Bulan Terbelah di Langit Amerika: Sejarah Islam di Amerika

83

Identitas Buku

Judul buku: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Tebal buku: 344 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua: Desember 2015

Ketika dahulu umat Islam berdampingan hidup dengan damai di negeri Amerika, seketika semua berubah semenjak tragedi WTC 11 September 2001. Akibat pelaku yang beragama Islam, lantas perilaku tidak baik itu disamaratakan untuk semua umat Islam. Banyak muslim yang hidupnya pun menjadi tak lagi tenang. Muslim diidentikkan dengan teroris yang membahayakan. Bahkan ketika cara berpakaian menunjukkan muslim atau nama serta wajah yang kearab-araban, pemeriksaan pun menjadi lebih berlapis. Mereka menaruh kecurigaan berlebih kepada muslim.

Padahal, tidak semua muslim seperti pelaku yang sebenarnya melenceng dari ajaran agama Islam. Islam itu damai, bukan agama yang mengajarkan terorisme. Hanya pelakunya saja yang tidak memahami Islam secara kaffah.

Novel ini bercerita tentang misi perjalanan Hanum dan Rangga yang mendapatkan tugas di Amerika. Hanum sebagai reporter yang harus meliput berita perayaan WTC dengan tema dari redaksi tentang dunia tanpa Islam. Sedang Rangga akan mempresentasikan karyanya di konferensi.

Ternyata misi Hanum untuk menemukan narasumber yang terdampak tragedi WTC mengalami kendala. Tidak mudah menemukan narasumber muslim yang terdampak. Hal ini pun sempat mengakibatkan pertengkaran dengan suaminya, Rangga, hingga mereka pun sempat terpisah dua hari karena Hanum terjebak demo melawan pembangunan masjid.

Saat terpisah dua hari, ternyata Hanum mampu menemukan narasumber yang sesuai dengan tugasnya. Kedua narasumbernya pun ternyata memiliki hubungan dalam kisah tragedi WTC. Menariknya, ternyata keduanya pun memiliki hubungan dengan Philipus Brown, seorang filantropi yang menjadi pemateri utama yang harus dihadiri Rangga. Kisah tragedi hubungan ketiganya akhirnya terbongkar, menyisakan sebuah kisah tentang indahnya Islam.

Tidak banyak orang yang tahu tentang sejarah Amerika sebelum ditemukan oleh Christoper Colombus. Sebelum Colombus menemukan benua Amerika, terlebih dahulu sudah ada para pendatang yang menghuni benua itu. Mereka adalah kaum yang terusir dari benua Eropa, para Moriscos, umat Islam yang terusir dari Spanyol.

Oleh karena itu, di Amerika banyak ditemukan kebudayaan yang mirip dengan kebudayaan Islam. Sayangnya, kaum yang awal menemukan benua Amerika justru dianggap penduduk asli Amerika yang pada akhirnya tersingkir kaum pendatang sejak Colombus mendarat di sana. Para keturunan ‘asli’ itu akhirnya disebut dengan Melungeon, sebuah percampuran ras dari pendatang yang dari pelarian dengan suku Indian atau budak Afrika.

Dalam novel ini, dikisahkan salah satu narasumber Hanum adalah seorang Melungeon yang mu’alaf. Suaminya yang seorang muslim menjadi salah satu korban meninggal di tragedi WTC. Itulah yang menyebabkan dia begitu paham tentang sejarah Amerika, di samping dia juga bekerja sebagai kurator museum. Bertahun-tahun dia mencari-cari kebenaran mengenai tewasnya suaminya karena jasad suaminya tidak ditemukan. Ternyata berkat pertemuan dengan narasumber yang secara kebetulan memiliki hubungan saat tragedi membuatnya akhirnya tahu akhir hidup suaminya.

Adalah Philipus Brown, saksi mata di akhir-akhir kehidupan suami Azima–narasumber mu’alaf tersebut. Philipus adalah salah satu korban yang berhasil selamat saat tragedi WTC. Suami Azimalah salah satu penyelamat yang memberi semangat Philipus agar terus berusaha turun dan menyelamatkan diri dari lantai 70 gedung WTC yang lantai atasnya telah terbakar akibat tertabrak pesawat.

Sejujurnya membaca novel ini membuat saya penasaran, apakah tokoh-tokoh itu nyata ada ataukah hanya rekaan? Iseng saya mencoba mengetik di mesin pencarian nama Philipus Brown, ternyata nama itu tidak ada di kehidupan nyata. Padahal, dalam novel dikisahkan dia adalah seorang jutawan filantropi yang banyak membantu daerah-daerah konflik. Dia menjadi seperti itu karena termotivasi dari akhir kebersamaan dengan suami Azima, Ibrahim Hussein. Kalau memang benar, pasti namanya ada di mesin pencarian.

Terlepas dari itu, bisa jadi tokoh-tokoh dalam novel ini disamarkan, tapi kisahnya memang benar-benar ada. Wallahu’alam bishowab.

Sejak mengikuti novel Hanum dan Rangga 99 Cahaya di Langit Eropa, saya tertarik membaca juga buku ini meski setelah enam tahun buku ini terbit. Bahkan saya sudah lebih dahulu melihat filmnya. Bagi saya ada beberapa bagian di film yang terasa hiperbola dan berbeda dengan novel. Bukankah memang selalu ada penyesuaian itu? Hehe.

Membaca cerita Hanum dan Rangga di novel ini membuat saya banyak tahu hal baru tentang Amerika, negara adidaya yang mayoritas penduduknya adalah pendatang. Sebuah negeri di mana berkumpul banyak etnik dari seluruh dunia. Namun tak dimungkiri ternyata banyak juga jejak Islam di peradaban sana, termasuk pada dasar negaranya. Ada ayat Al-Qur’an juga ditemukan di Fakultas Hukum Universitas Harvard, menjadi dasar mereka dalam bersikap adil secara hukum. Begitu juga simbol-simbol Islam lainnya.

Meski bukan lagi novel baru, tapi kisahnya masih tetap relevan untuk dibaca saat ini, di tahun 2023.

Konten sebelumnyaThe Science of Wealth: Ilmu tentang Kemakmuran
Konten berikutnyaPengukuhan FLP Cabang Nganjuk

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini