Sekolah Terbuka Usahakan Al-Qur’an Hafal (STUAH)

0
188
ilustrasi: pixabay

Oleh: Resita Endriati Winarso

Awalnya, saya hanya sekadar melihat sambil lalu pamflet di Instagram official  Ustaz Adi Hidayat, Lc. Namun, suatu pagi, Allah menggerakkan tangan saya untuk benar-benar tahu informasi tersebut.

Banyak program yang ditawarkan oleh STUAH. Salah satunya adalah program menghafal tiga semester atau satu setengah tahun yang akan didampingi langsung oleh musyrif/musyrifah binaan Ustaz Adi Hidayat. Barangkali sama seperti program tahfiz  daring yang sudah ada, semisal Qaaf Rumah Tahfidz Online, Bimbingan Luar Maskan Maskanul Huffadz milik Ustazah Oki Setiana Dewi, atau Akademi Tahsin Online dari Wafa. Namun, saya pikir ini akan lebih intensif karena program terjadwal dan terstruktur, baik dari segi kurikulum maupun pendampingan santri.

Alasan singkat di balik pencarian program menghafal ini adalah karena saya ingin belajar di pondok tahfiz, tetapi  merasa tidak mudah dengan keadaan saat ini. Seorang ibu rumah tangga, tak lagi muda seperti dahulu yang dengan ringan melangkah menentukan arah tujuan dengan bekal rida dari orang tua.

Sebelumnya, saya sempat mengajukan proposal untuk belajar di Maskanul Huffadz Bintaro, Jakarta. Namun, belum dapat izin dari suami. Kejauhan, katanya. Sampai-sampai saya mengusulkan ke yayasan mereka untuk buka cabang di Madiun atau Solo agar mudah dijangkau untuk wilayah Pacitan dan sekitarnya. Mengapa di sana? Ya karena di sana menawarkan program daurah tahfiz selama setahun saja. Artinya, dari segi waktu lebih efektif karena tidak membutuhkan waktu yang lama. Santri juga akan lebih termotivasi untuk menggunakan waktunya dengan baik.

Selanjutnya, bertemulah saya dengan program STUAH ini. Betapa hati ini  berdebar ketika membaca setiap lembar informasi yang dipaparkan. Rasanya batin ini bicara.

Ini yang kucari. Aku sudah menemukannya. Ini cocok dengan keadaanku saat ini.

Sejauh informasi yang saya terima, program Ustaz Adi tersebut memang gratis. Namun demikian, yayasan beliau membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin berdonasi  agar mushaf At-Taisir bisa dicetak ulang sehingga dapat terus berkelanjutan untuk disebarluaskan ke seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Dengan cermat, saya mendalami materi program dari tautan yang ada. Program ini sangat menarik. Bayangkan saja, kuota yang disediakan untuk gelombang kedua ini 8.000 orang dari seluruh Indonesia dan akan ditutup akhir Agustus atau jika kuota sudah terpenuhi. Gelombang pertama khusus peserta Jabodetabek 2.000 orang sudah ditutup. Jadi, total santri 10.000 orang dari seluruh Indonesia. Akan menyusul program berikutnya dengan peserta dari seluruh dunia karena sampai detik ini sudah masuk daftar antre santri-santri dari luar negeri. Masyaallah, tabarakallah.

Belum berakhir sampai di situ, saya sedikit heran awalnya. Benarkah ini GRATIS?  Untuk perangkat pembelajaran yang akan diberikan ke santri saja tidak sedikit, sekitar tujuh kilogram. Selain mushaf, terdapat buku-buku murajaah, buku motivasi, dan lain sebagainya.

Setelah saya coba  untuk registrasi, tampak pada layar ponsel sejumlah nominal biaya pengganti buku plus ongkir. Total dana yang harus ditransfer hampir tujuh ratus ribu rupiah. Hem … saya mundur. Belum ada dana saat ini. Saya putuskan untuk ikut gelombang berikutnya saja jika Allah masih berikan kesempatan.

Siangnya, saya WhatsApp seorang sahabat di Jember. Indah namanya. Saya tawarkan program ini untuknya.

Namun, Indah menjawab, “Aku enggak berani. Aku tahsin sama kamu saja, sudah nyaman.”

“Enggak berani kenapa?” tanyaku.

“Enggak tahu, ya. Aku belum bisa. Kamu ikut ta?” Indah balik bertanya.

“Sepertinya enggak. Berbayar. Nabung dulu aja,” pungkasku.

“Bukannya itu gratis?”

“Ada biaya pengganti untuk buku dan mushaf, Ndah.”  Kemudian, saya kirim  tangkapan layar tagihan itu.

Tidak lama berselang, ponsel saya berbunyi pertanda notifikasi  WA masuk.  Indah mengirim bukti transfer lima menit setelah  percakapan kami berlangsung.

“Masyaallah, apa-apaan ini, Ndah?”

Oh, ya, asal tahu saja. Tangkapan layar yang saya kirim tidak menunjukkan nomor rekening sama sekali. Dari mana  Indah tahu dana harus ditransfer ke mana?

Kemudian, Indah pun menjelaskan. “Sudah … kamu belajar yang rajin. Aku bisanya baru seperti ini, membiayai. Kamu ngomong saja kalau ada keperluan lain.”

Tangisku pecah. Ya Allah, betapa baiknya Engkau.

 Indah  bercerita jika setiap pekan, dua pekan, atau sebulan sekali memang transfer dana ke Ahyar Quantum Institute. Jadi, ya, wajar saja kalau dia punya nomor rekeningnya. Kebetulan saat kami berbalas pesan, dia sedang berada di tokonya, di depan mesin EDC. Langsung saja klik transfer. Oh, ya Allah, ternyata dia donatur ustaz tersebut.

Kulapangkan hati saat itu. Kulegakan keadaan saat belum mampu. Namun, Allah sempurnakan dengan takdirnya yang indah. Alhamdulillah, dapat dana belajar gratis. Bismillahirrahmanirrahim. Doakan semoga istikamah.

Rasanya memang beda. Niatkan karena Allah, wahai pejuang beasiswa.

“Di hadapan Allah, seorang pencari ilmu dan penanggung biayanya mendapatkan pahala yang sama.”

rewind2020

Resita Endriati Winarso, S.P., S.Pd. Lahir di Gresik tanggal 5 Agustus 1982.Lulus S-1 di Program Studi Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember (Faperta UNEJ) tahun 2006. Pada tahun 2016 menyelesaikan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Terbuka. Sejak tahun 2014 mengajar di SDIT Tawakkal Pacitan dan menekuni dunia pendidikan hingga sekarang. Saat ini berstatus sebagai mahasiswi program beasiswa di Institut Islam Studies Muhammadiyah Pacitan Jurusan Pendidikan Agama Islam.
Konten sebelumnyaDicekam Ketakutan
Konten berikutnyaCerpen: Jarik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini