Tag: Palestina

  • 15 Mei 2026: 78 Tahun Menggenggam Kunci Nakba

    15 Mei 2026: 78 Tahun Menggenggam Kunci Nakba

    Abu Amsha menggenggam sebuah kunci besi tua di sudut tenda pengungsi Jabalia, Gaza utara. Logam itu telah dipenuhi karat, dingin dan kasar di telapak tangannya yang keriput.

    Sesekali ia mengusap permukaannya perlahan, seolah takut kehilangan satu-satunya benda yang masih menghubungkannya dengan masa lalu.

    “Ini satu-satunya yang tersisa dari rumah kami di Al-Majdal,” katanya pelan pada 2024.

    Kunci itu sudah tak membuka pintu apa pun. Rumah yang terakhir ia kunci pada Mei 1948 telah lama hilang bersama kota yang berubah nama dan peta yang berganti batas. Namun bagi Abu Amsha, benda kecil itu tetap menyimpan berat yang sama: ingatan tentang halaman rumah, pohon delima merah di belakang bangunan, serta keyakinan bahwa pengungsian mereka saat itu hanya akan berlangsung sementara.

    Al-Majdal, kini dikenal sebagai Ashkelon di Israel selatan, merupakan salah satu kota Palestina yang dikosongkan setelah perang 1948. Sekitar dua ribu warga Palestina terusir dari kota itu. Mereka hanyalah sebagian kecil dari sekitar 750 ribu warga Palestina yang kehilangan rumah dalam peristiwa Nakba, eksodus besar yang mengubah wajah Palestina secara permanen.

    Sebagian besar keluarga pergi tanpa sempat membawa banyak barang. Ada yang meninggalkan pakaian tergantung di lemari, perabot makan yang masih tersusun, hingga tanaman di halaman yang belum sempat dipanen. Namun banyak di antara mereka tetap membawa satu benda yang dianggap paling penting: kunci rumah.

    Mereka menguncinya dua kali sebelum pergi. Bukan untuk meninggalkan rumah selamanya, melainkan karena percaya mereka akan kembali beberapa hari atau beberapa pekan kemudian.

    Tujuh dekade lebih telah berlalu, tetapi kunci-kunci itu masih bertahan di tangan para pengungsi Palestina dan keturunan mereka. Di kamp-kamp pengungsian Gaza, Tepi Barat, Lebanon, hingga Yordania, kunci rumah menjadi lebih dari sekadar benda logam. Ia berubah menjadi simbol ingatan, identitas, dan hak untuk pulang.

    Generasi pertama menyimpan kunci dengan harapan. Generasi kedua dengan kewajiban. Generasi ketiga? Dengan pertanyaan.

    United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) mendokumentasikan bagaimana banyak keluarga pengungsi Palestina masih menyimpan kunci rumah, dokumen tanah era Ottoman, hingga sertifikat kepemilikan lama sebagai bukti bahwa mereka pernah memiliki rumah dan kehidupan di kota-kota yang kini telah berubah.

    Sebagian kunci diwariskan lintas generasi, dari orang tua kepada anak-anak mereka, bahkan kepada cucu yang belum pernah melihat rumah tersebut secara langsung.

    Di Gaza City, sebuah museum kecil memajang ribuan kunci dalam kotak kaca. Ada yang berasal dari Jaffa, Haifa, Lydda, dan desa-desa Palestina yang hilang setelah 1948. Sebagian berukuran besar dari rumah batu era Ottoman, sebagian lain kecil dan sederhana, namun semuanya membawa cerita yang sama: tentang rumah yang ditinggalkan dan harapan yang belum selesai.

    Setiap 15 Mei, pada peringatan Nakba, simbol kunci raksasa muncul di mural, poster, dan jalan-jalan kamp pengungsi Palestina. Simbol itu merujuk pada gagasan “right of return”, hak kembali bagi pengungsi Palestina yang juga disebut dalam Resolusi 194 Majelis Umum PBB tahun 1948, meski implementasinya terus menjadi sengketa politik hingga hari ini.

    Sampai tepat 78 tahun berlalu, hingga 3 generasi penjaga kunci berganti, mereka tidak juga mendapatkan hak mereka Kembali.

    Sejarawan Palestina Salman Abu Sitta pernah menyebut kunci-kunci itu sebagai “arsip hidup”. Tidak seperti dokumen kertas yang dapat hilang atau terbakar, kunci menjadi bukti yang dapat disentuh langsung oleh tangan generasi berikutnya.

    Saat matahari mulai tenggelam di Jabalia, Abu Amsha kembali menatap kunci di tangannya. Di luar tenda, suara drone berdengung samar di langit Gaza.

    “Mungkin cucu saya tak akan pernah membuka pintu itu lagi,” katanya lirih.

    Ia terdiam beberapa saat, sebelum menggenggam logam berkarat itu lebih erat.

    “Tapi selama kunci ini masih ada,” ujarnya, “rumah itu masih milik kami.”

    Ditulis oleh : Dadang Irsyam | Divisi Kepalestinaan FLP Jatim

  • Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

    Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

    Salah satu kekeliruan paling umum dalam melihat Salahuddin Al-Ayyubi adalah menganggap bahwa pembebasan Palestina didapatkan dari kepiawaiannya memimpin medan perang. Pertempuran Hattin (1187) di dekat Danau Galilea sering dianggap sebagai titik penentu Perang Salib, karena di sana ia dapat mengalahkan tentara Salib. Padahal, langkah paling menentukan justru terjadi jauh sebelumnya, di Mesir, dalam ruang-ruang kekuasaan, bukan di tengah gemuruh pedang.

    Pada pertengahan abad ke-12, Mesir dikuasai Daulah Fathimiyah, kekhalifahan Syiah Ismailiyah yang menjadi rival ideologis Abbasiyah Sunni di Baghdad. Bukan sekadar perbedaan mazhab, ini pertarungan legitimasi kekuasaan di dunia Islam. Saat perang salib menggila dan tentara salib mengancam merebut Mesir, Khalifah Fathimiyah Al-`Aadhid panik meminta bantuan dari sultan Suriah, Nuruddin Zanki.

    Nuruddin mengirim pasukan dipimpin Asaduddin Shirkuh, paman Salahuddin Al-Ayyubi. Pasukan ini terdiri dari suku Kurdi dan Turki, dengan Shalahuddin sebagai komandan kunci. Mereka datang “menyelamatkan” Fathimiyah dari Salib, tapi sebenarnya punya agenda Sunni yang lebih besar. Shirkuh kemudian diangkat wazir disana, dan setelah ia wafat Maret 1169, Salahuddin, baru berusia 31 tahun, menggantikannya atas restu Al-`Aadhid.

    Sebagai wazir, Salahuddin Al-Ayyubi bekerja penuh di struktur Fathimiyah yaitu mengelola administrasi, militer, keuangan, bahkan melayani khalifah secara formal. Ia tunjukkan kepiawaiannya dengan menumpas invasi Salib di Damietta dan pemberontakan internal. Namun secara ideologis, posisinya paradoksal dimana ia merupakan Sunni taat, loyal kepada Abbasiyah, tapi jadi teknokrat di rezim yang menentang Baghdad.

    Di sinilah kompleksitas terlihat, perubahan dari dalam bukan proses romantis. Ia harus bersabar, menghitung langkah, menahan dilema etis, dan menghindari konfrontasi prematur yang bisa picu perang saudara.

    Tidak semua pihak bisa langsung disingkirkan. Tidak semua struktur bisa langsung dirombak. Salah langkah sedikit saja bisa memicu pemberontakan atau bahkan menggagalkan posisinya sepenuhnya. Di sinilah menariknya, bagaimana ia menggeser legitimasi dari daulah Syiah menjadi Sunni secara halus, nyaris tanpa ledakan konflik di awal.

    Ketika Al-`Aadhid jatuh sakit menjelang wafatnya pada 1171, situasi menjadi sangat sensitif dan kekuasaan sudah sangat melemah. Secara de facto, kendali pemerintahan berada di tangan sang wazir, Shalahuddin. Namun secara simbolik, legitimasi tetap berada pada sang khalifah.

    Riwayat mencatat bahwa lingkaran istana mulai menyadari bahwa ini adalah akhir dari sebuah dinasti. Shalahuddin tidak serta-merta mendeklarasikan perubahan secara terbuka saat khalifah masih hidup. Ia menunggu dengan tenang.

    Dan begitu Al-`Aadhid wafat, langkah simbolik itu dilakukan yaitu memerintahkan agar khutbah Jumat di Mesir tidak lagi menyebut nama khalifah Fathimiyah, tetapi beralih kepada khalifah Abbasiyah di Baghdad.

    Tidak ada pertempuran besar. Tidak ada penyerbuan istana. Sebuah kekhalifahan yang telah berdiri lebih dari dua abad berakhir berubah secara simbolik dengan gema khutbah shalat jum`at.

    Namun justru di situlah letak kedalamannya. Apa yang terlihat sederhana di permukaan sebenarnya adalah hasil dari akumulasi strategi bertahun-tahun, konsolidasi militer, pengaruh politik, pengendalian elite, dan penggeseran loyalitas masyarakat secara perlahan.

    Shalahuddin tidak menghancurkan sistem itu dari luar secara terbuka karena posisi Mesir sangat rawan. Mereka bisa jadi korban pasukan salib atau bahkan aliansi pasukan salib dalam satu waktu. Maka mengambil legitimasi dari dalam bisa menjadi pintu kemenangan yang sunyi tapi efektif.

    Tetapi ada hal penting dicatat bahwa pendekatan seperti ini bukan jalan mudah karena penuh dengan risiko, diwarnai ketegangan, dan membutuhkan kesabaran yang hampir tidak terlihat. Bekerja dalam sistem yang bertentangan dengan keyakinan sendiri berarti terus berada dalam dilema antara kompromi dan tujuan jangka panjang.

    Dari sinilah Mesir kemudian berubah menjadi basis kekuatan Sunni yang baru. Dengan sumber daya ekonomi yang besar, stabilitas politik yang lebih solid, dan kesatuan ideologis dengan dunia Sunni, Shalahuddin akhirnya memiliki fondasi untuk melangkah ke tahap berikutnya yaitu konsolidasi Suriah dan konfrontasi dengan Tentara Salib.

    Cerita ini menandakan bahwa, pembebasan Palestina tidak dimulai di Palestina semata. Tapi diprakarsai oleh rel panjang visi perjuangan yang terjal dari luar, meskipun kadang harus rela sesekali bermain lumpur.

    Ada refleksi besar yang bisa kita tarik dan terasa sangat relevan dari kisah ini, bahkan di konteks modern.

    Pertama, perubahan besar hampir selalu ditentukan oleh kerja-kerja sunyi yang tidak terlihat. Kita sering terpaku pada “momen kemenangan”, padahal yang lebih menentukan adalah fase panjang sebelum itu, fase membangun sistem, membentuk legitimasi, dan mengelola struktur.

    Kedua, bekerja dari dalam sistem yang tidak ideal seringkali adalah pilihan strategis, bukan bentuk kompromi yang lemah. Shalahuddin menunjukkan bahwa berada di dalam tidak selalu berarti tunduk, karena kadang justru itu adalah posisi paling efektif untuk melakukan transformasi. Tapi, seperti yang terlihat, hal ini menuntut kesabaran ekstrem, kalkulasi yang presisi, keimanan yang kuat, serta ketangguhan dalam eksekusi visi jangka panjang.

    Ketiga, tidak semua perubahan harus dimulai dengan konfrontasi terbuka. Ada kalanya, langkah paling radikal justru dilakukan secara bertahap, sampai sebuah sistem runtuh bukan karena diserang, tetapi karena tidak lagi punya pijakan.

    Dan mungkin itu pelajaran paling tajam dari fase ini adalah bahwa kemenangan besar sering kali lahir bukan dari keberanian sesaat, tetapi dari kesanggupan menahan diri dalam jangka panjang.

    *Ditulis oleh Dadang Irsyam, Divisi Kepalestinaan FLP Wilayah Jawa Timur

  • Aliansi Taktis di Tengah Prahara: Membedah Dukungan Umat Islam Global terhadap Iran

    Aliansi Taktis di Tengah Prahara: Membedah Dukungan Umat Islam Global terhadap Iran

    Awal tahun 2026 memperlihatkan sebuah pemandangan yang beberapa dekade lalu mungkin terasa mustahil. Di berbagai forum diskusi umat, di mimbar-mimbar masjid, hingga di linimasa media sosial, simpati terhadap Republik Islam Iran mulai terdengar semakin nyaring.

    Fenomena ini menjadi paradoks tersendiri. Mayoritas umat Islam dunia adalah Sunni, sementara Iran dikenal sebagai negara dengan basis ideologi Syiah yang selama bertahun-tahun justru terlibat dalam konflik sektarian yang menyisakan luka mendalam di Suriah, Irak, dan Yaman. Namun dalam lanskap geopolitik yang berubah cepat, garis batas lama seolah bergeser.

    Konfrontasi terbuka Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah menciptakan realitas baru. Dalam situasi ketika Palestina terus berada di bawah tekanan militer Israel dan diplomasi internasional tampak menemui jalan buntu, keberanian Iran menantang kekuatan Barat dipersepsikan oleh sebagian umat sebagai satu-satunya perlawanan nyata yang tersisa.

    Dukungan ini tidak lahir dari kesamaan teologi. Ia muncul dari kalkulasi moral dan politik yang lebih kompleks. Sebuah bentuk keberpihakan taktis di tengah prahara geopolitik.

    Preseden Sejarah: Ketika Muslim Mendukung Romawi

    Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah Islam. Al-Qur’an sendiri merekam peristiwa yang memiliki kemiripan pola dalam Surah Ar-Rum.

    Pada abad ke-7, dunia saat itu terpolarisasi antara dua imperium besar yaitu Kekaisaran Romawi Timur yang beragama Kristen dan Kekaisaran Persia yang menganut tradisi Majusi.

    Di Mekkah, kaum Quraisy secara terbuka mendukung Persia. Mereka merasa memiliki kedekatan identitas dengan bangsa yang tidak memiliki kitab suci. Kekalahan Romawi pada saat itu bahkan menjadi bahan ejekan terhadap kaum Muslimin.

    Namun Rasulullah SAW justru mengajarkan sikap berbeda. Kaum Muslimin memberikan simpati moral kepada Romawi, yang meskipun bukan Muslim tetap termasuk Ahlul Kitab.

    Ketika wahyu turun yang menyatakan bahwa Romawi akan kembali menang dalam beberapa tahun, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA bahkan sempat menjadi sasaran cemoohan kaum Quraisy karena meyakini nubuat tersebut.

    Sejarah kemudian membuktikan kebenaran ayat tersebut. Romawi bangkit kembali dan memenangkan pertempuran.

    Namun dukungan Muslim saat itu tidak berarti penyatuan akidah atau loyalitas permanen. Ia hanya sebuah keberpihakan situasional terhadap pihak yang dianggap memiliki irisan nilai tertentu atau menghadapi musuh yang lebih besar.

    Fakta sejarah justru menunjukkan hal menarik setelahnya. Di masa Khalifah Umar bin Khattab RA, pasukan Muslim kemudian bergerak menaklukkan wilayah-wilayah Romawi di Mesir dan Palestina. Simpati yang pernah diberikan di masa lalu tidak menghalangi umat Islam untuk tetap menegakkan prinsip keadilan ketika kepentingan umat menuntutnya.

    Sejarah dengan demikian memberi satu pelajaran penting bahwa aliansi dalam politik seringkali bersifat sementara.

    Satu Aliansi, Tujuan Berbeda

    Dalam kajian geopolitik modern, konsep ini sering dijelaskan sebagai strategic alignment without shared end goals.

    Prof. Jiang Xueqin, seorang pakar geopolitik yang kerap memberikan pandangannya di kanal youtube Predictive History, pernah merumuskan sebuah prinsip game theory yang sederhana namun tajam:

    “Sebuah aliansi strategis tidak secara otomatis menyiratkan kesatuan tujuan.”

    Jika dilihat dari perspektif ini, konflik yang terjadi hari ini memperlihatkan tiga agenda yang berbeda.

    Bagi Amerika Serikat, tujuan utamanya adalah mempertahankan arsitektur kekuatan di Timur Tengah serta memastikan bahwa tidak ada rezim regional yang berkembang di luar orbit kepentingan Barat.

    Bagi Israel, konflik ini berkaitan langsung dengan ambisi mempertahankan dominasi militer dan politik sebagai kekuatan tunggal di kawasan.

    Sementara bagi Iran, dukungan terhadap berbagai kelompok perlawanan di kawasan merupakan bagian dari strategi forward defense. Dengan memperluas jaringan pengaruh melalui aktor-aktor non-negara, Iran berusaha menciptakan lapisan pertahanan jauh dari wilayah inti mereka sendiri.

    Di permukaan, ketiganya tampak berhadapan dalam satu medan konflik yang sama. Namun tujuan jangka panjang mereka tidak pernah benar-benar identik. Adapun tujuan besar umat Islam sendiri adalah hilangnya kezaliman dan tersebarnya Islam di muka bumi ini, termasuk bebasnya Palestina dari penjajahan.

    Dari Sekutu ke Konfrontasi Terbuka

    Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sebenarnya memiliki sejarah yang berlapis. Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Hubungan intelijen dan energi dengan Israel juga berjalan erat melalui skema Peripheral Alliance, yaitu strategi Israel membangun aliansi dengan negara-negara non-Arab di kawasan.

    Revolusi Islam 1979 mengubah arah hubungan tersebut secara drastis. Pemerintahan baru Iran menjadikan retorika anti-Amerika dan anti-Israel sebagai identitas politiknya. Namun bahkan di tengah permusuhan terbuka itu, pragmatisme geopolitik tetap muncul. Pada dekade 1980-an, skandal Iran-Contra mengungkap bahwa Iran secara diam-diam menerima pasokan senjata dari Israel untuk menghadapi perang melawan Irak di bawah Saddam Hussein.

    Memasuki dekade berikutnya, pola konflik semakin kompleks. Iran memperluas pengaruhnya melalui jaringan proksi seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi di Irak. Ketika perang Suriah pecah pada 2011, Iran secara terbuka mendukung rezim Bashar al-Assad melalui intervensi militer Korps Garda Revolusi Islam, sebuah langkah yang memicu kemarahan luas di dunia Islam-Sunni.

    Ketegangan meningkat tajam pada 2020 ketika Amerika Serikat melakukan serangan drone di Baghdad yang menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Sejak saat itu, konflik yang sebelumnya banyak berlangsung dalam bayang-bayang mulai bergerak menuju konfrontasi yang lebih terbuka.

    Dinamika tersebut semakin memanas setelah operasi Thufanul Aqsha pada 2024, di mana Iran dipandang berperan dalam mendukung kapabilitas militer kelompok perlawanan Palestina melalui teknologi drone dan rudal. Eskalasi mencapai titik kritis pada awal 2026 ketika serangan udara yang menargetkan kepemimpinan Iran di Teheran dibalas dengan peluncuran rudal balistik ke sejumlah titik strategis Israel dan basis militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

    Serangkaian peristiwa ini tidak hanya mengguncang stabilitas Timur Tengah, tetapi juga membentuk persepsi baru di kalangan umat Islam global. Bagi sebagian pihak, keberanian Iran menantang kekuatan militer AS-Israel dipandang sebagai salah satu bentuk perlawanan nyata yang jarang terlihat dari negara lain dalam isu Palestina.

    Dukungan yang Penuh Kewaspadaan

    Namun simpati yang muncul hari ini bukanlah bentuk penyerahan loyalitas ideologis kepada Iran.

    Sejarah Islam menunjukkan bahwa umat pernah memberikan simpati kepada Romawi, tetapi kemudian tetap berhadapan dengan mereka ketika kepentingan keadilan menuntutnya.

    Logika yang sama berlaku dalam situasi hari ini.

    Umat Islam dapat mendukung setiap upaya yang menantang penindasan terhadap Palestina, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga kewaspadaan terhadap agenda geopolitik yang lebih luas.

    Literatur eskatologis dalam tradisi Islam bahkan mengingatkan tentang kemunculan pasukan dari wilayah Isfahan pada akhir zaman—sebuah simbol bahwa dinamika kekuatan di kawasan Persia selalu memiliki dimensi yang kompleks.

    Dengan demikian, dukungan terhadap Iran hari ini lebih tepat dipahami sebagai keberpihakan situasional yang lahir dari solidaritas kemanusiaan dan pembelaan terhadap Palestina.

    Ia bukanlah aliansi ideologis yang permanen.

    Sejarah menunjukkan bahwa dalam politik global, musuh dan sekutu dapat berubah dengan cepat. Yang tetap harus dijaga oleh umat hanyalah satu hal yaitu prinsip keadilan yang tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan kekuasaan mana pun.

    Ditulis Oleh: Dadang Irsyam | Divisi Kepalestinaan Forum Lingkar Pena Jawa Timur

  • Mengakali Tuhan: Kisah Hari Sabtu dan Mentalitas Celah Hukum Ala Bani Israil

    Mengakali Tuhan: Kisah Hari Sabtu dan Mentalitas Celah Hukum Ala Bani Israil

    Pernah enggak kita berpikir, mengapa hari besar kita itu hari Jumat, bukan Sabtu seperti Bani Israil?

    Sekarang coba bayangkan sesuatu yang lebih ekstrem. Bayangkan kalau Jumat dalam Islam bukan hanya shalat Jumat lalu kembali kerja seperti biasa. Bayangkan kalau sejak Subuh sampai Maghrib kita tidak boleh berdagang, tidak boleh transaksi, tidak boleh buka marketplace, tidak boleh meeting, tidak boleh kirim invoice. Satu hari penuh hanya ibadah. Full berhenti.

    Lalu justru di hari itu pelanggan membludak. Order masuk deras. Closing besar datang bertubi-tubi. Semua peluang terbuka lebar, tepat saat kita dilarang menyentuhnya. Inilah kira-kira yang dirasakan Bani Israil dalam ujian hari Sabtunya.

    Kota di Tepi Laut dan Ujian yang Terlalu Jelas

    Al-Qur’an mengisahkan sebuah negeri di tepi laut yang diuji dengan cara yang sangat halus, sekaligus sangat telanjang. Pada hari Sabtu, ikan-ikan datang melimpah ke permukaan. Pada hari-hari lain, laut terasa pelit. Pola itu berulang, seolah disengaja (Al-A’raf 163–166; Al-Baqarah 65–66).

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dinukil dari Ibnu ‘Abbas bahwa negeri itu adalah Ailah, kota Yahudi di pesisir Laut Qulzum (Laut Merah). Bagi masyarakat Bani Israil yang hidup dari laut, hamparan air itu bukan sekadar pemandangan; ia adalah dapur, nadi, dan masa depan.

    Adapun hari Sabat atau sabtu bagi mereka bukan hari biasa. Ia adalah perjanjian. Hari yang harus dijaga dari aktivitas berburu dan mencari ikan. Dalam Tafsir al-Qurthubi dan Tafsir al-Baghawi, disebut bahwa fenomena ikan yang muncul melimpah pada Sabtu adalah ibtilā’, ujian yang disengaja. Bukan kebetulan alam. Tapi ujian yang terlalu jelas untuk dianggap netral. Dan justru di situlah letak godaannya.

    Dari Taat ke Taktik

    Awalnya kaum Bani Israil patuh. Sabtu adalah Sabtu. Tidak ada jaring ditebar, tidak ada tombak dilempar. Namun ujian yang berulang pelan-pelan menggerus tekad. Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ketika godaan itu terasa makin berat, sebagian dari mereka mulai mencari jalan tengah. Bukan melanggar secara terang-terangan. Bukan membantah hukum secara frontal. Mereka memilih cara yang lebih “cerdas”.

    Mereka membuat saluran dan kolam yang terhubung ke laut sebelum hari Sabtu. Ketika Sabtu tiba, ikan-ikan masuk dan terperangkap. Mereka tidak menyentuhnya hari itu. Mereka menunggu hingga Ahad untuk mengambil hasilnya.

    Secara teknis, mereka bisa berkata, “Kami tidak berburu di hari Sabtu.”
    Secara moral, mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan.

    Dalam Tafsir al-Qurthubi dijelaskan, ini adalah bentuk hiyal, rekayasa hukum. Bungkusnya patuh, isinya pelanggaran. Kulitnya taat, hatinya memberontak. Kesalahan mereka bukan sekadar menangkap ikan. Kesalahan mereka adalah mencoba mengakali maksud hukum itu sendiri.

    Tiga Wajah dalam Satu Kota

    Al-A’raf 164–166 menggambarkan kota Bani Israil itu terbelah menjadi tiga kelompok.

    Pertama, mereka yang menjalankan skema itu, yang yakin bahwa kepintaran teknis cukup untuk membebaskan nurani.

    Kedua, mereka yang menegur: “Mengapa kalian melanggar apa yang telah Allah tetapkan?” Dalam Tafsir Ibnu Katsir, kelompok ini dipandang sebagai pelaku amar ma’ruf nahi munkar, mereka yang tidak rela melihat hukum dipermainkan.

    Ketiga, mereka yang diam. Bahkan sebagian mencela para penegur: “Untuk apa menasihati kaum yang akan dibinasakan Allah?” Sikap apatis yang terasa sangat modern, seolah berkata, “Bukan urusan saya.”

    Ibnu Katsir menyebut yang jelas selamat adalah kelompok yang aktif menegur. Tentang yang diam, para ulama berbeda pendapat. Namun satu pelajaran terasa terang yaitu tidak ikut bersalah belum tentu cukup; terkadang keselamatan menuntut keberanian untuk bersikap.

    Ketika Bentuk Mengikuti Sifat

    Al-Baqarah 65 menyebut hukuman yang mengguncang: “Jadilah kalian kera yang hina.”

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa perubahan itu terjadi secara nyata, alih rupa fisik, tanpa keturunan, hidup hanya beberapa hari sebelum binasa. Sebagian mufasir lain menukil penafsiran maknawi, tetapi pendapat yang lebih kuat di kalangan ahli tafsir adalah perubahan hakiki. Apa pun detailnya, pesan moralnya jelas: ketika manusia merendahkan hukum demi hasrat, ia sedang merendahkan dirinya sendiri.

    Mereka tidak dihukum semata karena lapar. Mereka dihukum karena mempermainkan batas. Karena menjadikan kecerdikan sebagai tameng untuk meloloskan nafsu.

    Dari Ailah ke Era Digital dan Kekuasaan Modern

    Mungkin saat ini kisah tersebut terasa sangat jauh dari kita dan sangat klasik. Pembahasan tema kota pesisir, ikan, dan hari Sabtu seakan-akan kisah umat lampau yang tidak ada hubungannya dengan kita. Padahal, mentalitas manipulatifnya dekat dengan kita. Karena hari ini kita hidup di ruang yang penuh celah.

    Di dunia digital, kita bisa menulis hate comment tanpa menyebut nama langsung, secara hukum mungkin sulit diproses, tapi jelas melukai. Kita bisa menyebarkan potongan video tanpa konteks, tidak sepenuhnya bohong, tapi sengaja menyesatkan. Kita bisa memanfaatkan data pengguna karena “terms & conditions sudah disetujui”, meski tahu mayoritas orang tak pernah benar-benar membaca.

    Namun mentalitas celah hukum tidak berhenti di dunia maya saja. Ia hidup dalam praktik mark up anggaran yang “rapi secara administrasi”. Ia bersembunyi dalam money laundering yang disamarkan lewat skema legal formal bisnis atau lelang karya seni. Ia menjelma dalam nepotisme jabatan, mengangkat keluarga atau kroni dengan alasan “kompeten”, padahal konflik kepentingannya nyata. Ia muncul ketika fasilitas yayasan, lembaga, atau jabatan publik digunakan untuk keuntungan pribadi—dibungkus prosedur, dilindungi tanda tangan, disahkan stempel.

    Secara hukum positif, sebagian bisa saja lolos jika celahnya ditemukan. Dokumen lengkap. Prosedur terlihat benar. Tidak ada pasal yang secara eksplisit menjerat. Tapi sejak kapan kebenaran identik dengan sekadar lolos dari pasal?

    Kisah Sabtu mengajarkan bahwa persoalannya bukan semata legal atau ilegal. Masalahnya adalah niat untuk memutar maksud. Mengambil keuntungan dari celah. Memainkan teks sambil mengabaikan ruh. Mentalitas itu tidak berubah dari Ailah sampai ruang rapat, dari tepi laut sampai meja anggaran.

    Secara teknis mungkin aman.
    Secara hukum mungkin lolos.
    Secara regulasi mungkin belum terlarang.

    Tapi pertanyaannya tetap sama seperti di tepi laut itu:

    Apakah kita sedang taat pada semangat kebaikan,
    atau hanya sedang berusaha mengakali batasnya?

    Mungkin kata sebagian kecil ulama’ benar yang dikutuk hanya perilaku bukan fisik. Mungkin hati kita juga sudah berubah sekeras kera-kera kota Ailah. Na’asnya, kita juga belum sadar.

    *Ditulis oleh: Dadang Irsyam | Divisi Kepalestinaan Forum Lingkar Pena Jatim

  • Epstein Files, Palestina, dan Politik Narasi Sejarah

    Epstein Files, Palestina, dan Politik Narasi Sejarah

    Akhir-akhir ini, berita Epstein Files kembali viral dan menjadi perbincangan luas di berbagai media dan platform digital. Publik bukan hanya menyoroti kejahatan seksual dan jaringan perdagangan manusia yang melibatkan miliarder Jeffrey Epstein, tetapi juga isi dokumen-dokumen yang selama bertahun-tahun tersembunyi dari akses umum.

    Berkas Epstein ini mencakup lebih dari tiga juta halaman dokumen, ribuan foto, video, rekaman suara, email, serta log penerbangan jet pribadi Epstein yang dikenal sebagai “Lolita Express”. Perhatian publik semakin besar karena dokumen-dokumen ini menyebut nama-nama tokoh dunia dari kalangan politik, bisnis, dan kerajaan, seperti Donald Trump, Bill Clinton, Bill Gates, hingga Elon Musk, meskipun penyebutan nama tidak serta-merta berarti keterlibatan dalam tindak pidana.

    Di antara tumpukan dokumen Epstein tersebut, terdapat satu bagian yang luput dari perhatian banyak orang: korespondensi email dengan kode EFTA01883590 dan EFTA02555028 bertanggal 20 Mei 2012, yang dikirim oleh Jeffrey Epstein kepada dua penerima yang berbeda yang namanya disamarkan penyidik. Isi email yang identik sama ini tidak membahas kejahatan seksual atau urusan hukum Epstein, melainkan memuat sebuah narasi panjang tentang sejarah Palestina, dan legitimasi identitas nasional Palestina.

    Palestina dalam Epstein Files

    Dalam email tersebut, Epstein menuliskan narasi yang menyatakan bahwa Palestina:

    1. Tidak pernah menjadi negara Arab yang eksklusif, dan bahasa Arab baru menjadi dominan setelah penaklukan Muslim abad ke-7.

    2. Tidak pernah memiliki negara Arab atau negara Palestina yang merdeka dalam sejarah.

    3. Mengutip sejarawan Arab-Amerika Prof. Philip Hitti yang menyatakan bahwa “tidak ada yang disebut Palestina dalam sejarah.”

    4. Menyebut bahwa sebelum rencana pemisahan wilayah (partition), orang Arab Palestina tidak melihat diri mereka sebagai identitas nasional terpisah, melainkan bagian dari Suriah Raya.

    5. Mengutip pernyataan tokoh-tokoh Arab pada 1919, 1937, dan 1947, termasuk Auni Bey Abdul-Hadi dan perwakilan Arab di PBB, yang menyatakan bahwa Palestina adalah bagian dari Suriah, bukan entitas politik mandiri.

    6. Menyimpulkan bahwa nasionalisme Arab Palestina adalah fenomena pasca–Perang Dunia I, dan baru menjadi gerakan politik signifikan setelah Perang Enam Hari 1967 dan pendudukan Israel atas Tepi Barat.

    Bagian ini, sebagaimana tercantum dalam Epstein Files, merupakan narasi sepihak yang disusun dari kutipan-kutipan historis tertentu tanpa konteks yang lebih luas.

    Analisis dan Counter

    Secara faktual, sebagian pernyataan dalam korespondensi tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi bersifat overselektif dan reduktif. Bias ini tentu saja tidak bisa diterima sebagai fakta yang komprehensif.

    Pertama, benar bahwa tidak pernah ada negara-bangsa Palestina modern sebelum abad ke-20. Namun, ini bukan anomali sejarah. Banyak negara yang kini diakui secara internasional, termasuk Yordania, Lebanon, bahkan Indonesia, juga tidak memiliki bentuk negara nasional yang jelas sebelum runtuhnya kekaisaran dan kolonialisme modern.

    Kedua, kutipan Philip Hitti dan tokoh Arab lainnya sering dipahami secara keliru. Ketika mereka mengatakan “Palestina tidak ada,” yang dimaksud adalah ketiadaan entitas politik nasional, bukan ketiadaan wilayah, penduduk, atau kesinambungan demografis. Palestina sebagai wilayah geografis dan administratif telah dikenal sejak era Romawi hingga Ottoman, meskipun tanpa kedaulatan nasional.

    Ketiga, identitas nasional bukan sesuatu yang statis atau abadi. Fakta bahwa elite Arab Palestina pada awal abad ke-20 mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Suriah Raya mencerminkan konteks pan-Arabisme pada masa itu. Identitas Palestina modern berkembang kemudian sebagai respons terhadap mandat Inggris, migrasi Zionis, konflik teritorial, dan realitas politik pasca-1948 dan 1967.

    Keempat, dari sudut pandang hukum dan politik internasional, hak menentukan nasib sendiri tidak mensyaratkan keberadaan negara di masa lalu. Ia bertumpu pada keberadaan komunitas manusia yang berkelanjutan dan kesadaran kolektif yang berkembang seiring waktu.

    Dengan demikian, narasi dalam korespondensi Epstein lebih tepat dibaca sebagai argumen politik yang menggunakan sejarah secara overselektif, bukan sebagai kesimpulan akademik final tentang legitimasi Palestina. Ia menjelaskan asal-usul nasionalisme Palestina menurut satu sudut pandang, tetapi tidak secara otomatis meniadakan realitas politik dan kemanusiaan yang ada saat ini.

    Penutup

    Keberadaan narasi tentang Palestina dalam Epstein Files menunjukkan bahwa dokumen ini tidak hanya memuat kejahatan personal, tetapi juga jejak pandangan politik dan ideologis dari jaringan elite global. Hal ini mengingatkan bahwa sejarah sering kali tidak hanya dicatat, tetapi juga dipilih dan dibingkai untuk mendukung kepentingan tertentu.

    Membaca dokumen semacam ini menuntut kehati-hatian: memisahkan apa yang benar secara historis, apa yang dihilangkan, dan bagaimana sejarah digunakan sebagai alat legitimasi politik.

    *Ditulis oleh Dadang Irsyam, Divisi Kepalestinaan FLP Wilayah Jawa Timur

  • Dukung Percepatan Pembebasan Palestina, FLP Turut Berkontribusi dalam “Palestine in Art”

    Dukung Percepatan Pembebasan Palestina, FLP Turut Berkontribusi dalam “Palestine in Art”

    Ahad pagi (1/9), kesibukan terlihat di ballroom hotel Aston Sidoarjo. Panitia kegiatan lelang amal untuk Palestina bertajuk “Palestine in Art” sedang melakukan persiapan acara.

    Acara yang telah direncanakan sejak sebulan sebelumnya ini mengundang Bunda Sinta Yudisia, seorang psikolog yang juga penulis dan pegiat Forum Lingkar Pena. Bunda Sinta Yudisia pun kini menjadi Ketua Komisi FLP untuk Palestina. Beliau pernah dikirim ke Palestina dan bertemu dengan Syaikh Ismail Haniyeh pada tahun 2009 lalu.

    Selain Bunda Sinta Yudisia, turut menjadi pembicara Ustadz Suhadi Fadjaray, seorang motivator islami sekaligus konsultan pendidikan yang telah banyak memberikan motivasi ke berbagai instansi dan lembaga, terutama terkait parenting.

    Kegiatan di hotel Aston ini merupakan opening dari rangkaian kegiatan “Palestine in Art” yang akan berlangsung selama seminggu ke depan.

    Dalam opening ini, Bunda Sinta Yudisia memberikan informasi mengenai tangguhnya anak-anak Palestina dan pengalamannya bersentuhan langsung dengan orang-orang Palestina. “Saya bertemu seorang sopir di Palestina. Saya bertanya apakah Anda mau tinggal di Indonesia. Dia menjawab, kalau berkunjung saja tidak apa-apa, tapi kalau tinggal tidak. Palestina adalah daarul ma’ad–rumah tempat kembali,” ujar Bunda Sinta, dengan mata berkaca-kaca menceritakan betapa indah akhlak orang-orang di Negeri Anbiya itu.

    Anak-anak muda Palestina adalah anak-anak yang penuh kreativitas dan selalu menanamkan keimanan di dada mereka. Dalam sharing-nya, Ustadz Suhadi menyampaikan bahwa untuk mencetak anak-anak demikian, kita perlu menghapus stigma bahwa masa muda adalah waktunya kenakalan dan kerusakan terjadi. “Jadilah contoh untuk anak-anak. Kalau mau anak kita shalat ke masjid, bapaknya juga harus ke masjid. Jangan harapkan anak muda kita mau melanjutkan perjuangan untuk Palestina kalau masih seperti sekarang kondisinya, hobi nge-game, kecanduan gadget, sampai terpapar pornografi. Kita harus mulai jadi teladan untuk anak,” ujarnya tegas.

    Motivasi-motivasi yang disampaikan para narasumber disambut baik oleh para peserta. Setelah talkshow, para peserta dengan antusias mengikuti lelang lukisan yang hasilnya 100% didonasikan untuk Palestina melalui Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF). Salah satu yang mengambil lelang tersebut adalah MT. Al-Millah yang berhasil mengumpulkan uang sebesar 25 juta dari para jamaah ibu-ibu. Selain itu ada beberapa pelelang lain yang mengambil lukisan-lukisan yang ada, termasuk lukisan yang dilukis on the spot.

    Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) ini didukung oleh Samira Travel Umrah, Oshilova Chicken, Yayasan Al-Falah Darussalam, Forum Lingkar Pena, Cahaya Pustaka, dan banyak lainnya. Dari kegiatan ini, diharapkan dapat menambah insight masyarakat tentang Palestina. “Kita perjuangkan Palestina dengan apa yang kita punya. Free, free, Palestine!” Begitu ungkapan Rafif Amir, ketua panitia kegiatan Palestine in Art dalam sambutannya di opening acara ini.

    Acara Palestine in Art tentunya tidak berakhir hari ini saja, tetapi masih ada rangkaian acara lain berupa kajian terkini Palestina, parade puisi, konser amal, dan acara menarik lainnya selama seminggu ke depan.

    Forum Lingkar Pena Sidoarjo turut serta dalam rangkaian kegiatan dengan menjadi media partner. Dalam opening kegiatan, FLP Sidoarjo membuka stand untuk memperkenalkan buku-buku penulis FLP, seperti Gol A Gong, Sinta Yudisia, Asma Nadia, Niswahikmah, dan lainnya. Dalam kaitannya dengan perjuangan untuk Palestina, FLP menjadi salah satu pendukung utama hingga memiliki komisi tersendiri untuk urusan Palestina. Diharapkan segala ikhtiar ini dapat mempercepat kemerdekaan Palestina bisa terwujud.