Kategori: deleted

  • IKHTIAR DAN DOA

    IKHTIAR DAN DOA

    Dia melihat pengumuman itu dengan hati hancur berkeping-keping. Ini bukan kali pertama dia gagal masuk ke PTN A impiannya. Bahkan di PTN B yang merupakan pilihan keduanya, juga gagal, padahal kata saudara-saudaranya, PTN B mudah untuk ditembus dan saudara-saudaranya juga tidak sepandai dirinya.

    Dia telah banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Dia pahami materi yang dianggap sulit. Dan cukup percaya diri untuk menyongsong SBMPTN, tapi nyatanya lagi-lagi namanya tidak tertera di daftar mahasiswa yang diterima.

    “Katanya kamu pintar kenapa tidak lolos?” Nenek yang begitu dia hormati melemparkan tanya padanya, padahal darinya dia berharap kekuatan dan pemakluman.

    Sakit. Hatinya tercabik lagi. Dia pun tak kalah terpukulnya dengan keadaan dirinya. Dia juga tidak ingin mengalami hal seperti ini. Kegagalan yang bertubi- tubi. Semua orang pun tahu kalau dia memang layak diperhitungkan, tetapi jika berhadapan dengan takdir, siapa yang bisa mengelak. Tidakkah orang-orang sekitarnya tahu, bahwa dia telah berusaha semaksimal yang dia bisa. Belajar tanpa kenal lelah.

    “Sudahkah kau berdoa?” Tanyaku suatu kali.

    Dia terperangah. Apa efeknya? Tidak cukupkah usaha keras yang aku lakukan untuk menggapai kesuksesan?” tanyanya. Aku hanya menggeleng.

    Dia mulai mengevaluasi diri. Perlahan dia ingat perjalanan dirinya. Ketika akan SBMPTN dulu, dia belajar dengan keras, dirinya terlalu sombong dengan hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk menggapai kesuksesan tanpa melibatkan Sang Pemilik Takdir.

    “Masih ada kesempatan, teruslah mencoba. Ada jalur mandiri?” ujarku.

    Okelah dia mendaftar lagi di dua PTN yang sama. PTN yang pernah menolaknya. Tetapi kali ini aku tak pernah lihat lagi dia belajar. Hingga terbesit tanya apakah putus asa sudah menghinggapinya? Mana mungkin sebuah sebuah cita diraih tanpa usaha? hal itu cukup membuatku khawatir akan Nasib dirinya. Bagaimana jika tidak diterima di kedua PTN itu? Kadang, dia malah masuk kamar, dan berlama-lama di dalamnya.

    Hingga saat itu tiba, pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Dia menunjukkan pengumuman PTN B, namanya tertera di sana. Matanya berbinar, seperti ada rasa bahagia yang meluap di dalam hatinya. Dan beberapa hari kemudian, namanya tertera lagi, diterima di PTN A. PTN yang menjadi incarannya sejak SMA. Begitu senangnya dia. Kepercayaan dirinya muncul kembali. Aku sangat bersyukur dan ikut berbahagia atasnya.

    Ketika kutanya, mengapa di tes kedua ini kulihat sudah tidak pernah belajar lagi. Jawabnya, di tes kedua ini dia lebih banyak berdoa. Belajar sudah dia lakukan di tes sebelumnya, maka untuk saat ini dia hanya lewat jalur langit saja.

    Ya sejatinya, ikhtiar dan doa haruslah berjalan beriringan, karena apalah daya manusia. Sekuat apapun usaha yang telah dilakukan, jika Allah tidak berkehendak, ya tidak bisa, maka doa menjadi pendorongnya agar usaha yang kita lakukan sejalan dengan takdir yang dituliskan.

  • Darurat Iman

    Darurat Iman

    Rasanya, tak henti-hentinya berita tentang pembunuhan juga bunuh diri yang memenuhi layar gawai kita setiap hari. Ini adalah darurat. Apakah ini termasuk dalam kategori kemunduran iman? Padahal, semua pelaku rata-rata adalah muslim. Tidak orang dewasa, bahkan remaja dengan mudahnya bersembunyi tanpa takut diliihat oleh Allah. Kita, hanya takut dilihat oleh manusia. Sehingga ketika tersembunyi maka merasa aman melakukan maksiat.

    Darurat iman. Seperti orang yang tak tahu untuk apa dia berada di dunia ini. Seperti, tidak tahu kemanakah dia setelah mati. Tidak juga tahu, bahwa semua amal perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Iman seperti hilang begitu saja. Tiba-tiba lenyap tak berbekas. Bahkan, sewaktu-waktu bisa menghantui siapa saja. Iman itu seperti barang langka yang sulit dicari.

    Maka benarlah kiranya, jika kita harus menjaga keluarga dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia.  Karena sesungguhnya manusia bisa saja terjerumus ke dalam neraka, padahal tinggal selangkah lagi dia akan mengetuk pintu surga. Benar, iblis tak akan dengan mudahnya melepaskan anak cucu Adam untuk ikut menemaninya di neraka. Dendamnya adalah menghapus iman dalam dada keturunan Adam. Menemani mereka siang dan malam. Sampai misi akhir mereka tercapai. Menjadikan teman selamanya. Tanpa iman.

  • Bukan Jalan Pintas

    Bukan Jalan Pintas

    Beberapa hari yang lalu saya membaca berita yang bersliweran di jagad maya. Seorang mahasiswi di Perguruan Tinggi Negri di Jawa Tengah melakukan aksi bunuh diri dengan terjun dari lantai empat sebuah mall di pusat kota. Miris rasanya mendengar dan melihat betapa banyak seorang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena beban hidup yang dialaminya.

    Beberapa hari kemudian saya melihat postingan seorang kawan lama. Dia sedang mengantarkan anaknya ke peristirahatan terakhirnya. Saya lihat beberapa fotonya dan terkejut melihat kampusnya. Sebuah perguruan Tinggi Negri di Jawa Tengah. Kemudian saya cari Kembali berita yang di internet. Dan saya benar-benar terkejut dan syok. Ternyata mahasiswi yang bunuh diri tersebut adalah putri cantik teman saya tersebut. Saking tidak percayanya, saya baca berulang-ulang inisial namanya, wajahnya, dan cerita-cerita yang banyak menghiasi berbagai macam media online. Benar, itu dia.

    Seperti tak percaya, kalut dan berbagai pertanyaan yang ada di kepala. Namun, saya hanya bisa mengucapkan bela sungkawa dan duka cita atas kepergian anak tersayangnya dan kebanggaannya. Tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata yang berisi kesabaran dan ketenangan. Hanya membayangkan, betapa dia sangat kehilangan dan bersedih atas kehilangan yang tiba-tiba dengan cara yang tragis.

    Selama ini, saya melihat keadaan keluarga kecil tersebut bahagia. Apalagi mereka juga dikaruniai kembali seorang anak setelah kedua anak lainnya tumbuh besar. Namun, di berita itulah saya tahu bahwa ada sisi-sisi tertentu yang tersembunyi. Keadaan anak yang depresi, dan percobaan bunuh diri juga sudah pernah dilakukan. Dia terluka, hubungan keluarganya telah terpecah. Dan, dia tidak tahu harus kemana mengadukan semua persoalan hidupnya. Dia tidak mengerti, semua jalan hidupnya adalah qadha’ dan qadar Allah yang harus diyakini dan diterimanya. Bahwa tidak semua yang buruk bagi kita adalah buruk di mata Allah. Bisa jadi buruk di mata manusia itu adalah yang terbaik di mata Allah. Tinggal bagaimana manusia menyikapi semua persoalan hidupnya. Dan semua itu tentunya harus dikuatkan oleh lingkungan sekitarnya. Yang menguatkannya, memotivasinya, yang menasehatinya, dan yang merangkulnya ketika dalam keadaan terjatuh. Karena itulah, kita dianjurkan bergaul dengan orang-orang yang salih. Yang menunjukkan kita kepada jalan yang benar. Bukan jalan pintas. Karena, mengakhiri hidup tidak akan memecahkan masalah tetapi menambah lagi masalah yang baru.

  • Ugh, Hujan!

    Ugh, Hujan!

    “Ugh, hujan! Sebel!” Bibir Rena cemberut. Keningnya yang tetutup poni berkerut-kerut.

    Gadis berusia 10 tahun itu bertopang dagu di dekat jendela. Dia memandangi rintik-rintik air yang mengetuk-ngetuk kaca jendela. Rena tidak suka hujan. Jalanan jadi becek dan kotor. Tapi, repot juga kalau hujan tidak turun. Tanaman tidak bisa tumbuh karena kekurangan air.

    “Kenapa, sih, Dek, manyun terus?” goda Kak Nabila sembari menyenggol lengan Rena.

    “Rena nggak bisa main keluar.” Rena memandangi hujan yang semakin deras di luar. Air menggenangi kebun kecil depan rumahnya. Jalanan sepi. Biasanya saat sore begini, teman-temannya sudah berkumpul di halaman. Mengajak main. Kini, hanya tampak satu dua orang yang melintas sembari menenteng payung.

                “Gimana kalau kita main di rumah aja? Kakak punya permainan seru, loh,” ajak Kak Nabila sembari tersenyum semringah.

                “Mau, mau. Permainan apa nih, Kak?” Perkataan Kak Nabila membuat Rena antusias sekaligus penasaran.

    Kak Nabila menyiapkan toples kaca, piring kaca, air panas, dan beberapa bongkah es batu. “Kita mau bikin hujan buatan.”

                Mereka pun mulai bekerja sama. Rena meletakkan es batu di atas piring. Sementara Kak Nabila menuang air panas ke dalam toples. Kemudian, piring berisi es batu diletakkan di atas toples. Beberapa saat kemudian, titik-titik air turun dari bawah piring. Seperti sedang turun hujan.

                “Wah, hujan. Keren.” Rena menatap tetesan air dengan takjub. “Gimana bisa terjadi hujan, Kak?”

    “Ada tiga tahapan terjadinya hujan. Pertama, air di laut, sungai, dan danau menguap karena panas matahari.”

                “Seperti air panas dalam toples ini, ya, Kak.”

                “Tepat sekali.” Kak Nabila mengacungkan jempolnya. “Kedua, uap air naik ke udara membentuk awan. Kumpulan uap air ini mengalami pengembunan sehingga membentuk titik-titik air.”

                “Piring ini kayak langitnya, ya, Kak.”

    “Betul. Saat uap air sampai di atas, terjadi pendinginan atau penurunan suhu. Maka akan terbentuk titik-titik air di bawah piring.”

    “Setelah itu gimana, Kak?” tanya Rena antusias.

    “Ketiga, angin membawa awan ke daratan. Titik-titik air turun pun menjadi hujan. Seperti uap air di bawah piring ini. Jika sudah penuh akan jatuh ke bawah. Hujan buatan juga bisa dilakukan di langit, loh. Caranya dengan menaburkan garam dan bahan kimia lain ke awan.”

    “Wah, keren. Ternyata hujan itu seru, ya, Kak.” Rena berseru riang. []

  • Perdana FLP Ranting Al Mawardi adakan Talk Show Literasi

    Perdana FLP Ranting Al Mawardi adakan Talk Show Literasi

    Al-Mawardi-Menjelang satu bulan dari hari lahirnya, Forum Lingkar Pena Cabang Pamekasan Ranting Al-Mawardi menggelar talkshow literasi untuk kali pertama. Acara tersebut dilaksanakan pada 28 Juli 2023 yang bertepatan dengan hari Asyura’ bulan Muharram 1445 H. Talkshow yang digelar oleh organisasi literasi pertama yang berdiri di pondok pesantren Al-Mawardi ini berlangsung dengan lancar di Aula Pesantren.

    Pengurus Ranting Forum Lingkar Pena Al-Mawardi turut mengundang penulis buku Untukmu Yang Ditinggalkan; Ruqoyyah, S. Sos. sebagai pemateri untuk memeriahkan acara tersebut. Uniknya dalam acara yang terselenggarakan Jum’at, pukul 08.00 itu pemateri tidak hanya sekadar menyampaikan materi kepenulisan saja, melainkan juga mengajak seluruh anggota FLP untuk praktik bersama.

    Kedatangan Pemateri yang kerap dikenal dengan nama pena Ruqy El Qurdy itu mendapat antusias dari peserta. Laili, salah satu peserta talkshow mengaku bahwa pemateri tersebut sangat menyenangkan dalam menyajikan kajian. Selain itu peserta tersebut juga mengaku pemateri berhasil dalam menumbuhkan keberaniannya untuk maju ke depan.

    “Dalam acara ini saya menemukan titik keberanian. Dimana sudah beberapa kali saya mengikuti acara seperti ini, tapi baru kali ini saya berani maju ke depan. Itu karena saya termotivasi oleh kata-kata pemateri yang berhasil membuat semangat kepenulisan saya berkobar kembali, “ungkapnya.

    Dengan diselenggarakannya talkshow literasi itu Gus Badrut Tamam selaku dewan pengasuh berharap Kompetensi santri Al-Mawardi terlatih dan berkembang dengan baik. Gus Badrut Tamam juga menyampaikan bahwa beliau sangat ingin sekali mengajak FLP Ranting Al-Mawardi bersilaturrahi. ke Ranting yang lain di bawah naungan FLP Cabang Pamekasan seperti FLP Ranting Banyuanyar Putri.

    “Saya harap dengan adanya kegiatan seperti ini Kompetensi santri semakin tumbuh dengan baik, sehingga sesekali kita bisa melakukan study banding atau bersilaturrahim ke FLP yang lain seperti FLP Ranting Banyuanyar Putri,” ungkapnya saat diwawancara Team IT Al-Mawardi.

    Acara tersebut ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada pemateri berupa karikatur, yang kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.

    *Pewarta : Sohib Anang Segoro

  • FLP Ranting Al-Mawardi Putri Dikukuhkan, RK. Badrut Tamam: “Saya Harap FLP Ini Dijaga”

    FLP Ranting Al-Mawardi Putri Dikukuhkan, RK. Badrut Tamam: “Saya Harap FLP Ini Dijaga”

    FLP PAMEKASAN – Bersamaan dengan malam takbiran Iduladha, 10 Dzulhijjah 1444 H. bertepatan pada tanggal 28 Juni 2023 M., Pondok Pesantren Al-Mawardi menggelar rutinitas tahunannya yakni Pembukaan Gebyar Idul Adha (GIA) sekaligus Pengukuhan Pengurus Baru Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Al-Mawardi Putri.

    Acara dilaksanakan di Desa Pasanggar, Kecamatan Pegantenan tersebut dihadiri langsung oleh Pengurus FLP Cabang untuk meresmikan ranting baru Forum Lingkar Pena yang berada di bawah naungan FLP Cabang Pamekasan.

    Dalam sambutannya, Khairul Umam selaku Koordinator Divisi Jaringan Ranting mewakili Ketua FLP Cabang Pamekasan yang berhalangan hadir, mengatakan bahwa Pondok Pesantren Al-Mawardi Putri resmi menjadi ranting kesepuluh FLP Cabang Pamekasan.
    “Kami segenap keluarga FLP Cabang Pamekasan mengucapkan selamat kepada para pengurus FLP Ranting Pondok Pesantren Al-Mawardi Putri yang baru saja dikukuhkan, dan dinyatakan resmi menjadi keluarga besar FLP Se-Dunia,” ucap Mahasiswa IAIN Madura tersebut.

    “Berdirinya ranting baru FLP di Pesantren ini menandakan bahwa salah satu dari sekian banyaknya tumpukan amanah kami tertunaikan, yang salah satunya adalah menyebarkan virus-virus literasi di Indonesia khusunya di Pamekasan sendiri,” tambah pemuda asal Pesanggar itu.

    “Tentu kami ucapkan, terimakasih banyak kepada para pengurus, wabilkhusus kepada Pengasuh telah mempercayai Forum Lingkar Pena sebagai wadah bagi para santri untuk mengembangkan minat bakatnya di dunia literasi. Harapan besar kami, semoga nantinya FLP Ranting Al-Mawardi Putri mampu melahirkan penulis-penulis yang profesional bernafaskan islam, dan kepesantrenan,” tandasnya.
    Berdirinya ranting FLP kesepuluh di Pamekasan ini mendapat respon positif dari dewan pengasuh Pondok Pesantren Al-Mawardi, R.K. Badrut Tamam mengaku bahwa beliau berharap dengan adanya FLP ini kualitas SDM santri semakin meningkat sehingga mampu bersaing dan beradaptasi dengan kehidupan yang semakin modern.

    “Dalam kehidupan yang semakin modern ini, kita dituntut untuk peka terhadap perkembangan kehidupan. Salah satu cara agar kita peka adalah dengan literasi, dengan membaca. Oleh karenanya, saya harap hadirnya FLP di Pondok Pesantren ini dapat melatih kemampuan santri. Makanya, saya harap FLP ini dijaga, karena FLP ini setahu saya, tidak hanya ada di pesantren ini, di luar sana banyak FLP sehingga kita bisa saling berbagi pengalaman sharing pengetahuan dengan anggota-anggota FLP di luar sana,” ungkap Kiai Tamam, sapaan akrabnya dalam sambutannya.

    Selanjutnya, R.K. Aqil Al-Munawwar yang juga merupakan pengurus domesioner FLP Cabang Pamekasan Ranting Banyuanyar mengaku sangat bersyukur atas berdirinya FLP Ranting Baru tersebut. Beliau berharap dengan adanya FLP di Pondok Pesantren Al-Mawardi dapat melahirkan kader-kader pendakwah khususnya dakwah bil qolam.

    ”Sangat bersyukur sekali akhirnya Ponpes Al-Mawardi dikukuhkan dan menjadi keluarga besar FLP, ini merupakan suatu kebahagiaan bagi saya, mengingat saya juga pernah tergabung di dalamnya ketika saya masih di pondok dulu. Harapan saya, teman-teman bisa berproses dengan maksimal sehingga bisa menjadi kader yang baik dan dapat mengimplementasikan apa yang sudah di dapat melalui dakwah bil qolam,” ucapnya penuh harap kepada pengurus FLP Cabang Pamekasan via WhatsApp.

    Pewarta: Biru Langit

  • Seminar Keislaman: Muhasabah Cinta Remaja

    Seminar Keislaman: Muhasabah Cinta Remaja

    Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Magetan bekerja sama dengan Komunitas Muslimah Magetan (Taslima) menyelenggarakan Seminar Keislaman bertajuk “Muhasabah Cinta Remaja” pada 26 Februari 2023. Acara yang diselenggarakan di Aula SDIT Badrussalam ini dihadiri oleh remaja, orang tua, dan peserta calon anggota FLP Magetan. Menghadirkan Riri Abdillah, selebgram penulis buku best seller Menantimu di Ujung Rindu yang sekaligus koordinator divisi karya FLP Magetan, sebagai pembicara utama dalam seminar keislaman Muhasabah Cinta Remaja.

    Seminar yang dilaksanakan sebagai bentuk ejawantah dari pilar keislaman Forum Lingkar Pena ini diselenggarakan dalam serangkaian acara penerimaan anggota baru (PAB) FLP Cabang Magetan. Tema Muhasabah Cinta Remaja dipilih guna merespon kondisi yang sempat viral terkait banyaknya remaja yang mengajukan dispensasi menikah. Harapannya, seminar keislaman ini dapat memberikan literasi pada remaja dan semua pihak yang berinteraksi dengan remaja agar lebih tepat dalam merespon gejolak cinta yang tengah dialami.

    Riri Abdillah memberikan tips dan trik praktis dalam menghadapi gejolak cinta remaja agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Selain itu, Riri Abdillah juga menyampaikan banyaknya fakta cinta remaja yang berakhir petaka dari ruang konsultasi daring yang dikelolanya. Seminar keislaman pun diakhiri dengan banyaknya pertanyaan dari peserta juga pembagian hadiah lawang berupa emas dan buku.

    Acara pun dilanjutkan dengan prosesi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara FLP Magetan dengan SMPIT Al Uswah terkait kerja sama dalam memajukan budaya literasi dan kepenulisan di SMPIT Al Uswah Magetan. Selain itu, sesi foto bersama antara peserta, panitia, dan pembicara pun tidak terlewatkan memeriahkan terlaksananya kegiatan seminar keislaman ini.

    Penulis, Angga Suprapto, ketua FLP Magetan

  • Karya Anggota FLP Harus Meliputi Tiga Hal Ini

    Karya Anggota FLP Harus Meliputi Tiga Hal Ini

    Karya kita harus melembutkan, menguatkan, dan lebih dermawan. Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur Ustadz Muchlisin BK menyampaikannya di agenda inti hari kedua Silaturahmi Wilayah dan Kemah Literasi FLP Jawa Timur 2023 di Aula Kuntum Insan Cemerlang Bondowoso, Ahad (8/1/2023).

    Ustad Muchlisin, sapaannya, sebelumnya mengungkap, FLP merupakan organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia. “Di Jawa Timur ada 22 cabang. Insyaallah dalam waktu dekat akan bertambah karena nanti ada pelantikan FLP Bondowoso. Bulan depan diikuti FLP Bojonegoro, kemudian FLP Trenggalek, dan FLP Nganjuk,” terang pria kelahiran Lamongan itu.

    Itulah upaya mewujudkan target penambahan enam cabang baru di kepengurusan FLP periode ini. Adapun pada sebagian cabang, lanjut Ustadz Muchlisin, ada FLP ranting di tingkat kecamatan, sekolah, dan pondok pesantren. Di FLP Jawa Timur, cabang dengan ranting terbanyak ialah FLP Pamekasan. “Ada enam ranting di pondok pesantren,” ungkapnya.

    Ustadz Muchlisin lantas berharap di cabang FLP yang lain juga berdiri banyak ranting. “Kita bersama-sama berkontribusi membantu pemerintah meningkatkan minat baca dan literasi!” ajak dia.

    Oleh karena itu, pihaknya berharap kepada Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan dan Komunikasi pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jatim Arif Widodo untuk membina para anggota FLP Cabang Bondowoso. “Kami mohon Pak Arif bisa membina adik-adik. Karena yang paling kuat memberi kuat support untuk FLP cabang adalah Dinas Perpustakaan,” tuturnya.

    Dia menegaskan, kerja sama dan kolaborasi ini perlu dibangun dan dikuatkan. Di  FLP Wilayah Jawa Timur, saat Musywil VII di Gresik, tercatat 333 penulis yang bergabung sebagai anggota FLP.  “Sekarang 514 penulis FLP di Jatim. Ini kekuatan luar biasa untuk meningkatkan minat baca tulis dan bentuk literasi lainnya, termasuk mewujudkan cita-cita nasional mencerdaskan kehidupan bangsa,” terang penulis itu.

    Kata Ustadz Muchlisin, para penulis di FLP aktif menerbitkan karya baik antolongi maupun solo.

    Tiga Hal dalam Karya

    Dalam sambutannya, Ustadz Muchlisin juga menerangkan, Silwil dan Kemah Literasi itu ialah salah satu program di antara sekian banyak program FLP Jawa Timur. “Dengan ini kita mendapat ilmu baru,” harapnya.

    Pagi itu, para peserta mendapat materi utama ‘Idealisme FLP dan Selera Pasar Global’ dari Bunda Sinta Yudisia, Dewan Pertimbangan FLP sekaligus Pembina FLP Jawa Timur.

    Ustadz Muchlisin pun mengisahkan, di kalender Hijriah, saat ini berlangsung Jumadil Akhir. “Di bulan yang sama, Abu Bakar wafat. Sehingga digantikan Umar. Ketika pidato setelah terpilih, Umar memanjatkan doa,” ujarnya.

    Dalam doa itu, Umar mengakui tiga kekurangan dan meminta tiga keunggulan. Dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku keras maka lembutkanlah, sesungguhnya aku lemah maka kuatkanlah, sesunggunya aku bakhil maka jadikanlah aku dermawan.”

    Ustadz Muchlisin menegaskan, inilah bentuk kewadhuan. “Umar lebih hebat dari kita semua,” ungkapnya.

    Maka harusnya, tiga keunggulan itu juga bisa terwujud dengan gerakan literasi di FLP, ada sastra berkeadaban yang diperjuangan bersama. Pertama, dia menegaskan, tulisan karya sastra mampu melembutkan hati. Mengingat zaman sekarang, hati yang keras lebih sering didapati. “Ketika kecelakaan, tidak ditolong tapi dijadikan konten,” contohnya.

    Ustadz Muchlisin lalu menekankan, sastra bisa menjadikan manusia lebih kuat, beradab, dan lebih mudah menerima nasihat. “Sastra kita harus menguatkan! Sastra kita tidak boleh bikin kita malah jadi cengeng. Karya melankolis tidak boleh bikin cengeng tapi justru bikin kuat!” tuturnya.

    Kuat yang dia maksud salah satunya dalam hal emosional. “Bisa mengelola emosi karena semakin kuat, semakin luas manfaatnya untuk masyarakat. Meningkatkan literasi di negeri ini!”

    Ketiga, harapannya, sastra membuat penulis dan pembacanya lebih dermawan. Karena semakin lama, manusia semakin individualis. “Sekarang saat cangkrukan di warung kopi, HPan sendiri-sendiri. Begitu individualis yang tidak peduli orang lain,” contohnya.

    Dengan karya tulis, lanjutnya, Ustadz Muchlisin berharap kedermawanan penulis FLP akan terjaga, bahkan menjadi lebih meningkat. “Ketika karya kita melembutkan hati, menguatkan, dan menjadikan lebih dermawan, otomatis mengangkat budaya baca Indonesia yang masih di peringkat 62,” terangnya.

    Dia lantas bercanda, mungkin membaca buku saja yang disurvei. “Kalau membaca media sosial, WA, mungkin kita nomor satu!” candanya memecahkan tawa peserta. (*)

    Penulis Sayyidah Nuriyah, FLP Cabang Gresik

  • FLP Jatim Mengadakan Lomba Batik: Akan Menjadi Batik FLP Pertama yang Pernah Ada

    FLP Jatim Mengadakan Lomba Batik: Akan Menjadi Batik FLP Pertama yang Pernah Ada

    Bulan Juni 2022 lalu, untuk pertama kalinya FLP Jatim mengadakan lomba desain batik FLP yang nantinya desain pemenang lomba tersebut akan dijadikan seragam batik FLP. Mengaplikasikan logo FLP dalam sebuah desain batik memang belum pernah dilakukan sebelumnya, dan inilah pertama kalinya FLP akan memiliki batiknya sendiri.

    Pada 2 Oktober 2009, batik Indonesia telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya di Indonesia. Semenjak saat itu juga, 9 Oktober ditetapkan sebagai hari batik. Batik pun semakin hari menjadi sebuah tren fashion tersendiri di mana semakin banyak digunakan berbagai generasi.

    Hal ini tentu sangat berbeda dengan citra batik zaman dahulu yang identik dengan pakaian orang tua atau digunakan untuk acara resmi saja. Saat ini batik dikemas lebih fleksibel untuk segala usia dan segala acara.

    Oleh karenanya, FLP Jatim berinisiatif mengadakan sebuah lomba desain batik FLP agar FLP juga memiliki seragam dengan ciri khas budaya bangsa. Tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan pengadaan seragam berlogo FLP sebelumnya yang umumnya diaplikasikan dalam kaos atau jaket saja.

    Lomba batik ini diadakan untuk umum, jadi tidak terbatas pada anggota FLP saja yang bisa mengikuti. Alhamdulillah ada tujuh peserta yang mengikuti lomba ini, baik dari anggota FLP maupun umum.

    Juri yang menilai desain batik yang sudah masuk adalah Ibu Minuk, anggota FLP sekaligus pemilik Batik Tulis Minoux. Pengumuman pemenang pun diadakan secara daring di Zoom meeting pada 13 Juli 2022.

    Acara pengumuman lomba dibawakan oleh Mbak Rohma. Acara pun diawali dengan tilawah oleh Ustaz Chairi. Kemudian sambutan dari ketua FLP Jatim, Ustaz Muchlisin. Setelah sambutan, baru ke acara inti pengumuman pemenang lomba.

    Mbak Rohma membawakan acara dengan sangat meriah. Salindia pengumuman lomba pun dibacakan dengan sangat seru. Hingga sampai pada pengumuman pemenang, ternyata desain yang menang adalah dari peserta umum, yaitu Mas Riyan Setiawan.

    Penjelasan mengenai terpilihnya desain pun dibacakan oleh Mbak Agie sebagai koordinator divisi bisnis FLP Jatim, disusul penjelasan oleh Bu Minuk sebagai juri lomba. Sebagai pemilik usaha batik, tentu Bu Minuk lebih memahami tentang seni batik.

    Desain batik yang terpilih memiliki dasar desain motif kawung. Motif kawung bagus jika dipakai seragam dan terkesan elegan.
    Motif klasik yang dimodifikasi modern ini bisa dipakai untuk pria maupun wanita. Perpaduan warna yang digunakan pun bagus dan serasi.

    Motif kawung ini dulu dipakai di kalangan keluarga kerajaan yg mempunyai pribadi baik dan bisa diandalkan. Dengan pemilihan motif ini diharapkan anggota FLP juga menjadi sosok yg bisa diunggulkan.

    Usai penjelasan tersebut, pemenang lomba pun mempresentasikan hasil karyanya. Termasuk mengapa memilih motif dan warna tersebut.

    Bu minuk menjelaskan, untuk pengaplikasian pada kain batik, nantinya akan ada penyesuaian warna sehingga lebih sesuai dengan pewarnaan batik. Nantinya, desain ini pun akan dibantu untuk diwujudkan oleh Batik Tulis Minoux untuk seragam batik FLP. Saat artikel ini ditulis, batik sedang proses cetak oleh Batik Tulis Minoux.

    Selain Batik Tulis Minoux, ada juga Botia Hijab dan Fajaryusra.co sebagai sponsor acara ini. Semoga dengan adanya batik FLP ini akan menjadi identitas kecintaan terhadap budaya untuk anggota FLP.