Kategori: Cernak

  • SERUPA TAPI TAK SAMA

    SERUPA TAPI TAK SAMA

    Unyu, anak penyu yang baru menetas, dikagetkan dengan suara bergemuruh. Saat kepalanya muncul dari balik cangkang telur, sebuah benda besar melayang di atasnya. Wuuussshhh!

    “A-apa itu?” Unyu gemetar ketakutan.

    Dia menenggelamkan tubuhnya kembali ke dalam cangkang telur untuk bersembunyi. Unyu menangis sesenggukan. Dia mengira benda itu adalah hewan yang hendak memakannya.

    “Kenapa kamu menangis?” sapa Bukur, ibu kura-kura, yang kebetulan melintas.

    Unyu mengintip keluar. Besi bersayap itu sudah tak terlihat. Unyu pun keluar dari cangkang. Namun, tubuhnya masih gemetar.

    “Aku takut. Ada hewan bersayap yang hendak memakanku.”

    “Jangan takut. Itu bukan predator. Benda itu namanya pesawat.”

    “Kenapa aku bisa ada di sini?” Unyu tampak kebingungan.

    “Di sini tidak aman. Ayo, ikut ke rumah!” ajak Bukur yang kasihan melihat Unyu sendirian.

    Unyu mengira Bukur itu ibunya karena Bukur juga mempunyai tempurung seperti dirinya. Dia pun mengekor Bukur.

    Di rumah Bukur, Unyu bertemu Kuki, si anak kura-kura. Mereka pun berkenalan. Asyik, dia jadi punya teman sekarang. Kuki mengajak Bukur untuk makan malam bersama.

    “Cobalah, Unyu. Ini enak sekali.” Kuki menyodorkan semangkuk penuh sayuran beraneka jenis yang diberi mayonaise.

    “Apa ini?”

    “Ini salad sayuran, makanan kesukaanku.”

    Unyu mencoba satu suap.

    “Gimana?” tanya Kuki.

    “Entahlah.” Unyu tampak tidak terlalu suka memakannya.

    “Mungkin kamu lebih suka ikan.” Kuki tahu kalau penyu biasanya makan ikan.

    Kuki masuk ke dapur dan kembali dengan membawa sebuah piring berisi ikan goreng.

    “Ibuku juga sudah memasak ini untukmu.”

    “Terima kasih, Kuki.” Unyu memakannya dengan senang hati.

    ***

    Keesokan harinya, Kuki terlihat sibuk memakai seragam.

    “Kamu mau ke mana, Kuki?” tanya Unyu.

    “Aku mau sekolah,” jawab Kuki sembari menenteng sebuah tas di punggungnya.

    “Yah … padahal aku pengen ngajak kamu main.” Unyu tampak kecewa.

    “Nanti kalau aku pulang sekolah, ya. Eh, tapi, gimana kalau kamu ikut sekolah aja. Boleh, kan, Bu?” tanya Kuki pada Bukur yang ternyata adalah seorang guru.

    “Boleh.” Bukur menjawab sambil tersenyum.

    “Yeee … terima kasih, Bukur.” Unyu pun lekas bersiap-siap.

    Unyu, Kuki, dan Bukur berjalan kaki menuju sekolah. Hari ini, Bukur mengajari anak-anak cara melindungi diri dari gangguan. Bukur mencontohkan cara masuk ke dalam tempurung saat berada dalam bahaya. Semua anak kura-kura pun mencobanya. Unyu mengikuti mereka. Namun, dia kesulitan memasukkan kepalanya ke dalam tempurung.

    “Kenapa susah sekali masuk ke dalam tempurung? Semua anak kura-kura bisa melakukannya, tapi aku tidak,” keluh Unyu.

    “Itu karena kamu bukan kura-kura, Unyu,” jelas Kuki.

    “Apa maksudmu? Bukannya aku ini sama sepertimu? Aku juga punya tempurung seperti kamu.”

    “Tidak, kamu dan aku berbeda. Kamu penyu sedangkan aku kura-kura. Lihat, kakiku memiliki kuku-kuku yang tajam. Sementara kakimu berbentuk seperti sirip.”

    “Kalau begitu Bukur bukan ibuku? Lalu, di mana ibuku?” Unyu terlihat sedih.

    “Jangan khawatir, nanti aku akan bantu kamu untuk mencari ibumu.”

    Sepulang sekolah, Kuki menepati janjinya. Dia mengantar Unyu menuju lautan.

    “Ibumu pasti ada di laut. Tapi, aku tak tahu di mana dia berada. Bisa jadi dia tinggal jauh dari sini.”

    “Kenapa bisa begitu?”

    “Ibu penyu biasanya bertelur di tempat dulu dia menetas. Itulah sebabnya kamu menetas di landasan pacu bandara. Landasan itu dulunya adalah hamparan pasir dekat pantai yang bersih.”

    “Kenapa ibu tidak bertelur di laut?”

    “Telur penyu harus disimpan di tempat yang hangat supaya bisa menetas. Saat menetas, bayi penyu juga butuh oksigen untuk hidup.”

    “Oh, begitu.”

    “Nah, kita sudah sampai. Maafkan aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Semoga kamu lekas bertemu ibumu,” ucap Kuki saat mereka tiba di pinggir pantai. “Terima kasih, Kuki.” Unyu melambaikan tangan pada Kuki dan masuk ke dalam laut.

  • Ugh, Hujan!

    Ugh, Hujan!

    “Ugh, hujan! Sebel!” Bibir Rena cemberut. Keningnya yang tetutup poni berkerut-kerut.

    Gadis berusia 10 tahun itu bertopang dagu di dekat jendela. Dia memandangi rintik-rintik air yang mengetuk-ngetuk kaca jendela. Rena tidak suka hujan. Jalanan jadi becek dan kotor. Tapi, repot juga kalau hujan tidak turun. Tanaman tidak bisa tumbuh karena kekurangan air.

    “Kenapa, sih, Dek, manyun terus?” goda Kak Nabila sembari menyenggol lengan Rena.

    “Rena nggak bisa main keluar.” Rena memandangi hujan yang semakin deras di luar. Air menggenangi kebun kecil depan rumahnya. Jalanan sepi. Biasanya saat sore begini, teman-temannya sudah berkumpul di halaman. Mengajak main. Kini, hanya tampak satu dua orang yang melintas sembari menenteng payung.

                “Gimana kalau kita main di rumah aja? Kakak punya permainan seru, loh,” ajak Kak Nabila sembari tersenyum semringah.

                “Mau, mau. Permainan apa nih, Kak?” Perkataan Kak Nabila membuat Rena antusias sekaligus penasaran.

    Kak Nabila menyiapkan toples kaca, piring kaca, air panas, dan beberapa bongkah es batu. “Kita mau bikin hujan buatan.”

                Mereka pun mulai bekerja sama. Rena meletakkan es batu di atas piring. Sementara Kak Nabila menuang air panas ke dalam toples. Kemudian, piring berisi es batu diletakkan di atas toples. Beberapa saat kemudian, titik-titik air turun dari bawah piring. Seperti sedang turun hujan.

                “Wah, hujan. Keren.” Rena menatap tetesan air dengan takjub. “Gimana bisa terjadi hujan, Kak?”

    “Ada tiga tahapan terjadinya hujan. Pertama, air di laut, sungai, dan danau menguap karena panas matahari.”

                “Seperti air panas dalam toples ini, ya, Kak.”

                “Tepat sekali.” Kak Nabila mengacungkan jempolnya. “Kedua, uap air naik ke udara membentuk awan. Kumpulan uap air ini mengalami pengembunan sehingga membentuk titik-titik air.”

                “Piring ini kayak langitnya, ya, Kak.”

    “Betul. Saat uap air sampai di atas, terjadi pendinginan atau penurunan suhu. Maka akan terbentuk titik-titik air di bawah piring.”

    “Setelah itu gimana, Kak?” tanya Rena antusias.

    “Ketiga, angin membawa awan ke daratan. Titik-titik air turun pun menjadi hujan. Seperti uap air di bawah piring ini. Jika sudah penuh akan jatuh ke bawah. Hujan buatan juga bisa dilakukan di langit, loh. Caranya dengan menaburkan garam dan bahan kimia lain ke awan.”

    “Wah, keren. Ternyata hujan itu seru, ya, Kak.” Rena berseru riang. []

  • BEKAL ISTIMEWA

    BEKAL ISTIMEWA

    Hari ini mama membuatkan bekal istimewa untuk Rehan. Sepotong roti isi daging dan sayur kesukaannya.

    “Wah, terima kasih, Ma,” ucap Rehan saat mama mengulurkan kotak bekalnya. Dia pergi ke sekolah dengan riang.

    Saat jam istirahat, anak-anak membuka bekalnya masing-masing. Beberapa anak tampak menikmati bekal dengan lahap sembari bermain ayunan. Mereka saling berbagi makanan.

    “Ada, deh,” jawab Rehan sembari menyembunyikan kotak bekalnya di belakang punggung.

    “Eh, kamu mau ke mana?” Ali melihat Rehan hendak keluar kelas.

    “Main keluar.” Rehan bergegas menuju area bermain di pelataran sekolah. Namun, Rehan tidak hendak bermain perosotan, ayunan ataupun jungkat-jungkit. Dia hanya ingin makan bekalnya sendirian. Padahal mama membawakan tiga tangkup roti isi untuknya.

    Saat menemukan tempat yang agak sepi di sudut pelataran, Rehan mulai membuka kotak bekalnya. Aroma daging asap menggelitik hidungnya. Hmm, pasti lezat! Rehan sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Akan tetapi, sebuah sentakan keras mengagetkan Rehan. Ups, kotak bekalnya jatuh karena tendangan bola teman Rehan. Isinya tumpah.

    “Maaf, Rehan. Nggak sengaja. Maafin aku, ya.” Ghifar mengambil bola sepak yang ada di dekat Rehan.

    Rehan memandang roti isinya yang kini kotor terkena tanah. Rasanya Rehan ingin menangis. Itu kan roti isi kesukaannya.

    Ali menyusul Rehan keluar ruangan. Dia mendapati Rehan menangis sesenggukan di sudut pelataran. Bekalnya berceceran.

    “Udah, Re. Jangan sedih. Nih, aku masih punya roti cokelat buat kamu.” Ali mengulurkan sepotong roti cokelat miliknya.

    “Makasih, ya, Li.” Rehan menyesal karena tak mau berbagi bekalnya. Tenyata berbagi itu menyenangkan. []

  • Penyesalan Tar-Tar

    Penyesalan Tar-Tar

    Hujan begitu deras mengguyur pulau Peleng Sulawesi. Mengakibatkan banjir dimana-dimana. Semua binatang berdiam diri di tempat masing-masing.

    Kecuali Tar-tar Tarsius Karena binatang malam, dia tetap santai tidur, tidak mempedulikan kehebohan binatang lain yang bingung tidak bisa mencari makan. Dengkurannya pun semakin melengking keras.

    Langit sudah mulai gelap, hujan mulai reda. Tar-tar terbangun karena merasa perutnya lapar. Ia bergeliat di atas pohon tempatnya tidur.

    Tar-Tar tak bisa melihat satu pun binatang. Malam itu sangat sepi. Ia mulai beranjak dari tempatnya.

    Tubuh yang mungil dan juga pandai melompat, memudahkan Tar-Tar pindah dari pohon ke pohon yang lain.

    “Tar-Tar…!” teriak Kela Kelelawar dari jauh.

    “Eh Kela, ayo kita cari makan di tempat biasa,” ajak Tar-Tar.

    “Malam ini jangan ke sana dulu, di sana banjir,” kata Koko Katak.

    “Atau mencari makan di sekitar sini saja,” kata Kela mengingatkan.

    Tar-Tar tak menghiraukan perkataan Kela, Ia tetap pergi. Di tengah jalan Tar-Tar berjumpa dengan Han, Burung Hantu sedang bertengger di pohon mahoni.

    “Tar-Tar, kamu mau kemana?” tanya Han.

    “Aku mau mencari makan, ayo ikut!” ajak Tar-Tar.

    “Sebaiknya kamu kembali, pohon-pohon licin setelah hujan nanti kakimu tergelincir. Di sana juga banjir, ” kata Han mengingatkan.

    “Tidak perlu khawatir Han, dengan kepalaku yang bisa berputar 180 derajat dan mata tajam ini, aku tidak akan tergelincir,” kata Tar-Tar membanggakan diri.

    Tar-Tar pun meninggalkan Han dan melanjutkan perjalanan. Karena lompatannya yang terlalu cepat, tubuhnya jadi tidak seimbang akhirnya ia tergelincir dari atas pohon.

    “Byuuurrr…,” Tar-Tar terjebur ke air.

    “Tolong… !Tolong… !” Teriak Tar-Tar meminta bantuan.

    Beruntung ada Koko Katak mendengar teriakannya, lalu ia berenang menolongnya.

    “Terimakasih Koko,” ucap Tar-Tar sambil memegangi kakinya.

    “Sama-sama. Sepertinya kakimu terluka,” kata Koko.

    Koko pun mengantarkan pulang, dengan membopong badan Ta-Tar, kemudian melompat pelan bersama. Tar-Tar termasuk binatang unik tidak bisa berjalan di atas tanah, ia harus melompat jika di atas tanah. 

    Setelah tergelincir dari atas pohon, Tar-Tar tidak bisa kemana-kemana. Sebab Kakinya semakin membengkak. Ia menyesal tidak mendengarkan perkataan Kela dan Han.

    Sambil memegangi perutnya yang berbunyi dari tadi, Tar-Tar mencoba tidur agar tidak terasa lapar . Tidak lama kemudian Kela dan Han datang menjenguk.

    “Kami mendengar dari Koko kalau kakimu terluka,” kata Kela.

    “Aku minta maaf, tidak mendengarkan kalian kemarin,” kata Tar-Tar penuh penyesalan.

    “Tidak apa-apa, jadikan pembelajaran di kemudian hari. Ini makan! Pasti kamu lapar” kata Han sambil menyodorkan makanan kepada Tar-Tar.

    Tar-Tar sangat senang mempunyai teman yang baik hati. Perutnya pun kenyang dan tidak lapar lagi.

  • Cernak: Kamu Pasti Bisa, Bebi!

    Cernak: Kamu Pasti Bisa, Bebi!

    “Hei, Bintik. Kenapa kamu selalu menyendiri? Si Bintik pemalu nih yee,” ejek Rara, seorang anak perempuan yang rambutnya selalu dikuncir kuda.

    Bebi menutupi bintik-bintik di pipinya dengan helaian rambutnya yang panjang. Dia mempercepat langkahnya dan berjalan menunduk.

    “Kamu kenapa, sih, selalu gangguin Bebi?” seru Cinta lantang. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Memangnya kamu mau dipanggil Si Kuncir Kuda?”

    Rara melengos sebal. Dia kemudian berlalu pergi.

    “Makasih, ya, Ta. Kamu selalu belain aku,” ujar Bebi.

    “Aku sebel lihat Rara selalu gangguin kamu. Lagian kamu kenapa diem aja? Kamu harusnya lawan biar dia nggak gangguan kamu lagi, Beb.”

    Bebi termenung. Dia membenarkan kalimat Cinta. Tapi, dia tak punya keberanian untuk melawan. Dia ingin sekali menjadi anak yang percaya diri seperti Cinta. Sahabatnya itu berani mengatakan apa pun yang ada di pikirannya. Tapi, Bebi merasa rendah diri. Bintik-bintik di pipi membuatnya merasa jelek.

    ***

    “Anak-anak, dua pekan lagi sekolah kita akan mengadakan pentas seni. Setiap kelas diminta menampilkan pertunjukan. Jadi, apa yang akan kelas kita tampilkan?” Bu Asih, wali kelas Bebi, meminta saran dari murid-murid.

    “Reog Cemandi,” usul Cinta. Reog Cemandi adalah tarian khas dari desa Cemandi, Sidoarjo, Jawa Timur.

    “Siapa yang bisa menari reog Cemandi, Cinta?” “Bebi, Bu. Dia pintar menari,” tunjuk Cinta pada sahabatnya. Cinta tahu Bebi sudah lama mengikuti kursus di Sanggar Tari. Bebi pasti bisa melakukannya.

    Bebi mencubit pelan lengan Cinta. Dia tidak mau menari Reog Cemandi. Bebi malu kalau harus menari di depan umum. Berbeda saat dia menari di sanggar yang hanya disaksikan beberapa orang saja.

    “Bagaimana, Bebi? Kamu mau?” Bu Asih bertanya.

    Bebi meremas ujung bajunya gelisah. Aduh, bagaimana ini! Bebi tidak ingin mengecewakan Bu Asih yang baik. Tapi, dia juga merasakan canggung kalau harus menari di panggung.

    “Udah, nggak apa-apa. Nanti narinya juga rame-rame, kan? Nggak sendirian. Mau, ya, please, please?” bujuk Cinta sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

    “Iya, Bebi. Kamu kan yang tahu gerakan Reog Cemandi. Nanti kamu bisa ajari teman-temanmu. Ibu juga akan bantu.” Bu Asih ikut memberi semangat.

    Bebi akhirnya mengiyakan.

    ***

    Setiap pulang sekolah, murid-murid yang akan tampil di pentas seni giat berlatih. Mereka berlatih di aula sekolah bersama Bu Asih. Cinta tidak ikut tampil dalam pentas seni kali ini. Rara pun iseng mengganggu Bebi lagi. Bebi hanya diam saja tak menanggapi. Namun, tiba-tiba Bebi mendorong Rara.

    “Kamu kenapa sih dorong-dorong?” bentak Rara kesal. BRAK! Sebuah papan tulis dorong jatuh tepat di samping Rara. Rara mengelus dadanya kaget. Untungnya benda itu tidak menimpa Rara.

    Rara jadi malu karena sudah menuduh Bebi yang bukan-bukan. Selama ini Rara selalu mengganggunya. Tapi, Bebi malah menolongnya. Rara menghampiri Bebi dan mengulurkan tangannya.

    “Makasih, ya, Beb. Aku minta maaf sudah jahat sama kamu.” Bebi dan Rara pun bersalaman.

    “Iya, aku udah maafin kamu kok.” Bebi tersenyum.

    ***

    Hari pentas seni tiba. Setiap kelas bergantian menampilkan pertunjukannya. Kini, saatnya kelas Bebi tampil. Dia dan tujuh anak lainnya tampil. Bebi memberi salam pembuka. Dia sedikit gugup. Namun, dia sudah berlatih. Jadi, Bebi merasa tidak terlalu takut.

    Penampilan Reog Cemandi dimulai. Barong lanang menoleh ke kanan dan ke kiri seraya mengayun-ayunkan golok kayu. Di sebelah barong lanang, Bebi memainkan selendangnya lincah. Gerakan keduanya luwes mengikuti irama musik.

    Enam penabuh gendang berjejer di belakang barong lanang dan Bebi. Mereka memberi salam pembuka. Lalu, mereka melantunkan syair dalam bahasa Jawa. Sementara para penabuh terus memukul gendang sambil menari. Mereka memberi hormat, berjalan, memutar, dan beratraksi silat. Penampilan Reog Cemandi memukau para penonton. Bebi dan teman-temannya pun mendapat hadiah untuk penampilan terbaik. []

  • Jujur itu Mujur

    Jujur itu Mujur

    Sudah beberapa minggu ini warung orang tua Wildan yang biasanya ramai jadi sepi pembeli. Sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, pembeli jadi jarang mampir. Mereka jadi lebih memperhatikan makanan yang akan dibeli. Biasanya ayah dan ibu sudah kerepotan melayani pembeli, tapi kini ibu duduk lesu menunggu pembeli.

    Dalam sehari, paling banyak sepuluh orang yang datang berkunjung. Makanan yang sudah dimasak ibu jadi tersisa banyak. Tak jarang ibu membagi-bagikan makanan sisa itu kepada pengemis, pemulung atau tukang becak. Warung orang tua Wildan akhirnya tutup sementara. Ayah berusaha mencari pekerjaan lain dengan bekerja serabutan. Wildan jadi kasihan melihatnya.

    Suatu ketika, adik Wildan merengek minta dibelikan mainan. Ibu hanya menyanggupi, tapi wajah ibu terlihat sedih. Saat melihat ada setumpuk kardus bekas susu adik, Wildan jadi punya ide. Dia mulai memotong kardus tersebut dan merekatkannya dengan lem. Tara… jadilah mobil-mobilan. Sang adik tersenyum senang dan memainkan mobil buatan Wildan.

    Saat Wildan dan adiknya bermain mobil-mobilan di teras rumah, teman-teman Wildan lewat. Mereka tertarik untuk mendekat.

    “Beli di mana ini, Dan?” tanya Faiz.

    “Aku buat sendiri,” jawab Wildan. Dia jadi hobi membuat kerajinan dari barang bekas selama pandemi. Hasil kreasinya dia jual ke teman-temannya. Lumayan, bisa untuk beli jajan atau keperluan sekolah.

    “Serius? Bagus banget ini. Aku mau satu, dong.”

    “Aku juga pesen. Yang truk, ya,” sahut Ari.

    “Siap.” Wildan menyanggupi.

    Esoknya selepas sekolah daring Wildan mulai mengumpulkan kardus bekas dari toko sembako milik tetangganya. Wildan mulai bekerja. Beberapa jam berlalu. Dua buah mainan pesanan pun jadi. Akan tetapi, ada yang aneh dengan truk pesanan Ari. Bagian badan truk tidak bisa dibuka tutup seperti permintaan Ari. Wildan mendesah.

    Faiz dan Ari akan mengambil mainan pesanan mereka besok, tapi Wildan capek kalau harus mengulang membuatnya. Lagipula ada beberapa PR yang harus dia kerjakan. Apa dia jual saja truk yang tidak sempurna itu? Wildan butuh uang untuk membeli beberapa perlengkapan sekolah. Uang hasil penjualan mainannya itu rencananya akan dibelikan buku dan alat tulis. Wildan kasihan kalau harus minta pada ibu.

    Wildan bingung. Di tengah kebingungannya itu, dia tidak sengaja menyenggol sebuah buku cerita. Itu kisah Rasulullah sebagai pedagang. Wildan ingat pernah membacanya. Nabi Muhammad dikenal sebagai pedagang yang jujur. Beliau memberi tahu pembeli jika ada yang cacat pada barang dagangannya. Oleh karena itu, beliau dipercaya. Lagi-lagi Wildan menarik napas panjang. Entah apa yang akan dikatakannya pada Ari besok. Dia tidak ingin membuat temannya kecewa.

    ***

    Keesokan harinya hari libur. Faiz dan Ari datang pagi-pagi sekali. Mereka sudah tidak sabar mengambil mainan buatan Wildan. Wildan menemui mereka dengan sedikit khawatir. Saat Wildan menyerahkan mobil pesanan Faiz, dia tampak gembira sekali. Namun, Wildan tidak segera menyerahkan truk pesanan Ari.

    “Ar, maaf, yah,” ujar Wildan.

    “Emang kenapa, Dan? Kamu belum buat truk pesananku?” tanya Ari penasaran.

    “Udah, sih, tapi badan truknya nggak bisa digeser naik turun kayak pas lagi mau ngangkut pasir.”

    “Oh. Boleh aku lihat truknya?” Wildan menyerahkan truk buatannya. Ari mengamati.

    “Ehm, sebenernya aku pengen yang bisa digerak-gerakin gitu, tapi yaudah nggak papa, deh. Yang penting bisa buat mainan.”

    “Alhamdulillah. Makasih, ya, Ar.” Wildan tersenyum senang. []

  • Pasukan Kuning

    Pasukan Kuning

    Difa merupakan murid kelas enam salah satu sekolah dasar di kota Surabaya. Diia bingung tidak menemukan ide untuk membuat puisi yang bertema pahlawan masa kini. Sedangkan teman-temannya sudah ada yang mengirim rekaman video puisi di grup sekolah. Karena masih pandemi korona tugas dikumpulkan secara online. Bu guru Yayuk memberikan batas pengumpulan tugas sampai pukul tujuh malam.

    “Keluar dulu saja ah, barangkali nanti aku menemukan ide,” gumam Difa di dalam hati.

    Di ruang tamu ada Ayah sedang menonton televisi, tentang berita tukang sapu jalan korban tabrak lari di daerah ibu kota Jakarta. Difa ikut menonton di samping Ayah dengan seksama.

    “Kasihan sekali ya Ayah, tukang sapu itu,” kata Difa iba.

    “Iya, tukang sapu sangat berjasa sekali untuk pengguna jalan. Mereka membersihkan sampah-sampah di jalan yang berserakan. Berangkat dini hari sampai siang demi kebersihan lingkungan,” jelas sang Ayah.

    Tiba-tiba Difa beranjak dari kursi, kemudian kembali menuju ruang belajar karena menemukan ide membuat puisi.

    PASUKAN KUNING

    Pagi hingga siang menjelang

    Peluh bercucuran

    Bercampur asap kendaraan

    Demi bersihnya jalanan

    Nyawa kau korbankan

    Dari bahaya laju kendaraan

    Oh, pasukan kuning

    Kau pahlawan masa kini

    Jasamu selalu berarti

    Difa segera meminta Ayah untuk menvideokan pembacaan puisinya. Besoknya, Difa mendapat kabar dari dari grup sekolah di handphone Ayah, bahwa rekaman video puisinya masuk sepuluh terbaik di kelas. Difa bahagia, hasil kerja kerasnya mendapat nilai bagus.

  • Wedang untuk Ayah

    Flpjatim.com,- Hujan turun di sore hari, Tiwi cemas karena ayahnya belum pulang bekerja. Sedangkan Dito dan Dewa sibuk bermain di ruang tamu. 
    Tiwi terus melihat di luar jendela, mengintip ayahnya barangkali datag. di luar hujan semakin deras mengguyur. Hingga halaman rumah tergenang air. 
    Wedang untuk Ayah
    “Sedang apa kamu Tiwi?” Tanya ibu mengagetkan. 
    “Ayah kok belum pulang ya bu, di luar hujan deras sekali.” Kata Tiwi 
    “Sebentar lagi ayah juga pulang kok, nggak perlu khawatir. Mungkin ayah sedang berteduh.” Kata Ibu menenangkan. 
    “Iya bu.” Jawab Tiwi. 
    “Assalamu’alaikum.” 
    “Wa’alaikumsalam.” Sahut Tiwi. 
    Tiwi bergegas menuju pintu menyambut ayahnya. 
    “Ayah datang.” Teriak Tiwi. 
    Kedua adiknya ikut berlari menyambut ayah. 
    “Ayah..ayah.” Teriak Dito dan Dewa berbarengan. 
    Ibu turut menyambut ayah juga. 
    “Sudah, biar ayah ganti baju dulu.” Kata Ibu. 
    “Ini ayah ada roti buat kalian, dibagi bersama ya.” Perintah ayah. 
    Dito lansung menyambar kantong plastik di tangan ayah. Berlari menuju ruang tamu, dari belakang dewa mengikuti. Tiwi membantu membawakan tas ayahnya. 
    “Sini biar Tiwi bantu membawa tas ayah.” Kata Tiwi sambil mengambil tas dari tangan ayah. 
    Ayah bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. 
    Setelah dari kamar mandi, ayah ikut bergabung ke ruang tamu. Tiba-tiba ayah berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya. Dito ikut berlari menunggu di depan pintu kamar mandi. 
    “Ayah kenapa?” Tanya Dito setelah ayah keluar membuka pintu. 
    Diikuti Ibu, Tiwi, dan Dewa dari belakang. 
    “Ayah baik-baik saja?” Tanya Tiwi. 
    “Sepertinya ayah masuk angin.” Kata ibu. 
    “Biar Tiwi buatkan wedang jahe madu ya.” Kata Tiwi. 
    Tiwi langsung pergi ke dapur meracik wedang jahe madu untuk ayah. Ibu mengambilkan jaket, sedangkan Dito dan Dewa memijat tangan kaki ayah. Keluarga Tiwi saling mengasihi satu sama lain. 
    Aroma wedang jahe madu tercium sampai ke ruang tamu. Tiwi bisa membuat wedang jahe karena diajari oleh neneknya ketika berlibur kesana. Jadi, sekarang Tiwi mempraktekkannya. 
    “Wedang jahe madu sudah jadi.” Kata Tiwi. 
    “Hore..” Sahut Dito dan Dewa berbarengan. 
    “Ini obat ajaib untuk ayah..wedang jahe madu buatan Tiwi, bisa menghangatkan badan.” Kata Tiwi sambil memberikan segelas wedang jahe madunya. 
    “Terimakasih.” Kata Ayah. 
    “Sama-sama.” Jawab Tiwi sambil tersenyum. Tiwi anaknya yang berbakti kepada kedua orang tua, suka membantu ibu menjaga adik-adiknya dan membersihkan rumah.

    Penulis:
    Ani Marlia [Div Kaderisasi FLP Jawa Timur]