Sidoarjo– Buku adalah jembatan ilmu yang mampu menghubungkan berbagai pemikiran, pengalaman, dan inspirasi. Tak hanya itu, buku juga menjadi sarana menebar kebaikan serta mempererat silaturahmi. Semangat inilah yang diusung oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Timur saat berkunjung ke Kedai Waleho Kopitiam di Jalan Jl. Hasanuddin Ruko No.48, Sidowayah, Celep, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu (25/4).
Di tengah maraknya budaya nongkrong di kalangan anak muda, Kedai Waleho Kopitiam hadir dengan konsep yang sedikit berbeda. Tidak hanya menyajikan beragam minuman dan makanan, kedai ini juga menyediakan rak-rak buku yang bisa dibaca oleh para pengunjung. Suasana yang hangat dan santai membuat siapa pun betah berlama-lama, baik untuk sekadar berbincang maupun menikmati waktu dengan membaca.
Kunjungan FLP Jawa Timur ke kedai tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Milad FLP 2026 yang bertajuk “Gerakan Nasional Literasi Berdaya”. Dalam kesempatan itu, mereka juga membawa misi literasi dengan program donasi buku, termasuk karya-karya anggota FLP. Buku-buku tersebut diharapkan dapat menambah variasi bacaan yang tersedia di kedai, sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung.
Ketua Wilayah FLP Jawa Timur, Ika Safitri, menyampaikan bahwa kegiatan donasi buku ini merupakan bentuk kontribusi nyata komunitas literasi dalam menumbuhkan minat baca di masyarakat. Menurutnya, kehadiran buku di ruang publik seperti kedai kopi dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mendekatkan masyarakat dengan dunia literasi.
“Mudah-mudahan buku-buku dari kami bisa menjadi salah satu pilihan untuk dibaca pengunjung dan bermanfaat,” ujarnya.
Selain donasi buku, anggota FLP juga membagikan stiker berisi ajakan untuk gemar membaca. Aksi kecil ini menjadi bagian dari kampanye literasi yang diharapkan mampu menyentuh lebih banyak orang, terutama generasi muda yang akrab dengan budaya nongkrong.
Sambutan positif datang dari pihak manajemen Kedai Waleho Kopitiam. Novi Aulia, sebagai perwakilan manajemen, mengungkapkan bahwa konsep literasi memang telah menjadi bagian dari identitas kedai sejak awal berdiri. Ia menjelaskan bahwa buku-buku yang tersedia di rak merupakan hasil dari kontribusi berbagai pihak, baik dari teman maupun komunitas.
“Memang kedai kami konsepnya dari dulu seperti ini. Jadi buku-buku ini adalah hasil urunan atau kami kumpulkan dari teman-teman untuk mengisi rak ini,” jelas Novi.
Kolaborasi antara komunitas literasi dan pelaku usaha seperti ini menunjukkan bahwa upaya menumbuhkan budaya membaca tidak harus selalu dilakukan di ruang formal seperti sekolah atau perpustakaan. Justru, dengan menghadirkannya di tempat-tempat santai seperti kedai kopi, literasi dapat menjangkau lebih banyak kalangan secara alami.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran buku fisik tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Membaca buku di sela waktu santai, ditemani secangkir kopi, bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Melalui kegiatan ini, FLP Jawa Timur dan Kedai Waleho Kopitiam memberikan contoh nyata bahwa literasi bisa tumbuh di mana saja. Dari sudut sederhana sebuah kedai, benih-benih kecintaan terhadap membaca dapat disemai, tumbuh, dan pada akhirnya memberi manfaat bagi banyak orang.













