piawai dalam menuturkan. Kita bisa belajar dari Habiburrahman El Shirazy yang menghadirkan kisah cinta tanpa kehilangan arah nilai dan pesan moral. Atau Hamka yang menulis cinta dengan kedalaman hikmah. Begitu pula Tere Liye dan Bunda Sinta Yudisia yang menjaga pesan kebaikannya tetap kuat tanpa terasa menggurui. Mereka tidak sekadar bercerita, tetapi menuntun pada kesadaran moral. Mereka menunjukkan, kekuatan tulisan bukan pada keberanian membuka sisi gelap, tetapi pada kejernihan dalam memberi arah.

    Menulis bisa menjadi amal jariyah, ketika menginspirasi kebaikan yang terus mengalir. Sebaliknya, menulis juga bisa dosa jariyah, ketika tanpa sadar menanam benih keburukan yang terus ditiru pembaca.

    Sebagai penulis, kita memang tidak bisa mengendalikan sepenuhnya bagaimana pembaca menafsirkan dan mengaitkannya dengan pengalamannya. Namun, kita bisa memastikan, kita telah berhati-hati sejak awal. Proses kreatif membuat kita berpikir keras bagaimana menakar kata, menjaga sudut pandang, dan menahan diri dari romantisasi yang tidak perlu.

    Jika pun harus mengangkat sisi gelap, pastikan gelap itu hadir sebagai peringatan, bukan godaan. Karena pada akhirnya, setiap tulisan akan menemukan jalannya sendiri di hati pembaca. Kemudian, di sanalah, tulisan akan terus hidup. Entah sebagai cahaya yang menuntun atau jejak yang diam-diam menyeret. Pilihan itu sejak awal ada di tangan kita, sang penulis!

    Karya Sayyidah Nuriyah, Forum Lingkar Pena Cabang Gresik pada program Rabu Karya di Grup WA FLP Jatim.

  • Peran Penulis dalam Menumbuhkan Literasi di Era Pembatasan Media Sosial

    Peran Penulis dalam Menumbuhkan Literasi di Era Pembatasan Media Sosial

    Keputusan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terkait pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun menjadi langkah penting dalam melindungi generasi muda dari dampak negatif dunia digital. Namun, di balik kebijakan tersebut, muncul satu pertanyaan besar: bagaimana anak-anak tetap mendapatkan ruang belajar, berekspresi, dan bertumbuh secara literasi?

    Di saat para orang tua, mulai kebingungan bagaimana anaknya yang biasa dengan gadget, saat mereka tinggal bekerja atau aktivitas lain kini harus menghadapi permasalahan lain. Yakni apa yang harus dihadirkan untuk mengisi aktivitas sang anak.
    Di sinilah peran penulis menjadi sangat krusial.

    Literasi di Persimpangan Digital

    Selama ini, media sosial menjadi salah satu “ruang belajar” informal bagi anak-anak. Mereka tidak hanya mengonsumsi hiburan, tetapi juga membaca, menulis, bahkan menciptakan konten. Ketika akses ini dibatasi, ada potensi kekosongan yang perlu diisi dengan alternatif yang sehat dan membangun.

    Literasi tidak boleh berhenti hanya karena platform berubah.

    Penulis sebagai Penggerak Literasi

    Penulis bukan hanya pencipta karya, tetapi juga penyambung pengetahuan dan pembentuk cara berpikir. Dalam situasi ini, penulis memiliki beberapa peran penting:

    1. Menyediakan Bacaan yang Relevan dan Menarik

    Anak-anak tetap membutuhkan bacaan yang sesuai dengan usia mereka. Penulis bisa menghadirkan cerita, artikel, atau buku yang:
    – Ringan namun bermakna
    – Menghibur sekaligus mendidik
    – Dekat dengan kehidupan mereka
    – Dengan begitu, minat baca tidak hilang, justru berkembang.

    2. Menghidupkan Literasi di Luar Media Sosial

    Pembatasan media sosial bisa menjadi peluang untuk menghidupkan kembali buku fisik, majalah anak, komunitas literasi, dan perpustakaan. Penulis dapat berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan penerbit untuk menghadirkan ruang literasi yang lebih nyata.

    3. Menjadi Teladan dalam Berpikir Kritis

    Tulisan yang baik bukan hanya memberi informasi, tetapi juga mengajak pembaca berpikir. Penulis dapat mengangkat isu sederhana dengan sudut pandang menarik, menyisipkan nilai-nilai kritis dan reflektif, dan mengajarkan cara melihat dunia secara lebih bijak.

    4. Mendorong Anak untuk Menulis

    Literasi bukan hanya membaca, tetapi juga menulis. Penulis dapat membuat panduan menulis sederhana, mengadakan tantangan menulis, dan memberi ruang publikasi bagi karya anak. Dengan menulis, anak-anak belajar mengekspresikan diri tanpa bergantung pada media sosial.

    5. Memanfaatkan Platform Alternatif yang Lebih Aman

    Meski media sosial dibatasi, penulis tetap bisa memanfaatkan blog edukatif, website literasi, platform belajar digital yang ramah anak. Tujuannya bukan menjauhkan anak dari teknologi, tetapi mengarahkannya dengan bijak.

    Literasi Adalah Tanggung Jawab Bersama

    Kebijakan pembatasan media sosial bukanlah akhir dari ruang literasi, melainkan awal dari penataan ulang. Penulis, bersama orang tua, guru, dan masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak tetap membaca, berpikir, berkarya tanpa kehilangan arah. Ruang gerak dengan menggelar bacaan atau program ramah anak dengan TBM, rumah cahaya atau kolaborasi dengan komunitas literasi lain di ruang terbuka sangat diperlukan.

    Di tengah perubahan zaman, peran penulis tidak pernah kehilangan makna. Justru semakin penting. Ketika satu pintu tertutup, penulis harus mampu membuka pintu lain—pintu yang membawa anak-anak pada dunia literasi yang lebih sehat, lebih dalam, dan lebih bermakna.
    Karena pada akhirnya, literasi bukan soal platform, tapi tentang cara manusia memahami dunia. Mari terus bergerak memberi arah bahwa sebagai penulis bisa memberikan arti kepada masyarakat sekitar.

    Karya oleh Dhe One, FLP Cabang Sidoarjo yang diambil dari program Rabu Karya di Grup WA FLP Jatim.

  • Catatan Hari ini: Perjalanan Pulang

    Catatan Hari ini: Perjalanan Pulang

    Catatan Hari Ini (1)

    Semalam kami sudah menyusun rencana dengan rapi untuk keliling Den Haag; mengunjungi Binnenhof, Lange Voorhout, Madurodam, Mauritshuis, Peace Palace, Paleis Noordeinde, dan jika tak lelah kami sempatkan ke De Passage sekadar membeli mantel dan sarung tangan buat si kembar Elmar dan Elmira.

    Aku dan Hans sepakat naik sepeda, trem, dan kereta untuk sampai di Den Haag, sedangankan yang lain beriringan naik mobil, dan akan bertemu di titik kumpul De Pier.

    Ada banyak alasan mengapa aku memilih jalan susah untuk sampai di Den Haag, salah satunya adalah ingin merasakan kembali napak tilas masa itu, dan Hans dengan suka cita ingin menemaniku.

    Ah, memang benar kata banyak orang yang mengenalmu, sayang, Hans yang paling mirip denganmu dari selusin Van Ledegen.

    Den Haag, 26 Februari 2026

    Catatan Hari Ini (2)

    Setelah tarawih bersama, malam ini kami duduk mengelilingi meja panjang sambil menikmati makan malam hasil masakan kedua gadis bontotku; si kembar yang telah beranjak dewasa yang di awal musim semi nanti akan berangkat ke Universete Paris 1 Pantheon Sorbonne untuk mengambil gelar masternya.

    Mataku menyapu satu persatu wajah mereka, ada kelegaan yang menyudup di hatiku; walau mereka lebih mirip bapaknya dengan mata biru, berambut blonde, dan postur tinggi, tetapi mereka tak pernah meninggalkan tata krama Jawa yang aku tanamkan sejak kecil.

    Seperti juga dengan bapaknya, mereka menghormati aku ibunya dengan selalu menggunakan Bahasa Jawa jika bertutur dalam keluarga dan selalu santun dalam bersikap.

    Mereka memang terlahir bukan darah murni, namun nilai-nilai luhur telah mengurat nadi dalam diri, kecintaan pada Nusantara boleh diadu dengan si empunya darah murni.

    Anak-anakku, terima kasih engkau telah menggenggam erat amanah berat ini, ketika di luar sana telah banyak orang memilih meninggalkannya.

    Den Haag, 27 Februari 2026

    Catatan Hari Ini (3)

    Hampir satu jam terhubung dengan Adrian, teman bisnis yang mengabarkan kondisi terkini di pasar dalam negeri.

    Ada pergerakan politik global cukup hebat yang akan sangat mempengaruhi cepat lambatnya pertumbuhan investasi di Indonesia.

    Dari mulai campur tangan AS pada serangan Israel ke Iran, perjanjian luar negeri RI, hingga kebijakan pemerintah RI yang banyak merugikan rakyat, kami perbincangkan sebagai landasan langkah strategis yang akan kami ambil.

    Pergerakan harga di beberapa komoditi akan naik signifikan di dalam negeri, cukup membuat kami harus waspada.

    Hal yang bisa dipetik; dengan kecerdasan, bisnis memang bisa dikendalikan dari mana saja, tetapi tetap perlu kewaspadaan, ketelitian, ketepatan, ketekunan, dan kesabaran dalam melangkah.

    Den Haag, 28 Februari 2026

    Catatan Hari Ini (4)

    Semalam mendadak kami terpaksa mengubah rencana perjalanan, yang seharusnya hari ini ada pertemuan di Rotterdam akhirnya menempuh perjalanan darat ke Breda untuk menyeberang ke Belgium.

    Sampai di Brussels kami disambut hangat pelukan papa mama yang mencemaskan keadaan cucu dan cicitnya, kami ramaikan taman belakang rumah yang biasanya sepi dengan perbincangan serius tentang kondisi dunia saat ini sambil menikmati barbeque.

    Papa yang seorang peneliti ekonomi makro banyak memberi pandangan tentang langkah-langkah cepat dalam kondisi darurat yang bisa kami ambil.

    Aku selalu menganggap papa mertuaku ini seperti ayahku sendiri mengingat waktu kecil aku tumbuh sebagai anak yatim, karena itu aku selalu mendengar saran dan nasihatnya.

    Tetap sehat ya Pa, agar bisa membersamai kami anak, cucu, dan cicit menghadapi dunia.

    Brussels, 1 Maret 2026

    Catatan Hari Ini (5)

    Seharusnya masih minggu depan berada di sini mengantar gadis kembar bontot ini persiapan studi masternya, namun kondisi memaksa kami lebih awal melepasnya.

    Ada haru dan cemas meyusup di hati ini, apalagi kami harus berpisah dalam kondisi dunia yang sedang penuh ketegangan dan ketidakpastian.

    Namun sedikit lega karena mereka berdua sudah pernah terpenjara dihajar pandemi Covid-19 di negeri orang.

    Teruslah belajar anakku sayang, serap ilmu akademis dan ilmu kehidupan sebagai bekal pengabdianmu untuk Nusantara kita.

    “Pegang teguh imanmu dan jangan pernah lelah mencintai Indonesia”, bisikku di telinga mereka ketika kami berpelukan sebelum menuju Charles de Gaulle untuk menempuh perjalanan panjang ke tanah air.

    Sorbonne, 2 Maret 2026

    Catatan Hari Ini (6)

    Ibuku sayang, agaknya doamu yang melangit setiap hari sudah disambut Sang Maha Mendengar, anakmu sekarang sudah dipelukanmu lagi.

    Namun izinkan aku esok pergi lagi untuk mengulurkan tangan bagi yang sedang jatuh, memberi tongkat pada yang renta, dan menyalakan lentera buat yang sedang dalam kegelapan.

    Izinkan aku, ya Ibu. Karena ternyata di luar sana masih banyak orang yang tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tetapi tidak cukup kaya untuk bernapas lega.

    Surabaya, 3 Maret 2026

    Catatan Hari ini (7)

    Duduk memandang pokok-pokok pohon karet yang telah penuh torehan ditemani Pak Ali dan istrinya.

    Sempat merasa gamang tetap mempertahankan kebun yang tinggal sejengkal atau terus bertahan di tengah persaingan harga di tingkat global, kebijakan tarif impor yang berlaku di beberapa negara dan tak berpihaknya pemerintah pada para petani.

    Getah putih karet menetes per lahan di cawan, seperti tetes keringat para petani karet berharap tolehan empati dari pemangku negeri.

    Pak Ali dan istri melepas kepergianku dengan sedikit asa yang dititipkan dipundakku.

    Riau, 4 Maret 2026

    Ditulis oleh Hd. Aisya, dari Forum Lingkar Pena Surabaya, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim

  • Aliansi Taktis di Tengah Prahara: Membedah Dukungan Umat Islam Global terhadap Iran

    Aliansi Taktis di Tengah Prahara: Membedah Dukungan Umat Islam Global terhadap Iran

    Awal tahun 2026 memperlihatkan sebuah pemandangan yang beberapa dekade lalu mungkin terasa mustahil. Di berbagai forum diskusi umat, di mimbar-mimbar masjid, hingga di linimasa media sosial, simpati terhadap Republik Islam Iran mulai terdengar semakin nyaring.

    Fenomena ini menjadi paradoks tersendiri. Mayoritas umat Islam dunia adalah Sunni, sementara Iran dikenal sebagai negara dengan basis ideologi Syiah yang selama bertahun-tahun justru terlibat dalam konflik sektarian yang menyisakan luka mendalam di Suriah, Irak, dan Yaman. Namun dalam lanskap geopolitik yang berubah cepat, garis batas lama seolah bergeser.

    Konfrontasi terbuka Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah menciptakan realitas baru. Dalam situasi ketika Palestina terus berada di bawah tekanan militer Israel dan diplomasi internasional tampak menemui jalan buntu, keberanian Iran menantang kekuatan Barat dipersepsikan oleh sebagian umat sebagai satu-satunya perlawanan nyata yang tersisa.

    Dukungan ini tidak lahir dari kesamaan teologi. Ia muncul dari kalkulasi moral dan politik yang lebih kompleks. Sebuah bentuk keberpihakan taktis di tengah prahara geopolitik.

    Preseden Sejarah: Ketika Muslim Mendukung Romawi

    Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah Islam. Al-Qur’an sendiri merekam peristiwa yang memiliki kemiripan pola dalam Surah Ar-Rum.

    Pada abad ke-7, dunia saat itu terpolarisasi antara dua imperium besar yaitu Kekaisaran Romawi Timur yang beragama Kristen dan Kekaisaran Persia yang menganut tradisi Majusi.

    Di Mekkah, kaum Quraisy secara terbuka mendukung Persia. Mereka merasa memiliki kedekatan identitas dengan bangsa yang tidak memiliki kitab suci. Kekalahan Romawi pada saat itu bahkan menjadi bahan ejekan terhadap kaum Muslimin.

    Namun Rasulullah SAW justru mengajarkan sikap berbeda. Kaum Muslimin memberikan simpati moral kepada Romawi, yang meskipun bukan Muslim tetap termasuk Ahlul Kitab.

    Ketika wahyu turun yang menyatakan bahwa Romawi akan kembali menang dalam beberapa tahun, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA bahkan sempat menjadi sasaran cemoohan kaum Quraisy karena meyakini nubuat tersebut.

    Sejarah kemudian membuktikan kebenaran ayat tersebut. Romawi bangkit kembali dan memenangkan pertempuran.

    Namun dukungan Muslim saat itu tidak berarti penyatuan akidah atau loyalitas permanen. Ia hanya sebuah keberpihakan situasional terhadap pihak yang dianggap memiliki irisan nilai tertentu atau menghadapi musuh yang lebih besar.

    Fakta sejarah justru menunjukkan hal menarik setelahnya. Di masa Khalifah Umar bin Khattab RA, pasukan Muslim kemudian bergerak menaklukkan wilayah-wilayah Romawi di Mesir dan Palestina. Simpati yang pernah diberikan di masa lalu tidak menghalangi umat Islam untuk tetap menegakkan prinsip keadilan ketika kepentingan umat menuntutnya.

    Sejarah dengan demikian memberi satu pelajaran penting bahwa aliansi dalam politik seringkali bersifat sementara.

    Satu Aliansi, Tujuan Berbeda

    Dalam kajian geopolitik modern, konsep ini sering dijelaskan sebagai strategic alignment without shared end goals.

    Prof. Jiang Xueqin, seorang pakar geopolitik yang kerap memberikan pandangannya di kanal youtube Predictive History, pernah merumuskan sebuah prinsip game theory yang sederhana namun tajam:

    “Sebuah aliansi strategis tidak secara otomatis menyiratkan kesatuan tujuan.”

    Jika dilihat dari perspektif ini, konflik yang terjadi hari ini memperlihatkan tiga agenda yang berbeda.

    Bagi Amerika Serikat, tujuan utamanya adalah mempertahankan arsitektur kekuatan di Timur Tengah serta memastikan bahwa tidak ada rezim regional yang berkembang di luar orbit kepentingan Barat.

    Bagi Israel, konflik ini berkaitan langsung dengan ambisi mempertahankan dominasi militer dan politik sebagai kekuatan tunggal di kawasan.

    Sementara bagi Iran, dukungan terhadap berbagai kelompok perlawanan di kawasan merupakan bagian dari strategi forward defense. Dengan memperluas jaringan pengaruh melalui aktor-aktor non-negara, Iran berusaha menciptakan lapisan pertahanan jauh dari wilayah inti mereka sendiri.

    Di permukaan, ketiganya tampak berhadapan dalam satu medan konflik yang sama. Namun tujuan jangka panjang mereka tidak pernah benar-benar identik. Adapun tujuan besar umat Islam sendiri adalah hilangnya kezaliman dan tersebarnya Islam di muka bumi ini, termasuk bebasnya Palestina dari penjajahan.

    Dari Sekutu ke Konfrontasi Terbuka

    Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sebenarnya memiliki sejarah yang berlapis. Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Hubungan intelijen dan energi dengan Israel juga berjalan erat melalui skema Peripheral Alliance, yaitu strategi Israel membangun aliansi dengan negara-negara non-Arab di kawasan.

    Revolusi Islam 1979 mengubah arah hubungan tersebut secara drastis. Pemerintahan baru Iran menjadikan retorika anti-Amerika dan anti-Israel sebagai identitas politiknya. Namun bahkan di tengah permusuhan terbuka itu, pragmatisme geopolitik tetap muncul. Pada dekade 1980-an, skandal Iran-Contra mengungkap bahwa Iran secara diam-diam menerima pasokan senjata dari Israel untuk menghadapi perang melawan Irak di bawah Saddam Hussein.

    Memasuki dekade berikutnya, pola konflik semakin kompleks. Iran memperluas pengaruhnya melalui jaringan proksi seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi di Irak. Ketika perang Suriah pecah pada 2011, Iran secara terbuka mendukung rezim Bashar al-Assad melalui intervensi militer Korps Garda Revolusi Islam, sebuah langkah yang memicu kemarahan luas di dunia Islam-Sunni.

    Ketegangan meningkat tajam pada 2020 ketika Amerika Serikat melakukan serangan drone di Baghdad yang menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Sejak saat itu, konflik yang sebelumnya banyak berlangsung dalam bayang-bayang mulai bergerak menuju konfrontasi yang lebih terbuka.

    Dinamika tersebut semakin memanas setelah operasi Thufanul Aqsha pada 2024, di mana Iran dipandang berperan dalam mendukung kapabilitas militer kelompok perlawanan Palestina melalui teknologi drone dan rudal. Eskalasi mencapai titik kritis pada awal 2026 ketika serangan udara yang menargetkan kepemimpinan Iran di Teheran dibalas dengan peluncuran rudal balistik ke sejumlah titik strategis Israel dan basis militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

    Serangkaian peristiwa ini tidak hanya mengguncang stabilitas Timur Tengah, tetapi juga membentuk persepsi baru di kalangan umat Islam global. Bagi sebagian pihak, keberanian Iran menantang kekuatan militer AS-Israel dipandang sebagai salah satu bentuk perlawanan nyata yang jarang terlihat dari negara lain dalam isu Palestina.

    Dukungan yang Penuh Kewaspadaan

    Namun simpati yang muncul hari ini bukanlah bentuk penyerahan loyalitas ideologis kepada Iran.

    Sejarah Islam menunjukkan bahwa umat pernah memberikan simpati kepada Romawi, tetapi kemudian tetap berhadapan dengan mereka ketika kepentingan keadilan menuntutnya.

    Logika yang sama berlaku dalam situasi hari ini.

    Umat Islam dapat mendukung setiap upaya yang menantang penindasan terhadap Palestina, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga kewaspadaan terhadap agenda geopolitik yang lebih luas.

    Literatur eskatologis dalam tradisi Islam bahkan mengingatkan tentang kemunculan pasukan dari wilayah Isfahan pada akhir zaman—sebuah simbol bahwa dinamika kekuatan di kawasan Persia selalu memiliki dimensi yang kompleks.

    Dengan demikian, dukungan terhadap Iran hari ini lebih tepat dipahami sebagai keberpihakan situasional yang lahir dari solidaritas kemanusiaan dan pembelaan terhadap Palestina.

    Ia bukanlah aliansi ideologis yang permanen.

    Sejarah menunjukkan bahwa dalam politik global, musuh dan sekutu dapat berubah dengan cepat. Yang tetap harus dijaga oleh umat hanyalah satu hal yaitu prinsip keadilan yang tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan kekuasaan mana pun.

    Ditulis Oleh: Dadang Irsyam | Divisi Kepalestinaan Forum Lingkar Pena Jawa Timur