Tag: menulis

  • Sudahkah Kita Jadikan Aktivitas Menulis Sebagai Vitamin Jiwa di Era Digital?

    Sudahkah Kita Jadikan Aktivitas Menulis Sebagai Vitamin Jiwa di Era Digital?

    Dalam acara Seminar Nasional Satu Jiwa Untuk Literasi, novelis Ayat-Ayat Cnta, Habiburahman El Shirazy, memberikan pandangan Islam mengenai aktivitas menulis dan membaca yang mampu memotivasi peserta untuk terus berkarya lillahita’ala. Beliau menegaskan membaca dan menulis merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik lahir dari kebiasaan membaca yang kuat dan berkelanjutan. 

    Tak hanya itu, beliau mengungkapkan, “Orang yang ingin menjadi penulis sejatinya harus terlebih dahulu menjadi pembaca yang setia. Membaca memperkaya batin, sementara menulis adalah cara menyalurkan dan mengabadikan hasil perenungan.”

    Acara sekaligus Musyawarah Wilayah (Muswil) IX yang diselenggarakan di Malang pada Jumat, 16 Januari 2026 ini bertema Menulis Sebagai Vitamin Jiwa Generasi Digital.

    Menulis adalah Perintah Allah

    Kang Abik, sapaan akrab beliau, mengatakan bahwa membaca dan menulis merupakan perintah Allah SWT yang tercantum dalam Al-Qur’an untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat.

    Membaca dalam bahasa arab berasal dari kata قَرَأَ. Ketika berubah menjadi kalimat perintah (fi’il ‘amr) “bacalah!” akan berubah menjadi اِقْرَأْ (Iqro’) yang terdapat pada surah Al-‘Alaq ayat 1:

    اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١

    Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”

    Sedangkan aktivitas menulis, Allah berfirman pada surah Al-Qolam ayat 1:

    نۤۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ۝١

    Artinya : “Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,”

    Surah Al-Qolam ayat 1 menegaskan keagungan ilmu dan pentingnya literasi hingga Allah bersumpah demi pena. Kekuatan menulis dan membaca telah menjadi bukti yang jelas hingga saat ini bahwa peradaban Islam terbangun pada ribuan abad lalu juga berawal dari para ilmuwan yang mencintai aktivitas menulis dan membaca. Allah pun memerintahkan Iqra’ bukan hanya sekadar membaca, tetapi juga agar manusia mampu berpikir. Tuhan Yang Maha Pemurah mengajarkan manusia melalui perantara Qolam.  

    Kang Abik juga mengatakan bahwa, “Anugerah Allah hanya diberikan kepada mereka yang mau membaca.”

    Jika Iqra’ menjadi sebuah kewajiban di rumah, secara tidak langsung, anak-anak akan berkembang menjadi insan yang kritis karena sebenarnya tujuan utama membaca dan menulis untuk menjalankan syariat islam.

    Merasa Belum Pantas?

    Sebab Islam mementingkan budaya ilmu, maka Islam juga mengharamkan menyembunyikan ilmu. Ketika suatu kondisi membutuhkan sebuah ilmu atau penjelasan, akan tetapi orang yang berilmu ini tidak ingin menjelaskan apa ilmu yang ia punya atau menyembunyikannya dengan dalih “belum pantas”, maka Allah akan melaknatnya. Astaghfirullah al’adzim.

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” (Al-Baqarah/2: 159)

    Ternyata orang berilmu memiliki amanah yang berat. Dalam hadits Rasulullah SAW, Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui, namun dia menyembunyikannya, maka dia akan diberi tali kekang dari neraka pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Semoga kita terhindar dari siasat setan. Tentu saja Allah telah menganugerahi ilmu kepada setiap penulis sehingga sudah sepantasnya, sebab menjadi suatu syariat Islam, mengajarkan kepada yang lain. Setiap insan akan memiliki ilmu yang beraneka ragam, misalnya tentang tips agar cerpen memikat hati, novel, cara menulis puisi, atau pun berkaitan dengan fikih, muamalah, tarikh, tafsir, akidah seperti menyambut Bulan Ramadan, atau apa pun yang menjadi kebutuhan saat ini, seperti tips meningkatkan motivasi belajar pada siswa. Tak hanya melalui buku, para penulis bisa menyebarkan ilmu secara kreatif pun melalui media sosial atau website.

    Namun, di era digital ini, tantangan menulis semakin besar. Penulis harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Seperti yang diungkapkan Kang Abik, bahwa di era digital, tantangan literasi bukan hanya soal akses informasi, tetapi juga kedalaman berpikir. Menulis menjadi cara untuk menjaga kejernihan hati dan kesehatan jiwa, khususnya bagi generasi muda yang saat ini sering berhadapan dengan arus informasi yang cepat dan masif. Sebagai penulis dengan anugerah ilmu yang telah diberikan oleh Allah, sudahkah kita jadikan aktivitas menulis sebagai vitamin jiwa di era digital?

  • Bagaimana Saya Mendapatkan Banyak Buku

    Bagaimana Saya Mendapatkan Banyak Buku

    Pada Hari Buku Nasional ini, saya ingin berbagi kiat mendapatkan buku. Sebab, ada beberapa teman yang ketika bertamu, mereka menanyakan bagaimana saya memiliki banyak buku.

    Sebenarnya buku saya tidak banyak kalau dibandingkan dengan mereka yang benar-benar pencinta atau kolektor buku. Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata orang, mungkin cukup banyak. Selain ada tiga deret perpustakaan di lantai satu, pada setiap ruang di lantai dua juga ada perpustakaan kecil atau tepatnya sudut baca. Yang tampak di foto ini adalah deret terbesar di lantai satu.

    Sedikit demi sedikit

    “Dulu belinya langsung banyak?” Nah, ini pertanyaan yang paling sering terlontar. Saya jawab terus terang, tidak. Sejak mahasiswa, saya suka menyisihkan uang saku untuk beli buku. Jika teman-teman suka ngemil atau beli jajan, saya hampir tak pernah. Jadi saya bisa menabung untuk beli buku. Sebenarnya sejak sekolah, sih. Namun, hampir semua bukunya tidak terawat. Yang sampai sekarang awet ya mulainya saat kuliah.

    Ketika masih ada Pustaka Progresif di Gresik, saya pernah ditawari untuk bawa paket buku dulu. “Bayarnya belakangan, diangsur,” kata pemilik toko saat saya beli Fathul Bari satu demi satu. Jumlahnya ada 36 jilid. Butuh tiga tahun kan kalau satu bulan cuma beli satu. Namun, saya menolak dengan halus tawaran baik itu. Lebih baik sabar satu per satu daripada malah hutang.

    Mahar paling awet

    Kecintaan pada buku menginspirasi saya untuk memberikan mahar berupa buku. Selain sebuah cincin emas, saya memberikan mahar Tafsir Ibnu Katsir sepuluh jilid pertama.

    Saya menikah muda, ketika masih mahasiswa. Sepuluh jilid Tafsir Ibnu Katsir tersebut merupakan buku terbanyak yang saya beli saat itu. Yang akhirnya menjadi cikal bakal perpustakaan keluarga. Awet hingga sekarang. Terjaga.

    Sedangkan cincinnya, sudah terjual saat kami benar-benar butuh uang pada tahun-tahun pertama pernikahan. Istri dengan rela hati menjual cincin itu demi kebutuhan keluarga. Ketika saya mendapatkan rezeki untuk membelikan sebuah cincin baru sebagai gantinya, beberapa bulan kemudian ia infakkan saat ada acara solidaritas untuk Palestina.

    Beli saat diskon besar-besaran

    Tahun-tahun terakhir ini saya jarang beli buku kecuali jika ada diskon besar-besaran. Misalnya saat pameran, bazar, atau promo. Ada penerbit yang memberikan diskon hingga 70% saat harlahnya pada awal bulan ini.

    “Kok beli buku banyak?” Tanya istri saat paketnya datang. Cukup besar.
    “Tenang, itu harganya murah, kok. Diskon 70 persen.”

    Namun, ada pengecualian. Buku-buku baru yang saya butuhkan untuk bahan menulis, meskipun belum ada diskon besar. Misalnya untuk menulis resensi di flpjatim.id ini. Antara lain, buku Rasa Tere Liye.

    Terkadang saya juga membeli buku bekas. Namun, jumlahnya tidak banyak. Biasanya saat buku itu memang saya butuhkan. Yang saya ingat, saya pernah membeli buku Cashflow Quadrant di Cahaya Pustaka-nya Babe Rafif. Bukunya masih bagus, harganya sangat murah dibandingkan buku barunya. Pernah beli novel Hujan Tere Liye di Mas Teguh FLP Surabaya. Pernah juga beli satu paket Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad di Kampung Ilmu Surabaya.

    Hadiah

    Yang perlu dicatat, tidak semua buku saya beli. Ada banyak buku yang merupakan hadiah. Baik hadiah dari penerbit karena saya menulis resensi buku-buku mereka, hadiah dari teman, maupun souvenir acara. Terkadang saat mengisi acara di suatu tempat, panitia memberikan oleh-oleh buku.

    Mengapa perlu punya banyak buku?

    Nah, saya lanjutkan sedikit tentang manfaat punya banyak buku. Pertama, jadi booster. Begitu melihat buku, ada semangat tersendiri bagi saya. Apalagi kalau sudah membaca.

    Kedua, buku-buku di depan mata kita merupakan alat bantu untuk membangun kebiasaan membaca. Menurut James Clear, agar kita bisa membangun kebiasaan baik, langkahnya ada empat:

    • Jadikan kebiasaan itu terlihat
    • Jadikan kebiasaan itu menarik
    • Jadikan kebiasaan itu mudah dilakukan
    • Jadikan kebiasaan itu memuaskan

    Pada kebiasaan membaca, menaruh buku di berbagai tempat yang mudah terlihat merupakan langkah pertama. Karenanya hampir seluruh ruangan di rumah saya ada bukunya. Termasuk kaamr tidur dan ruang keluarga. Kecuali kamar mandi. Menyediakan buku di banyak tempat yang mudah kita jangkau juga membuat kebiasaan membaca lebih mudah dilakukan.

    Ketiga, ketika kita sudah membaca, kita akan mendapat banyak manfaat. Mulai ilmu baru yang perlu kita amalkan, hingga berbagai ide dan inspirasi. Dari buku yang kita baca, kita punya ide dan inspirasi untuk menulis. Tulisan yang menghasilkan, sebagian uangnya bisa kita gunakan untuk membeli buku. Demikian siklusnya. [Muchlisin BK/Flpjatim.id]

  • Ternyata Tak Berat, Ini Kiat Menulis Semudah Curhat

    Ternyata Tak Berat, Ini Kiat Menulis Semudah Curhat

    Banyak orang menganggap menulis itu berat. Bahkan ada yang menganggap sangat berat karena meyakini yang bisa menulis hanya orang-orang berbakat. Melalui Gelar Wicara Menulis Semudah Curhat, Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur mendobrak mitos tersebut. Seperti tema yang diangkat, ternyata menulis itu mudah. Semudah curhat.

    Gelar Wicara Menulis Semudah Curhat merupakan hasil kolaborasi FLP Jatim bersama Mizan. Dihelat di panggung Big Bad Wolf 2022 yang berlokasi di JX International (Jatim Expo) pada Senin, 11 Juli 2022. Gelar Wicara ini menghadirkan empat pembicara: Ketua FLP Jatim Muchlisin BK, Sekretaris FLP Jatim Arwa Lubna, Koordinator Divisi Kaderisasi FLP Jatim Novi Larasati, dan Koordinator Divisi Karya Niswahikmah. Wakil Ketua FLP Jatim Chairi Sulaiman yang sedianya juga menjadi pembicara berhalangan hadir karena sakit.

    Sejak dibuka, acara ini terasa renyahnya. Ramadhan Rahma sebagai pemandu gelar wicara pandai membawa suasana. Tak hanya menarik perhatian pengunjung Big Bad Wolf 2022, ia juga berhasil membuat beberapa pengunjung naik ke panggung untuk bertanya.

    Menulis Itu Mudah

    Seperti bicara, sebenarnya kita juga sudah terbiasa menulis. Bahkan di zaman sekarang, hampir setiap hari kita tidak lepas dari aktivitas menulis.

    “Misalnya menulis pesan di WhatsApp, menulis takarir di Instagram, menulis status di Facebook,” terang Arwa Lubna.

    Ternyata benar juga ya. Kita sudah terbiasa menulis sebagaimana bicara. Sebab pada dasarnya dua aktivitas itu sama. Sama-sama menyampaikan pesan, sama-sama menuangkan gagasan. Bedanya, bicara menggunakan lisan, sedangkan menulis menggunakan pena atau jari kita untuk menyentuh papan tombol guna merangkai kata.

    Pernahkah kita menghitung dalam 24 jam berapa kata yang kita tuliskan baik di aplikasi perpesanan maupun media sosial? Ternyata bisa ratusan hingga ribuan kata. Artinya, menulis itu mudah. Kita semua bisa melakukannya.

    Agar Tulisan Menjadi Karya

    Jika menulis itu mudah, bagaimana agar tulisan kita menjadi sebuah karya? Maksudnya bukan sekadar tulisan obrolan di aplikasi perpesanan dan bukan sekadar takarir singkat di media sosial?

    Niswahikmah yang telah menulis banyak buku termasuk beberapa novel berbagi kiatnya. Terlebih dahulu ia menyadarkan bahwa menulis itu adalah menuangkan gagasan layaknya teko yang mengeluarkan isinya. Maka kita perlu memperbanyak isi teko dengan belajar dan banyak membaca.

    “Jika ingin menulis cerpen, bacalah banyak cerpen. Bukan untuk mengambil ide cerita atau memplagiasi konfliknya tetapi untuk belajar bagaimana cara menulisnya. Demikian pula dengan novel dan karya lainnya,” kata penulis novel Ketika Cinta Bertemu Sang Maha ini.

    Kiat berikutnya, seseorang yang ingin menjadi penulis, ia harus banyak berlatih. “Jadi langsung saja menulis. Terus berlatih, terus menambah jam terbang.”

    Muchlisin menambahkan, bergabung dengan organisasi kepenulisan seperti FLP merupakan salah satu kiat meningkatkan kemampuan menulis. Sebab FLP menyediakan pelatihan menulis, diskusi kekaryaan, upgrading untuk anggota, hingga bedah karya dan kritik sastra. Selain itu, suasana saling mengingatkan antaranggota akan menjadi motivasi tersendiri.

    Sebagai seorang editor, Arwa Lubna berbagi kiat agar menulis dan menghasilkan karya bisa selesai lebih cepat. “Menulis saja dahulu. Jangan terlalu memikirkan ejaannya, struktur kalimatnya, benar salah penulisannya. Intinya, mengalir saja. Nanti proses editing atau penyuntingannya belakangan. Sebab kalau dapat satu dua kalimat lalu disunting, bisa tidak selesai-selesai karyanya.”

    Mendapatkan Ide dan Menyikapi Kebuntuan Ide

    Salah seorang penanya menanyakan bagaimana cara mendapatkan ide dalam menulis dan apa yang harus dilakukan jika terjadi kebuntuan ide di tengah proses menulis. Ya, karena yang kita tuliskan adalah ide, ide menjadi kunci utama sebelum kita menuangkannya dalam sebuah karya.

    Menurut Novi Larasati, ide bisa didapatkan dari mana saja. Dari suatu peristiwa atau kejadian yang kita alami, lahir ide. Dari membaca, dapat ide. Menonton film juga bisa dapat ide. Cerpennya bahkan pernah meraih juara 2 dengan ide cerita saat liputan sebagai jurnalis beberapa tahun sebelumnya.

    Arwa Lubna menambahkan, ide juga bisa didapat dari apa yang kita lihat. “Misalnya hari ini kita mengunjungi Big Bad Wolf 2022, ini bisa menjadi ide tulisan yang bisa tuangkan dalam reportase.”

    Agar memiliki banyak ide dan tidak hilang begitu saja, cerpenis ini menyarankan untuk segera menuliskannya. “Saya punya buku harian. Apa yang saya alami atau ide yang perlu saya tuliskan, saya catat di buku harian tersebut. Itu bisa berfungsi sebagai bank ide.”

    Untuk mencegah kebuntuan ide di tengah proses menulis, Niswa mengingatkan pentingnya membuat outline atau kerangka tulisan.

    “Tulisan kita tidak harus sama dengan outline awal yang kita buat. Jika di tengah proses menulis kita mendapatkan ide baru sebagai improvisasi, itu sah-sah saja. Dan sering kali itu membuat tulisan kita menjadi lebih bagus. Namun, ada kalanya di tengah proses menulis, apalagi menulis panjang seperti novel, tidak ada ide baru. Bahkan ide kita buntu. Nah, saat itulah kita bisa membuka kembali outline kita sebagai panduan seperti apa cerita yang kita tuliskan.”

    Saat mengalami kebuntuan ide, lanjut Arwa Lubna, seorang penulis boleh istirahat dahulu. Boleh jalan-jalan dahulu. Boleh refreshing dahulu. “Nanti kalau sudah segar atau dapat ide lagi, bisa melanjutkan menulis kembali.”

    Menerbitkan Karya dan Menghasilkan Uang

    Salah seorang penanya mengatakan sudah punya naskah yang hampir selesai. Yang menjadi masalah, bagaimana cara menerbitkan buku karyanya dan menghasilkan uang?

    Arwa Lubna menjelaskan, setelah naskah jadi, sebaiknya tidak buru-buru mengirimkan naskah itu ke penerbit. Namun, terlebih dahulu perlu mendapatkan masukan dari seorang penyunting atau penulis yang lebih senior agar kualitas karya kita –apalagi jika itu karya pertama- layak untuk diterbitkan.

    Muchlisin menambahkan, ada banyak pilihan untuk menerbitkan karya dan menghasilkan uang. Pertama, dengan  mengajukan naskah ke penerbit mayor. Jika lolos, naskah itu akan diterbitkan dan penulisnya bisa mendapatkan uang dari royalti atau sistem beli putus. Kedua, dengan menerbitkan sendiri di penerbit indie. Jika menggunakan cara ini, penulis harus mengeluarkan modal di awal untuk biaya penerbitan dan percetakan, lalu memasarkan sendiri dengan potensi keuntungan per eksemplar bisa lebih besar. Ketiga, bisa menerbitkan secara digital. Baik di website, di Google Playbook, maupun di platform kepenulisan.

    “Banyak teman-teman FLP yang memiliki penerbitan. Selain penerbit mayor seperti Mizan, kita bisa bekerja sama dengan penerbit-penerbit milik teman-teman FLP,” demikian Novi menambahkan.

    Menurut Niswa, saat ini banyak platform kepenulisan yang menjanjikan. Apalagi di era digital yang terjadi banyak disrupsi, platform kepenulisan menjadi alternatif untuk menerbitkan karya. Namun, ia juga mewanti-wanti agar selektif memilih platform.

    “Pilih platform yang memiliki semangat literasi berkeadaban sebagaimana tagline FLP. Misalnya KBM yang didirikan oleh Asma Nadia dan Rakata milik Mizan,” ujar penulis yang telah menempatkan banyak karyanya di platform kepenulisan ini.

    Baca juga: Kutipan Novel Rasa Tere Liye

    Konsistensi Menulis

    Pada sesi diskusi, ada pula pertanyaan bagaimana menjaga konsistensi menulis. Muchlisin menjelaskan, ada tiga motivasi yang semuanya bisa menjaga konsistensi menulis.

    Pertama, kita menjadikan menulis sebagai misi. Menulis adalah misi kita dalam menyebarkan kebaikan. Menulis adalah misi kita untuk mencerahkan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Misi ini membuat kita bisa tetap konsisten menulis, apa pun yang terjadi. Bahkan meskipun kita harus ‘berdarah-darah’ melakukannya,” kata penulis enam buku solo ini.

    Kedua, ketika menulis menjadi hobi. Karena hobi, kita akan senang melakukannya setiap hari. Ini juga bisa membuat kita menjadi konsisten menulis. Dan ketiga, ketika menulis menjadi profesi. Tidak bisa dipungkiri, hampir setiap orang akan lebih bersemangat ketika tulisannya menghasilkan. Nah, ketika kita bisa memadukan ketiganya, konsistensi menulis akan lebih terjaga. Kita tetap menulis meskipun berisiko karena menulis kebenaran adalah misi kita. Kita menulis dengan gembira karena ia adalah hobi. Tidak dibayar pun kita lakukan karena membahagiakan, apalagi jika dari tulisan berbuah penghasilan, kita akan lebih semangat lagi.”

    Novi Larasati menambahkan, bergabung dengan komunitas menulis atau organisasi kepenulisan merupakan salah satu kiat menjaga konsistensi menulis. Ia juga menginformasikan bahwa saat ini FLP Jatim sedang membuka perekrutan anggota baru di delapan kab/kota yakni Situbondo, Bondowoso, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Bojonegoro, dan Sampang. [Muchlisin BK/Flpjatim.id]