Kategori: Kisah

  • IKHTIAR DAN DOA

    IKHTIAR DAN DOA

    Dia melihat pengumuman itu dengan hati hancur berkeping-keping. Ini bukan kali pertama dia gagal masuk ke PTN A impiannya. Bahkan di PTN B yang merupakan pilihan keduanya, juga gagal, padahal kata saudara-saudaranya, PTN B mudah untuk ditembus dan saudara-saudaranya juga tidak sepandai dirinya.

    Dia telah banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Dia pahami materi yang dianggap sulit. Dan cukup percaya diri untuk menyongsong SBMPTN, tapi nyatanya lagi-lagi namanya tidak tertera di daftar mahasiswa yang diterima.

    “Katanya kamu pintar kenapa tidak lolos?” Nenek yang begitu dia hormati melemparkan tanya padanya, padahal darinya dia berharap kekuatan dan pemakluman.

    Sakit. Hatinya tercabik lagi. Dia pun tak kalah terpukulnya dengan keadaan dirinya. Dia juga tidak ingin mengalami hal seperti ini. Kegagalan yang bertubi- tubi. Semua orang pun tahu kalau dia memang layak diperhitungkan, tetapi jika berhadapan dengan takdir, siapa yang bisa mengelak. Tidakkah orang-orang sekitarnya tahu, bahwa dia telah berusaha semaksimal yang dia bisa. Belajar tanpa kenal lelah.

    “Sudahkah kau berdoa?” Tanyaku suatu kali.

    Dia terperangah. Apa efeknya? Tidak cukupkah usaha keras yang aku lakukan untuk menggapai kesuksesan?” tanyanya. Aku hanya menggeleng.

    Dia mulai mengevaluasi diri. Perlahan dia ingat perjalanan dirinya. Ketika akan SBMPTN dulu, dia belajar dengan keras, dirinya terlalu sombong dengan hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk menggapai kesuksesan tanpa melibatkan Sang Pemilik Takdir.

    “Masih ada kesempatan, teruslah mencoba. Ada jalur mandiri?” ujarku.

    Okelah dia mendaftar lagi di dua PTN yang sama. PTN yang pernah menolaknya. Tetapi kali ini aku tak pernah lihat lagi dia belajar. Hingga terbesit tanya apakah putus asa sudah menghinggapinya? Mana mungkin sebuah sebuah cita diraih tanpa usaha? hal itu cukup membuatku khawatir akan Nasib dirinya. Bagaimana jika tidak diterima di kedua PTN itu? Kadang, dia malah masuk kamar, dan berlama-lama di dalamnya.

    Hingga saat itu tiba, pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Dia menunjukkan pengumuman PTN B, namanya tertera di sana. Matanya berbinar, seperti ada rasa bahagia yang meluap di dalam hatinya. Dan beberapa hari kemudian, namanya tertera lagi, diterima di PTN A. PTN yang menjadi incarannya sejak SMA. Begitu senangnya dia. Kepercayaan dirinya muncul kembali. Aku sangat bersyukur dan ikut berbahagia atasnya.

    Ketika kutanya, mengapa di tes kedua ini kulihat sudah tidak pernah belajar lagi. Jawabnya, di tes kedua ini dia lebih banyak berdoa. Belajar sudah dia lakukan di tes sebelumnya, maka untuk saat ini dia hanya lewat jalur langit saja.

    Ya sejatinya, ikhtiar dan doa haruslah berjalan beriringan, karena apalah daya manusia. Sekuat apapun usaha yang telah dilakukan, jika Allah tidak berkehendak, ya tidak bisa, maka doa menjadi pendorongnya agar usaha yang kita lakukan sejalan dengan takdir yang dituliskan.

  • Belajar dari Siti Hajar, Menjadi Seorang Ibu yang Kuat dan Tak Mudah Rapuh

    Belajar dari Siti Hajar, Menjadi Seorang Ibu yang Kuat dan Tak Mudah Rapuh

    Seorang Ibu mempunyai pengaruh sangat besar bagi pertumbuhan dan kepribadian anaknya.

    Sebagaimana Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tempat belajar dari mulai pangkuan hingga anak dewasa.

    Ibu adalah sosok perempuan yang kuat dan tangguh. Di tengah kepayahan dan rasa ngantuk, ia tetap bangun untuk menyusui anaknya di malam hari.

    Bahkan, ada seorang diri mengurus anak tanpa suami. Dengan segala keterbatasan yang menyelimuti, ia tetap kuat demi anak tumbuh dengan baik.

    Para Ibu bisa sukses meski seorang diri mendidik anak tanpa peran seorang Ayah. Seorang Ibu tersebut adalah Siti Hajar.

    Siti Hajar sosok Ibu yang tangguh dan tak mudah rapuh. Walau ditinggalkan Nabi Ibrahim as di tengah gurun yang tandus dan gersang.

    Tidak protes ataupun melawan kepada suaminya. Ditambah Siti Hajar mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah Swt, beliau semakin yakin bahwa Allah akan menjaganya. Meskipun tidak Nabi Ibrahim as di sisinya.

    Saat Ismail kecil kehausan, Siti Hajar tidak putus asa begitu saja. Beliau lari-lari kecil ke bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali untuk mencari air.

    Karena perjuangannya yang luar biasa di tengah tidak keberdayaannya. Allah Swt mengabadikan momen tersebut dalam rukun haji yang saat ini umat Islam ikuti.

    Kemudian Allah Swt pun menghadiahkan sumber mata air yang keluar di bawa kaki Ismail.

    Siti Hajar pun langsung menggali tanah membentuk kolam, untuk menampung mata air tersebut.

    Mata air tersebut dikenal dengan air Zam-zam, sumber mata air yang tak akan pernah kering hingga hari kiamat nanti.

    Hajar adalah sosok Ibu yang tangguh dan inspiratif, dan produktif. Beliaulah yang membuka peradaban baru di Mekkah.

    Tanah yang awalnya tak berpenghuni kini dicintai banyak orang. Bahkan, tidak pernah bosan meski berkali-kali mengunjungi Mekkah.

    Hajar juga sosok yang penyayang dan penyabar. Hingga akhirnya Ismail tumbuh besar, menjadi anak yang rupawan dan berakhlak mulia.

    Saat Nabi Ibrahim as datang, mengatakan akan menyembelih Ismail karena mendapat wahyu dari Allah Swt. Ismail pun dengan tenang dan ikhlas mengikuti perintah Allah Swt.

    Berkat dari didikan ibu hebat, dimana sejak usia belia sudah ditanamkan nilai-nilai tauhid yang kuat kepada Ismail.

    Ismail memberikan jawaban dengan penuh keyakinan, supaya sang Ayah menjalankan perintah Allah Swt. Siapa mengira seorang anak kecil usianya kurang lebih 13 tahun, sangat bijak dan dewasa.

    Siti Hajar pun saat mendengar cerita mimpi sang suami, beliau pun ikhlas dan sabar jika Ismail disembelih.

    Semua adalah titipan, kapan pun akan kembali pada pemiliknya. Allah akan menguji setiap hambanya dengan kesusahan maupun kebahagiaan.

    Belajar dari Siti Hajar seorang Ibu yang kuat dan tak mudah rapuh. Tak pernah mengeluh walau ditinggalkan suaminya bertahun-tahun lamanya.

    Sosok Ibu yang tangguh dan tak pernah luntur keimanannya, walaupun ujian datang bertubi-tubi. Hingga dikaruniai seorang anak pribadinya baik dan akidah yang kuat.

    Ketangguhan, tidak mudah berputus asa, kuat, pekerja keras, dan tidak pernah mengeluh atas takdir yang Allah berikan. Merupakan teladan dari Siti Hajar untuk para Ibu zaman sekarang.

  • Cerita Abu Nawas: Lebih dulu Ayam atau Telur?

    Cerita Abu Nawas: Lebih dulu Ayam atau Telur?

    Baginda Harun Ar-Rasyid tersenyum ketika melihat ayam betinanya bertelur,Kemudian Beliau memanggil pengawal untuk mengumumkan kepada rakyat bahwasannya kerajaan mengadakan sayembara yang boleh diikuti siapa saja. Sayembara itu berupa sebuah pertanyaan yang mudah akan tetapi memerlukan satu jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan tersebut akan mendapat imbalan dari sang Baginda berupa satu  pundi uang emas. Akan tetapi apabila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.

    Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara tersebut. Namun, Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan bila mereka tidak dapat menjawab maka sayaembara tersebut hanya diikuti oleh empat orang. Dan salah satu dari para peserta tersebut adalah Abu Nawas.

    Aturan main  dalam sayembara terebut ada dua. Pertama, jawaban yang diberikan harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab apabila Baginda memberi sanggahan. Pada hari yang ditetapkan para peserta bersiap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliaupun memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh agak gemetar. Kemudian Baginda bertanya pada peserta pertama.

    “Manakah yang lebih dahulu, antara telur dan ayam?” tanya Baginda. “Telur,” jawab peserta pertama tersebut. ‘“Apa alasannya?” tanya Baginda. “Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin, karena ayam dari telur,” kata peserta pertama menjelaskan

    “Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu,” Sanggah baginda.

    Peserta pertama mulai pucat.karena melihat wajah baginda yang tidak puas dengan jawabannya.dan benar saja tanpa ampun ia di masukkan ke dalam penjara, karena jawaban tersebut tidak tepat.

    Kemudian peserta kedua maju. ia berkata kepada Baginda.

    “Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam itu tercipta dalam waktu yang bersamaan,” kata peserta kedua.

    “Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda.

    “Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami,” kata peserta kedua dengan yakin menjelaskan.. “Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda memojokkan. Peserta keduapun mulai  kebingungan. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

     Lalu giliran peserta ketiga. Ia berkata . kepada Baginda Raja. “Tuanku yang mulia, sebenarnya  ” ayam tercipta lebih dahulu daripada telur kata peserta ketiga. Sebutkan alasanmu, kata Baginda. Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata Peserta. ketiga meyakinkan. “Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada. Kata Baginda menimpali.

    “Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri ” peserta ketiga berusaha meyakinkan Baginda.

    ‘Bagaimana bisa, jika ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?’ tanya Baginda kembali.

    Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda Ia pun dimasukkan ke penjara.

    Kini tiba giliran Abu Nawas. ‘Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam, kata Abu Nawas menjawab. “Coba terangkan secara logis,  kata Baginda ingin tahu. ‘

    “Ayam bisa mengenal telur, akan tetapi sebaliknya telur tidak bisa mengenal ayam ‘kataAbu Nawas singkat. Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak bisa memberikan sanggahan atas alasan Abu Nawas tersebut. Abu Nawaspun pulang  dengan membawa pundi-pundi emas dari sang Raja.

  • Live Talk Bunda Narsih dan dr. Gamal

    Live Talk Bunda Narsih dan dr. Gamal

    Beberapa hari lalu, saya ada giat bersama salah satu public figure di kota Malang. Pertama, beliau dikenal dengan Bunda Narsih, seorang ibu dengan enam anak sekaligus inisiator atau founder dari Komunitas Bunda Berdaya Malang. Kedua, nama yang sudah tak asing di dengar oleh masyarakat dengan segudang prestasi dan track record hingga sukses di usia muda. Masyarakat memanggilnya dr. Gamal. 

    Kami melakukan podcast bersama Bunda Narsih selaku host sekaligus pemilik dari akun youtube Bunda Narsih. Saya bersama suami, ada di balik layar. Sambil mencuri start ilmu-ilmu beliau sebelum ditayangkan secara live. MasyaAllah, sungguh beliau ini orang-orang luar biasa. banyak ilmu yang kami dapat dari podcast ini. Tentang bagaimana Membangun Karakter Anak untuk Sukses di Masa Depan. Apalagi saya sebagai penulis, saat ini masih berjuang dengan satu anak yang usianya baru genap 1 tahun. Bahasan pondcast ini, sangat bermanfaat dan saya butuhkan. 

    Bunda Narsih menjelaskan banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak. Baik dari internal keluarga juga ekternal. sebagai orang tua tentu harus rajin berguru. Agar kita sabagai orang tua turut mempersiapkan dan membantu serta membangun karakter anak agar siap menghadapi tantangan sekaligus persaingan di masa depan untuk meraih kesuksesannya.

    dr Gamal pun menyampaikan ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya agar bisa mencapai kesuksesannya. yaitu:

    1. Menemukan potensi pada anak. Agar mereka dapat melejit dan mengembangkan apa yang anak mau sesuai dengan minat pada seorang anak.
    2. Ikigai, yaitu istilah dari jepang yang menjelaskan tentang suatu kesenangan dan makna atau tujuan dari hidup itu sendiri. Apa yang disenangi, kuasai, yang dibutuhkan dunia dan apa yang jadi rezeki dikemudian hari.
    3. Melatih ketangguhan dari seorang anak. agar mampu menghadapi tantangan dunia. 

    Terakhir sebagai penutup, ada suatu hal yang menjadi catatan penting berbintang saya. Bunda Narsih berpesan jangan pernah takut atau khawatir kalau anak kita menjalani hidup susah atau sulit. Justru hal tersebut dapat melatih anak kita menjadi anak yang tangguh, hebat dan pantang menyerah.

    Penulis: Muyasaroh, Bendahara FLP jatim

  • Kado Terindah Untuk Orang Tua

    Kado Terindah Untuk Orang Tua

    Hari itu saya menghadiri imtihan anak saya di sekolah. Lalu setiap anak-anak membawa mahkota yang dipasangkan pada setiap orang tua. Tak sedikit orang tua yang terharu dan meneteskan airmata. Anak-anak mereka telah memberikan kado terindah untuk orang tua.

    Sebenarnya, bukan pertama kali ada seremonial memakainya mahkota pada orang tua dari anak-anak yang telah menyelesaikan hafalannya. Entah itu satu juz, dua juz, bahkan sampai tiga puluh juz. Namun, selalu saja momen itu mengharukan bagi para orangtua. Merasa kegembiraan yang sangat saat mahkota itu disematkan di kepala oleh anak-anak. Anak yang telah berjuang menuntaskan ayat demi ayat. Melewatkan waktu tidur dan bermain untuk mengejar setoran hafalan. Mereka adalah investasi akhirat terbaik bagi orang tuanya. Kebaikan yang tetap mengalir meski orang tua telah tiada.

    Beberapa waktu lalu, saya hadiri juga prosesi seorang siswi menyelesaikan hafalan 30 juz. Dan dia hanya ditemani oleh ayahnya. Jika hafalan diselesaikan anak dengan kondisi yang nyaman itu sesuatu yang wajar. Namun, nyatanya dia telah melalui semua perjuangannya dengan kondisi ibunya telah terbaring sakit sejak dia masih kecil. Atau, mungkin karena itulah yang membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan ayat demi ayat. Kecintaannya yang sangat terhadap ibunda tercinta. Mempersiapkan hadiah terbaik yang akan diberikannya kelak di surgaNya.

    Anak-anak adalah investasi orang tuanya. Namun, seberapapun hasil yang dicapai oleh anak kita dalam menghafal harus kita syukuri. Nyatanya, bukan fasilitas dan kondisi yang nyaman dan aman yang bisa menyemangati anak-anak kita untuk tetap menghafal. Tapi, kondisi yang tidak sempurna kadang membuat mereka berjuang keras.

    Dan kita sebagai orang tua, hadiah apakah yang akan kita persembahkan untuk orang tua kita? Semoga mahkota itu jugalah yang akan kita hadiahkan kelak.

  • Keajaiban Sedekah

    Keajaiban Sedekah

    Apakah anda percaya sedekah itu akan menambah rizki anda? Bukan sebaliknya, mengurangi rizki anda?

    Saya merasakan sendiri, bagaimana sedekah itu melipatgandakan. Menambah rizki tanpa kita tahu datangnya darimana. Allah berikan begitu saja, tanpa kita meminta.

    Siang hari itu, sa’at menjemput anak saya sekolah, ada seorang lelaki tua yang terbaring di pos ronda. Dia merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Sepertinya benar-benar sakit. Di sebelahnya, sepeda tua tergeletak begitu saja.

    Setelah digeledah saku dan tidak ditemukan identitas, maka kerumunan orang-orang itu menunggu sampai pak tua itu tersadar dari rasa sakitnya. Tak ada identitas, tak ada uang di dalam dompetnya. Tak ada yang berani membawanya ke puskesmas terdekat. Siapa yang akan bertanggung jawab?

    Pak tua tersadar dan menatap kerumunan. Setelah bercakap-cakap dan memberi minum pak tua, orang-orang meninggalkannya. Saya merogoh saku, menemukan hanya sedikit uang, uang terakhir yang saya punya. Biarlah, saya bisa mencari uang dengan berjualan, tapi lelaki tua itu sedang tak punya apa-apa. Saya berikan uang terakhir itu. Hanya sekedar ingin mengisi dompetnya yang kosong. Lelaki tua itu menatap dan mendoakan keberkahan.

    Sesampainya di rumah. Tiba-tiba, ada pelanggan memesan barang. Anda tahu berapa labanya? Persis sepuluh kali lipat dari uang terakhir yang saya berikan pada pak tua itu.

    Begitulah, sedekah tak bisa diukur dengan nilai yang tampak. Allah akan tambahkan rizki yang kita tak memintanya.Bukan hanya berupa materi, tapi juga rizki dalam bentuk lainnya. Kesehatan keluarga kita, kebahagiaan dan kedamaian hidup serta hal lain yang kita manusia tak sanggup untuk menghitungnya.

  • Berbagi Tidak Pernah Rugi

    Berbagi Tidak Pernah Rugi

    Beberapa bulan yang lalu, Perusahaan yang memfasilitasi kebutuhan para petani seperti bibit dan pupuk pertanian mengadakan sayembara lomba lukis nasional yang dimulai dari seleksi tingkat daerah, kota/kabupaten. Hadiah utama bagi pemenang juara satu, dua dan tiga serta harapan satu, dua dan tiga adalah berlibur ke pulau dewata bersama masing-masing satu pendampingnya.

    Informasi yang datang dari penyuluh pertanian itu menjadi perantara putriku, Icha mengikuti seleksi tingkat daerah. Seleksi tingkat daerah dilaksanakan di kecamatan. Pesertanya memenuhi aula kecamatan. Beberapa juga berasal dari sekolah yang sama dengan Icha. Gambar mereka pun sangat beragam dan mencerminkan ide tema yang diangkat. Pilihan nuansa gambar dan gradasinya cukup mewakili tema. Terlihat Icha juga menikmati setiap goresannya meski duduk bersebelahan dengan beberapa kakak kelasnya.

    Tiba saat pengumuman lomba, Aisyah Maghfirah, nama lengkap Icha dipanggil sebagai juara pertama. Piala dan Amplop diserahkan oleh panitia. Hal itu membesarkan hatinya. Dulu dia menganggap bahwa belajar mewarnai gambar hanya kesenangan belaka, bahkan mungkin terpaksa. Idealisme uminya yang ingin mempertajam motorik halusnya mulai saat taman kanak-kanak dulu ternyata memberikan apresiasi atas semua usahanya.

    Piala dan amplop masih tergeletak di dipan kayu yang ada di kamar. Perlengkapan melukis juga belum dirapikan ke tempatnya. Terlihat Icha rebahan tapi tetap sumringah dengan cerita yang terus mengalir dari bibir mungilnya. Terbayang saat lomba, hasil karya teman-temannya bagus-bagus, ada perasaan takut kehabisan waktu, namun semua terbayar dengan riuh tepuk tangan saat penyerahan hadiah sebagai pemenang.

    🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

    Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan kami tiba ditempat yang begitu asri. Beberapa pohon rindang peneduh halaman yang luas itu. Ada beberapa ruangan diantara bangunan tua dengan cat yang sudah memudar. Namun tiang penyangga itu terlihat masih kokoh seakan ingin menyampaikan bahwa pigura pintu kayu jati itu jaya di masanya. Beberapa anak-anak menyapa. Usia mereka tidak sama tapi ada juga yang sebaya. Setelah diterima pengasuhnya kami diajak keliling mengitari panti yang menampung puluhan yatim piatu dari daerah sekitar dengan segala kondisi. Terlihat ada batita yang piatu masih memegang botol susu dalam pangkuan pengasuh. Kami juga bertemu dengan yatim laki-laki yang saat itu sedang bertugas memenuhi bak kamar mandi dari sumur dengan timba kerek. Netranya yang tidak sempurna tidak menghalangi untuk bisa menyelesaikan tugasnya. Beberapa airpun tidak sempurna sampai ke baknya.
    “Silakan dites bu, ini juga sedang menghafal Quran. Meski kita belum bisa memfasilitasi alquran braile yang sesuai dengannya, tetapi dengan modal mendengar dan menyimak, anak ini sudah mampu menghafal beberapa juz.”

    Kupandangi anak laki-laki usia lima belas tahun itu dengan bergetar. Kelopak matanya menutup, hanya sebagian netranya sajanya yang masih terlihat putih saat ia berusaha menatap hormat melalui suara yang didengarnya. Tubuhnya yang kurus dan perawakannya yang kecil itu segera melantunkan surat yang aku minta. Sambil duduk bersila di ruangan. Dengan kekhusuan dan ta’dzimnya ayat demi ayat surat Al Jin disampaikan dengan indahnya. MasyaAllah…
    Betapa kuatnya ikhtiarmu untuk menghafal ayat demi ayat-Mu. Bagiku surat ini awalannya hampir sama. Berkali-kali membuatku sering tertukar mengejanya. Sering berkilah masih muter-muter karena ada jin-nya. Apalah diri ini ya Robbi…Seketika mata ini berkabut. Semakin pekat dan rinai lembut mengalir di pipi yang menghangat ini.

    🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
    Kendaraan kembali membela setapak bergelombang setelah kurang lebih satu jam menikmati jamuan alam sekitaran panti. Setidaknya bisa mengajak anak-anak wisata hati agar lebih punya hati. Meneguhkan syukur dan meluaskan empati. Isi amplop yang tidak seberapa saat itu telah diterima dengan hangat oleh pengurus yang menerima kami saat itu.
    Saat itu rasa gembiranya terwakili adanya piala yang besar dan tinggi yang ia dapat. Isi amplop tidak begitu ia pahami nominalnya, salah satu yang memudahkan jalan kami untuk mengajaknya berbagi. Ia merelakan semuanya hanya dengan anggukan saat abinya bilang “InsyaAllah akan diganti Allah dengan yang lebih baik lagi”. Maka tidak ada yang berat baginya. wajahnya tampak riang. Alhamdulillah, rasa syukur atas ketersambungan hati diantara kami. Semoga Allah ridhoi ikhtiar ini.

    💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
    Dua bulan telah berlalu dari hari itu. Tiap sepekan sekali dia makin menikmati belajarnya. Goresan dan gradasi warnanya semakin tajam. Beberapa gambar juga menghiasi kolom gambar di beberapa majalah. Tidak hanya majalah anak tapi juga majalah muslimah dewasa. Walhasil beberapa kenang-kenangan juga bisa kita bagi untuk sepupu yang sepantaran. Tas sekolah, Alat tulis, alat gambar, juga ada kaos anak. Alhamdulillah adiknya yang terpaut delapan tahun mengikuti jejaknya.
    “Aku juga mau gambarku ada di di buku itu…,” katanya sambil menunjuk majalah yang dimaksud.

    “Selamat siang Bapak Ibu dari ananda Aisyah.”

    “Mohon dibantu untuk ukuran kaos ananda dan juga nanti yang menemani ananda berangkat.”
    Suara diseberang terdengar dari handphone yang sudah diloadspeaker.

    “Maksudnya …?^

    MasyaAllah…
    Kebingungan saya terjawab. Panitia seleksi daerah meneruskan gambar Aisyah ke level propinsi dan nasional direntang waktu dua bulan setelah lomba tingkat daerah. Info terkini bahwa hasil gambar Aisyah Maghfirah termasuk pada kategori penerima hadiah karena hasil dewan juri menobatkannya sebagai juara III secara nasional.

    Data lengkap ananda dan yang menemani berangkat sudah terkirimkan, termasuk ukuran kaosnya sebagai team yang akan berangkat bersama minggu depan.

    Putriku yang pertama bernama Aisyah Maghfirah biasa dipanggil Icha. Icha yang duduk di kelas tiga jenjang dasar itu diajak menikmati beberapa destinasi Pulau Dewata selama dua hari tiga malam Minggu depan.

    🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

    MasyaAllah…
    Meyakini semua yang telah digariskanNya. Semua atas kehendakNya. Bahwa kita hanya bisa berikhtiar. Bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ikhtiar hambaNya. Isi amplop yang dulu telah dikembalikan Allah berlipat-lipat dengan caraNya. Terbang bersama Garuda Indonesia Air Ways adalah pengalaman pertama baginya saat itu. Duduk menikmati jendela, terlihat hamparan hijau juga awan-awan yang biasa ia gambar di kertas kini ia langsung melihatnya dari dekat. MasyaAllah Nak…
    Mengitari musium lukis Bali juga beberapa destinasi lainnya yang juga luar biasa sebagai maha karya sang penguasa jagad semoga menjadikanmu lebih kaya wawasan dan wacana.
    Uang pembinaan tunai, seperangkat alat gambar dalam satu tas sekolah branded pun lengkap ia terima.

    Aisyah Maghfirah, siswa kelas tiga jenjang dasar ini telah menikmati ikhtiarnya. Meski ini bukan keinginannya untuk dikembalikan secara cash di dunia tapi ini memberikan gambaran bahwa Allah itu Maha Segalanya. Berbagi tak pernah rugi.

    Penulis, Mardiati Utami, Divisi Kaderisasi FLP Jatim

  • Menjaga Keteguhan dalam Kejujuran

    Menjaga Keteguhan dalam Kejujuran

    Oleh: Rury Noviani

    Perjalanan ini dilakukan bukan hanya untuk sekadar ingin semata, namun dapat disebut juga dengan perjalanan hijrah dalam menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lagi. Dikisahkan oleh seorang perempuan yang mulai meniti perjalanan dalam menjemput hidayah dengan jalan hijrah menuju-Nya, sangat tidak mudah jalan yang harus ditempuhnya. Namun, dengan keyakinan bahwa ia melakukan sesuatu untuk kebaikan dan membaikkan dalam jalan hijrah pun mulai dijalaninya. Bermula di tingkat ia menginjak pendidikan sekolah menengah pertama atau setaraf dengan SMP, tapi ia memilih bersekolah di lingkup madrasah saat itu. Seakan menjadi waktu titik rawan dalam usianya kala itu di tengah-tengah labilnya laku dan rasa dalam mengambil berbagai keputusan yang ada.

    Kisah ini berawal ketika menginjak duduk di bangku kelas dua SMP, seolah hanya seorang diri yang menempuh jalan hijrah saat itu. Menyaksikan banyaknya teman yang lebih banyak hidup dengan aktivitas bergembira di usianya semata, belum lagi mereka yang memilih berdua dengan lawan jenis di antara mereka. Tidak mudah memang berada di antara lingkungan yang demikian, namun menjadi bijak dalam menyikapi semuanya ialah hal terbaik, mengingat kenyataan yang ada di sekitarnya demikian. Bukan menghindar, apalagi melebur mengikuti yang demikian. Dia tetapkan komitmen dirinya untuk selalu menjadi seseorang yang dapat mengajak teman-teman lainnya dalam kebaikan, walau tidak jarang hanya dengan doa yang menjadi akhir dari selemah iman.

    Komitmen ini telah membawanya untuk menjadi pribadi yang selalu mengajak pada kebaikan, dari miliki beberapa teman dekat yang memang akrab dan lebih sering ke mana-mana bersama. Adanya di antara berempat, hanya ia dan salah seorang lagi yang memang aktif dalam kegiatan organisasi, karena memang berorganisasi menurutnya menjadi wadah untuk menambah pengalaman dan menambah lebih luas relasi yang bukan hanya teman dekat dari teman sekelasnya. Selain itu, ia juga belajar bahwa dengan berorganisasi dapat menjadikannya memiliki wawasan baru ditambah lagi dengan berbagai pengalaman lainnya. Dia yang tadinya lebih pendiam lagi pemalu dengan berorganisasi dapat lebih membuatnya percaya diri dan memiliki pandangan baru. Karena baginya menyerukan kebaikan adalah hal utama yang bukan sekadar mengajak, namun juga turun langsung untuk memberikan contoh mana hal yang harus dilakukan dan tidak. Tetapi bukankah jalan dakwah tidak akan selalu manis, pasti akan selalu banyak semak belukar dan berduri, belum lagi curam serta terjalnya medan yang harus ditempuh lagi dilalui. Hingga tiba masa mendekati ujian akhir tingkat pertama saat itu, entah apa yang membuatnya begitu marah akan raga dan batinnya, ia selalu mencoba untuk terus mencari tahu kegelisahan yang tengah mengganggunya. Di balik tabir yang mengisahkan kegundahan dan keprihatinan, ia masih teguh menguatkan tekad untuk berada pada jalan kebaikan dan kebenaran.

    Benar nyatanya, hal buruk yang terorganisir telah menjadi makar bagi segelintir orang, namun hal itu tidak dapat dibiarkan. Kejujuran yang menjadi cikal bakalnya sebuah keteguhan diri telah pergi bahkan hilang sebab sistem yang dilakukan para oknum saat itu. Ya Rabb, apa yang telah kami lakukan ini, kami gunakan mata, telinga, mulut dan indera lainnya ini untuk melakukan kezaliman pada-Nya dan dirinya sendiri, dari sebagian besar para guru-guru ini telah mencederai anak didiknya dengan sistem yang sungguh merusak mental diri. Harusnya dunia pendidikan tidaklah pantas melakukan hal seperti itu, saat di mana ia dihimbau untuk memberikan ‘sontekan’ pada teman mereka lainnya dengan jawaban yang telah diberikan oleh para oknum saat ujian akhir nasional tingkat SMP. Singkatnya, ia telah merelakan niat kejujuran kami dalam mengerjakan soal ujian akhir itu demi sontekan yang telah diberikan dibanding dengan mengandalkan kemampuan diri kami sendiri. Sebagai diri yang sadar akan sesuatu yang haq, ia hanya dapat bergumam dalam diri, mengingat kembali akan peluh dan semua usaha yang telah mereka lakukan saat itu, seperti halnya apa arti setiap usaha mereka yang selama itu dengan adanya tambahan bimbingan belajar intensif yang diadakan sekolah hingga uraian doa-doa bersama istighotsah yang terurai dalam sendu air mata dari setiap luapan emosi hanya untuk memohon kemudahan dan agar senantiasa memperoleh hasil yang penuh kebaikan, juga keberkahan semata.

    Menjadi pribadi yang tak ingin masuk dalam lubang kecurangan dan kezaliman pun ia hindari, sebab tak ingin melakukan hal yang sama, ia pun memilih teguh dengan pendiriannya. Sadar akan hal apa yang telah terjadi, sungguh bagai buah penyakit yang harus disembuhkan. Kedua orang tuanya telah mengajarkan sikap jujur lagi kasih sayang dalam diri putra-putrinya akan tetapi sekolah yang harusnya menjadi rumah kedua untuk mereka telah tercederai oleh sistem yang ada. Menjadikan acuan dalam beroperasi, lalu apalah arti tiga tahun mereka di didik selama itu. Pada akhirnya hasil ujian pun diumumkan saat itu, cukup membuat ia syok dan seakan tak percaya diri dengan hasil yang telah ia dapatkan, begitu tidak memuaskan lagi mengecewakan. Putus asa tentu, sangat kecewa, karena memang untuk anak di usianya saat itu hal yang menimpanya itu sungguh menjadi suatu hal sangat buruk yang ada, belum lagi kedua orang tua yang cukup kecewa dengan kenyataan yang ada. Satu yang menjadi keyakinan dan membuatnya bangkit saat itu, hanya dengan memohon kekuatan dan berdoa pada-Nya agar lebih menerima kenyataan yang ada. Terundung akan keadaan yang menimpanya, menangis memang bukan solusi, namun adanya hadirkan setitik basuhan pada luka yang memang pasti membekas pada akhirnya.

    Di tengah keterpurukan itulah, sosok lelaki ini hadir bak cahaya yang menyinari hingga membuat ia bisa berdiri dan bangkit kembali. Sosok ayahnya yang hadir dan mendekap dengan penuh kasih sebagai tanda pedulinya dan memberi semangat putri kesayangannya itu. Dalam harapnya bisa masuk dan lolos di sekolah yang menjadi tujuan setelah salah satu sekolah favorit yang ia dambakan tak dapat lagi menjadi harapan untuk dimasuki, akhirnya memilih sekolah di sebuah madrasah lain yang ia pilih menjadi pijakan selanjutnya. Di tempat pendidikan barunya itu, ia menjadi bersemangat kembali karena bisa menjadi bagian anak didik di sekolah pilihannya yang hingga kini tak pernah menyangka sebelumnya bahwa ia dapat diterima di madrasah tersebut. Setelahnya, perjalanan baru pun di mulai dengan semua fasilitas, tempat, hingga lingkungan dan teman baru yang membuatnya harus menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan kondisi yang ada membersamainya kala itu.

    Bertemu dengan jiwa-jiwa pembaharu di masa remaja cukup lebih membuatnya lebih berhati-hati dari sebelumnya. Masa ketika individualisme dan keegoisan masing-masing dari kami berperan tinggi mendominasi setiap sikap dari orang-orang di sekeliling kami. Masih menjadi jiwa yang lama dengan beberapa modifikasi dalam dirinya, karena memang ia seorang gadis yang supel dan tidak bisa egois terhadap orang lain. Belum lagi kejailan (suka bercanda) adalah sifat yang telah melekat pada dirinya. Membuat ia lebih mudah akrab dengan orang-orang di sekitarnya. Meski demikian, ia tetaplah seorang anak yang masih labil di usianya. Prinsip teguh dalam dirinya akan selalu menentang dan menegur siapapun mereka teman-temannya yang sekiranya melakukan hal-hal menyimpang baik secara langsung maupun hanya menyampaikan pada seorang pribadi tertentu lainnya akan selalu dilakukannya. Meski demikian, bukan berarti ia adalah pribadi yang penuh kebaikan semata jauh dari itu. Dia pun masih sangat perlu dibimbing dan dinasihati, bahkan diingatkan setiap waktu. Duduk di bangku kedua mulailah memasuki penjurusan, saat itu dengan melihat basic keilmuannya yang lebih pada keilmuan di bidang IPS namun ia lebih kekeuh untuk memilih masuk di jurusan keagamaan, belum lagi ibu wali kelas yang saat itu menyuruhnya untuk masuk di jurusan IPA. Alhasil, setelah berdialog dengan orang tua murid yang kebetulan saat itu ibu dari gadis ini lebih menyerahkan kembali pada putrinya untuk memilih melanjutkan pada jurusan yang mana, namun dengan keyakinannya ia tetap  memilih jurusan keagamaan.

    Bertemu dengan teman dan lingkungan di jurusan baru tentu selalu penuh kejutan, meski bertemu dengan teman-teman sebelumnya yang telah bersama di kelas sebelumnya tak lantas membuatnya sulit dalam membangun pertemanan kembali. Adanya dengan lolos di jurusan yang ia inginkan membuatnya bertemu dengan beberapa teman lama di tingkat sebelumnya yang menjadikannya lebih mudah mengenal teman yang ada dalam satu kelas kala itu. Di situlah mulai muncul episode baru, ia menemukan dan merasakan adanya kelompok-kelompok kecil dari teman-teman dalam satu kelasnya. Berawal dari mereka yang suka merias diri, suka diskusi (alias ngobrol baik dari penting hingga tidak penting sekali pun, karena memang rerata perempuan), dan terdapat pula kelompok orang-orang pendiam yang notabenenya tidak begitu  aktif dalam bergaul dengan teman-temannya. Pada saat itulah ia dekat dengan anak-anak pendiam (Alhamdulillah, pada saat itu kebetulan tempatnya para bintang di kelas kami) bukan menyengaja namun ia sendirinya justru baru mengetahui dan menyadari meski ia-nya bukan termasuk dalam bintang kelas itu sendiri. Bersyukur sekali menjadi bagian teman-teman pendiam ini, setidaknya ia bisa memberikan dorongan pada teman pendiam ini untuk lebih berani tampil di depan dan percaya diri di depan kelas. Saling memberi dukungan satu sama lain ialah satu hal yang membuat mereka semakin dekat dan rekat satu sama lain.

    Seulas kisah ini ditulis untuk mengenang bahwa itu semua pernah terlalui, hingga akhirnya satu tingkat berikutnya lagi pun menyapa mereka di posisi kelas tiga di Sekolah Menengah Atas (SMA). Cerita itu terulang lagi ketika ujian akhir tiba, kejujuran mereka teruji lagi masih dengan sikap yang sama dan tegas ia pun lebih ringan untuk menolaknya. Sekiranya lebih parah dari sebelumnya lagi, bahkan taktik itu dilakukan lebih awal sebelum beberapa jam ujian berlangsung. Si ‘contekan’ ini sudah lebih dulu hadir, namun yang ada kini lebih parah dari lembar jawaban yang sudah tersebar dari sebelum kami memasuki kelas dalam melaksanakan ujian akhir nasional tingkat sekolah menengah atas ini. Astaghfirullah, ujian apalagi ini dan seketika pagi sebelum ujian akhir di mulai mereka pun seperti memperoleh hantaman keras tak terelakkan.

    Hari pertama itu pun ia hanya bisa tertunduk di sudut aula mushola madrasahnya, ia tumpahkah tangis dalam sholat dhuha yang ia dirikan, setelah sebelumnya bertemu dengan salah seorang temannya di tempat wudhu dan memberikan lembar jawaban pada saat itu. Namun, keteguhan dalam memperjuangkan yang haq lagi kejujuran masih lekat dalam sanubari, masih tetap sama dan tegas ia tolak pemberian temannya kala itu. Sungguh lemah dan runtuh diri menyaksikan hal yang tak semestinya terjadi. Hanya diam dan berpikir dalam tanya menyaksikan hal demikian, jika semua telah tersistem dan massif dilakukan oleh struktur pihak sekolah. Sungguh ia hanya dapat memohon ampun dan berdo’a pada-NYA agar semata dengan berbagai kenyataan yang ada berharap semua segera berakhir. Menanggung beban menjadi saksi dan bertanggung jawab akan apa yang telah terjadi begitu terasa bagai cambuk yang memenuhi ruang pikir diri saat itu.

    Hal itu berlangsung hingga ujian akhir nasional berakhir dan ia hanya bisa berpasrah dengan kenyataan yang telah teralami untuk kali keduanya. Hanya berharap ada teman-teman yang masih memiliki nurani untuk tak mendzalimi perintah-Nya terlebih dirinya sendiri. Masih bertahan dengan beberapa teman yang memiliki keteguhan yang sama. Masih teringat jelas cara kami saling memberikan support satu sama lain selama ujian berlangsung hari itu. Dari yang setiap hari saat itu saling menguatkan tersebab hal yang demikian. Dengan selalu memohon dalam zikir dan saling mendoakan satu sama lain agar dijauhkan dari kecurangan dan kezaliman yang tengah terjadi. Hingga akhirnya waktu pengumuman hasil ujian akhir pun diumumkan, Alhamdulillah kelulusan dan hasil lebih baik telah diterimanya, syukur bahagia tidak terkira pun tak hentinya ia haturkan dan persembahkan semata pada-NYA telah makbulkan doa. Karena yang selalu menguatkannya ialah buah dari usaha dan doa yang terus terpanjatkan dari diri dan kedua orantuanya. Begitu berbangga dengan berapa pun hasil yang ia dapatkan dari kerja keras dirinya sendiri dibanding mereka yang mendapatkan hasil bagus lagi terbaik namun melegalkan berbagai cara untuk mendapatkannya sebagaimana dengan kecurangan dan berbuat kedzaliman. Karena dengan kejujuran menandakan bahwa kita ialah seorang muslim yang baik dan merupakan wujud pengamalan dari apa yang telah Allah firmankan dalam kitab-Nya bahkan diceritakan pula dalam hadits Nabi, para sahabat dan shalafus shalih. Lantas mengapa kita masih memilih jalan yang batil dalam meraih suatu hasil. Padahal mudah saja bagi-NYA memberikan murka lagi balasan pada waktu yang bersamaan apabila hamba-Nya melakukan kebatilan. Tidak juga berpikir bahwa keburukan selalu berganti keburukan yang sama, sebab tentu semua telah tertakar dengan setiap ketentuan-Nya pada kita.

    Pada akhirnya, hingga saat ini dan selamanya ia akan terus tetap bersikap teguh dan menjujung tinggi kejujuran dalam hidupnya. Karena pohon yang semakin tumbuh tinggi akan selalu menghadapi angin yang lebih dahsyat. Ibarat seorang bayi hingga dewasa pastilah akan mengalami setiap fase dan ujian yang berbeda-beda antara kita dan orang-orang di sekitar kita. Untuknya, selalu menjunjung tinggi setiap keteguhan dan kejujuran pada diri ialah sebuah bekal yang harus tetanam pada tiap diri. Sebagaimana kita berharap memiliki seorang pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab dengan apa yang di-embannya. Karenanya, bersikap jujurlah dengan hati nurani dan lebih berbangga dengan kemampuan diri sendiri. Siapa yang lebih percaya pada dirimu selain dirimu sendiri jikalau dalam hal kejujuran saja kita memilih berlaku curang dengan meragukan kemampuan diri yang harusnya lebih teruji ini. Jangan pernah kalah dan mengalah sebelum berjuang. Sebab bisa saja kita menjadi pemenang dalam medan juang dari apa yang telah di perjuangkan. Namun, jangan pernah lengah dan lalai, selalu kenali dirimu dan kenali pula lawan sekitarmu. Sebab kita ialah seorang muslim tentu kejujuran adalah benteng dalam melindungi diri dari berbagai bentuk kecurangan dan penghianatan bahkan menjadi buah kedzaliman yang besar bukan hanya pada-NYA, tapi juga diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Karena kita semua tak mungkin mau di tipu apalagi tertipu. Olehnya, mari selalu gemakan kejujuran baik ketika sendiri, bersama, atau bahkan tanpa orang-orang yang tak mengakui ucapan lisan pada apa yang di sampaikan. Selalu ingat dan yakin bahwa naluri dari sanubari terdalam pada jiwa akan mengetuk perhatian-Nya. Tidak serta merta terkabul dalam waktu yang bersamaan dalam tiap permintaan, ada jua yang dikabulkan pada waktu yang tertangguhkan, serta ia yang belum termustajab dalam pinta namun digantikan dengan sebuah kejutan tak terduga yang membuat kita terkagum dan penuh kesyukuran… ALLAH^_^

    Perkenalkan nama saya Rury Noviani, lahir dan besar di sebuah kota kecil nan Ramah lan Ngangeni yang menjadi semboyan kota ini, tepatnya di Ngawi, Jawa Timur. Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2017. Kesibukan saat ini lebih banyak di rumah saja Berbirrul Walidain, mengajar bimbel dan mengaji untuk lima murid kesayangan saya, dan juga bergabung di beberapa komunitas muslimah via online. Selain itu, di pertengahan tahun 2021 lalu bergabung di Yatim Mandiri cabang Ngawi sebagai fasilitator untuk pendampingan bunda yatim. Boleh sekali jika ingin bersilaturahmi, bisa kunjungi saya di medsos; Facebook: Rury Noviani, Instagram: Rury Noviani, Blog: catatanperjalananrn03.blogspot.com, Email: roeryhurairah@gmail.com

  • Sekolah Terbuka Usahakan Al-Qur’an Hafal (STUAH)

    Sekolah Terbuka Usahakan Al-Qur’an Hafal (STUAH)

    Oleh: Resita Endriati Winarso

    Awalnya, saya hanya sekadar melihat sambil lalu pamflet di Instagram official  Ustaz Adi Hidayat, Lc. Namun, suatu pagi, Allah menggerakkan tangan saya untuk benar-benar tahu informasi tersebut.

    Banyak program yang ditawarkan oleh STUAH. Salah satunya adalah program menghafal tiga semester atau satu setengah tahun yang akan didampingi langsung oleh musyrif/musyrifah binaan Ustaz Adi Hidayat. Barangkali sama seperti program tahfiz  daring yang sudah ada, semisal Qaaf Rumah Tahfidz Online, Bimbingan Luar Maskan Maskanul Huffadz milik Ustazah Oki Setiana Dewi, atau Akademi Tahsin Online dari Wafa. Namun, saya pikir ini akan lebih intensif karena program terjadwal dan terstruktur, baik dari segi kurikulum maupun pendampingan santri.

    Alasan singkat di balik pencarian program menghafal ini adalah karena saya ingin belajar di pondok tahfiz, tetapi  merasa tidak mudah dengan keadaan saat ini. Seorang ibu rumah tangga, tak lagi muda seperti dahulu yang dengan ringan melangkah menentukan arah tujuan dengan bekal rida dari orang tua.

    Sebelumnya, saya sempat mengajukan proposal untuk belajar di Maskanul Huffadz Bintaro, Jakarta. Namun, belum dapat izin dari suami. Kejauhan, katanya. Sampai-sampai saya mengusulkan ke yayasan mereka untuk buka cabang di Madiun atau Solo agar mudah dijangkau untuk wilayah Pacitan dan sekitarnya. Mengapa di sana? Ya karena di sana menawarkan program daurah tahfiz selama setahun saja. Artinya, dari segi waktu lebih efektif karena tidak membutuhkan waktu yang lama. Santri juga akan lebih termotivasi untuk menggunakan waktunya dengan baik.

    Selanjutnya, bertemulah saya dengan program STUAH ini. Betapa hati ini  berdebar ketika membaca setiap lembar informasi yang dipaparkan. Rasanya batin ini bicara.

    Ini yang kucari. Aku sudah menemukannya. Ini cocok dengan keadaanku saat ini.

    Sejauh informasi yang saya terima, program Ustaz Adi tersebut memang gratis. Namun demikian, yayasan beliau membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin berdonasi  agar mushaf At-Taisir bisa dicetak ulang sehingga dapat terus berkelanjutan untuk disebarluaskan ke seluruh Indonesia, bahkan dunia.

    Dengan cermat, saya mendalami materi program dari tautan yang ada. Program ini sangat menarik. Bayangkan saja, kuota yang disediakan untuk gelombang kedua ini 8.000 orang dari seluruh Indonesia dan akan ditutup akhir Agustus atau jika kuota sudah terpenuhi. Gelombang pertama khusus peserta Jabodetabek 2.000 orang sudah ditutup. Jadi, total santri 10.000 orang dari seluruh Indonesia. Akan menyusul program berikutnya dengan peserta dari seluruh dunia karena sampai detik ini sudah masuk daftar antre santri-santri dari luar negeri. Masyaallah, tabarakallah.

    Belum berakhir sampai di situ, saya sedikit heran awalnya. Benarkah ini GRATIS?  Untuk perangkat pembelajaran yang akan diberikan ke santri saja tidak sedikit, sekitar tujuh kilogram. Selain mushaf, terdapat buku-buku murajaah, buku motivasi, dan lain sebagainya.

    Setelah saya coba  untuk registrasi, tampak pada layar ponsel sejumlah nominal biaya pengganti buku plus ongkir. Total dana yang harus ditransfer hampir tujuh ratus ribu rupiah. Hem … saya mundur. Belum ada dana saat ini. Saya putuskan untuk ikut gelombang berikutnya saja jika Allah masih berikan kesempatan.

    Siangnya, saya WhatsApp seorang sahabat di Jember. Indah namanya. Saya tawarkan program ini untuknya.

    Namun, Indah menjawab, “Aku enggak berani. Aku tahsin sama kamu saja, sudah nyaman.”

    “Enggak berani kenapa?” tanyaku.

    “Enggak tahu, ya. Aku belum bisa. Kamu ikut ta?” Indah balik bertanya.

    “Sepertinya enggak. Berbayar. Nabung dulu aja,” pungkasku.

    “Bukannya itu gratis?”

    “Ada biaya pengganti untuk buku dan mushaf, Ndah.”  Kemudian, saya kirim  tangkapan layar tagihan itu.

    Tidak lama berselang, ponsel saya berbunyi pertanda notifikasi  WA masuk.  Indah mengirim bukti transfer lima menit setelah  percakapan kami berlangsung.

    “Masyaallah, apa-apaan ini, Ndah?”

    Oh, ya, asal tahu saja. Tangkapan layar yang saya kirim tidak menunjukkan nomor rekening sama sekali. Dari mana  Indah tahu dana harus ditransfer ke mana?

    Kemudian, Indah pun menjelaskan. “Sudah … kamu belajar yang rajin. Aku bisanya baru seperti ini, membiayai. Kamu ngomong saja kalau ada keperluan lain.”

    Tangisku pecah. Ya Allah, betapa baiknya Engkau.

     Indah  bercerita jika setiap pekan, dua pekan, atau sebulan sekali memang transfer dana ke Ahyar Quantum Institute. Jadi, ya, wajar saja kalau dia punya nomor rekeningnya. Kebetulan saat kami berbalas pesan, dia sedang berada di tokonya, di depan mesin EDC. Langsung saja klik transfer. Oh, ya Allah, ternyata dia donatur ustaz tersebut.

    Kulapangkan hati saat itu. Kulegakan keadaan saat belum mampu. Namun, Allah sempurnakan dengan takdirnya yang indah. Alhamdulillah, dapat dana belajar gratis. Bismillahirrahmanirrahim. Doakan semoga istikamah.

    Rasanya memang beda. Niatkan karena Allah, wahai pejuang beasiswa.

    “Di hadapan Allah, seorang pencari ilmu dan penanggung biayanya mendapatkan pahala yang sama.”

    rewind2020

    Resita Endriati Winarso, S.P., S.Pd. Lahir di Gresik tanggal 5 Agustus 1982.Lulus S-1 di Program Studi Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember (Faperta UNEJ) tahun 2006. Pada tahun 2016 menyelesaikan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Terbuka. Sejak tahun 2014 mengajar di SDIT Tawakkal Pacitan dan menekuni dunia pendidikan hingga sekarang. Saat ini berstatus sebagai mahasiswi program beasiswa di Institut Islam Studies Muhammadiyah Pacitan Jurusan Pendidikan Agama Islam.
  • Saudara Tak Sedarah, tapi Sehati

    Saudara Tak Sedarah, tapi Sehati

    Setahun bagai sewindu

    Sewindu bagaikan seabad

    Ikhtiar yang kita lakukan

    Akhirnya kita nikmati

    Membersamai mereka yang lama pandemi

    Menjalaninya dengan keikhlasan hati

    Menikmati dengan syukur beribu kali

    Hingga itu sebagai penguat kami

    Bersama dengan ukhuwah ini

    Sampai hari berganti hari yang kami lewati

    Melepas sapa yang telah lama tak bersua

    Melepas hati yang lama tak terobati

    Melepas rasa yang lama tak berjumpa

    Menikmati dan syukuri jangan lupa diri

    Bahwa ini adalah kehendak ilahi

    Apapun yang terjadi uji nyali bagi sang pemilik hati

    30 September 2021

    Puisi di atas adalah curahan hati saya ketika mengajak warga perumahan untuk berkunjung ke salah satu tempat wisata. Tujuannya tidak lain hanya sekadar menyenangkan hati mereka setelah beberapa purna kita harus bergulat dengan ganasnya covid-19. Ya, sudah dua belas tahun saya mendampingi suami menjadi ketua RT. Kita merasa perlu memberikan reward kepada warga yang telah bekerja sama melalui gelombang musibah ini.

    Kurang lebih dua tahun kami warga Perumahan Sinari mengikuti segala peraturan pemerintah untuk stay at home. Sebab sebagian besar warga kami bekerja di perusahaan swasta yang sangat disiplin dengan perlakuan kesehatan. Kami semua sangat berhati-hati dalam melakukan kegiatan di luar rumah dengan prokes yang begitu ketat. Di depan rumah kami, wajib disediakan alat mencuci tangan yang terbuat dari ember sederhana. Awal Juni 2021, kami benar-benar mengalami serangan covid-19  yang begitu dahsyat. Satu-dua orang yang terpapar virus, langsung diminta karantina ke lokasi terdekat yang sudah ditentukan.

    Pagi itu, tanggal 26 Juni 2021, salah satu warga datang ke rumah dan menceritakan bahwa suami beliau dinyatakan positif. Dengan wajah cemas dan penuh ketakutan, beliau melaporkan sendiri terkait hal tersebut.

    “Tarik napas panjang, jangan bingung,”kata saya dalam hati. Siap tidak siap, saya harus siap dengan segala kendala ke depannya. Setelah laporan tersebut, saya dan beliau langsung ke Bu Bidan terdekat sebagai satgas covid dan semua anggota keluarga harus mengikuti tes ke puskesmas terdekat. Hasilnya, seluruh kelurga dinyatakan positif covid-19. Kembali saya menguatkan hati untuk memotivasi mereka.

    Cara pertama saya lakukan memberitahukan warga lain lewat grup Whatsapp bahwa saudara kita dinyatakan positif. Respons saling menguatkan muncul dengan sendirinya. Sampai-sampai warga membuat jadwal pengiriman makanan untuk warga yang terpapar. Kami juga menyedikan meja di depan rumah pasien, obat-obatan, air minum, kresek untuk buang sampah, dll. Respons kami begitu cepat, berharap mereka sebagai pasien tidak merasa dikucilkan, tetapi sebaliknya, kami beri semangat.

    Empat hari setelah itu, kembali saya mendapat laporan sepasang suami istri dinyatakan positif. Beruntung putrinya tidak ikut terpapar. Namun, sayang, sang putri tidak mau jauh dengan ibunya. Terpaksa dia tetap tinggal di dalam satu rumah. Kembali saya mengumumkan bahwa ada yang positif. Untuk kedua kalinya, respons saling menguatkan muncul. Tanpa diminta, warga memberikan sumbangan untuk keperluan warga yang sedang karantina, terutama kebutuhan makanan.

    Tidak berhenti sampai di situ. Bertubi-tubi kembali warga melapor terpapar virus. Banyak warga yang membutuhkan ruang untuk karantina. Segera saya liburkan lembaga TPQ, MADIN, KB, dan TK yang saya kelola sehingga bisa digunakan.

    “Allah, kuserahkan diri ini pada-Mu. Hanya Engkaulah penolong terhebatku,” ucapku dalam hati. Tak terasa, air mata menetes. Saya dan suami harus bertanggungjawab dengan kondisi warga. Sesekali ada perasaan takut jika saya dan keluarga tertular. Namun, semua itu saya kesampingkan. Setiap hari, saya mengontrol keadaan warga yang sedang karantina, baik mengunjungi langsung ataupun melalui Whatsapp. Tentu dengan menggunakan APD lengkap.

    Suatu hari, sepasang suami istri yang sedang karantina tidak membalas bahkan membaca chat yang saya kirim. Curiga terjadi apa-apa, saya segera menuju rumah isolasi. Namun, APD yang seharusnya saya kenakan sudah tidak tersedia. Terpaksa saya mengenakan jas hujan dan helm motor. Jangan ditanya bagaimanan bentukannya! Tentu rasanya sangat tidak nyaman. Jika harus membeli APD terlebih dahulu, saya khawatir terlambat dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

    Perasaan takut tertular mulai menjalar. Sebab keluarga yang akan saya kunjungi kali ini memiliki penyakit bawaan asma. Benar saja, sepasang suami istri tersebut mengalami sesak napas. Kaki saya mendadak lunglai. Bingung apa yang harus saya lakukan. Tanpa berpikir lama, saya berikan obat yang disediakan dari puskesmas. Berikutnya, pasangan tersebut berangsur-angsur bisa bernapas. Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah. Engkau memberikan kesempatan kepada kami untuk melanjutkan hidup.

    Kisah singkat ini saya tulis hanya sebagai pengingat diri bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Keluarga terdekat kita adalah tetangga. Bagaimana rasanya melihat tetangga mengalami sesak luar biasa, tapi tidak ada orang yang tahu? Bagaimana rasanya jika pasien mau chat saja tidak kuat untuk meminta bantuan? Bagaimana rasanya ketika melihat pasangan kita tidak ada memiliki semangat untuk sembuh? Allah luar biasa hebat. Saat itu juga, saya merasa seperti membantu dengan dorongan dari Allah. Secara spontan menjadi dokter gadungan dengan modal motivasi dan kekuatan hati. Terima kasih, Tuhan, kami semakin kuat dalam ukhuwah bahwa sebenarnya kita adalah saudara tak sedarah, tapi sehati.

    Anisah Harjanti. Lahir di Kota Madiun pada tanggal 23 Desember 1975, tepatnya di Desa Demagan Kec. Taman. Saat ini sebagian besar waktu saya digunakan untuk menjadi seorang istri dan ibu dua anak.  Mengabdi di SD swasta di kota Pasuruan dan membesarkan lembaga kecil di rumah adalah kegiatan saya sehari-hari. Sejak tahun 2018 mulai belajar menulis pemula  dengan karya pertama saya cerita fiksi Tiga Musim Membagun Prestasi, selain itu membuat buku antologi Puisi dengan Forum Lingkar Pena Pasuruan Hari Hati Mata Puisi, Antologi Puisi dengan 1000 guru seASEAN Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu,Tahun 2019 Antologi Cerita dengan Siswa kelas 4 Rahasia Dibalik Senyuman, di tahun ini juga puisi saya yang berjudul “Harapan” dimuat di koran Media PGRI.  Tahun 2020 Antologi Puisi dengan siswa kelas 3 Semburat Hati, Tahun 2021 Buku Antologi Karakter 1000 Inspirasi Bermain Kreatif dengan guru Kb Sekabupaten Pasuruan. Perempuan yang pernah belajar di Universitas MERDEKA Pasuruan jurusan Managemet Ekonomi dan Universitas Terbuka jurusan Pendidikan Sekolah Dasar ini juga aktif di Forum Lingkar Pena Pasuruan sebagai Divisi Humas. Menebar kebaikan selagi mampu merupakan motto perempuan satu ini aktif di Kelompok Wanita Tani, UMKM dan Bank Sampah dibuktikan dengan meraih Juara Favorit Tata Ruang Tanaman dalam Lomba KRPL se kabupaten Pasuruan. Menjadi pengurus HIMPAUDI kecamatan merupakan amanah yang tidak disengaja hingga saat ini. Dan menjadi abdi negara mendampingi suami selama 13 tahun mejadi ketua RT hal yang sulit untuk ditolak karena waktu yang tak berkehendak. Menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan. Insyallah tiap hari menulis puisi di akun FB Anisah Harjanti cover coklat. Jika ingin berbagi kisah dengan perempuan manis ini bisa melihat di FB beliau.