Awal tahun 2026 memperlihatkan sebuah pemandangan yang beberapa dekade lalu mungkin terasa mustahil. Di berbagai forum diskusi umat, di mimbar-mimbar masjid, hingga di linimasa media sosial, simpati terhadap Republik Islam Iran mulai terdengar semakin nyaring.
Fenomena ini menjadi paradoks tersendiri. Mayoritas umat Islam dunia adalah Sunni, sementara Iran dikenal sebagai negara dengan basis ideologi Syiah yang selama bertahun-tahun justru terlibat dalam konflik sektarian yang menyisakan luka mendalam di Suriah, Irak, dan Yaman. Namun dalam lanskap geopolitik yang berubah cepat, garis batas lama seolah bergeser.
Konfrontasi terbuka Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah menciptakan realitas baru. Dalam situasi ketika Palestina terus berada di bawah tekanan militer Israel dan diplomasi internasional tampak menemui jalan buntu, keberanian Iran menantang kekuatan Barat dipersepsikan oleh sebagian umat sebagai satu-satunya perlawanan nyata yang tersisa.
Dukungan ini tidak lahir dari kesamaan teologi. Ia muncul dari kalkulasi moral dan politik yang lebih kompleks. Sebuah bentuk keberpihakan taktis di tengah prahara geopolitik.
Preseden Sejarah: Ketika Muslim Mendukung Romawi
Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah Islam. Al-Qur’an sendiri merekam peristiwa yang memiliki kemiripan pola dalam Surah Ar-Rum.
Pada abad ke-7, dunia saat itu terpolarisasi antara dua imperium besar yaitu Kekaisaran Romawi Timur yang beragama Kristen dan Kekaisaran Persia yang menganut tradisi Majusi.
Di Mekkah, kaum Quraisy secara terbuka mendukung Persia. Mereka merasa memiliki kedekatan identitas dengan bangsa yang tidak memiliki kitab suci. Kekalahan Romawi pada saat itu bahkan menjadi bahan ejekan terhadap kaum Muslimin.
Namun Rasulullah SAW justru mengajarkan sikap berbeda. Kaum Muslimin memberikan simpati moral kepada Romawi, yang meskipun bukan Muslim tetap termasuk Ahlul Kitab.
Ketika wahyu turun yang menyatakan bahwa Romawi akan kembali menang dalam beberapa tahun, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA bahkan sempat menjadi sasaran cemoohan kaum Quraisy karena meyakini nubuat tersebut.
Sejarah kemudian membuktikan kebenaran ayat tersebut. Romawi bangkit kembali dan memenangkan pertempuran.
Namun dukungan Muslim saat itu tidak berarti penyatuan akidah atau loyalitas permanen. Ia hanya sebuah keberpihakan situasional terhadap pihak yang dianggap memiliki irisan nilai tertentu atau menghadapi musuh yang lebih besar.
Fakta sejarah justru menunjukkan hal menarik setelahnya. Di masa Khalifah Umar bin Khattab RA, pasukan Muslim kemudian bergerak menaklukkan wilayah-wilayah Romawi di Mesir dan Palestina. Simpati yang pernah diberikan di masa lalu tidak menghalangi umat Islam untuk tetap menegakkan prinsip keadilan ketika kepentingan umat menuntutnya.
Sejarah dengan demikian memberi satu pelajaran penting bahwa aliansi dalam politik seringkali bersifat sementara.
Satu Aliansi, Tujuan Berbeda
Dalam kajian geopolitik modern, konsep ini sering dijelaskan sebagai strategic alignment without shared end goals.
Prof. Jiang Xueqin, seorang pakar geopolitik yang kerap memberikan pandangannya di kanal youtube Predictive History, pernah merumuskan sebuah prinsip game theory yang sederhana namun tajam:
“Sebuah aliansi strategis tidak secara otomatis menyiratkan kesatuan tujuan.”
Jika dilihat dari perspektif ini, konflik yang terjadi hari ini memperlihatkan tiga agenda yang berbeda.
Bagi Amerika Serikat, tujuan utamanya adalah mempertahankan arsitektur kekuatan di Timur Tengah serta memastikan bahwa tidak ada rezim regional yang berkembang di luar orbit kepentingan Barat.
Bagi Israel, konflik ini berkaitan langsung dengan ambisi mempertahankan dominasi militer dan politik sebagai kekuatan tunggal di kawasan.
Sementara bagi Iran, dukungan terhadap berbagai kelompok perlawanan di kawasan merupakan bagian dari strategi forward defense. Dengan memperluas jaringan pengaruh melalui aktor-aktor non-negara, Iran berusaha menciptakan lapisan pertahanan jauh dari wilayah inti mereka sendiri.
Di permukaan, ketiganya tampak berhadapan dalam satu medan konflik yang sama. Namun tujuan jangka panjang mereka tidak pernah benar-benar identik. Adapun tujuan besar umat Islam sendiri adalah hilangnya kezaliman dan tersebarnya Islam di muka bumi ini, termasuk bebasnya Palestina dari penjajahan.
Dari Sekutu ke Konfrontasi Terbuka
Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sebenarnya memiliki sejarah yang berlapis. Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Hubungan intelijen dan energi dengan Israel juga berjalan erat melalui skema Peripheral Alliance, yaitu strategi Israel membangun aliansi dengan negara-negara non-Arab di kawasan.
Revolusi Islam 1979 mengubah arah hubungan tersebut secara drastis. Pemerintahan baru Iran menjadikan retorika anti-Amerika dan anti-Israel sebagai identitas politiknya. Namun bahkan di tengah permusuhan terbuka itu, pragmatisme geopolitik tetap muncul. Pada dekade 1980-an, skandal Iran-Contra mengungkap bahwa Iran secara diam-diam menerima pasokan senjata dari Israel untuk menghadapi perang melawan Irak di bawah Saddam Hussein.
Memasuki dekade berikutnya, pola konflik semakin kompleks. Iran memperluas pengaruhnya melalui jaringan proksi seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi di Irak. Ketika perang Suriah pecah pada 2011, Iran secara terbuka mendukung rezim Bashar al-Assad melalui intervensi militer Korps Garda Revolusi Islam, sebuah langkah yang memicu kemarahan luas di dunia Islam-Sunni.
Ketegangan meningkat tajam pada 2020 ketika Amerika Serikat melakukan serangan drone di Baghdad yang menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Sejak saat itu, konflik yang sebelumnya banyak berlangsung dalam bayang-bayang mulai bergerak menuju konfrontasi yang lebih terbuka.
Dinamika tersebut semakin memanas setelah operasi Thufanul Aqsha pada 2024, di mana Iran dipandang berperan dalam mendukung kapabilitas militer kelompok perlawanan Palestina melalui teknologi drone dan rudal. Eskalasi mencapai titik kritis pada awal 2026 ketika serangan udara yang menargetkan kepemimpinan Iran di Teheran dibalas dengan peluncuran rudal balistik ke sejumlah titik strategis Israel dan basis militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Serangkaian peristiwa ini tidak hanya mengguncang stabilitas Timur Tengah, tetapi juga membentuk persepsi baru di kalangan umat Islam global. Bagi sebagian pihak, keberanian Iran menantang kekuatan militer AS-Israel dipandang sebagai salah satu bentuk perlawanan nyata yang jarang terlihat dari negara lain dalam isu Palestina.
Dukungan yang Penuh Kewaspadaan
Namun simpati yang muncul hari ini bukanlah bentuk penyerahan loyalitas ideologis kepada Iran.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa umat pernah memberikan simpati kepada Romawi, tetapi kemudian tetap berhadapan dengan mereka ketika kepentingan keadilan menuntutnya.
Logika yang sama berlaku dalam situasi hari ini.
Umat Islam dapat mendukung setiap upaya yang menantang penindasan terhadap Palestina, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga kewaspadaan terhadap agenda geopolitik yang lebih luas.
Literatur eskatologis dalam tradisi Islam bahkan mengingatkan tentang kemunculan pasukan dari wilayah Isfahan pada akhir zaman—sebuah simbol bahwa dinamika kekuatan di kawasan Persia selalu memiliki dimensi yang kompleks.
Dengan demikian, dukungan terhadap Iran hari ini lebih tepat dipahami sebagai keberpihakan situasional yang lahir dari solidaritas kemanusiaan dan pembelaan terhadap Palestina.
Ia bukanlah aliansi ideologis yang permanen.
Sejarah menunjukkan bahwa dalam politik global, musuh dan sekutu dapat berubah dengan cepat. Yang tetap harus dijaga oleh umat hanyalah satu hal yaitu prinsip keadilan yang tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan kekuasaan mana pun.
Ditulis Oleh: Dadang Irsyam | Divisi Kepalestinaan Forum Lingkar Pena Jawa Timur













