Penulis: Kyota Hamzah

  • Puisi – puisi

    Puisi – puisi

    Orang bodoh mencari bimbingan

    Aku hanyalah orang bodoh.

    Tak tahu jalan mana yang harus ditempuh.

    Tak ada orang yang mau memberi arah.

    Hanya cacian dan makian yang selama ini kuterima.

    Inilah nasib seorang pandir.

    Kamilah golongan yang terbuang.

    Ketika kehormatan semu dan materi dunia yang menjadi batas sosial.

    Selama itulah hidup kita akan selalu menjadi kaum marginal.

    Apalah arti sebuah akal.

    Bilamana arogansi menutupi akal sehat.

    Bilamana libido menjadi pengambil seluruh keputusan.

    Maka apa bedanya manusia yang selalu mereka anggap terhormat 

    sama persis dengan seekor binatang di peternakan.

    Toh pada dasarnya manusia dan hewan itu sama saja.

    Hanya akal dan hati yang menjadi pembatas bagi kita.

    12 Februari 2016

    Lencana Istimewa

    Sebanyak apapun lencana dari manusia

    kelak akan kalah dengan satu lencana dari yang maha kuasa.

    Satu lencana yang begitu berharga

    hingga hanya orang-orang pilihan saja yang memperolehnya.

    Lencana yang sangat mulia itu adalah keimanan.

    15 Februari 2016

  • Puisi – Puisi

    Puisi – Puisi

    Rusuh

    Seribu kata, terkunci dalam tembok

    Tiada asa, hanya permainan harapan

    Para penipu mengaku juru selamat

    Manis ucapannya, pahit kenyataannya

    Harapan adalah munajat bagi yang taat

    Harapan hanya alat kuasa bagi penjahat

    Tetaplah menjadi baik di tengah kerusuhan

    Karena tiada yang menolong kecuali diri sendiri

    Hati-hati akan masa itu, masa suram bagi orang baik

    Tetaplah bersatu dalam perpecahan

    Sebab penipu, suka akan perpecahan

    Sebab perpecahan adalah harta tambang bagi sang lalim.

    Sidoarjo, 28 Juli 2022

    Bayangan

    Semua orang menjadi bintang terang

    Tapi tak ada yang menjadi gelap malam

    Saling sikut dan guna singkirkan terang lainnya

    Sirna, tak ada manfaat bagi sesama

    Tiada lagi rasi dan mentari

    Hanya ada ledakan dan hantaman

    Kelak semua akan kembali dalam bayangan

    Berlindung dari panas seribu bintang

    ***

    Jadilah gelap malam walau harus dimusuhi oleh terang

    Tak selamanya gelap itu petaka, tak selamanya terang itu pencerahan

    Sebab gelap yang tulus menjadi bijak

    Sebab terang yang sombong menjadi lalim

    Semua akan kembali setara dalam harmoni semesta

    Terang menggempur gelap, gelap menghajar tenag

    Selaras agar tetap berjalan

    Sidoarjo, 28 Juli 2022

  • Tiap generasi punya caranya sendiri

    Tiap generasi punya caranya sendiri

    Pernah suatu hari saya nimbrung dalam sebuah acara kesenian. Dalam obrolan tersebut, ada bapak-bapak yang bilang kalau kaum muda saat ini tidak suka dengan sejarah bangsanya sendiri. Mereka lebih suka main gim dan mengikuti sesuatu yang tengah viral di media sosial.

    Tidak hanya sekali mendengarkan pernyataan tersebut sudah beberapa kali saya mendengarkan hal yang sama mengenai minat sejarah yang minim. Setidaknya pendapat itu diutarakan oleh mereka yang berusia sepuh, mereka yang kini memiliki anak serta punya pengaruh besar di masyarakat.

    Mendengarkan kabar tersebut, pasti kita akan merasa ngeri. Bagaimana generasi muda begitu “Ora Patio Ngreken” soal sejarah bangsanya sendiri. Hanya saja, ada beberapa hal yang tidak mereka ketahui mengenai minat sejarah di kalangan remaja dan pemuda saat ini.

    Pendapat mengenai generasi muda yang merupakan sejarah itu agak bias. Kebanyakan mereka melihat dari kacamata mereka yang menganggap Sejarah adalah pelajaran semata. Menurut Perington dalam bukunya, The Idea of an Historical Education (1980), sejarah didominasi soal pengajaran hafalan. Kebanyakan karena ada pendapat fakta sangat urgen dalam peristiwa sejarah, sehingga dirasa perlu dihafal. Padahal, hal tersebut hanya alat dan bukan tujuan sebenarnya dari mempelajari sejarah.

    ***

    Mengenal lebih dekat dengan sejarah memang tidak mudah, namun tidak berarti susah. Tinggal bagaimana cara kita mengolah dan menyampaikannya. Masalah terbesar yang ada saat ini adalah cara penyampaiannya sejarah yang cenderung menghapal, padahal sejarah sendiri merupakan kisah masa lalu yang perlu dipahami.

    Mengapa dipahami? Sebab yang esensial dari sejarah adalah pemahami peristiwa yang dahulu pernah terjadi guna dipelajari. Bagian apa saja yang perlu dikerjakan, diperbaiki, maupun yang perlu dihindari. Bila telah mengetahui tujuannya, memahami sejarah akan lebih mudah. Hal-hal tersebut merupakan esensi, lalu bagaimana dengan tindakan teknisnya?

    Salah satu caranya adalah “membaca”, hanya saja bukan sekadar membaca. Bila baca sekadar baca, apa yang dibaca hanya jadi gugur kewajiban semata. Setidaknya hal itu pernah disampaikan oleh Sastrawan Taufiq Ismail. Beliau menyatakan bahwa rata-rata pelajar sekolah menengah atas di Singapura dan Thailand membaca 5-7 buku selama tiga tahun, dinegara Eropa dan Amerika hingga 32 buku, tetapi di Indonesia nol buku selama tiga tahun.

    Lalu bagaimana cara membaca sejarah yang asyik? Kita perlu tahu bagaimana generasi muda sekarang belajar. Sebenarnya generasi muda sekarang memiliki minat sejarah yang tergolong bagus dan tidak terlalu buruk. Hanya saja cara penyampaiannya saja yang perlu kita perbaiki.

    Mereka tertarik dengan sejarah dengan pendekatan yang interaktif dan bersifat kolaboratif dengan berbagai bidang. Kalau kita sering mengamati media sosial dan dunia digital, kita akan menemui banyak sekali akun maupun komunitas yang membahas sejarah dan yang menggerakkan adalah orang-orang muda.

    Di YouTube ada inspect History dan Invoice Indonesia, di portal digital ada Historia, serta untuk komunitas ada Neo Historia. Semua memiliki keunikan dan cara pendekatan yang membumi pada generasi muda saat ini. Mereka jadi tahu sejarah tetapi tidak digurui. Justru metode seperti ini yang membuat mereka nyaman dalam mempelajari sejarah. Tiap generasi punya caranya tersendiri. Tinggal tergantung kita bisa memberi referensi yang mereka butuhkan dan tidak terkesan menggurui.

    Sumber:

    https://amp.tirto.id/mengapa-pelajaran-sejarah-tak-disukai-bUc2

    https://m.antaranews.com/amp/berita/391873/taufiq-ismail-nilai-budaya-baca-pelajar-indonesia-rendah

    https://youtube.com/c/InspectHistory

    https://youtube.com/c/INVOICEINDONESIA

    https://instagram.com/neohistoria.id?igshid=YmMyMTA2M2Y=

  • Proyek Pembangunan Pabrik Gula Di Sidoarjo

    Proyek Pembangunan Pabrik Gula Di Sidoarjo

    Sebelum membangun Suiker Fabriken alias pabrik gula, orang-orang Belanda membangun fasilitas utama dalam menunjang produksinya. Salah satunya adalah bendungan dan jalur kereta api. Bendungan seperti Rolak Songo di desa Mliriprowo, perbatasan Sidoarjo dan Mojokerto tahun 1857. Pada awalnya, pembangunan Bendungan Rolak Songo berfungsi sebagai penunjang dari Kanal Magetan dalam mengatur debit air anak sungai Brantas, Sungai Kalimas dan Sungai Porong.

    Bendungan Rolak Songo ini merupakan pengembangan dari bendungan Lengkong. Sebuah bendungan yang digawangi oleh Ir. Herbert de Bruyn ini mengatur debit air dari gunung Arjuno, lalu melewati kawasan Batu, Blitar, Kediri, Jombang, dan Mojokerto. Setelah itu aliran air dari hulu terpecah menjadi dua anak sungai, sungai Kalimas di Utara dan Sungai Porong di selatan.

    Pembangunan bendungan ini juga bertujuan dalam hal irigasi di perkebunan tebu. Perlu diketahui bahwa ada 15 pabrik gula di Sidoarjo,

    Menurut Ronald Ridhoi, dosen sejarah dari UNM. Ada 14 pabrik gula:

    1. Balongbendo (Balongbendo)

    2. Kamrakan (Krian)

    3. Watoetoelis (Prambon)

    4. Poppoh (Wonoayu)

    5. Toelangan (Tulangan)

    6. Boedoeran (Buduran)

    7. Seroeni (Gedangan)

    8. Waroe (Waru)

    9. Porong (Porong)

    10. Tanggoelangin (Tanggulangin)

    11. Tjandi (Candi)

    12. Ketegan (Taman)

    13. Tawangsari (Taman)

    14. Panjoenan (Sukodono)

    Membahas Sidoarjo tidak lengkap rasanya bila tidak membahas “pintu gerbang” yang punya riwayat panjang. Krian dan Sepanjang merupakan dua kawasan industri dan ekonomi sejak masa Majapahit hingga kolonial. Konon di kawasan Krian merupakan kawasan ekonomi dan lalu lintas pengiriman barang via sungai. Sejak Masa raja Kertabhumi, Krian jadi pusat tambangan atau perahu sungai yang memiliki akses ke berbagai wilayah terutama kawasan aliran sungai Brantas dan Kalimas.

    Bila akses kota diwakili kawasan Krian, maka kawasan pelabuhan diwakili oleh daerah Sepanjang yang punya akses ke laut melalui sungai Kalimas. Aslinya sepanjang bukan nama satu daerah tunggal namun sembilan kelurahan yang terdiri dari sepanjang, Ngelom, Kalijaten, Wonocolo, Bebekan, Ketegan, Kletek, Geluran, dan Taman yang punya riwayat historis yang sama. Sepanjang merupakan kawasan perniagaan yang dirancang oleh Hindia Belanda sebagai kota satelit dan merupakan bagian dari jalan pos Deandles.

    Riwayat kemerdekaan Indonesia juga pernah terjadi di kedua tempat tersebut, dimana Inggris melakukan gempuran di Surabaya para santri dan pejuang seantero Jawa timur bersiap-siap di dua tempat tersebut. Pertempuran mempertahankan kemerdekaan dan menghadap tentara penjajah terjadi di dua pintu masuk ini. Kini peperangan telah usai, tetapi jejak sejarahnya masih ada sampai saat ini.