Kategori: Agama

  • Bersukacita Terhadap Al-Qur’an

    Bersukacita Terhadap Al-Qur’an

    Para sahabat Rasul kala itu menantikan turunnya ayat baru Al-Qur’an begitu bersukacita dan bersemangat. Jika diibaratkan dengan sekarang, nih, semangat mereka melebihi semangat anak muda zaman sekarang ketika lagi menunggu rilis film terbaru, unggahan youtuber idolanya, atau emak-emak yang setia di depan tv menyimak episode baru sinetron kesayangannya.

    Misalnya saja ketika Allah menurunkan surah An-Nur: 31, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya….” Seketika itu, para laki-laki Anshar langsung pulang untuk membacakan ayat tersebut kepada istri, putri, dan para kerabatnya. Seketika itu pula, mereka langsung bangkit mengambil kain seadanya, seperti tirai rumah yang lebar dan tebal untuk dijadikan kerudung. Hal ini dilakukan mereka sebagai bentuk pembenaran dan keimanan terhadap ayat Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad.

    Lalu, ketika turun surah An-Nashr, para sahabat yang mendengarnya begitu bergembira karena berisi tentang kemenangan agama Islam, hingga kegembiraan itu berubah menjadi kesedihan tatkala Abu Bakr Ash-Shiddiq maju ke depan mimbar berteriak dengan gemuruh isak. Ia menangkap turunnya surah An-Nashr sebagai satu isyarat pasti. Ajal Sang Nabi yang kian mendekat.

    Ada lagi suatu kisah. Pascawafatnya Rasul, Abu Bakar dan Umar mendatangi perempuan bernama Ummu Aiman. Abu Bakar dan Umar mendapati perempuan ahli surga itu sedang menangis. Keduanya berkata, “Apa yang membuat Anda menangis? Bukankah apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya?” Ummu Aiman menjawab, “Bukanlah saya menangis karena tidak tahu bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, hanya saja saya menangis karena telah terputusnya wahyu dari langit.” Hal itu membuat Abu Bakar dan Umar menangis hingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.

    Masyaa Allah. Betapa mereka bersukacita terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita seperti itu terhadap ayat-ayat-Nya? Semoga bulan Ramadan ini menjadi momen yang tepat bagi kita untuk lebih bersukacita terhadap Al-Qur’an. Aamiin.

    (Disarikan dari kajian “Amazing Ramadan” bersama Ustaz Hanan Attaki, Yogyakarta: 2019)

  • Menyambut Ramadan dengan Ketulusan

    Menyambut Ramadan dengan Ketulusan

    Oleh: Sri Wahyuni

    Ramadan tiba, Ramadan tiba

    Marhaban yaa Ramadan

    Subhanallah, walhamdulillaah! Syukur tak terkira, Allah mengabulkan doa kita untuk bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini. Rindu kita pada suasana Ramadan akhirnya terobati. Suasana makan bersama keluarga yang biasanya jarang kita nikmati, akan kita temukan pada saat berbuka dan santap sahur. Dan, itu hanya ada di momen Ramadan. Kolak yang gurih dan sedap, rasanya sudah membayang di pelupuk mata. Lantunan Al-Qur’an yang tiada putus di hampir seluruh hari, akan kita nikmati lagi. Dan, itu hanya ada setahun sekali, pada bulan Ramadan. Harapan kita akan ampunan pada bulan yang mulia ini dijawab Allah.

    Sebagaimana saya, pada tiga atau dua hari sebelum Ramadan berakhir, pasti merasa menyesal, karena merasa belum maksimal dalam beribadah. Sedangkan diri ini tak bisa menjamin, akankah disampaikan pada Ramadan berikutnya. Maka, dengan penuh harap dan kecemasan, berurai air mata, memohon agar kelak bisa berjumpa lagi dengannya agar bisa beribadah lebih baik. Dan, saatnya janji itu saya tepati. 

    Ramadan saya dan keluarga tahun ini beda. Mungkin juga Ramadan teman-teman. Alhamdulillah, sudah kembali seperti sebelum tahun 2020. Namun, harus tetap patuhi protokol kesehatan. Tidak hanya beda situasi dan kondisi, tapi juga awal memulai puasa; tanggal 2 dan 3 April.

    Terlepas kapan pun kita memulai puasa, semoga kita tetap bergembira dan bersemangat dalam menyambut dan melaksanakan ibadah Ramadan. Gembira, karena Allah bermurah kasih memberi pahala yang berlipat pada segala amal terpuji pada bulan ini. Semoga kita tidak menyia-nyiakan, bahkan harus semangat berlomba; fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Merenungi, andai ini adalah Ramadan kita yang terakhir. Syukur kalau tiap hari mampu menyediakan santapan berbuka bagi saudara-saudara kita yang berpuasa, karena pahalanya sama dengan pahala orang yang menjalankan puasa tadi.

    Apalagi pada sepuluh hari terakhir Ramadan nanti, Allah akan memberikan malam yang agung, lailatul qodar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Subhanallah! Begitu beruntungnya apabila kita diberi kesempatan untuk meraihnya. Seribu bulan, yang berarti setara dengan ibadah 83 tahun lebih empat bulan. Usia ibadah yang sangat panjang. Jika di usia saya saat ini, 48 tahun, diridai untuk meraihnya (allahumma aamiin) maka sampai Allah memisahkan roh dari raga ini, insyaallah, kemuliaan tersebut masih bersama saya. Allahu Akbar.

    Untuk mencapai sukses ibadah Ramadan, tentunya kita sudah mempersiapkan sejak awal penyambutannya. Hal yang lazim biasanya membersihkan masjid atau musala agar terasa nyaman saat ibadah. Selain itu, merangkai berbagai kegiatan dalam rangka targhib dan tarhib Ramadanbersama para santri TPA saya. Antara lain, pemberian reward bagi enam pengunjung paling rajin di Rumah Baca, pemberian suvenir bagi semua pengunjung, lomba mewarnai, pembagian buku kegiatan, dan tasyakuran kecil.

    Tentunya berbenah dengan rumah tak boleh kalah. Kalau biasanya keasrian rumah kami siapkan menjelang lebaran, maka kali ini kami justru menyiapkan untuk sang tamu agung ini. Biar ceria dan bermakna, sehingga anak-anak pun bersemangat. Harapan kami adalah baiti jannati walau agak berat bisa diwujudkan.

    Yang tak kalah penting, tentunya kualitas ibadah kita. Menurut almarhum Bapak Habibie, Ramadan adalah sarana untuk menggembleng diri, mengisi baterai, yang sinarnya akan menyala pada hari-hari setelah Ramadan. Jadi, seberapa sukses kita pada bulan Ramadan, bisa kita rasakan setelahnya.

    Dimulai dari niat hati yang bersih, semoga puasa kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Justru hawa nafsu itulah yang harus kita takhlukan. Ya Allah, kali ini kita akan merasakan bagaimana saudara kita yang duafa menahan lapar, sehingga banyak dari kita yang berlomba-lomba untuk bersedekah. Berniat yang kuat, jangan sampai tidak khatam Al-Qur’an. Bermotto, tiada hari tanpa salat Duha. Saya sendiri menyiapkan buku metrix target Ramadan seperti anak-anak sekolah itu. Hehehe. Biar tidak kecolongan.

    Semoga Ramadan yang dimulai dengan hati yang tulus, maka Allah meridai kita untuk menjadi hamba-Nya yang lebih bertakwa, dikarunia surga Ar-Rayyan yang penuh kenikmatan. Amin.

    Sri Wahyuni adalah penulis dari Kota Reog. Sejak menjadi anggota FLP Ponorogo tahun 2019, mimpi wanita kelahiran 10 April 47 tahun silam tersebut bisa menjadi nyata. Selain 9 buah buku antologi, ibu dari empat anak yang hobi berkebun  ini berhasil menyelesaikan naskah novel solonya, *Pintu Surga di Gerbang Maut* lewat gemblengan Rafif Amir Ahnaf, Sang Mentor Muda Owner dari Sekolah Menulis On Line JaTim. Komunitas literasi lain yang telah mengantarnya membuahkan karya antara Penerbit Dio Media, KRM (Komunitas Rumah Menulis), dan Edwriter. Beberapa tulisan dari pengagum tokoh dan karya HAMKA ini bisa dicolek lewat FB dan IG @sriwahyunibasuri. Oh ya, untuk menyapa lebih dekat dengan Bu Guru esde yang akrab disapa Bu Sri ini bisa kontak melalui WA nomor 0852 3545 0629.

    editor: Niswahikmah

  • Tiga Amalan yang Dicintai Allah SWT

    Flpjatim.com,- Suatu ketika, saya melakukan audit keuangan di sebuah kantor pemerintah. Di sana, saya mendapatkan sebuah teladan yang luar biasa. Salah seorang teman bercerita tentang kebiasaan sang pimpinan kantor yang sedang saya audit tersebut. Saat adzan berkumandang, sang pimpinan langsung bergegas meninggalkan segala aktivitas yang sedang dilakukannya. Beliau segera menuju ke masjid yang letaknya tak jauh dari kantornya. Beliau berani izin meninggalkan rapat, bahkan saat agenda pertemuan dengan pimpinan kepala daerah sekalipun. 
    Tiga Amalan yang Dicintai Allah SWT

    Intinya, beliau berkomitmen untuk melaksanakan shalat jamaah di masjid tepat waktu bagaimanapun kondisinya. Hal itu seperti sebuah harga mati untuk beliau. Bahkan kebiasaan tersebut telah dihafal oleh semua pegawai di kantornya.

    Di hari lain saat saya sedang berkunjung ke kantor tersebut, sang pimpinan rupanya sedang tidak berada di tempat. Menurut keterangan, beliau terpaksa harus meninggalkan kantor karena dipanggil ibunya yang sedang sakit. Beliau berusaha segera memenuhi panggilan ibunya ketika dibutuhkan. 
    Tak hanya itu. Saya melihat bahwa beliau adalah orang yang amanah dalam bekerja. Beliau juga berusaha menjalankan syariat islam di tempat kerjanya. Beliau menjaga diri untuk tidak bersalaman dengan lawan jenis, meski terkadang ditertawakan oleh temannya dan menganggapnyasok suci. Tapi beliau tidak terpengaruh dengan hal tersebut dan tetap bersikap santai. Dalam keseharian, beliau juga tampak sederhana dan bersahaja meski menduduki jabatan penting di lingkungan pemerintahan kabupaten.
    Melihat apa yang beliau lakukan, saya teringat dengan sebuah hadits tentang tiga amalan yang dicintai Allah SWT.
    Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “‘Aku bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang amalan yang paling disukai Allah SWT. Beliau menjawab, ‘Shalat tepat pada waktunya’. ‘Kemudian apa?’ kataku. Beliau menjawab, ‘Berbuat baik kepada kedua orangtua’. ‘Kemudian apa?’ kataku lagi. Beliau menjawab, ‘Jihad fi sabilillah’”. (HR. Bukhari&Muslim)
    Rupanya, beliau berusaha melakukan amalan-amalan yang dicintai Allah SWT. Tak banyak berkata, tapi apa yang dilakukannya adalah sebuah cerminan sebagai hamba yang semata ingin dicintai-Nya. Hingga menjadi sebuah karakter kuat yang melekat pada dirinya.
    Kontributor: Ika Safitri