Beranda Berita FLP Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

2
Halalbihalal FLP Jatim

Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur menggelar kegiatan halalbihalal secara daring pada Sabtu, 11 April 2026 dengan pembukaan oleh MC dari Divisi Kaderisasi, Maulina. Setelah itu, Ketua FLP Jawa Timur, Ika Safitri, memberikan sambutan singkat. Pengurus dan anggota FLP dari berbagai wilayah di Jawa Timur mengikuti kegiatan ini dengan cukup antusias.

Dalam sambutannya, Ika menekankan pentingnya menjaga ukhuwah di tengah keterbatasan pertemuan langsung. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para ketua cabang yang telah berpartisipasi dalam program video Kultum Cahaya Senja.

Mengusung tema “Kembali ke Fitrah: Menghapus Noda dengan Cerita, Mempererat Ikatan dalam Kata”, kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum FLP periode 2025–2029, Nafi’ah al-Ma’rab, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Nafi’ah menilai kinerja FLP Jawa Timur cukup baik. Hal ini terlihat dari konsistensi wilayah tersebut dalam menyelenggarakan berbagai agenda berskala nasional. Meski demikian, kita tidak bisa menghindari dinamika organisasi, terutama dengan semakin beragamnya latar belakang anggota.

Tantangan Membangun Solidaritas

Menurutnya, FLP merupakan organisasi yang heterogen. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus kekuatan dalam membangun solidaritas. Ikatan ukhuwah menjadi fondasi utama yang menjaga organisasi tetap solid.

Ia juga menyoroti pentingnya momentum Syawal sebagai waktu untuk saling memaafkan. Dalam interaksi organisasi, kita tidak dapat menghindari potensi kesalahpahaman dan konflik. Karena itu, sikap memaafkan menjadi kunci menjaga hubungan antar anggota, seperti pada surah Ali-Imran ayat 134:

“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Selain itu, Nafi’ah menegaskan bahwa kerja organisasi di FLP bertumpu pada keikhlasan, bukan imbalan. Tanpa keikhlasan, aktivitas organisasi berpotensi terhenti.

“Seni menjaga ukhuwah ini harus tetap dijaga agar kegiatan tetap berjalan. Kepala sekolah yang teladan dan sukses, apakah bisa memimpin FLP dan kegiatan tetap berjalan? Karena anggota FLP berkumpul karena ikatan hati, bukan karena bayaran dan prestasi. Pemimpin di FLP harus cakap dan harus memberdayakan anggota-anggotanya,” ujarnya.

Langkah strategis menjaga keberlangsungan organisasi

Lebih lanjut, Nafi’ah memaparkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Di antaranya adalah penguatan pembinaan kader, peningkatan kemampuan komunikasi, dan rekrutmen anggota baru untuk menghadirkan energi baru dalam organisasi. Ia juga menekankan pentingnya silaturahmi, termasuk dengan menjangkau anggota yang kurang aktif.

Pemimpin menjadi tauladan bagi anak buahnya. Bagaimana totalitas dalam mengelola organisasi dan juga berkarya melalui tulisan. Selain itu, peningkatan kemampuan komunikasi menjadi hal penting dalam organisasi, terutama untuk mengatasi potensi kesalahpahaman, baik saat bertemu langsung maupun dalam interaksi melalui grup chat. Upaya ini diperlukan agar setiap pesan dapat dipahami dengan tepat dan tidak menimbulkan salah makna di antara anggota.

Solusi ketiga adalah melakukan rekrutmen anggota baru. Langkah ini dapat menjadi upaya menghadirkan energi segar di tengah dinamika organisasi. Ketika terjadi persoalan di suatu cabang atau ranting, penambahan anggota baru bukan untuk mengabaikan masalah, tetapi untuk memperkuat pergerakan dengan hadirnya penggerak-penggerak baru. Tanpa rekrutmen, komposisi anggota yang stagnan berpotensi membuat organisasi rentan terhadap konflik, layaknya air kolam yang tidak mengalir dan akhirnya mengendap.

Solusi terakhir adalah memperkuat silaturahmi. Meski tidak berbasis imbalan, peran pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kebersamaan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengunjungi anggota yang kurang aktif serta memberikan perhatian atau tali kasih. Upaya ini dinilai efektif untuk mempererat ukhuwah dan menjaga keterikatan antaranggota.

Menurut Nafi’ah al-Ma’rab, keaktifan anggota dapat ditingkatkan dengan memetakan peran dalam organisasi. Ia membagi anggota menjadi tiga kategori, yakni pemikir, penggerak, dan pengikut. Pemetaan ini penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Pemikir tidak perlu banyak, tetapi harus fokus dan berasal dari anggota yang andal. Peran mereka adalah merancang arah dan melakukan pembinaan.

Selanjutnya, peran penggerak diisi oleh anggota yang menjalankan program dan menggerakkan kegiatan. Penggerak ini bisa berasal dari anggota madya, meski tidak menutup kemungkinan muncul dari level lain. Sementara itu, anggota yang tidak terlalu aktif dapat berperan sebagai pengikut, misalnya menjadi peserta dalam berbagai kegiatan seperti seminar. Ia menegaskan, tanpa keberadaan pemikir, organisasi akan sulit berjalan. Karena itu, ketua memiliki peran penting dalam menguatkan kapasitas dan peran anggota di setiap lini. Ketiga peran tersebut dinilai saling melengkapi dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi.

Melalui kegiatan ini, FLP Jawa Timur berharap dapat mempererat hubungan antaranggota serta menjaga semangat berkarya di tengah keterbatasan interaksi langsung.

Konten sebelumnyaRumah dalam Lemari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini