Beranda Artikel Hijrah dari Perkara Pribadi: Palestina sebagai Cermin Kesadaran Kita

Hijrah dari Perkara Pribadi: Palestina sebagai Cermin Kesadaran Kita

1
Hijrah di bulan muharam

Muharam selalu menghadirkan satu pertanyaan mendasar yaitu sejauh mana hijrah kita telah berlangsung? Namun dalam praktiknya, hijrah sering dipahami secara sempit—sebatas perbaikan ibadah, peningkatan akhlak, atau upaya meninggalkan maksiat. Dimensi ini memang penting, tetapi jika berhenti di sana, kita berisiko kehilangan makna hijrah yang lebih utuh.

Sebab jika kita menelusuri perjalanan Rasulullah ﷺ, hijrah bukan hanya transformasi individu, melainkan juga transformasi orientasi hidup—dari yang berpusat pada diri sendiri menuju tanggung jawab terhadap umat.

Pemahaman ini menjadi lebih jelas ketika kita melihat fase Makkah. Selama tiga belas tahun, Rasulullah ﷺ tidak membangun struktur kekuasaan, melainkan membangun kualitas manusia. Wahyu yang turun berfokus pada tauhid, kesabaran, keikhlasan, dan kesadaran akan hari akhir. Semua ini menunjukkan bahwa perubahan besar selalu diawali dari fondasi internal yang kokoh.Namun fase ini sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan tahap persiapan.

Ketika hijrah menuju Madinah terjadi, arah perjuangan mengalami pergeseran yang signifikan. Jika di Makkah fokusnya adalah pembentukan individu, maka di Madinah fokusnya meluas menjadi pemberdayaan masyarakat. Rasulullah ﷺ mulai membangun tatanan sosial dengan cara mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, menyusun Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan bersama, mengatur distribusi ekonomi, hingga menjaga stabilitas keamanan.Perubahan ini menegaskan satu hal penting dimana kesalehan personal harus berlanjut menjadi tanggung jawab sosial.

Sejalan dengan itu, ayat-ayat Madaniyah pun hadir dengan penekanan yang berbeda. Jika sebelumnya wahyu banyak berbicara kepada individu, kini ia berbicara kepada komunitas dan umat. Perintah untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran tidak lagi bersifat sporadis, tetapi menuntut keterorganisasian. Artinya, ada dimensi kolektif dalam Islam yang tidak dapat digantikan oleh kesalehan pribadi semata.

Dari sini, kita dapat melihat bahwa hijrah bukan hanya soal menjadi baik, tetapi juga tentang berkontribusi pada kebaikan.

Refleksi ini menjadi sangat relevan ketika kita menengok kondisi umat hari ini. Banyak dari kita telah menempuh “fase Makkah” dalam kehidupan pribadi—belajar agama, memperbaiki diri, dan membangun kesalehan individu. Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah kita sudah bergerak menuju “fase Madinah”? Apakah keimanan kita telah melahirkan kepedulian yang melampaui diri sendiri? Sebab iman yang matang tidak berhenti pada ritual, tetapi meluas menjadi empati.

Rasulullah ﷺ menggambarkan umat sebagai satu tubuh. Analogi ini mengandung makna yang dalam: bahwa penderitaan satu bagian seharusnya dirasakan oleh keseluruhan. Dengan demikian, kepedulian bukan sekadar pilihan moral, melainkan konsekuensi logis dari iman itu sendiri.Di titik inilah Palestina menjadi relevan, bukan karena ia terus muncul di linimasa media sosial, melainkan karena ia menguji apakah konsep umat yang selama ini kita yakini benar-benar hidup dalam kesadaran kita. Jarak geografis mungkin memisahkan Jakarta dan Gaza ribuan kilometer, tetapi konsep ukhuwah dalam Islam tidak pernah dibangun di atas kedekatan wilayah. Ia dibangun di atas kesamaan iman, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral.

Palestina bukan sekadar konflik geopolitik yang kompleks. Ia adalah ujian terhadap kesadaran kolektif kita sebagai umat. Ketika penderitaan yang begitu nyata tidak mampu menggerakkan hati dan tindakan, maka yang perlu kita evaluasi bukan hanya kondisi di sana, tetapi juga kondisi dalam diri kita.

Dengan kata lain, Palestina menguji apakah konsep persaudaraan masih hidup dalam praktik, atau hanya tinggal dalam wacana. Namun kepedulian tidak cukup berhenti pada emosi. Ia perlu diarahkan agar menjadi tindakan yang bermakna. Di era informasi hari ini, bentuk kepedulian bisa dimulai dari hal-hal yang mendasar namun penting seperti memastikan kebenaran informasi, tidak terjebak dalam disinformasi, mendukung lembaga kemanusiaan yang kredibel, serta menyuarakan keadilan dengan cara yang bijak dan berbasis data.

Lebih jauh lagi, setiap individu memiliki ruang kontribusinya masing-masing. Kepedulian tidak harus seragam. Ia justru menjadi lebih kuat ketika terintegrasi dengan keahlian. Seorang analis data dapat berkontribusi melalui penyajian informasi yang akurat, membangun narasi berbasis evidence, atau mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik dalam kerja-kerja kemanusiaan.

Di sinilah hijrah menemukan makna yang lebih operasional dimana ia bukan hanya berpindah secara moral, tetapi juga bertransformasi secara peran. Muharam, pada akhirnya, bukan sekadar momentum mengenang peristiwa sejarah, tetapi kesempatan untuk mengevaluasi arah hidup. Apakah hijrah kita masih berputar pada perbaikan diri, atau sudah bergerak menuju kontribusi yang lebih luas? Makkah mengajarkan kita menjadi kuat. Madinah mengajarkan kita menggunakan kekuatan itu untuk membangun.

Barangkali itulah pelajaran terbesar Muharam. Hijrah tidak berhenti ketika seseorang menjadi lebih baik daripada dirinya yang kemarin. Hijrah mencapai makna terdalamnya ketika perbaikan diri melahirkan kepedulian terhadap sesama.

Sebab Rasulullah ﷺ tidak berhijrah hanya untuk menyelamatkan dirinya. Beliau berhijrah untuk membangun umat.

Maka jika Muharam tahun ini hanya membuat kita lebih rajin beribadah, hijrah kita baru menyentuh

Ditulis oleh : Divisi Kepalestinaan FLP Jatim

Konten sebelumnyaSa’i, Palestina, dan Usaha Tanpa Akhir

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini