Beranda Berita FLP Tausiyah Ramadan Internasional: Menggapai Malam Lailatul Qadr

Tausiyah Ramadan Internasional: Menggapai Malam Lailatul Qadr

6
Tausiyah Ramadan

Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan, FLP Jatim bersama Yatim Mandiri telah menyelenggarakan kegiatan Tausiyah Ramadan Internasional. Kegiatan ini menghadirkan ulama dari Timur Tengah, Syeikh El Toyyib Saleh, pada hari Kamis (12/3). Dadang Irsyamuddin dari FLP Jawa Timur Divisi Kepalestinaan memandu acara ini. Meskipun dalam bahasa Arab, Ustadz Rizky Aji membantu menerjemahkan tausiyah, sehingga materi tausiyah dapat dipahami dengan baik oleh seluruh peserta. Peserta dari kegiatan ini berasal dari anggota FLP Jatim. Kepala Regional 2 Yatim Mandiri, Nanggara Presetyanto, juga menghadiri acara ini.

Mengangkat tema “Menggapai Malam Lailatul Qadr”, tausiyah ini mengajak umat Islam untuk memahami kedudukan istimewa malam Lailatul Qadr. Tak hanya itu, kita jadi tahu bagaimana cara menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan penuh kesungguhan.

Dalam pemaparannya, Syeikh El Toyyib Saleh menjelaskan makna mendalam dari ayat “Inna anzalnahu”, yang menunjukkan proses turunnya Al-Qur’an (nuzul). Beliau menyampaikan bahwa terdapat beberapa bentuk nuzul, yaitu Lauhul Mahfudz dan proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap sesuai kondisi umat manusia.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa Allah memuliakan malam Lailatul Qadr. Kehadiran malam ini merupakan bentuk perhatian besar Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, hendaknya umat Islam memberikan perhatian lebih terhadap malam ini dibandingkan malam-malam lainnya.

Puncak aktivitas orang beriman adalah saat mereka mampu menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan ibadah yang khusyuk. Orang yang dekat dengan Allah adalah mereka yang tidak mencari popularitas di hadapan manusia, melainkan cenderung menyembunyikan amalnya demi meraih kedekatan dengan Allah.

Dalam kajian yang merujuk pada kitab hadits shahih, beliau menyampaikan bahwa para ulama sepakat bahwa waktu pasti Lailatul Qadr dirahasiakan. Terdapat 49 pendapat mengenai kapan terjadinya malam tersebut, apakah di malam ganjil Ramadan atau di malam lainnya. Perbedaan ini justru menunjukkan besarnya perhatian para ulama terhadap keutamaan malam tersebut.

Beliau juga mengutip pendapat Sayyidina Ali tentang delapan perkara yang Allah rahasiakan, di antaranya waktu terkabulnya doa, keberadaan wali Allah, waktu mustajab di hari Jumat, hingga malam Lailatul Qadr itu sendiri. Hikmah dari dirahasiakannya malam ini adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang waktu, tidak hanya pada malam tertentu.

Beliau menyampaikan salah satu kisah adalah tentang Rasulullah yang hendak memberitahukan waktu pasti Lailatul Qadr. Namun karena adanya perselisihan di antara sahabat, informasi tersebut kemudian tidak disampaikan. Oleh karena itu, umat dianjurkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil, seperti tanggal 25, 27, dan 29 Ramadan.

Lebih dalam, makna Al-Qadr memiliki beberapa arti yaitu sebagai kemuliaan, ketetapan takdir, dan kondisi sempit karena turunnya malaikat dalam jumlah besar. Seakan-akan secara ruhani, ruang untuk manusia jadi sempit dan langit menjadi tenang karena malaikat memenuhi langit. Hal ini menggambarkan betapa agungnya malam tersebut, hingga keberkahan dan ketenangan memenuhi malam tersebut.

Beliau juga menegaskan bahwa orang-orang saleh tidak bergantung pada tanda-tanda Lailatul Qadr. Mereka senantiasa menghidupkan seluruh malam di bulan Ramadan dengan ibadah. Kesungguhan dan konsistensi menjadi kunci utama dalam meraih kemuliaan malam tersebut.

Dalam sesi tanya jawab, beliau menyampaikan bahwa kita boleh berdoa untuk urusan dunia, namun sebaiknya tidak menjadi fokus utama. Ramadan itu ibarat musim kebaikan, di mana setiap amal menjadi berlipatganda, bahkan satu istighfar dapat menghapus ribuan dosa.

Harapan kegiatan tausiyah ini, kita mampu meningkatkan kesadaran umat Islam untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menggapai keberkahan Lailatul Qadr. Namun, orang sholeh tidak memikirkan tanda-tanda itu karena orang sholeh akan selalu menghidupkan seluruh malam.

Jika belum sempat mengikuti kegiatan, Teman-teman bisa menontonnya di akun Youtube FLP Jatim.

Konten sebelumnyaDari Tadabbur ke Ide Tulisan, Menggali Inspirasi dari Al-Qur’an
Konten berikutnyaPeran Penulis dalam Menumbuhkan Literasi di Era Pembatasan Media Sosial

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini