Keputusan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terkait pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun menjadi langkah penting dalam melindungi generasi muda dari dampak negatif dunia digital. Namun, di balik kebijakan tersebut, muncul satu pertanyaan besar: bagaimana anak-anak tetap mendapatkan ruang belajar, berekspresi, dan bertumbuh secara literasi?
Di saat para orang tua, mulai kebingungan bagaimana anaknya yang biasa dengan gadget, saat mereka tinggal bekerja atau aktivitas lain kini harus menghadapi permasalahan lain. Yakni apa yang harus dihadirkan untuk mengisi aktivitas sang anak.
Di sinilah peran penulis menjadi sangat krusial.
Literasi di Persimpangan Digital
Selama ini, media sosial menjadi salah satu “ruang belajar” informal bagi anak-anak. Mereka tidak hanya mengonsumsi hiburan, tetapi juga membaca, menulis, bahkan menciptakan konten. Ketika akses ini dibatasi, ada potensi kekosongan yang perlu diisi dengan alternatif yang sehat dan membangun.
Literasi tidak boleh berhenti hanya karena platform berubah.
Penulis sebagai Penggerak Literasi
Penulis bukan hanya pencipta karya, tetapi juga penyambung pengetahuan dan pembentuk cara berpikir. Dalam situasi ini, penulis memiliki beberapa peran penting:
1. Menyediakan Bacaan yang Relevan dan Menarik
Anak-anak tetap membutuhkan bacaan yang sesuai dengan usia mereka. Penulis bisa menghadirkan cerita, artikel, atau buku yang:
– Ringan namun bermakna
– Menghibur sekaligus mendidik
– Dekat dengan kehidupan mereka
– Dengan begitu, minat baca tidak hilang, justru berkembang.
2. Menghidupkan Literasi di Luar Media Sosial
Pembatasan media sosial bisa menjadi peluang untuk menghidupkan kembali buku fisik, majalah anak, komunitas literasi, dan perpustakaan. Penulis dapat berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan penerbit untuk menghadirkan ruang literasi yang lebih nyata.
3. Menjadi Teladan dalam Berpikir Kritis
Tulisan yang baik bukan hanya memberi informasi, tetapi juga mengajak pembaca berpikir. Penulis dapat mengangkat isu sederhana dengan sudut pandang menarik, menyisipkan nilai-nilai kritis dan reflektif, dan mengajarkan cara melihat dunia secara lebih bijak.
4. Mendorong Anak untuk Menulis
Literasi bukan hanya membaca, tetapi juga menulis. Penulis dapat membuat panduan menulis sederhana, mengadakan tantangan menulis, dan memberi ruang publikasi bagi karya anak. Dengan menulis, anak-anak belajar mengekspresikan diri tanpa bergantung pada media sosial.
5. Memanfaatkan Platform Alternatif yang Lebih Aman
Meski media sosial dibatasi, penulis tetap bisa memanfaatkan blog edukatif, website literasi, platform belajar digital yang ramah anak. Tujuannya bukan menjauhkan anak dari teknologi, tetapi mengarahkannya dengan bijak.
Literasi Adalah Tanggung Jawab Bersama
Kebijakan pembatasan media sosial bukanlah akhir dari ruang literasi, melainkan awal dari penataan ulang. Penulis, bersama orang tua, guru, dan masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak tetap membaca, berpikir, berkarya tanpa kehilangan arah. Ruang gerak dengan menggelar bacaan atau program ramah anak dengan TBM, rumah cahaya atau kolaborasi dengan komunitas literasi lain di ruang terbuka sangat diperlukan.
Di tengah perubahan zaman, peran penulis tidak pernah kehilangan makna. Justru semakin penting. Ketika satu pintu tertutup, penulis harus mampu membuka pintu lain—pintu yang membawa anak-anak pada dunia literasi yang lebih sehat, lebih dalam, dan lebih bermakna.
Karena pada akhirnya, literasi bukan soal platform, tapi tentang cara manusia memahami dunia. Mari terus bergerak memberi arah bahwa sebagai penulis bisa memberikan arti kepada masyarakat sekitar.
Karya oleh Dhe One, FLP Cabang Sidoarjo yang diambil dari program Rabu Karya di Grup WA FLP Jatim.













