Beranda Berita FLP Dari Tadabbur ke Ide Tulisan, Menggali Inspirasi dari Al-Qur’an

Dari Tadabbur ke Ide Tulisan, Menggali Inspirasi dari Al-Qur’an

13
ide tulisan

Menjelajahi teknik asosiasi dan biosiasi dalam menggali ide tulisan dari Al-Qur’an bersama Ustaz Muchlisin untuk meningkatkan produktivitas karya yang penuh keberkahan di bulan Ramadan.

Layar gawai menampilkan deretan wajah antusias pada Senin malam, 23 Februari 2026. Sebanyak 22 peserta dari berbagai cabang Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur, mulai dari Gresik, Sidoarjo, Bangkalan, hingga Mojokerto, berkumpul dalam ruang virtual Zoom Meeting. Mereka hadir untuk menjemput inspirasi di awal bulan suci.

Ketua FLP Gresik, Almaidatul Istibsyaroh, S.Pd.I., membuka acara dengan pesan yang membakar semangat. Baginya, kehadiran bulan suci adalah momentum emas bagi para pejuang pena. Ia menekankan bahwa seorang penulis muslim harus memiliki manajemen hati yang baik sebelum menggoreskan tinta.

“Ramadan ini bukan waktu untuk bermalas-malasan. Inilah waktu terbaik untuk menata hati, menyucikan diri, dan mengasah produktivitas karya,” tegas Alma, sapaannya, ketika sambutan. Ia mengingatkan bahwa kebermaknaan ibadah puasa akan semakin lengkap jika seseorang mampu menahan lisan dan jari dari keburukan, lalu menggantinya dengan tulisan yang membawa maslahat. “Semoga ilmu ini memberi inspirasi untuk menyebarkan kebaikan melalui tulisan,” harapnya dengan tulus.

Suasana semakin hangat saat Siti Maulina, S.Psi., anggota FLP Gresik yang menjadi moderator, memperkenalkan sang narasumber. Ustaz Muchlisin, S.Pd.I., M.Pd., bukan sosok asing di dunia literasi Jawa Timur. Pembina FLP Gresik yang juga menjabat sebagai Ketua FLP Jatim periode 2022-2024 ini telah melahirkan sepuluh buku. Kali ini, ia membawa materi bertajuk “Dari Tadabbur ke Tulisan: Menggali Inspirasi Al-Qur’an”.

Menghubungkan Ayat dengan Realitas Hidup

Ustaz Muchlisin memulai pemaparannya dengan refleksi mendalam tentang interaksi umat Islam dengan kitab sucinya. Menurutnya, banyak orang membaca Al-Qur’an setiap hari, namun sering kali interaksi tersebut hanya berhenti pada lisan.

“Jika kita hanya membaca tanpa mengetahui artinya dan tanpa merenungi maknanya, eman (sayang sekali). Hati bisa terasa seperti terkunci,” ungkapnya dengan nada tenang namun lugas. Ia lantas mengajak peserta untuk masuk ke tahap tadabur, yakni mempelajari tafsir untuk memahami pesan langit yang terkandung di dalamnya.

Bagaimana cara mengubah ayat yang kita baca menjadi sebuah naskah yang memikat?

Teknik Asosiasi

Ustaz Muchlisin memperkenalkan teknik asosiasi. Teknik ini memungkinkan ide tulisan lahir dari jembatan antara ayat Al-Qur’an dengan pengalaman pribadi atau imajinasi penulis. Ia membagi teknik ini menjadi dua bagian, yang pertama adalah asosiasi bebas.

Dalam asosiasi bebas, penulis mengaitkan sebuah ayat dengan peristiwa nyata yang mereka kenal. Berdasarkan masukan salah satu peserta di kolom komentar, Ustaz Muchlisin mengulas contoh potongan ayat ke-5 dari Surah Al-Ma’arij: fasbir shabran jamila, yang berarti “Bersabarlah dengan kesabaran yang indah.” Dari satu perintah pendek ini, jutaan ide cerita bisa mekar.

Ia mencontohkan kisah sederhana tentang seseorang yang sedang belajar membuat kue. “Dunia baking menuntut kesabaran ekstra. Mulai dari menunggu adonan mengembang, mengatur suhu oven, hingga mencoba berkali-kali sampai berhasil,” jelasnya.

Dari refleksi ayat tersebut, seorang penulis bisa menciptakan cerita pendek atau novel tentang filosofi kesabaran di balik kegagalan di dapur. Dari satu kata “sabar”, seorang penulis bisa menurunkannya menjadi berbagai drama kehidupan manusia yang menyentuh.

Teknik Biosiasi

Malam itu, Ustaz Muchlisin juga menawarkan teknik yang lebih “liar” dan menantang bagi para penulis fiksi, yakni biosiasi. Teknik ini melatih otak untuk menghubungkan dua hal yang sekilas tidak memiliki kaitan sama sekali untuk melahirkan ide orisinal yang segar.

Ia merujuk pada kisah ikonik dalam Surah Al-Fiil. Sejarah mencatat bagaimana pasukan gajah yang megah dan perkasa tumbang oleh serbuan burung Ababil yang kecil. Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu panas yang mampu menembus perlindungan pasukan musuh. Di tangan penulis kreatif, pola ini bisa bertransformasi menjadi premis cerita modern yang luar biasa.

“Misalnya dalam novel fiksi ilmiah, pasukan tank yang sangat canggih justru kalah oleh kelompok kecil yang terlihat lemah namun menguasai teknologi digital,” papar Ustaz Muchlisin. Dari analogi Al-Fiil, lahir konsep cerita tentang kavaleri besar yang takluk di tangan para peretas atau hacker. Pertemuan antara kisah klasik dan teknologi modern inilah yang menghasilkan sebuah karya yang unik dan tak terduga.

Satu Ayat untuk Seribu Cerita

Melalui pemaparan tersebut, Ustaz Muchlisin ingin menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah samudra inspirasi yang tak akan pernah kering. Kitab suci ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman ibadah ritual, tetapi juga menjadi bahan bakar kreativitas bagi mereka yang mau berpikir. Setiap ayat memiliki potensi untuk memantik gagasan baru, baik itu berupa refleksi, puisi, cerita pendek, hingga novel setebal ratusan halaman.

Kuncinya, menurut penulis sepuluh buku ini, terletak pada keberanian penulis dalam merajut makna. Penulis harus rajin membaca, memahami kedalaman tafsir, lalu dengan berani mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, imajinasi, dan realitas kehidupan yang sedang terjadi di masyarakat. “Dari satu ayat, bisa lahir seribu cerita,” pungkasnya yang disambut anggukan mantap dari para peserta.

Kajian literasi daring ini memberikan perspektif baru bagi para anggota FLP. Ramadan tahun ini bukan lagi sekadar target khatam bacaan, melainkan juga target khatam dalam melahirkan karya-karya yang bersumber dari cahaya wahyu. Dengan teknik asosiasi dan biosiasi, para penulis kini memiliki alat untuk membedah setiap ayat menjadi narasi yang menarik bagi pembaca.

Pertemuan tersebut berakhir dengan sesi tanya jawab yang hangat. Bagi FLP Gresik, kegiatan ini menjadi pemantik awal untuk memastikan bahwa setiap jemari anggotanya akan menghasilkan tulisan yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga penuh dengan keberkahan nilai-nilai Al-Qur’an.

*Diolah oleh Sayyidah Nuriyah, FLP Cabang Gresik

Konten sebelumnyaParade Puisi Palestina: FLP Sidoarjo Suarakan Kepedulian Melalui Karya
Konten berikutnyaTausiyah Ramadan Internasional: Menggapai Malam Lailatul Qadr

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini