Beranda Artikel Sudahkah Kita Jadikan Aktivitas Menulis Sebagai Vitamin Jiwa di Era Digital?

Sudahkah Kita Jadikan Aktivitas Menulis Sebagai Vitamin Jiwa di Era Digital?

6
Musyawarah WIlayah FLP Jatim

Dalam acara Seminar Nasional Satu Jiwa Untuk Literasi, novelis Ayat-Ayat Cnta, Habiburahman El Shirazy, memberikan pandangan Islam mengenai aktivitas menulis dan membaca yang mampu memotivasi peserta untuk terus berkarya lillahita’ala. Beliau menegaskan membaca dan menulis merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik lahir dari kebiasaan membaca yang kuat dan berkelanjutan. 

Tak hanya itu, beliau mengungkapkan, “Orang yang ingin menjadi penulis sejatinya harus terlebih dahulu menjadi pembaca yang setia. Membaca memperkaya batin, sementara menulis adalah cara menyalurkan dan mengabadikan hasil perenungan.”

Acara sekaligus Musyawarah Wilayah (Muswil) IX yang diselenggarakan di Malang pada Jumat, 16 Januari 2026 ini bertema Menulis Sebagai Vitamin Jiwa Generasi Digital.

Menulis adalah Perintah Allah

Kang Abik, sapaan akrab beliau, mengatakan bahwa membaca dan menulis merupakan perintah Allah SWT yang tercantum dalam Al-Qur’an untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat.

Membaca dalam bahasa arab berasal dari kata قَرَأَ. Ketika berubah menjadi kalimat perintah (fi’il ‘amr) “bacalah!” akan berubah menjadi اِقْرَأْ (Iqro’) yang terdapat pada surah Al-‘Alaq ayat 1:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”

Sedangkan aktivitas menulis, Allah berfirman pada surah Al-Qolam ayat 1:

نۤۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ۝١

Artinya : “Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,”

Surah Al-Qolam ayat 1 menegaskan keagungan ilmu dan pentingnya literasi hingga Allah bersumpah demi pena. Kekuatan menulis dan membaca telah menjadi bukti yang jelas hingga saat ini bahwa peradaban Islam terbangun pada ribuan abad lalu juga berawal dari para ilmuwan yang mencintai aktivitas menulis dan membaca. Allah pun memerintahkan Iqra’ bukan hanya sekadar membaca, tetapi juga agar manusia mampu berpikir. Tuhan Yang Maha Pemurah mengajarkan manusia melalui perantara Qolam.  

Kang Abik juga mengatakan bahwa, “Anugerah Allah hanya diberikan kepada mereka yang mau membaca.”

Jika Iqra’ menjadi sebuah kewajiban di rumah, secara tidak langsung, anak-anak akan berkembang menjadi insan yang kritis karena sebenarnya tujuan utama membaca dan menulis untuk menjalankan syariat islam.

Merasa Belum Pantas?

Sebab Islam mementingkan budaya ilmu, maka Islam juga mengharamkan menyembunyikan ilmu. Ketika suatu kondisi membutuhkan sebuah ilmu atau penjelasan, akan tetapi orang yang berilmu ini tidak ingin menjelaskan apa ilmu yang ia punya atau menyembunyikannya dengan dalih “belum pantas”, maka Allah akan melaknatnya. Astaghfirullah al’adzim.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” (Al-Baqarah/2: 159)

Ternyata orang berilmu memiliki amanah yang berat. Dalam hadits Rasulullah SAW, Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui, namun dia menyembunyikannya, maka dia akan diberi tali kekang dari neraka pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Semoga kita terhindar dari siasat setan. Tentu saja Allah telah menganugerahi ilmu kepada setiap penulis sehingga sudah sepantasnya, sebab menjadi suatu syariat Islam, mengajarkan kepada yang lain. Setiap insan akan memiliki ilmu yang beraneka ragam, misalnya tentang tips agar cerpen memikat hati, novel, cara menulis puisi, atau pun berkaitan dengan fikih, muamalah, tarikh, tafsir, akidah seperti menyambut Bulan Ramadan, atau apa pun yang menjadi kebutuhan saat ini, seperti tips meningkatkan motivasi belajar pada siswa. Tak hanya melalui buku, para penulis bisa menyebarkan ilmu secara kreatif pun melalui media sosial atau website.

Namun, di era digital ini, tantangan menulis semakin besar. Penulis harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Seperti yang diungkapkan Kang Abik, bahwa di era digital, tantangan literasi bukan hanya soal akses informasi, tetapi juga kedalaman berpikir. Menulis menjadi cara untuk menjaga kejernihan hati dan kesehatan jiwa, khususnya bagi generasi muda yang saat ini sering berhadapan dengan arus informasi yang cepat dan masif. Sebagai penulis dengan anugerah ilmu yang telah diberikan oleh Allah, sudahkah kita jadikan aktivitas menulis sebagai vitamin jiwa di era digital?

Konten sebelumnyaDokter (santri) yang Meninggal Sore itu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini