Kategori: Featured

Featured posts

  • FLP Malang Gaungkan Semangat Literasi Lewat Talkshow di Radio MFM

    FLP Malang Gaungkan Semangat Literasi Lewat Talkshow di Radio MFM

    Malang — Dalam rangka memperluas syiar literasi dan memperkenalkan gerakan kepenulisan kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, Forum Lingkar Pena (FLP) Malang hadir dalam program siaran talkshow di Radio MFM Malang 101.3 FM pada hari Sabtu, 9 Mei 2026.

    Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata FLP Malang dalam membangun budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat. Melalui media radio yang dekat dengan publik, FLP Malang ingin menghadirkan semangat berkarya, berbagi inspirasi, dan mengajak anak muda untuk aktif mengekspresikan gagasan melalui tulisan.

    Dalam kesempatan tersebut, pengurus FLP Malang memperkenalkan berbagai program dan aktivitas komunitas, mulai dari kelas menulis, diskusi literasi, kegiatan kepenulisan, hingga ruang pengembangan diri bagi para anggota muda yang ingin bertumbuh bersama dunia literasi.

    Ketua FLP Malang, Intan K. L. Asror, menyampaikan bahwa menulis bukan hanya sekadar aktivitas menuangkan kata, tetapi juga bagian dari dakwah, pendidikan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

    “Scripta manent, verba volant — tulisan akan tetap abadi, sementara ucapan akan berlalu,” tuturnya.

    Menurutnya, tulisan memiliki kekuatan untuk menyimpan gagasan, menyebarkan nilai-nilai kebaikan, serta meninggalkan jejak perubahan bagi masa depan.

    Sementara itu, Gusti Trisno selaku pengurus bidang bisnis FLP Malang menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai agent of change di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi digital.

    “Anak muda hari ini harus berani menjadi pembawa perubahan melalui karya, ide, dan literasi. Maka dari itu, bergabung bersama FLP adalah pilihan yang tepat untuk tumbuh, belajar, dan berkarya bersama,” ungkapnya.

    Melalui siaran ini, FLP Malang berharap semangat literasi semakin tumbuh di tengah masyarakat Malang Raya dan mampu melahirkan generasi muda yang kreatif, kritis, serta berdaya melalui karya tulis.

  • Dari Kunjungan Literasi Jadi Aksi, FLP Bangkalan Perkuat Gerakan Literasi

    Dari Kunjungan Literasi Jadi Aksi, FLP Bangkalan Perkuat Gerakan Literasi

    Gerakan literasi di Kabupaten Bangkalan kembali mendapatkan dorongan melalui inisiatif kolaboratif antara komunitas dan pemerintah daerah. Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bangkalan mengambil langkah proaktif dengan mengunjungi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Bangkalan pada Selasa (29/4/2026). Kunjungan literasi ini menjadi bagian dari peringatan Milad FLP ke-29 dengan tema Gerakan Nasional Literasi Berdaya.

    Ketua FLP Bangkalan, Sri Kindrana Syafi’i, menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan kerja sama antara pegiat literasi dan instansi pemerintah. Menurutnya, sinergi yang terjalin diharapkan mampu menghadirkan program-program literasi yang lebih luas dan berdampak langsung bagi masyarakat.

    Kunjungan tersebut disambut oleh Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca, Christin Sri Hayati atau yang lebih dikenal sebagai Bunda Itin. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh antusiasme, dengan pembahasan yang menitikberatkan pada rencana kolaborasi ke depan.

    Dalam dialog tersebut, FLP memperkenalkan peran serta kontribusinya sebagai wadah pengembangan kepenulisan. Di sisi lain, Disperpusip mengajak FLP untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai agenda literasi daerah. Beberapa rencana kegiatan yang mengemuka antara lain program bedah buku serta safari literasi ke berbagai wilayah.

    “Kolaborasi ini diharapkan menjadi pemantik tumbuhnya minat baca dan menulis masyarakat, sekaligus menghadirkan program literasi yang edukatif, inspiratif, dan berkelanjutan bagi Bangkalan,” ucap Bunda Itin.

    Baik FLP maupun Disperpusip memiliki visi yang sama dalam meningkatkan minat baca dan menulis di masyarakat. Keterlibatan komunitas dinilai menjadi faktor penting dalam menggerakkan literasi hingga ke tingkat akar rumput.

    “Semoga langkah ini mengawali gerakan yang lebih besar, sehingga literasi benar-benar menjadi budaya di tengah masyarakat,” harapnya.

    Sinergi antara FLP dan Disperpusip ini diharapkan mampu menghadirkan program literasi yang tidak hanya edukatif bagi warga.

    “Namun juga inspiratif dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Bangkalan,” lanjutnya.

    Harapannya langkah awal FLP Bangkalan ini dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan literasi yang lebih masif. Serta perlunya konsistensi dan kolaborasi menjadi kunci agar literasi dapat tumbuh sebagai budaya yang mengakar di tengah masyarakat.

  • Muscab FLP Gresik Pilih Siti Maulina Sebagai Ketua Baru, Perkuat Semangat Literasi dan Ukhuwah

    Muscab FLP Gresik Pilih Siti Maulina Sebagai Ketua Baru, Perkuat Semangat Literasi dan Ukhuwah

    Kegiatan Musyawarah Cabang (Muscab) VIII Forum Lingkar Pena Cabang Gresik berlangsung hangat di SDIT Al-Ibrah pada Ahad, 26 April 2026. Pertemuan dua tahunan tersebut menjadi ajang evaluasi sekaligus penentuan arah baru organisasi literasi yang selama ini dikenal aktif mengusung dakwah melalui tulisan.

    Acara dibuka oleh Ketua FLP Gresik periode 2022–2024, Almaidatul Istibsyaroh. Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga tutur kata dan tulisan sebagai bentuk tanggung jawab seorang muslim. Alma menilai, penulis memiliki peran besar dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan lewat kalimat yang disampaikan kepada masyarakat.

    Ia juga mengajak seluruh anggota untuk terus saling mendukung dan membangun semangat bersama di dalam organisasi. Menurutnya, kehati-hatian dalam berbicara maupun menulis merupakan bagian dari amanah yang harus dijaga.

    Alma kemudian berbagi kisah saat pertama kali dipercaya memimpin FLP Gresik. Kala itu, Muscab dilaksanakan secara daring dan ia tengah menemani anaknya yang masih kecil. Ia mengaku tidak pernah menyangka akan dipilih sebagai ketua. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa FLP bukan sekadar komunitas menulis, melainkan ruang perjuangan yang dibangun atas dasar keikhlasan.

    Dakwah Melalui Tulisan

    Dalam paparannya, Alma menyebut FLP memiliki tiga fondasi utama, yaitu keislaman, organisasi, dan kepenulisan. Ketiga hal tersebut menjadi identitas yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan FLP sebagai komunitas literasi.Menurutnya, setiap anggota yang bergabung sejatinya turut membawa misi dakwah bil qalam atau menyebarkan pesan kebaikan melalui karya tulis. Ia berharap setiap tulisan yang lahir dari anggota FLP dapat memberi manfaat luas dan menjadi amal jariyah.Ia juga menyoroti tantangan regenerasi yang kini dihadapi banyak cabang FLP. Meski demikian, Alma merasa bersyukur karena pengurus FLP Gresik mampu bekerja sama dengan baik dan saling melengkapi demi menjaga keberlangsungan organisasi.

    Estafet Kepemimpinan Baru

    Setelah melalui proses musyawarah, forum akhirnya menetapkan Siti Maulina sebagai Ketua FLP Gresik periode 2026–2028. Terpilihnya Maulina disambut antusias oleh para peserta Muscab.

    Dalam pidato perdananya, perempuan yang akrab disapa Moli itu menyampaikan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia menegaskan tidak dapat menjalankan tugas tersebut seorang diri tanpa dukungan seluruh anggota.

    Moli menggambarkan organisasi sebagai satu kesatuan yang harus bergerak bersama. Ketika satu bagian menghadapi kesulitan, bagian lain pun perlu hadir untuk menguatkan.Ia juga mengajak anggota FLP kembali mengingat tujuan awal bergabung di organisasi tersebut. Baginya, setiap aktivitas di FLP bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bagian dari ikhtiar mencari rida Allah SWT melalui karya yang bermanfaat.

    Harapan untuk FLP Gresik

    Ketua FLP Jawa Timur periode 2026–2028, Ika Safitri, turut memberikan arahan kepada kepengurusan baru. Ia menilai kontribusi nyata jauh lebih penting dibanding jabatan yang dimiliki dalam organisasi.

    Ika mengapresiasi berbagai capaian FLP Gresik, terutama kerja sama dengan penerbit dan lembaga pendidikan yang telah dijalankan selama ini. Ia berharap program-program tersebut dapat terus berkembang dan memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.

    Selain memperluas kegiatan literasi seperti bazar buku, Rumah Cahaya, dan pelatihan menulis, Ika juga menekankan pentingnya menjaga hubungan antarkader. Menurutnya, kekuatan FLP terletak pada ukhuwah dan rasa saling memiliki antaranggota.Ia berharap semangat dakwah dan literasi di tubuh FLP Gresik terus tumbuh sehingga organisasi tersebut semakin dikenal dan memberi manfaat lebih besar di masa depan.

  • Kunjungan Literasi FLP Jatim, Jajaki Kolaborasi Bersama Disperpusip Jawa Timur

    Kunjungan Literasi FLP Jatim, Jajaki Kolaborasi Bersama Disperpusip Jawa Timur

    Surabaya-Bertepatan Hari Buku Sedunia pada hari Kamis, 23 April 2026, dan perayaan Milad FLP 2026 yang bertajuk “Gerakan Nasional Literasi Berdaya”, Forum Lingkar Pena Jawa Timur (FLP Jatim) melaksanakan kunjungan literasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Kunjungan literasi ini merupakan langkah strategis memperkuat sinergi dalam pengembangan literasi berbasis konten lokal. Kegiatan ini meliputi diskusi, pertukaran gagasan, serta tur fasilitas perpustakaan.

    Implementasi dari Koleksi Perpustakaan

    Program Disperpusip tidak hanya berfokus pada pengelolaan perpustakaan, tetapi juga penguatan sumber daya manusia (SDM), khususnya pustakawan dan pegiat literasi.

    “Disperpusip Jatim secara aktif menyelenggarakan pelatihan keterampilan, termasuk pelatihan kepenulisan, serta pembinaan teknis yang menjangkau hingga tingkat desa,” ujar Sujarwo, S.Sos., M.Si dari bidang Deposit, Pengembangan, dan Pelestarian (DPP) yang berfokus pada penguatan konten lokal.

    Pengetahuan dari koleksi perpustakaan, baik cetak maupun digital, diimplementasikan langsung oleh masyarakat. Hasilnya, berbagai program literasi tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga berdampak pada penguatan ekonomi masyarakat.

    Implementasi nyata dari konsep ini pada lingkungan kantor Disperpusip Jatim menghadirkan praktik sederhana seperti pemanfaatan solar panel, hidroponik, dan kolam ikan sebagai contoh penerapan ilmu dari bahan bacaan perpustakaan.

    Pelestarian Naskah Kuno

    Selain penguatan literasi umum, Disperpusip Jatim juga menaruh perhatian besar pada pelestarian naskah kuno. Program ini mencakup diseminasi informasi turunan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, termasuk kompetisi alih bahasa naskah kuno.

    “Biasanya kita kolaborasi terbuka dengan berbagai pihak, seperti komunitas pengkaji naskah, akademisi, maupun masyarakat umum. Bisa melalui forum diskusi, talkshow, atau webinar daring agar jangkauannya lebih luas,” tutur Wahyu D. Pramana, S.Hum., S.IP sebagai pustakawan Disperpusip Jawa Timur.

    Upaya pelestarian naskah kuno ini menyentuh berbagai daerah di Jawa Timur. Disperpusip Jatim hadir untuk membantu proses identifikasi, pendaftaran, pelestarian, hingga penguatan pemahaman masyarakat terhadap nilai ilmiah naskah tersebut. Proses pengelolaan naskah kuno sendiri membutuhkan waktu panjang, antara tiga hingga lima tahun. Proses tersebut berkolaborasi dengan para peneliti yang memiliki kemampuan membaca naskah, tanpa terbatas pada latar belakang pendidikan formal tertentu.

    Potensi Kolaborasi

    Diskusi berlangsung hangat dengan membahas berbagai peluang kolaborasi antara FLP Jatim dan Disperpusip Jatim. Kedua pihak sepakat bahwa kerja sama dapat dilakukan secara fleksibel dan dua arah.

    Disperpusip Jatim mendorong penulisan konten lokal berbasis naskah kuno. Data dapat diakses dari perpustakaan, kemudian diolah menjadi karya baru seperti buku atau cerita. Beberapa naskah kuno tersedia dalam bentuk full text, sementara lainnya terbatas atau memerlukan kajian khusus sebelum dipublikasikan.

    Dalam ranah digital, Disperpusip Jatim memiliki aplikasi dJatim yang bekerja sama dengan penerbit. Karya anggota FLP Jatim berpeluang masuk ke dalam platform ini melalui skema penerbitan resmi, di mana buku terbit akan didaftarkan dan diserahkan ke Disperpusip sebagai bagian dari koleksi.

    Disperpusip Jatim juga membuka peluang pemanfaatan fasilitas perpustakaan sebagai lokasi kegiatan literasi, seperti pelatihan kepenulisan, diskusi buku, hingga penyelenggaraan event bersama. Disperpusip siap berkontribusi sebagai kurator atau juri pada kegiatan-kegiatan yang diinisiasi FLP Jatim.

    “Kalau ada kegiatan kepenulisan, kita (bisa) kolaborasi, menjadi bagian dari kuratornya,” ujar Sekretaris Dinas, Arif Widodo, S.T., M.SE.

    Harapannya, FLP Jatim dapat terlibat aktif dalam program-program Disperpusip Jatim. Ke depan, kedua pihak berharap dapat menghadirkan lebih banyak kegiatan literasi bersama yang berdampak luas bagi masyarakat.

    Tur Fasilitas Perpustakaan

    Usai sesi diskusi, peserta diajak berkeliling mengenal berbagai fasilitas perpustakaan. Kunjungan dimulai dari ruang anak dan ruang dongeng yang dirancang ramah bagi pembaca usia dini, dilanjutkan ke ruang deposit yang menyimpan koleksi karya terbitan lokal, termasuk pengenalan naskah kuno. Peserta juga mengunjungi ruang referensi yang menyediakan berbagai sumber pengetahuan.

    Salah satu sorotan utama dalam kunjungan literasi ini adalah Galeri Majapahit yang mengusung konsep modern dan interaktif. Di galeri ini, pengunjung dapat mempelajari sejarah Kerajaan Majapahit hingga peran Wali Songo melalui berbagai media, mulai dari tayangan audiovisual di layar lebar, permainan edukatif, hingga pengalaman virtual 360 derajat yang menghadirkan suasana masa lampau. Selain itu, tersedia pula koleksi buku, artefak replika, dan display benda bersejarah yang memperkaya wawasan pengunjung.

    Dalam kunjungan ini juga disoroti pentingnya penguatan koleksi buku berbasis konten lokal dari berbagai daerah di Jawa Timur, yang saat ini masih perlu ditingkatkan baik dari segi jumlah maupun keberagaman.

    Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berorientasi pada membaca dan menulis, tetapi juga pada pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

    Kegiatan ini menjadi langkah awal yang positif bagi FLP Jatim dan Disperpusip Jatim dalam membangun ekosistem literasi yang lebih kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan, khususnya dalam mengangkat kekayaan budaya dan kearifan lokal Jawa Timur melalui karya tulis.

  • Dorong Budaya Baca, FLP Jatim Hadirkan Buku di Kedai Kopi

    Dorong Budaya Baca, FLP Jatim Hadirkan Buku di Kedai Kopi

    Sidoarjo– Buku adalah jembatan ilmu yang mampu menghubungkan berbagai pemikiran, pengalaman, dan inspirasi. Tak hanya itu, buku juga menjadi sarana menebar kebaikan serta mempererat silaturahmi. Semangat inilah yang diusung oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Timur saat berkunjung ke Kedai Waleho Kopitiam di Jalan Jl. Hasanuddin Ruko No.48, Sidowayah, Celep, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu (25/4).

    Di tengah maraknya budaya nongkrong di kalangan anak muda, Kedai Waleho Kopitiam hadir dengan konsep yang sedikit berbeda. Tidak hanya menyajikan beragam minuman dan makanan, kedai ini juga menyediakan rak-rak buku yang bisa dibaca oleh para pengunjung. Suasana yang hangat dan santai membuat siapa pun betah berlama-lama, baik untuk sekadar berbincang maupun menikmati waktu dengan membaca.

    Kunjungan FLP Jawa Timur ke kedai tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Milad FLP 2026 yang bertajuk “Gerakan Nasional Literasi Berdaya”. Dalam kesempatan itu, mereka juga membawa misi literasi dengan program donasi buku, termasuk karya-karya anggota FLP. Buku-buku tersebut diharapkan dapat menambah variasi bacaan yang tersedia di kedai, sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung.

    Ketua Wilayah FLP Jawa Timur, Ika Safitri, menyampaikan bahwa kegiatan donasi buku ini merupakan bentuk kontribusi nyata komunitas literasi dalam menumbuhkan minat baca di masyarakat. Menurutnya, kehadiran buku di ruang publik seperti kedai kopi dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mendekatkan masyarakat dengan dunia literasi.

    “Mudah-mudahan buku-buku dari kami bisa menjadi salah satu pilihan untuk dibaca pengunjung dan bermanfaat,” ujarnya.

    Selain donasi buku, anggota FLP juga membagikan stiker berisi ajakan untuk gemar membaca. Aksi kecil ini menjadi bagian dari kampanye literasi yang diharapkan mampu menyentuh lebih banyak orang, terutama generasi muda yang akrab dengan budaya nongkrong.

    Sambutan positif datang dari pihak manajemen Kedai Waleho Kopitiam. Novi Aulia, sebagai perwakilan manajemen, mengungkapkan bahwa konsep literasi memang telah menjadi bagian dari identitas kedai sejak awal berdiri. Ia menjelaskan bahwa buku-buku yang tersedia di rak merupakan hasil dari kontribusi berbagai pihak, baik dari teman maupun komunitas.

    “Memang kedai kami konsepnya dari dulu seperti ini. Jadi buku-buku ini adalah hasil urunan atau kami kumpulkan dari teman-teman untuk mengisi rak ini,” jelas Novi.

    Kolaborasi antara komunitas literasi dan pelaku usaha seperti ini menunjukkan bahwa upaya menumbuhkan budaya membaca tidak harus selalu dilakukan di ruang formal seperti sekolah atau perpustakaan. Justru, dengan menghadirkannya di tempat-tempat santai seperti kedai kopi, literasi dapat menjangkau lebih banyak kalangan secara alami.

    Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran buku fisik tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Membaca buku di sela waktu santai, ditemani secangkir kopi, bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna.

    Melalui kegiatan ini, FLP Jawa Timur dan Kedai Waleho Kopitiam memberikan contoh nyata bahwa literasi bisa tumbuh di mana saja. Dari sudut sederhana sebuah kedai, benih-benih kecintaan terhadap membaca dapat disemai, tumbuh, dan pada akhirnya memberi manfaat bagi banyak orang.

  • Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

    Kemenangan Bukan Hanya Lewat Pertempuran

    Salah satu kekeliruan paling umum dalam melihat Salahuddin Al-Ayyubi adalah menganggap bahwa pembebasan Palestina didapatkan dari kepiawaiannya memimpin medan perang. Pertempuran Hattin (1187) di dekat Danau Galilea sering dianggap sebagai titik penentu Perang Salib, karena di sana ia dapat mengalahkan tentara Salib. Padahal, langkah paling menentukan justru terjadi jauh sebelumnya, di Mesir, dalam ruang-ruang kekuasaan, bukan di tengah gemuruh pedang.

    Pada pertengahan abad ke-12, Mesir dikuasai Daulah Fathimiyah, kekhalifahan Syiah Ismailiyah yang menjadi rival ideologis Abbasiyah Sunni di Baghdad. Bukan sekadar perbedaan mazhab, ini pertarungan legitimasi kekuasaan di dunia Islam. Saat perang salib menggila dan tentara salib mengancam merebut Mesir, Khalifah Fathimiyah Al-`Aadhid panik meminta bantuan dari sultan Suriah, Nuruddin Zanki.

    Nuruddin mengirim pasukan dipimpin Asaduddin Shirkuh, paman Salahuddin Al-Ayyubi. Pasukan ini terdiri dari suku Kurdi dan Turki, dengan Shalahuddin sebagai komandan kunci. Mereka datang “menyelamatkan” Fathimiyah dari Salib, tapi sebenarnya punya agenda Sunni yang lebih besar. Shirkuh kemudian diangkat wazir disana, dan setelah ia wafat Maret 1169, Salahuddin, baru berusia 31 tahun, menggantikannya atas restu Al-`Aadhid.

    Sebagai wazir, Salahuddin Al-Ayyubi bekerja penuh di struktur Fathimiyah yaitu mengelola administrasi, militer, keuangan, bahkan melayani khalifah secara formal. Ia tunjukkan kepiawaiannya dengan menumpas invasi Salib di Damietta dan pemberontakan internal. Namun secara ideologis, posisinya paradoksal dimana ia merupakan Sunni taat, loyal kepada Abbasiyah, tapi jadi teknokrat di rezim yang menentang Baghdad.

    Di sinilah kompleksitas terlihat, perubahan dari dalam bukan proses romantis. Ia harus bersabar, menghitung langkah, menahan dilema etis, dan menghindari konfrontasi prematur yang bisa picu perang saudara.

    Tidak semua pihak bisa langsung disingkirkan. Tidak semua struktur bisa langsung dirombak. Salah langkah sedikit saja bisa memicu pemberontakan atau bahkan menggagalkan posisinya sepenuhnya. Di sinilah menariknya, bagaimana ia menggeser legitimasi dari daulah Syiah menjadi Sunni secara halus, nyaris tanpa ledakan konflik di awal.

    Ketika Al-`Aadhid jatuh sakit menjelang wafatnya pada 1171, situasi menjadi sangat sensitif dan kekuasaan sudah sangat melemah. Secara de facto, kendali pemerintahan berada di tangan sang wazir, Shalahuddin. Namun secara simbolik, legitimasi tetap berada pada sang khalifah.

    Riwayat mencatat bahwa lingkaran istana mulai menyadari bahwa ini adalah akhir dari sebuah dinasti. Shalahuddin tidak serta-merta mendeklarasikan perubahan secara terbuka saat khalifah masih hidup. Ia menunggu dengan tenang.

    Dan begitu Al-`Aadhid wafat, langkah simbolik itu dilakukan yaitu memerintahkan agar khutbah Jumat di Mesir tidak lagi menyebut nama khalifah Fathimiyah, tetapi beralih kepada khalifah Abbasiyah di Baghdad.

    Tidak ada pertempuran besar. Tidak ada penyerbuan istana. Sebuah kekhalifahan yang telah berdiri lebih dari dua abad berakhir berubah secara simbolik dengan gema khutbah shalat jum`at.

    Namun justru di situlah letak kedalamannya. Apa yang terlihat sederhana di permukaan sebenarnya adalah hasil dari akumulasi strategi bertahun-tahun, konsolidasi militer, pengaruh politik, pengendalian elite, dan penggeseran loyalitas masyarakat secara perlahan.

    Shalahuddin tidak menghancurkan sistem itu dari luar secara terbuka karena posisi Mesir sangat rawan. Mereka bisa jadi korban pasukan salib atau bahkan aliansi pasukan salib dalam satu waktu. Maka mengambil legitimasi dari dalam bisa menjadi pintu kemenangan yang sunyi tapi efektif.

    Tetapi ada hal penting dicatat bahwa pendekatan seperti ini bukan jalan mudah karena penuh dengan risiko, diwarnai ketegangan, dan membutuhkan kesabaran yang hampir tidak terlihat. Bekerja dalam sistem yang bertentangan dengan keyakinan sendiri berarti terus berada dalam dilema antara kompromi dan tujuan jangka panjang.

    Dari sinilah Mesir kemudian berubah menjadi basis kekuatan Sunni yang baru. Dengan sumber daya ekonomi yang besar, stabilitas politik yang lebih solid, dan kesatuan ideologis dengan dunia Sunni, Shalahuddin akhirnya memiliki fondasi untuk melangkah ke tahap berikutnya yaitu konsolidasi Suriah dan konfrontasi dengan Tentara Salib.

    Cerita ini menandakan bahwa, pembebasan Palestina tidak dimulai di Palestina semata. Tapi diprakarsai oleh rel panjang visi perjuangan yang terjal dari luar, meskipun kadang harus rela sesekali bermain lumpur.

    Ada refleksi besar yang bisa kita tarik dan terasa sangat relevan dari kisah ini, bahkan di konteks modern.

    Pertama, perubahan besar hampir selalu ditentukan oleh kerja-kerja sunyi yang tidak terlihat. Kita sering terpaku pada “momen kemenangan”, padahal yang lebih menentukan adalah fase panjang sebelum itu, fase membangun sistem, membentuk legitimasi, dan mengelola struktur.

    Kedua, bekerja dari dalam sistem yang tidak ideal seringkali adalah pilihan strategis, bukan bentuk kompromi yang lemah. Shalahuddin menunjukkan bahwa berada di dalam tidak selalu berarti tunduk, karena kadang justru itu adalah posisi paling efektif untuk melakukan transformasi. Tapi, seperti yang terlihat, hal ini menuntut kesabaran ekstrem, kalkulasi yang presisi, keimanan yang kuat, serta ketangguhan dalam eksekusi visi jangka panjang.

    Ketiga, tidak semua perubahan harus dimulai dengan konfrontasi terbuka. Ada kalanya, langkah paling radikal justru dilakukan secara bertahap, sampai sebuah sistem runtuh bukan karena diserang, tetapi karena tidak lagi punya pijakan.

    Dan mungkin itu pelajaran paling tajam dari fase ini adalah bahwa kemenangan besar sering kali lahir bukan dari keberanian sesaat, tetapi dari kesanggupan menahan diri dalam jangka panjang.

    *Ditulis oleh Dadang Irsyam, Divisi Kepalestinaan FLP Wilayah Jawa Timur

  • Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

    Halalbihalal Daring, FLP Jatim Perkuat Ukhuwah Anggota

    Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur menggelar kegiatan halalbihalal secara daring pada Sabtu, 11 April 2026 dengan pembukaan oleh MC dari Divisi Kaderisasi, Maulina. Setelah itu, Ketua FLP Jawa Timur, Ika Safitri, memberikan sambutan singkat. Pengurus dan anggota FLP dari berbagai wilayah di Jawa Timur mengikuti kegiatan ini dengan cukup antusias.

    Dalam sambutannya, Ika menekankan pentingnya menjaga ukhuwah di tengah keterbatasan pertemuan langsung. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para ketua cabang yang telah berpartisipasi dalam program video Kultum Cahaya Senja.

    Mengusung tema “Kembali ke Fitrah: Menghapus Noda dengan Cerita, Mempererat Ikatan dalam Kata”, kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum FLP periode 2025–2029, Nafi’ah al-Ma’rab, sebagai narasumber utama.

    Dalam pemaparannya, Nafi’ah menilai kinerja FLP Jawa Timur cukup baik. Hal ini terlihat dari konsistensi wilayah tersebut dalam menyelenggarakan berbagai agenda berskala nasional. Meski demikian, kita tidak bisa menghindari dinamika organisasi, terutama dengan semakin beragamnya latar belakang anggota.

    Tantangan Membangun Solidaritas

    Menurutnya, FLP merupakan organisasi yang heterogen. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus kekuatan dalam membangun solidaritas. Ikatan ukhuwah menjadi fondasi utama yang menjaga organisasi tetap solid.

    Ia juga menyoroti pentingnya momentum Syawal sebagai waktu untuk saling memaafkan. Dalam interaksi organisasi, kita tidak dapat menghindari potensi kesalahpahaman dan konflik. Karena itu, sikap memaafkan menjadi kunci menjaga hubungan antar anggota, seperti pada surah Ali-Imran ayat 134:

    “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

    Selain itu, Nafi’ah menegaskan bahwa kerja organisasi di FLP bertumpu pada keikhlasan, bukan imbalan. Tanpa keikhlasan, aktivitas organisasi berpotensi terhenti.

    “Seni menjaga ukhuwah ini harus tetap dijaga agar kegiatan tetap berjalan. Kepala sekolah yang teladan dan sukses, apakah bisa memimpin FLP dan kegiatan tetap berjalan? Karena anggota FLP berkumpul karena ikatan hati, bukan karena bayaran dan prestasi. Pemimpin di FLP harus cakap dan harus memberdayakan anggota-anggotanya,” ujarnya.

    Langkah strategis menjaga keberlangsungan organisasi

    Lebih lanjut, Nafi’ah memaparkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Di antaranya adalah penguatan pembinaan kader, peningkatan kemampuan komunikasi, dan rekrutmen anggota baru untuk menghadirkan energi baru dalam organisasi. Ia juga menekankan pentingnya silaturahmi, termasuk dengan menjangkau anggota yang kurang aktif.

    Pemimpin menjadi tauladan bagi anak buahnya. Bagaimana totalitas dalam mengelola organisasi dan juga berkarya melalui tulisan. Selain itu, peningkatan kemampuan komunikasi menjadi hal penting dalam organisasi, terutama untuk mengatasi potensi kesalahpahaman, baik saat bertemu langsung maupun dalam interaksi melalui grup chat. Upaya ini diperlukan agar setiap pesan dapat dipahami dengan tepat dan tidak menimbulkan salah makna di antara anggota.

    Solusi ketiga adalah melakukan rekrutmen anggota baru. Langkah ini dapat menjadi upaya menghadirkan energi segar di tengah dinamika organisasi. Ketika terjadi persoalan di suatu cabang atau ranting, penambahan anggota baru bukan untuk mengabaikan masalah, tetapi untuk memperkuat pergerakan dengan hadirnya penggerak-penggerak baru. Tanpa rekrutmen, komposisi anggota yang stagnan berpotensi membuat organisasi rentan terhadap konflik, layaknya air kolam yang tidak mengalir dan akhirnya mengendap.

    Solusi terakhir adalah memperkuat silaturahmi. Meski tidak berbasis imbalan, peran pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kebersamaan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengunjungi anggota yang kurang aktif serta memberikan perhatian atau tali kasih. Upaya ini dinilai efektif untuk mempererat ukhuwah dan menjaga keterikatan antaranggota.

    Memetakan peran organisasi

    Menurut Nafi’ah al-Ma’rab, memetakan peran anggota dalam organisasi menjadi cara untuk meningkatkan keaktifan anggota. Ia membagi anggota menjadi tiga kategori, yakni pemikir, penggerak, dan pengikut. Pemetaan ini penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Pemikir tidak perlu banyak, tetapi harus fokus dan berasal dari anggota yang andal. Peran mereka adalah merancang arah dan melakukan pembinaan.

    Selanjutnya, peran penggerak diisi oleh anggota yang menjalankan program dan menggerakkan kegiatan. Penggerak ini bisa berasal dari anggota madya, meski tidak menutup kemungkinan muncul dari level lain. Sementara itu, anggota yang tidak terlalu aktif dapat berperan sebagai pengikut, misalnya menjadi peserta dalam berbagai kegiatan seperti seminar. Ia menegaskan, tanpa keberadaan pemikir, organisasi akan sulit berjalan. Karena itu, ketua memiliki peran penting dalam menguatkan kapasitas dan peran anggota di setiap lini. Ketiga peran tersebut dinilai saling melengkapi dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi.

    Melalui kegiatan ini, FLP Jawa Timur berharap dapat mempererat hubungan antaranggota serta menjaga semangat berkarya di tengah keterbatasan interaksi langsung.

    *Jika ingin menonton rekaman Zoom bisa akses Youtube FLP Jatim.

  • Sudahkah Kita Memantaskan Diri?

    Sudahkah Kita Memantaskan Diri?

    Hijrah. Sebuah kata yang sederhana, namun sarat makna. Dalam perjalanan hidup seorang muslim, hijrah bukan sekadar berpindah tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perjalanan batin, perpindahan dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju sadar, dari dosa menuju taat.

    Namun, di tengah semangat berhijrah yang kini semakin marak, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: sudahkah kita memantaskan diri?

    Banyak dari kita ingin berubah menjadi lebih baik. Kita ingin dekat dengan Allah, ingin hidup lebih tenang, ingin hati lebih bersih. Tetapi keinginan saja tidak cukup. Hijrah bukan hanya soal tampilan luar, bukan sekadar simbol atau label, melainkan perubahan menyeluruh yang dimulai dari dalam hati.

    Allah سبحانه وتعالى berfirman:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

    Ayat ini menjadi pengingat kuat bahwa perubahan sejati dimulai dari diri sendiri. Hijrah bukan sesuatu yang instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan.

    Hijrah: Lebih dari Sekadar Perubahan Penampilan

    Sering kali, hijrah dipersempit maknanya menjadi perubahan penampilan luar. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memberikan definisi hijrah yang jauh lebih dalam. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:

    “Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)

    Hadits ini menegaskan bahwa esensi hijrah adalah meninggalkan maksiat dan segala yang tidak diridhai oleh Allah. Artinya, seseorang belum bisa dikatakan benar-benar berhijrah hanya karena ia mengubah cara berpakaian, jika lisannya masih menyakiti, hatinya masih dipenuhi iri, dan amalnya masih jauh dari ketaatan.

    Memantaskan diri dalam hijrah berarti berani jujur pada diri sendiri. Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan buruk? Sudahkah kita menjaga shalat tepat waktu? Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan sesama?

    Niat: Pondasi Utama Hijrah

    Segala amal dalam Islam bergantung pada niat. Begitu pula dengan hijrah. Tanpa niat yang lurus, hijrah bisa kehilangan makna. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hijrah yang dilakukan karena ingin dipuji, ingin terlihat baik di mata manusia, atau sekadar mengikuti tren, tidak akan bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, hijrah yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, meskipun perlahan dan penuh jatuh bangun, akan bernilai besar di sisi-Nya.

    Memantaskan diri berarti meluruskan niat. Kita berhijrah bukan untuk siapa-siapa, melainkan hanya untuk Allah.

    Proses yang Tidak Mudah

    Hijrah bukan perjalanan yang mulus. Akan ada godaan, ujian, bahkan rasa lelah yang menyelimuti. Terkadang, kita merasa sudah berusaha berubah, tetapi masih sering jatuh dalam kesalahan yang sama.

    Di sinilah pentingnya kesabaran.

    Allah berfirman:

    “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

    Ayat ini memberikan harapan bahwa setiap usaha menuju kebaikan tidak akan sia-sia. Selama kita terus berusaha, Allah akan membuka jalan.

    Memantaskan diri bukan berarti harus menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum berhijrah. Justru hijrah itulah jalan menuju perbaikan. Yang terpenting adalah konsistensi dan kesungguhan.

    Antara Harapan dan Rasa Tidak Pantas

    Banyak orang yang merasa belum pantas untuk berhijrah. Mereka merasa terlalu banyak dosa, terlalu jauh dari kebaikan, terlalu kotor untuk mendekat kepada Allah.

    Padahal, perasaan itu bisa menjadi jebakan.

    Allah سبحانه وتعالى berfirman:

    “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)

    Ayat ini adalah pelukan bagi mereka yang merasa tidak pantas. Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk menerima kita. Justru Allah membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin kembali.

    Maka, memantaskan diri bukan berarti menunggu sampai kita suci dari dosa. Memantaskan diri adalah keberanian untuk kembali, meskipun dengan penuh luka dan kesalahan.

    Lingkungan: Faktor yang Mempengaruhi

    Dalam perjalanan hijrah, lingkungan memiliki peran yang sangat besar. Teman, keluarga, dan komunitas bisa menjadi pendukung atau justru penghambat.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Memantaskan diri juga berarti berani memilih lingkungan yang mendukung kebaikan. Bukan berarti memutus silaturahmi, tetapi lebih kepada menjaga diri agar tidak kembali terjerumus.

    Lingkungan yang baik akan mengingatkan kita ketika lalai, menguatkan saat lemah, dan mendorong kita untuk terus maju.

    Istiqamah: Tantangan Terbesar

    Memulai hijrah mungkin terasa berat, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit. Banyak yang semangat di awal, namun perlahan kembali pada kebiasaan lama.

    Istiqamah adalah kunci.

    Allah berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati.’” (QS. Fussilat: 30)

    Istiqamah bukan berarti tidak pernah salah. Istiqamah adalah tetap kembali kepada Allah setiap kali kita jatuh. Ia adalah tentang konsistensi, bukan kesempurnaan.

    Memantaskan diri berarti terus berusaha istiqamah, meskipun langkah kecil dan tertatih.

    Hijrah Hati: Inti dari Segalanya

    Pada akhirnya, hijrah yang paling penting adalah hijrah hati. Karena dari hatilah segala amal bermula.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hati yang bersih akan melahirkan ucapan yang baik, perilaku yang lembut, dan amal yang tulus. Sebaliknya, hati yang kotor akan menuntun pada keburukan.

    Memantaskan diri berarti membersihkan hati dari penyakit-penyakit seperti riya, ujub, iri, dan dengki. Ini adalah perjuangan yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.

    Menjadi Lebih Baik, Bukan Lebih Sempurna

    Hijrah bukan tentang menjadi manusia tanpa dosa. Tidak ada manusia yang sempurna. Hijrah adalah tentang menjadi lebih baik dari hari ke hari.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

    Hijrah yang benar akan tercermin dalam akhlak. Kita menjadi lebih sabar, lebih peduli, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi orang lain.

    Memantaskan diri berarti memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia.

    Penutup: Sebuah Pertanyaan untuk Diri Sendiri

    Pada akhirnya, hijrah adalah perjalanan pribadi. Tidak ada standar yang sama untuk setiap orang. Setiap kita memiliki titik awal, ujian, dan proses yang berbeda.

    Namun, satu pertanyaan tetap relevan untuk kita renungkan:

    Sudahkah kita memantaskan diri?

    Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi lebih layak mendekat kepada Allah. Bukan untuk terlihat baik di mata manusia, tetapi untuk benar-benar baik di hadapan-Nya.

    Mari kita mulai dari hal kecil. Memperbaiki niat, menjaga shalat, memperbanyak istighfar, dan terus belajar menjadi lebih baik.

    Karena sejatinya, hijrah bukan tentang seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa tulus kita melangkah.

    Dan mungkin, di setiap langkah kecil itu, Allah sedang menuntun kita menjadi pribadi yang lebih pantas—pantas untuk mendapatkan ampunan-Nya, rahmat-Nya, dan cinta-Nya.

    Artikel ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim
    Ngoro, 150426, 09.45 WIB

  • Jejak di Ujung Tongkat

    Jejak di Ujung Tongkat

    Lampu-lampu kota memantul di dinding kaca lantai tiga puluh dua. Dari balik jendela, Surabaya tampak seperti papan sirkuit yang menyala—garis-garis jalan berpendar, mobil bergerak seperti kunang-kunang kecil.

    Di dalam ruangan, tepuk tangan belum juga berhenti.

    “Selamat untuk Ibu Laras Adinegara, penerima penghargaan Pengusaha Muda Tahun Ini!”

    Kilatan kamera menyambar-nyambar. Laras berdiri di depan podium, satu tangan memegang piala, tangan lainnya menggenggam tongkat aluminium hitam yang menahan kaki kirinya.

    Gaun biru tuanya menjuntai rapi hingga mata kaki. Di bawah kain itu, kaki kirinya lebih kecil dan sedikit melengkung ke dalam. Setiap langkah selalu diiringi bunyi pendek dari ujung tongkat yang menyentuh lantai marmer.

    Tak. Tak. Tak.

    Ia tersenyum ketika kamera mengarah kepadanya. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun: cukup hangat, cukup tenang, cukup kuat.

    Seorang wartawan menyodorkan mikrofon.

    “Apa rahasia kesuksesan Anda, Bu Laras?”

    Laras menatap kilatan lampu di depan wajahnya. Untuk sesaat ia melihat pantulan dirinya di lensa kamera: rambut disanggul rapi, lipstik merah muda, bahu tegak.

    Lalu, entah kenapa, ia teringat sepasang tangan besar yang dulu pernah memegang setang sepeda kecil warna kuning.

    “Pelan-pelan, Ras,” suara itu pernah berkata. “Ayah pegang dari belakang.”

    Ia mengedip cepat.

    “Kerja keras,” jawabnya akhirnya. “Dan… jangan menyerah.”

    Tepuk tangan kembali pecah.

    Namun saat semua orang berdiri, Laras justru merasa ruangan itu kosong.


    Malam itu, ia pulang ke apartemen sendirian.

    Piala penghargaan diletakkannya di rak, di antara deretan piagam dan foto-foto kerja sama. Ada foto dirinya berjabat tangan dengan pejabat, foto saat membuka cabang baru, foto bersama para karyawan.

    Tak ada satu pun foto ayahnya.

    Laras membuka laci paling bawah di meja kerjanya. Dari dalam map plastik kusam, ia mengeluarkan sebuah foto lama yang pinggirannya mulai menguning.

    Seorang pria berkumis tipis jongkok di samping anak perempuan berumur tujuh tahun. Anak itu memakai sepatu besi di kaki kirinya dan tersenyum lebar sambil memegang balon merah.

    Pria itu menatap si anak, bukan kamera.

    Seolah-olah tak ada hal lain di dunia selain anak perempuan itu.

    Jempol Laras mengusap wajah pria di foto itu.

    Di belakang foto, ada tulisan tangan yang mulai pudar.

    Untuk Larasku. Kalau suatu hari ayah pergi jauh, cari ayah di tempat pertama kita melihat laut.

    Laras menutup mata.

    Sudah dua puluh tahun tulisan itu berdiam di laci.

    Dua puluh tahun juga ayahnya menghilang.


    Dulu, rumah mereka sempit. Atap sengnya bocor. Jika hujan turun deras, ibunya akan menggeser ember ke sana-sini sementara ayahnya menaruh panci di sudut ruang tamu.

    Tapi setiap Minggu pagi, ayah selalu menggendong Laras ke ujung gang.

    “Naik kapal, Kapten?” katanya sambil menepuk pundaknya.

    Laras akan tertawa, melingkarkan tangan di leher ayah, lalu membiarkan dirinya dibawa melewati warung, kali kecil, dan jalan tanah.

    Kaki kirinya tak pernah kuat berjalan jauh. Kadang-kadang anak-anak lain menirukan caranya berjalan.

    “Pincang! Pincang!”

    Laras kecil pernah berdiri mematung di pinggir jalan, bibirnya gemetar.

    Ayah datang, jongkok di depannya, lalu melepas sandal jepitnya sendiri.

    “Lihat kaki ayah,” katanya.

    Laras menunduk.

    Satu sandal ayah putus.

    Ayah lalu berjalan terpincang-pincang sambil menyeret kaki kanan dengan wajah berlebihan.

    “Wah, ternyata ayah lebih aneh dari Laras.”

    Laras tertawa sampai ingusnya keluar.

    Ayah ikut tertawa.

    Suara tawanya seperti pintu kayu yang dibuka perlahan—berat, hangat, dan akrab.

    Lalu suatu sore, suara itu hilang.

    Ayah pamit pergi bekerja ke luar kota. Ia mencium kening Laras, memasukkan roti cokelat ke dalam tas sekolahnya, lalu menepuk kepala Laras pelan.

    “Tunggu ayah, ya.”

    Pintu ditutup.

    Dan tak pernah terbuka lagi.


    Tiga hari setelah malam penghargaan itu, Laras berdiri di stasiun lama di kota kecil pinggir pantai.

    Udara asin menempel di kulit. Tongkatnya mengetuk lantai peron yang retak.

    Tak. Tak. Tak.

    Di tangannya ada foto lama dan secarik alamat yang ia dapat dari bekas teman ayahnya.

    “Dulu dia pernah tinggal dekat pelabuhan,” kata lelaki itu lewat telepon. “Tapi saya nggak tahu sekarang masih ada atau tidak.”

    Laras menyewa becak menuju kawasan pelabuhan lama.

    Rumah-rumah kayu berdiri rapat. Catnya mengelupas. Jemuran bergoyang di depan pintu. Anak-anak berlari tanpa sandal.

    Ia berhenti di depan rumah bercat hijau pucat.

    Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

    Seorang perempuan tua muncul. Rambutnya putih seluruhnya. Matanya menyipit ketika melihat Laras.

    “Cari siapa?”

    Laras menunjukkan foto.

    “Saya mencari ayah saya. Namanya Rahmat.”

    Perempuan itu memegang foto dengan tangan bergetar.

    Lama sekali ia diam.

    Lalu ia menoleh ke dalam rumah.

    “Mat… ada yang datang.”

    Jantung Laras berhenti sesaat.

    Dari dalam terdengar suara kursi bergeser. Langkah pelan. Berat.

    Seorang lelaki tua keluar sambil memegang dinding.

    Tubuhnya lebih kurus dari yang Laras ingat. Rambutnya memutih. Kumis tipis itu masih ada, meski tak lagi serapi dulu.

    Mata lelaki itu jatuh ke foto di tangan Laras.

    Lalu ke kaki kiri Laras.

    Tongkat aluminium itu bergetar pelan di tangan Laras.

    “Ayah?”

    Lelaki itu membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar.

    Bibirnya bergerak pelan.

    “Laras?”

    Nama itu terdengar seperti sesuatu yang sudah lama sekali terkubur.

    Laras melangkah maju. Tongkatnya tersangkut di ambang pintu dan hampir membuatnya jatuh.

    Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, dua tangan tua menangkap bahunya.

    Tangan yang sama.

    Tangan besar yang dulu memegang setang sepeda kuning.

    Laras memegang pergelangan tangan itu erat-erat.

    Ada bekas luka panjang di sana.

    “Kenapa Ayah pergi?”

    Suara Laras pecah di kata terakhir.

    Rahmat menunduk. Bahunya naik turun pelan.

    Di ruang tamu yang sempit, kipas angin berdecit pelan. Di meja ada gelas teh yang belum disentuh.

    “Waktu itu ayah sakit,” katanya akhirnya. “Dokter bilang jantung ayah rusak. Ayah pinjam uang ke banyak orang. Ayah pikir… kalau ayah pergi, ibu dan kamu nggak ikut ditagih.”

    Laras menatap wajah tua di depannya.

    Ada garis-garis lelah di sekitar mata itu. Ada malam-malam panjang yang tertinggal di sana.

    “Ayah pikir aku nggak akan mencari?”

    Rahmat menggigit bibirnya.

    “Setiap ulang tahunmu, ayah datang ke depan rumah. Dari jauh.” Ia tersenyum tipis. “Ayah lihat kamu berangkat sekolah pakai tongkat baru. Lalu kuliah. Lalu kerja.”

    Tangannya merogoh saku kemeja lusuh.

    Ia mengeluarkan potongan-potongan koran yang sudah dilipat kecil.

    Semuanya tentang Laras.

    Foto saat ia lulus kuliah.

    Foto saat usahanya masuk majalah.

    Foto malam penghargaan tiga hari lalu.

    Pinggirannya sudah kusut karena terlalu sering dibuka.

    Laras memegang satu guntingan koran. Di foto itu, ia sedang tersenyum di atas panggung.

    Di sudut bawah, ada bekas sidik jari.

    Ia tak tahu kenapa, tapi mendadak ia ingin menangis seperti anak kecil.

    Bukan tangis yang anggun. Bukan tangis yang pelan.

    Tangis yang berantakan.

    Tangis yang tertahan dua puluh tahun.

    Rahmat membuka kedua lengannya perlahan.

    Laras menjatuhkan tongkatnya.

    Bunyi logam memantul di lantai.

    Namun sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan, Rahmat sudah lebih dulu menopangnya.

    Seperti dulu.

    Di luar rumah, suara ombak terdengar jauh.

    Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Laras tidak merasa berjalan sendirian.

    Cerpen ditulis oleh Dhe Rain, dari Forum Lingkar Pena Sidoarjo, pada event Rabu Karya di Grup FLP Jatim

    GKB Gresik, 090426 : 07.25 WIB

  • Halalbihalal dan Rapat Kerja FLP Malang: Perkuat Silaturahmi, Rumuskan Arah Kebijakan Kabinet Satu Jiwa

    Halalbihalal dan Rapat Kerja FLP Malang: Perkuat Silaturahmi, Rumuskan Arah Kebijakan Kabinet Satu Jiwa

    Setelah Muscab FLP Malang, Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang menyelenggarakan kegiatan halalbihalal bersama para pengurus. Tak hanya itu, para pengurus melakukan Rapat Kerja (Raker) sebagai momentum strategis dalam merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan.


    Pada periode kepengurusan kali ini, FLP Malang mengusung nama Kabinet Satu Jiwa, yang merepresentasikan semangat persatuan, kebersamaan, dan keselarasan langkah seluruh pengurus dan anggota dalam berkarya di bidang literasi.
    Kegiatan halalbihalal ini tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan pasca Ramadan, tetapi juga mempererat silaturahmi antar pengurus. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai seluruh rangkaian acara, mencerminkan nilai-nilai yang menjadi fondasi gerakan FLP.

    Dalam kegiatan halalbihalal ini juga, Ketua FLP Malang, Intan K.L. Asror melakukan pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur atas terbentuknya kepengurusan baru, sekaligus menjadi simbol harapan agar kepengurusan Kabinet Satu Jiwa dapat berjalan dengan lancar dan penuh keberkahan. Selain itu, FLP Malang melakukan peresmian homebase baru FLP Malang sebagai pusat kegiatan dan pengembangan literasi ke depan. Melalui forum Rapat Kerja, para pengurus merumuskan program kerja, arah gerak organisasi, serta strategi pengembangan literasi di Malang. Berbagai gagasan dan komitmen bersama lahir sebagai upaya untuk terus menghadirkan karya yang berdampak bagi masyarakat.

    Harapan ke depan, Kabinet Satu Jiwa mampu menjadi penggerak yang solid dalam mencetak penulis-penulis baru, memperluas jejaring literasi, serta memperkuat kontribusi FLP Malang dalam pembangunan budaya literasi. Dengan semangat kebersamaan dalam satu jiwa, FLP Malang optimis melangkah lebih produktif, inspiratif, dan bermakna bagi peradaban.