Bukan Jalan Pintas

2

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita yang bersliweran di jagad maya. Seorang mahasiswi di Perguruan Tinggi Negri di Jawa Tengah melakukan aksi bunuh diri dengan terjun dari lantai empat sebuah mall di pusat kota. Miris rasanya mendengar dan melihat betapa banyak seorang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena beban hidup yang dialaminya.

Beberapa hari kemudian saya melihat postingan seorang kawan lama. Dia sedang mengantarkan anaknya ke peristirahatan terakhirnya. Saya lihat beberapa fotonya dan terkejut melihat kampusnya. Sebuah perguruan Tinggi Negri di Jawa Tengah. Kemudian saya cari Kembali berita yang di internet. Dan saya benar-benar terkejut dan syok. Ternyata mahasiswi yang bunuh diri tersebut adalah putri cantik teman saya tersebut. Saking tidak percayanya, saya baca berulang-ulang inisial namanya, wajahnya, dan cerita-cerita yang banyak menghiasi berbagai macam media online. Benar, itu dia.

Seperti tak percaya, kalut dan berbagai pertanyaan yang ada di kepala. Namun, saya hanya bisa mengucapkan bela sungkawa dan duka cita atas kepergian anak tersayangnya dan kebanggaannya. Tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata yang berisi kesabaran dan ketenangan. Hanya membayangkan, betapa dia sangat kehilangan dan bersedih atas kehilangan yang tiba-tiba dengan cara yang tragis.

Selama ini, saya melihat keadaan keluarga kecil tersebut bahagia. Apalagi mereka juga dikaruniai kembali seorang anak setelah kedua anak lainnya tumbuh besar. Namun, di berita itulah saya tahu bahwa ada sisi-sisi tertentu yang tersembunyi. Keadaan anak yang depresi, dan percobaan bunuh diri juga sudah pernah dilakukan. Dia terluka, hubungan keluarganya telah terpecah. Dan, dia tidak tahu harus kemana mengadukan semua persoalan hidupnya. Dia tidak mengerti, semua jalan hidupnya adalah qadha’ dan qadar Allah yang harus diyakini dan diterimanya. Bahwa tidak semua yang buruk bagi kita adalah buruk di mata Allah. Bisa jadi buruk di mata manusia itu adalah yang terbaik di mata Allah. Tinggal bagaimana manusia menyikapi semua persoalan hidupnya. Dan semua itu tentunya harus dikuatkan oleh lingkungan sekitarnya. Yang menguatkannya, memotivasinya, yang menasehatinya, dan yang merangkulnya ketika dalam keadaan terjatuh. Karena itulah, kita dianjurkan bergaul dengan orang-orang yang salih. Yang menunjukkan kita kepada jalan yang benar. Bukan jalan pintas. Karena, mengakhiri hidup tidak akan memecahkan masalah tetapi menambah lagi masalah yang baru.

Konten sebelumnyaMaafkan Kami, Palestina
Konten berikutnyaDarurat Iman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini