Beranda Berita FLP Naufal El-Fany, anggota FLP Pamekasan yang Lolos International Conference Santri Mendunia

Naufal El-Fany, anggota FLP Pamekasan yang Lolos International Conference Santri Mendunia

1
FLP Pamekasan

Kesempatan tampil di forum internasional, seperti International Conference, menjadi pengalaman berharga bagi banyak anak muda, termasuk kalangan santri. Tidak hanya membawa nama diri sendiri, mereka juga membawa gagasan dan nilai-nilai pesantren ke panggung global.

Hal itu dirasakan oleh Naufal El-Fany, anggota FLP Pamekasan, yang menjadi salah satu peserta International Conference Santri Mendunia. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga negara yaitu Singapura, Malaysia dan Tailan dari tanggal 6 – 12 Mei 2026. Program ini merupakan inisiasi Santri Mendunia, organisasi komunitas sekaligus creative agency yang didirikan para santri milenial dari berbagai bidang keilmuan.

Komunitas tersebut memiliki jaringan luas hingga 35 negara dan 34 provinsi di Indonesia. Tujuan International Conference ini adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia santri dan potensi pesantren lokal agar mampu bersaing di tingkat internasional.

Awalnya, Naufal mengaku hanya ingin mencoba mengikuti seleksi konferensi tersebut. Berbekal kemampuan menulis paper yang ia pelajari dari Forum Lingkar Pena, ia memberanikan diri mendaftar.

“Salah satu syarat utamanya memang harus membuat paper sesuai tema dari panitia. Awalnya cuma ingin mencoba, ternyata Alhamdulillah lolos,” ujarnya.

Baginya, program tersebut menarik karena tidak sekadar menawarkan perjalanan ke luar negeri. Peserta juga akan mengikuti konferensi, debat, hingga forum diskusi internasional yang membuka wawasan baru.

Seleksi dan Persiapan

Untuk mengikuti program ini, peserta harus berasal dari kalangan santri, baik yang masih aktif maupun alumni. Selain itu, peserta juga bisa berasal dari orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam. Tahapan seleksinya pun cukup beragam. Mulai dari penulisan paper, pengumpulan berkas administrasi, pembuatan video edukasi, hingga wawancara tahap akhir. Menariknya, penggunaan bahasa dalam seleksi tidak selalu bahasa Inggris. Peserta bisa menggunakan bahasa Indonesia, Melayu, dan Arab. Meski begitu, kemampuan menulis tetap menjadi hal penting yang harus dipersiapkan. Sebab, tugas peserta tidak berhenti setelah paper pertama diterima.

“Setelah paper diterima, ternyata masih ada tugas membuat paper lagi. Jadi ada paper before event dan after event,” jelasnya. Paper ini bersifat kelompok. Seluruh peserta dibagi menjadi enam kelompok dan diminta menyusun tulisan berdasarkan mosi debat yang telah ditentukan panitia.

Dalam penulisan artikel saat seleksi, kelompok Naufal mengangkat judul “Transformasi Pendidikan Global melalui Nilai-nilai Sistem Boarding Pesantren: Model Holistik untuk Adaptasi Pedagogis, Pembentukan Karakter, dan Kewargaan Global Santri” hingga mengantarkan Naufal dan tim ke kancah Internasional.

Ketika acara berlangsung, kelompok Naufal mendapat mosi debat tentang Pendidikan di Brunei Darussalam. Materi yang disampaikan adalah “This House Believes That Traditional Religious Education in Brunei Should Be More Open to Global Innovation”. Dari sesi tersebut, Naufal dan tim mendapat apresiasi The 1st Best Group.

Tentang Pendanaan dan Kekhawatiran Scam

Program ini memiliki beberapa kategori pembiayaan, yakni Fully Funded, Partial Funded, dan Self Funded. Pada kategori Fully Funded, seluruh biaya peserta ditanggung panitia. Namun kuotanya sangat terbatas. Selain itu, ada juga kategori Special Funded yang diterima oleh Naufal el Fany. Dalam kategori tersebut, ia mendapatkan potongan biaya hampir setengah harga. Ia mengakui sempat khawatir terhadap program semacam ini karena takut penipuan atau scam, apalagi banyak konferensi internasional yang meminta biaya pendaftaran. Namun, sebelum mendaftar ia mencari informasi lebih dulu melalui teman-temannya di Jakarta.

“Alhamdulillah teman saya tahu program ini dan memastikan kalau ini bukan scam. Dari situ saya jadi lebih yakin ikut,” katanya.

Pesan untuk Anak Muda

Di akhir wawancara, ia berpesan agar anak muda tidak ragu mencoba kesempatan serupa, asalkan tetap berhati-hati dan mencari informasi terlebih dahulu. Menurutnya, program internasional seperti ini sangat baik untuk menambah pengalaman, relasi, dan pertukaran ilmu pengetahuan.

“Keluar negeri itu bukan cuma untuk jalan-jalan, tapi juga bisa dapat ilmu, pengalaman baru, dan relasi,” ujarnya.

Ia juga membagikan tips sederhana bagi siapa saja yang ingin mengikuti seleksi program internasional.

“Yang penting dijalani dengan serius. Jangan hanya berpikir yang penting daftar atau yang penting selesai. Kerjakan semua dengan sungguh-sungguh. Kalaupun belum lolos, setidaknya kita tetap mendapat pengalaman dan manfaat dari prosesnya,” terangnya.

Konten sebelumnyaDari Kunjungan Literasi Jadi Aksi, FLP Bangkalan Perkuat Gerakan Literasi
Konten berikutnyaFLP Malang Gaungkan Semangat Literasi Lewat Talkshow di Radio MFM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini