Mengurai Benang Kusut di Bulan Suci Ramadan

1
372
sumber foto: unsplash.com

Oleh: R. Sumantri

Ustaz Bachtiar Nasir dalam dakwahnya mengatakan, “Hati orang yang beriman sekarang ini sedang bergelora dalam menyambut Ramadan dengan penuh iman. Tetapi orang yang tidak berbekal iman pada bulan suci nanti, maka ia hanya akan berhaus-haus dan berlapar ria. Maka bekal yang paling penting untuk dipersiapkan sekarang adalah keimanan.” Keimanan ini merupakan hal yang paling asas, pokok, dasar yang melekat pada setiap umat Islam. Tiada kata yang paling esensi dalam hidup ini selain kata keimanan. Iman adalah penyelamat. Keimanan seseorang bagaikan akar yang kuat, kokoh menjulang ke bawah bumi. Apa artinya sebuah pohon tanpa akar. Begitu juga apalah artinya kehidupan kita tanpa dilandasi keimanan yang kokoh dalam jiwa.

Berbagai permasalahan menghampiri umat Islam. Jadikan Ramadan ini sebagai solusi dengan mengokohkan keimanan kita terhadap agama yang kita yakini. Pertanyaan selanjutnya bagaimana keimanan ini bisa mengakar kokoh dalam setiap jiwa. Tentu saja dibutuhkan ilmu untuk meraihnya. Karena iman dalam jiwa seseorang tidak akan hadir tanpa digapai dengan ilmu. Ilmu, iman, dan amal merupakah tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan. Seseorang untuk menggapai keimanan perlu mencari ilmu dengan belajar, membaca berbagai buku, dan mengikuti berbagai kajian. Begitu juga untuk membuktikan keimanan kita harus direalisasikan dalam sebuah “amal” nyata. Maka beramal semaksimal, seoptimal mungkin di bulan Ramadan merupakan kesempatan emas bagi setiap muslim.

Saatnya mengurai benang yang kusut. Setelah sebelas bulan diri dilumuri dosa. Saatnya mensucikannya di bulan Ramadan, dengan melakukan berbagai aktivitas kebaikan. Antara lain memperpanjang qiyamul lail, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan mentadaburinya, yang selanjutnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan di setiap waktu luang ada Al-Qur’an di sisi kita. Jadikan bulan yang penuh rahmat ini menjadikan kita untuk mendekat kepada Allah. Jadikan setiap langkah gerak kita bernilai kebaikan. Jadilah orang cerdas setelah sebelas bulan kebanyakan berorientasi pada dunia. Jadikan satu bulan penuh hanya untuk akhirat yang menjadi tujuan hakiki umat Islam.  Jadikan di setiap napas yang berembus hanya berzikir dengan mengingat Allah sepenuh jiwa. Jadikan bulan ini  sebagai pembuktian penghambaan kita kepada Ilahi Rabbi. Yakinlah bahwa Allah-lah Sang Penggenggam hidup ini.

Ramadan sangat erat kaitannya dengan Al-Qur’an. Berinteraksi lebih intens dengan Al-Qur’an merupakan kunci menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Ilahi Rabbi. Karena di bulan Ramadan ini Al-Qur’an diturunkan. Begitu mulianya bulan ini. Maka sungguh merugi jika Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup diabaikan begitu saja.  Pada bulan Ramadan ini, saatnya kembali kepada Al-Qur’an karena Al-Qur’an merupakan warisan yang paling berharga yang tiada bandingannya. Di dalamnya, termuat semua ilmu, pedoman hidup, dan hukum yang sudah ditetapkan. Sungguh merugi orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pajangan hiasan rumah tanpa membuka, membaca, mentadaburi, dan mengalkannnya dalam kehidupan sehari-hari.

Saatnya menghidupkan bulan penuh berkah ini dengan amaliyah bernilai di sisi Allah. Melaksanakan ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan haus.  Tetapi menahan hawa nafsu merupakan inti dari makna shaum. Bagaimana caranya hawa nafsu yang identik dengan perbuatan yang mengikuti bisikan setan ini. Kita kalahkan dengan pertahanan diri—tentunya keimanan yang menjulang dan mengakar dalam jiwa.  

Selama sebelas bulan sibuk berjibaku dengan dunia, mayoritas alokasi waktu hanya berorientasi kepada dunia, saatnya di bulan Ramadan ini kita alokasikan waktu kita hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Saatnya di bulan Ramadan ini meningkatkan sedekah. Semua hasil keringat tidak ada artinya tanpa menyucikannya dengan zakat dan menafkahkannya di jalan-Nya. Tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi diikuti bulan-bulan berikutnya.

Satu lagi, di bulan Ramadan Allah mempersiapkan untuk umat Islam ini malam yang sangat istimewa, yaitu lailatul qadar. Lailatul qadar hanya bisa digapai oleh orang-orang yang bersungguh untuk menggapainya.  Menjadi hamba yang terpilih mendapatkan lailatul qadar merupakan dambaan setiap muslim. Sungguh merugi jika bulan yang penuh rahmat ini berlalu begitu saja tanpa menggapai keberkahan yang ada di dalamnya.

Wallaahu a’lam bisshowab.

R. Sumantri lahir di Garut 5 Juni 1990 anak ke empat dari pasangan bapak Undang Sumantri dan ibu Siti Maryam.  Istri  dari  Siswandi Hartono dan bunda dari tiga anak: Milda Desti Silvira, Navina Syafitri dan Khansa Qanita Najiyyah. Perempuan berdarah Garut  ini kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sambil menyambi ngajar di MI dan MA. Semasa kuliah pernah aktif di kegiatan mahasiswa dan aktif di Forum Lingkar Pena Malang. Merupakan anugrah yang sangat luar biasa dipertemukan dengan kawan-kawan yang berjuang dalam dunia kepenulisan.

editor: Niswahikmah

Konten sebelumnyaDetak Berserak
Konten berikutnyaSenapan Seorang Prajurit

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini