Catatan Hari Ini (1)
Semalam kami sudah menyusun rencana dengan rapi untuk keliling Den Haag; mengunjungi Binnenhof, Lange Voorhout, Madurodam, Mauritshuis, Peace Palace, Paleis Noordeinde, dan jika tak lelah kami sempatkan ke De Passage sekadar membeli mantel dan sarung tangan buat si kembar Elmar dan Elmira.
Aku dan Hans sepakat naik sepeda, trem, dan kereta untuk sampai di Den Haag, sedangankan yang lain beriringan naik mobil, dan akan bertemu di titik kumpul De Pier.
Ada banyak alasan mengapa aku memilih jalan susah untuk sampai di Den Haag, salah satunya adalah ingin merasakan kembali napak tilas masa itu, dan Hans dengan suka cita ingin menemaniku.
Ah, memang benar kata banyak orang yang mengenalmu, sayang, Hans yang paling mirip denganmu dari selusin Van Ledegen.
Den Haag, 26 Februari 2026
Catatan Hari Ini (2)
Setelah tarawih bersama, malam ini kami duduk mengelilingi meja panjang sambil menikmati makan malam hasil masakan kedua gadis bontotku; si kembar yang telah beranjak dewasa yang di awal musim semi nanti akan berangkat ke Universete Paris 1 Pantheon Sorbonne untuk mengambil gelar masternya.
Mataku menyapu satu persatu wajah mereka, ada kelegaan yang menyudup di hatiku; walau mereka lebih mirip bapaknya dengan mata biru, berambut blonde, dan postur tinggi, tetapi mereka tak pernah meninggalkan tata krama Jawa yang aku tanamkan sejak kecil.
Seperti juga dengan bapaknya, mereka menghormati aku ibunya dengan selalu menggunakan Bahasa Jawa jika bertutur dalam keluarga dan selalu santun dalam bersikap.
Mereka memang terlahir bukan darah murni, namun nilai-nilai luhur telah mengurat nadi dalam diri, kecintaan pada Nusantara boleh diadu dengan si empunya darah murni.
Anak-anakku, terima kasih engkau telah menggenggam erat amanah berat ini, ketika di luar sana telah banyak orang memilih meninggalkannya.
Den Haag, 27 Februari 2026
Catatan Hari Ini (3)
Hampir satu jam terhubung dengan Adrian, teman bisnis yang mengabarkan kondisi terkini di pasar dalam negeri.
Ada pergerakan politik global cukup hebat yang akan sangat mempengaruhi cepat lambatnya pertumbuhan investasi di Indonesia.
Dari mulai campur tangan AS pada serangan Israel ke Iran, perjanjian luar negeri RI, hingga kebijakan pemerintah RI yang banyak merugikan rakyat, kami perbincangkan sebagai landasan langkah strategis yang akan kami ambil.
Pergerakan harga di beberapa komoditi akan naik signifikan di dalam negeri, cukup membuat kami harus waspada.
Hal yang bisa dipetik; dengan kecerdasan, bisnis memang bisa dikendalikan dari mana saja, tetapi tetap perlu kewaspadaan, ketelitian, ketepatan, ketekunan, dan kesabaran dalam melangkah.
Den Haag, 28 Februari 2026
Catatan Hari Ini (4)
Semalam mendadak kami terpaksa mengubah rencana perjalanan, yang seharusnya hari ini ada pertemuan di Rotterdam akhirnya menempuh perjalanan darat ke Breda untuk menyeberang ke Belgium.
Sampai di Brussels kami disambut hangat pelukan papa mama yang mencemaskan keadaan cucu dan cicitnya, kami ramaikan taman belakang rumah yang biasanya sepi dengan perbincangan serius tentang kondisi dunia saat ini sambil menikmati barbeque.
Papa yang seorang peneliti ekonomi makro banyak memberi pandangan tentang langkah-langkah cepat dalam kondisi darurat yang bisa kami ambil.
Aku selalu menganggap papa mertuaku ini seperti ayahku sendiri mengingat waktu kecil aku tumbuh sebagai anak yatim, karena itu aku selalu mendengar saran dan nasihatnya.
Tetap sehat ya Pa, agar bisa membersamai kami anak, cucu, dan cicit menghadapi dunia.
Brussels, 1 Maret 2026
Catatan Hari Ini (5)
Seharusnya masih minggu depan berada di sini mengantar gadis kembar bontot ini persiapan studi masternya, namun kondisi memaksa kami lebih awal melepasnya.
Ada haru dan cemas meyusup di hati ini, apalagi kami harus berpisah dalam kondisi dunia yang sedang penuh ketegangan dan ketidakpastian.
Namun sedikit lega karena mereka berdua sudah pernah terpenjara dihajar pandemi Covid-19 di negeri orang.
Teruslah belajar anakku sayang, serap ilmu akademis dan ilmu kehidupan sebagai bekal pengabdianmu untuk Nusantara kita.
“Pegang teguh imanmu dan jangan pernah lelah mencintai Indonesia”, bisikku di telinga mereka ketika kami berpelukan sebelum menuju Charles de Gaulle untuk menempuh perjalanan panjang ke tanah air.
Sorbonne, 2 Maret 2026
Catatan Hari Ini (6)
Ibuku sayang, agaknya doamu yang melangit setiap hari sudah disambut Sang Maha Mendengar, anakmu sekarang sudah dipelukanmu lagi.
Namun izinkan aku esok pergi lagi untuk mengulurkan tangan bagi yang sedang jatuh, memberi tongkat pada yang renta, dan menyalakan lentera buat yang sedang dalam kegelapan.
Izinkan aku, ya Ibu. Karena ternyata di luar sana masih banyak orang yang tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tetapi tidak cukup kaya untuk bernapas lega.
Surabaya, 3 Maret 2026
Catatan Hari ini (7)
Duduk memandang pokok-pokok pohon karet yang telah penuh torehan ditemani Pak Ali dan istrinya.
Sempat merasa gamang tetap mempertahankan kebun yang tinggal sejengkal atau terus bertahan di tengah persaingan harga di tingkat global, kebijakan tarif impor yang berlaku di beberapa negara dan tak berpihaknya pemerintah pada para petani.
Getah putih karet menetes per lahan di cawan, seperti tetes keringat para petani karet berharap tolehan empati dari pemangku negeri.
Pak Ali dan istri melepas kepergianku dengan sedikit asa yang dititipkan dipundakku.
Riau, 4 Maret 2026
Ditulis oleh Hd. Aisya, dari Forum Lingkar Pena Surabaya, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim













