BEKAL ISTIMEWA

24

Hari ini mama membuatkan bekal istimewa untuk Rehan. Sepotong roti isi daging dan sayur kesukaannya.

“Wah, terima kasih, Ma,” ucap Rehan saat mama mengulurkan kotak bekalnya. Dia pergi ke sekolah dengan riang.

Saat jam istirahat, anak-anak membuka bekalnya masing-masing. Beberapa anak tampak menikmati bekal dengan lahap sembari bermain ayunan. Mereka saling berbagi makanan.

“Ada, deh,” jawab Rehan sembari menyembunyikan kotak bekalnya di belakang punggung.

“Eh, kamu mau ke mana?” Ali melihat Rehan hendak keluar kelas.

“Main keluar.” Rehan bergegas menuju area bermain di pelataran sekolah. Namun, Rehan tidak hendak bermain perosotan, ayunan ataupun jungkat-jungkit. Dia hanya ingin makan bekalnya sendirian. Padahal mama membawakan tiga tangkup roti isi untuknya.

Saat menemukan tempat yang agak sepi di sudut pelataran, Rehan mulai membuka kotak bekalnya. Aroma daging asap menggelitik hidungnya. Hmm, pasti lezat! Rehan sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Akan tetapi, sebuah sentakan keras mengagetkan Rehan. Ups, kotak bekalnya jatuh karena tendangan bola teman Rehan. Isinya tumpah.

“Maaf, Rehan. Nggak sengaja. Maafin aku, ya.” Ghifar mengambil bola sepak yang ada di dekat Rehan.

Rehan memandang roti isinya yang kini kotor terkena tanah. Rasanya Rehan ingin menangis. Itu kan roti isi kesukaannya.

Ali menyusul Rehan keluar ruangan. Dia mendapati Rehan menangis sesenggukan di sudut pelataran. Bekalnya berceceran.

“Udah, Re. Jangan sedih. Nih, aku masih punya roti cokelat buat kamu.” Ali mengulurkan sepotong roti cokelat miliknya.

“Makasih, ya, Li.” Rehan menyesal karena tak mau berbagi bekalnya. Tenyata berbagi itu menyenangkan. []

Konten sebelumnyaSang Pangeran dan Janissary Terakhir: Sebuah Kisah Perjuangan Kemerdekaan Bangsa
Konten berikutnyaPerdana FLP Ranting Al Mawardi adakan Talk Show Literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini